402 research outputs found

    Profil hormon progesteron dan luteinizing hormone (LH) kerbau betina dalam keadaan reproduksi normal dan setelah pemberian PGF2 Alpha

    No full text
    Dalam penelitian ini dilakukan tehnik radioimmunoassay (RIA) untuk analisa hormon progesteron dan LH pada kerbau betina bersiklus normal dan setelah pemberian PGF2 alpha. Hewan percobaan yang dipakai adalah delapan hewan krbau betina dewasa yang diberi makan dan minum secara ad libitum. Prepara PGF2 alpha yang diberikan adalah Enzaprost-F, secara intra-uterin, sebanyak dua kali pemberian dengan selang waktu sebelas hari dengan dosis 3-7 mg/hewan setiap kali pemberian. Pada profil hormon normal kadar progesteron mulai meningkat pada hari ke-6 dan mencapai puncak pada hari ke-12 yaitu 423 +- 60.3 pg/ml. Kadar progesteron pada saat estrus berkisar antara 24-253 pg/ml. Kadar LH basal adalah sekitar 0.1 pg/ml. Kadar progesteron setelah penyuntikan PGF2 alpha pertama maupun kedua berkisar antara 28-200 pg/ml. Profil LH setelah perlakuan pada dasarnya sama dengan yang diamati untuk siklus normal. Kerbau betina bersiklus normal memperlihatkan pola hormon progesteron dan LH dalam kualitas tidak berbeda dengan pola pada hewan ternak pemamah biak lain. Perbedaan itu terletak pada nilai kadar hormon yang lebih rendah yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti misalnya ciri genetik bangsa hewan dan mungkin juga berbagai keadaan cekaman (stress) seperti kualitas dan kuantitas makanan yang kurang baik, kondisi eksperimen, tatalaksana yang kurang baik dan sebagainya. Perlakuan dengan PGF2 alpha menyebabkan regresi corpus luteum yang dicerminkan oleh penurunan kadar peogeteron sampai ke nilai basal. Tumbuhnya puncak LH merupakan indikasi terjadinya ovulasi. Berdasarkan data tersebut, PGF2 alpha dapat dipakai sebagai penyerentak birahi pada kerbau yang diikuti oleh kemungkinan fertilitas, jika didukung oleh proses pematangan ovum yang cukup pada saat pemberian PGF2 alpha yang kedua

    Beberapa pengamatan terhadap kejadian miasis mewabah pada ternak di Indonesia

    No full text
    Di Indonesia sampai saat ini dikenal dua jenis miasis obligat yang cenderung mewabah yaitu miasis teracak oleh lalat Booponus intonsus Aldrich di Sulawesi Utara dan Tengah, dan miasis oleh lalat Chrysomya vezziana Villeneuve yang melanda beberapa peternakan padang di luar Jawa. Pada saat ini nampaknya miasis teracak di Sulawesi bukan merupakan masalah gawat, karena lokasinya yang ternyata amat terbatas, populasi lalat yang selalu rendah dan adanya kemungkinan penyembuhan secara spontan. Bagi usaha peternakan padang, miasis dapat merupakan masalah besar apabila padangnya penuh berisi caplak dan bangsa sapi yang dipelihara termasuk yang peka caplak. Keadan semacam ini dijumpai di Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. Mengingat akan besarnya potensi miasis untuk menjadi masalah secara nasional, disarankan agar sedini mungkin masalah ini difikirkan serta dikendalikan

    Responses to different doses of PMSG on Embryo Collection in Rats

    No full text
    The development ability of embryos recovered from LMR - Strain rats (age 3 to 4 months with an average 120 g). embryos recovered from treated animals with 10 and 20 IU PMSG, respectively, were compared with those from control (0 IU). Embryos were collected from uteri on day 4 post coital.Treated groups tended to show an increase willingness to mate comfored to control groups, but a high number of embryos that have degenerated in rats treated with 20 IU PMSG were observed. The experiment suggested, that the dose of PMSG was an important source of variation in embryo production

    Peta beberapa penyakit hewan di Propinsi Sumatera Barat, Jambi dan Riau

    No full text
    Usaha pemetaan penyakit yang ditemuakn dan didiagnosa di BPH Bukittinggi sudah dilakukan sejak tahun 1974.Beberapa penyakit yang ditemukan dibuatkan titik lokasinya dan daerah penyebaran penyakit tersebut di suatu kabupaten digambar. Demikian juga data mengenai bulan kejadian dan banyaknya kasus yang berhasil dikumpulkan di dalam rangka memberikan informamsi yang diperlukan mengenai penyakit hewan kepada Dinas Peternakan.Pemetaan dan Data ini penting artinya dalam perencanaan pemberantasan oleh Dinas Peternakan dalam hal menentukan macam obat, jenis vaksin dan jadwal vaksinasi

    Berbagai tipe Bangun Anatomi Hati Kancil (Tragulus sp.)

