JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING, BUILDING AND TRANSPORTATION
Not a member yet
    179 research outputs found

    Pengujian Nilai CBR Laboratorium Granular Selected Sebagai Lapisan Penopang (Capping Layer) Pada Ruas Jalan Tol Indrapura – Kuala Tanjung

    Full text link
    Pada setiap proyek pembangunan jalan tol, tahap pekerjaan tanah menjadi krusial, melibatkan pengerukan dan timbunan tanah. Tanah, sebagai material utama, memiliki sifat khusus yang memerlukan perhatian, terutama pada kadar air optimal. Kadar air yang tidak sesuai dapat signifikan mempengaruhi daya dukung dan keseimbangan kelembapan tanah, berdampak pada kualitas konstruksi. Penelitian ini merespon pedoman Direktorat Jendral Bina Marga, fokus pada capping layer dari quarry Batang Serangan Ex. PT. KSU, Langkat, Sumatera Utara. Melalui pengujian laboratorium, analisis saringan, kadar air, berat jenis, batas-batas Atterberg, dan CBR, tujuan utama penelitian adalah menentukan sifat fisik dan mekanik material ini. Hasilnya diharapkan memenuhi standar spesifikasi umum Bina Marga 2018 untuk material berbutiran pilihan. Penelitian ini tidak hanya memiliki dampak teknis pada konstruksi, tetapi juga memberikan solusi lingkungan terhadap pekerjaan timbunan dengan kadar air tanah yang tidak sesuai. Pendahuluan menjelaskan pentingnya manajemen tanah dalam konstruksi jalan tol, peran capping layer, dan tujuan penelitian. Hasil analisis saringan memberikan gambaran distribusi ukuran butir material, kritis untuk perancangan capping layer. Pengujian berat jenis agregat, pemadatan, dan batas-batas Atterberg memberikan informasi esensial tentang kepadatan dan karakteristik material. Dari hasil pengujian, material dari quarry Batang Serangan Ex. PT. KSU memenuhi spesifikasi umum jalan tol 2018. Persentase agregat yang lolos saringan sesuai standar, dan sifat pasir sebagai material non-plastis dan non-kohesif terkonfirmasi. Pengujian pemadatan dan CBR memberikan gambaran daya dukung tanah yang baik. Kesimpulannya, material ini dapat diintegrasikan sebagai capping layer dalam konstruksi jalan tol, sesuai dengan standar yang berlaku. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman material konstruksi dan memberikan solusi teknis dan lingkungan yang berkelanjutan.Tanah memiliki kandungan air sehingga kelembapan tanah dapat mempengaruhi kekuatan tanah. Jika nilai CBR pada pengujian CBR Lapangan kurang dari 6%, tentu tanah tersebut tidak layak dipakai untuk pekerjaan timbunan. Dari permasalahan tersebut, Direktorat Jendral Bina Marga membuat solusi dengan lapis penopang. Lapis penopang merupakan lapisan yang terdiri dari material berbutir dengan tujuan meminimalisir efek beban dari struktur perkerasan kelapisan dibawahnya. Tujuan penelitian ini adalah mencari sifat mekanik dan fisik serta kelayakan dari material berbutir dari quarry Batang Serangan Ex PT. KSU, Langkat. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil: nilai lolos saringan No. 4 : 43,46% dan No.200 : 2,51%. Kadar air optimum : 6,95%, berat isi kering maksimum : 2,008 gr/cm3. CBR Laboratorium desain dari 95% berat isi kering maksimum : 43,50%. Dari hail pengujian tersebut, material quarry Batang Serangan Ex PT. KSU telah memenuhi syarat sesuai dengan spesifikasi jalan tol 2018 sebagai material untuk lapisan penopang

    EVALUATION OF AIRPORT RAIL SERVICES BASED ON MINIMUM SERVICE STANDARDS (SPM)

