Prosiding Seminar Biologi
Not a member yet
365 research outputs found
Sort by
POTENSI PENDIDIKAN KEUNGGULAN LOKAL BERBASIS KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI DI INDONESIA
Pembelajaran biologi saat ini kurang memperhatikan proses sains dan penerapan pembelajaran bermakna untuk menyikapi perkembangan sains dan teknologi. Selain menyumbangkan manfaat positif bagi masyarakat, perkembangan sains dan teknologi juga mengakibatkan terbentuknya berbagai aktivitas negatif seperti eksplorasi sumber tambang, pemanfaatan hutan secara bebas, perburuan hewan lindung dan sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan dan sikap siswa yang kokoh dalam mengikuti arus perkembangan sains dan teknologi tetapi masih peduli terhadap kelestarian lingkungan. Tujuan penyelenggaraan pendidikan keunggulan lokal adalah agar siswa mengetahui keunggulan lokal daerah tempat tinggal dan memahami berbagai aspek terkait dengan keunggulan lokal tersebut. Selanjutnya siswa mampu mengolah sekaligus melestarikan keunggulan lokal. Sedangkan karakter berperan sebagai pondasi agar siswa bersikap bijak dalam mendayagunakan keunggulan lokal. Dengan demikian pendidikan keunggulan lokal berbasis karakter berpotensi dalam pendayagunaan dan pelestarian potensi lokal dengan bijak. Peran pendidikan keunggulan lokal berbasis karakter dalam pembelajaran biologi adalah 1) Sebagai sarana pembelajaran kontekstual; 2) Pendayagunaan dan pelestarian keunggulan lokal; dan 3) Mencetak generasi berkarakter. Oleh karena itu diperlukan upaya pengimplementasian pendidikan keunggulan lokal berbasis karakter dalam pembelajaran biologi. Langkah awal adalah menentukan tema dan jenis keunggulan lokal dan menentukan pendidikan karakter yang sesuai. Selanjutnya mengemas keduanya menjadi perangkat pembelajaran dan mengaplikasikan dalam pembelajaran di sekolah sebagai upaya pemberian bekal bagi siswa untuk terjun ke masyarakat. Kata kunci: Pendidikan Keunggulan Lokal, Pendidikan Karakter, Pembelajaran Biolog
KARAKTERISTIK MATERI YANG MENGGUNAKAN PBL DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Model Project Based-Learning sebagai alternatif model pembelajaran yang bertujuan meningkatan prestasi akademik peserta didik melalui program penugasan. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik materi pembelajaran yang terdapat pada penelitian – penelitian yang sering menggunakan PBL untuk meningkatkan motivasi maupun hasil belajar mahasiswa. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa karakteristik materi yang sering diajarkan dengan menggunakan model PBL antara lain berupa studi kasus, berbasis masalah atau proyek kasus-kasus yang saling terkait antar topik atau bidang kajian lainnya (multi lintas bidang), membutuhkan sumber-sumber informasi faktual dari lapangan, cognitivetools, pemodelan yang dinamis, membutuhkan diskusi (percakapan dan kolaborasi), serta dukungan kontekstual dan sosial. Kata – kata kunci : model PBL, Komponen PBL, materi pembelajaran
PENGARUH DOSIS EKSTRAK AIR KANGKUNG (Ipomoea reptans Poir.) TERHADAP JUMLAH ERITROSIT DAN KADAR HEMOGLOBIN MENCIT (Mus musculus)
ABSTRAK Kangkung merupakan jenis sayuran yang kaya beta karotin dan serat pangan. Kangkung dapat berperan sebagai anti racun (antitoksik), anti radang, peluruh kencing, dan menghentikan pendarahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis ekstrak air kangkung (Ipomoea reptans Poir) terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin mencit (Mus musculus), serta untuk mengetahui dosis ektrak air kangkung yang paling berpengaruh terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 1 faktor yaitu dosis ekstrak air kangkung dengan perlakuan yaitu A (1,25% setara dengan dosis 0,125 gram/KgBB), B (2,5% setara dengan dosis 0,25 gram/KgBB), C (5% setara dengan dosis 0,5 gram/KgBB), D (10% setara dengan dosis 1 gram/KgBB), dan kontrol (tanpa pemberian ekstrak air kangkung). Perhitungan jumlah jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin dilakukan pada hari ke-20 setelah pemberian ekstrak air kangkung. Untuk mengetahui pengaruh dosis ekstrak air kangkung terhadap jumlah eritrosit pada mencit dilakukan analisis regresi, untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin dilakukan analisis varian (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air kangkung berpengaruh terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin pada mencit. Dosis yang paling berpengaruh adalah perlakuan D (dosis ekstrak air kangkung 1 gram/KgBB). Kata Kunci: Ekstrak air kangkung, Ipomoea reptans Poir, mencit (Mus musculus), jumlah eritrosit, dan kadar hemoglobi
PEMBANGUNAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SAINS MELALUI METODE ILMIAH
ABSTRAK Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Salah satu upaya dalam pembentukan karakter siswa dapat ditanamkan dengan pembelajaran sains yaitu dengan memberikan pengalaman kepada siswa. Sains adalah ilmu pengetahuan atau kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui proses kreatif yang sistematis melalui inkuari yang dilanjutkan dengan proses observasi (empiris) secara terus-menerus dilakukan oleh individu untuk menyingkap rahasia alam semesta. Sains juga merupakan pengetahuan yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu dan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan. Pembelajaran sains tidak dapat dilepaskan dari metode ilmiah karena metode ilmiah merujuk pada proses-proses pencarian sains yang dilakukan siswa. Dalam pembelajaran sains, metode ilmiah dapat dilakukan melalui pemberian pengalaman dalam bentuk kegiatan mandiri ataupun kelompok kecil. Metode ilmiah penting dikembangkan karena dapat mengembangkan kemampuan yang paling sederhana yaitu mengamati, mengukur sampai dengan kemampuan tertinggi yaitu kemampuan bereksperimen. Selain itu juga dapat mencapai ranah kognitif level terendah sampai dengan level tertinggi. Dengan kegiatan metode ilmiah selain untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar siswa, dan juga memuat unsur kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam hal ini, aspek afektif yang muncul berupa munculnya karakteristik anak-anak untuk melakukan kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kerja sama, dan hormat pada orang lain, semangat bekerja, semangat belajar, pantang putus asa, menghargai orang lain, jujur, rasa ingin tahu, mandiri, kreatif,kerja keras, disiplin dan percaya diri. Kata kunci: pembangunan karakter, metode ilmiah, kognitif, psikomotorik, afekti
UJI EFEKTIVITAS ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA TERHADAP JAMUR DARI NIRA RUSAK
ABSTRAK Gula kelapa hasil pengolahan nira masih dibuat dengan cara tradisional sehingga mudah terkontaminasi oleh mikroba. Jamur dapat mengkontaminasi nira sehingga perlu dilakukan isolasi jamur yang terdapat pada nira rusak. Suatu upaya untuk mengatasi kontaminasi adalah sterilisasi pongkor nira dengan zat antimikroba. Salah satu zat antimikroba yang dapat digunakan adalah asap cair tempurung kelapa. Peneltian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui jenis jamur yang terdapat pada nira kelapa rusak, 2) Mengetahui pengaruh pemberian asap cair tempurung kelapa dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan jamur dari nira kelapa rusak, 3) Mengetahui konsentrasi efektif asap cair tempurung kelapa yang dapat menghambat pertumbuhan jamur dari nira kelapa rusak. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan rancangan RAL (Rancangan Acak Lengkap). Variabel bebasnya adalah konsentrasi asap cair tempurung kelapa dan variabel tergantungnya adalah daya hambat asap cair tempurung kelapa terhadap jamur. Parameter utama yang diukur adalah berat kering jamur sedangkan parameter pendukungnya adalah pH media. Cara kerja dimulai dengan isolasi dan purifikasi jamur dari nira rusak. Media yang dipakai menggunakan PDA dan PDB. Konsentrasi asap cair tempurung kelapa yang digunakan 0 %, 5%, 10%, 15% dan 20%. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan anova atau uji F. Tingkat kesalahan yang digunakan adalah 5% dan 1% untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perlakuan yang dicobakan. Analisis tersebut dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Berdasarkan uji F tersebut dapat diketahui bahwa pemberian asap cair tempurung kelapa berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan Penicillium sp, Aspergillus sp dan Curvularia sp. Pengaruhnya dapat dilihat dari beret kering jamur yang semakin menurun dengan bertambahnya konsentrasi asap cair tempurung kelapa. Penghambatan asap cair tempurung kelapa terhadap ketiga jamur sudah terlihat mulai konsentrasi 5%, masing-masing sebesar 77,76 %, 85,74% dan 86,66%. Kata Kunci: jamur, asap cair tempurung kelapa, berat kerin
