Kodifikasia : Jurnal Penelitian Islam
Not a member yet
229 research outputs found
Sort by
SPIN-OFF SHARIA BANKING IN INDONESIA: CALCULATION PROJECTION AND CRITICAL STUDY REGULATION
Undang-undang Perbankan Syariah No. 21 Tahun 2008 menyebutkan bagi Bank Umum Konvensional (BUK) yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) dengan nilai aset telah mencapai paling sedikit 50% dari total nilai aset bank induknya atau 15 (lima belas) tahun sejak berlakunya Undang-undang wajib menjadi Bank Umum Syariah (BUS). Dalam Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah Tahun 2020-2025 terkait Perizinan, Pengaturan dan Pengawasan, OJK tidak menjelaskan kesiapan UUS untuk spin off dari Bank Induk Konvensional menjadi BUS. Penelitian ini bertujuan mengkritisi kebijakan pemerintah terkait perubahan UUS menjadi BUS, serta memberi masukan untuk merevisi Undang-undang Perbankan Syariah terkait perubahan UUS menjadi BUS. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Unit Usaha Syariah (UUS) bisa berubah menjadi Bank Umum Syariah (BUS) pada tahun 2034 bukan pada tahun 2023. Peraturan dan regulasi terkait teknis operasional persiapan transmisi pemisahan UUS menjadi BUS, perlu diperkuat kembali dan dipertegas dengan peraturan yang baru. [Sharia Banking Law No. 21 of 2008 states that Conventional Commercial Banks (BUK) that have Sharia Business Units (UUS) with asset values have reached at least 50% of the total asset value of their parent bank or 15 (fifteen) years since the enactment of the Law are obliged to become Commercial Banks. Sharia (BUS). In the 2020-2025 Sharia Banking Development Roadmap related to Licensing, Regulation and Supervision, OJK did not explain the readiness of UUS to spin off from a Conventional Parent Bank to become a BUS. This study aims to criticize government policies regarding the change of UUS to BUS, as well as to provide input for revising the Sharia Banking Law regarding the change from UUS to BUS. This research is a quantitative research with a descriptive approach. The results showed that the Sharia Business Unit (UUS) could turn into a Sharia Commercial Bank (BUS) in 2034 instead of 2023. Regulations and regulations related to the technical operational preparation for the transmission of separation of UUS into BUS, need to be strengthened and reinforced with new regulations.
EFFECTS OF MUHAMMAD ABDUH IN MALAYAN-INDONESIA ARCHIPELAGO
Muhammad Abduh mempunyai pengaruh dan dampak yang kukuh dan luar biasa di kepulauan Nusantara. Karya-karya dan ideanya sangat berpengaruh dan kekal bertahan di rantau ini dengan kesannya yang meluas dalam landskap politik dan sosialnya. Beliau telah memberikan impak yang mendalam terhadap pergerakan Islam moden seperti Persyarikatan Muhammadiyah, Jam”˜iyah al-Irsyad, Persatuan Islam (Persis), Pensyarikatan Ulama, Hizbul Muslimin, dan Sarekat Islam. Tafsir al-Manar-nya telah memberi pengaruh yang jelas kepada karya-karya tafsir yang terhasil di Nusantara, seperti Tafsir al-Azhar, Tafsir al-Qur’anul-Karim, dan sebagainya. Majalah al-Manar yang diilhamkan oleh Muhammad Abduh dan Rashid Rida telah memberikan inspirasi dan pikiran dasar terhadap banyak berkala dan akhbar yang berorientasikan reform yang menyalin dan menerjemahkan tulisan-tulisannya seperti majalah al-Munir, al-Imam, al-Ikhwan, Saudara, dan lainnya. Justeru, makalah ini bertujuan meninjau pengaruh Abduh yang ekstensif dalam kebangkitan gerakan pembaharuan di Arkipelago Melayu. Kajian ini berbentuk studi kualititif dari jenis penelitian pustaka dengan metode analisis kandungan. Data yang terkumpul dianalisis secara deksriptif dan analitik. Penemuan kajian membuktikan bahawa Muhammad Abduh mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harakat pembaharuan (tajdid) dan tradisi rasional yang berkembang di kepulauan Melayu-Indonesia.[Muhammad Abduh had a remarkably profound and lasting impact in South East Asia. His works and ideas were highly influential in the region with strong repercussion in its political and social landscape. He had strongly impacted the movements of Muhammadiyah, al-Irsyad and Persatuan Islam (Persis). His Tafsir al-Manar had broke the ground with rational outlook that influence major works of tafsir such as Tafsir al-Azhar, Tafsir al-Quranul Karim, and others. The Majallah al-Manar planned and initiated by Muhammad Abduh had significantly inspired many reform oriented works and periodicals such as journal al-Imam, al-Munir, al-Ikhwan, Saudara, al-Dhakhirah al-Islamiyah and Seruan Azhar. Thus this paper attempts to survey Abduh’s extensive influence and its impact on Islamic reform (tajdid) in the Malay Archipelago. The method of study is based on qualitative approaches, using content analysis method. It was conducted based on library research to investigate the related data that was subsequently analyzed using descriptive-analytical approaches, The finding concluded that Muhammad Abduh had deep influence in religious reform and rational tradition that flourished in the Malay-Indonesian Archipelago.
