JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING, BUILDING AND TRANSPORTATION
Not a member yet
179 research outputs found
Sort by
HIRADC ANALYSIS FOR ROLLING STOCK BODY LIFTING NGROMBO RAILWAY MAINTENANCE CENTER
The Railway Maintenance Center as stated in the Regulation has the duty and function of carrying out the maintenance of state-owned railway facilities. The part of rolling stock heavy maintenance with high potential hazard is Lifting Body Activities Using OHTC in Maintenance of Hydraulic Diesel Locomotive Facilities activity. it so there is a need for a risk assessment which is a process to determine control priorities for the level of risk work accident or occupational disease. Part of OHSAS 18001:2007 Clouse 4.3.1. recommendation HIRADC methode for can support a safety system with 3 stage analisys (hazard identification, risk assessment, and control determination) The Hazard Identification results obtained 3 aspects of hazard risk in OHTC Rolling stock Body Lifting operations with the following analysis results Crane toppling, Equipment failure, Load falling with Death & asset / property damage impact factor. Risk Assessment analisys of Rolling stock Body Lifting using OHTC obtained results action taken when resources are available regarding handling which in general were Administrative Control. Determine Control relevant steps to minimize potential hazards immediately (1) Evaluating SOP Rolling stock Body Lifting and conduct outreach to all employees related to the work, (2) Making and or adding hazard signs and (3) Human development by conducting Training/Refreshment Crane Operator and Signal man. (4) Strictness of the rules for using PPE for all employees related to the work as the last step in minimizing the risk of occupational hazards
Manajemen Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pembangunan Skybridge Stasiun Kiaracondong
Pembangunan Skybridge Stasiun Kiaracondong merupakan bagian dari Pembangunan Jalur Ganda Kereta Api Antara Kiaracondong – Cicalengka yang dicanangkan sebagai bentuk tanggung jawab Pemerintah terhadap kebutuhan angkutan penumpang dan barang serta menjamin perjalanan kereta api yang aman dan berkeselamatan. Konstruksi jalur kereta api merupakan salah satu sektor yang memiliki tingkat risiko yang tinggi sehingga memerlukan upaya untuk mengelola risiko keselamatan dan kesehatan kerja untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Manajemen risiko dimulai dari kegiatan mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko dan mengendalikan risiko. Penelitian ini dimulai dengan brainstorming dan wawancara, dan kemudian dianalisis berdasarkan peraturan yang berlaku. Hasil identifikasi risiko diperoleh sebanyak 109 variabel dengan kategori high risk (28,33%), kategori medium risk (53,33%), kategori low risk (18,33%). Resiko dengan kategori high risk yaitu kendaraan dan alat berat terguling, tertimpa material, jatuh dari ketinggian dan tertemper kereta api. Tindakan pengendalian risiko dilakukan dengan Eliminasi, Subtitusi, Rekayasa Teknis, Administratif hingga APD, adalah dengan memastikan kondisi tanah stabil, memastikan prosedur keselamatan berjalan dengan baik, memastikan izin dan kelayakan operasi alat, material dan tenaga kerja manajemen lalu lintas dan window time, pemasangan rambu peringatan dan pengaman kerja, koordinasi dan penggunaan alat komunikasi saat proses dan operasi kerja, monitoring dan pengawasan pekerjaan, serta memastikan fasilitas kesehatan untuk tenaga kerja.Pembangunan Skybridge Stasiun Kiaracondong merupakan bagian dari Pembangunan Jalur Ganda Kereta Api Antara Kiaracondong – Cicalengka yang dicanangkan sebagai bentuk tanggung jawab Pemerintah terhadap kebutuhan angkutan penumpang dan barang serta menjamin perjalanan kereta api yang aman dan berkeselamatan. Konstruksi jalur kereta api merupakan salah satu sektor yang memiliki tingkat risiko yang tinggi sehingga memerlukan upaya untuk mengelola risiko keselamatan dan kesehatan kerja untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Manajemen risiko dimulai dari kegiatan mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko dan mengendalikan risiko. Penelitian ini dimulai dengan brainstorming