JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING, BUILDING AND TRANSPORTATION
Not a member yet
179 research outputs found
Sort by
Evaluation of Project Implementation Time Based on Optimistic, Pessimistic, and Most Likely Time Using the Monte Carlo Method (Project Case Study: Sentul Road Rehabilitation - Bendung Terrace - Tirtayasa, Serang District FY. 2022): Project Case Study: Sentul Road Rehabilitation - Bendung Terrace - Tirtayasa, Serang District FY. 2022
Construction projects have precise plans and completion times. This turnaround time is affected by the performance of the workers and the method of execution. In this road rehabilitation work, there are several stages of work that require time to complete. The Monte Carlo method can estimate the completion time which can be calculated with the optimistic time, the most likely time and the pessimistic time. In this study using quantitative analysis method which refers to 10 respondents with each working device, namely contractors, consultants, owners and foremen. The results of the study show difference between opinions regarding the estimated time for implementation between contractors, consultants, owners and foremen. The comparison results of the Monte Carlo simulation were obtained with a difference of 1.7 – 1.9 weeks when compared with the actual results.Proyek konstruksi memiliki rencana dan waktu penyelesaian yang tepat. Waktu penyelesaian ini dipengaruhi oleh kinerja para pekerja dan metode pelaksanaan. Pada pekerjaan rehabilitasi jalan ini terdapat beberapa tahap pekerjaan yang membutuhkan waktu penyelesaian. Metode Monte Carlo dapat mengestimasi waktu penyelesaian yang dapat dihitung dengan waktu optimis, waktu most likely dan waktu pesimis. Pada penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif yang mengacu pada 10 responden dengan masing-masing perangkat kerjanya yaitu kontraktor, konsultan, owner dan mandor. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan antara pendapat mengenai estimasi waktu pelaksanaan antara kontraktor, konsultan, owner dan mandor. Hasil perbandingan simulasi Monte Carlo yang diperoleh dengan selisih 1,7 – 1,9 minggu jika dibandingkan dengan hasil realisas
STUDI KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENGGUNA JALAN RAYA PADA PERLINTASAN SEBIDANG RESMI TIDAK DIJAGA: Studi Kasus: Desa Klegen Serut Kabupaten Madiun
Pertumbuhan masyarakat memicu berkembangnya pembangunan di sekitar rel dan perlintasan desa klegen serut. Pengguna jalan hanya diberikan tanda berupa suara dari kereta api yang hendak melintas karna pada perlintasan tersebut tidak ditemukan adanya palang pintu. Apabila pengendara kurang mewaspadai dalam berkendara maka akan menimbulkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Dengan menggunakan diskriptif kualitatif yang dianalisis menggunakan metode RCA dalam penelitian ini ditemukan akar permasalahan keselamatan yang timbul antara perpotongan perlintasan sebidang dengan jalan raya. Dengan dilihat dari kondisi jalan yang memperoleh jumlah perhitungan kapasitas jalan menurut MKJI 1997 1313 smp/jam dari perkalian volume lalu lintas dan frekuensi kereta api yang melintas dan jumlah volume lalu lintas tersisbuk yaitu pada hari Senin pukul 07.00-08.00 sebesar 78.5 smp/jam. Untuk nilai derajat kejenuhan pada Jalan perlintasan sebidang di desa klegen serut berdasarkan hasil perhitungan adalah 0,05 yang menandakan bahwa tingkat pelayanan jalan pada klegen serut memiliki Lalu lintas agak ramai, kecepatan menurun. Kemudian hasil perhitungan dari jarak pandang pada perlintasan sebidang di desa