STRATEGI PEMASARAN AMANAH FINANCE CABANG BULUKUMBA DALAM MENINGKATKAN PEMBIAYAAN MURABAHAH
Di era modern ini, pertumbuhan bisnis semakin meningkat dan semakin hari kian bersaing, banyaknya perusahaan dengan produk pembiayaan yang sejenis. Adanya kesamaan produk antar perusahaan ini menyebabkan terjadinya persaingan antar perusahaan dalam memperebutkan pangsa pasar serta konsumen. Untuk dapat memenangkan persaingan ini, maka sangat diperlukan startegi untuk menarik minat konsumen terhadap produk pembiayaan. Amanah Finance memerlukan adanya penerapan strategi pemasaran yang sesuai syariah sehingga dapat meningkatkan pembiayaan murabahah demi memenangkan persaingan pangsa pasar. Penelitian ini merupakan kualitatif dengan pendekatan fenomologis. Data dikumpulkan dengan pengamatan mencakup deskripsi dalam konteks mendetail yang disertai catatan hasil pengamatan, wawancara, serta hasil analisis dokumen dan catatan. Teknik analisis menggunakan deskriptif analitis melalui reduksi data dan verifikasi/ penarikan kesimpulan. Dengan hasil penelitian bahwa strategi pemasaran Amanah Finance Cabang Bulukumba dalam meningkatkan pembiayaan akad murabahah terbagi menjadi dua yaitu strategi internal dan eksternal. Strategi internal yang dilakukan adalah dengan menjalankan strategi bauran pemasaran (marketing mix) yang meliputi 4P yakni strategi penentuan lokasi (place), strategi produk (produk), strategi harga (price), dan strategi promosi (promotion). Strategi eksternal yang dilakukan Amanah Finance terbagi menjadi dua faktor lingkungan. Pertama; lingkungan mikro adalah kekuatan yang dekat dengan lembaga yang bersangkutan dengan pelayanan nasabah. Kedua; lingkungan makro lebih menekankan kepada kemampuan yang mempengaruhi lembaga Amanah Finance secara keseluruhan. Strategi pemasaran yang dilakukan menunjukkan bahwa pembiayaan kendaraan dengan akad murabahah memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kelemahannya, begitupun dengan peluangnya lebih besar daripada ancamannya. [In this modern era, business growth is increasing and increasingly competitive, there are many companies with similar financing products. The existence of product similarities between these companies causes competition between companies in fighting for market share and consumers. To be able to win this competition, a strategy is needed to attract consumers' interest in financing products. Amanah Finance requires the implementation of sharia-compliant marketing strategies to increase murabahah financing to win market share competition. This research is qualitative with a phenomenological approach. Data were collected through observations, including descriptions in detailed contexts accompanied by notes on observations, interviews, and analysis of documents and notes. The analysis technique uses analytical descriptive through data reduction and verification/drawing concluding. With the research results, the marketing strategy of the Bulukumba Branch of Amanah Finance in increasing murabahah financing is divided into two, namely internal and external strategies. The internal strategy undertaken is to implement a marketing mix strategy which includes the 4Ps, namely the strategy for determining the location (place), the strategy for the product (product), the strategy for the price (price), and the strategy for promotion (promotion). The external strategy implemented by Amanah Finance is divided into two environmental factors. First; The microenvironment is a force close to the institution concerned with customer service. Second; The macro-environment places more emphasis on capabilities that affect the overall Amanah Finance institution. The marketing strategy carried out shows that the vehicle financing is with a contractmurabahah have strengths greater than weaknesses, likewise with greater opportunities than threats.]Amanah Finance Cabang Bulukumba adalah salah satu lembaga keuangan non bank dalam bidang pembiayaan berkonsep syariah. Lembaga keuangan non bank ini menghendaki proses pembiayaan terbebas riba dan terfokus pada permintaan serta minat masyarakat. Maka Amanah Finance memerlukan adanya penerapan strategi pemasaran yang sesuai syariah sehingga dapat meningkatkan pembiayaan murabahah. Penelitian