Prosiding Seminar Biologi
Not a member yet
    365 research outputs found

    ANALISIS DNA MITOKONDRIA BADAK SUMATERA DALAM KONSERVASI GENETIK

    Full text link
    ABSTRAK   Populasi badak Sumatera dewasa ini semakin terancam keberadaannya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah semakin maraknya perburuan liar, rusaknya habitat alamnya yang disebabkan oleh konversi hutan yang cenderung tidak terkendali. Populasi kecil lebih rentan pada penurunan keragaman genetik karena efek inbreeding serta terfiksasinya beberapa alela tertentu dalam populasi sehingga hewan tersebut menjadi monomorf dan mengalami penurunan kemampuan berevolusi atau adaptasinya pada lingkungan yang berubah. Selain itu berkurangnya populasi, faktor lain adalah terjadinya fragmentasi suatu habitat yang akan mendorong putusnya aliran gen (gen flow) dan meningkatnya genetic drift. Keragaman genetik turut menentukan keberhasilan konservasi populasi. Oleh karena itu penelitian keragaman genetik dari populasi Badak Sumatera merupakan langkah penting yang harus dilakukan, dan keberhasilan penelitian ini merupakan langkah  dalam konservasi badak Sumatera. Pengumpulan sampel darah berasal dari SRS (Suaka Rhino Sumatera) TN Way Kambas Lampung. Sample berupa darah dari 2 ekor badak sumatera berjenis kelamin betina (Rosa & Bina) dan 2 ekor badak jantan (Torgamba & Andalas). Isolasi dan purifikasi DNA Total dilakukan menggunakan metode Duryadi. Amplifikasi daerah CO I pada badak Sumatera dilakukan dengan PCR menggunakan pasangan primer RHCOIF dan RHCOIR. Amplifikasi daerah CO I pada badak Sumatera dilakukan dengan menggunakan pasangan primer RHCOIF dan RHCOIR menghasilkan fragmen DNA berukuran 711 bp. Jarak genetik digunakan untuk melihat kedekatan hubungan genetik antar individu badak Sumatera dan spesies badak lain melalui penggunaan analisis perhitungan Pairwie Distance dengan p-distance dapat ditunjukkan matriks perbedaan genetik antara badak Sumatera dan badak outgroup (badak India dan badak Afrika), hasil perhitungan berdasarkan daerah CO I parsial menunjukkan nilai jarak genetik berkisar antara 0.016 sampai 0.147. Jarak genetik pada Bina (♀) terlihat dekat dengan Torgamba (♂) sebesar 0.007. Hubungan kekerabatan CO I menggunakan Neighbor-Joining dengan pengolahan bootstrap 1000 terlihat bahwa badak putih Afrika berbeda kelompok dengan badak Asia. Di dalam kelompok badak Asia terlihat bahwa badak India sama dengan kelompok dengan badak Sumatera (Indonesia). Di dalam badak Sumatera (Indonesia) sendiri terjadi keragaman. Berdasarkan hasil sekuen gen CO I terdapat situs-situs spesifik pada badak Sumatera sebesar adalah 67% hasil tersebut dapat digunakan sebagai data base dalam penelitian-penelitian selanjutnya.   Kata kunci: badak Sumatera, DNA, mitokondria, konservas

    PENGOPTIMALAN REFLECTIVE PROGRAM UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MAHASISWA DALAM MERANCANG KAGIATAN PRAKTIKUM

    Full text link
    Tujuan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi IKIP PGRI Semarang dalam merancang kegiatan praktikum. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas, dengan lokasi penelitian pada Program Studi Pendidikan Biologi IKIP PGRI Semarang tahun ajaran 2012/ 2013 semester genap, waktu penelitian Maret-Juni 2013. Subjek dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah Mahasiswa semester II E Program Studi Pendidikan Biologi pada matakuliah praktikum Taksonomi I. Data yang diperoleh dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah keterampilan mahasiswa dalam merancang kegiatan praktikum, teknik yang digunakan untuk memperoleh data tersebut adalah melalui tugas mahasiswa dalam merancang kegiatan praktikum. Analisis data menggunakan teknik komparatif antar siklus, dan Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diketahui bahwa upaya peningkatan keterampilan mahasiswa dalam merancang kegiatan praktikum dapat dinyatakan berhasil, hal ini dapat diperhatikan setelah dilakukan komparasi antara hasil siklus I dan siklus II. Pada siklus I diketahui bahwa rata-rata kemampuan mahasiswa dalam merancang kegiatan praktikum adalah 74%, sedangkan pada siklus II rata-rata kemampuan mahasiswa dalam merancang kegiatan praktikum adalah 90%. Kata kunci:  Keterampilan Merancang,  Reflective Progra