klegen serut yaitu 40,1 dari as rel terhadap pengguna jalan. Dengan mengarah padam Pedoman Teknis Perlintasan, jika rata-rata volume lalu lintas harian (LHR) dikalikan dengan jumlah perjalanan kereta api antara 12.500 sampai dengan 35.000 smpk, maka perlintasan tersebut tidak perlu ditingkatkan menjadi perlintasan tidak sebidang. Hasil perkalian menunjukan bahwa perlintasan sebidang di desa klegen serut mempunyai nilai LHR yang masih tergolong sesuai dengan standart teknis yang ditentukan yaitu 17.128,8 smpk. Namun tidak dilengkapinya prasarana seperti palang pintu dan sistem perambuan yang lengkap membuat perlintasan tersebut yang berpotongan dengan antara rel kereta api dan jalan menimbulkan tingkat resiko kecelakaan dan potensi untuk mengalami kemacetan lalu lintas akibat adanya kereta api yang melintas. Sehingga perlu diadakanya penambahan kelengkapan jalan berupa rambu dan marka berdasarkan pedoman teknis keselamatan perlintasan sebidang yang ada.Pertumbuhan masyarakat memicu berkembangnya pembangunan di sekitar rel dan perlintasan desa klegen serut. Pengguna jalan hanya diberikan tanda berupa suara dari kereta api yang hendak melintas karna pada perlintasan tersebut tidak ditemukan adanya palang pintu. Apabila pengendara kurang mewaspadai dalam berkendara maka akan menimbulkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Dengan menggunakan diskriptif kualitatif yang dianalisis menggunakan metode RCA dalam penelitian ini ditemukan akar permasalahan keselamatan yang timbul antara perpotongan perlintasan sebidang dengan jalan raya. Dengan dilihat dari kondisi jalan yang memperoleh jumlah perhitungan kapasitas jalan menurut MKJI 1997 1313 smp/jam dari perkalian volume lalu lintas dan frekuensi kereta api yang melintas dan jumlah volume lalu lintas tersisbuk yaitu pada hari Senin pukul 07.00-08.00 sebesar 78.5 smp/jam. Untuk nilai derajat kejenuhan pada Jalan perlintasan sebidang di desa klegen serut berdasarkan hasil perhitungan adalah 0,05 yang menandakan bahwa tingkat pelayanan jalan pada klegen serut memiliki Lalu lintas agak ramai, kecepatan menurun. Kemudian hasil perhitungan dari jarak pandang pada perlintasan sebidang di desa klegen serut yaitu 40,1 dari as rel terhadap pengguna jalan. Dengan mengarah padam Pedoman Teknis Perlintasan, jika rata-rata volume lalu lintas harian (LHR) dikalikan dengan jumlah perjalanan kereta api antara 12.500 sampai dengan 35.000 smpk, maka perlintasan tersebut tidak perlu ditingkatkan menjadi perlintasan tidak sebidang. Hasil perkalian menunjukan bahwa perlintasan sebidang di desa klegen serut mempunyai nilai LHR yang masih tergolong sesuai dengan standart teknis yang ditentukan yaitu 17.128,8 smpk. Namun tidak dilengkapinya prasarana seperti palang pintu dan sistem perambuan yang lengkap membuat perlintasan tersebut yang berpotongan dengan antara rel kereta api dan jalan menimbulkan tingkat resiko kecelakaan dan potensi untuk mengalami kemacetan lalu lintas akibat adanya kereta api yang melintas. Sehingga perlu diadakanya penambahan kelengkapan jalan berupa rambu dan marka berdasarkan pedoman teknis keselamatan perlintasan sebidang yang ada
Analisis Life Cycle Cost Pada Proyek Pembangunan Cendana Residence
