Kodifikasia : Jurnal Penelitian Islam
Not a member yet
    229 research outputs found

    Infrastruktur sebagai Dakwah: Muhammadiyah dan Bentuk Lain Dakwah

    No full text
    Berbagai kajian yang dilakukan terhadap dakwah masih didominasi oleh dakwah dalam bentuk lisan maupun tulisan. Penggunaan media atau suatu tindakan juga sudah memperoleh perhatian sebagai bagian dari dakwah, meski masih belum sebanding dengan dakwah lisan dan tulisan. Artikel ini mengangkat pembangunan fasilitas publik yang dilakukan organisasi Muhammadiyah sebagai bentuk dakwah. Pembangunan fasilitas publik ini kerap dianggap sekadar wujud filantropi. Penulis melihat bahwa pembangunan fasilitas publik adalah bagian dari dakwah yang dilakukan Muhammadiyah. Dengan perspektif komunikasi dari James W. Carey dan komunikasi profetik, proses komunikasi tidak hanya dilihat dalam bentuk lisan, tulisan, atau gestur/tindakan, tetapi juga bentuk lain seperti materi, dalam konteks artikel ini adalah infrastruktur fasilitas publik, yang ditujukan sebagai pengamalan nilai-nilai profetik, termasuk di dalamnya adalah dakwah. Perspektif infrastruktur puitis dari Brian Larkin memungkinkan infrastruktur tidak hanya dilihat dari aspek fungsionalnya saja, tetapi juga aspek politisnya, termasuk nilai-nilai yang dibawa lewat pembangunan infrastruktur. Muhammadiyah dengan nilai Islam modern menerapkan dakwah Islam modern lewat fasilitas publik sesuai kebutuhan masyarakat, pendidikan campuran agama dan sains, dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). [Various studies conducted on da'wah are still dominated by da'wah in oral and written form. The use of media or an action has also received attention as part of da'wah, although it is still not comparable to oral and written da'wah. This article discusses the construction of public facilities by the Muhammadiyah organization as a form of da'wah. The construction of public facilities is often seen as just a form of philanthropy. We see that the construction of public facilities is part of the da'wah carried out by Muhammadiyah. With the communication perspective of James W. Carey and prophetic communication, the communication process is not only seen in the form of spoken, written, or gesture/action, but also other forms such as material, in the context of this article is the infrastructure of public facilities, which are intended as the practice of prophetic values, including da'wah. Brian Larkin's poetic infrastructure perspective allows infrastructure not only to be seen from the functional aspect, but also from the political aspect, including the values brought through infrastructure development. Muhammadiyah with modern Islamic values applies modern Islamic da'wah through public facilities according to community needs, education that is a mixture of religion and science, and Non-Smoking Areas (KTR).]Berbagai kajian yang dilakukan terhadap dakwah masih didominasi oleh dakwah dalam bentuk lisan maupun tulisan. Penggunaan media atau suatu tindakan juga sudah memperoleh perhatian sebagai bagian dari dakwah, meski masih belum sebanding dengan dakwah lisan dan tulisan. Artikel ini mengangkat pembangunan fasilitas publik yang dilakukan organisasi Muhammadiyah sebagai bentuk dakwah. Pembangunan fasilitas publik ini kerap dianggap sekadar wujud filantropi. Kami melihat bahwa pembangunan fasilitas publik adalah bagian dari dakwah yang dilakukan Muhammadiyah. Dengan perspektif komunikasi dari James W. Carey dan komunikasi profetik, proses komunikasi tidak hanya dilihat dalam bentuk lisan, tulisan, atau gestur/tindakan, tetapi juga bentuk lain seperti materi, dalam konteks artikel ini adalah infrastruktur fasilitas publik, yang ditujukan sebagai pengamalan nilai-nilai profetik, termasuk di dalamnya adalah dakwah. Perspektif infrastruktur puitis dari Brian Larkin memungkinkan infrastruktur tidak hanya dilihat dari aspek fungsionalnya saja, tetapi juga aspek politisnya, termasuk nilai-nilai yang dibawa lewat pembangunan infrastruktur. Muhammadiyah dengan nilai Islam modern menerapkan dakwah Islam modern lewat fasilitas publik sesuai kebutuhan masyarakat, pendidikan campuran agama dan sains, dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

    EDUCATIONAL IDEAL CURRICULUM ISLAM AS AN EDUCATIONAL BLUEPRINT (HOPE, CHALLENGE, AND UPDATE)