    Full text link
    The Yogyakarta government's decision to construct the Yogyakarta International Airport (YIA) was prompted by the limited capacity of Adisutjipto Airport, which could only accommodate 1.2 million passengers. In reality, the number of passengers exceeded five times its capacity due to congested flight schedules and inadequate airport facilities. Since 2020, flights have been redirected to YIA, as stated on the official Adisutjipto Airport website. The airport's distant location from the city center influenced the development of mass transportation, particularly the direct rail connection between YIA and Yogyakarta city center. The YIA Airport Train Station began operations in October 2021, prompting the need for an evaluation of service facilities within the train and at the YIA Airport Station. This study aims to assess the extent to which services within the Airport Train and the YIA Airport Station meet minimum service standards and to innovate scheduling to improve passenger satisfaction. The Government has established the Minimum Service Standards for People Transportation by Train, covering safety, security, reliability, comfort, convenience, and equality. Evaluation is conducted through qualitative methods, including direct observation and an online questionnaire for primary data collection. The evaluation results indicate that several service facilities do not meet standards, such as the absence of toilets and prayer rooms in the station, a shortage of seating in waiting areas, inappropriate temperatures inside the train, and the need for additional departure schedules aligned with flights. The questionnaire reflects passengers' expectations for improved facilities and scheduling. This study proposes enhancements to facilities and train scheduling as steps toward improving service quality in the Airport Train and YIA Airport Station.One of the factors the Yogyakarta government built Yogyakarta International Airport was because the capacity of the Adisutjipto airport was only able to accommodate 1.2 million passengers but in reality the number of passengers could reach five times the capacity. Due to the very busy flight schedule and inadequate airport capacity, since 2020 the average flight has been diverted to Yogyakarta International Airport (YIA) "quoted from the official Adisutjipto airport website". The location of the airport which is far from the city center has had an impact on the development of mass transportation modes of the Railroad as a direct connector between the airport and Yogyakarta city center. The YIA Airport Train Station will begin operating in October 2021. In this relatively new period, it is necessary to evaluate the service facilities on the Airport Railroad and at the YIA Airport Station. The purpose of this research is to prove to what extent services both on the train and at the YIA airport station have met minimum service standards and to produce new innovations on the effectiveness of train scheduling related to the level of passenger satisfaction. The government itself has Minimum Service Standards for the Transport of People by Train which are listed in the Regulation of the Minister of Transportation of the Republic of Indonesia, Number PM 63 of 2019 concerning Minimum Service Standards for the Transport of People by Train, at Stations and on Trips. The regulation has 6 types of services, namely: Safety, Security, Reliability/Organization, Convenience, Convenience, and Equality. To find out whether the 6 types of services meet service standards, an evaluation can be carried out using qualitative methods with data collection techniques by direct observation in the field and through questionnaires, so that it is known that the implementation of minimum service standards at the Airport Railway and at YIA Airport Station . The stages required in conducting this research include: preparation, problem identification, data collection method by collecting primary data, namely through direct observation and online questionnaire distribution, both of which are analyzed descriptively, data evaluation, discussion, as well as conclusions and suggestions. The results obtained from this study are that there are still several service facilities that are inappropriate or not available in the station such as toilets, prayer rooms, no smoking prohibited signs, no seats available for persons with disabilities and so on, and the contents of the first aid kit are not found on the train , the temperature inside the train is not suitable, not all passengers can sit especially when the train is crowded and so on. Through the results of these observations to ensure the level of service, questionnaires were distributed and analyzed. Broadly speaking, the questionnaire shows that passengers expect the availability of toilets and prayer rooms at the station, the number of seats in the waiting room needs to be increased, the temperature in the room is considered, and the addition of the train departure schedule should be adjusted to the arrival and departure of the plane so that passengers do not wait too long. Keywords: Minimum Service Standards (SPM), Stations, Airport Railroad. &nbsp

    Studi Eksperimental Penggunaan Butiran Expanded Polystyrene (EPS) sebagai Pengganti Pasir pada Campuran Bata Beton

