402 research outputs found

    Perbandingan Hasil Penyerentakan Berahi pada Sapi Perah Setelah Pemberian Progesteron-CIDR dan Prostaglandin

    No full text
    Penyerentakan berahi telah dilakukan pada 3 kelompok (30 ekor) sapi perah laktasi, 2-3 bulan setelah melahirkan.Kelompok 1 menggunakan Control Internal Drug Releasing device (CIDR) yang mengandung Progesteron, kelompok 2 mnggunakan Prostaglandin dosis tunggal dan kelompok 3 sebagai kontrol menggunakan NaCl fisiologis.Gejala berahi diamati 24 jam setelah perlakuan masing-masing pada kelompok 2 dan 3.Secara statistik, berahi lebih serentak terjadi pada kelompok 1 dan 2 dibandingkan dengan kelompok 3 dan tidak ada perbedaan nyata antara kelompok 1 dan 2.

    Pengaruh pemberian somatotropin pada saat kebuntingan terhadap pertumbuhan anak tikus

    No full text
    Mortality, growth and conception development after placentation are affected by capacity and placenta function which are influenced by hormonal and growth factor to succed pregnancy till birth. Growth hormone is protein or polypeptide hormone. It influences protein metabolism, increases amino acid up take, carbohydrate metabolism, gluconeogenesis, fat mobilizatin, minerals metabolism and the development of cartilage that will lead to growth. The purpose of this research is to observe the effectiveness of somatotropin on the growth of fetus. Forty pregnant rat were divided to 4 groups, they were K (not given somatotropin), A (given somatotropin 9 mg/kg BW at 12 to 20 days of pregnancy), B (given somatotropin  9 mg/kg BW at 2 to 11 days of pregnancy), C (given somatotropin  9 mg/kg BW  at 2 to 20 days of pregnancy). Parameters observed were ovulation rate, implantation rate, development/growth of uterus and placenta, size of fetus, and pups growth. The result showed that somatotropin could increase implantation succed, development of uterus and placenta that are followed by good performance of reproduction during pregnancy and also birth body weight pups.Keywords: Somatotropin, Pregnancy, Pups

    Pengujian staphylococus aureus pada daging ayam beku yang dilalulintaskan melalui pelabuhan penyeberangan merak

    No full text
    This study was aimed to test Staphylococcus aureus in frozen chicken meat as an indicator of quality and poultry slaughter house hygiene. Thirty two samples of frozen chicken meats transported through Merak port were taken from Cilegon 2 nd Class Agricultural Quarantine Installation. Those samples came from DKI Jakarta (11 samples), Bekasi (6 samples), Bogor (4 samples) and Serang (11 samples). Number of S. aureus in frozen chicken meat was conducted with plate count method using baird parker agar (BPA) media. The result showed that the average number of S. aureus in Serang was the highest (5.4x102±6.73x102 cfu/g). In the other hand, Bekasi had the lowest average number of S. aureus (0.60x102±0.38x 102  cfu/g ). From the four areas, there were samples which over the maximum limit of S.aureus as permitted in SNI 01-7388-2009 (1x102  cfu/g ) with an avarege proportion about 35.42%. 

    Kemungkinan Kehadiran Sistiserkus/cacing taenia saginata taiwanensis di Bali

    Get PDF
    Telah dilakukan suatu penelitian pendahuluan untuk mengetahui kemungkinan adanya sistiserkus atau cacing Taenia saginata taiwanensis di Bali. Pengamatan dilakukanterhadap adanya infeksi sistiserkus secara alami pada hati 638 ekor babi yang dipotong di RPH Denpasar , dari bulan Juni sampai Juli 1993.Bintik-bintik kecil kekuningan atau putih susu, yang diduga merupakan kista T.s. taiwanensis, ditemukan pada 146 hati babi (22,88%). Setiap hati yang terinfeksi mengandung 1 - 6 kista, yang menyebar secara acak di masing-masing lobus. Kebanyakan kista yang ditemukan telah mengalami degenerasi (66.43%) atau kalsifikasi (32.8%). Satu kista mature yang ditemukan (0.7%) dari hati yang positif, ternyata mengandung skoleks taenia yang diperlengkapi dengan kait-kait. Temuan ini menunjukkan kemungkinan adanya sisteserkus cacing Ts. taiwanensis di Bali sebab hati babi bukanlah tempat predileksi utama sistiserkus cacing Taenia solium

