JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING, BUILDING AND TRANSPORTATION
Not a member yet
    179 research outputs found

    Evaluation Of Building Vulnerability With Microtremor Data (Case Study Of FTI UII Lecture Building): Indonesia

    No full text
    Beragamnya fungsi penggunaan bangunan saat ini memerlukan perancangan yang dapat meminimalisir potensi kerusakan, terutama yang disebabkan oleh bencana alam. Gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang menjadi ancaman utama terhadap kerusakan bangunan. Sebagai contoh, peristiwa gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2023 menimbulkan kerusakan pada berbagai fasilitas bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan bangunan dengan menggunakan data mikrotremor untuk memperoleh nilai frekuensi natural bangunan (fb), indeks resonansi bangunan (R), dan indeks kerentanan bangunan (Kb). Penelitian dilakukan pada gedung perkuliahan FTI UII dengan menggunakan alat Lunitek Digital Seismic Sensor untuk merekam getaran mikrotremor. Metode Floor Spectral Ratio (FSR) diterapkan untuk menganalisis mikrotremor pada bangunan, sementara metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) digunakan untuk menganalisis mikrotremor pada tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerentanan bangunan berdasarkan nilai frekuensi natural bangunan teridentifikasi aman, sedangkan nilai indeks resonansi bangunan menunjukkan tingkat kerentanannya yang tinggi. Selain itu, nilai indeks kerentanan bangunan juga menunjukkan kondisi yang aman. Selisih terbesar antara perbandingan frekuensi data mikrotremor dan SAP2000 ditemukan pada blok C sebesar 0,401 Hz dan pada blok D sebesar 0,616 Hz.Beragamnya fungsi penggunaan bangunan saat ini, diperlukanlah perancangan yang dapat meminimalisir bangunan dari potensi kerusakan, terlebih dari potensi bencana alam. Bencana gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang menjadi ancaman terjadinya kerusakan pada bangunan. Salah satu contohnya adalah peristiwa gempa bumi yang terasa di daerah Yogyakarta pada tahun 2023 yang menimbulkan kerusakan berbagai fasilitas bangunan yang ada. Dilakukanlah penelitian untuk mengidentifikasi seberapa besar tingkat kerentanan bangunan berdasarkan data mikrotremor untuk mendapatkan nilai frekuensi natural bangunan (fb), nilai indeks resonansi bangunan (R) dan nilai indeks kerentanan bangunan (Kb). Penelitian dilakukan pada gedung perkuliahan FTI UII. Alat lunitek digital seismic sensor merupakan alat yang digunakan dalam penelitian ini untuk merekam getaran mikrotremor. Metode Floor Spectral Ratio (FSR) digunakan dalam pengolahan mikrotremor pada gedung dan metode Horizantal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) digunakan dalam pengolahan mikrotremor pada tanah. Didapatkanlah hasil dari penelitian ini yaitu kerentanan bangunan berdasarkan nilai frekuensi bangunan aman, berdasarkan nilai indeks resonansi bangunan tinggi dan berdasarkan nilai indeks kerentanan bangunan aman. Dan selisih terbesar perbandingan frekuesi antara data mikrotremor dan SAP2000 terdapat pada blok C sebesar 0,401 Hz dan blok D sebesar 0,616 Hz