dan wawancara, dan kemudian dianalisis berdasarkan peraturan yang berlaku. Hasil identifikasi risiko diperoleh sebanyak 109 variabel dengan kategori high risk (28,33%), kategori medium risk (53,33%), kategori low risk (18,33%). Resiko dengan kategori high risk yaitu kendaraan dan alat berat terguling, tertimpa material, jatuh dari ketinggian dan tertemper kereta api. Tindakan pengendalian risiko dilakukan dengan Eliminasi, Subtitusi, Rekayasa Teknis, Administratif hingga APD, adalah dengan memastikan kondisi tanah stabil, memastikan prosedur keselamatan berjalan dengan baik, memastikan izin dan kelayakan operasi alat, material dan tenaga kerja manajemen lalu lintas dan window time, pemasangan rambu peringatan dan pengaman kerja, koordinasi dan penggunaan alat komunikasi saat proses dan operasi kerja
STUDI LITERATUR FAKTOR KEBIJAKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) TERHADAP KINERJA PEKERJA PROYEK KONSTRUKSI
Examining the effect of the “occupational safety and health (K3) policy on worker performance” is very useful in order to get the influence of OSH involvement when it impacts workers. In construction projects, there are many elements that influence the success of the project, one of which is the quality of worker performance. Aims to find OSH policy factors and OSH policy factors during a pandemic on the performance of construction project workers by carrying out a literature study on several previous studies. The research methodology is conducting a literature search using the Publish or Perish application. Relevant literature is then used as a source of research. The results of the literature study, there are 39 OHS policy factors that are considered to have the potential to affect worker performance consisting of 30 OHS policy factors and 9 OHS policy factors during the pandemic on worker performance. There are 7 factors that are the most common in previous research, namely: the company provides work safety equipment, workers often use personal protective equipment to prevent incidents while carrying out their work. The implementation of the K3 system in order to guarantee the situation “The health of the workers, as well as providing a comfortable environment when they arrive has a good impact on the continuity of the workers in the Company”. Through the implementation of this facilitated programming implementation, the Company can improve the quality of workers and be able to manage their time properly when completing their work.Mengkaji “kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap kinerja pekerja” sangat berguna untuk mengetahui faktor K3 yang mempengaruhi kinerja pekerja. Pada proyek konstruksi, ada banyak unsur yang mempengaruhi keberhasilan proyek, salah satu yaitu kualitas kinerja pekerja. Bertujuan untuk mencari faktor kebijakan K3 dan faktor kebijakan K3 pada masa pandemi terhadap kinerja pekerja proyek konstruksi dengan melaksanakan studi literatur terhadap penelitian-penelitian sebelumnya. Metodologi penelitian yaitu melakukan pencarian literatur menggunakan aplikasi Publish or Perish. Literatur yang relevan kemudian digunakan sebagai sumber penelitian. Hasil studi literatur, terdapat 39 faktor kebijakan K3 yang dianggap berpotensi mempengaruhi kinerja pekerja terdiri atas 30 faktor kebijakan K3 dan 9 faktor kebijakan K3 pada masa pandemi terhadap kinerja pekerja. Ada 7 faktor yang menjadi faktor terbanyak pada penelitian terdahulu adalah: perusahaan menyediakan alat keselamatan kerja, pekerja selalu mengenakan alat pelindung diri agar terhindar dari kecelakaan saat bekerja, penerapan sistem K3 menjamin kondisi kesehatan pekerja, perusahaan memberikan suasana lingkungan tempat yang bersih sehingga mempunyai pengaruh yang baik pada kelangsungan kerja pekerja, perusahaan memberikan jaminan kesehatan kerja kepada setiap pekerja, dengan penerapan program yang disediakan perusahaan dapat meningkatkan semangat dan kualitas pekerja perusahaan, dan pekerja mampu mengatur waktu dengan efektif dalam hal penyelesaian pekerjaan
Analysis of Plain and Threaded Spiral Reinforcement on The Compressive Strength of Concrete Cylinder with Coarse Agregate From Baula