ini merupakan kualitatif. Data dikumpulkan dengan pengamatan mencakup deskripsi dalam konteks mendetaol yang disertai catatan hasil pengamatan, wawancara, serta hasil analisis dokumen dan catatan. Teknik analisis menggunakan deskriptif analitis dan SWOT. Dengan hasil penelitian bahwa strategi pemasaran Amanah Finance Cabang Bulukumba dalam meningkatkan pembiayaan akad murabahah terbagi menjadi dua yaitu strategi internal dan eksternal. Strategi internal yang dilakukan adalah dengan menjalankan strategi bauran pemasaran (marketing mix) yang meliputi 4P yakni strategi penentuan lokasi (place), strategi produk (produk), strategi harga (price), dan strategi promosi (promotion). Strategi eksternal yang dilakukan Amanah Finance terbagi menjadi dua faktor lingkungan. Pertama; lingkungan mikro adalah kekuatan yang dekat dengan lembaga yang bersangkutan dengan pelayanan nasabah. Kedua; lingkungan makro lebih menekankan kepada kemampuan yang mempengaruhi lembaga Amanah Finance secara keseluruhan. Strategi pemasaran yang dilakukan menunjukkan bahwa pembiayaan kendaraan dengan akad murabahah memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kelemahannya, begitupun dengan peluangnya lebih besar daripada ancamannya. Kata Kunci: strategi pemasaran; pembiayaan; murabaha
PRINCIPLES OF ISLAMIC ECONOMIC NORMS IN THE AL-QUR’AN PERSPECTIVE
Ekonomi Islam adalah ilmu sosial yang mempelajari masalah ekonomi masyarakat yang terinspirasi oleh nilai-nilai Islam. Al- Al-Qur’an tidak hanya membatasi pada orang beriman, tetapi kemanusiaan secara keseluruhan, yang seharusnya tidak terjadi perampasan orang lain dengan cara yang tidak benar (salah). Dengan adanya al-Al-Qur’an sebagai sebuah solusi dan menegaskan bahwa harta dan kekayaan harus didistribusikan secara adil dan merata, tidak boleh berhenti atau berputar di kalangan elit saja. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dan bersifat deskriptif, analitik dan komparatif. al-Al-Qur’an telah menawarkan prinsip keadilan dan kesucian pada tiga aspek sekaligus. Ketiga aspek tersebut adalah pertama, melarang pemilikan atau pengelolaan harta yang haram (dzatiyahnya). Kedua, terlarang dalam cara dan proses memperoleh atau mengelola dan mengembangkannya, ketiga, terlarang pada dampak pengelolaan. Keadilan adalah hak individu, kelompok dan golongan. Artinya nilai-nilai kebenaran dan kualitas kebajikan harus diberikan kepada setiap orang. Ketidakadilan ekonomi adalah penyebab perselingkuhan sosial, korupsi dan ketidaksetaraan sosial. Al-Al-Qur’an tidak hanya membatasi kepada orang mukmin tetapi manusia secara keseluruhan, yakni hendaknya jangan terjadi pengambilan hak orang lain dengan cara yang tidak benar. Pengambilan, pengalihan atau pertukaran hak dari seseorang kepada orang lain hendaknya dilakukan dengan cara halal, rela sama rela, tak ada yang rugi dan dirugikan. [Islamic economics is a social science that studies the economic problems of society which are inspired by Islamic values. The Al-Qur’an does not only limit the believers, but humanity as a whole, which should not be deprived of others in an unrighteous (wrong) way. With the existence of the Al-Qur’an as a solution and emphasizing that wealth and wealth must be distributed fairly and evenly, it should not stop or rotate among the elite. This research is a library research and is descriptive, analytic and comparative. al-Al-Qur’an has offered the principles of justice and holiness in three aspects at once. The three aspects are, first, prohibiting the ownership or management of illegal assets. Second, prohibited in the way and process of obtaining or managing and developing it, third, prohibited on the impact of management. Justice is the right of individuals, groups and groups. This means that the values of truth and the quality of virtue must be given to everyone. Economic injustice is a cause of social infidelity, corruption and social inequality. The Al-Qur’an does not only limit the believers but the human being as a whole, that is, there should be no taking of other people's rights in an improper way. Taking, transferring or exchanging rights from one person to another should be carried out in a lawful manner, mutually willing, no one loses or loses.
