Prosiding Seminar Biologi
Not a member yet
365 research outputs found
Sort by
PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DENGAN METODE EKSPERIMEN LAPANGAN DAN EKSPERIMEN LABORATORIUM TERHADAP PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK KLAS X DI SMA NEGERI 2 YOGYAKARTA
ABSTRAK Kegiatan pembelajaran Biologi di SMA Negeri 2 Kota Yogyakarta masih bercorak teoritis dan hafalan (tekstual), sehingga konsep-konsep Biologi cenderung sulit dipahami oleh peserta didik. Dalam mengajar, tampaknya guru kurang memperhatikan pendekatan dan metode yang sesuai dengan karakteristik materi Biologi yang banyak melibatkan keterampilan ilmiah. Akibatnya capaian prestasi belajar menjadi kurang maksimal. Metode pembelajaran Eksperimen adalah metode pembelajaran berbasis Keterampilan Proses Sains, sangat cocok untuk mengoptimalkan pengembangan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif peserta didik.Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan metode Eksperimen Lapangan dan Eksperimen Laboratorium terhadap Prestasi belajar. Penelitian mengunakan metode Eksperimen dengan populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X, semester 1 tahun pelajaran 2010 – 2011 di SMA Negeri 2 Yogyakarta khususnya pada materi tentang Polusi. Sampel diambil secara random sebanyak dua kelas, masing-masing terdiri dari 32 dan 31 peserta didik. Data berupa kemampuan kognitif berupa prestasi belajar yang dijaring menggunakan tes. Validitas instrumen prestasi belajar diuji dengan menggunakan rumus koefisien korelasi biseral. Reliabilitas instrumen diuji dengan anatest. Data prestasi belajar dianalisis dengan menggunakan SPSS 15.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pengaruh penggunaan pendekatan CTL dengan metode Eksperimen Lapangan dan Eksperimen Laboratorium. Pendekatan CTL dengan metode Eksperimen Lapangan di SMA Negeri 2 Kota Yogyakarta memberi pengaruh lebih baik terhadap rata-rata nilai prestasi belajar peserta didik (72,97) dibandingkan pada penggunaan pendekatan CTL dengan metode Eksperimen Laboratorium yang rata-rata prestasi belajarnya lebih rendah (69,65). Kata kunci : Pendekatan CTL, Metode Eksperimen Lapangan, Metode Eksperimen Laboratorium, Prestasi Belajar
KONSEPSI GURU IPA BIOLOGI SMP SE-SURAKARTA TENTANG HAKIKAT BIOLOGI SEBAGAI SAINS
ABSTRAK Penelitan ini bertujuan untuk mengungkapkan persepsi guru biologi SMP Se-Surakarta tentang Biologi sebagai Sains. Penelitian ini juga bertujuan mengungkapkan sejauh mana guru biologi memposisikan dirinya dalam pembelalajaran biologi. Sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai, penelitiann ini merupakan peneliti eksplorasi. Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling atau captive sampling karena bertujuan untuk menjajagi persepsi guru. Sampel diambil sebanyak 62 orang guru biologi yaitu semua guru peserta yang hadir pada saat peneliti melakukan pengabdian kepada masyarakat di MGMP IPA Biologi SMP di Kota Surakarta. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini mengungkapkan hanya ada 6 orang guru atau sekitar 9,7% yang menyatakan bahwa biologi mempunyai dimensi proses, produk, dan sikap ilmiah. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman guru biologi terhadap hakikat biologi sebagai sains masih rendah. Guru biologi belum mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator dalam mendampingi siswanya dalam menemukan konsep melalaui proses sains. Kata kunci: konsepsi guru biologi, hakikat sain
BIOLOGI, SAINS, LINGKUNGAN DAN PEMBELAJARANNYA DALAM UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN DAN KARAKTER SISWA
Biologi merupakan bagian dari sains, sehingga apa yang berlaku pada bidang sains juga berlaku pada bidang biologi. Kalau dalam sains dikenal adanya tiga aspek, yang memberikan corak tersendiri bagi disiplin ilmu ini, ialah proses sains, produk sains, dan sikap sains, maka tentu tiga unsur ini juga dimiliki dan ditemukan dalam biologi. Proses sains mengarah pada suatu rangkaian langkah logis yang dilakukan oleh ilmuwan ketika ia ingin menjawab rasa ingin tahunya tentang alam, ketika ingin memperoleh solusi atas persoalan sains yang dihadapinya. Observasi, identifikasi masalah, perumusan hipotesis, melakukan eksperimen, pencatatan dan pengolahan data, pengujian kebenaran, serta menarik suatu kesimpulan merupakan contoh unsur proses sains yang sering dolakukan oleh ilmuwan dalam bereksperimen (Carin & Sund, 1989; Jinks J., 1997). Melalui langkah-langkah proses sains, akan diperoleh sejumlah pengetahuan, sebagai produk sains