    No full text
    Kurikulum pendidikan Islam ideal ialah yang fleksibel serta dinamis dan bisa menyelesaikan tantangan maupun problematika yang ada sekaligus mampu mengakomodir kebutuhan-kebutuhan manusia modern. Mempertimbangkan hal tersebut, maka perlu dirumuskan dan dikembangkan kurikulum pendidikan Islam yang ideal agar tujuan dari pendidikan Islam sendiri dapat tercapai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah literature review dari berbagai pemikiran tokoh pendidikan Islam kontemporer. Hasil yang diperoleh ialah, pembaruan dalam pendidikan Islam tentunya masalah kurikulum yakni dengan peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh Swt, pemberian basic competencies ilmu-ilmu keislaman sebagai ciri khas pendidikan Islam, penyaluran bakat, minat dan kemampuan, pengembangan sumber daya manusia dan sumber daya bangsa di tengah-tengah kehidupan dunia. Juga dengan menghilangkan paham dikotomi dalam pendidikan Islam, mengadopsi keilmuan Barat dan tetap berorientasi sepenuhnya kepada pemurnian ajaran Islam (Al-Qur’an dan Hadits). [The ideal Islamic education curriculum is flexible and dynamic and can solve both challenges and challenges existing problems at the same time able to accommodate the needs of modern humans. Considering this, it is necessary to formulate and develop an ideal Islamic education curriculum so that the goals of Islamic education it self can be achieved. The method used in this study is a literature review of various thoughts from contemporary Islamic education figures. The results obtained are reforms in Islamic education, of course, curriculum issues , namely by increasing the quality of faith and devotion to Allah Swt, providing basic competencies of Islamic sciences as a characteristic of Islamic education, distribution of talents, interests, and abilities, development of human resources and national resources amid during in worldly life. Also by eliminating the notion of dichotomy in Islamic education, adopting Western scholarship, and remaining fully oriented towards the purification of Islamic teachings ( Al -Qur'an and Hadith).]Kurikulum pendidikan Islam ideal ialah yang fleksibel serta dinamis dan bisa menyelesaikan tantangan maupun problematika yang ada sekaligus mampu mengakomodir kebutuhan-kebutuhan manusia modern. Mempertimbangkan hal tersebut, maka perlu dirumuskan dan dikembangkan kurikulum pendidikan Islam yang ideal agar tujuan dari pendidikan Islam sendiri dapat tercapai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah literature review dari berbagai pemikiran tokoh pendidikan Islam kontemporer. Hasil yang diperoleh ialah, pembaruan dalam pendidikan Islam tentunya masalah kurikulum yakni dengan peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh Swt, pemberian basic competencies ilmu-ilmu keislaman sebagai ciri khas pendidikan Islam, penyaluran bakat, minat dan kemampuan, pengembangan sumber daya manusia dan sumber daya bangsa di tengah-tengah kehidupan dunia. Juga dengan menghilangkan paham dikotomi dalam pendidikan Islam, mengadopsi keilmuan Barat dan tetap berorientasi sepenuhnya kepada pemurnian ajaran Islam (Al-Qur’an dan Hadits). 

    THE CONCEPT OF MONOTHEISM ACCORDING TO JUNAYD AL-BAGHDA>DI> AND ITS IMPLEMENTATION FOR MODERN COMMUNITY

    Full text link
    Tasawuf merupakan salah satu disiplin ilmu klasik dalam kajian Islam. Artikel ini mengupas pemikiran salah satu tokoh besar tasawuf, Junaydal-Baghda>di>, tentang konsep tauhid. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep tauhid dalam pandangan Junayd al-Baghda>di> dan bagaimana implementasi konsep tauhid Junayd al-Baghda>di> pada era kontemporer. Metode dalam makalah ini adalah penelitian kepustakaan. Ini melibatkan mengidentifikasi dan menemukan sumber yang memberikan informasi faktual. Artikel ini menyimpulkan bahwa konsep tauhid Junayd al-Baghda>di> didasarkan pada kematian (kefanaan). Artinya lenyapnya sifat-sifat manusia, akhlak tercela, dan kebodohan seorang sufi selanjutnya sifat ketuhanan, akhlak mulia, dan ilmu yang abadi dalam dirinya. Dengan demikian, penerapan konsep tauhid-kematian bagi umat awam di era modern ini adalah memadukannya dengan amalan spiritual (riyadhoh) melalui tiga tahapan seperti takhalli, tahalli, dan tajalli. [Sufism is one of the classical disciplines in the Islamic studies. This article explores the thoughts of one of the great figure in Sufism, Junaydal-Baghda>di>, about the concept of monotheism. The problem in this research is how the concept of monotheism in Junayd al-Baghda>di>'s view and how the implementation of Junayd al-Baghda>di>'s concept of monotheism in the contemporary era. The method in this paper is library research. It involves identifying and locating sources that provide factual information. This article concludes that Junayd al-Baghda>di>'s concept of monotheism is based on mortality (kefanaan). It means the disappearance of human traits, despicable morals, and ignorance of a Sufi subsequently the eternal nature of divinity, noble character, and knowledge in him. Thus, the implementation of the concept of monotheism-mortality for ordinary people in this modern era is to combine it with spiritual practice (riyadhoh) through three stages such as takhalli, tahalli, and tajalli.

