Prosiding Seminar Biologi
Not a member yet
365 research outputs found
Sort by
KEMAMPUAN SENYAWA LUTEIN DARI DAUN BAYAM (Amaranthus sp) UNTUK MENETRALISIR OKSIDAN T-BHP DALAM SEL DARAH
ABSTRAK Salah satu sumber senyawa lutein berasal dari sayuran hijau seperti bayam. Kandungan lutein pada daun bayam dilaporkan sekitar 6,6 mg per 100 gram berat basah. Senyawa lutein merupakan pigmen yang tergolong xantofil bersifat larut dalam lemak. Fungsi utama lutein yaitu merupakan karotenoid yang bertanggung jawab untuk kesehatan makular retina mata. Manfaat lainnya sebagai antioksidan, antikolesterol, antitumor dan anti penuaan dini. Penelitian ini menguji potensi antioksidan lutein yang diekstraksi dari dua jenis daun bayam yaitu bayam hijau dan bayam merah untuk menetralisir kerja oksidan tert butil hidroksiperoksida (t-BHP) pada sel darah domba. Lutein diuji pada konsentrasi: 4, 6, 8 dan 10 mg/ml pada sel darah merah yang teroksidasi t-BHP 5mM. Perlakuan dibandingkan terhadap antioksidan Vitamin E 4mg/ml sebagai kontrol positif. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan lutein dari bayam pada konsentrasi 6mg/ml dapat menurunkan kadar malondealdehid (MDA) paling tinggi sebesar 13,8 nmol/ml (bayam hijau) dan 13,44 nmol/ml (bayam merah). Aktifitas enzim superoksid dismutase (SOD) pada darah yang teroksidasi t-BHP mengalami peningkatan terbesar pada pemberian lutein bayam hijau konsentrasi 8mg/ml yaitu 1,7U/ml dan bayam merah 6mg/ml sebesar 1,74U/ml, sedangkan peningkatan aktifitas enzim katalase tertinggi dicapai pada perlakuan konsentrasi lutein 10mg/ml sebesar 264,43U/ml (bayam hijau) dan 213,275U/ml (bayam merah). Kata Kunci: Lutein, daun Bayam, t-BHP, MDA, SOD, katalas
PENGARUH PEMBELAJARAN INOVATIF MODEL TTW (THINK TALK WRITE) PADA BAHASAN PROTISTA TERHADAP HASIL BELAJAR KELAS X SEMESTER GANJIL DI SMA NEGERI 6 KEDIRI TAHUN PELAJARAN 2011-2012
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik kelas XSMAN 6 Kediri melalui model pembelajaran inovatif model TTW (Think Talk Write). Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang terdiri atas dua kelas yaitu kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di SMAN 6 Kediri pada bulan Nopember – Desember. Penelitian ini dilakukan pada peserta didik kelas X SMA yang berjumlah 40 peserta didik. Untuk prosedur kerja penelitian ini antara lain: Melakukan randomisasi dua kelas yang akan dijadikan sampel atau sasaran penelitian, Menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan menggunakan tehnik sampling yaitu: mengambil 2 (dua) kelas dari 9 (sembilan) kelas. Tehnik sampling dengan cara diundi dan diperoleh dua kelas sebagai sampling yaitu X4 dan X5 jumlah 40 peserta didik, Menyusun RPP, Menerapkan Pembelajaran Konvensional dengan tanya jawab pada kelas X4 sebagai kelas kontrol, Menerapkan Pembelajaran Inovatif Model TTW (Think Talk Write) pada kelas X5 sebagai kelas eksperimen. Metode pengumpulan data menggunakan hasil dari ulangan harian. Ketuntasan pada masing-masing peserta didik disesuaikan dengan standar ketuntasan minimum (SKM) di sekolah yaitu 76. Hasil penelitian menunjukkan, dari analisis menggunakan jasa komputerisasi melalui program SPSS versi 17, diketahui harga t-hitung sebesar 2,883, dari hasil perbandingan terhadap harga kritik t hitung dengan program SPSS 17 pada taraf signifikansi 95% (atau tingkat kesalahan 0,05) diketahui jauh besar nilainya pada perlakuan dengan Model TTW (Think Talk Write) yaitu 1,178 dibandingkan dengan pembelajaran konvensional yaitu sebesar 0,091, pada peserta didik kelas eksperimen dengan ketuntasan klasikal sebesar 94,25% dan peserta didik kelas kontrol dengan ketuntasan klasikal sebesar 89,98%. Dan penelitian menunjukkan, pada kelas eksperimen perilaku berkarakter sangat baik di bandingkan dengan kelas kontrol sangat berbeda dilihat dari diagram Fomat pengamatan Perilaku Berkarakter meliputi Perhatian, Jujur, Teliti, Tanggung jawab, kerjasama, Menghargai Pendapat. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inovatif Model TTW (Think Talk Write) pokok bahasan protista dapat meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik kelas X SMA Negeri 6 Kediri tahun pelajaran 2011-2012. Kata Kunci: Pembelajaran Inovatif, TTW(Think Talk Write), Hasil Belajar
PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN PENDEKATAN C T L (Contextual Teaching and Learning) MELALUI METODE DEMONSTRASI
ABSTRAK Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : 1). Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran kontekstual (CTL) ? 2). Bagaimanakah langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan CTL ? 3). Bagaimanakah bentuk pembelajaran Fisika dengan dengan pendekatan CTL melalui metode demonstrasi ?Perubahan kurikulum yang terjadi saat ini menuntut dalam pembelajaran Fisika yang semula berbasis TCL (Teacher Centered Learning) diarahkan pada pembelajaran yang berbasis SCL (Student Centered Learning) Pada pola pembelajaran tersebut guru berperan sebagai fasilitator, sehingga siswa selama proses pembelajaran dengan segala fasilitas yang ada didorong untuk dapat menemukan konsep yang harus dia pelajari. Pendekatan C T L merupakan salah satu model alternatif yang diharapkan mampu mengakomodasi berbagai harapan pencapaian dalam pembelajaran Fisika tersebut.Berdasarkan dari pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :Pembelajaran kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif.Pembelajaran dengan pendekatan CTL mengacu pada tujuh komponen utama yaitu constructivism, discovery, questioning , jar ( learning community, modelling, reflection dan authentic assesment. Sedangkan langkah-langkah pembelajarannya meliputi kegiatan-kegiatan : relating, experiencing, applying, cooperating dan transferring.Metode demonstrasi diartikan sebagai cara penyajian pelajaran dengan mempertunjukan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari menurut topik bahasan yang diajarkan.Bentuk dan langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan CTL melalui metode demonstrasi dapat diuraikan dalam Satuan Pelajaran (SP) dan Rancangan Program Pembelajaran (RPP). Kata kunci : pembelajaran Fisika, CTL, metode demonstrasi
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS KOAGULAN TAWAS DAN BIJI KELOR TERHADAP KADAR BOD PADA AIR LIMBAH JASA CUCI PAKAIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektifitas dua jenis koagulan tawas dan biji kelor terhadap limbah usaha jasa cuci pakaian dalam menjernihkan air serta untuk mengetahui korelasi efektivitas koagulan dengan kandungan BOD air. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan perlakuan yaitu tawas dan biji kelor sejumlah 0,05 g; 0,1 g; 0,15 g. Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas tertinggi dan terendah pada tawas masing-masing adalah 88% dan 58,6% pada konsentrasi 0,15 g dan 0,05 g, sedangkan pada kelor efektivitas tertinggi dan terendah adalah 82,9% dan 77,9 % pada konsentrasi 0,15 g dan 0,05 g. Semakin efektif kerja koagulan yang digunakan maka semakin rendah BOD yang terdapat pada air limbah jasa cuci pakaian, hal ini ditunjukkan dengan nilai korelasi endapan kelor = 0,871. Kata kunci : Biji Kelor, Tawas, BOD, Kejernihan, Limbah Jasa Cuci Pakaia
Artikel Kajian PERANAN DAN POLA AKUMULASI PROLINE TANAMAN PADA ADAPTASI CEKAMAN KEKERINGAN
ABSTRAK Para ahli klimatologi memperkirakan dampak pemanasan global akan menyebabkan terjadinya periode kekeringan yang lama. Periode kekeringan sering berasosiasi dengan peristiwa ENSO (El Nino Southern Oscillation). Dibanding dekade sebelumnya, peristiwa ENSO diramalkan akan lebih sering terjadi di masa datang. Saat musim kering panjang dan berasosiasi dengan peristiwa ENSO sering diiringi oleh penurunan pertumbuhan bahkan kematian tanaman. Tanaman yang mengalami cekaman kekeringan akan berusaha untuk melakukan perubahan-perubahan fisiologi sebagai bentuk adaptasinya. Salah satu bentuk adaptasi tersebut adalah kemampuan tanaman untuk mempertahankan tekanan osmotik dengan mengakumulasi senyawa osmolit sel sebagai respon terhadap perubahan potensial air dari lingkungan sel. Sebagai konsekuensi dari akumulasi ini, potensial osmotik sel lebih rendah dan cenderung untuk menjaga tekanan turgor. Proline bebas sering terakumulasi selama tanaman mengalami kekeringan yang disebabkan oleh aktivasi biosintesa dan inaktivasi degradasi proline. Seringkali peningkatan jumlah proline dianggap merupakan indikasi toleransi terhadap kekeringan. Namun demikian masih terjadi kontrovesi tentang fungsi proteksi dari akumulasi proline karena beberapa kasus menunjukkan jika terjadi over produksi proline justru dapat berakibat buruk saat tanaman menghadapi kondisi cekaman kekeringan. Tulisan ini bertujuan mengkaji peranan dan pola akumulasi proline pada tanaman dalam menghadapi cekaman kekeringan. Kata Kunci : Proline, pola akumulasi prolin, cekaman kekeringa