KOMPARASI ABORSI DALAM PERSPEKTIF MAQASHID SYARI’AH IMAM GHAZALI DAN HUBUNGANNYA DENGAN FAKTOR EKONOMI
Kebolehan aborsi telah memperoleh legislasi di Indonesia, meskipun dalam hukum Islam melarang adanya praktik aborsi. Adanya legislasi ini membuat resah masyarakat karena hal ini bisa menyebabkan pihak lain dengan leluasa melakukan aborsi. Pada kenyataannya aborsi bisa dilakukan karena kehamilan yang tidak diharapkan (KTD) baik dalam perkawinan maupun di luar perkawinan seperti pemerkosaan. Korban perkosaan yang mengalami hamil akan memiliki trauma yang sangat luar biasa yang dapat mengancam dirinya. Maka dari itu perlu adanya tindakan-tindakan untuk mengurangi dampak yang terjadi pada diri korban. Selain itu, faktor ekonomi turut andil dalam menyumbang angka aborsi. Jenis penelitian ini adalah kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi sumber-sumber data dengan analisis menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Objek dari penelitian ini adalah pasal-pasal yang mengatur kebolehan aborsi dalam perundangan-undangan di Indonesia dengan analisis maqashid syari’ah Imam Ghazali. Kebolehan aborsi ini bertujuan untuk melindungi nyawa si ibu, karena ibu merupakan induk yang hidup dan memiliki tanggung jawab terhadap kehidupannya. Praktik Aborsi tentunya harus memperhatikan standar prosedur kelayakan yang telah ditetapkan oleh tim medis, tidak boleh melakukannya dengan cara illegal karena itu bisa membahayakan nyawa si ibu. Di samping itu, aborsi pun berhubungan dengan faktor ekonomi. [The permissibility of abortion has obtained legislation in Indonesia, although in Islamic law it prohibits the practice of abortion. The existence of this legislation has made the public uneasy because this could cause othe parties to carry out abortions. In fact, abortion can be done because of an unexpected pregnancy (KTD) both in marriage and outside of marriage such as rape. Rape victims who become pregnant will experience tremendous trauma that can threaten themselves. Therefore, it is necessary to take measures to reduce the impact on victims. Other than that, economic factors also contribute to the number of abortions. This type of research is a library with a qualitative approach, the data study method used is documentation of data sources with analysis using descriptive-qualitative methods. The object of this research is the articles regulating the permissibility of abortion in Indonesian legislation with the analysis of the maqashid syari’ah Imam Ghzali. Abortion permits are intended to protect the life of the mother, because the mother is a living parent and has responsibility for her life. The practice of abortion, of course, must pay attention to standard procedures set by the medical team, not to do it illegally because it could endanger the life of the mother. Othet than that, abortion is also relate to economic factors.
GLOKALISASI PENDIDIKAN: STUDI ATAS REVITALISASI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA
Adanya inferiority complex yang menjangkiti kaum pribumi dan paham koloni dari Belanda pada masa penjajahan, akhirnya ajaran diferensiasi sosial masuk ke masyarakat Indonesia. Belanda dengan sengaja membedakan antara pribumi dan non pribumi, sehingga mencabut akar identitas bangsa. Dalam kondisi tersebut, diperlukan sebuah lembaga pendidikan model baru yang bisa diakses oleh semua orang dengan menggabungkan tradisi luhur dan modernitas. Taman siswa (1922), sebagai jawaban Ki Hajar Dewantara atas lembaga pendidikan yang dimaksud. Penelitian ini merupakan penelitian literatur yang dianalisis dengan menggunakan hermeneutika filosofis. Penelitian ini ingin mengungkap, Pertama, Bagaimana konsep pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara berbasis kearifan lokal? Kedua, Bagaimana konsep pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara berwawasan global? Ketiga, Bagaimana revitalisasi pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang glokalisasi pendidikan? Adapun tujuan dalam penelitian ini untuk Memberikan gambaran pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang konsep pendidikan yang masih melestarikan tradisi, mengembangkan modernitas, rancang bangun konseptual tersebut sebagai dasar untuk me-revitalisasi pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan di Indonesia. Hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan; Pertama,konsep pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara berbasis kearifan lokal meliputi 3 hal, yaitu: local assets, traditions, values and beliefs. Kedua,konsep pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara berwawasan global melliputi: Bidang ekonomi, bidang sosio-cultural dan bidang akademik. Ketiga,revitalisasi pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang glokalisasi pendidikan, yaitu: revitalisasi aspek global dan revitalisasi aspek lokal dengan perencanaan glokalisasi pendidikan melalui: Komitmen kelembagaan; pembentukan kelompok perencanaan strategis dan komite pengarah, Penilaian kontekstual; Mengembangkan rencana strategis, Validasi; Adopsi dan Perayaan. [During the Dutch colonial period, The Netherlands deliberately distinguishes between natives and non-natives, thereby eliminating national identity. Under these conditions, a new model of educational institution is needed that can be accessed by everyone by combining the noble tradition and modernity. Taman Siswa (1922) is the answer of Ki Hajar Dewantara to the educational institution that intended. This research is a literature research that analyzed by using the philosophical hermeneutics. This research reveal, First, how is the concept of Ki Hajar Dewantara on education thought based on the local wisdom? Second, how is the concept of Ki Hajar Dewantara on the educational of global-minded? Third, how is the revitalization of Ki Hajar Dewantara's thoughts on the education glocalization? The purpose of this study is to provide a description of Ki Hajar Dewantara's thoughts on education glocalization (global, local and revitalizing aspects of his ideas). The results of this study concluded; First, the concept of Ki Hajar Dewantara education thought based on local wisdom includes 3 types, namely: local assets, traditions, values and beliefs. Second, the concept of global education Ki Hajar Dewantara's thinking includes: Economic, socio-cultural and academic. Third, the revitalization of Ki Hajar Dewantara's thoughts on the education glocalization, namely: revitalizing global aspects and revitalizing local aspects with the planning of education glocalization through: Institutional commitment; the formation of a strategic planning group and steering committee, contextual assessment; Develop a strategic plan, Validation; Adoption and Celebration.