CONDITIONED MEDIUM DARI KULTUR PRIMER SEL SYARAF Mus musculus
Secara in vitro, Embryonic Stem Cell (ESC) dapat diarahkan perkembangannya menjadi sel neuron dan sel glia. Conditionedmedium dari kultur primer sel syaraf mengandung sejumlah faktor pertumbuhan antara lain nerve growth factor (NGF), glial derived-neurotrophic factor (GDNF), nestin, dan glial fibrillary acidic protein (GFAP). Dengan melakukan purifikasi protein yang terkandung di dalam CM, maka diharapkan spektrum protein yang ada menjadi lebih sempit sehingga protein target dapat terdeteksi. Penelitian ini mempelajari kultur primer sel syaraf yang berasal dari hemisfer Mus musculus. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan CM dari kultur primer sel syaraf Mus musculus. Medium yang digunakan adalah Dulbecco’s Modified Eagle’s Medium (DMEM) highglucose FBS 10%. Penggantian medium kultur dilakukan setiap 2 hari sekali. Kepadatan sel sekitar 32x103 sel/2 cm2. Setelah hari ke-4 terlihat adanya pertumbuhan neuron bipolar dan neural progenitor cell (NPC). Sel-sel astrosit akan teramati ketika periode kultur diperpanjang. Sel mengalami konfluensi setelah 12 hari kultur. Sel-sel yang tumbuh berguna untuk penjelasan neurogenesis. Kultur primer sel syaraf secara monolayer yang berasal dari hemisfer neonatus mampu mendukung pertumbuhan sel yang tergolong sebagai neurogenic dan nonneurogenic. Kata kunci: kultur primer, sel syaraf, conditioned medium, neural progenitor cell, neurogenesis
MEMBRAN CHITOSAN MODIFIED CARBOXYMETHYL (CS-MCM) SEBAGAI ADSORBEN ION Cu(II)
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Perbedaan waktu penyerapan optimum antara membran kitosan dan membran Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM) terhadap ion Cu(II), 4) Perbedaan kapasitas adsorbsi pada membran kitosan dan membran Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM) terhadap ion Cu(II). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan melalui beberapa tahap yaitu 1) Preparasi kitosan yang dilakukan melalui proses deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi, 2) Sintesis kitosan termodifikasi menjadi Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM), 3) Pembuatan membran kitosan dan membran CS-MCM, 4) Karakterisasi membran kitosan dan membran Chitosan Modified Carboxymethyl, 5) Penyiapan larutan ion Cu(II), 6) Penentuan waktu adsorbsi optimum, 7) Penentuan kapasitas adsorbsi pada berbagai konsentrasi ion logam Cu(II) pada waktu optimum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) Terdapat perbedaan waktu penyerapan optimum antara membran kitosan dan membran Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM) terhadap ion Cu(II) di mana waktu optimum adsorbsi membran kitosan adalah 60 menit sedangkan membran Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM) adalah 30 menit, 2) Terdapat perbedaan kapasitas adsorbsi pada membran kitosan dan membran Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM) terhadap ion Cu(II) di mana kapasitas adsorbsi optimum membran kitosan adalah 0,09029 mg/g sedangkan untuk membran Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM) adalah 0,06107 mg/g. Kata Kunci : membran CS-MCM, adsorben, ion Cu(II
PENERAPAN DVD 6M PENDIDIKAN KEPADA MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA MENGGUNAKAN MEDIA TELEVISI