    Get PDF
    Telah diteliti anatomi hati 9 ekor kancil Indonesia yang terdiri dari 2 ekor Tragulus javanicus dan 7 ekor Tr napu. Dari penelitian ini ditemukan 4 tipe hati. Tipe pertama, satupreparat, hati yang tidak mempunyai processus caudatus dan processus papillaris. Tipe kedua, 3 preparat, yaitu mempunyai processus caudatus yang tumbuh subur dan processus papillaris berujung runcing. Tipe ketiga, 3 preparat, mempunyai processus caudatus dan processus papillaris yang menghadap ke abomasum dan melengkung ke arah lobus kiri. Tipe keempat, tidak mempunyai processus caudatus tetapi mempunyai processus papillaris yang mengapit duodenum pada processus quadratus. Keempat tipe hati ini tidak sesuai dengan spesies kancil yang diteiti, bahkan 2 ekor Tr. javanicus yang diteliti mempunyai tipe hati berbeda. Karena itu perlu diteiiti lebih lanjut tentang subspesies atau spesies kancil di Indonesia, tidak hanya berdasar kepada ukuran tungkai, berat badan, warna bulu dan garis punggung saja, tetapi juga dilengkapi dengan pengamatan anatomi organ, analisis protein dan teknik lain yang mendukung.

    Beberapa Aspek Makro dan Mikroanatomi otak tikus (Rattus sp.) yang mengalami hipotiroid

    Get PDF
    Perlakuan hipotiroidosme maternal dan fetal pada tikus sampai berurnur 10 minggu, memberikan dampak pada perkembangan somatis dan otak. Secara kuantitatif, hasil penelitian ini menunjukkan penurunan bobot tubuh dan otak, volume otak. Berdasarkan berat relatif otak terhadap bobot tubuh, pertumbuhan otak tetap menjadi prioritas dalam keadaan hipotiroidisme. Beberapa parameter mikroskopik, menunjukkan penurunan tebal korteks, kepadatan serabut syaraf subkortikal, dia metersel syaraf korteks dan hipokampus juga jumlah sel syaraf dan penunjang pada korteks serebri

    Studies on piglet diarrhoea associated with enterotoxigenic escherichia coli and its control by vaccination

    Get PDF
    Piglet neonatal diarrhoea occured in all the piggeries studied in Indonesia. Field studies demonstrated the prevalence of diarrhoea in all piggeries were at range from 13.4% to 43.7% with and average 24.7%. The majority of piglets with diarrhoea were in the first 2 weeks of life. Mortality of piglets were at rates between 12.2% to 31.6% with an average 17.9%. The distribution of piglet mortality preceded by diarrhoea recorded in an intensive study in a piggery G for a seven week period showed a high positive correlation with diarrhoea (r2 = 0.79;

    Mempelajari potensi vaksin newcastle disease galur komarov, La Sota dan B1 diaplikasikan melalui makanan

    No full text
    Penelitian tentang potensi vaksin galur Komarov, La Sota dan BI dengan aplikasi peroral melalui makanan telah dilakukan di laboratorium Imunologi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor. Sebagai hewan percobaan telah digunakan ayam jantan petelur galur Shaver Starcross dari PT. Cargill Indonesia. Dalam penelitian ini dilakukan 4 perlakuan dan masing-masing diulangi 4 kali. Perlakuan pertama melaksanakan vaksinasi dengan galur vaksin Komarov, perlakuan kedua denga vaksin La Sota, perlakuan ketiga dengan vaksin BI dan perlakuan keempat kelompok kontrol, tanpa vaksinasi. Setiap perlakuan digunakan 50 ekor ayam, sehingga seluruhnya diperlakukan 4 x 4 x 50 ekor = 800 ekor

    Epidemiological and economical approach in animal health management

    No full text
    A variety of patterns for delivery of rural veterinary services during the past 200 years demonst rate that, for no country have purely or largely curative services been economically viable without direct or  indirect govermental subsidization. Te impact of such efforts upon overall productivity were rarely, if ever convincingly demonstrated ; yet veterinary curricula still continue to emphasize practice skills solely applicable to individual animal curative medicine. At the same time, govermental disease control programmes on a population level were almost exclusively mass campaigns conducted without benefit of sufficient baseline information on relevant distributions of diseases of causally related variables, therefore not optimally focused for best uses of scarce resources, not seldom able to accurately reflect their economic advantages in terms of benefits and costs

    Terameres Americana pada ayam buras di Medan Sumatera Utara

    No full text
    Dari 96 ekor ayam buras yang diperoleh dari Kotamadya Medan dan sekitarnya untuk keperluan suwai cacing parasitik terdapat 34 ekor (35,42%) diantaranya terinfeksi cacing gilik Tetrameres americana pada lambung kelenjar (provenhiculus) dengan jumlah cacing yang berkisar antara 4 - 47 ekor dengan rataan 4,5 cacing betina per ayam. Cacing-cacing tersebut berbentuk bundar, yang masih segar berwarna merah cerah seperti darah segar. Ekstrimitas anterior menjulur keluar sepanjang 1 mm. Pada mulut terdapat 3 .bibir kecil, diikuti rongga mulut dan usofagus narnpak sepanjang bagian anterior yang menjulur. Ekstrimitas posterior menjulur sekitar 800 µm. Panjang cacing 3,5 - 4,5 µm dengan rataan 3,98 µm dan lebar 3 - 4 mm dengan rataan 3,53 µm. Badannya mempunyai 4 alur longitudinal. Uterus dan ovarium banyak dan panjang berliku- liku. Vulva terdapat pada bagian posterior. Telur berbentuk oval, panjangnya antara 45 - 52,56 µm dengan rataan 46,5 µm, lebar antara 22,5 - 40 µm dengan rataan 25,25 µm dan sudah mengandung larva saat dikeluarkan. Laporan ini merupakan yang pertama untuk pulau Sumatra

    281

    full texts

    402

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Hemera Zoa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