Column is a part of concrete structure that bears the largest axial compressive load. The use of stirrup reinforcement in columns can maintain strength and stability so that the load is distributed evenly. The Indonesian Structural Concrete Requirements for Building (SNI 2847:2019) requires the use of threaded steel bar in column structures. This research aims to determine the effect of using plain steel bars (BJTP) and threaded steel bars (BJTS) reinforcement with a spacing variation of 3 cm and 5 cm. The research was conducted by conducting cylinder concrete test with a diameter of 15 cm and a height of 30 cm, spiral reinforcement with a diameter of 10 cm, concrete cover of 25 mm, and plain and threaded steel bars with a diameter of 10 mm. The test object is divided into 5 conditions, namely without any reinforcement, plain steel bars reinforcement, threaded steel bars reinforcement, and variations of 3 cm and 5 cm spacing on each steel bar reinforcement. The concrete used is made of local materials Baula splits and Tamboli sands from Kolaka District. The test results on concrete at 28 days showed that the use of spiral reinforcement on cylinder concrete can significantly increase its compressive strength by more than 50%, even reaching above 100% at closer spacing. Spiral reinforcement with threaded steel bars shows better strength increase compared to spiral reinforcement with plain steel bars.Kolom adalah bagian dari struktur bangunan beton yang menanggung beban aksial tekan terbesar. Penggunaan sengkang pada kolom mampu menjaga kekuatan dan stabilitas agar beban terbagi merata. Persyaratan Beton Struktural untuk bangunan gedung (SNI 2847:2019) mewajibkan penggunaan sengkang ulir pada struktur kolom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan sengkang polos (BJTP) dan ulir (BJTS) dengan variasi jarak sengkang 3 cm dan 5 cm. Penelitian dilakukan dengan melakukan uji tekan silinder beton diameter 15 cm dan tinggi 30 cm, sengkang spiral berdiameter 10 cm, selimut beton 25 mm, dan baja tulangan polos dan ulir dengan diameter 10 mm. Benda uji terbagi ke dalam 5(lima) kondisi yaitu tanpa sengkang, sengkang polos, sengkang spiral, serta variasi jarak 3 cm dan 5 cm pada masing-masing sengkang. Beton yang digunakan menggunakan material batu pecah Baula dan pasir Tamboli yang merupakan material lokal Kabupaten Kolaka. Hasil uji tekan pada umur beton 28 hari menunjukkan penggunaan sengkang spiral pada silinder beton mampu meningkatkan kuat tekan silinder secara signifikan mencapai lebih dari 50%, bahkan mampu mencapai diatas 100% pada jarak sengkang yang lebih rapat. Sengkang dengan tulangan sirip/ulir menunjukkan peningkatan kekuatan yang lebih baik dibandingkan dengan sengkang dengan tulangan polos
Identification Damage of Rail Bridge Components Using Drone
Every railway infrastructure must be inspected to determine its condition and function, including railroad bridge. The current inspection method is still carried out manually, namely by directly inspecting the components of the railway infrastructure, of course, this will make the inspection time long. Inspection of bridge components in locations that are difficult to reach can use tools such as Unmanned Aerial vehicles (UAV) or Drones. This study aims at bridge components, damaged bridge components and the type of damage that occurs on Welded Through Truss (WTT) bridges. Video results obtained from drones were analyzed based on PM 31/2011 and PM 32/2011. The results of the analysis found that the damage that occurred was on the stringer, floor beam and top lateral bracing with the type of damage, namely corrosion/rust that occurred in all spans of the bridge. The underside of the bridge is still in good condition.Setiap prasarana perkeretaapian harus dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi dan fungsinya, tidak terkecuali pada prasarana jembatan kereta api. Metode pemeriksaan saat ini masih dilakukan secara manual, yaitu melakukan pemeriksaan secara langsung terhadap komponen- komponen prasarana perkeretaapian, tentunya hal ini akan membuat waktu pemeriksaan menjadi lama. Pemeriksaan komponen-komponen jembatan pada lokasi yang sulit dijangkau dapat menggunakan alat bantu seperti Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau Drone. Penelitian ini bertujuan untuk komponen jembatan, komponen jembatan yang mengalami kerusakan serta jenis keruksakan yang terjadi pada jembatan kereta api dinding rangka tertutup. Hasil video yang didapat dari drone dianalisis berdasarkan PM 31/2011 dan PM 32/2011. Hasil analisis didapatkan bahwa kerusakan yang terjadi yaitu pada komponen rasuk pokok atas dan ikatan angin atas dengan jenis kerusakan yaitu korosi/karat yang terjadi pada semua bentang jembatan. Bagian bawah jembatan masih dalam kondisi bagus