    STIMULASI BELAJAR MANDIRI MELALUI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS MASALAH PADA MATA KULIAH PLANT EMBRYOLOGY AND REPRODUCTION (SBI PROGRAM) DI PRODI P. BIOLOGI FKIP UNS

    Full text link
    ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) implementasi  bahan ajar berbasis masalah  dalam merangsang kemandirian belajar mahasiswa pada   mata kuliah Plant Embryology and Reproduction, 2) penggunaan bahan ajar berbasis masalah  dalam meningkatkan keaktifan mahasiswa  pada mata kuliah Plant Embryology and Reproduction Penelitian ini merupakan  penelitian tindakan kelas (Classroom Action research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus meliputi identifikasi permasalahan yang ada di kelas, perencanaan tindakan berupa penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pelaksanaan tindakan berupa penerapan bahan ajar berbasis masalah, observasi dan evaluasi, serta refleksi untuk tindakan berikutnya. Subyek penelitian adalah mahasiswa semester 4 program SBI di Prodi P. Biologi UNS tahun ajaran 2009/2010 sejumlah 21 mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan metode  observasi, wawancara, angket, tes dan kajian dokumen.Validitas data dengan teknik triangulasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan,  secara umum didapatkan bahwa pada akhir siklus 2,  prosentase mahasiswa yang lulus sebesar 100% dengan prosentase nilai A dan B.  Penelitian dinyatakan selesai pada akhir siklus 2 karena indikator kinerja yang diharapkan  yaitu jumlah mahasiswa yang lulus minimal sebesar 80%  dengan prosentase mahasiswa yang memperoleh nilai diatas B sebesar 66,67%,  meningkatnya kemandirian belajar dan keaktifan mahasiswa serta meningkatnya performansi mengajar dosen di mata mahasiswa sudah tercapai. Kesimpulan yang bisa diambil adalah 1) bahan ajar berbasis masalah  dapat merangsang kemandirian belajar mahasiswa 2) penggunaan bahan ajar berbasis masalah  dapat meningkatkan keaktifan mahasiswa   baik dalam pencarian sumber belajar maupun partisipasi  dalam pembelajaran.   Kata kunci :  bahan ajar,  berbasis masalah, kemandirian belaja

    OPTIMASI KONDISI FERMENTASI UNTUK PRODUKSI SELULOSA BAKTERI OLEH STRAIN SLK-1 DALAM MEDIA DASAR AIR KELAPA (Optimization Of Fermentation Conditions For The Production Of Bacterial Cellulose By Slk-1 Strain In Coconut Water Based Medium)

    Full text link
    ABSTRAK   Tujuan penelitian ini adalah mengoptimasi kondisi fermentasi terbaik strain Bakteri Asam Asetat penghasil selulosa yaitu isolat SLK-1.  Strain ini diisolasi dari buah salak pada penelitian sebelumnya.  Hasil optimasi menunjukkan bahwa kondisi fermentasi optimum untuk pertumbuhan dan produksi selulosa pada isolat SLK-1  dicapai dengan sumber karbon gula pasir, sumber nitrogen ammonium sulfat, pH 7, suhu inkubasi 25°C dan metode fermentasi statis. Karakter struktur permukaan selulosa hasil fermentasi isolat SLK-1 dipengaruhi oleh metode fermentasi yang digunakan.  Metode fermentasi goyangan berpengaruh menurunkan produksi selulosa pada  isolat SLK-1 dan merubah struktur permukaan yaitu susunan mikrofibril lebih renggang dan membentuk gelembung.   Kata Kunci: bakteri asam asetat, optimasi, fermentasi, selulosa bakteri, penggoyanga