Analisis life cycle cost (LCC) merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk mengendalikan biaya awal dan biaya masa depan dalam melakukan investasi sebuah proyek. Metode ini digunakan untuk menganalisis nilai ekonomi dari sebuah bangunan dengan memperhatikan biaya pengoperasian bangunan selama siklus hidup. Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah penelitian mengenai analisis life cycle cost untuk mengetahui biaya- biaya apa saja yang terdapat dalam Proyek Pembangunan Cendana Residence dan untuk dapat mengetahui berapa besar biaya yang dikeluarkan mulai dari tahapan desain sampai dengan umur rencana bangunan yang sudah ditetapkan. Data yang dipakai adalah Gambar Rencana, Rencana Anggaran Biaya (RAB) dari proyek dan studi literatur yang mendukung penelitian. Estimasi biaya penggantian dan perbaikan dimasa yang akan datang dihitung pada pengeluaran sekarang (present value), dengan umur ekonomi bangunan selama 40 tahun, dengan asumsi bunga 12%, asumsi tingkat inflasi 5,94%. Hasil dari penelitian ini adalah pada Pekerjaan Kusen Kayu dan Aluminium, serta daun pintu ex. Kamper memiliki life cycle cost adalah sebesar Rp. 884.438.107,34. Pekerjaan dinding memiliki life cycle cost adalah sebesar Rp. 533.970.576,80. Kemudian Pekerjaan Penutup Lantai memiliki life cycle cost adalah sebesar Rp.710.747.142,05.Dan pada Pekerjaan Atap memiliki life cycle cost adalah sebesar Rp. 316.731.614,50
PERENCANAAN STRUKTUR ATAS BANGUNAN GUDANG BAJA BERDASARKAN METODE LRFD DI KEDIRI
The construction of Kediri Airport will have an impact on increasing the economy which will trigger the development companies in the production sector to accelerate. This causes an increase in the need for warehouses as supporting facilities for various production and industrial activities. The purpose of this research is to design a warehouse with steel construction using the LRFD method. IWF and C profile steel materials are used in the warehouse superstructure planning, and SAP2000 version 14 software is used for structural analysis calculations. The data warehouse has a size of 22 x 102 meters with a building height of 15.2 meters with a ground floor of 12 meters and a roof of 3.2 meters. The calculation results show that the dimensions of the cross-section that are safe from earthquakes are profiles for columns and rafters using IWF 350.350.12.19, and gording using C 150x65x20x3.2. Planned beam-column connections using plates with a thickness of 10 mm with a bolt diameter of 16 mm totaling 6 pieces, while beam-column connections using plates with thickness 12 mm with bolt diameter 20 mm totaling 4 units. So that the design can be used as a reference in the construction of warehouses that are strong and safe, especially against earthquakes.Pembangunan Bandara di Kediri akan berdampak pada meningkatnya perekonomian yang memicu pembangunan perusahaan di bidang produksi semakin pesat. Hal ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan gudang sebagai fasilitas pendukung berbagai kegiatan produksi dan industri. Tujuan penelitian ini adalah mendesain gudang dengan struktur baja menggunakan metode LRFD. Material baja profil IWF dan C digunakan dalam Perencanaan struktur atas gudang, dan software SAP2000 versi 14 digunakan untuk perhitungan analisis struktur. Data gudang memiliki ukuran 22 x 102 meter dengan tinggi bangunan 15,2 meter dengan lantai dasar 12 meter, dan atap 3,2 meter. Hasil perhitungan menunjukan bahwa dimensi penampang yang aman terhadap gempa yaitu profil untuk kolom serta rafter/kuda-kuda menggunakan IWF 350.350.12.19, dan gording menggunakan C 150x65x20x3,2. Perencanaan sambungan balok-kolom menggunakan pelat dengan tebal 10 mm dengan diameter baut 16 mm berjumlah 6 buah, sedangkan sambungan balok- balok menggunakan pelat dengan tebal 12 mm dengan diameter baut 20 mm berjumlah 4 buah. Sehingga desain tersebut dapat dijadikan acuan dalam pembangunan gudang dengan yang kuat dan aman terutama terhadap gempa.