    THE IMPACT OF COMMUNITY INTEREST IN SENDING CHILDREN TO IBTIDAIYAH MADRASAH ON THE REDUCTION IN THE NUMBER OF ELEMENTARY SCHOOLS IN PONOROGO REGENCY

    Full text link
    Penurunan jumlah SD dari tahun 2015 hingga tahun 2019 di Kabupaten Ponorogo sebanyak 12 sekolah dalam waktu 5 tahun. Terdapat kenaikan sebanyak 14 sekolah MI dalam waktu 5 (2015-2019) tahun di Kabupaten Ponorogo.Faktor-faktor yang mempengaruhi minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di MI adalah faktor ketertarikan, perasaan senang dan perhatian. Nilai signifikan dari hasil perhitungan regresi menunjukkan angka 0,000<0,05 sehingga H0 ditolak. Nilai signifikan yang kurang dari 0,05 menunjukkan hasil bahwa ada pengaruh persepsi orang tua terhadap minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di MI. [Decreasing the number of elementary schools from 2015 to 2019 in Ponorogo District was 12 schools in 5 years. There has been an increase of 14 MI(Madrasah Ibtidaiyah) in 5 (2015-2019) years in Ponorogo Regency. Factors affecting the community's interest in sending children to MI are factors of interest, feelings of pleasure and attention. Significant value of the results of the regression calculation shows the number 0,000 <0.05 so that H0 is rejected. Significant value of less than 0.05 indicates the result that there is an influence of parental perceptions of parents' interest in sending their children to MI.

    PEREMPUAN BERPAYUNG MAQASID: TELAAH PEMIKIRAN KALIS MARDIASIH

    Full text link
    Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap pemikiran Kalis Mardiasih yang tersebar di berbagai esai-esainya. Berbagai tulisan  Kalis yang muncul merupakan bentuk respon kegelisahannya atas fenomena kemanusiaan dan keberagamaan dalam masyarakat. Peristiwa perundungan dengan simbol agama, diskriminasi terhadap perempuan, serta isu-isu kemanusiaan telah memotivasinya untuk menulis kemudian mendakwahkan keadilan, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan tetap dalam bingkai Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kerangka kerja delapan poin  telaah Amin Abdullah. Namun penelitian ini hanya memanfaatkan lima poin yang telah digariskan oleh Amin Abdullah. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa, Kalis Mardiasih mnggunakan pijakan maqasid al-shariah  dengan hifz al-nafs, dan hifz al-din sebagai kata kunci dalam merespon fenomena yang terjadi. Pembelaannya terhadap perempuan, dan kaum minoritas menggunakan hifz al-din sementara kampanyenya akan Islam yang ramah dan damai menggunakan akar hifz al-din. Dengan ini Kalis Dapat dikatakan sebagai penerus dakwah universalisme Islam yang dikembangkan oleh Abdurrahman Wahid. [This paper aims to reveal the thoughts of Kalis Mardiasih spread inhervarious essays. Kalis's various writings appeared to respond toheranxiety over the phenomenon of humanity and religion in society. Instances of bullying with religious symbols, discrimination against women, and humanitarian issues have motivated her to write and then indict justice; equal rights between men and women remain within the frame of Islam. This qualitative research uses the eight-point framework of Amin Abdullah's study. However, this study only took advantage of the five points outlined by Amin Abdullah. This study concludes that Kalis Mardiasih uses the footing of maqasid al-shariah with hifz al-nafs, and hifz al-din as keywords in responding to the phenomenon that occurs. her defense of women and minorities used hifz al-din, while her campaign for a friendly and peaceful Islam used the roots of hifz al-din. With this, Kalis Can be said to be the successor to the proselytizing of Islamic universalism developed by Abdurrahman Wahid.]Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap pemikiran Kalis Mardiasih yang tersebar di berbagai esai-esainya. Berbagai tulisan  Kalis yang muncul merupakan bentuk respon kegelisahannya atas fenomena kemanusiaan dan keberagamaan dalam masyarakat. Peristiwa perundungan dengan simbol agama, diskriminasi terhadap perempuan, serta isu-isu kemanusiaan telah memotivasinya untuk menulis kemudian mendakwahkan keadilan, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan tetap dalam bingkai Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kerangka kerja delapan poin  telaah Amin Abdullah. Namun penelitian ini hanya memanfaatkan lima poin yang telah digariskan oleh Amin Abdullah. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa, Kalis Mardiasih mnggunakan pijakan maqasid al-shariah  dengan hifz al-nafs, dan hifz al-din sebagai kata kunci dalam merespon fenomena yang terjadi. Pembelaannya terhadap perempuan, dan kaum minoritas menggunakan hifz al-din sementara kampanyenya akan Islam yang ramah dan damai menggunakan akar hifz al-din. Dengan ini Kalis Dapat dikatakan sebagai penerus dakwah universalisme Islam yang dikembangkan oleh Abdurrahman Wahid