    EVALUASI IMPLEMENTASI PROSES PERSETUJUAN BANGUNAN GEDUNG (PBG) PADA BANGUNAN GEDUNG DI KOTA BANDUNG

    No full text
    Setiap tahunnya, Kota Bandung mengalami perkembangan pesat dalam sektor infrastruktur, termasuk pembangunan gedung. Sebelum pembangunan dimulai, setiap gedung harus mendapatkan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), yang mensyaratkan pemenuhan persyaratan administratif dan teknis sesuai dengan fungsi bangunan. Proses PBG meliputi verifikasi dokumen teknis, penilaian oleh tim teknis, persetujuan, dan penerbitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Standar Operasional Prosedur (SOP) pengurusan PBG di Kota Bandung, mengidentifikasi faktor hambatan dalam memperoleh PBG, serta mengevaluasi implementasi syarat teknis PBG yang dinilai oleh Tim Penilai Ahli (TPA) di Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan analisis data menggunakan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengidentifikasi faktor-faktor hambatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pengajuan PBG dilakukan melalui website SIMBG, yang mencakup tahap prapermohonan, permohonan, hingga penerbitan. Faktor hambatan yang paling tinggi terjadi pada tahap pembuatan Keterangan Rencana Kota (KRK) dalam aspek administrasi, sementara untuk aspek teknis, hambatan terbesar ditemukan pada tahap proses Data Teknis Gedung Eksisting terkait Data tenaga ahli bangunan Gedung hijau. Pemohon PBG harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis, termasuk standar teknis untuk arsitektur, struktur, dan utilitas. Pemahaman yang baik terhadap SOP sangat penting untuk menghindari kendala teknis. Persyaratan yang disiapkan oleh pemohon harus tepat dan sesuai dengan aturan yang berlaku untuk memperoleh PBG.Setiap tahunnya, Kota Bandung mengalami perkembangan infrastruktur, termasuk pembangunan gedung. Sebelum didirikan, setiap gedung harus memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Persetujuan ini mensyaratkan pemenuhan persyaratan administratif dan teknis sesuai fungsi bangunan. Proses PBG mencakup verifikasi dokumen teknis, penilaian tim teknis, persetujuan, dan penerbitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis SOP pengurusan PBG di Kota Bandung, menganalisis faktor hambatan dalam memperoleh PBG di Kota Bandung, dan mengevaluasi implementasi syarat teknis PBG yang dinilai oleh TPA di Kota Bandung. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif. Metode ini digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu dengan pengumpulan data melalui instrumen penelitian dan analisis data yang bersifat kuantitatif/statistic menggunakan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengidentifikasi faktor-faktor hambatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa prosedur pengajuan PBG dilakukan melalui website SIMBG, dimulai dari tahap prapermohonan, permohonan, hingga penerbitan sedangkan faktor hambatan dalam proses PBG yang memiliki nilai tertinggi pada tahap pembuatan Keterangan Rencana Kota (KRK) pada aspek administrasi untuk aspek teknis yang memiliki nilai tertinggi yaitu pada tahap proses Data Teknis Gedung Eksisting berupa Data tenaga ahli bangunan Gedung hijau. Pemohon harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis, termasuk standar teknis arsitektur, struktur, dan utilitas. Pemohon juga harus memahami Standar Operasional Prosedur (SOP) agar tidak terjadi kendala teknis. Persyaratan administratif dan teknis yang disiapkan harus tepat dan sesuai aturan yang berlaku untuk memperoleh PBG.Kata Kunci: Persetujuan Bangunan Gedung (PBG); Principal Component Analysis (PCA); Faktor Hambatan, Standar Operasional Prosedur (SOP