    Full text link
    Expanded Polystyrene (EPS) merupakan material yang lazim digunakan di kehidupan sehari-hari. Dibalik kegunaannya yang masif, penggunaannya dapat memberikan dampak negatif untuk lingkungan karena sifatnya yang tidak biodegradable sehingga menimbulkan permasalahan berupa sampah. Untuk itu, perlu dilakukan upaya mengurangi dampak penggunaan EPS, salah satunya adalah dengan pemanfaatan kembali sampah bulir EPS sebagai penyusun material bata beton ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati karakteristik sampel yang terdiri atas massa jenis dan hubungan tegangan-regangan serta signifikansi perubahan kekuatan tekan jika EPS mengganti elemen pasir pada bata beton penyusun dinding. Pada penelitian eksperimental ini, sampah bulir EPS berukuran 5 mm digunakan sebagai material pengganti pasir dengan variasi 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% dari volume pasir untuk campuran bata beton dengan proporsi massa air : semen : pasir sejumlah 1:1:4 ke dalam silinder berdiameter 10 cm dan tinggi 20 cm. Dari hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa massa jenis yang diperoleh berada di dalam batas massa beton ringan (<1850 kg/m3). Analisis hasil tegangan-regangan dilakukan.  Kekuatan tekan pada campuran bata beton dengan EPS menurun seiring dengan peningkatan jumlah subtitusi pasir dengan EPS yang dilakukan. Hasil kuat tekan yang diperoleh dibandingkan dengan syarat kuat tekan bata beton dan bata ringan menurut Standar Nasional Indonesia (SNI).EPS merupakan material yang lazim digunakan di kehidupan sehari-hari. Dibalik kegunaannya yang masif, penggunaannya dapat memberikan dampak negatif untuk lingkungan karena sifatnya yang tidak biodegradable sehingga menimbulkan permasalahan berupa sampah. Untuk itu, perlu dilakukan upaya mengurangi dampak penggunaan EPS, salah satunya adalah dengan pemanfaatan kembali sampah bulir EPS sebagai penyusun material bata beton ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati karakteristik sampel yang terdiri atas massa jenis dan hubungan tegangan-regangan serta signifikansi perubahan kekuatan tekan jika EPS mengganti elemen pasir pada bata beton penyusun dinding. Pada penelitian eksperimental ini, sampah bulir EPS berukuran 5 mm digunakan sebagai material pengganti pasir dengan variasi 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% dari volume pasir untuk campuran bata beton dengan proporsi massa air:semen:pasir sejumlah 1:1:4 ke dalam silinder berdiameter 10 cm dan tinggi 20 cm. Dari hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa massa jenis yang diperoleh berada di dalam batas massa beton ringan (<1850 kg/m3). Analisis hasil tegangan-regangan dilakukan.  Kekuatan tekan pada campuran bata beton dengan EPS menurun seiring dengan peningkatan jumlah subtitusi pasir dengan EPS yang dilakukan. Hasil kuat tekan yang diperoleh dibandingkan dengan syarat kuat tekan bata beton dan bata ringan menurut Standar Nasional Indonesia (SNI)

