402 research outputs found

    PF-19 Professional Wellness for Veterinarians

    Get PDF
    Personal and professional wellness of veterinarians and veterinary staff are receiving increased attention in veterinary publications and conferences, social media and the non-veterinary press. Recent suicides of high-profile, socially-harassed or victimized veterinarians have caused consternation within the profession.  There is an increased recognition that stress and compassion fatigue coupled with a demanding workplace environment are adversely affecting the mental well-being and physical health of veterinarians

    PF-21 Burkholderia cepacia Infection in Python reticulatus

    Get PDF
    Boids kept as exotic pets nowadays has increased in recent decades [1]. Its popularity has increased in Indonesia. Without proper husbandry, snakes have higher risk for infection, such as respiratory infection. Respiratory infections are common in captive snakes that could cause severe illness leading to death [2]. Many etiologies say respiratory infection in snakes, are mainly caused by bacteria. Microbiology test is one of the diagnostic method which could be performed to diagnose for a better treatment to identification the cause of the infection. API 20NE kit is a choice. Burkholderia cepacia is a bacterial infection which could occur in pythons. This case reports Burkholderia cepacia finding in a Python reticulatus that had respiratory infection.Burkholderia cepacia Infection in Python reticulatu

    PF-23 Canine Pancytopenia with Normocytic-Normochromic Anemia: Case Reports in Three Dogs [2016-2017]

    Get PDF
    Canine pancytopenia is a disease that occurs in dogs caused by a decrease in the number of erythrocytes, leukocytes and thrombocytes/platelets in the blood. Canine pancytopenia often attacks dogs that live in the tropic climates. The diseases can be caused by an agent infection, excessive cell proliferation and through an immune intermediary. A decreasing in the number of erythrocytes followed by a decreasing of hemoglobin and hematocrit causes anemic condition. Non-regenerative anemia that often occurs when pancytopenia is normocytic-normochromic anemia [1]

    KIVMP-2 Analisis Patotipe Virus H5N1 Clade 2.3.2.1c yang Bersirkulasi di Provinsi Lampung Tahun 2016-2017

    Get PDF
    Avian influenza (AI) merupakan penyakit infeksius disebabkan oleh virus influenza tipe A dari famili Orthomyxoviridae (Boyce et al., 2009) yang berpotensi menyebabkan kerugian bagi dunia perunggasan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Virus AI memiliki 8 segmen gen yang berbeda yang mengkode 10 jenis protein virus yang berbeda. Struktur protein dalam virion dewasa dapat dibagi menjadi protein permukaan dan protein internal. Termasuk ke dalam protein permukaan adalah hemaglutinin (HA), neuraminidase (NA), dan membran kanal ion (M2), sedangkan protein-protein internal meliputi nukleoprotein (NP), protein matriks (M1), dan kompleks polimerase yang tersusun dari polimerase basa 1 (PB1), polimerase basa 2 (PB2), dan polimerase asam (PA). Dua protein tambahan lainnya adalah protein nonstruktural 1 (NS1) dan nonstruktural 2 (NS2) (Lee dan Saif, 2009).Virus influenza A dikelompokkan berdasarkan dua antigen permukaan virus, yaitu protein hemaglutinin (HA) dan protein neuraminidase (NA), yang sampai saat ini telah ditemukan 18 HA (H1-H18) dan 11 NA (N1-N11)  (Tong et al., 2013; Heider, 2015). Hemaglutinin (HA) memiliki fungsi utama untuk menginisiasi infeksi, berinteraksi dengan reseptor asam sialat sel hospes (Edinger et al., 2014) serta menentukan patogenisitas virus AI H5N1 (Li et al., 2011).Wabah highly pathogenic avian influenza (HPAI) subtipe H5N1 pertama kali dilaporkan pada unggas di Indonesia pada tahun 2003. Kejadian wabah penyakit antara periode 2003-2004, virus-virus H5N1 di Indonesia masih merupakan clade 2.1. Dua tahun kemudian setelah kejadian wabah pertama, clade 2.1 berkembang menjadi tiga sublineage virus, yaitu clade 2.1.1, 2.1.2 dan 2.1.3 (Anonim, 2008). Sub-clade 2.1.2 terdiri dari virus-virus yang menginfeksi unggas dan manusia. Sub-clade 2.1.3 berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari kasus fatal pertama H5N1 di manusia di Indonesia pada tahun 2005 (Parry, 2005). Sejak tahun 2008, virus-virus clade 2.1.1 dan 2.1.2 tidak lagi dijumpai baik pada unggas dan manusia, sedangkan virus-virus dari clade 2.1.3 terus berkembang menjadi tiga kelompok virus baru, hasil evolusi dari sub-clade 2.1.3 membentuk sub-clade baru yang masih termasuk dalam sub clade 2.1.3 (Takano et al., 2009) yaitu sub-sub-clade 2.1.3.1,  2.1.3.2  dan  2.1.3.3 (Wibawa et al., 2014). Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis clade dan patotipe pada virus AI clade 2.3.2.1c yang bersirkulasi di Lampung pada tahun 2016-2017