    PERAN GURU AKIDAH AKHLAK DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK (STUDI KASUS DI MTs SUNAN KALIJAGA BOJONG)

    No full text
    Guru Akhlak Aqidah memiliki peran penting yang sangat erat kaitannya dengan berbagai masalah akhlak. Guru Aqidah Akhlak yang memiliki kompetensi dalam mengajar akan mampu membangkitkan minat belajar siswanya. Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada peran guru Akidah Akhlak dalam meningkatkan minat belajar siswa, sehingga rumusan masalahnya adalah “Bagaimana Peran Guru Akidah Akhlak dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa di MTs Sunan Kalijaga Bojong? ". Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan yang berlokasi di MTs Sunan Kalijaga Bojong dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian: Pertama, peran guru Akidah Akhlak dalam meningkatkan minat belajar siswa di MTs Sunan Kalijaga Bojong yaitu dengan cara mendidik, memotivasi, menasihati, keteladanan bagi siswa. Guru Akidah Akhlak telah menjalankan perannya dengan baik bersama siswanya, baik saat pembelajaran berlangsung maupun di luar pembelajaran. Kedua, faktor pendukung: (a) adanya buku penunjang pembelajaran; (b) peraturan sekolah yang baik; (c) fasilitas sekolah yang memadai; dan (d) ruang belajar yang baik. Ketiga, faktor penghambat: (a) kurangnya media pembelajaran; (b) kurangnya kerjasama antara guru dan siswa; dan (c) siswa yang masih pasif dalam belajar. Keempat, solusi: (a) guru harus lebih mampu memahami siswa akan pentingnya belajar; (b) guru harus memiliki pengetahuan yang luas; (c) tidak memaksakan hak siswa; (d) keadilan dan toleransi bagi peserta didik; dan (e) guru bekerja sama dengan siswa dan orang tua untuk merangsang minat belajar siswa. [Akhlak Aqidah teacher has an important role that is very closely related to various moral problems. Teachers of Aqidah Akhlak who have competency in teaching will be able to arouse their students' interest in learning. In this study, researchers focused on the role of the Akidah Akhlak teacher in increasing students' learning interest, so that the formulation of the problem was "What is the Role of the Akidah Akhlak Teacher in Increasing Student Interest in Learning at MTs Sunan Kalijaga Bojong?". The type of research used is field research located at MTs Sunan Kalijaga Bojong using a qualitative descriptive approach. The results of the study: First, the role of the Akidah Akhlak teacher in increasing students' interest in learning at MTs Sunan Kalijaga Bojong, namely by educating, motivating, advising, exemplary for their students. Akidah Akhlak teachers have done good to their students, when learning takes place and outside of learning. Second, the supporting factors: (a) there are books to support learning; (b) good school regulations; (c) adequate school facilities; and (d) a good learning space. Third, the inhibiting factors: (a) lack of learning media; (b) lack of cooperation between teachers and students; and (c) students who are still passive in learning. Fourth, solutions: (a) teachers must be better able to understand students in the importance of learning; (b) teachers must have broad knowledge; (c) does not impose the rights of students; (d) fairness and tolerance for students; and (e) the teacher cooperates with students and parents to stimulate students' interest in learning.]AbstrakGuru akan selalu memberikan gambaran pola perilaku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, yakni peserta didik, sesama guru dan staf. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peran guru Akidah Akhlak dalam meningkatkan minat belajar peserta didik, apa saja faktor pendukung dan penghambat guru Akidah Akhlak dalam meningkatkan belajar peserta didik. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran guru Akidah Akhlak dalam meningkatkan minat belajar peserta didik. Dan mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan minat belajar peserta didik di MTs Sunan Kalijaga Bojong. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini bahwa guru Akidah Akhlak yang pertama sebagai suri tauladan, kedua sebagai pembimbing, dan ketiga sebagai pendidik. Yang menjadi faktor pendukung adalah adanya dengan adanya kerjasama antara guru dan peserta didik. Sedangkan, faktor penghambatnya adalah kurangnya kesadaran dari peserta didik dan kurangnya kerjasama antara guru dan orangtua/wali peserta didik. AbstractThe teacher will always provide an overview of the expected behavior patterns in various interactions, namely students, fellow teachers and staff. The formulation of the problem in this study is how the role of Akidah Akhlak teachers in increasing students' interest in learning, what are the supporting and inhibiting factors of Akidah Akhlak teachers in improving student learning. The purpose of this study was to find out how the role of Akidah Akhlak teachers in increasing students' interest in learning. And knowing the supporting and inhibiting factors in increasing student interest in learning at MTs Sunan Kalijaga Bojong. This type of research is a qualitative research obtained from the results of observations, interviews, and documentation. The result of this research is that the first Akidah Akhlak teacher acts as a role model, the second as a mentor, and the third as an educator. The supporting factor is the existence of cooperation between teachers and students. Meanwhile, the inhibiting factor is the lack of awareness of students and the lack of cooperation between teachers and parents/guardians of students. 

    ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis islamisasi ilmu pengetahuan dan relevansinya dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan cara studi kepustakaan sebagai teknik pengumpulan data dari berbagai referensi yang terkait untuk menganalisis konten. Hasil penelitian ilmu pengetahuan barat menunjukkan adanya dampak negatif yang bersifat materialis dan sekular. Hal tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Islam sehingga dilakukan proses islamisasi ilmu pengetahuan, yakni melihat kebenaran ilmu berdasarkan akal dan Al Qur’an Hadits. Prinsip mengutamakan tauhid dalam mengembangkan ilmu pengetahuan memiliki relevansi terhadap Pancasila terutama sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa sebagai dasar pedoman pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Penerapan sila kedua, ketiga, keempat, dan kelima dapat menjadi jawaban dari perkembangan ilmu pengetahuan dari barat yang bersifat materialis dan sekular. Adapun relevansi tujuan islamisasi ilmu pengetahuan dengan pendidikan kewarganegaraan adalah pembentukan karakter pertama dan utama ialah karakter religius yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Penguatan karakter religius bagi bangsa Indonesia melalui pendidikan kewarganegaraan untuk menjalani dan menjaga hubungan kehidupannya dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia di lingkungan masyarakat dan bernegara. Penelitian ini dapat mengisi kekosongan ruang penelitian relevansi islamisasi ilmu pengetahuan dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang diberikan kepada siswa agar memahami konteks ilmu pengetahuan berdasarkan nilai-nilai sila pertama Pancasila dan mewujudkan kompetensi inti satu yang tercantum pada kurikulum 2013, yaitu sikap spiritual. [This study aims to analyze the Islamization of science and its relevance to Pancasila and Citizenship Education. This study uses a qualitative approach by means of literature study as a technique of collecting data from various related references to analyze content. The results of western scientific research have negative impacts that are materialist and secular. This is contrary to the principles of Islam so that the process of Islamization of science is carried out to see the truth of science based on reason and the Qur'an Hadith. The principle of prioritizing monotheism in developing science has relevance to Pancasila, especially the first principle of Belief in the one and only God as the basic guideline for the development of science in Indonesia. The application of the second, third, fourth, and the fifth can be the answer to the development of science from the west which is materialist and secular. The relevance of the goal of Islamization of science with civic education is that the formation of the first and foremost character is a religious character that reflects faith and piety to God Almighty. Strengthening religious character for the Indonesian people through civic education to live and maintain life relationships with God and with fellow human beings in society and the state. This research can fill the void of research spacethe relevance of the Islamization of science with Pancasila and Citizenship Education as subjects given to students in order to understand the context of science based on the values of the first precepts of Pancasila and realize one core competency listed in the 2013 curriculum, namely spiritual attitudes.] Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis islamisasi ilmu pengetahuan dan relevansinya dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan cara studi kepustakaan sebagai teknik pengumpulan data dari berbagai referensi yang terkait untuk menganalisis konten. Hasil penelitian. Ilmu pengetahuan barat terdapat dampak negatif bersifat materialis dan sekular. Hal tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Islam sehingga dilakukan proses islamisasi ilmu pengetahuan melihat kebenaran ilmu berdasarkan akal dan Al Qur’an Hadits. Prinsip mengutamakan tauhid dalam mengembangkan ilmu pengetahuan memiliki relevansi terhadap Pancasila terutama sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa sebagai dasar pedoman pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Penerapan sila kedua, ketiga, keempat, dan kelima dapat menjadi jawaban dari perkembangan ilmu pengetahuan dari barat yang bersifat materialis dan sekular. Adapun relevansi tujuan islamisasi ilmu pengetahuan dengan pendidikan kewarganegaraan bahwa pembentukan karakter pertama dan utama ialah karakter religius yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Penguatan karakter religius bagi bangsa Indonesia melalui pendidikan kewarganegaraan untuk menjalani dan menjaga hubungan kehidupannya dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia di lingkungan masyarakat dan bernegara