PENGARUH CEKAMAN SALINITAS TERHADAP MORFOLOGI AKAR TERUNG KOPEK LOKAL
ABSTRAK Arsitektur akar memiliki arti penting sebagai salah satu bentuk adaptasi tanaman dalam merespon kondisi lingkungan yang ekstrem, termasuk pada kondisi salin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman salinitas terhadap morfologi akar Solanum melongena varietas Kopek sebagai referensi kajian awal pengembangan budi daya tanaman sayur tropis lokal pada lahan salin. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Biologi, Universitas Nusantara PGRI Kediri (kondisi: 4700-6000 lux pada tanah ladang steril, liat berpasir, v-angin 0-1 m/s, 67 mdpl, pH media 6-6,8), Februari- Mei 2012 dengan desain Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan 0% (0-1 ds/m), 5% (2-3 ds/m), 10% (8-10 ds/m), 15% (14-16 ds/m) NaCl (dalam 50 mL air penyiraman/pot/2 hari yang mengandung pupuk green tonic 3 g/L (masing-masing 5 ulangan/perlakuan). Akar dipanen dengan metode destruktif pada 63 hst, diamati, dianalisis kuantitatif-kualitatif, dan didokumentasi sesuai parameter morfologi yang ditentukan. Penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) termasuk akar tunggang; (2) bertipe ramosus; (3) jumlah cabang dan rata-rata panjang akar rambut lebih tinggi pada perlakuan 5%, namun semakin tinggi tingkat cekaman (10 dan 15%) semakin rendah rata-rata panjang akar pokok, jumlah maupun panjang rata-rata cabang akar tingkat I, II, dan III dan berat konstan akar (dw); (4) arah tumbuh akar pokok geotropisme positif bersama rambut-rambut akarnya pada semua perlakuan; arah tumbuh cabang tingkat I kearah samping (dengan kisaran 20-35O dari garis horizontal medium); cabang tingkat II dan III relatif tidak beraturan (ke segala arah) arah tumbuhnya; (5) warna akar pokok dan cabang tingkat I coklat tua, warna cabang tingkat III beserta rambut-rambut akar yang tumbuh dari akar pokok, cabang tingkat I, II, dan III putih coklat muda; (6) akar pokok lebih kaku dibanding cabang-cabangnya; (7) panjang akar pokok lebih dominan dibanding cabangnya, panjang semakin berkurang seiring tingkat cemakan (rata-rata berkurang 1,78 cm/ tanaman). Kata kunci: cekaman salinitas, morfologi akar, terung kope
PEMANFATAAN LABORATORIUM VIRTUIL GUNA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MELUKIS BAYANGAN DAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA SMP NEGERI MODEL TERPADU BOJONEGORO
ABSTRAK Tujuan belajar Fisika melalui kegiatan percobaan dengan menggunakan laboratorium dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan proses siswa. Namun ketiadaan laboratorium atau keterbatasan alat untuk percobaan membuat guru jarang melakukan pembelajaran melalui kegiatan percobaan. Akan tetapi pada saat ini teknologi telah berkembang cukup pesat, percobaan tidak lagi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan laboratorium namun dapat digantikan dengan menggunakan laboratorium virtuil melalui komputer. Tujuan penelitian tindakan ini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam melukis bayangan serta meningkatkan ketuntasan belajar siswa. Metode penelitan berupa penelitiantindakan kelas selama tiga siklus. Hasil penelitian tindakan kelas selama 3 siklus yang telah dilakukan di Kelas VIII B SMP Negeri Model Terpadu dengan menggunakan Laboratorium Virtuil menunjukkan peningkatan prestasi siswa. Dari hasil data penelitian maka dapat disimpulkan 1) Dengan menggunakan Laboratorium Virtuil rata-rata kemampuan siswa dalam melukis bayangan benda dapat ditingkatkan sampai 38 %. 2) Laboratorium Virtuil dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa dari 52 % menjadi 86 % . Kata Kunci: Laboratorium virtuil, kemampuan melukis bayangan, ketuntasan belaja
PEMBELAJARAN BIOLOGI SEL BERBASIS KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS MENGGUNAKAN “CONCEPT ATTAINMENT MODEL”
