Hemera Zoa
Not a member yet
402 research outputs found
Sort by
Gambaran darah mencit yang diinfeksi dengan Trypanosoma evansi yang diiradiasi dengan sinar gama (Co-60)
Gambaran darah mencit yang diinfeksi dengan Trypanosoma evansi yang diradiasi dengan sinar gama (Co-60). Telah dilakukan percobaan untuk mengetahui patogenitas T. evansi iradiasi. Penentuan tingkat patogenitas dilakukan dengan cara melihat gambaarn darah dari mencit yang diinokulasi dengan T. evansi iradiasi. Iradiasi parasit menggunakan sinar gama (Co-60) dengan dosis 300Gy. Dosis inokulasi 5 x 103 parasit per mencit. Waktu penyimpanan adalah 1,24 dan 48 jam setelah iradiasi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa iradiasi memeberikan pengaruh terhadap patogenitas T. evansi, dan waktu penyimpanan dapat memperkuat turunnya patogenitas parasit
Tinjauan Pustaka: Kolaborasis pada ayam pedaging
Kolibasilosis pasa unggas merupakan penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan, disebabkan oleh infeksi kuman Eschericha coli
Kasus kematian sapi Bali di Kabupaten Donggala akibat keracunan Lantanan camara
Pada bulan Maret 1980, 51 dari 105 sapi Bali mati selama 26 hari setelah mereka diturunkan dari kapal dan dibiarkan merumput di halaman karantina hewan di Palu, Sulawesi Tengah dimana tumbuh Lantana camara.Diagnosa penyakit dibuat berdasarkan suatu pendekatan epidemiologik dan dikukuhkan dengan suatu percobaan makanan yang memakai seekor sapi Bali betina yang beratnya 75 kg. Sapi percobaan ini diberi makan satu kg daun Lantana camara segar yang diambil dari halaman karantina.Tanda-tanda klinis dan kelainan-kelainan makroskopik yang ditemukan pada sapi Bali percobaan itu tidak dapat dibedakan dari tanda-tanda klinis dan kelainan-kelainan makroskkopik pada "Balische ziekte" yang digambarkan oleh Lubberink pada tahun 1925.Meskipun keracunan lantana diduga dapat ditemukan di negara tropik seperti Indonesia, kasus ini adalah laporan pertama keracunan semacam ini di Indonesia. Penulis merasa bahwa laporan ini membuat agak terang sebab terjadinya "Balische ziekte" yang tidak diketahui selama 55 tahun.Sejarah, tanda-tanda klinis, kelainan-kelainan makroskopik dan mikroskopik kasus ini juga di gambarkan
Otoritas veteriner di Indonesia
Cikal bakal "OTORITAS VETERINER" (OTVET) di Indonesia bermula sejak jaman penjajahan, dimana Jawatan Kehewanan merupakan bagian dari Departemen Pertanian, Perdagangan dan Industri. Jawatan ini ditugasi menanganidua hal, yaitu polisi saniter dan veteriner hygiene. Tugas polisi saniter meliputi pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan, penyediaan bibit ternak dan pengawasan pasar. Sedangkan tugas veteriner hygiene meliputi pemeriksaan hygiene sapi perah, pemeriksaan pemotongan hewan dan hygiene daging. Institusi Jawatan Kehewanan terus berlanjut hingga era pasca proklamasi kemerdekaan dan menjelang kejatuhan Pemerintahan Orde Baru, Jawatan Kehewanan berubah menjadi Direktorak Kehewanan, berada di dalam Departemen Pertanian. Pada tahun 1966, Direktorat Jenderal Kehewanan berganti nama menjadi Direktorak Jenderal Peternakan sejalan dengan semangat waktu itu untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan rakyat melalui peningkatan populasi dan produksi peternakan . Di era reformasi, Direktorat Jenderal Peternakan beberapa kali berganti nama, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, kemudian Direktorat Jenderal Produksi Peternakan dan kemudian kembali ke nama lama Direktorat Jenderal Peternakan. Pergantian nama tersebut tidak membawa perubahan mendasar baik dalam visi maupun struktur organisasinya.