    Kasus infeksi cacing saluran pencernaan pada ayam hutan hijau (Gallus varius) yang diperiksa di laboratorium patologi unggas FKH_IPB

    Get PDF
    Telah ditemukan kasus inifeksi cacing saluran pencernaan pada ayam hutan hijau (Callus varius) yang diperiksa di Laboratorium Patologi Unggas, Fakultas Kedokteran Hewan lnstitut Pertanian Bogor, periode bulan Agustus 1992 - Januari 1993.Dari 62 ekor ayam hutan hijau yang mati, 26 ekor (41,93%) diantaranya positif terinfeksi cacing setelah dilakukan nekropsi. Dari 26 ekor ayam yang dinyatakan positif terinfeksi, 22 ekor terinfeksi oleh cacing pita (Cestoda), 3 ekor terinfeksi cacing gilik (Nematoda) dan 1 ekor ayam terinfeksi oleh kedua macam cacing tersebut.Hasil pemeriksaan terhadap parasit ini menunjukkan bahwa cacing pita yang menginfeksi ayam adalah Raillietina sp. dan cacing gilik yang ditemukan adalah Ascaridia galli.

    Survei Serologis antibodi bovine viral diarrhea pada ternak sapi di Propinsi Bali; NTB; NTT; dan Timor Timur

    Get PDF
    Telah dilakukan sumei serologis terhadap Bovine Viral Diarrahea (BVD) di wilayah kerja BPPH Wilayah VI Denpasar. Pada survei tersebut telah diambil 1562 serum sapi yang kemudian diuji dengan Agar Gel Precipitation (AGP).Bovine viral Diarrhea telah ditemukan di Propinsi Bali, NTB, NTT dan Timor Timur. Di Propinsi Bali tersebar di 8 Kabupaten dengan prevalensi 13.49 persen, NTB tersebar di 6 Kabupaten dengan prevalensi 14.17 persen, NTT hanya di Kabupaten Sikka dengan prevalensi 3.23 persen dan Timor Timur terdapat di Kabupaten Bobonaro dengan prevalensi 9.26 persen

    Hymenolepis cantaniana pada ayam buras di Medan Sumatera Utara

    Get PDF
    Dari 96 ekor ayam buras yang diperoleh dari Kotamadya Medan dan sekitamya untuk keperluan survai cacing parasitik ternyata tiga ekor (3,125%) diantaranya mengandung cacing pita kecil di dalam usus halus dalam jumlah yang sangat banyak. Cacing- cacing tersebut berwarna putih, agak transparan, berukuran panjang 8-20 mm, rataan 15.4± 3.31 mm (SD). Skoleks berukuran panjang 135-180 um dengan rataan 143 ± 12.19 um, lebar 120-150 um dengan rataan 130± 9.91 um tanpa kait-kait. Lubang genital unilateral, terletak diantara anterior dengan pertengahan segmen. Kantung sirus relatif besar dibanding dengan segmen. Di dalam segmen gravid terdapat kantung-kantung telur. Telur berdiameter 45 mm, berbentuk bundar seperti bola, diselubungi tiga membran dan sudah mengandung larva saat akan dikeluarkan. Dari ciri-ciri tersebut disimpulkan cacing ini termasuk jenis Hymenolepis cantaniana. Ini merupakan laporan penemuan pertama kali jenis cacing pita tersebut pada ayam (buras) di Indonesia