Abstrak Pembelajaran dengan metode ceramah, diskusi, dan praktikum belum bisa memfasilitasi bentuk representasi makroskopis, simbolis, dan mikroskopis secara optimal, terutama untuk materi ajar biologi sel yang bersifat abstrak. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan pembelajaran berbasis keterampilan berpikir kritis. Berdasarkan pemikiran tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan model pembelajaran biologi sel berbasis keterampilan berpikir kritis menggunakan “concepts attainment model”. Desain penelitian menggunakan “One Group Pretest-Postest Design” yang melibatkan 39 mahasiswa tingkat II semester III Program S-1. Data pretest dan postest diolah untuk mengetahui peningkatan pencapaian konsep mahasiswa. Respon mahasiswa dan dosen terhadap model pembelajaran diketahui melalui Angket dan Wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran ini dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa pada nilai N-Gain katagori sedang. Peningkatan keterampilan berpikir kritis tertinggi terjadi pada aspek menjawab pertanyaan “apa yang dimaksud dengan…?”, sedangkan yang terendah pada “kemampuan untuk memberikan alasan”, Secara umum pembelajaran “concepts attainment model” mendapat respon positif dari mahasiswa dan dosen biologi. Untuk itu, perlu dikembangkan model yang serupa pada konsep-konsep yang lainnya. Kata Kunci: Keterampilan berpikir kritis, concept attainment model, dan biologi se
PEMANFAATAN LIMBAH ECENG GONDOK (Eichornia crassipes) SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA PERTUMBUHAN JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus)
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pertumbuhan dan produktifitas jamur tiram putih dan konsentrasi media enceng gondok yang paling efektif untuk pertumbuhan jamur tiram putih. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Satu Faktor (RAL satu faktor) dengan 4 taraf perlakuan yaitu kontrol, pemberian limbah eceng gondok 10 %, 20 %, dan 30 %. Masing-masing perlakuan dibuat 25 ulangan dan ukuran setiap baglog adalah 1 kg. Prosedur kerja terdiri atas: penyiapan substrat eceng gondok, pembuatan baglog, penyeterilan, inokulasi jamur, inkubasi, pemeliharaan dan pengamatan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah ANOVA satu jalur dilanjutkan dengan uji Duncan dengan taraf signifikansi 5 %. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian limbah enceng gondok dapat digunakan sebagai media alternatif pertumbuhan jamur tiram putih. Selain itu, pemberian limbah enceng gondok kering pada media serbuk kayu dapat meningkatkan karakteristik pertumbuhan dan produktivitas pertumbuhan jamur tiram putih baik dari aspek diameter tudung jamur maksimal, panjang tangkai buah maksimal, Berat basah buah jamur, Jumlah badan buah jamur, maupun Biological efficiency ratio (BER) dari baglog limbah enceng gondok. Parameter tersebut mengalami peningkatan signifikan (berbeda nyata) setelah di uji DMRT pada setiap peningkatan konsentrasi substrat dari 0%, 10%, 20% dan 30% dari media limbah enceng gondok. Parameter tersebut paling tinggi pada enceng gondok dengan konsentrasi 30 %. Kata kunci : Limbah Enceng Gondok, Media Tanam, Jamur Tiram
Prestasi Belajar Biologi Pada Kompetensi Dasar Bioteknologi Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) Disertai Hand Out dan Model Pembelajaran Search Solve Create and Share (SSCS) Ditinjau Dari Intelegensi Siswa
ABSTRAKMakalah ini merupakan hasil penelitian studi kasus siswa kelas X di SMA Negeri 1 Karanganyar tahun ajaran 2005/2006. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) perbedaan pengaruh antara model pembelajaran Search Solve Create and Share (SSCS) dengan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) disertai Hand Out terhadap prestasi belajar biologi, (2) perbedaan pengaruh antara IQ siswa tinggi dan IQ siswa rendah terhadap prestasi belajar biologi, (3) interaksi antara model pembelajaran dengan IQ siswa terhadap prestasi belajar biologi.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2006, menggunakan metode eksperimen dengan mengambil dua kelompok secara acak. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 1 Karanganyar tahun pelajaran 2005/2006. Sampel dalam penelitian ini adalah enam kelas yang diambil sacara acak dengan melalui undian, sebagai kelas kontrol adalah kelas Xl, X4, dan X6, sedangkan kelas eksperimennya adalah kelas X2, X3, dan X5. Teknik pengumpulan datamenggunakan metode tes, dokumentasi, angket dan observasi. Data dianalisis dengan teknik Anava tiga jalan yang dilanjutkan dengan uji Scheffe.Dali hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa : (1) terdapat pengaruh model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) disertai Hand Out dan model pembelajaran Search Solve Create and Share (SSCS) terhadap prestasi belajar biologi, (2) terdapat pengaruh antara IQ siswa tinggi dan IQ siswa rendah telhadap prestasi belajar biologi, (3) tidak terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dengan IQ siswa terhadap prestasi belajar biologi.Keywords: PBI, SSCS, prestasi, intelegens
PEMBERDAYAAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA MELALUI STRATEGI RECIPROCAL TEACHING PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA
Berpikir kreatif merupakan salah satu kecakapan hidup yang dibutuhkan pada abad 21. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan ini yaitu melalui pendidikan. Keterampilan ini dapat menjadi bekal bagi siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ada. Biologi merupakan salah satu bidang IPA yang memberikan wadah bagi siswa untuk mengasah keterampilan berpikir kreatif. Keterampilan ini tidak dapat berubah dengan sendirinya. Diperlukan suatu rangsangan berupa inovasi strategi pembelajaran yang membantu memberdayakan keterampilan tersebut. Salah satu stategi pembelajaran yang dapat membantu memberdayakan keterampilan tersebut adalah Reciprocal Teaching (RT). Penggunaan Strategi RT pada struktur pembelajaran biologi SMA diharapkan dapat membantu memperdayakan keterampilan berpikir kreatif siswa
RELEVANSI KETERAMPILAN MENGAJAR CALON GURU BIOLOGI DENGAN PENGUASAAN KONSEP GIZI
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melakukan kajian tentang hubungan antara keterampilan mengajar menganalisis materi pelajaran, menuntun siswa menguasai konsep, dan memberi penguatan konsep dengan pengasaan konsep gizi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FPMIPA UPI. Sebagai calon guru Biologi mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi dibekali dengan konsep-konsep yang diperlukan untuk mengajar serta dibekali pula dengan keterampilan mengajar. Salah satu mata kuliah yang ditawarkan kepada mahasiswa adalah mata kuliah Ilmu Gizi yang membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar, keterampilan mengukur status gizi, dan keterampilan merancang program pendidikan gizi. Selain itu, mahasiswa yang sama juga dibekali dengan keterampilan dasar mengajar yang mencakup keterampilan membuat rancangan kegiatan pembelajaran, serta mensimulasikannya di kelas pada mata kuliah Perencanaan Pembelajaran Biologi. Konsep serta keterampilan yang didapat mahasiswa pada kuliah Ilmu Gizi seharusnya dapat menunjang keterampilan dasar mengajar pada mata kuliah Perencanaan Pengajaran Biologi. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI selama 2 semester.Data yang digunakan adalah data nilai pada mata kuliah Ilmu Gizi yang dikorelasikan dengan data nilai tes tertulis yang meminta mahasiswa merancang kegiatan pembelajaran pada topic Makanan dan Kesehatan. Jumlah mahasiswa yang dilibatkan sebanyak 74 orang. Data dianalisis dengan menggunakan statistik uji korelasi. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa korelasi antara penguasaan konsep Gizi dengan kemampuan mengajarkan konsep Makanan dan Kesehatan lemah (0,233). Keterampilan mengajar yang paling dikuasai adalah keterampilan membuka dan menutup pelajaran sedangkan keterampilan yang paling kurang dikuasai adalah keterampilan memberikan penguatan serta merancang asesmen. Mahasiswa yang memiliki nilai mata kuliah Ilmu Gizi yang baik (rentang nilai) belum tentu memiliki kemampuan merancang program pembelajaran yang baik pada konsep Makanan dan Kesehatan. Kesimpulan yang didapat adalah penguasaan konsep yang baik saja belum cukup sebagai bekal merancang dan melaksanakan pembelajaran pada konsep terkait. Diperlukan bekal kemampuan mentransfer pengetahuan dan mengintegrasikannya dengan kemampuan mengelola kelas. Kata Kunci: pengetahuan gizi, penguasaan keterampilan dasar mengajar, korelasi