Prosiding Seminar Biologi
Not a member yet
365 research outputs found
Sort by
STUDI BIODIVERSITAS TANAMAN POHON DI 3 RESORT POLISI HUTAN (RPH) DI BAWAH KESATUAN PEMANGKU HUTAN (KPH) TELAWA MENGGUNAKAN METODE POINT CENTER QUARTER (PCQ)
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis tumbuhan penutup tanah yang terdapat di KPH Telawa dan mengetahui keanekaragaman dan kemelimpahan (diversitas) tumbuhan penutup tanah di KPH Telawa. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa lokasi yang ada di KPH Telawa dalam hal ini digunakan 3 Resort Polisi Hutan (RPH) yaitu RPH Juranggandul, RPH Karengan, dan RPH Rejosari.. Pada tiap RPH ditentukan daerah yang termasuk daerah pertanian (crop area), daerah bebas (free area), dan daerah perumahan (building area). Daerah yang dapat dipakai adalah daerah bebas (free area). Pada tiap RPH dihitung luas total masing-masing RPH. Luas masing-masing RPH yaitu untuk RPH Juranggandul 4062000 m2, RPH Karengan 3311000 m2, dan RPH Rejosari 3817000 m2. Perhitungan yang dilakukan dalam penelitian ini ada 2 yaitu indeks kekayaan dan indeks keragaman (diversitas). Indeks kekayaan yang dihitung adalah indeks Margalef sedangkan indeks diversitas yang dihitung adalah indeks Shanon dan indeks Simpson. Berdasarkan hasil perhitungan dan pengamatan pada semua titik sampel pada ketiga RPH, ditemukan 20 spesies di RPH Juranggandul, 25 spesies di RPH Karengan, dan 14 spesies di RPH Rejosari. Indeks Kekayaan Pada RPH Juranggandul sebesar 3,22. Sedangkan pada RPH Karengan adalah 4,27 dan RPH Rejosari sebesar 2,41. Berdasarkan perhitungan indeks keragaman (indeks diversitas) diperoleh hasil bahwa indeks diversitas pohon di RPH Juranggandul menurut jika dihitung menggunakan formulasi Shannon (English et al) adalah 2,18. rph Karengan adalah 2,05, dan RPH Rejosari sebesar1,835. Berdasarkan kriteria keanekaragaman tumbuhan pohon modifikasi dari Lee et al (1978) dalam Soegianto (1994) keanekaragaman tumbuhan penutup tanah di RPH Juranggandul masuk dalam kategori keanekaragaman tinggi. Perhitungan indeks dominansi Simpson menunjukkan bahwa indeks dominansi tumbuhan penutup tanah di RPH Juranggandul adalah 0,15. Di Karengan 1,22, dan di Rejosari 0,19. Berdasarkan nilai indek keragaman dan indeks dominasi maka diperoleh kesimpulan bahwa diversitas tanaman pada RPH Jurunggandul, RPH Karengan, maupun RPH Rejosari adalah tinggi. Tumbuhan yang dominan pada vegetasi di RPH Jurunggandul dan RPH Rejosari hanya 1 jenis, sedangkan tumbuhan yang mendominasi vegetsi di RPH Karenbgan ada beberapa jenis. Kata kunci: Diversitas, Tumbuhan Pohon, Free Are
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN UJI TOKSISITAS HAYATI PIGMEN FIKOBILIPROTEIN DARI EKSTRAK Spirulina platensis
ABSTRAK Pigmen fikobiliprotein diketahui dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sebagai pewarna alami untuk makanan, kosmetik dan obat-obatan. Salah satu mikroalga penghasil pigmen fikobiliprotein adalah Spirulina platensis. Berdasarkan literatur, diketahui bahwa fikobiliprotein dapat meredam radikal bebas dari 2,2’-azobis(2-amidinopropane)dihydroxychloride (AAPH) dan mencegah inisiasi reaksi radikal berantai. Pigmen fikobiliprotein diekstraksi dari biomassa Spirulina platensis dengan menggunakan larutan kalsium klorida 1%. Ekstrak yang diperoleh diuji aktivitas antioksidan secara peredaman radikal DPPH dan uji aktivitas biologi secara BSLT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada efek peredaman radikal bebas dari pigmen fikobiliprotein dan ada aktivitas biologi dengan menghitung tingkat kematian larva Artemia salina Leach. Hasil tersebut dapat dilihat dari nilai IC50 sebesar 96,57µg/ml dan nilai LC50 sebesar 174,66µg/ml. Kata Kunci: Antioksidan, toksisitas hayati, fikobiliprotein, antioksidan, Spirulina platensis