    ANALISIS KUAT TEKAN BETON BERAGREGAT HALUS PASIR BATU APUNG DENGAN BAHAN TAMBAH SERAT LIMBAH PLASTIK

    No full text
    Beton adalah salah satu bahan konstruksi yang memiliki peran penting dalam memastikan kestabilan dan kekuatan bangunan, baik pada struktur maupun non-struktur. Dalam upaya untuk meningkatkan sifat mekanik beton dan mengurangi dampak negatif limbah plastik, penelitian ini mengeksplorasi penggunaan serat plastik PET (dari limbah botol plastik) sebagai bahan tambahan pada campuran beton. Penelitian ini menggunakan variasi penambahan serat plastik PET pada campuran beton dengan kadar 0%, 0,4%, 0,6%, dan 0,8%. Benda uji berbentuk silinder dibuat dengan tujuan untuk menguji slump, kuat tekan, dan kuat tarik belah beton. Hasil pengujian slump menunjukkan bahwa campuran beton dengan 0% PET menghasilkan nilai slump tertinggi, yaitu mencapai 80 mm. Pengujian kuat tekan menunjukkan hasil tertinggi pada campuran beton dengan 0,4% serat PET, yang meningkat sebesar 2,66% dibandingkan dengan beton yang tidak mengandung serat plastik. Selain itu, pengujian kuat tarik belah menunjukkan peningkatan terbesar pada beton dengan 0,6% serat PET, dengan kenaikan sebesar 28,75% dibandingkan beton tanpa bahan tambahan plastik. Penurunan workability beton, yang diukur dengan pengujian slump, terjadi seiring penambahan serat PET, yang menyebabkan beton menjadi lebih kental. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan serat plastik PET pada campuran beton dapat secara signifikan meningkatkan sifat mekanik beton, khususnya pada kuat tekan dan kuat tarik belah. Penelitian ini juga memberikan solusi yang ramah lingkungan untuk mengurangi limbah plastik sekaligus meningkatkan kualitas beton sebagai bahan konstruksi.Beton merupakan salah satu komponen penting dalam bidang konstruksi, baik yang struktural maupun yang non-struktural. Beton memiliki banyak fungsi, dan juga merupakan peran penting dalam menjaga kestabilan dan kekuatan bangunan tersebut. Dengan menggunakan serat plastik sebagai bahan campuran beton diharapkan dapat menaikan sifat mekanik beton tersebut, dan juga agar dapat mengurangi dampak negatif dari limbah botol plastik. Dengan perbedaan variasi pada tiap benda uji beton diharapkan dapat mengetahui kinerja beton dari perbedaan variasi PET. Benda uji berbentuk silinder, variasi yang digunakan adalah penambahan sebanyak 0,0%, 0,4%,0,6% dan 0,8%. Pengujian Slump test pada benda uji menunjukan bahwa Slump test tertinggi pada campuran PET 0% ,dengan ketinggian slump mencapai 80 mm atau 8 cm. Kuat tekan beton tertinggi  pada jumlah serat 0,4 %, meningkat sebesar 2,66 % dari beton yang hanya menggunakan pasir apung tanpa bahan tambah serat limbah plastik.  Dan Kuat tarik belah beton tertinggi pada jumlah serat 0,6 %, meningkat sebesar 28,75 % dari beton tanpa bahan tambah plastik. Hasil menunjukan penambahan abon 1-3 mm dengan panjang 5 cm sebagai serat dalam campuran beton dapat meningkatkan sifat mekanik beton, khususnya beton kuat tekan dan kuat tari

