Hemera Zoa
Not a member yet
402 research outputs found
Sort by
MP-18 The use of Antibiotics in Small-Scale Duck Farm at Mojokerto District, East Java
Duck is a type of commercial poultry, farmed traditionally by herding transiently or intensive farming by the community. In general, the herding duck looks for food at the surface of rice field and from rice stem. The problem often occurred on these herded ducks were feed poisoning because the extensive use of pesticide in rice field, therefore the traditional farming had become riskier. The careless use of drugs in handling health problems in duck, such as the administration of antibiotics to all livestock within one group. The objective of this study is to identify the use of antibiotic in duck farm
AEVI-10 Investigasi Outbreak MCF di Kabupaten Musi Rawas Tahun 2016
Malignant Catarrhal Fever (MCF) merupakan penyakit viral yang menyerang sapi, rusa, bison, kerbau dan ruminansia lainnya. Sapi muda biasanya lebih rentan terutama yang dipelihara bersama domba (Damayanti, 2005). Penyakit ini kebanyakan berakibat dengan kematian (Teankam et al., 2000; Schultheiss, et al., 2000; Barker et al., 1993). MCF disebabkan oleh alcelaphine herpesvirus 1 (AlHV-1) dan ovine herpesvirus 2 (OvHV-2) (Fenner et al., 2011). Penyakit bersifat sporadik dengan tingkat kematian dapat mencapai 100% (Hamilton, 1990), meskipun ada hewan yang sembuh setelah terserang MCF (Penny, 1998). Penyakit MCF di Indonesia dilaporkan pertama kali oleh Paszotta pada tahun 1894 di Kediri, Jawa Timur (Mansjoer, (1954) dalam Khatimah, dkk. 2014). Penyakit MCF telah tersebar hampir di seluruh Indonesia. Namun di beberapa daerah banyak kejadian MCF tidak terdiagnosis atau tidak dilaporkan. Kerugian yang ditimbulkan akibat penyakit MCF cukup besar terutama jika kasus penyakit ini terjadi pada hewan bibit. Kejadian penyakit MCF pada sapi bali di lapangan sering dikaitkan dengan adanya ternak domba (Partadiredja et al., 1988). Lesi sapi penderita MCF dapat dilihat dari gambaran patologi anatomi dan histopatologi yang patognomonik yaitu vaskulitis berupa infiltrasi limfosit, makrofag, neutrofil dan sel plasma pada beberapa organ seperti otak, paru-paru, hati, jantung dan usus (Liggit dan De Martini, 1980). Kegiatan penyidikan kematian sapi bali yang diduga disebabkan oleh Malignant Catarrhal Fever virus oleh tim Balai Veteriner Lampung di Kabupaten Musi Rawas dilaksanakan berdasarkan permohonan investigasi oleh Dinas Peternakan Kabupaten Musi Rawas mengenai adanya laporan kasus kematian sapi bali dengan gejala klinis mengarah pada penyakit MCF di desa L Sidoharjo Kecamatan Tugu mulyo. Berdasarkan laporan tersebut maka Balai Veteriner mengeluarkan Surat Perintah Tugas No. 16001/TU.040/F5.C/09.2016 untuk melakukan penyidikan bersama dinas Peternakan Kabupaten Musi Rawas.Tujuan kegiatan adalah melakukan penyidikan kejadian kematian sapi bali di Kabupaten Musi Rawas, melakukan pengumpulan data epidemiologis, pengambilan spesimen di lapangan untuk mengetahui penyebab kematian sapi bali di Kabupaten Musi Rawas
AEVI-12 Investigasi Kematian Sapi Potong di Desa Banjararum Kalibawang Kulonprogo Tahun 2017
Sapi potong merupakan ternak ruminansia besar yang berperan penting sebagai penghasil daging peringkat tertinggi nasional (Puslitbangnak, 2000). Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang ikut berperan dalam pencapaian target swasembada daging. Terdapat beberapa penyakit yang menyerang ternak di kabupaten Kulon progo dan berpotensi besar terhadap kegagalan pencapaian program peternakan. Salah satu penyakit hewan yang muncul di tahun 2017 adalah penyakit antraks (Purbadi,2017). Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyelidiki kasus kematian sapi yang terjadi di Dusun Klepu Banjararum Kalibawang Kulon Progo, dan mengidentifikasi faktor penyebab, sumber penularan serta merumuskan rekomendasi langkah-langkah pengendalian
PAT-4 Histopathological Study of Mice (Mus musculus) Digestive Organs Treated with Alkali pH Water