    Prospek penggunaan biotin dan (atau) copper dalam ransum kelinci sedang bunting

    Get PDF
    Suatu penelitian untuk mempelajari prospek pemberian biotin dan (atau) copper (Cu) telah dilakukan dengan menggunakan 28 ekor kelinci dara (umur ± 7 bulan) keturunan Flemish Giant x New Zealand White dengan rata-rata bobot badan 3148.70 g. Sehari setelah dikawinkan, ternak penelitian secara acak diberi salah satu diantara ransum R1 (Ransum basal dengan kandungan protein 14% dan energi ±  2450 kkal/kg, R2 (ransum basal ± 0.1 mg biotin/kg), R3 (ransum basal ±  50 mg CuS04SH2O/kg) atau R4 (ransum ±  0.1 mg biotin ± 50 mg CuS045H2O/kg).Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum R2 belum secara statistik mampu meningkatkan jumlah anak sekelahiran, sedangkan ransum R3 menghasilkan rata-rata jumlah anak sekelahiran (7 ekor/induk) sangat nyata (P > 0.01) lebih banyak dari pada jumlah anak (4.80 ekor) dari induk yang diberi R,, tetapi tidak berbeda nyata dengan yang menerima R2 (5.75 ekor/induk). Ransum R4 menghasilkanjumlah anak sekelahiran (8 ekor/induk) sangat nyata (P < 0.01) lebih banyak dari pada R1 maupun R2, tetapi tidak berbeda nyata dengan ransum R3. Rata-rata bobot  lahir anak secara individu dan bobot lahir anak sekelahiran yang dihasilkan dari perlakuan R1, R2, R3 dan R4 (masing-masing 50.30 g, 48.02 g, 41 .O1 g, dan 40.95 g serta 242.00 g, 273.63 g, 281 .SO g dan 325.50 g) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi jumlah anak sekelahiran banyak dan bobot lahir individunya cenderung lebih ringan.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian Cu dalam ransum induk kelinci sedang bunting lebih diperlukan dari pada pemberian biotin secara tunggal, tetapi pemberian secara kombinasi keduanya menunjukkan prospek yang lebih memuaskan. Studi ini juga mengingatkan bahwa penelitian mengunakan kelinci dara yang melibatkan evaluasi penampilan reproduksi seharusnya minimum dilakukan sampai paritas kedua

    Survei Serologis antibodi Blue Tongue pada ternak sapi di Propinsi Bali; NTB; NTT; dan Timor Timur

    Get PDF
    Telah dilakukan survei serologis terhadap Blue Tongue (BT) di Propinsi Bali, NTB, NTT dan Timor Timur. Pada survei tersebut telah diambil 1562 serum sapi yang kemudian diuji dengan agar gel precipitation (AGP).Sero positif Blue Tongue telah ditemukan di Propinsi Bali, NTB, NTT dan Timor Timur. Di Propinsi Bali ditemukan di 7 kabupaten meliputi 10 kecamatan dengan prevalensi antibodi rata-rata 8.80 persen. Di Propinsi NTB ditemukan di 6 kabupaten tersebar di 7 kecamatan dengan rata-rata prevalensi antibodi 4.17 persen. Di Propinsi NTT ditemukan di 4 kabupaten tersebar di 4 kecamatan dengan prevalensi rata-rata 6.25 persen dan di Timor Timur hanya ditemukan di kecamatan Meliana, kabupaten Babonaro dengan prevalensi 0.93 persen

    Konsumsi Feses lunak pada ternak kelinci

    Get PDF
    Konsumsi feses lunak yang dikenal dengan sebutan "coprophagy" atau "caecotrophy" biasa dilakukan oleh berbagai hewan termasuk diantaranya tikus kangguru ("Kangaroo rat"), Dipodomys microps, tikus dan mencit (Bjornhag dan Sjoblom, 1977.)  Bjornhag dan Sjoblom (1977) yang menyiasati beberapa peneliti sebelumnya (Harder, 1950; Barnes et al, 1957; Geyer et al, 1974, juga mengidentifikasi Lemnus-lemnus ("Scandinavian lemning"), Chinchilla lanigera (Chincilla) dan Cavia cobaya (marmut) sebagai hewan yang melakukan "coprophagy". Di samping itu, kelinci (Orictolagus caniculus) merupakan ternak yang secara meluas sudah dikenal melakukan "coprophagy" (Jilge,1974; Bjornhag dan Sjoblom, 1977; Jilge, 1978; Cheeke et al, 1982; Gidene et al, 1988; Fraga et al, 1991)

    281

    full texts

    402

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Hemera Zoa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