MURÄ€’AH MUZAKKI PADA ZAKAT PERTANIAN DAN PERKEBUNAN DALAM PANDANGAN AL-QARADHAWI
Tujuan utama fundraising zakat adalah peningkatan realisasi potensi zakat untuk mewujudkan kesejahteraan mustahik zakat sehingga mereka bisa menjadi muzakki di masa yang akan datang. Tujuan ini menjadikan kegiatan fundraising lebih cenderung memperhatikan keadaan mustahik zakat dan mengenyampingkan keadaan muzakki sehingga terkesan tidak seimbang antara kedua belah pihak (muzakki dan mustahik zakat). Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri beberapa pertimbangan keadaan dan situasi (murÄ’ah) terhadap muzakki khususnya dalam zakat pertanian dan perkebunan yang dilakukan oleh Al-Qaradhawi sehingga mempengaruhi penetapan hukum (istinbaá¹ aḥkÄm), tarjÄ«h atau menguatkan hukum yang telah ada. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dengan analisis isi dari rujukan utama kitab “Fiqh al-ZakÄh” karya Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Qaradhawi berpijak pada murÄ’ah muzakki dalam menguatkan hukum yang telah ada seperti kepemilikan penuh, kadar zakat yang wajib ditunaikan bergantung pada irigasi, waktu perhitungan nisab dan menunaikan zakat. Selain menguatkan hukum, Al-Qaradhawi juga men-tarjÄ«h pendapat, diantaranya pengurangan al-matlÅ«bat al-hallah sebelum perhitungan nisab. Al-Qaradhawi juga mempunyai sikap untuk menetapkan hukum yang tidak tertera dalam Nash berdasarkan murÄ’ah muzakki yaitu menetapkan kadar wajib zakat sebesar 7,5% bagi yang mengalami keseimbangan antara pemakaian irigasi dengan beban dan tadah hujan (tanpa beban). [The main goal of zakah fundraising is to increase the realization of zakah potential to create the mustahik zakah’s welfare so that they can become muzakki in the future. This goal makes fundraising activities tend to pay attention to the condition of mustahik zakat instead of the condition of muzakki so that it seems unbalanced between the two parties (muzakki and mustahik zakah). This study aims to explore several considerations of circumstances and situations (murÄ'ah) to muzakki, especially in agricultural zakah that is carried by Al-Qaradhawi that affects the legal establishment (istinbaá¹ aḥkÄm), tarjÄ«h or strengthens the existing laws. This research is library research with content analysis from the book of "Fiqh al-ZakÄh" by Syeikh Yusuf Al-Qaradhawias as the main reference. The findings show that Al-Qaradhawi stood on murÄ'ah muzakki in strengthening existing laws such as full ownership, the amount of zakah to be paid that depends on irrigation, and time in calculating nisab and paying it. In addition, to strengthening the existing laws, Al-Qaradawi also did tarjih the opinions, among of them is the reduction of al-matlÅ«bat al-hallah before calculating the nisab. Al-Qaradhawi also has a legal stance to stipulate a law based on murÄ'ah muzakki that is not stated in Nash, which is to determine the compulsory level of zakat at 7.5% for those who experience both cost irrigation and non-cost irrigation, equally.]Abstrak:Tujuan utama dari fundraising zakat adalah peningkatan realisasi potensi zakat untuk mewujudkan kesejahteraan mustahik zakat sehingga mereka bisa menjadi muzakki di masa yang akan datang. Tujuan ini menjadikan kegiatan fundraising lebih cenderung memperhatikan keadaan mustahik zakat dan mengenyampingkan keadaan muzakki sehingga terkesan tidak seimbang antara kedua belah pihak (muzakki dan mustahik zakat). Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri beberapa pertimbangan keadaan dan situasi (murÄ’ah) terhadap muzakki khususnya dalam zakat pertanian dan perkebunan yang dilakukan oleh Al-Qaradhawi sehingga mempengaruhi penetapan hukum (istinbaá¹ aḥkÄm), tarjÄ«h atau menguatkan hukum yang telah ada. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dengan rujukan utama kitab “Fiqh al-ZakÄh” karya Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Qaradhawi berpijak pada murÄ’ah muzakki dalam menguatkan hukum yang telah ada seperti kepemilikan penuh, kadar zakat yang wajib ditunaikan bergantung pada irigasi, waktu perhitungan nisab dan menunaikan zakat. Selain menguatkan hukum, Al-Qaradhawi juga men-tarjÄ«h pendapat, diantaranya pengurangan al-matlÅ«bat al-hallah sebelum perhitungan nisab. Al-Qaradhawi juga mempunyai sikap hukum berdasarkan murÄ’ah muzakki untuk menetapkan hukum yang tidak tertera dalam Nash yaitu menetapkan kadar wajib zakat sebesar 7,5% bagi yang mengalami keseimbangan antara pemakaian irigasi dengan beban dan tadah hujan (tanpa beban).Kata Kunci : MurÄ’ah Muzakki, Zakat Pertanian, Al-Qaradhawi Abstrack:The main goal of zakah