KEPADATAN TULANG METACARPAL SIMPANSE USIA 0 SAMPAI 44 TAHUN
ABSTRAK Sifat fisik tulang merupakan indikator yang baik untuk studi pertumbuhan dan penuaan. Tulang adalah jaringan dinamis karena adanya proses modeling dan remodeling. Tulang berubah tidak hanya pada ukuran dan bentuknya, tetapi juga kepadatannya yang disebabkan karena perubahan kandungan mineralnya. Osteoporosis atau kekeroposan tulang merupakan salah satu tanda umum penuaaan manusia. Osteoporosis di kalangan anthropoid masih belum diketahui. Dalam penelitian ini kami melakukan pengukuran kepadatan korteks tulang metacarpal simpanse (Pan troglodytes) usia 0 sampai 44 tahun berdasarkan radiografi. Pengukuran dilakukan dengan metode mikro-densitometri pada 68 simpanse betina dan 49 simpanse jantan. Kami menemukan bahwa kepadatan tulang meningkat pesat sampai usia sekitar 10 tahun. Pada simpanse jantan kepadatan tulangnya terus meningkat sampai usia 44 tahun, sedangkan pada simpanse betina kepadatan tulangnya menurun mulai usia 20 tahun. Penurunan kepadatan tulang simpanse betina dapat disebabkan karena kalsium tulang digunakan pada masa kehamilan dan menyusui. Namun demikian, simpanse betina diketahui tidak mengalami menopause. Jadi tidak seperti wanita, kejadian osteoporosis pada simpanse betina bukanlah akibat dari menopause. Kemungkinan hal ini berkaitan dengan berkurangnya kadar estrogen pada simpanse lanjut usia. Kata Kunci: osteoporosis, kepadatan tulang, metakarpal, simpans
PENINGKATAN KUALITAS KEMANDIRIAN DAN KERJASAMA MAHASISWA MELALUI LESSON STUDY PESERTA PERKULIAHAN EKOLOGI TUMBUHAN DI PROGRAM STUDI P. BIOLOGI-P.MIPA–FKIP-UNS
Abstrak Kegiatan lesson study pada perkuliahan Ekologi Tumbuhan di semester 6 tahun ajaran 2009-20010, merupakan kegiatan bertujuan peningkatan profesionalisme pengajar yang dapat berdampak pada peningkatan kerjasama dan kemandirian dalam belajar mahasiswa. Perkuliahan mengikuti kaidah lesson study yaitu: Plan, Do and See yang dilakukan sebanyak 4 kali. Plan (rencana) mengajarkan materi bentuk pertumbuhan, pertumbuhan populasi, interaksi spesies dan teknik sampling dalam komunitas tumbuhan. Do merupakan pelaksanan 4 materi yang telah direncanakan, yaitu 40% di kelas dan 60% di lapangan. See, mengamati proses pembelajaran serta mempberikan umpan balik terhadap pencapaian tujuan yaitu kerjasama dan kemandirian belajar.. Hasil kegiatan menunjukan pencapaian tujuan kerjasama pada kegiatan lesson study pertama 10 % dari jumlah siswa dan meningkat 40 % di kedua serta 60 % di kegitan 3 dan yang terahkir sebesar 80%. Sedangkan kemandirian belajar secara berturut turut dari kegiatan lesson pertama sampai ke eempat mengalami peningkatan seiring dengan besarnya kerjasama, meskipun sangat bervariasi antar mahasiswa peserta. Key word: kerjasama, kemandirian belajar, lesson stud
SINTESIS KHITOSAN BERAT MOLEKUL RENDAH DARI LIMBAH UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis) MELALUI PROSES HIDROLISIS ENZIMATIS DENGAN PAPAIN DAN UJI AKTIVITAS TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis.