PENGARUH MODEL LEARNING CYCLE 7E TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model Learning Cycle 7E terhadap motivasi belajar biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Banyudono tahun 2011/2012. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi experiment research). Desain penelitian adalah Posttest Only Control Design dengan menerapkan model Learning Cycle 7E pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran konvensional pada kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Banyudono tahun pelajaran 2011/2012. Teknik pengambilan sampel dengan Cluster Random Sampling. Teknik pengukuran data motivasi belajar siswa menggunakan angket. Teknik analisis data menggunakan uji-t. Berdasarkan hasil uji hipotesis diperoleh nilai sig. (α) = 0,039. Oleh karena nilai sig. (α) < 0,05 dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh secara signifikan penerapan model Learning Cycle 7E terhadap motivasi belajar siswa pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Banyudono tahun 2011/2012. Kata Kunci: Learning Cycle 7E, motivasi belajar sisw
SELEKSI ISOLAT BAKTERI DAN OPTIMASI KONSENTRASI AWAL SUBSTRAT GLISEROL DALAM FERMENTASI ETANOL
ABSTRAK Tingginya jumlah gliserol sebagai produk dari berbagai industri mensyaratkan adanya upaya pengolahan gliserol menjadi produk lain yang bernilai ekonomis. Pada penelitian ini dilakukan seleksi kemampuan beberapa isolat bakteri dalam mengkonversi gliserol menjadi etanol.Isolat yang diuji berupa isolat bakteri dari rumen sapi dan isolat dari koleksi kultur Laboratorium Mikrobiologi SITH ITB yaitu, Enterobacter aerogenes, Bacillus licheniformis, B. subtilis, B. circulans, dan B. cereus. Hasil penapisan menunjukkan terbentuknya etanol pada medium basal yang mengandung 0,5% (b/v) gliserol yang diinokulasi dengan E. aerogenes, B. licheniformis, dan B. subtilis, sedangkanisolat dari isi rumen sapi menunjukkan hasil yang negatif. Pada kondisi anaerob E. aerogenes menghasilkan kadar etanol tertinggi sebesar 0,033 g/L dengan laju pembentukan etanol rata-rata sebesar 0,006 g/L/hari dan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 0,0741/hari. Selanjutnya, kadar etanol tertinggi sebesar 0,036 g/L dicapai pada variasi kadar awal gliserol 1% (b/v) dengan laju pembentukan etanol rata-rata sebesar 0,008 g/L/hari dan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 0,111/hari. Pada kondisi optimum (berdasarkan hasil-hasil percobaan sebelumnya) diperoleh etanol dengan kadar tertinggi 0,04 g/L yang setelah dikonfirmasi dengan analisis GC kadar etanol adalah sebesar 0,791 g/L. Kata Kunci: konversi, gliserol, etano
APLIKASI PEMBELAJARAN EKTRAKURIKULER KIR BERWAWASAN SETS UNTUK MEMBANGUN TRADISI ILMIAH SISWA DI SMA NEGERI 1 DEPOK
Dalam rangka menghadapi persaingan ketat di era globalisasi yang serba cepat dan mudahnya penyebaran informasi, perlun adanya upaya menciptakan peradaban yang ilmiah dalam kehidupan di masyarakat. Budaya penelitian memang telah harus dikenalkan kepada para siswa sejak dini. Memupuk budaya penelitian pada kalangan siswa adalah tidak mudah, sehingga perlu strategi khusus untuk membangun tradisi ilmiah siswa. Penelitian berjudul Aplikasi Pembelajaran Ekstrakurikuler KIR Berwawasan SETS Untuk Membangun Tradisi Ilmiah Siswa Di SMA Negeri 1 Depok, bertujuan untuk mengetahui efektivitas aplikasi pembelajaran ekstrakurikuler KIR berwawasan SETS sehingga mampu membangun tradisi ilmiah siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui studi kasus menggunakan kuisioner dengan responden dari warga SMA Negeri 1 Depok yang diambil teknik pengambilan sampel proportional random sampling yang kemudian dianalisis dengan statistik deskriprif. Data yang diperoleh memberikan gambaran bahwa aplikasi wawasan SETS dalam pembelajaran KIR efektif untuk menumbuhkan semangat riset pada kalangan siswa sehingga akan mampu membangun tradisi ilmiah siswa Kata kunci : KIR, SETS, ilmia