    ANALISIS BIAYA OPRASIONAL KENDARAAN PERAHU TRADISIONAL TERHADAP FAKTOR ABILITY TO PAY DI PELABUHAN BIMA

    Full text link
    Daerah Bima, yang sebagian besar dikelilingi oleh laut di Indonesia, sangat mengandalkan transportasi perahu sebagai salah satu sarana mobilitas masyarakat. Angkutan feri, khususnya, memainkan peran penting dalam ekonomi lokal, memengaruhi tingkat aktivitas dan perkembangan ekonomi. Transportasi darat memerlukan waktu tempuh yang lebih lama, sekitar 1 hingga 2 jam, sementara menggunakan transportasi laut hanya memerlukan waktu sekitar 15 hingga 30 menit. Penentuan tarif perahu tradisional memerlukan penanganan dan pertimbangan kebijakan yang cermat untuk menyeimbangkan kepentingan penumpang sebagai konsumen dan penyedia transportasi umum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami tarif angkutan penyeberangan saat ini sehubungan dengan kemampuan ekonomi penumpang dan kesesuaian tarif dengan Biaya Operasional. Penelitian ini menggunakan analisis Ability to Pay untuk mengetahui tingkat kemampuan membayar pengguna jasa agar sejalan dengan tingkat pendapatan dan biaya operasional armada. Perhitungan Ability to Pay menunjukkan bahwa 51% pengguna setuju membayar Rp. 16.000 per satu kali perjalanan, mendominasi tanggapan secara keseluruhan. Selain itu, analisis membandingkan pendapatan dan pengeluaran untuk setiap moda transportasi setiap tahunnya. Dengan asumsi tingkat keterisian penumpang sebesar 100%, keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 685.581.000, untuk 75% sebesar Rp. 483.981.000, dan 50% sebesar Rp. 181.582.000. Penelitian ini memberikan wawasan tentang keseimbangan yang diperlukan antara kepentingan ekonomi penumpang dan operasional yang berkelanjutan dari transportasi feri. Ini memberikan informasi berharga bagi pembuat kebijakan untuk merumuskan kebijakan penetapan harga yang adil dan efektif yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan kebutuhan operasional penyedia transportasi.Daerah Bima merupakah salah satu wilayah di Indonesia yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi oleh laut, transportasi perahu menjadi salah satu sarana yang digunakan untuk mobilitas masyarakat, Di Bima Angkutan Penyebrangan merupakan salah satu sarana yang sangat penting bagi kehidupan perekonomian masyarakat, karena lancar atau tidaknya proses pengangkutan khususnya pengangkutan Penyebrangan mempengaruhi tingkat aktivitas maupun perkembangan ekonomi masyarakat. . Menggunakan transportasi darat memerlukan waktu yang lama, sekitar 1 sampai 2 jam, Sedangkan menggunakan transportasi laut hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 15 sampai 30 menit. Penentuan besaran tarif perahu tradisional membutuhkan penanganan dan kebijakan yang arif. Karena harus dapat menjembatani kepentingan penumpang selaku konsumen dan pengusaha angkutan umum. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah mengetahui tarif angkutan penyeberangan yang berlaku saat ini terhadap  kemampuan penumpang dan Kesesuaian tarif terhadap Biaya Operasional. Penelitian ini menggunakan analisis Ability to Pay untuk mengetahui tingkat kemampuan membayar pengguna jasa agar sejalan dengan tingkat pendapatan dan pembiayaan operasional armada. Perhitungan Ability to Pay mendominasi sebesar 51% pengguna setuju membayar Rp. 16.000 per satu kali perjalanan.  Kemudian hasil analisa antara pendapatan dan pengeluaran per moda angkutan dalam setahun, jika pendapatan diasumsikan berdasarkat tingkat keterisian penumpang sebesar 100% keuntungan diperoleh sebesar Rp. 685.581.000, untuk 75% sebesar Rp. 483.981.000, dan 50% Sebesar Rp. 181.582.000

    KAJIAN RISIKO KERUSAKAN LANDASAN PACU PADA BANDAR UDARA SULTAN SYARIF KASIM II PEKANBARU

    Full text link
    Landasan pacu memiliki peranan yang penting dalam pengoperasian bandara sebagai tempat lepas landas dan mendaratnya pesawat. Dengan peranan yang penting tersebut maka terjadinya kerusakan pada landasan pacu harus diminimalisir. Namun hal berbeda terjadi di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru yang mengalami peningkatan kejadian kerusakan landasan pacu. Pemeliharaan pun dilakukan untuk mengatasi kerusakan landasan pacu namun belum optimal sehingga kerusakan tetap terjadi. Oleh sebab itu pada penelitian ini akan dilakukan kajian risiko yang menyebabkan kerusakan landasan pacu pada Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi risiko yang menjadi penyebab kerusakan pada landasan pacu di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, memperoleh rangking risiko yang menjadi penyebab kerusakan landasan pacu, dan memberikan saran mengenai pemeliharaan landasan pacu yang sebaiknya dilakukan di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian dengan menggunakan kuisioner kepada pengelola Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru mendapatkan ada 21 (dua puluh satu) risiko yang valid menjadi penyebab kerusakan landasan pacu di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Selanjutnya dilakukan  analisis risiko FMECA (Failure Mode Effect and Critically Analysis) menggunakan perhitungan RPN yang menghasilkan bahwa ada 7 (tujuh) risiko tinggi yang menjadi penyebab kerusakan landasan pacu di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Untuk mengantisipasi risiko tinggi  terjadinya kerusakan pada landasan pacu maka perlu dilakukan pemeliharaan landasan pacu. Namun dengan adanya batasan mengenai bandara yang harus tetap beroperasi, jumlah landasan pacu yang hanya satu, dan belum ditemukan metode perbaikan tanah yang efektif. Maka dalam penelitian ini dilakukan perbandingan 2 (dua) metode pemeliharaan yang biasanya digunakan di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru yakni metode patching dan patching-overlay. Dari hasil perbandingan biaya pemeliharaan dari 2 (dua) metode tersebut maka dapat direkomendasikan kepada pengelola bandara untuk melakukan metode patching dalam pemeliharaan landasan pacu di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru

    KELAYAKAN JALUR PENYEBERANGAN ORANG (STUDI KASUS DEPAN PASAR KRANGGAN KOTA YOGYAKARTA): Studi Kasus: Depan Pasar Kranggan Kota Yogyakarta

    No full text
    Perhitungan Kelayakan Jalur Penyeberangan Pejalan Kaki berdasarkan Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki Kementerian PUPR tahun 2018: Studi Kasus di Ruas Jalan Pangeran Diponegoro, Depan Pasar Kranggan Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer melibatkan volume kendaraan, volume pejalan kaki, dan inventarisasi ruas jalan, sedangkan data sekunder mencakup peta lokasi, data kecelakaan, dan survei kinerja lalu lintas. Analisis data melibatkan volume kendaraan, volume pejalan kaki, pemilihan fasilitas penyeberangan, tingkat kecelakaan, estimasi kebutuhan jalur penyeberangan pejalan kaki, perancangan fasilitas penyeberangan, dan durasi lampu pelican crossing. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada ruas Jalan Pangeran Diponegoro, volume kendaraan rata-rata dari dua hari kerja dan dua hari akhir pekan terbagi menjadi tiga sesi pengamatan, yaitu Titik 1 (Pilar Tengah): 2226,78 smp/jam, Titik 2 (Pilar Barat): 2155,95 smp/jam, dan Titik 3 (Pilar Timur): 2125,53 smp/jam. Pada tahun 2023, berdasarkan nilai i real 0,079, belum diperlukan fasilitas penyeberangan pejalan kaki berupa jembatan. Namun, berdasarkan nilai i sesuai MKJI = 4,80, diperlukan jembatan penyeberangan pejalan kaki pada tahun 2031. Dengan mengacu pada nilai PV2 tertinggi sebesar 18,35 x 108, titik yang direkomendasikan untuk pembangunan fasilitas penyeberangan pejalan kaki adalah Titik 1 (Pilar Tengah), dengan kategori kebutuhan fasilitas penyeberangan pejalan kaki berupa pelican dengan lapak tunggu.Perhitungan kelayakan jalur penyeberangan orang menurut Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki dari Kementerian PUPR tahun 2018. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data volume kendaraan, volume penyeberang, inventarisasi ruas jalan. Data sekunder meliputi peta lokasi, data kecelakaan dan survei kinerja lalu lintas. Analisis data meliputi analisis volume kendaraan, volume penyeberang, pemilihan fasilitas penyeberangan, tingkat kecelakaan, perkiraan kebutuhan jalur penyeberangan orang, perancangan pembangunan fasilitas penyeberangan dan durasi lampu pelican crossing.   Pada ruas Jalan Pangeran Diponegoro didapatkan volume kendaraan rata-rata dari 2 (dua) hari kerja dan 2 (dua) hari pada akhir pekan, yang terbagi menjadi 3 (tiga) sesi pengamatan yaitu Titik 1 (Pilar Tengah): 2226,78 smp/jam, Titik 2 (Pilar Barat): 2155,95 smp/jam dan Titik 3 (Pilar Timur): 2125,53 smp/jam sehingga pada tahun 2023 belum membutuhkan fasilitas penyeberangan orang berupa jembatan penyeberangan orang. Berdasarkan nilai i real sesuai data di lapangan pada saat penelitian tahun 2023 yaitu 0,079 maka kebutuhan jembatan penyeberangan orang di ruas Jalan Pangeran Diponegoro pada tahun 2034 sedangkan berdasarkan nilai i sesuai MKJI = 4,80 diperoleh kebutuhan akan jembatan penyeberangan orang di ruas Jalan Pangeran Diponegoro pada tahun 2031. Pada ruas Jalan Pangeran Diponegoro dengan mengacu kepada nilai PV2 tertinggi sebesar 18,35 x 108 maka titik yang direkomendasikan untuk pembangunan fasilitas penyeberangan orang adalah Titik 1 (Pilar Tengah) dengan kategori kebutuhan fasilitas penyeberangan orang berupa pelican dengan lapak tunggu Kata Kunci: jalur penyeberangan orang, keselamatan, pejalan kaki, kinerja lalu lintas, pelican crossing