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mensintesis khitosan dan khitosan berat molekul rendah dari limbah udang putih (Penaeus merguiensis) 2) mengkarakterisasi khitosan dan khitosan berat molekul rendah, 3) menguji aktivitas khitosan berat molekul rendah terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Sintesis khitosan dilakukan melalui proses deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi. Selanjutnya dilakukan Karakterisasi terhadap khitosan yang meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, berat molekul, daya ikat air, daya ikat lemak, kelarutan, viskositas, derajat polimerisasi, derajat deasetilasi, dan struktur menngunakan FTIR. Sintesis khitosan berat molekul rendah dilakukan melalui proses hidrolisis secara enzimatis menggunakan enzim papain. Karakterisasi khitosan berat molekul rendah dilakukan dengan menghitung rendemen, berat molekul, derajat polimerisasi, derajat deasetilasi, dan struktur mennggunakan FTIR. Uji aktivitas antibakteri khitosan berat molekul rendah dilakukan terhadap bakteri S. epidermidis dilakukan menggunakan metode difusi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Khitosan dapat disintesis dari limbah udang putih melalui proses deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi. 2) Karakteristik fisik khitosan yang dihasilkan adalah rendemen 52,82%, kadar air (2,3±0,1)%, kadar abu 4,038%, berat molekul 2.679,57 g/mol, daya ikat air (590±21,3)%, daya ikat minyak (569±4,29)%, kelarutan (28±3,2)%, viskositas (1,33 ± 0,04) cp, derajat polimerisasi 16,627,dan derajat deasetilasi 82,72% dan karakteristik fisik khitosan berat molekul rendah. 3) Khitosan berat molekul rendah dapat disintesis dengan cara hidrolisis enzimatis menggunakan enzim papain. 4) Karakteristik khitosan berat molekul rendah meliputi rendemen 60%, berat molekul 2.401,80 g/mol, derajat polimerisasi 14,903, dan derajat deasetilasi 83,71%. 5) Dari aspek struktur kimia, produk khitosan, Khitosan berat molekul rendah dapat dibuktikan dari analisis FTIR. 6) Uji aktivitas antibakteri khitosan berat molekul rendah terhadap bakteri S. epidermidis pada konsentrasi 0,4% memiliki daya hambat 8,71 mm, konsentrasi 0,6% memiliki daya hambat 10,38 mm dan konsentrasi 0,8% memiliki daya hambat 15,91 mm. Kata Kunci: Limbah udang, khitosan, berat molekul rendah, hidrolisis, papain, antibakter
PEMBELAJARAN BIOLOGI MODEL PBL MENGGUNAKAN EKSPERIMEN LABORATORIUM DAN LAPANGAN DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERFIKIR ANALISIS DAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: Pengaruh penggunaan model PBL melalui metode Eksperimen di Laboratorium dan Lapangan, Kemampuan Menganalisis, Sikap Peduli Lingkungan, dan interaksinya terhadap prestasi belajar ranah kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dan dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 211/ 2012. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMA N 9 Bandar Lampung. Sampel diperoleh dengan teknik Cluster Random Sampling yang terdiri dari dua kelas, X 8 dan X 9. Kelas X 8 diberi pembelajaran dengan metode Eksperimen Lapangan dan kelas X 9 diberi pembelajaran dengan metode Eksperimen Laboratorium. Data dikumpulkan dengan metode tes, observasi dan angket terhadap siswa. Hipotesis diuji menggunakan anova . Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan: 1) Tidak ada pengaruh penggunaan metode eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan terhadap prestasi belajar kognitif dan psikomotorik siswa sedangkan prestasi belajar afektif ada, 2) Ada pengaruh kemampuan berfikir analisis terhadap prestasi belajar kognitif siswa sedangkan pada prestasi belajar afektif dan psikomotorik tidak ada, 3) Ada pengaruh sikap peduli lingkungan terhadap prestasi belajar kognitif dan psikomotorik siswa, sedangkan untuk afektif tidak ada, 4) Ada interaksi antara metode dengan kemampuan analisis terhadap prestasi belajar kognitif, afektif dan psikomotorik siswa, 5) Ada interaksi antara metode dan sikap peduli lingkungan terhadap prestasi belajar kognitif, afektif dan psikomotorik siswa, 6) Ada interaksi antara kemampuan berfikir analisis dengan sikap peduli lingkungan terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif sedangkan psikomotorik tidak ada, 7) ada interaksi antara metode, kemampuan analisis, dengan sikap peduli lingkungan terhadap prestasi belajar kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Kata Kunci: Model Problem Based Learning, Eksperimen Laboratorium, Eksperimen Lapangan, Kemampuan Berfikir Analisis, Sikap Peduli Lingkunga