Analisis Produktivitas Tenaga Kerja Pada Pekerjaan Plesteran Proyek Ruko 2 Lantai
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan produktivitas plesteran pada proyek Ruko 2 lantai dengan SNI. Adapun hal yang akan diteliti yaitu produktivitas mandor, kepala tukang, tukang, dan tenaga. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung di lapangan. Sumber data yang digunakan yaitu data primer berupa observasi di lapangan seperti jumlah tukang atau pekerja, jam kerja, luasan pekerjaan. Sedangkan data sekunder berupa dokumentasi yang ada di lapangan dan jurnal terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis menggunakan Teknik analisis data yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu nilai produktivitas 22,19 m2/hari untuk mandor dan kepala tukang, 14,94 m2/hari, dan 16,88 m2/hari untuk tukang dan tenaga. Sedangkan untuk hasil koefisien tenaga kerja tiap 1 m2 plesteran yaitu 0,045 OH untuk mandor dan kepala tukang, 0,067 OH untuk tukang, dan 0,059 OH untuk tenaga. Produktivitas tenaga kerja dalam proyek ruko 2 lantai ini, mandor dan kepala di lapangan lebih rendah dibandingkan dengan SNI 2837-2008 dan produktivitas tenaga kerja untuk tukang dan tenaga di lapangan lebih tinggi dibandingkan dengan SNI 2837-2008
REKAYASA PENANGANAN KONFLIK ARUS CROSSING DI PERSIMPANGAN FLY OVER JAMIN GINTING, JALAN PINTU AIR IV, DAN JALAN A.H. NASUTION MEDAN
Konflik simpang menyebabkan banyak permasalahan arus kenderaan dimulut simpang, teruama konflik crossing yang sangat nyata persilangan arusnya. Penelitian ini berlokasi di FlyOver Jamin Ginting tepatna dititik awal flaover, ruas jalan A.H. Nasution dan Jalan Pintu Air IV merupakan tipe persimpangan berlengan 3 dan tidak sebidang, sehingga berpotensi terjadi konflik simpang di antaranya Diverging (berpisah), Merging (bergabung), Crossing (berpotongan ), dan Weaving (bersilangan). Jenis metode penelitian ini adalah kualitatif deskripif, yang menggambarkan siuasi dilapangan kemudian mengkorelasikan dengan teori rekayasa lalulinas dan penelesaian konflik simpang. Hasil penelitian bahwa arus merging paling banyak terjadi. namun berpotesi terjadi Crossing dan rawan kecelakaan. Rekayasa yang dilakukan untuk menghindari crossing dengan meletakkan Sign/ rambu-rambu pada jarak 100 m, 50 m, dan 10 m. Dan tools lamp berupa lampu yield and stop dari arah Jalan AH. Nasuion menuju persimpangan flyover.Konflik simpang menyebabkan banyak permasalahan arus kenderaan dimulut simpang, teruama konflik crossing yang sangat nyata persilangan arusnya. Penelitian ini berlokasi di FlyOver Jamin Ginting tepatna dititik awal flaover, ruas jalan A.H. Nasution dan Jalan Pintu Air IV merupakan tipe persimpangan berlengan 3 dan tidak sebidang, sehingga berpotensi terjadi konflik simpang di antaranya Diverging (berpisah), Merging (bergabung), Crossing (berpotongan ), dan Weaving (bersilangan). Jenis metode penelitian ini adalah kualitatif deskripif, yang menggambarkan siuasi dilapangan kemudian mengkorelasikan dengan teori rekayasa lalulinas dan penelesaian konflik simpang. Hasil penelitian bahwa arus merging paling banyak terjadi. namun berpotesi terjadi Crossing dan rawan kecelakaan. Rekayasa yang dilakukan untuk menghindari crossing dengan meletakkan Sign/ rambu-rambu pada jarak 100 m, 50 m, dan 10 m. Dan tools lamp berupa lampu yield and stop dari arah Jalan AH. Nasuion menuju persimpangan flyove
Desain Pemetaan Detail Dengan Metode Voerstral Pada Lahan Tertutup Kampus V UNS