PENERAPAN "EDUIKASI NET"' DALAM PEMBELAJARAN MATAKULIAH KEANEKARAGAMAN DAN KLASIFIKASI HEWAN VERTEBRATA (KKH II ) DI PRODI PBIOLOGI FKIP UNS
ABSTRAKMenekankan pada proses pembelajaran sangat penting menjadi perhatian kita sebagai salah satu penyebabmerosotnya kualitas pendidikan, oleh karena itu kita sebagai pendidik perlu melakukan upaya dan menyikapinya. Data empirik dalam pembelajaran KKH II menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran dan konseptualisasi pemahaman materi dikatakan belum optimal termasuk dalam penyampaian materi yang rnasih konvensional sehingga mahasiswa kurang responsive dalam kondisipembelajaran.Berpijak pada realita dilapangan maka perlu dilakukan suatu model penyampaian pembelajaran matakuliah KKH II yang inovatif yaitu Penerapan " Edukasi Net " yang bertujuan untuk (1) meningkatkan kualitas proses pembelajaran matakuliah KKH II dan (2) meningkatkan kebermaknaan pemahaman rnateri matakuliah KKH II.Sebagai subyek penelitian adalah mahasiswa semester IV peserta matakuliah KKH II. Data diperoleh dan dikumpulkan melalui berbagai sumber yaitu wawancara dengan mahasiswa dan dosen, observasi kegiatan pembelajaran, angket dan dokumen. Validitas data dilakukan dengan dengan teknik trianggulasi sumber dan analisis dilakukan secara kualitatif. Hasil analisis terdapat rerata dari angket informasi balikan mahasiswa dari penerapan Edukasi Net menunjukkan kualitas pembelajaran untuk pernyataan sangat tidak memuaskan 0,95 %, tidak memuaskan 6,85% cukup mernuaskan 26,47 %, memuaskan 52,19 % dan sangat memuaskan 13,65 %. Kemudian terdapat rerata peningkatan konseptualisasi pemahaman materi KKH II dari 59,99 % nrenjadi 95,90 %.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Terdapat peningkatan kualitas proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Edukasi Net dalam matakuliah KKH II, (2) Terdapat peningkatan konseptualisasi pemahaman materi dengan menggunakan model pembelajaran Edukasi Net dalam matakuliah KKH IIKata kunci : Edukasi Net, konseptualisas
ANALISIS SUBSTANSI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL SAINS DI BUKU PELAJARAN BIOLOGI UNTUK SMA
ABSTRAK Pendidikan multukural sains dalam pembelajaran biologi menekankan pada diangkatnya pengetahuan indigenous dalam pembelajaran biologi. Dengan asumsi bahwa peserta didik telah memiliki pengetahuan biologi sebelum menerima pembelajaran sains di sekolah, yang diperolehnya dari keluarga, etnik, dan lingkungan sekitarnya, maka proses belajar biologi di sekolah seharusnya dikembangkan untuk menggali dan meningkatkan pemahaman siswa terhadap pengetahuan indigenous tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis substansi dan juga perubahan dan perkembangan substansi terkait dengan pendidikan multikultural sains dalam buku-buku pelajaran Biologi SMA yang dipakai pada era 50an, 60an, 70an, 80an, 90an, dan 2000an. Metode yang dipergunakan adalah content analysis yang dikembangkan oleh Margareth H. Delgato (2009) yang dimodifikasi. Analisa konten dilakukan dalam tiga tahapan yaitu, 1) kompilasi terhadap kata, frase, kalimat, dan paragraf yang menyebutkan indigenous knowledge vocabulary yang dipakai oleh Degato dan telah dimodifikasi dengan penambahan kosa kata terkait multikulturisme di Indonesia; 2) penyusunan pernyataan arkeologi, yaitu pernyataan yang menunujukkan aktivitas, tradisi, dan cara pandang indigenous; 3) analisa kuantitatif frekuensi kemunculan muatan indigenous dalam sebuah buku. Hasil analisa menunjukkan bahwa buku-buku pelajaran Biologi untuk SMA pada era 50-an dan 60-an memuat lebih banyak unsur pengetahuan indigenous dibandingkan buku-buku pelajaran yang dipergunakan pada era 70an, 80an, 90an, dan 2000an. Pengetahuan indigenous ditemukan dengan frekuensi tinggi pada topik hewan untuk buku tahun 50an, tanaman (tahun 60-an), dan topik keragaman hayati dan ekologi (buku tahun 2000an). Keywords: multikultural sains, indigenous knowledge, pendidikan biologi, buku ajar