    KONSEP MUQASAH PADA PEMBIAYAAN MURABAHAH DALAM PERSPEKTIF FATWA DSN-MUI

    Full text link
    Pembahasan tentang potongan angsuran, termasuk dalam definisi lain cashback atau potongan harga dalam pembiayaan murabahah, secara definitif, pelaksanaan, dan sistem pencatatannya, sudah lazim dikenal dengan sebutan muqasah. Mengenai pembiayaan murabahah, MUI telah membentuk DSN yang di antara tugasnya adalah mengeluarkan fatwa atas jenis-jenis kegiatan keuangan dan produk keuangan syariah, sekaligus mengawasi penerapan fatwa yang telah dikeluarkannya melalui DPS. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep muqasah pada pembiayaan murabahah dalam perspektif Fatwa DSN-MUI. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif, deskriptif, dan kepustakaan. Hasil yang didapat, muqasah dalam pembiayaan murabahah dimungkinkan dapat terjadi dalam tiga kondisi, yaitu diskon dalam murabahah (Fatwa DSN No: 16/DSN-MUI/IX/2000), potongan pelunasan dalam murabahah (Fatwa DSN No: 23/DSN-MUI/III/2002), dan potongan tagihan murabahah (Fatwa DSN No: 46/DSN-MUI/II/2005). Adapaun metode dalam pemberiannya adalah diberikan pada saat pelunasan, yaitu LKS mengurangi piutang murabahah dan keuntungan murabahah, atau diberikan setelah pelunasan, yaitu LKS menerima pelunasan piutang dari nasabah dan kemudian membayarkan potongan pelunasannya kepada nasabah. [The discussion on installment discounts, including in other definitions of cashback or price discounts in murabaha financing, definitively, its implementation, and its accounting system, is commonly known as muqasah. Regarding murabaha financing, MUI has established a DSN whose duties include issuing fatwas on types of financial activities and Islamic financial products, as well as supervising the implementation of fatwas that have been issued through DPS. This research aims to describe the concept of muqasah in murabahah financing in the perspective of Fatwa DSN-MUI. This research used qualitative, descriptive, and literature methodology. The results obtained, muqasah in murabaha financing is possible in three conditions, namely discounts in murabaha (Fatwa DSN No: 16/DSN-MUI/IX/2000), repayment discounts in murabaha (Fatwa DSN No: 23/DSN-MUI/ III/2002), and discounts on murabaha installment (Fatwa DSN No: 46/DSN-MUI/II/2005). The method of giving it is given at the time of settlement, i.e. LKS reduces murabahah receivables and murabahah profits, or it is given after settlement, i.e. LKS receives repayment of receivables from the customer and then pays the repayment discount to the customer.]Pembahasan tentang potongan angsuran, termasuk dalam definisi lain cashback atau potongan harga dalam pembiayaan murabahah, secara definitif, pelaksanaan, dan sistem pencatatannya, sudah lazim dikenal dengan sebutan muqasah. Mengenai pembiayaan murabahah, MUI telah membentuk DSN yang di antara tugasnya adalah mengeluarkan fatwa atas jenis-jenis kegiatan keuangan dan produk keuangan syariah, serta sekaligus mengawasi penerapan fatwa yang telah dikeluarkannya melalui DPS. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep muqasah pada pembiayaan murabahah dalam perspektif Fatwa DSN-MUI. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif, deskriptif, dan kepustakaan. Hasil yang didapat, muqasah dalam pembiayaan murabahah dimungkinkan dapat terjadi dalam tiga kondisi, yaitu diskon dalam murabahah (Fatwa DSN No: 16/DSN-MUI/IX/2000), potongan pelunasan dalam murabahah (Fatwa DSN No: 23/DSN-MUI/III/2002), dan potongan tagihan murabahah (Fatwa DSN No: 46/DSN-MUI/II/2005). Adapaun metode dalam pemberiannya adalah diberikan pada saat pelunasan, yaitu LKS mengurangi piutang murabahah dan keuntungan murabahah, atau diberikan setelah pelunasan, yaitu LKS menerima pelunasan piutang dari nasabah dan kemudian membayarkan potongan pelunasannya kepada nasabah