Kata Kunci: : Struktur Gudang; Baja; Gempa; LRFD; SAP2000
IMPLEMENTATION OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY MANAGEMENT SYSTEMS IN CONSTRUCTION PROJECTS IN TIMOR-LESTE
Infrastructure development is one of the priorities to help turn the economy in Timor Leste, especially the construction of buildings, paving roads, airfields and other structures. In general, the process of building a construction project is an activity that contains an element of danger. Therefore, an Occupational Safety and Health Management System in the construction industry is needed. The research was carried out by identifying the causes and potential for accidents to occur in each project implementation. From the data taken from IGT from 2010-2020, 18 cases were recorded, namely 14 cases of death, 1 person was slightly injured and 2 people were injured. Therefore, a company engaged in construction work must have an Occupational Health and Safety management system, to reduce the occurrence of accidents in the workplace. The method used in collecting data in this study is descriptive analysis method. That is by directly visiting seven (7) ongoing construction projects, to conduct interviews and direct observations regarding the Implementation of the Occupational Safety and Health Program and to distribute Questionnaires. The results of distributing the questionnaires were 31 respondents, and the results of interviews and observations made by researchers, it was found that of the seven projects, only two (2) projects implemented the K3 System in the company, and the company itself did not care about and meet the needs in helping work in Work.Pembangunan infrastruktur menjadi salah satu prioritas untuk membantu perputaran ekonomi di Timor Leste terutama pembangunan gedung, pengaspalan jalan, air, dan bangunan-bangunan lainnya. Pada Umumnya Proses pembangunan proyek konstruksi merupakan kegiatan yang mengandung unsur bahaya. Oleh karena itu Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja dalam industri konstruksi sangatlah diperlukan. Penilitian dilakukan dengan mengidentifikasi penyebab serta potensi terjadinya kecelakaan di setiap pelaksanaan proyek. Dari data yang di ambil dari IGT dari tahun 2010-2020 terdaftar 18 kasus yaitu 14 orang kasus Kematian, 1 orang luka ringan dan 2 orang cedera. Sebab itu, suatu perusahaan yang bergerak di bidang kerja konstruksi harus mempunyai Sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, untuk mengurangi terjadinya Kecelakaan di tempat kerja. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dala penilitian ini yaitu metode analisis deskriptif. Yaitu dengan mendantangi secara lansung pada tujuh (7) proyek konstruksi yang sedang berlansung, untuk melakukan wawancara serta pengamatan secara lansung mengenai Penerepan Program Keselamatan, dan Kesehatan Kerja serta menyebarkan Kuesioner. Hasil dari penyebaran kuesioner terdapat 31 responden, dan hasil wawncara serta Pengamatan yang dilakukan oleh peniliti, didapatkan hasil bahwa dari tujuh proyek tersebut, hanya dua (2) proyek saja yang menerapkan Sistem K3 didalam Persuhaan, dan perusahaan sendiri tidak memperduli dan memenuhi Kebutuhan para Pekerja dalam membantu perkerja dalam Bekerja
Analisa Perbandingan Kuat Tekan Beton Normal dengan Campuran Abu Boiler Pada Proyek Jembatan di PT. Socfindo Kebun Seunagan
Indonesia merupakan negara komoditas industri perkebunan,tak terkecuali dalam hal produksi kelapa sawit.Bagaimana tidak,kelapa sawit dapat di olah menjadi produk pangan yakni minyak goreng.Hal ini tentu sangat berguna dalam menunjang berjalannya roda ekonomi masyarakat.Salah satunya PT. Socfindo yang berada di Nagan Raya yang hampir setiap hari beroperasi dalam hal produksi kelapa sawit,tentunya menghasilkan banyaknya limbah.Dalam hal ini para peneliti melakukan berbagai inovasi dalam pemanfaatan limbah sawit agar bermanfaat dalam berbagai hal.Contohnya dalam bidang konstruksi abu boiler hasil pembakaran limbah kelapa sawit di jadikan sebagai material bahan tambah pada campuran beton.Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh bahan tambah beton terhadap kuat tekan antara beton normal dengan bahan tambah abu boiler.Pengujian ini menggunakan cetakan berukuran 15 cm x 15 cm x 15 cm dengan FAS 0,37 umur pengujian kuat tekan beton yaitu 7 dan 28 hari.Dari hasil analisis dapat di lihat hasil yang di peroleh nilai rata-rata dari pengujian kuat tekan beton pada umur 28 hari untuk beton normal yaitu 23,10 Mpa.Pada campuran beton dengan penambahan 4% abu boiler dari berat semen pada umur 28 hari di dapat nilai sebesar 25,31 Mpa,dan pada penambahan 6% abu boiler dari berat semen pada umur 28 hari di dapat hasil sebesar 40,67 Mpa.Dari hasil kuat tekan dapat di simpulkan,pada penambahan abu boiler pada 4% mengalami kenaikan sebesar 2,21 Mpa dan pada penambahan abu boiler pada 6% mengalami kenaikan sebesar 17,57 Mpa.  