SDS-PAGE of Pseudomonas pseudomallei exotoxins
The protein profiles of Pseudomonas pseudomallei exotoxins which derived from P. pseudomallei strains of different virulence and origin (J53, AN, C2, XI003 and 1328 strains), have been studied by electrophoretic analysis using SDS-PAGE (sodium dodecyl sulphate - polyacrylamide gel electrophoresis).Each of these P. pseudomallei strains is propagated in mucin broth and then incubated statically at 32 ° for 7 days. The exotoxin of each strain has been prepared from that broth culture by centrifugation and followed by ultrafiltration.The result indicated that all of the strains, regardless of its different virulence and origin, showed one protein band common to all, i.e. at a molecular weight of approximately 35 K
Aktivitas antiproliferasi ekstrak etanol temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) pada sel lestari tumor MCA-B1 dan MCM-B2 secara In Vitro
The aim of this research is to observe the antiproliferation activity of temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) ethanol (70%) extract on MCA-B1 and MCM-B2 cell lines in vitro. Cells were cultivated in tissue culture plate 24 wells with vinblastin (positive control) and 5 dose level extracts in 5 replicates. The concentrations of extract were 0 ppm (negative control), 15 ppm (P1), 30 ppm (P2), 45 ppm (P3), 60 ppm (P4), and 75 ppm (P5). After 3 days incubated at 37 derejad C, cells were harvested and total cells were counted using a haemocytometer Neubauer. The results showed that 70% temulawak extract had antiproliferation activity to MCA-B1 and MCM-B2 cell lines. The best result was occured on the 75 ppm doses, with the ant-proliferation activity reached for 70,0% in MCA-B1 cell line and 75.4% in MCM-B2 celll line. Overall, the results indicated that temulawak may have a possible therapeutic potential againts cancer.Keywords: tumor, temulawak, antiproliferation, MCA-B1, MCM-B2, in vitro
Gambaran status reproduksi pada sapi perah melalui pengukuran progesteron susu dengan metoda elisa
Determinan of reproduction status was carried out 16 lactation dairy cows at Faculty of veterinary Medicine and Faculty of Animal Science - IPB bt measurement of milk progesteron level by enzyme Immunoassay.This result could concluded that : 1 cow post oestrus, 3 cows dubius pregnant and 5 cows pregnant.Confirmation by rectal palpation was done one week later and shown that: 4 of 5 diagnosed pregnant, 1 cows need recheck.The accuracy of milk progesteron assay by enzyme immunoassay (EIA) in this case was 80% for positive pregnant.-------------------------------------------------------------------------Telah dilakukan penentuan status reproduksi terhadap 16 ekor sapi perah yang berada di Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Peternakan - IPB, melalui pengukuran kadar estrogen susu dengan menggunakan Enzyme immunoassay.Dari hasil Penelitian tersebut dapat ditentukan 3 bentuk status reproduksi yaitu berahi, lewat berahi dan bunting, di mana 7 ekor sapi dubius bunting dan 5 ekor bunting.peneguhan diagnosa dilakukan dengan palpasi rektal seminggu kemudian dan menunjukan 4 dari 5 ekor dinyatakan bunting.Ketepatan diagnosa uji progesteron susu dengan Enzyme Immunoassay (EIA) untuk kasus ini adalah 80% untuk positif bunting
New concept in animal production with special reference to tropical conditions
Animals are kept for many purpose throughout the world, thus discussing all the new concepts that could be applied to them is a daunting task. To this consideration must be added the fact thaht most new concepts arise in the developed parts of the world where the constraints to animal production are very different to those in tropical countries. In the former areas various developments have resulted in an over production of many animal product and as a consequence techiques that result in increased production are no longer in vogue
Gasterointestinal helminthiasis in dairy cows in Bandung and Garut, West Java, Indonesia and its effect on milk production
Ninety seven faecal samples from lactating and nonlactating dairy cows in Bandung and Garut, West Java, were collected and examined for gasterointestinal worm eggs, in the period from August 1988 untill March 1989. At the same time of faecal collection, the daily milk production of the cows were recorded, only 5 cows (5,15%) were clean from worm eggs while the other 92 (94.85%) were found infected with one, two or three parasitic helminht classes. Three samples (3,09%) were harbouring single nematode class infections, another 3 samples (3,09%) with single cestode class infections, 23 (23,71%) single trematode class infections. Hence 29 samples (29.90%) were infected with single class helminth parasites. Two samples (2.06% ) were harbouring mixed nematode and cestode infections, 17 (17.53%) with mixed nematode and trematode and 30 (30.93%) mxed cestode and trematode infections to make up 61 samples (62.89%) harbouring two helminth class infections. Fourteen cows (14.43%) harboured mixed infections of nematode, cestode and trematode
Anestesi akupuntuk untuk laparatomi flak serta aplikasinya untuk laparatomi flank serta aplikasinya untuk panen embrio pada transfer embrio sapi
Penelitian ini mengaplikasi anestesi akupuntur untuk mendukung panenan embrio yang berkaitan dengan transfer embrio melalui laparatomi flank pada sapi. Penusukan jarum akupuntur dilakukan pada titik-titik Tianping, Gov. 20 dan Weigan, dengan rangsangan "Electroacupuncture" Model G.6805-2. Sapi donor dipersiapkan dengan perlakuan superovulasi, sinkronisasi berahi, kawin suntik (IB) dan kemudian panen embrio melalui laparatomi flank dengan anestesi akupuntur. Keberhasilan akupuntur sebagai anestesi pada 12 ekor sapi percobaan adalah 75%, seadngkan jumlah embrio rata-rata untuk setiap ekor sapi = 3.17. Mutu embrio yangbaik untuk transfer adalah 55.26% dengan nilai istimewa (=excellent grade)