    THE TRADITION OF LET PELLET IN MADURA COMMUNITY BETENG: CASE STUDY OF ASAM RIVER VILLAGE, KUBU RAYA REGENCY

    Full text link
    Penelitian ini mendeskripsikan tentang pelet betteng yang dikenal dengan istilah bunting tujuh bulan pada masyarakat Madura di Desa Sungai Asam Kabupaten Kubu Raya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tradisi let pelet betteng masyarakat Madura di Desa Sungai Asam. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif cluster dengan pendekatan fenomenologis yang dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahapan analisis data dilakukan secara bertahap; reduksi data, pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelet betteng suku Madura di Desa Sungai Asam Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat sangat religius, memiliki filosofi adat yang kuat untuk dilakukan dan bersifat sakral, tradisi ritual ini berawal dari mitos yang berkembang di masyarakat. . Alat dan benda yang disiapkan sangat unik, seperti mengajak masyarakat sekitar dan bacaan doa khusus serta ibu hamil mandi dengan memegang ayam kampung dan syarat bagi yang mandi harus membawa uang. Tradisi ini merupakan perubahan warna budaya dan warisan nenek moyang. [This study describes the let pellet betteng which is known as the seven months of pregnancy in the Madurese community in Sungai Asam Village, Kubu Raya Regency. The purpose of this study was to determine the let pellet betteng tradition of the Madurese community in Sungai Asam Village. This research is included in a qualitative research cluster with a phenomenological approach which is carried out using observation, interviews, and documentation. The stages of data analysis are carried out in steps; data reduction, data exposure, and conclusion. The results showed that the let pellet betteng of the Madurese tribe in Sungai Asam Village, Kubu Raya Regency, West Kalimantan was very religious, had a strong customary philosophy to do and was sacred, this ritual tradition came from the myths that developed in the community. The tools and objects prepared are very unique, such as inviting local people and reading special prayers as well as pregnant women taking a bath by holding a free-range chicken and the requirement for the person who bathes to bring money. This tradition is a cultural discoloration and heritage of ancestors.