    PENGARUH SERAT BAJA TERHADAP KARAKTERISTIK MEKANIK BETON SELF COMPACTING CONCRETE

    Full text link
    Beton merupakan material konstruksi yang penting dalam pembangunan infrastruktur, terdiri dari campuran semen, agregat, air, dan bahan tambahan lainnya. Beton normal sering digunakan karena proses pembuatannya yang mudah dan ekonomis, namun mengalami kendala dalam pengecoran pada struktur dengan tulangan rapat. Self Compacting Concrete (SCC) menjadi solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan serat baja pada beton SCC terhadap sifat mekanik, termasuk kekuatan tekan, tarik, dan lentur. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan benda uji silinder dan prisma untuk pengujian kekuatan beton pada umur 28 dan 56 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan serat baja berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kekuatan mekanik beton, dengan penambahan 0,5% serat baja memberikan keseimbangan terbaik antara kekuatan dan workability beton. Penambahan serat baja 1% mengindikasikan penurunan workability, namun tetap meningkatkan kuat tekan, tarik, dan lentur beton secara signifikan. Penelitian ini memberikan rekomendasi untuk menggunakan penambahan serat baja sebanyak 0,5% dalam beton SCC untuk meningkatkan kekuatan tanpa mengurangi kemampuan aliran beton.Beton adalah kontruksi yang terdiri dari campuran semen, agregat kasar, agregat halus, air, serta bahan tambahan jika diperlukan. Jenis beton yang paling umum digunakan dalam proyek kontruksi adalah beton normal. Pembuatan beton normal tegolong relatif mudah dan ekonomis, karena tidak memerlukan bahan tembahan. Namun, dalam proses pengecoran, sering kali muncul kendala akibat jarak antara tulangan yang terlalu rapat. Hal ini menyebabkan terjadinya segregasi. Untuk mengikuti perkembangan kebutuhan konstruksi, beton normal terus mengalami inovasi. Salah satunya mencapai hal tersebut adalah melalui pengembangan beton jenis Self Compacting Concrete (SCC) dengan penambahan serat baja dan Consol SS-8. Dalam penelitian ini digunakan metode eksperimen dengan benda uji silinder berukuran 150 x 300 mm untuk pengujian kuat tekan dan terik beton, serta prisma berukuran 150 x 150 x 600 mm untuk pengujian kuat lentur. Penelitian dilaksankan dibatching plant Kembar Jaya Mandiri Mulya. Hasil penelitian menunjukan bahwa menambahkan serat baja memberikan dampak yang jelas terhadap aliran dan stabilitas beton segar. Penambahan serat baja sebesar 0,5% memberikan keseimbangan terbaik antara stabilitas, aliran beton dan kemampuan untuk memenuhi standar pengujian. Penambahan serat baja 1% sangat berpengaruh besar, dengan ini mengindikasi bahwa lebih banyak serat memperlambat kemampuan workability

    PEMANFAATAN LIMBAH GRANIT SEBAGAI SUBSITUSI AGREGAT KASAR DAN LIMBAH ABU BONGGOL JAGUNG SEBAGAI SUBSITUSI SEMEN PADA KUAT TEKAN BETON