Pengujian Krokos Pada Pulau Terluar di Provinsi Bengkulu
Pulau Enggano adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang terletak di samudra Hindia. Pulau Enggano ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dan merupakan satu kecamatan Enggano. Pulau Enggano merupakan salah satu pulau yang akan dikembangkan. Pulau ini berada di sebelah barat daya dari kota Bengkulu dengan koordinat 05° 23′ 21″ LS, 102° 24′ 40″ BT. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2020, jumlah penduduk Enggano sebanyak 4.035 jiwa. Sebagian jalan tersebut berupa penetrasi McAdam, sisanya masih jalan tanah. Walaupun LHR-nya kurang dari 50 kendaraan dengan beban kurang dari 8 ton, kondisi jalan tersebut saat ini sudah sangat memprihatinkan. Study ini bertujuan untuk mengetahui hasil terbaik yang akan digunakan untuk perbaikan jalan di provinsi terluar bengkulu. Bahan uji material yang digunakan adalah krokos dan campuran pendukungnya, yaitu agregat lokal (krokos), krokos plus semen 7%, dan krokos plus pasir 35%
Identification of Watershed Conditions and Formulation of Watershed Management Strategies : Case Study in: Musi-Sugihan-Banyuasin-Lemau River Basin, South Sumatra Province
In Indonesia, 39 watersheds were deemed essential in 1994, and the importance of watersheds grew in 2000. The existence of a watershed has the role of being able to sustain water availability, maintain the balance of the ecosystem and as a container for flowing water. The Musi-Sugihan-Banyuasin-Lemau River Area (WS MSBL), which has an area of 86680 km2 and is made up of 23 primary watersheds, is one of the largest watersheds in the Sumatra region. Research was done to determine the state of the watershed so that a strategy for watershed conservation could be chosen. In-depth interviews with stakeholders in the form of focus group discussions (FGD) were utilized as the study method to collect both secondary and primary data about the circumstances of the watershed as well as to gain in-depth management outcomes. The study's findings demonstrate that managing the WS MSBL watershed involves more than only technical issues; it also necessitates involving associated institutions and stakeholders, necessitating the creation of operational watershed management strategies
Analisis Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Cimuncang
Analysis of Real Needs for Operation and Maintenance of the Cimuncang Irrigation Network, Pasirhalang Village, Sukaraja District, Sukabumi Regency. The Cimuncang irrigation network is a canal, main building, and auxiliary buildings that function to provide irrigation water and have a functional area of 299 Ha. However, the current condition of the Cimuncang irrigation area is that there is some damage to the water structures. The Cimuncang irrigation area is included in one of the large irrigation areas which will certainly require a lot of power, supplies and funds to carry out the operation and maintenance of irrigation networks. The results of this study know the Real Needs and Maintenance of the Cimuncang Irrigation Network there are 48.91%, meaning that the performance of irrigation buildings is in the category of heavily damaged, recapitulation of the performance of regulatory buildings, namely 64.1% (moderately damaged) and auxiliary buildings, namely 86% (slightly damaged). , the functional value of the performance of the Cimuncang irrigation canal and road inspection is 71.92%, meaning that the performance of the Cimuncang irrigation canal is included in the category of periodic maintenance that is remedial. The results of the calculation of the RAB for the Real Needs Figures and Maintenance of Irrigation Network activities are Rp. 402,600,000 (Four Hundred Two Million Six Hundred Thousand Rupiah).Analisis Angka Kebutuhan Nyata Operasi Dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Cimuncang Desa Pasirhalang Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi. Jaringan irigasi Cimuncang adalah saluran, bangunan utama, dan bangunan pelengkap yang berfungsi untuk menyediakan air irigasi serta memiliki luas areal fungsionalnya yaitu 299 Ha. Namun, kondisi