    ANALYSIS SAFETY FACTOR KUALANAMU RAILWAY EMBANKMENT USING FINITE ELEMENT METHOD

    Full text link
    Analysis of the soil's bearing capacity for the loads acting on the railway tracks is one of the most important parts of planning the structure of the railway to be built. Considering that train activity is very intense and imposes a significant live load on the soil layer beneath it, it is necessary to ensure that the soil layer under the railroad track is able to withstand the entire load. This analysis aims to ensure that the subgrade is able to support the entire load acting on it by calculating the safety factor for the layers of soil and ballast on the railroad track. The calculation method used to obtain the load value is analytical, while the calculation of safety factors and soil settlement is carried out using the finite element method (FEM) calculation concept. From the results of analysis using the finite element method (FEM) using Plaxis 2D, it can be concluded that at the operational stage the maximum drop in the vertical direction was -5.96 mm while the maximum movement in the horizontal direction was 1.12 cm. This is smaller than the maximum drop permitted by Minister of Transportation Regulation No.  60 of 2012, namely 10 cm. The safety factor during train operations is 2.902, so the railroad construction can be declared safe.Analisis daya dukung tanah terhadap beban yang bekerja pada rel kereta api merupakan salah satu bagian terpenting dari perencanaan struktur jalan kereta api yang akan dibangun. Mengingat aktivitas kereta api yang sangat intens dan memberikan beban hidup yang signifikan pada lapisan tanah dibawahnya, perlu dipastikan bahwa lapisan tanah yang ada dibawah jalan kereta api tersebut mampu menahan keseluruhan beban. Analisis ini bertujuan untuk memastikan bahwa tanah dasar mampu mendukung keseluruhan beban yang bekerja diatasnya dengan cara menghitung faktor keamanan lapisan timbunan tanah dan ballast yang berada pada jalan kereta api tersebut. Metode perhitungan yang digunakan untuk mendapatkan nilai beban adalah secara analitis, sedangkan perhitungan faktor keamanan dan penurunan tanah dilakukan dengan konsep perhitungan metode elemen hingga (FEM). Dari hasil analisis menggunakan metode elemen hingga (FEM) menggunakan Plaxis 2D, dapat disimpulkan bahwa pada tahapan operasional penurunan maksimum arah vertikal adalah sebesar -5,96 mm sedangkan pergerakan maksimum arah horizontal adalah 1,12 cm ini lebih kecil dari penurunan maksimum diizinkan Permenhub No. 60 Tahun 2012 yaitu sebesar 10 cm. Safety factor saat operasional kereta api adalah sebesar 2,902, sehingga konstruksi jalan kereta api tersebut dapat dinyatakan aman