fundraising is to increase the realization of zakah potential to create the mustahik zakah’s welfare so that they can become muzakki in the future. This goal makes fundraising activities tend to pay attention to the condition of mustahik zakat instead of the condition of muzakki so that it seems unbalanced between the two parties (muzakki and mustahik zakah). This study aims to explore several considerations of circumstances and situations (murÄ'ah) to muzakki, especially in agricultural zakah that is carried by Al-Qaradhawi that affects the legal establishment (istinbaá¹ aḥkÄm), tarjÄ«h or strengthens existing laws. This research is library research with which the book "Fiqh al-ZakÄh" by Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi is the main reference. The research findings show that Al-Qaradhawi stood on murÄ'ah muzakki in strengthening existing laws such as full ownership, the amount of zakah to be paid that depends on irrigation, and time in calculating nisab and paying it. In addition to strengthening the existing laws, Al-Qaradawi also did tarjih the opinions, among of them is the reduction of al-matlÅ«bat al-hallah before calculating the nisab. Al-Qaradhawi also has a legal stance to stipulate a law based on murÄ'ah muzakki that is not stated in Nash, which is to determine the compulsory level of zakat at 7.5% for those who experience both cost irrigation and non-cost irrigation equally.Keywords: MurÄ’ah Muzakki, Agricultural Zakah, Al-Qaradhaw
INDEKS DIMENSI MAKRO BAZNAS KOTA MATARAM BERDASARKAN INDEKS ZAKAT NASIONAL
Kemiskinan menjadi permasalahan umum di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Bagi umat islam, zakat merupakan instrumen pengentas kemiskinan. Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar, perlu peran penting antara pemerintah dan lembaga zakat untuk melakukan penghimpunan lebih masif. Beberapa daerah sudah memiliki Peraturan Daerah tentang pengelolaan zakat, salah satunya di BAZNAS Kota Mataram. PUSKASBAZNAS mengeluarkan indeks untuk mengukur kinerja perzakatan secara nasional maupun regional. Dimensi Makro pada Indeks Zakat Nasional digunakan untuk mengukur kinerja perzakatan dalam peran pemerintah dan masyarakat untuk mengembangkan lembaga zakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan melakukan wawancara terhadap pimpinan BAZNAS Kota Mataram, kemudianmenentukan nilai indeks Dimensi Makro dengan menggunakan Multistage Weigh Index. Berdasarkan data wawancara yang didapat, BAZNAS Kota Mataram memiliki Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Zakat, Infaq dan Sedekah, shingga indikator regulasi mendapatkan nilai indeks 1 yang berarti sangat baik. BAZNAS Kota Mataram juga mendapatkan dukungan APBD sebesar Rp 600 juta untuk biaya operasional, sehingga mendapatkan nilai indeks 0,5 yang berarti kinerjanya adalah baik, dan terakhir pada indikator database mendapat nilai indeks 0,33 yang berarti kinerja indikator ini adalah baik. Kinerja BAZNAS Kota Mataram berdasarkan Indeks Dimensi Makro pada Indeks Zakat Nasional adalah cukup baik dengan nilai indeks 5,99. [Poverty becomes a common problem in developing countries, including in Indonesia. For Muslims, zakat is a poverty alleviation instrument. Indonesia as one of the countries with the largest Muslim population needs an important role between the government and the zakat institution to conduct a more massive gathering. One of them already has a Regional Regulation on the management of zakat to optimize the collection of zakat, one of them is BAZNAS in Mataram City. PUSKAS BAZNAS issued an index to measure the performance of national and regional zakat. The Macro Dimension of the National Zakat Index is used to measure the performance of zakat in terms of the role of the government and society to develop zakat institutions. This study uses qualitative interviews with the leaders of BAZNAS in Mataram city, then Macro Dimension index value is determined using the Multistage Weigh Index. Based on the interview data obtained that BAZNAS in Mataram has Regional Regulations concerning Management of Zakat, Infaq and Alms, so that the regulatory indicators get an index value of 1 which means very good. BAZNAS of Mataram city received APBD support of Rp. 600 million for operational costs, so this indicator gets an index value of 0.5 which means its performance is good, and finally the database indicator gets an index value of 0.33 which means the performance this is good. The performance of BAZNAS in Mataram City based on the Macro Dimension Index on National Zakat Index is quite good with an index value of 5.99.]