ABSTRAK Penelitian pengembangan ini merupakan penelitian tahun ketiga yaitu uji coba lapangan skala luas terhadap produk E-Media DVD 6M berbasis elektronik televisi melalui J-TV. Tujuan penelitian adalah meningkatkan pemahaman dan pembudayan masyarakat Jawa Timur dalam pengelolaan sampah rumah tangga melalui penerapan E-Media DVD 6M berbasis elektronik televisi. Ujicoba dirancang sebagai penelitian tindakan. Subyek penelitian adalah sekelompok masyarakat di satu kota kecil Lumajang, satu kota besar Malang, dan satu kota metropolitan Surabaya. Instrumen pengumpulan data adalah tes pemahaman dan checklist pembudayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Setelah diberi tindakan DVD 6M melalui media Televisi dan dibantu dengan DVD player di rumah, menunjukkan terjadinya peningkatan nilai pemahaman ataupun pembudayaan 6M oleh masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Rata-rata nilai pemahaman sebelum tindakan dari masyarakat di kota kecil Lumajang adalah 75 meningkat setelah tindakan menjadi 82. Nilai rata-rata masyarakat kota kecil Lumajang dalam pembudayaan 6M sebelum tindakan adalah 40 meningkat setelah tindakan menjadi 78. Rata-rata nilai pemahaman sebelum tindakan dari masyarakat di kota besar Malang adalah 77 meningkat setelah tindakan menjadi 86 dan nilai rata-rata pembudayaan masyarakat dalam 6M sebelum tindakan adalah 49 meningkat setelah tindakan menjadi sebesar 81. Untuk masyarakat kota metropolitan Surabaya, rata-rata nilai pemahaman sebelum tindakan adalah 84 meningkat setelah tindakan menjadi sebesar 89 dan nilai rata-rata pembudayaan masyarakat dalam 6M sebelum tindakan adalah 44 meningkat setelah tindakan menjadi sebesar 90. Kata Kunci: DVD 6M, sampah rumah tangga, media televisi, pemahaman, pembudayaa
ANALISIS PROFIL PROTEIN PADA TAHAP PERKEMBANGAN BUAH KACANG TANAH (Arachis hypogaea (L.)
ABSTRAK Perkembangan buah kacang tanah hanya terjadi di dalam tanah. Organ yang membawa buah masuk ke dalam tanah adalah ginofor yang terbentuk setelah fertilisasi terjadi. Apabila buah tidak masuk ke dalam tanah maka, embrio, biji dan buah kacang tanah tidak dapat berkembang. Setiap tahap dari perkembangan tumbuhan dipengaruhi oleh protein spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil protein pada setiap tahap perkembangan buah kacang tanah. Analisis profil protein dilakukan pada beberapa tahap perkembangan buah yaitu pada umur 0, 4, 6, 15, 18 dan 23 hari setelah anthesis (hsa), baik pada buah yang berkembang (masuk ke dalam tanah) maupun tidak berkembang (tidak masuk ke dalam tanah), serta akar, batang dan daun menggunakan metode SDS-PAGE (sodium dodecyl sulphate-polyacrylamide gel electrophoresis). Profil protein pada buah berbeda dengan profil protein pada akar, batang dan daun. Protein dengan berat molekul 124 kDa kemungkinan berperan dalam mengontrol perkembangan buah kacang tanah. Kata kunci: Arachis hypogaea, profil protein, perkembangan bua
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT DAN THINK-PAIR-SHARE TERHADAP SIKAP SOSIAL SISWA SMA SAMARINDA MULTIETNIS
Sebuah penelitian eksperimen semu dilakukan pada siswa kelas XI IPA SMA multietnis di kota Samarinda. Penelitian ditujukan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran, etnis, dan interaksi strategi pembelajaran-etnis terhadap sikap sosial siswa. Strategi pembelajaran meliputi Cooperative Script (CS), Think Pair Share (TPS), CS+TPS, dan pembelajaran konvensional. Sementara itu, etnis terdiri dari etnis Jawa, Bugis, Banjar, dan Kutai. Penelitian dilakukan selama semester ganjil, tahun pelajaran 2012/2013. Enam kelas yang digunakan pada penelitian ini adalah setara berdasarkan skor Ujian Akhir Nasional. Analisis data menggunakan ancova faktorial pada taraf signikansi 5% (p<0,05). Berkaitan dengan interaksi antara strategi pembelajaran dan etnis, hasil analisis data menunjukkan bahwa interaksi berpengaruh terhadap sikap sosial; sikap sosial pada kombinasi TPS+CS Kutai tertinggi, yaitu 39,9% lebih tinggi dari sikap sosial pada kombinasi pembelajaran konvensional Jawa (terendah). Penelitian sejenis perlu dilakukan di masa yang akan datang disamping untuk mendapatkan informasi lebih. Kata Kunci: Cooperative Script, Think-Pair-Share, Sikap Sosial, IPA-Biologi, Siswa multietni