    UPAYA PENINGKATAN KETRAMPILAN MENGGUNAKAN ALAT LABORATORIUM MELALUI METODE MAKE A MATCH PADA SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 26 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2008/2009

    Full text link
    ABSTRAK   Penelitian ini dengan latar belakang prinsip instan yang banyak melanda anak sekarang, dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang memungkinkan siswa mengikuti prinsip instan tersebut. Padahal untuk memahami suatu materi tidak bisa dilakukan dengan instan, harus sering dilakukan pelatihan .  selain itu pengenalan laboratorium pada anak SMP kelas VII merupakan hal yang perlu dipahami terutama pemahaman tentang alat-alat laboratorium tersebut. Dalam penelitian ini memiliki tujuan Untuk mengetahui apakah terdapat perubahan pemahaman siswa siswa kelas VII G tentang alat-alat laboratorium (terutama Biologi) sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan melalui metode make and match . Untuk mengetahui apakah terdapat perubahan ketrampilan kelas VII G tentang alat-alat laboratorium (terutama Biologi) sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan melalui metode make and match  .Untuk mengetahui apakah pembelajaran Sains melalui metode make and match dengan pendekatan proses dapat meningkatkan prestasi belajar siswa Guru sebagai motivator dan fasilitator bagi pembelajaran yang dilakukan di kelas. Dengan memfasilitasi proses pembelajaran agar diciptakan suasana yang menyenangkan dan dapat membangkitkan afinitas (keaktifan) siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Peneliti menggunakan metode make and match yaitu dengan permainan yang membangkitkan afinitas siswa, kerja sama dengan teman serta win-win solution dalam menyelesaikan masalah kelompok menjadi karakteristik dari penelitian ini. Metode make and match , peneliti lakukan melalui permainan memasangkan, mencari pasangan serta berjuang untuk berpasangan. Dari permainan tersebut ternyata afektifitas, dan pemahaman siswa dapat meningkat. Dari hasil penelitian dapat disimpilkan bahwa terjadi peningkatan pemahaman tentang alat-alat laboratorium, baik nama, bentuk serta fungsi masing-masing alat laboratorium tersebut. Ketuntasan meningkat dari 25 % menjadi 80 % sedangkan nilai rata-rata kelas dari 39 % menjadi 76 %.   Kata Kunci : Make a match, win-win solution, afinitas siswa

    PENGGUNAAN MASALAH DALAM MODUL PRAKTIKUM SEBAGAI PENUNTUN KEGIATAN LAPANGAN PADA MATA KULIAH EKOLOGI TUMBUHAN DI PRODI P. BIOLOGI TAHUN 2009

    Full text link
    AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah ekologi tumbuhan di prodi P. Biologi FKIP tahun ajaran 2009 dengan melalui pemanfaatan modul praktikum yang berbasis masalah sebagai penuntun kegiatan di lapangan.Tujuan penelitian ini adalah untuk :1. meningkatkan kulaitas berdiskusi dengan indikator pertanyaan yang muncul dari siswa dalam rangka menanggapi modul yang berisi masalah yang harus dipecahkan melalui data lapangan. Meningkatkan kualitas pembelajaran seutuhnya yang dikelola oleh pengampu kuliah ekologi tumbuhan.Prosedur penelitian menggunakan prosedur penelitian kualitatif dengan menggunakan tindakan berupa penggunaan modul praktikum yang dipergunakan sebagai penuntun kegiatan di lapangan. Analisis tindakan mengikuti aturan Kemmis danTaggart. Analisis data menggunakan analisis kritis.Hasil penelitian menunjukan bahwa ada: 1. Ada peningkatkan kualitas berdiskusi dengan indikator pertanyaan yang muncul dari siswa dalam rangka menanggapi modul yang berisi masalah yang harus dipecahkan melalui data lapangan. 2. Belum jelas ada peningkatkan kualitas pembelajaran seutuhnya pada mata kuliah ekologi tumbuhan akibat digunakannya modul praktikum sebagai penuntun kegiatan lapangan. 3. Perlu tindakan untuk peningkatan secara keseluruhan dengan tindakan yang melibatkan perkuliahan yang dikelola oleh pengampu kuliah ekologi tumbuhan.1) Penelitian Teaching Grant pada Hibah PHK A2 tahun 20092) Dosen program studi P. Biologi - P. MIPA - FKIP -UN