    SA-6 Foreign Objects in the Form of Nails Found Inside the Gastrim of a Mixed Breed Dog Patient Handled at Klinik Hewan Jogja

    Get PDF
    Various diseases could affect dogs, including disruptions of the gastrium caused by the presence of foreign objects. The dogs’ habit of consuming miscellaneous objects around them was the common cause for the said objects, which should not exist within their body, to be swallowed and enter the stomach. This kind of case is often found among the growing puppies of large breed dogs [1]. This report aims to reveal the case of foreign objects finding within the gastrium of a dog patient handled at Klinik Hewan Jogja. In this particular case, we found foreign objects in the form of many nails and an assortment of metal wire pieces inside the gastrium of mixed breed dog Messi

    AQ-3 Profile Cortisol, Neutrophyle/Lymphocyte Ratio and IL-6 on Bali Cattle Transported by Traditional Vessel during 120 Hours

    Get PDF
    Transportation of livestock using wooden vessels is frequently used fulfilling the demand of another Province on Bali cattle. Cattle transportation arranged in the Office Internationale Epizooticae (OIE) and the Internatinal Air Transport Association (IATA) is highly susceptible to stress. This study aims to determine the profile of hormones cortisol, neutrophyle/lymphocyte ratio and IL-6 as stress indicator

    VPH-7 Study of Inappropriate Antibiotic Usage in Cattle Farm in East Nusa Tenggara

    Get PDF
    Antibiotics have an inhibitory effect on the growth of microorganisms [1]. The inappropriate use of antibiotics has an impact on human health, animals and the environment [2,3]. Therefore prescription Antibiotic use should be given by veterinarian. In fact, a number of breeders are practicing antibiotic beef cattle without a veterinary prescription. The purpose of this study was to determine the percentage of antibiotics used without prescription from veterinarians by farmers in Kupang City, East Nusa Tenggara

    OH-3 One health, Tantangan dan Peluang dalam Pencegahan dan Pengendalian Rabies pada Konservasi Gajah Sumatera di Taman Nasional Way Kambas Lampung

    Get PDF
    PENDAHULUANTaman Nasional Way Kambas (TNWK) yang terletak di provinsi Lampung adalah habitat hutan yang sangat penting untuk konservasi mamalia besar di Indonesia. Daerah ini adalah habitat alami bagi spesies satwa langka dan terancam punah di dunia termasuk gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Berdasarkan IUCN (2013) gajah Sumatra adalah spesies yang terancam punah dan berisiko menjadi punah (CITES APPENDIX I) dan dilindungi.Pusat Latihan Gajah (PLG) dengan luas sekitar 2.000 ha di TNWK adalah salah satu fasilitas penting untuk konservasi gajah Sumatera yang meripakan bagian penting dari konservasi alam Indonesia. PLG didirikan pada tanggal 27 Agustus 1985 memelihara gajah konflik yang bersasal dari Sumatera Selatan dan Lampung. PLG juga sebagai pusat konservasi gajah sumatera dan tempat tujuan wisata unggulan yang mendukung perekonomian masyarakat sekitar. Deforestasi, kerusakan habitat dan perburuan liar telah mengakibatkan penurunan populasi gajah Sumatra secara signifikan. Faktor lain yang penting adalah penyakit termasuk penyakit infeksi baru dan zoonosis.Tantangan Pencegahan dan pengendalian zoonosis dengan pendekatan one health dengah keterbatasan sumber daya manusia khususnya tenaga medis dan petugas lapangan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Kerjasama lintas sektor antara kesehatan manusia (Kementerian Kesehatan - Kemenkes), kesehatan hewan (Kementerian Pertanian - Kementan), kesehatan satwaliar (kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan - KLHK) dan Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) sangat diperlukan.Jumlah penyakit menular yang baru muncul (emerging infectious diseases) khususnya yang bersumber dari satwa liar mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir (Jones et al,. 2008). Perubahan iklim, introduksi spesies invasif, urbanisasi, kegiatan pertanian dan hilangnya biodiversitas termasuk deforestasi yang berimplikasi terhadap peningkatan penyebaran patogen menular. Deforestasi dianggap sebagai faktor yang paling berpengaruh secara langsung terhadap kemunculan penyakit baru terutama yang bersumber dari satwa liar (Sehgal. 2010).Zoonosis yang ‘reservoir’nya satwa liar menjadi masalah kesehatan masyarakat di hampir semua benua yang mana penularan berbagai patogen nya dipengaruhi oleh banyak factor (Kruse et al,. 2004).Rabies penyakit hewan menular yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus(dari bahasa Yunani Lyssayang berarti mengamuk atau kemarahan), bersifat  akut serta menyerang susunan saraf pusat,  hewan  berdarah  panas dan  manusia.Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana sedapat mungkin memperkecil kesenjangan disiplin ilmu antara ahli penyakit menular, ahli satwa liar, ahli ekologi dan ahli sosial dalam meneliti dan memahami semua aspek yang terkait dengan penyakit baru muncul yang inang antaranya adalah satwa liar (Wilcox and Ellis B. 2006), hal ini juga terjadi pada petugas lapangan sektor kesehatan satwa liar. Upaya untuk mengatasi penyakit infeksi baru dan zoonosis pada satwa liar bergantung kepada jejaring lintas sektor dan lintas disiplin ilmu yang efisien di tingkat nasional, regional dan internasional, sehingga dapat dilakukan saling tukar menukar informasi untuk kewaspadaan dini serta respon tepat waktu dan efektif terhadap kemungkinan kemunculan wabah penyakit dapat dilakukan (Kruse et al,. 2004).”One Health” adalah suatu konsep satu kesehatan yang mencakup kesehatan manusia, hewan, dan lingkungannya yang saling berkaitan satu dengan lainnya (Katz et al,. 2010) yang merupakan peluang yang harus dimanfaatkan untuk pencegahan dan pengendalina Rabies untuk konservasi gajah