    No full text
    Beton adalah material konstruksi utama yang banyak digunakan di seluruh dunia, dengan teknologi beton terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur seperti jalan, gedung, dan jembatan. Seiring meningkatnya harga material bangunan, terutama semen sebagai bahan utama beton, pencarian alternatif bahan yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan semakin penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan limbah granit sebagai substitusi agregat kasar dan limbah abu bonggol jagung sebagai substitusi semen dalam campuran beton. Pengujian dilakukan untuk mengukur pengaruh substitusi limbah tersebut terhadap kuat tekan beton, nilai slump, dan daya serap air. Lima variasi campuran beton dilakukan, yaitu BN (Beton Normal), LBG 3% ABJ 2%, LBG 5% ABJ 2%, LBG 8% ABJ 2%, dan LBG 10% ABJ 2%. Mutu rencana beton adalah f’c 20 MPa dengan benda uji silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan tertinggi pada umur 28 hari ditemukan pada BN sebesar 23,51 MPa, sementara yang terendah pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 14,30 MPa. Nilai slump tertinggi terjadi pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 15 cm, sedangkan yang terendah pada BN sebesar 12 cm. Daya serap air beton tertinggi ditemukan pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 2,45%, sedangkan terendah pada BN sebesar 1,95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persentase substitusi limbah granit dan abu bonggol jagung, semakin rendah kuat tekan beton, semakin tinggi nilai slump, dan semakin tinggi daya serap air beton, yang dipengaruhi oleh substitusi abu bonggol jagung sebagai pengganti semen.Beton merupakan material utama pada sebuah konstruksi yang banyak digunakan di seluruh dunia. Banyak peneliti yang melakukan riset terhadap teknologi beton untuk memenuhi kebutuhan dalam Pembangunan infrastruktur seperti konstruksi jalan, Gedung, jembatan dan lain sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu nilai ekonomis salah satunya ditandai dengan meningkatnya harga material bangunan khususnya material semen yang merupakan salah satu bahan utama dalam campuran beton. Banyak penelitian yang dilakukan pada beton sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas beton dengan memanfaatkan bahan yang mudah didapat, ramah lingkungan dan harga yang ekonomis dengan cara mencari bahan lain yang dapat digunakan sebagai bahan aditif atau bahan pengganti semen pada campuran beton. Oleh karenanya dalam penelitian ini akan dilakukan metode eksperimental penggunaan limbah batu granit (LBg) sebagai substitusi agregat kasar dan limbah abu bonggol jagung (ABJ) sebagai substitusi agregat semen pada beton yang bertujuan untuk mengetahui pengaruhnya pada kuat tekan beton, nilai slump, dan daya serap air beton. Ada 5 (lima) macam trial mix yang dilakukan, yaitu BN (Beton Normal), LBG 3% ABJ 2%  (substitusi 3% LBG + 2% ABJ), LBG 5% ABJ 2% (substitusi 5% LBG + 2% ABJ), LBG 8% ABJ 2% (substitusi 8% LBG + 2% ABJ), dan LBG 10% ABJ 2% (substitusi 10% LBG + 2% ABJ). Mutu rencana adalah f’c 20 MPa dengan benda uji silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Hasil kuat tekan pada umur 28 hari tertinggi pada BN sebesar 23,51 MPa, dan terendah pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 14,30 MPa. Hasil nilai slump terendah pada BN sebesar 12 cm, dan tertinggi pada LBG 10% ABJ 2%  sebesar 15 cm. Hasil daya serap air beton tertinggi pada LBG 10% ABJ 2% sebesar 2,45%, dan terendah pada BN sebesar 1,95%. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dengan substitusi 3% LBG 2% ABJ dan semakin tinggi persentase substitusi LG terhadap agregat kasar, maka kuat tekan beton semakin rendah, nilai slump semakin tinggi, dan daya serap air beton semakin tinggi karena depengaruhi oleh subsitusi abu bonggol jagung sebagai pengganti semen

    Hazard Risk Management Analysis PO PT Gunung Harta Transport Solutions Uses FMEA And RCA Methods

    Full text link
    This study aims to determine the potential hazards and risks and to find the root causes of potential hazards and risks in the public transportastion company PT. Gunung Harta Transport Solutions. The methods used are FMEA and RCA with an observation, interview, questionnaire, and documentation approach. The research sample is the Head of Office Administration, Head of Workshop, and Head of Operational Staff. The results of the assessment of 32 indicators using the FMEA method, obtained RPN values with codes X1 to X32. Of the 32 indicators included in the ranking category, 2 are Critical, 3 are High, 7 are Medium, and 20 are Low. To find potential causes of danger, using the RCA method from the RPN results. The office section is the use of computers/laptops, office staff work beyond office operating hours and lack of rest breaks for office staff. The workshop section is the repair of the AC system, lack of awareness of the importance of implementing K3 in the workshop. The operational section is reckless drivers, lack of driver understanding regarding driving safety. This study concludes that companies must always pay attention to K3 aspects in every office, workshop, and vehicle operation activity.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi bahaya dan risiko serta mencari akar penyebab dari potensi bahaya risiko pada perusahaan angkutan umum PT. Gunung Harta Transport Solutions. Metode yang digunakan yaitu FMEA dan RCA dengan pendekatan observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Sampel penelitian yaitu Kepala Administrasi Kantor, Kepala Bengkel, dan Kepala Staff Operasional. Hasil penilaian dari 32 indikator menggunakan metode FMEA, didapatkan nilai RPN dengan kode X1 sampai dengan X32. Dari 32 indikator masuk dalam kategori peringkat, 2 Kritis, 3 Tinggi, 7 Sedang, dan 20 Rendah. Untuk mencari potensi penyebab bahaya, menggunakan metode RCA dari hasil RPN. Bagian kantor yaitu pada penggunaan komputer/laptop, staff kantor bekerja melebihi jam operasional kantor dan kurangnya jeda istirahat staff kantor. Bagian workshop yaitu pada perbaikan sistem AC, kurangnya kesadaran akan pentingnya penerapan K3 pada workshop. Bagian operasional yaitu pengemudi yang ugal-ugalan, kurangnya pemahaman pengemudi terkait keselamatan dalam berkendara. Penelitian ini mencapai kesimpulan bahwa perusahaan harus selalu memperhatikan aspek K3 dalam setiap kegiatan kantor, bengkel, dan operasional kendaraan