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 2 JATIROTO KABUPATEN WONOGIRI TAHUN PELAJARAN 2008/2009
ABSTRAK Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di SMP Negeri 2 Jatiroto dengan mengambil subjek penelitian siswa kelas VII A Tahun Pelajaran 2008/2009 yang jumlahnya 40 siswa terdiri dari 20 siswa laki - laki dan 20 siswa perempuan. Desain penelitian dengan teknik analisis antar kasus (crossite analysis) dengan model analisis interaktif antar siklus. Kondisi awal yang ada pada siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Jatiroto Tahun Pelajaran 2008/2009 dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Kondisi awal Penelitian didapatkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan materi pengelolaan lingkungan hanya 20 siswa dari 40 siswa yang mencapai tingkat penguasaan materi di atas KKM (50%), sedangkan 20 siswa (50%) hasil belajarnya pada materi pengelolaan lingkungan di bawah KKM, berarti materi pelajaran hanya dapat terserap siswa 50%, sedangkan 50% siswa belum tuntas maka guru perlu mengadakan perbaikan rnodel pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan supervisor dan hasil evaluasi belajar pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siklus pertama dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam kelompok besar ada 40 siswa (100%) dari 40 siswa prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam di atas atau sama dengan KKM Ilmu Pengetahuan Alam yaitu 70 dengan rata-rata kelas 77,75. Jika dibandingkan dengan kondisi awal tingkat penguasaan materi pelajaran ada peningkatan 50% (kondisi awal 50 % siswa tuntas, siklus I 100 % siswa tuntas). Sedangkan pada siklus II dengan penerapan model pernbelajaran PBL dalam kelompok kecil, hasil yang yang didapatkan sudah banyak kemajuan yang didapat dari proses perbaikan pembelajaran, hal ini dapat diketahui dari peningkatan jumlah siswa yang tuntas adalah 40 siswa dari 40 siswa (100% tuntas ). Hal ini sebagai pertanda bahwa siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Jatiroto purya minat belajar yang tinggi dan dengan penggunaan model pembelajaran sangat tepat dengan materi yang diajarkan, punya keberanian mengungkapkan gagasannya secara realistis serta penguasaan terhadap materi pembelajaran pengelolaan lingkungan menjadi lebih baik. Dibandingkan dengan siklus I, untuk siklus II dari siklus I untuk kemajuan penguasaan materi adalah 100 % dengan rata - rata kelas 77,7 5 ( Siklus I 100% materi dapat terserap 100% , pada siklus II menjadi 100% dengan rata-rata kelas 95,5 ). Berdasarkan hasil penelitian yang diungkap dengan alat pengumpul data berupa tes, observasi, dan dokumentasi dapat dikemukakan kesimpulan dari hasil penelitian adalah sebagai berikut penggunaan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetaluan Alam Kelas VII A SMP Negeri 2 Jatiroto Tahun Pelajaran 2008/2009. Kata Kunci: Hasil Belajar, Problem Based Learnin
KAJIAN NEUROSAINS DALAM PERKEMBANGAN PEMBELAJARAN BIOLOGI ABAD 21
Mekanisme kerja otak memberikan kedudukan penting dalam memahami perubahan tingkah laku belajar yang dilakukan seseorang. Hal inilah yang melatarbelakangi tujuan penulisan makalah untuk mendeskripsikan kajian neurosains dalam perkembangan pembelajaran Biologi abad 21. Perkembangan teknologi yang digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran dapat dikaitkan dengan adanya konsep neurosains. Neurosains merupakan bidang kajian sistem saraf otak manusia yang berhubungan dengan kesadaran dan kepekaan otak dari segi biologi, persepsi, ingatan, dan pembelajaran. Proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi ini tidak selamanya mengesampingkan peran guru dalam pembelajaran tatap muka di kelas, melainkan