    NAHDLATUL ULAMA PONOROGO MOVEMENT IN SHARIA ECONOMY DEVELOPMENT

    Full text link
    Gerakan NU dalam membangun usaha ekonomi berbasis syari’ah mengalami pasang surut. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap gerakan sosial PCNU Ponorogo dalam pengembangan ekonomi syariah melalui pendirian PT. Karya Bintang Swalayan. Dengan pendekatan gerakan sosial, penelitian ini menemukan bahwa latarbelakang gerakan sosial kemandirian ekonomi PCNU Ponorogo diilhami oleh semangat para mu’assis/ pendiri NU yang mendirikan Nahdlatut Tujjar  sebagai basis gerakan dan perjuangan di NU. Gerakan sosial tersebut dilaksanakan melalui dua tahap; framing dan mobilisasi. Proses framing dimulai dari adanya sebuah ide dasar kemandirian ekonomi dari Rais Syuriah, KH. Imam Sayuti yang disampaikan kepada Ketua PCNU Ponorogo, Fatchul Aziz, dan pada tahap berikutnya di sampaikan kepada pengurus NU yang lain. Sedangkan pada tahapan mobilisasi dilaksanakan dengan penuangan gagasan kemandirian ekonomi pada kegiatan Konferensi Cabang PCNU Ponorogo pada tanggal 15 Februari 2015 di PP. Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo dan Musyawarah Kerja Cabang I pada tanggal 15 Juni 2015 di PP. Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo. Tahapan ini dalam perspektif teori gerakan sosial dikenal pada tahapan formalisasi gagasan/ide pokok kemandirian ekonomi NU Ponorogo. Sedangkan tahapan pelembagaan gagasan kemandirian ekonomi NU Ponorogo terjadi pada saat di bentuknya tim ekonomi untuk mendirikan Bintang Swalayan. Tahapan dimulai dari penjualan saham hingga pada kegiatan grand opening Bintang Swalayan. Sedangkan dampak dari gerakan sosial kemandirian ekonomi bisa diklasifikasikan pada dampak secara finansial maupun non finasial. [The NU movement to build a sharia-based economic business has had its ups and downs. This paper aims to reveal the social movement of PCNU Ponorogo in the development of the sharia economy through the establishment of PT. Supermarket Star Works. By a social movement approach, this study finds that the background of the PCNU Ponorogo social movement for economic independence was inspired by the spirit of the mu'assis/NU founders who founded Nahdlatut Tujjar as the basis for the movement and struggle at NU. The social movement was carried out in two stages; framing and mobilization. The framing process started from the existence of a basic idea of economic independence from Rais Syuriah , KH. Imam Sayuti conveyed to the Chair of the PCNU Ponorogo, Fatchul Aziz, and in the next stage, to other NU administrators. Meanwhile, at the mobilization stage, it was carried out by pouring out the idea of economic independence at the Ponorogo PCNU Branch Conference on February 15, 2015, in PP. Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo and Branch I Working Meeting on 15 June 2015 in PP. Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo. This stage in the perspective of social movement theory is known as the stage of formalizing the main ideas of NU Ponorogo's economic independence. Meanwhile, the stage of institutionalizing the idea of NU Ponorogo's economic independence occurred when an economic team was formed to establish Bintang Swalayan. The stages start from selling shares to the grand opening of Bintang Swalayan. Meanwhile, the impact of the social movement on economic independence can be classified into financial and non-financial impacts]Gerakan NU dalam membangun usaha ekonomi berbasis syari’ah mengalami pasang surut. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap gerakan sosial PCNU Ponorogo dalam pengembangan ekonomi syariah melalui pendirian PT. Karya Bintang Swalayan. Dengan pendekatan gerakan sosial, penelitian ini menemukan bahwa latarbelakang gerakan sosial kemandirian ekonomi PCNU Ponorogo diilhami oleh semangat para mu’assis/ pendiri NU yang mendirikan Nahdlatut Tujjar  sebagai basis gerakan dan perjuangan di NU. Gerakan sosial tersebut dilaksanakan melalui dua tahap; framing dan mobilisasi. Proses framing dimulai dari adanya sebuah ide dasar kemandirian ekonomi dari Rais Syuriah, KH. Imam Sayuti yang disampaikan kepada Ketua PCNU Ponorogo, Fatchul Aziz, dan pada tahap berikutnya di sampaikan kepada pengurus NU yang lain. Sedangkan pada tahapan mobilisasi dilaksanakan dengan penuangan gagasan kemandirian ekonomi pada kegiatan Konferensi Cabang PCNU Ponorogo pada tanggal 15 Februari 2015 di PP. Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo dan Musyawarah Kerja Cabang I pada tanggal 15 Juni 2015 di PP. Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo. Tahapan ini dalam perspektif teori gerakan sosial dikenal pada tahapan formalisasi gagasan/ide pokok kemandirian ekonomi NU Ponorogo. Sedangkan tahapan pelembagaan gagasan kemandirian ekonomi NU Ponorogo terjadi pada saat di bentuknya tim ekonomi untuk mendirikan Bintang Swalayan. Tahapan dimulai dari penjualan saham hingga pada kegiatan grand opening Bintang Swalayan. Sedangkan dampak dari gerakan sosial kemandirian ekonomi bisa diklasifikasikan pada dampak secara finansial maupun non finasia

    202

    full texts

    229

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kodifikasia : Jurnal Penelitian Islam
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