    Studi Perilaku Dinding Geser Pelat Baja Bergelombang dengan Penambahan Wall Opening akibat Beban Siklik

    Full text link
    Corrugated Steel Plate Shear Wall (CSSW) is an effective solution to enhance the seismic resistance of steel building structures. The design and specification of CSSW need careful optimization to maximize its performance, particularly in reducing lateral forces during an earthquake. This study utilizes the Finite Element Method (FEM) with Abaqus software to assess the ductility and energy dissipation values of various CSSW specimens. The variations tested include plate thickness, plate width, and wave inclination angle, with each variation involving three specimens. A 10% wall opening area is added to evaluate its impact on structural performance. Cyclic loading is applied following the ATC-24 protocol (ATC, 1992). The results indicate that specimens CSSW 2, CSSW 5, and CSSW 8 show the highest ductility values, 29.15, with specifications of 10 mm plate thickness, 3 m plate width, and 45° wave inclination angle. The largest energy dissipation value was observed in CSSW-4, at 6101 kNm, with a 10 mm plate thickness, 1.5 m plate width, and 45° wave inclination angle. This study provides valuable insights for designing more efficient and optimized CSSW for earthquake-resistant steel building structures.Dinding geser pelat baja bergelombang (Corrugated Steel Plate Shear Wall/CSSW) merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan struktur gedung baja pada saat terjadi gempa. Pemilihan bentuk maupun spesifikasi dari CSSW perlu diteliti agar CSSW lebih optimal jika diterapkan pada struktur gedung baja. Penelitian ini memakai metode elemen hingga (Finite Element Method/FEM) menggunakan software Abaqus yang bertujuan untuk mencari nilai daktilitas dan disipasi energi yang terbaik dari semua spesimen yang diuji. Terdapat variasi tebal, variasi lebar, dan variasi sudut kemiringan gelombang dengan masing-masing variasi terdapat 3 spesimen yang diuji dengan penambahan wall opening seluas 10% dari luas total pelat CSSW. Pembebanan yang diberikan mengacu pada protokol pembebanan siklik ATC-24 (ATC, 1992). Hasil dari penelitian ini diperoleh spesimen dengan nilai daktilitas terbesar yaitu spesimen CSSW 2, CSSW 5, dan CSSW 8 sebesar 29,15 dengan spesifikasi tebal pelat 10 mm, lebar pelat 3 m, dan sudut kemiringan gelombang pelat 45⁰. Sedangkan nilai disipasi energi terbesar didapat dari spesimen CSSW-4 sebesar 6101 kNm dengan spesifikasi tebal pelat 10 mm, lebar pelat 1,5 m, dan sudut kemiringan gelombang pelat 45⁰

    The Analysis of Prestressed Concrete Bridges in the Minister's Residence Area in IKN