diselaraskan dengan adanya pembelajaran tatap muka, dan inilah yang dinamakan blended learning. Blended learning merupakan upaya mengkombinasikan pembelajaran berbasis internet (e-learning) dengan pembelajaran tatap muka (face to face). Pembelajaran tatap muka ini penting untuk mengaktifkan daerah-daerah penting dalam otak. Pembelajaran berdasarkan internet sangat dipengaruhi oleh teori belajar kognitif model pemrosesan informasi yang diawali dari masuknya informasi ke sistem memori, memori jangka pendek, dan sampai ke memori jangka panjang. Berdasarkan tujuan utama pembelajaran Biologi dalam meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya sangat berkaitan erat dengan kajian neurosains. Kajian neurosains memberikan pengetahuan tambahan tentang fungsi vital otak sebagai pendukung keberhasilan kegiatan pembelajaran, yang meningkatkan rasa bersyukur atas segala karunia Allah SWT. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan bukan hanya sekedar transfer ilmu dari guru ke siswa, melainkan dalam perjalanannya melibatkan adanya impuls sebagai akibat adanya stimulus dalam lingkungan belajar. Saran yang dapat dilakukan sebagai seorang pendidik ialah selalu berupaya untuk menghadirkan lingkungan belajar yang mampu merangsang perkembangan otak siswa. Hal ini bertujuan untuk mengaktifkan dendrit-dendrit untuk bercabang secara kompak, sehingga akan lebih mudah dalam menerima dan meneruskan informasi yang dapat siswa terapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Kata Kunci: Neurosains, Pembelajaran Biolog
PEMBELAJARAN BIOLOGI MENGGUNAKAN INKUIRI TERBIMBING MELALUI MEDIA ANIMASI DAN MODUL ILUSTRATIF
ABSTRAK Media pembelajaran merupakan sarana yang dapat dipakai untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh penggunaan media animasi dan modul ilustratif terhadap prestasi belajar. Pendekatan pembelajaran yang dipakai dalam penelitian adalah inkuiri terbimbing. Materi pelajaran yang digunakan dalam pembelajaran adalah fungi. Dalam penelitian ini populasi yang diambil ialah siswa kelas X SMA Negeri 2 Madiun dan sampel penelitian diambil dengan cara Cluster Random Sampling. Data penelitian mengalami uji normalitas memakai uji Kolmogorov-Smirnov, sedang untuk uji homogenitas digunakan uji Levene. Uji selanjutnya yang dijalankan adalah uji hipotesis dengan Anava dan diakhiri dengan uji lanjut. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa media animasi lebih berpengaruh dalam meningkatkan prestasi belajar siswa daripada modul ilustratif. Rerata prestasi media animasi adalah 86,05 dan modul ilustratif adalah 72,38. Kata kunci : Prestasi belajar, fungi, media animasi, modul ilustratif
PENGARUH SPEKTRUM CAHAYA TAMPAK TERHADAP LAJU FOTOSINTESIS TANAMAN AIR Hydrilla Verticillata
Di dunia ini, organisme dan fungsi suatu sel hidup bergantung pada persediaan energi yang tidak henti-hentinya dimana sumber energi tersebut tersimpan dalam molekul-molekul organik. Tumbuhan hijau merupakan organisme yang dapat menghasilkan suatu energi dengan jalan menangkap energi matahari yang digunakan untuk sintesis molekul-molekul organik kaya energi dari senyawa anorganik H2O dan CO2. Hal ini menyebabkan tumbuhan hijau memiliki sifat autotrof dengan kebalikan dari sifat tersebut yaitu heterotrof yang dimiliki oleh organisme yang hidupnya bergantung pada organisme autotrof sebagai contoh yaitu hewan dan manusia. Selanjutnya tumbuhan hijau dalam menghasilkan suatu energi bergantung pada proses fotosintesis. Fotosintesis merupakan penambatan zat karbon dari udara untuk diubah menjadi senyawa organik dan menghasilkan suatu energi yang digunakan tumbuhan hijau untuk pertumbuhan. Proses fotosintesis dapat berlangsung karena adanya organ pada tumbuhan yang disebut klorofil. Di dalam klorofil terdapat organel yang disebut kloroplas. Kloroplas berwarna hijau disebabkan adanya empat tipe utama pigmen yaitu klorofil a dan b yang berwarna hijau serta xanthofil dan karoten yang berwarna kuning-oranye. Klorofil sangat berperan bagi kelangsungan proses fotosintesis karena klorofil mampu menangkap cahaya matahari yang merupakan radiasi elektromaknetik pada spektrum kasat mata