    KIVP-6 Case Report: Seroprevalensi Tuberkulosis Menggunakan Uji Tuberkulin Kulit Mammalian Old Tuberculine (MOT) pada Macaca fascicularis Hasil Penyitaan Topeng Monyet

    Get PDF
    Di Indonesia, salah satu atraksi populer di masyarakat yang menggunakan monyet ekor panjang adalah atraksi Topeng Monyet. Di Pulau Jawa, topeng monyet juga disebut ledhek kethek. Menurut Cohen (2006)  pada era tahun 1980an topeng monyet digunakan mengamen di pasar, perkotaan dan perdesaan diiringi musik tradisional. Kesenian ini melibatkan pawang untuk melatih monyet meniru perilaku manusia, seperti berpakaian, menari dan berdandan. Penonton topeng monyet umumnya adalah anak-anak (Aiai 2015).Monyet yang digunakan untuk atraksi topeng monyet berpotensi untuk menularkan penyakit zoonosis pada manusia. Penelitian Schillaci et al (2002) menyatakan bahwa monyet yang digunakan untuk atraksi topeng monyet merupakan hewan reservoir  untuk virus enzootic simian yang dapat menginfeksi manusia.Salah satu penyakit lainnya yang bersifat zoonosis dan memiliki resiko ditularkan dari monyet topeng monyet adalah penyakit tuberkulosis. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri tahan asam yaitu Mycobacterium tuberculosis.Untuk mengetahui status infeksi tuberkulosis dari individu primata, salah satu metode pemeriksaan yang disetujui oleh Institute for Laboratory Animal Research (ILAR) dan Center for Disease Control (CDC) adalah metode pemeriksaan dengan menggunakan uji tuberculin kulit pada hewan dalam tahapan karantina. Uji tuberculin kulit yang dapat digunakan yaitu mamalian old tuberculin (mot), bovine purified protein derivates (bovine ppd) dan avian purified protein derivates ( avian ppd) (Lecu et al 2013)

    AEVI-3 Investigasi Outbreak Rabies di Kabupaten Donggala Tahun 2018

    Get PDF
    Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia (bersifat zoonosis). Rabies disebabkan oleh virus rabies dari genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae. Virus rabies dikeluarkan bersama air liur hewan terinfeksi dan ditularkan melalui luka gigitan atau jilatan. Rabies sangat penting artinya bagi kesehatan masyarakat, karena apabila penyakit tersebut menyerang manusia (zoonosis).Bulan Februari 2018 Balai Besar Veteriner Maros menerima informasi dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Sulawesi Tengah bahwa terdapat kasus gigitan manusia oleh Hewan Penular Rabies (anjing) di kabupaten Donggala sehingga Balai Besar Veteriner Maros menurunkan tim investigasi (tanggal 13-15 Februari 2018) yang terdiri dari Drh Alfinus dan Sukri dengan Nomor Surat Perintah Tugas No: 0578/TU.320/F5.G/02.18 untuk melakukan penyidikan penyebab anjing mengigit manusia.Tujuan investigasi ini adalah untuk melakukan konfirmasi dan verifikasi kasus penyakit, mengidentifikasi sumber penularan kasus, mengetahui kronologis kejadian kasus dan factor resikonya serta memberikan saran dalam pengendalia

    281

    full texts

    402

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Hemera Zoa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