    No full text
    Jembatan Kawasan Rumah Menteri IKN memiliki desain struktur atas berupa girder atau balok prategang dengan tipe gelagar dan memiliki panjang bentang 70 m dan lebar 10 m. Berada pada Kawasan Rumah Menteri IKN Penajam Kalimantan Timur menghubungkan jalan utama menuju pintu masuk Rumah Menteri yang terpisah oleh sungai. Tujuan penelitian untuk mengetahui desain jembatan yang optimal sesuai dengan SNI 1725:2016. Metode penalitian menggunakn analisis perhitungan sesuai SNI 1725-2016 perencanaan mengacu Panduan Praktis Perencanaan Jembatan. Hasil penelitian dari analisis didapatkan struktur Perencanaan menggunakan Girder-I H-210 dengan mutu f’c = 50 Mpa dan dipergunakan 5 gelagar yang berjarak 2000 mm. Untuk bentang tengah digunakan 4 tendon dengan total 76 strands dan bentang ujung 1 tendon dengan total 12 strands. Kabel strands menggunakan tipe uncoated 7 wire strands ASTM A-416 grade 270. Pelat lantai mempunyai tebal 0,20 m lewat overlay diberi maskimum 10 cm. Struktur atas jembatan didukungkan lewat 2 abutment serta dua pilar. Pondasi yang digunakan adalah Bore Pile dengan diameter 0,5 m dan kedalaman 28 m.The IKN Minister's House Area Bridge has a superstructure design in the form of girders or prestressed beams with a girder type and has a span length of 70 m and a width of 10 m. Located in the IKN Penajam Minister's House area, East Kalimantan, it connects the main road to the entrance to the Minister's House which is separated by a river. The aim of the research is to determine the optimal bridge design in accordance with SNI 1725:2016. The research method uses calculation analysis according to SNI 1725-2016, planning refers to the Practical Guide to Bridge Planning. The research results from the analysis showed that the planning structure used Girder-I H-210 with a quality of f'c = 50 Mpa and used 5 girders spaced 2000 mm apart. For the middle span, 4 tendons are used with a total of 76 strands and for the end span, 1 tendon is used with a total of 12 strands. The cable strands use the uncoated 7 wire strands ASTM A-416 grade 270 type. The floor plate has a thickness of 0.20 m with a maximum overlay of 10 cm. The bridge's upper structure is supported by 2 abutments and two pillars. The foundation used is a Bore Pile with a diameter of 0.5 m and a depth of 28 m

    Analisis Tegangan, Regangan dan Pertambahan Panjang Profil C Baja Ringan

    Full text link
    Dengan kemajuan masyarakat kontemporer, khususnya konstruksi, telah terjadi evolusi yang signifikan dan cepat. Cold formed steel, umumnya disebut sebagai baja ringan, merupakan salah satu bahan yang sedang berkembang di pasar konstruksi yang diproduksi melalui pendekatan manufaktur sistematis. Tujuan penelitian untuk memastikan kualitas bahan baja ringan di Yogyakarta sejalan dengan spesifikasi yang disyaratkan untuk aplikasi struktural, terkhusus G550. Metode penelitian yang digunakan merupakan eksperimen uji tarik menggunakan Automax Universa Testing Machine. Hasil penelitian diperoleh rata-rata tegangan maksimum diperoleh sampel S memiliki kuat tarik maksimum rata-rata 864,76 MPa lebih besar dibandingkan sampel C dan M dengan masing-masing kuat tarik maksimum rata-rata sebesar 831,92 Mpa dan 818,15 Mpa. Sedangkan, rata-rata regangan masing-masing sampel C, S, dan M adalah 1,51, 1,50, dan 1,52. Sampel M memiliki regangan lebih besar dibandingkan sampel C dan S. Pada pertambahan panjang total tegangan leleh sampel C memiliki pertambahan total  0,1427 mm lebih besar dibandingkan kedua sampel S dan M dengan masing-masing petambahan total tegangan leleh sebesar 0,1327 mm dan 0,1387 mm. Sedangkan, untuk pertambahan panjang total tegangan maksimum menunjukkan bahwa sampel S lebih unggul dibandingkan kedua sampel lainnya dengan nilai sebesar 3,3021 mm, sedangkan C dan M masing-masing memilki nilai sebesar 3,0549 mm dan 3,1075.With the advancement of contemporary society, especially in construction, there has been a significant and rapid evolution. Cold-formed steel, commonly referred to as light steel, is one of the materials that is currently developing in the construction market, produced through a systematic manufacturing approach. The purpose of this research is to ensure the quality of lightweight steel materials in Yogyakarta meets the specifications required for structural applications, specifically G550. The research method used is a tensile test experiment using the Automax Universat Testing Machine. The research results show that the average maximum stress of sample S has a maximum tensile  strength of 864.76 MPa, which is greater than that of samples C and M, with average maximum tensile strength of 831.92 MPa and 818.15 Mpa, respectively. Meanwhile, the average strain for sampels C, S, and M are 1.51, 1.50, and 1.52, respectively. Sample M has a greater strain compared to samples C and S. in terms of total elongation at the yield point, sample C has a total elongation of 0.1427 mm, whichis greater than that of samples S and M, with total elongations of 0.1327 mm and 0.1387 mm, respectively. For total elongation at maximum stress, sample S outperforms the other two samples with a value of 3.3021 mm, while C and M have values of 3.0549 mm and 3.1075 mm, respectively