SIMBOL DAKWAH KULTURAL WALI SONGO DALAM KITAB TARIKH AL-AULIYA’ KARYA KH. BISRI MUSTHOFA DAN KONTEKTUALISASINYA DALAM AKTIVITAS DAKWAH SAAT INI
Di antara permasalahan yang melatar belakangi penelitian ini adalah adanya aktivitas dakwah di Indonesia yang berisi provokasi dan juga ujaran kebencian yang ditujukan kepada seseorang atau kelompok tertentu yang tidak jarang akhirnya menjadikan konflik internal diantara umat Islam sendiri. Maka dari itu dalam penelitian ini akan diungkapkan tentang strategi dakwah kultural walisongo di Nusantara yang terbukti efektif dalam penyebaran Islam di Nusantara. Pada penelitian ini yang dijadikan objek penelitian adalah kitab Tarikh Al-Auliya’ karya KH. Bisri Musthofa dan fokus membahas tentang strategi dakwah kultural walisongo dalam perspektif teori interaksionalisme simbolik. Terdapat dua rumusan masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian ini; pertama, apa saja simbol dakwah kultural walisongo dalam kitab Tarikh Al-Auliya’?. Kedua, bagaimana kontekstualisasi simbol dakwah kultural walisongo dalam kitab Tarikh Al-Auliya’ dalam aktivitas dakwah saat ini?. Dari kedua rumusan masalah tersebut maka kesimpulan dari penelitian ini yaitu, pertama, simbol dakwah kultural walisongo dalam kitab Tarikh Al-Auliya’ adalah simbol pernikahan dan simbol pesantren. Sedangkan kontekstualisasi simbol dakwah tersebut saat ini masih relevan digunakan dalam aktifitas berdakwah, terbukti dengan adanya perkawinan endogamous antara keluarga kyai yang bisa dijumpai di berbagai pesantren saat ini. Sedangkan simbol pesantren juga sampai saat ini relevan digunakan sebagai strategi dakwah kultural, dimana terbukti semakin berkembangnya lembaga pesantren di Indonesia dengan berbagai bentuknya. [The problem underlying this research is the existence of da'wah activities in Indonesia, which contain provocation and hate speech aimed at a certain person or group. It often ends up causing internal conflict among Muslims. Therefore, this research reveals the walisongo cultural da'wah strategy in Nusantara, which has proven effective in Islam's spread. In this study, the research object is the book of Tarikh Al-Auliya' written by Bisri Musthofa. It focuses on discussing walisongo cultural da'wah strategies from the perspective of symbolic interactionalism theory. There are two research questions in this study. First, what are the walisongo cultural da'wah symbols in Tarikh Al-Auliya' book? Second, how is the contextualization of the walisongo cultural da'wah symbol in Tarikh Al-Auliya' book in current preaching activities? From the research problems, formulations, the conclusions are drawn as follows. First, the symbol of the walisongo cultural da'wah in Tarikh Al-Auliya' book symbolizes marriage and a symbol of pesantren. Moreover, the da'wah symbol contextualization is currently still relevant for use in preaching activities, as evidenced by the existence of endogamous marriages between kyai families that can be found in various pesantren today. Meanwhile, pesantren's symbol is also relevant to be used as a cultural da'wah strategy, which is evident in the growing development of pesantren in Indonesia in various forms.]Di antara permasalahan yang melatar belakangi penelitian ini adalah adanya aktivitas dakwah di Indonesia yang berisi provokasi dan juga ujaran kebencian yang ditujukan kepada seseorang atau kelompok tertentu yang tidak jarang akhirnya menjadikan konflik internal diantara umat Islam sendiri. Maka dari itu dalam penelitian ini akan diungkapkan tentang strategi dakwah kultural walisongo di Nusantara yang terbukti efektif dalam penyebaran Islam di Nusantara. Pada penelitian ini yang dijadikan objek penelitian adalah kitab Tarikh Al-Auliya’ karya KH. Bisri Musthofa dan fokus membahas tentang strategi dakwah kultural walisongo dalam perspektif teori interaksionalisme simbolik. Terdapat dua rumusan masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian ini; pertama, apa saja simbol dakwah kultural walisongo dalam kitab Tarikh Al-Auliya’?. Kedua, bagaimana kontekstualisasi simbol dakwah kultural walisongo dalam kitab Tarikh Al-Auliya’ dalam aktivitas dakwah saat ini?. Dari kedua rumusan masalah tersebut maka kesimpulan dari penelitian ini yaitu, pertama, simbol dakwah kultural walisongo dalam kitab Tarikh Al-Auliya’ adalah simbol pernikahan dan simbol pesantren. Sedangkan kontekstualisasi simbol dakwah tersebut saat ini masih relevan digunakan dalam aktifitas berdakwah, terbukti dengan adanya perkawinan endogamous antara keluarga kyai yang bisa dijumpai di berbagai pesantren saat ini. Sedangkan simbol pesantren juga sampai saat ini relevan digunakan sebagai strategi dakwah kultural, dimana terbukti semakin berkembangnya lembaga pesantren di Indonesia dengan berbagai bentuknya. [The problem underlying this research is the existence of da'wah