    Analisis Tingkat Layanan Kinerja Simpang Bersinyal pada Kawasan Komersial

    Full text link
    Tantangan serius dalam pengelolaan transportasi kota melibatkan konflik arus lalulintas dan kemacetan, khususnya di simpang, tempat kendaraan dari berbagai arah berpotongan. Konflik di simpang disebabkan oleh pertemuan antar kendaraan, sementara kemacetan di daerah simpang berkaitan erat dengan antrian atau tundaan di sepanjang pendekat simpang. Pengendalian simpang melalui sistem kendali lampu lalulintas merupakan metode umum yang digunakan untuk mengatasi masalah ini. Meskipun sudah banyak sistem lampu lalulintas yang terpasang, simpang bersinyal masih menghadapi masalah seperti tundaan atau antrian panjang, terutama pada jam sibuk, yang menjadi indikator kinerja simpang. Penelitian ini fokus pada analisis kinerja simpang bersinyal Fatmawati di kota Semarang menggunakan metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997. Geometrik simpang, volume lalu lintas, sinyalisasi, dan faktor-faktor lainnya menjadi pertimbangan dalam analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus lalu lintas puncak pada setiap pendekat simpang memiliki nilai mencapai 589,7 smp/jam, 576,0 smp/jam, dan 354,4 smp/jam. Derajat kejenuhan (DS) untuk masing-masing pendekat simpang adalah 0,58, 0,48, dan 0,57, sedangkan panjang antrian berkisar antara 68 hingga 93 meter. Dengan menggunakan nilai DS dan panjang antrian, simpang Fatmawati diklasifikasikan pada tingkat Layanan (Level of Service - LOS) C. Penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang kinerja simpang bersinyal dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan dan peningkatan kapasitas simpang tersebut. Metode MKJI 1997 dan analisis matriks menjadi landasan untuk mengevaluasi geometrik, arus lalu lintas, dan sinyal simpang, yang akhirnya dapat berkontribusi pada perencanaan dan pengelolaan lalu lintas yang lebih efektif di simpang bersinyal Fatmawati dan area sekitarnya.Simpang adalah daerah rawan kemacetan dan konflik antar kendaraan. Meskipun sudah terpasang sinyalisasi pada simpang, massih banyak ditemui permasalahan pada simpang, seperti tundaan atau antrian yang panjang terutama pada saat peak hour. Salah satu simpang di kota Semarang yang memiliki antrian atau tundaan panjang adalah simpang Pedurungan. Kawasan Pedurungan merupakan kawasan potensial dengan fungsi tataguna lahan yang bersifat komersiaal atau perdagangan. Dampak dari kawasan komersial adalah tingginya hambatan samping, seperti kendaraan keluar masuk pendekat, pejalan kaki, parkir pada sisi jalan serta kendaraan yang bergeraak melambat. Berdasarkan hal tersebut bertujuan untuk menganalisis kinerja simpang bersinyal dengan metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997. Variabel dari penelitian ini terdiri dari variabel terikat (panjang antrian) serta variabel bebas (jumlah kendaraan, geometrik, fase, waktu siklus, hambatan samping, kelandaian, perparkiran dan rasio belok kiri maupun kanan). Arus lalulintas tertinggi pada tiap pendekat adalah sebesar 589,7 smp/jam (pendekat Jalan Majapahit (ke Arah Simpang Lima)); 576,0 smp/jam (pendekat Jalan Fatmawati) dan 354,4 smp/jam (pendekat Jalan Brigjen Sudiarto (ke arah Mranggen)). Nilai derajat kejenuhan (Degree of Saturation (DS) untuk tiap pendekat simpang yaitu 0,58 (pendekat Jalan Majapahit (ke Arah Simpang Lima)); 0,48 (pendekat Jalan Fatmawati) serta 0,57 (pendekat Jalan Brigjen Sudiarto (ke arah Mranggen)). Panjang antrian untuk masing - masing pendekat simpang adalah 93 meter (pendekat Jalan Majapahit (ke Arah Simpang Lima)); 70 meter (pendekat Jalan Fatmawati) dan 68 meter (pendekat Jalan Brigjen Sudiarto (ke arah Mranggen)). Dari nilai DS dan panjang antrian yang dihasilkan, kinerja simpang Fatmawati berada pada Level of Service atau LOS (C)

    PERBANDINGAN RESPON SEISMIK SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN BIASA DAN MENENGAH PADA GEDUNG SIMETRIS DUA ARAH