    ANALISA KINERJA WAKTU PELAKSANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI (SMKN) 1 PULO AMPEL SERANG

    No full text
    The construction project of infrastructure building at State Vocational High School (SMKN) 1 Puloampel, Serang Regency, aims to provide better facilities to support the improvement of education quality. Although the project was well-planned, time and cost deviations occurred, affecting the project’s progress. This study aims to analyze the time and cost deviations using the Earned Value Analysis (EVA) method. The data used includes weekly data from week 1 to week 22, with a total project duration of 22 weeks. The results show that the project experienced delays in several weeks, specifically in weeks 1, 10, 11, 15, 16, 19, and 20, resulting in a total delay of 27 days. These time deviations led to a cost overrun of IDR 20,052,074.54. The causes of delay were mainly due to late site preparation, water and equipment needs, and delayed material deliveries. As a solution, it is recommended to add more labor, speed up material delivery, and revise the schedule to avoid further delays and cost overruns.Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Puloampel, yang berlokasi di Kabupaten Serang, telah beroperasi sejak 2008 dengan tujuan menyediakan pendidikan yang berwawasan global. Dengan jumlah siswa sebanyak 901 orang, didukung oleh 50 guru dan 59 tenaga kependidikan, sekolah ini mengalami peningkatan jumlah siswa yang signifikan, sehingga memerlukan fasilitas pendukung untuk proses pembelajaran yang lebih baik. Proyek pembangunan ini sudah direncanakan kurang lebih tiga tahun sebelum pembangunan, gedung ini terdiri dari satu gedung memiliki dua lantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyimpangan waktu dan biaya menggunakan metode Earned Value serta solusi agar tidak terlalu mengalami penyimangan waktu dan biaya. Penelitian ini menggunakan data periode mingguan ke-1 hingga mingguan ke-22 dengan total durasi pekerjaan 22 minggu. Dari hasil penelitian periode minggu ke-1, ke-10, ke-11, ke-15, ke-16, ke-18, ke-19 dan minggu ke-20 atau 27 hari nilai Schedule Varians ditemukan negatif. Sementara nilai Schedule Performance Indeks 0,95 menunjukkan <1, kemudian diketahui nilai Estimate To Schedule 0 pada periode minggu ke-22 dengan durasi pelaksanaan 22 minggu, hal ini menunjukkan waktu proyek sesuai rencana. Berdasarkan hasil analisis biaya pada proyek ini mengalami pembengkakan biaya sebesar Rp 20.052.074,54 dikarenakan adanya penyimpangan waktu. Alternatif untuk menghindari penyimpangan waktu dan biaya salah satunya menambahkan tenaga kerja, sehingga bobot realisasi pekerjaan pada minggu berikutnya dapat melebihi bobot rencana.   Kata Kunci: Waktu; Biaya; Nilai Hasil

    153

    full texts

    179

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING, BUILDING AND TRANSPORTATION
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