    POTENSI FUKOSANTIN DARI RUMPUT LAUT COKLAT DALAM DUNIA KESEHATAN

    Full text link
    Kesehatan terganggu akibat dari pola hidup yang tidak teratur sehingga muncul penyakit degeneratif seperti obesitas, diabetes, kanker dan jantung. Perlunya asupan makanan yang bergizi dan mengandung zat alami seperti karotenoid. Struktur karotenoid dibagi dalam dua kelompok besar: pertama, karoten (α-karoten, β-karoten, likopen), yang merupakan hidrokarbon dimana tanpa ada molekul oksigen, dan kedua, santofil (xantophill) (lutein, seaksantin (zeaxanthin), fukosantin dan astaksantin) yang dioksigenasi mengandung kelompok hidroksil, metoksi, karboksil, keto atau epoksi. Fukosantin adalah salah satu pigmen berwarna oranye yang dihasilkan pada biosintesis karotenoid. Fukosantin memiliki aktivitas biologi yang berperan dalam mengatasi beberapa masalah kesehatan seperti antiobesitas, antikanker, pemakan radikal bebas, antiinflamatori.  Kata Kunci: Kesehatan, Karotenoid, Algae, Fukosantin

    PELESTARIAN HUTAN MANGROVE SOLUSI PENCEGAHAN PENCEMARAN LOGAM BERAT DI PERAIRAN INDONESIA

    Full text link
    ABSTRAK   Laju pertumbuhan penduduk dan perkembangan kawasan industri di beberapa kota besar di Indonesia menimbulkan masalah limbah yang menyebabkan pencemaran air oleh logam berat. Aktifitas masyarakat perkotaan menyebabkan produksi limbah rumah tangga dan Industri meningkat, dan dibuang ke lingkungan tanpa pengolahan yang baik. Beberapa perairan yang tercemar logam berat misalnya, Perairan pesisir Teluk Jakarta, perairan pesisir Pulau Panjang Jepara, perairan muara sungai Babon dan Seringin di Semarang dan perairan Pulau Kabaena di Sulawesi Tenggara. Melihat masalah pencemaran perairan pesisir oleh logam berat maka ulasan ilmiah ini penting untuk ditulis. Beberapa logam berat yang dapat dijumpai di perairan pesisir dan laut, dan berbahaya bagi biota laut adalah merkuri (Hg), timbal (Pb),  kadmium (Cd), arsen (As), selenium (Se), kobalt (Co), nikel (Ni), tembaga (Cu), kromium (Cr), seng (Zn). Sifat logam-logam tersebut sangat berbahaya sehingga perlu untuk dilakukan suatu tindakan yang tepat untuk membersihkan logam-logam berbahaya tersebut. Fitoremediasi lahan mangrove merupakan sebuah strategi yang tepat dalam membersihkan perairan tercemar logam berat karena tumbuhan mangrove jenis Avicennia Marina dan Rhizophora spp., memiliki kemampuan menyerap logam berat pada badan air dan sedimen pada perairan yang tercemar. Hutan mangrove di Indonesia secara perlahan-lahan dari tahun ke tahun luasannya selalu berkurang. Penebangan oleh masyarakat, pemanfaatan lahan sebagai daerah pertambakan, dan pemukiman serta kepentingan masyarakat terhadap penggunaan hutan mangrove meningkat, membuat kita kehilangan ekosistem mangrove secara perlahan-lahan. Saat ini ekologi kita mengalami masalah pencemaran sehingga upaya-upaya melestarikan ekosisitem-ekosistem yang telah rusak sangat penting. Pelestarian hutan mangrove juga merupakan satu hal yang sangat penting guna memulihkan kawasan perairan pesisir dan laut yang tercemar oleh logam berat. Pemerintah, ilmuan dan kaum akademisi serta masyarakat Indonesia seluruhnya perlu kerjasama yang baik guna melestarikan hutan mangrove di perairan pesisir Indonesia, terutama pada pesisir pantai daerah tercemar logam berat.   Kata kunci : bambu pencemaran perairan, logam berat, pelestarian hutan mangrove,  perairan Indonesia

    PEMBELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP DI SEKOLAH DASAR DAN MADRASAH IBTIDAIYAH KOTA BATU

    Full text link
    ABSTRAK Pemberlakuan kurikulum Pendidikan Lingkungan  Hidup secara monolitik dapat memberikan potensi dan masalah di dalam pembelajarannya. Penelitian deskriptif telah dilakukan untuk menganalisis pembelajaran, hambatan serta upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup berorientasi kecakapan hidup di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah kota Batu. Data kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh dengan cara triangulasi kemudian dianalisis. Pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup mengalami hambatan yang bervariasi, antara lain  keterbatasan perangkat pembelajaran, materi belum sesuai dengan kurikulum, keterbatasan sumber belajar dan media pembelajaran yang relevan, struktur pembelajaran belum terorganisasi dengan baik, terjadi kesalahan konsep pada materi pembelajaran serta belum diintegrasikannya teknologi di dalam pembelajaran. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan antara lain memperbaiki dan menambahperangkat pembelajaran, menyesuaikan materi dengan kurikulum, mengembangkan sumber belajar dan media pembelajaran yang relevan, perbaikan struktur pembelajaran, serta pengembangan multi media pendukung pembelajaran.  Kata Kunci:     kecakapan hidup, pendidikan lingkungan hidup, sekolah dasar, madrasah ibtidaiya

    PROFIL MISKONSEPSI SISWA SD PADA KONSEP GAYA DAN CAHAYA

    Full text link
    ABSTRAKTelah dilakukan penelitian untuk mengetahui: 1). ada tidaknya miskonsepsi pada konsep Gaya dan Cahaya yang dimiliki siswa Kelas 5 SD di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar; 2). profil miskonsepsi  pada konsep Gaya dan Cahaya pada siswa Kelas 5 SD di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar.Penelitian ini dilakukan di SD yang berada di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar tahun ajaran 2005/2007, dengan menerapkan metode penelitian expost facto. Sumber data yang digunakan merupakan sumber data primer, karena peneliti menperoleh data langsung darisubjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa Kelas 5 Sekolah Dasar di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar. Dalam menentukan sampel penelitian digunakan teknik stratified random sampling, yang terdiri dari 50 siswa. Digunakan tes diagnostik untukmengukur (menilai) miskonsepsi pada konsep Gaya dan Cahaya. Untuk menjawab hipotesis penelitian digunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yaitu berupa analisis kualitatif tentang ada tidaknya miskonsepsi.Dari hasil analisis data ternyata terbukti bahwa siswa memiliki miskonsepsi pada konsep Gaya dan Cahaya. Pada sebagian besar konsep terjadi miskonsepsi, dengan tingkatan yang berbeda-beda. Adapun profil miskonsepsi yang dimiliki sebagian besar siswa (lebih dari 30%) adalah sebagai berikut: 1).Gaya hanya akan mempercepat gerak benda, tidak dapat memperlambat gerak; 2). Gaya tidak dapat membelokkan arah gerak benda; 3). Gaya magnet selalu berupa tarikan, sedangkan gaya gravitasi dapat berupa tarikan maupunl dorongan; 4). Berat benda di bumi sama dengan berat benda di bulan, karena massa benda di bumi sama dengan di bulan. 5). Setiap dua benda yang bersentuhan mengalami gaya gesekan; 6). Batang besi hanya dapat dijadikan magnet dengan digosok magnet dan batang besi tidak dapat dijadikan magnet dengan cara induksi); 7). Pesawat sederhana dapat memperkecil energi yang digunakan dalam bekerja; 8). Cahaya tidak dapat dipantulkan oleh setiap permukaan; 9). Di dalam sebuah medium cahaya dapat dibiaskan; 10). Benda dapat dilihat, jika ada cahaya dari mata sampai ke benda; 11). Benda dapat dilihat, apabila benda tersebut sumber cahaya; 12). Cahaya lampu neon dapat diurai menjadi cahaya warna pelangi, karena cahaya lampu neon adalah cahaya putih seperti cahaya putih matahari.Katakunci:miskonsepsi,profil miskonsepsi,konsep gaya dan cahaya

    354

    full texts

    365

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Prosiding Seminar Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