activities in Indonesia, which contain provocation and hate speech aimed at a certain person or group. It often ends up causing internal conflict among Muslims. Therefore, this research reveals the walisongo cultural da'wah strategy in Nusantara, which has proven effective in Islam's spread. In this study, the research object is the book of Tarikh Al-Auliya' written by Bisri Musthofa. It focuses on discussing walisongo cultural da'wah strategies from the perspective of symbolic interactionalism theory. There are two research questions in this study. First, what are the walisongo cultural da'wah symbols in Tarikh Al-Auliya' book? Second, how is the contextualization of the walisongo cultural da'wah symbol in Tarikh Al-Auliya' book in current preaching activities? From the research problems, formulations, the conclusions are drawn as follows. First, the symbol of the walisongo cultural da'wah in Tarikh Al-Auliya' book symbolizes marriage and a symbol of pesantren. Moreover, the da'wah symbol contextualization is currently still relevant for use in preaching activities, as evidenced by the existence of endogamous marriages between kyai families that can be found in various pesantren today. Meanwhile, pesantren's symbol is also relevant to be used as a cultural da'wah strategy, which is evident in the growing development of pesantren in Indonesia in various forms.
THE IMPLEMENTATION Of ISLAMIC BOARDING SCHOOL CURRICULUM MANAGEMENT IN 4.0 ERA IN JEPARA REGENCY
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kurikulum pesantren di Kabupaten Jepara di Era 4.0. Mengapa pesantren sudah menggunakan 4.0, tapi peserta didik tidak menguasai penggunaan media digital. Pondok Kabupaten Jepara ini adalah untuk mengetahui dinamika proses kebijakan pelaksanaan manajemen pendidikan di pesantren tersebut, untuk mengetahui pola manajemen yang dipraktekkan pengelola (kyai) dalam menggerakkan dan mengelola semua sumber daya di pesantren dan untuk mengetahui faktor penunjang dan faktor penghambat dalam kebijakan pengembngan manajemen pesantren sebagai tindak lanjut dalam peningkatan pengelolaan pendidikan pesantren. Penelitian ini di laksanakan di pondok pesatren memakai penelitian lapangan (field research) dengan metode kualitatif atau pendekatan deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan telaah dokumentasi, wawancara dan observasi, analisis datang dengan tiga langkah yaitu: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data atau penyimpulan. Hasil penelitian dideskripsikan dengan dianalisis sehingga dapat menemukan menemukan teori serta pesan manajemen pendidikan madrasah pesantren (kyai) dengan manajemen pendidikan pesantren (kemenag). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan merupakan suatu metode yang di gunakan untuk suatu hasil produk tertentu serta menguji keefektifan dari produk tersebut. Upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan temuan temuan baru. Jadi penelitian ini adalah upaya untuk membuktikan mengembangkan dan menemukan bukti kongkret kebenaran sebuah model yang telah ada. hasil penelitian sangat mendukung dalam proses pembelajaran yaitu adanya fasiltas proyektor, laptop, audio, sehingga pada saat pembelajaran materi sangat didukung dengan fasilitas tersebut, dan juga guru sangat terbantu fasilitas tersebut itu terbukti pada saat proses pembelajran guru menyampaikan materi menggunakan semua fasilitas tersebut sehingga peserta didik tidak jenuh dikelas. [This study aims to: (1) explain the meaning of Islamic boarding schools; 2) explain the basis of religion, philosophical foundation and also social foundation Management culture of Islamic Boarding Schools; and (3) explain the curriculum development of Islamic boarding schools in Jepara. This research was carried out in several Islamic boarding schools in Jepara district. This study uses a qualitative method by emphasizing descriptive and problem analysis using a type of problem analysis (field research) that focuses on the analytical studies. So this research is an attempt to prove the development and finding concrete evidence of the truth of an existing model. The results of the study show that development is a method used for a particular product outcome and testing the effectiveness of the product. Efforts to develop new knowledge and findings. So this research is an attempt to prove the development and also find the real evidence and the truth of an existing model. The result of this research support the learning process such as the existence of projector facilities, laptops and audio, so that the learning process will be supported by these facilities, and also the teacher is greatly helped by these facilities as evidenced during the learning process the teacher delivers the material by using all of these facilities so that students not feel saturated in the class.]