    Full text link
    Penelitian ini membahas tentang perbandingan kinerja struktur terhadap respons seismik antara metode Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB) dan Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) pada bangunan pendidikan 7 lantai di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Metode penelitian menggunakan teknik pengumpulan data primer dan sekunder serta permodelan 3D dengan software SAP2000. Analisis meliputi analisis statik ekuivalen dan analisis dinamik respon spektrum, dengan memperhitungkan pembebanan sesuai dengan standar SNI. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa gedung dengan metode SRPMM memiliki berat bangunan lebih ringan dibandingkan dengan SRPMB, namun gaya geser dasar pada SRPMM lebih rendah dari SRPMB. Hal ini disebabkan oleh nilai koefisien modifikasi respons dan faktor pembesaran simpangan lateral yang berbeda antara kedua metode. Dalam hal pergerakan lateral, gedung dengan metode SRPMM menunjukkan simpangan yang lebih besar daripada SRPMB. Hal ini disebabkan oleh faktor pembesaran simpangan lateral yang lebih tinggi pada SRPMM. Meskipun demikian, keduanya masih memenuhi persyaratan kestabilan struktur yang ditetapkan dalam SNI 1726:2019. Dengan demikian, dalam memilih metode sistem rangka pemikul momen untuk bangunan gedung, perlu dipertimbangkan aspek-aspek seperti berat bangunan, gaya geser dasar, dan simpangan lateral. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang perbandingan kinerja antara SRPMB dan SRPMM, yang dapat menjadi pedoman dalam proses perencanaan dan desain struktur bangunan gedung di daerah dengan risiko gempa yang tinggi seperti Indonesia

    PENGARUH PENAMBAHAN ABU SEKAM PADI TERHADAP KOMPOSISI CAMPURAN ASPAL BETON (AC WC)

    Full text link
    Transportasi yang membutuhkan perkuatan dengan bahan pengisi (filler). Salah satu inovasinya digunakan filler dari abu sekam padi. Pada penelitian dengan metode eksperimental ini, digunakan limbah abu sekam padi dengan variasi 0%, 3%, 4,5% dan 5%. Dari hasil pengujian diketahui bahwa penambahan abu sekam padi sebagai filler pada campuran aspal AC-WC dapat meningkatkan nilai-nilai karakteristik Marshall Test. Hal ini ditunjukkan dengan nilai-nilai karakteristik Marshall Test campuran aspal AC-WC dengan penambahan abu sekam padi 3% yang memenuhi Spesifikasi Bina Marga 2018 Revisi II. Dimana dari hasil pengujian didapat nilai stabilitas 835,62 kg (spesifikasi min 800 kg), VIM 2,422% (spesifikasi min 2%), VMA 14,586% (spesifikasi min 13%), VFA 94,223% (spesifikasi min 65%), Flow 2,48 mm (spesifikasi min 2,0-4,0 mm), dan nilai MQ 416,267 kg/mm (spesifikasi min 250 kg/mm).Transportasi yang membutuhkan perkuatan dengan bahan pengisi (filler). Salah satu inovasinya digunakan filler dari abu sekam padi. Pada penelitian dengan metode eksperimental ini, digunakan limbah abu sekam padi dengan variasi 0%, 3%, 4,5% dan 5%. Dari hasil pengujian diketahui bahwa penambahan abu sekam padi sebagai filler pada campuran aspal AC-WC dapat meningkatkan nilai-nilai karakteristik Marshall Test. Hal ini ditunjukkan dengan nilai-nilai karakteristik Marshall Test campuran aspal AC-WC dengan penambahan abu sekam padi 3% yang memenuhi Spesifikasi Bina Marga 2018 Revisi II. Dimana dari hasil pengujian didapat nilai stabilitas 835,62 kg (spesifikasi min 800 kg), VIM 2,422% (spesifikasi min 2%), VMA 14,586% (spesifikasi min 13%), VFA 94,223% (spesifikasi min 65%), Flow 2,48 mm (spesifikasi min 2,0-4,0 mm), dan nilai MQ 416,267 kg/mm (spesifikasi min 250 kg/mm)

    153

    full texts

    179

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING, BUILDING AND TRANSPORTATION
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