Pemetaan merupakan salah satu cara untuk menentukan letak dan posisi suatu wilayah di permukaan bumi, yang meliputi pengukuran jarak, sudut, arah vertikal, dan arah horizontal. Peta kontur adalah peta yang menunjukkan ketinggian permukaan tanah dengan garis kontur. Peta kontur di Kampus V UNS Pabelan belum memiliki peta yang akurat. Pembuatan peta kontur membutuhkan kerangka dasar yang digunakan untuk kontrol pengukuran, berupa kerangka dasar horizontal dan kerangka dasar vertikal. Adanya penelitian sebelumnya mengenai kerangka horizontal dan vertikal Kampus V UNS Pabelan menjadikan kerangka tersebut sebagai acuan dasar pembuatan peta kontur. Pengukuran kontur pada rangka dasar dilakukan dengan metode voerstral menggunakan total station. Pengukuran dengan metode ini menghasilkan data titik ke koordinat dan elevasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Research and Development (RnD), yang bertujuan untuk mengembangkan produk penelitian sebelumnya dan menghasilkan citra peta kontur yang valid untuk Kampus V UNS Pabelan berdasarkan penilaian validator. Hasil validasi diperoleh persentase rata-rata penilaian sebesar 87,5% dengan kategori sangat layak. Implikasi pengukuran dengan metode voerstral adalah gambar peta kontur Kampus V UNS Pabelan yang akurat.Pemetaan merupakan salah satu cara untuk menentukan letak dan posisi suatu wilayah di permukaan bumi, yang meliputi pengukuran jarak, sudut, arah vertikal, dan arah horizontal. Peta kontur adalah peta yang menunjukkan ketinggian permukaan tanah dengan garis kontur. Peta kontur di Kampus V UNS Pabelan belum memiliki peta yang akurat. Pembuatan peta kontur membutuhkan kerangka dasar yang digunakan untuk kontrol pengukuran, berupa kerangka dasar horizontal dan kerangka dasar vertikal. Adanya penelitian sebelumnya mengenai kerangka horizontal dan vertikal Kampus V UNS Pabelan menjadikan kerangka tersebut sebagai acuan dasar pembuatan peta kontur. Pengukuran kontur pada rangka dasar dilakukan dengan metode voerstral menggunakan total station. Pengukuran dengan metode ini menghasilkan data titik ke koordinat dan elevasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Research and Development (RnD), yang bertujuan untuk mengembangkan produk penelitian sebelumnya dan menghasilkan citra peta kontur yang valid untuk Kampus V UNS Pabelan berdasarkan penilaian validator. Hasil validasi diperoleh persentase rata-rata penilaian sebesar 87,5% dengan kategori sangat layak. Implikasi pengukuran dengan metode voerstral adalah gambar peta kontur Kampus V UNS Pabelan yang akurat.
Kata Kunci: kontur, voerstral, pemetaan, kampus V UNS
PARAMETRIC STUDY OF LANDFILL STABILITY BY USING LIMIT EQUILIBRIUM METHOD
A landfill is an example of essential geotechnical constructions that support human life in controlling waste processing. The height of landfill in Indonesia has reached tens of meters, as reviewed in this article, which is 60 m. The stability of the slopes of the landfill is a critical matter that needs to be studied to ensure that the landfill remains standing firmly and that landslides do not occur, which can cause huge losses both financially and even to the point of loss of life. One of the slope analysis methods is the Limit Equilibrium Method (LEM) with a two-dimensional (2D) model using a computer program. Stratigraphy and origin soil parameters were obtained from the results of field and laboratory test interpretations and parameter correlations. The landfill parameters will be varied into three types, lower bound with values c'=3 kPa and ϕ' = 210, medium bound with values c'=4 kPa and ϕ' = 250, and upper bound with values c'=6 kPa and ϕ ' = 300. The landfill slope is varied into five models with a ratio of vertical dimensions as 1 and horizontal dimensions as 1, 1.5, 2, 2.5, and 3. The analysis will be carried out in two conditions: static and dynamic. With several limitations and simplifications of the model, such as uniform landfill parameters for a total height of 60 m, this parameter study can still provide insight into the pattern of the slope of the landfill slope that meets the minimum stability criteria both in static and dynamic conditions. The analysis results show that the landfill's safe slope is 1:3.0 (V:H) with a few notes for the type of lower bound landfill parameter.Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah merupakan konstruksi geoteknik yang penting untuk mendukung kehidupan manusia dalam mengendalikan pengolahan limbah. Ketinggian TPA di Indonesia sudah mencapai puluhan meter seperti yang diulas dalam artikel ini yaitu 60 m. Stabilitas lereng TPA merupakan hal kritis yang perlu dikaji agar TPA tetap berdiri kokoh dan tidak terjadi longsor. Dampak yang ditimbulkan jika terjadi longsor berupa kerugian besar secara finansial bahkan hingga korban jiwa. Salah satu metode analisis lereng adalah kesetimbangan batas dengan model dua dimensi (2D) menggunakan program komputer Geo5. Stratigrafi dan parameter tanah diperoleh dari hasil interpretasi uji lapangan, laboratorium serta korelasi parameter. Parameter material TPA akan divariasikan menjadi tiga jenis, batas bawah (UB) dengan nilai c'=3 kPa dan ϕ' = 210, batas sedang (MB) dengan nilai c'=4 kPa dan ϕ' = 250, dan batas atas (UP) dengan nilai c'=6 kPa dan ϕ' = 300. Kemiringan lereng timbunan sampah divariasikan menjadi lima model dengan rasio dimensi vertikal 1 dan dimensi horizontal: 1; 1,5; 2; 2,5; dan 3. Analisis akan dilakukan dalam dua kondisi yaitu statis dan dinamis. Dengan beberapa keterbatasan dan penyederhanaan model, seperti parameter TPA yang seragam untuk tinggi total 60 m, kajian parameter ini tetap dapat memberikan gambaran tentang pola kemiringan lereng TPA yang memenuhi kriteria stabilitas minimum baik secara statis maupun dinamis. Hasil analisis menunjukkan kemiringan aman TPA adalah 1:3,0 (V:H) dengan sedikit catatan untuk jenis parameter sampah UB
ANALISIS DINAMIK RESPONS SPEKTRUM DAN STATIK EKUIVALEN GEDUNG PERKULIAHAN UNIVERSITAS SEMARANG
In the planning building structures, the calculation lateral loads due to earthquakes is very necessary. Spectrum response analysis is a way of analyzing the relationship between the period of a building structure and the value the building's acceleration when an earthquake hits it. Equivalent static analysis is usually used in buildings that are not too high, where the load effect on the structure is considered a horizontal static load due to ground movement. This study uses the lecture building object at the University of Semarang with the dynamic response spectrum and static equivalent methods. This study aims to determine the level of building safety due to earthquake loads according to SNI for earthquake resistance planning 1726; 2019 with base shear, displacement, story drift, and P-delta effects using the ETABS V.18.02. The results of analysis, the Semarang University lecture building stated that it was safe with a dynamic base shear spectrum response of not less than 100% static earthquake, maximum displacement with a value of 44 mm, the story drift value of all floors was still below the limit of 46.154 mm, so the structure of the lecture building was still in the safe category against working load. The effect of p-delta in this study is ignored because the boundary coefficient for each floor is less than 0.10.Pada perencanaan struktur gedung, perhitungan beban lateral akibat gempa sangat diperlukan. Analisis respons spektrum adalah cara analisa hubungan antara periode struktur bangunan dengan nilai percepatan bangunan ketika terkena gempa. Analisa statik ekuivalen biasa digunakan pada struktur bangunan yang tidak terlalu tinggi, dimana pengaruh beban pada struktur dianggap sebagai beban statik horisontal akibat pergerakan tanah. Penelitian ini menggunakan objek gedung perkuliahan di Universitas Semarang dengan metode dinamikrespon spektrum dan static ekuivalen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keamanan gedung akibat beban gempa menurut SNI perencanaan ketahanan gempa 1726;2019 dengan nilai base shear, displacement, story drift, dan pengaruh P-delta menggunakan program ETABS V.18.02. Hasil analisis gedung perkuliahan universitas semarang dinyatakan aman dengan base shear dinamik respons spektrum tidak kurang dari 100% gempa static, displacement maksimal dengan nilai 44 mm, nnilai story drift semua lantai masih dibawah limit sebesar 46,154 mm, maka struktur gedung perkuliahan masih dalam kategori aman terhadap beban yang bekerja. Pengaruh p-delta dalam penelitian ini diabaikan karena koefisien batas tiap lantai kurang dari 0,10