Water is an important part of the body. As much as 50-60% of an adult\u27s body weight consists of water. Water functions in the body include as a means of transporting substances, regulating body temperature, regulating body pH, forming body structures, solvents for the body\u27s chemical reactions, and helping the body\u27s mechanical functions, such as lubrication (Insel et al. 2004; Asamadi 2008). In the event of water deficiency, the body will become dehydrated which able to cause cell death to individual death (Stanfield and Hui 2008). Recently, there are alkaline pH drinking water products that are commercially popular that have pH around 8-10 (alkaline water). Some parties claim that alkaline water can help neutralize the level of acidity (pH) of blood due to free radicals, while also having micro cluster technology that can increase oxygen solubility. According to Shirahata et al. (2012) alkaline water is beneficial for health because it can suppress oxidative stress.This study aims to know the effect of alkaline pH drinking water reviewed through histopathological studies of the digestive organs of mice (stomach, intestine, and pancreatic exocrine glands)
PCS-10 The Features of Seminiferous Tubule Cells in Rat Testicular Dysfunction Induce by Secretome Based On Cytoskeletal Protein Profile
Secretome is a factor found in the stem cell culture medium. This factor may repair the tissues of the organs that were damaged by various degenerative disorders1. A previous study has reported that secretome derived from the fetal human umbilical cord mesenchymal stem cell (HUC-MSC) may be an effective regenerative agent for β-cell pancreatic regeneration in Type 1 diabetes mellitus and for skin regeneration in incisional and burn wound healing.The administration of cisplatin as a chemotherapeutic agent is limited because it causes side effects, such as reproductive toxicity and progresses to testicular dysfunction2. As a degenerative disorder, testicular dysfunction is characterized by failure in the synthesis of reproductive hormones and spermatogenesis. Cisplatin-induced testicular cell damage would promote vimentin and cytokeratin localization in the spermatogenic, Sertoli, and Leydig cells.Studies on the use of secretome in promoting the recovery of various degenerative disorders and its effects on the spermatogenesis of rats with cisplatin-induced testicular dysfunction have not been conducted. The aim of this stud was to investigate the effect of secretome derived from HUC-MSC on cisplatin-induced testicular dysfunction in rats
AEVI-16 Investigasi Wabah Anthraks di Kabupaten Pinrang Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2016
Anthraks adalah penyakit menular yang biasanya bersifat akut atau perakut pada berbagai jenis ternak (pemamah biak, kuda, babi dan sebagainya), yang disertai dengan demam tinggi dan disebabkan oleh Bacillus anthracis. Biasanya ditandai dengan perubahan-perubahan jaringan bersifat septisemia, timbulnya infiltrasi serohemoragi pada jaringan subkutan dan subserosa, disertai dengan pembengkakan akut limpa (Tarumingkeng 2014).Insidensi kasus di provinsi Sulawesi Selatan sebelum tahun 2015 hanya ada 5 Kabupaten/kota yang endemis Anthrax diantaranya Kota Makassar,Kabupaten Maros,Gowa,Takalar dan Bone, dengan hewan rentan yang tertular : sapi,kerbau,kuda dan babi dan kesemuanya menimbulkan kematian pada ternak dan penularan ke manusia dalam bentuk anthrax kulit. Kabupaten Sidrap menjadi tujuan berikutnya setelah anthrax mewabah di Kabupaten Bone tahun 2014 dengan adanya kasus di awal tahun 2015 dan akhirnya dengan lalu lintas ternak yang tidak terkontrol kabupaten Pinrang berpeluang menjadi destinasi berikutnya wabah antraks.Tujuan kegiatan adalah melakukan penyidikan kejadian kematian sapi di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang, melakukan pengumpulan data epidemiologis,penanganan ternak sakit, pengambilan spesimen di lapangan, dan untuk mengetahui penyebab kematian Sapi di Kabupaten Pinran
AEVI-18 Investigasi Outbreak Penyakit Jembrana di Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyu Asin