daerah irigasi Cimuncang saat ini terdapat beberapa kerusakan di bangunan airnya. Daerah irigasi Cimuncang termasuk ke dalam salah satu daerah irigasi luas yang tentunya akan membutuhkan daya, perbekalan dan dana yang tidak sedikit dalam menjalankan operasi serta pemeliharaan jaringan irigasi. Hasil dari penelitian ini mengetahui Angka Kebutuhan Nyata dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Cimuncang terdapat 48,91% artinya kinerja bangunan irigasi termasuk kategori rusak berat, rekap kinerja bangunan pengatur yaitu 64,1% (rusak sedang) dan bangunan pelengkap yaitu 86% (rusak ringan), nilai fungsional kinerja saluran dan inspeksi jalan irigasi Cimuncang 71,92% artinya kinerja saluran irigasi Cimuncang termasuk kategori pemeliharaan berkala bersifat perbaikan. Hasil perhitungan RAB untuk kegiatan Angka Kebutuhan Nyata dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi yaitu sebesar Rp. 402.600.000 (Empat Ratus Dua Juta Enam Ratus Ribu Rupiah)
Analisa Pemilihan Moda Transportasi Langsa – Medan Dengan Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
When traveling from Langsa to Medan or vice versa, travelers will be faced with a choice of modes of transportation, namely Mini Bus L300 AC, L300 Non-AC, Jumbo, and Taxi public transport. To determine the choice of this type of transportation, travelers consider various factors, such as travel time, security, comfort, cost, and so on. A large number of choices of transportation modes makes travelers faced with the problem of selection, travelers must consider the interactions between several modes. The purpose of this study was to find out the best mode of transportation chosen by Langsa-Medan travelers and to find out the criteria for the most influential reasons travelers chose in choosing a mode of transportation. The survey was conducted by distributing questionnaires to users of the Mini Bus L300 AC, L300 Non AC, Jumbo, and Taxi modes of transportation, then the survey results were processed using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method to determine the weight or optimal value of each mode of transportation for the Langsa- Medan. From the results of the analysis of the Analytical Hierarchy Process (AHP) method, the percentage of influencing factors is obtained, namely Security with a priority weight of 32%, Convenience at 29%, Convenience at 14%, Headway at 11%, Cost 7%, Travel time 7%. While the best mode of traveling Langsa-Medan based on existing criteria is the Mini Bus Jumbo mode of transportation with a priority weight of 36%, L300 AC 23%, L300 Non AC 22%, and Taxi 19%.Dalam melakukan perjalanan dari Langsa ke Medan sebaliknya pelaku perjalanan akan dihadapkan pada pilihan jenis moda transportasi, yaitu angkutan umum Mini Bus L300 AC, L300 Non-AC, Jumbo dan Taxi. Untuk menentukan pilihan jenis angkutan inilah pelaku perjalanan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti waktu perjalanan, keamanaan, kenyamanan, biaya dan lain sebagainya. Banyaknya pilihan moda transportasi membuat pelaku perjalanan dihadapkan pada masalah pemilihan, pelaku perjalanan harus mempertimbangkan interaksi antara beberapa moda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui moda transportasi paling baik yang menjadi pilihan para pelaku perjalanan Langsa-Medan, untuk mengetahui kriteria alasan yang paling berpengaruh dipilih pelaku perjalanan dalam memilih moda transportasi. Survei dilakukan dengan menyebar kuisioner pada pengguna moda transportasi Mini Bus L300 AC, L300 Non AC, Jumbo, dan Taxi, kemudian hasil survei diolah dengan menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui bobot nilai optimalnya masing-masing moda transportasi rute Langsa-Medan. Dari hasil analisis metode Analytical Hierarchy Process (AHP) didapat persentase faktor yang mempengaruhi yaitu Keamanan dengan bobot prioritas sebesar 32%, Kenyamanan 29%, Kemudahan 14%, Headway 11%, Biaya 7%, Waktu perjalanan 7%. Sedangkan moda terbaik dalam melakukan perjalanan Langsa-Medan berdasarkan kriteria yang ada yaitu moda transportasi Mini Bus Jumbo dengan bobot prioritas sebesar 36%, L300 AC 23%, L300 Non AC 22%, Taxi 19%