Penyakit Jembrana pada sapi Bali disebabkan oleh virus penyakit Jembrana yang termasuk dalam kelompok retrovirus berdasarkan pada aktivitas reverse transcriptase. Virus Jembrana merupakan virus RNA dengan utas tunggal, berbentuk icosahe-dral dengan panjang basa 7732 pasang basa (pb) dan bersifat patogen hanya pada sapi Bali. Gejala umum ternak yang terserang penyakit Jembrana adalah demam tinggi, lymphadenopathy, lymphopenia, keringat darah dan mucus yang berlebihan pada mulut dan hidung. Kematian ternak akibat JDV terjadi pada 1 atau 2 minggu setelah infeksi (Indriawati dan Ridwan, 2013).Pada tanggal 22-25 Mei 2017, telah dilakukan kegiatan investigasi kematian sapi bali suspect Jembrana di Kecamatan Bayung lencir Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan dilakukan di desa Pale Gading, Simpang Mendis,Kali Weru,Sindang Marga ,Desa Banjar Jaya dan Desa Sidomulyo. Kegiatan ini dilakukan atas permohonan investigasi oleh Dinas Pertanian dan Peternakan kabupaten Musi Banyuasin yang kemudian ditindaklanjuti oleh Balai veteriner Lampung dengan mengeluarkan surat tugas Kepala Balai Veteriner Lampung No. 19009/TU.040/F5.C/05.2017 tanggal 19 Mei 2017, dalam rangka pelaksanaan kegiatan Investigasi Penyakit Hewan Menular Sapi di Kabupaten Musi Banyuasin. Investigasi ini bertujuan untuk mengumpulkan data epidemiologi dan pengambilan spesimen dalam peneguhan diagnosa di desa Pale Gading, Simpang Mendis, Kali Weru,Sindang Marga, Desa Banjar Jaya dan Desa Sidomulyo Kecamatan Bayung Lencir Kabupaten Musi Banyuasin Propinsi Sumatera SelatanTujuan kegiatan ini melakukan penelusuran kasus kematian, mengetahui faktor penyebab, upaya komunikasi resiko dan rekomendasi langkah pengendalia
AEVI-19 Investigasi Outbreak Koliseptisemia Pedet Pada Peternakan” X” di Kota Metro, Lampung Tahun 2018
Kolibasillosis merupakan infeksi oleh Escherichia coli penyebab utama kematian pada pedet (Sharma et. al., 2006). Escherichia coli strain patogen merupakan penyebab diare parah, dehidrasi, demam, lemah, nyeri dan depresi yang menyebabkan kerugian ekonomi pada pedet sapi perah dan sapi potong (Quinn et. al., 2011). Kasus kematian pedet sering diikuti bakterimia atau koliseptikemia, Escherichia coli masuk ke peredaran darah menuju ke seluruh organ tubuh (Hirsh et. al., 2004).Tujuan dari investigasi outbreak ini adalah mengidentifikasi agen infeksius penyebab, faktor faktor yang memicu outbreak kejadian diare pada pedet di peternakan tersebut serta penanganan outbreak
AEVI-28 Investigasi Outbreak Keguguran di Desa Lamtamot Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar Tahun 2018
Keguguran atau Abortus adalah pengeluaran fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang belum sanggup hidup. Sedangkan kelahiran prematur adalah pengeluaran fetus sebelum masa akhir kebuntingan dengan fetus yang sanggup hidup sendiri diluar tubuh induk (Toelihere,1985).Abortus dapat terjadi pada berbagai umur kebuntingan dari 42 hari sampai saat akhir kebuntingan. Abortus dapat terjadi bila kematian fetus di dalam uterus disertai dengan adanya kontraksi dinding uterus sebagai akibat kerja secara bersama-sama dari hormone estrogen, oksitosin dan prostaglandin F2α pada waktu terjadinya kematian fetus itu. Oleh karena itu fetus yang mati terdorong keluar dari saluran alat kelamin (hardjopranjoto, 1995)Terjadinya keguguran setelah kebuntingan 5 bulan merupakan petunjuk untuk menentukan penyakit. Seekor sapi betina setelah keguguran itu masih bisa bunting lagi tetapi tingkat kelahiran akan rendah dan tidak teratur (Blakely & Bade, 1991). Sedangkan menurut Akoso (1990) terjadinya keguguran karena penyakit ini biasanya pada usia kebuntingan 7 bulan.Tujuan dari investigasi ini adalah untuk mengetahui kejadian keguguran pada ternak sapi, mengumpulkan data epidemiologis. melakukan analisis data, mengetahui sumber penularan penyakit dan melakukan tindakan pengendalian penyakit
PF-3 Prevalence and Risk Factors of Jembrana Disease, Bengkalis District Riau Province
Jembrana disease (JD) is contagious viral disesase in Bali cattle, caused by Retrovirus from member of Lentivirus group called by Jembrana disease virus (JDV). Jembrana disease outbreak in Bengkalis district first occured 2013 and until now is endemic. This purpose of study is to determine the prevalence of JD and to identify a risk factor associated with JD in Bengkalis district