Tugas Akhir Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    153 research outputs found

    PENGGUNAAN SARUNG BUGIS MAKASAR PADA PEMBUATAN BUSANA PESTA

    No full text
    8ABSTRAK   Andriana, Uul. 2013. Penggunaan Sarung Bugis Makasar Pada PembuatanBusana Pesta. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi DiplomaIII Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1)Dra. Esin Sintawati, M. Pd., (2)Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si.   Kata Kunci: Sarung Bugis Makasar, Pembuatan Busana Pesta Sarung  Bugis  Makasar  merupakan  salah  satu  hasil  tenunan  Indonesia,biasanya  sarung  ini  terbuat dari benang  sutera  yang berasal dari ulat  sutera  ataubiasa  disebut  dengan  “Kokon”. Sarung Bugis Makasar  pada  umumnya  bermotifkotak-kotak  yang  beraneka  ragam warna  dan  ukuran  serta mengandung  arti  danmakna  yang  berbeda. Dewasa  ini  sarung  Bugis  banyak  dibuat  dari  sutra  tiruan(rayon)  yang harganya  relatif  lebih murah. Penggunaan  sarung pada  saat  inipuntidak hanya untuk beribadah saja,  tetapi dapat dimodifikasi atau dijadikan bahankombinasi untuk sebuah busana, tidak terkecuali sebagai busana pesta. Pembuatan  busana  pesta  dengan  bahan  sarung  Bugis Makasar  dan  satindoff   terdiri  dari  beberapa  tahapan-tahapan  yaitu  persiapan  alat,  pengukuran,pembuatan pola, pecah pola dasar, pembuatan draft busana, rancangan bahan danharga,  proses  memotong  bahan,  proses  pressing,  proses  menjahit,  pengepasanbusana  dan  finishing.  Pada  saat  memotong  yang  harus  diperhatikan  adalahmenyamakan motif kotak-kotak pada  sarung karena motif kotak-kotak  termasukmotif sambung. Pada saat menjahit busana pesta ini membutuhkan ketelitian agarhasil  jadi  busana  ini  bagus  dan  rapi.  Proses  menjahit  busana  pesta  meliputi,menjahit  bahan  utama  bagian  badan, menjahit  hiasan  draperi  lengan, menjahitlengan  dengan  bagian  badan,  menjahit  bahan  utama  rok  dengan  lining  rok,menjahit hiasan draperi rok, menjahit badan bagian atas dengan bahan utama rokdan  memasang  zipper,  menjahit  krah,  menjahit  lining  bagian  badan,  menjahitlining  lengan  dengan  badan, menyambung/menjahit  lining  bagian  badan  denganbadan utama dan pembuatan korsase. Kesulitan dalam pembuatan busana ditemui pada  saat pemotongan bahansarung,  karena  pemotongan  pada  kain  sarung  harus  menyamakan  motif  kotak-kotak,  pemotongan  bahan  satin  doff    karena  sifat  kainnya  yang melangsai,  olehkarena  itu peletakan pola pada bahan sebaiknya searah. Sebelum memotong kainsarung,  pola  diatur  terlebih  dahulu  dengan  benar,  untuk  mengetahui  cukuptidaknya kain sarung yang digunakan sesuai dengan motifnya. Pada pemotongankain  sarung  dan  satin  doff  sebaiknya  dipressing  terlebih  dahulu  denganinterliningnya  agar  hasil  cutting  sesuai  dengan  pola.  Proses  menjahit  hiasandraperi warna  ungu  dan  pemasangan  hiasan  draperi  tidak  tampak  di  karenakansifat kain satin yang melangsai. Agar hasil sesuai dengan yang diinginkan, untukhiasan  draperi  warna  ungu  sebaiknya  dipressing  dengan  pelapis  (viselin  jenis 2000F) dan hiasan draperi diatur terlebih dahulu sebelum dijahit

    Pembuatan Busana Kerja Wanita Muslim Three Pieces dengan Blazer Double Breasted

    No full text
    ABSTRAK   Fatmasari, Dewi Novyalita. 2013. Pembuatan Busana Kerja Wanita Muslim Three Pieces Dengan Blazer Double Breasted. Tugas Akhir, Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I ) Anik Dwiastuti, ST., MT. (II) Dra. Rosanti Rosmawati, M.Sn.   Kata Kunci   : Busana Kerja Wanita Muslim Three Pieces Dengan Blazer Double Breasted Kehidupan manusia tidak lepas dari busana, busana merupakan kebutuhan pokok bagi manusia yang berfungsi sebagai penutup tubuh dan memberi keindahan, kenyamanan serta menunjukkan status sosial pada seseorang. Seiring dengan kebutuhan dan perkembangan mode busana kerja bisa berupa potongan rok dan blus atau berupa setelan yang dinamakan  three pieces. Three pieces merupakan pakaian yang terdiri dari tiga bagian atau potongan misalnya blazer dengan rok dan blus. Perkembangan busana kerja tidak sebatas itu saja akan tetapi busana kerja muslim menjadi pilihan tersendiri bagi wanita muslim yang mengenakan jilbab agar tetap tampil trendy dalam bekerja. busana kerja adalah busana yang dipakai untuk melakukan suatu pekerjaan dalam kehidupan sehari-hari.   Pembuatan Busana Kerja Wanita Muslim Three Pieces Dengan Blazer Double Breasted dimulai dengan membuat desain sketsa, desain produksi I dan II, pengambil ukuran standar, pembuatan draft, merancang harga dan bahan, fitting I, pengambilan ukuran model, revisi pola, cutting pada bahan utama, sewing pada bahan utama,  final fitting, finishing. Pada proses sewing blazer dilakukan menjahit garis princess, menjahit bahu, menjahit lubang kancing paspoal, press kerah setali, menjahit kerah setali, menjahit sisi blazer, menjahit lengan blazer, menggabungkan lengan blazer dengan kerung lengan, pasang padding, press manset, menggabungkan manset dengan lengan blazer, rompok pada kerung lengan, finishing atau menjahit kancing hias. Proses sewing blus dilakukan menjahit bahu, menjahit kerah tegak, menjahit kupnat, mengobras, menjahit kerung lengan dengan lapisan, finishing kelim bawah dan menjahit kancing hias. Pada proses sewing rok dilakukan menjahit tutup tarik, menjahit kupnat, menjahit garis hias rok, menjahit sisi, press bahan utama dengan m32, menjahit ban pinggang, finishing kelim bawah dan memasang hak. Busana kerja wanita muslim three pieces dengan blazer double breasted di lengkapi dengan jilbab untuk menunjang aktifitas wanita saat bekerja, cara mengenakan jilbab: pakailah ikat ninja, kenakan jilbab warna baby pink dengan cara miring, lipat bagian bawah jilbab sehingga menjadi double, sematlah jarum pentul pada sisi jilbab, lipat jilbab warna abu-abu memanjang , lingkarkan jilbab membentuk bunga dan semat dengan jarum pentul. Proses penyimpanan busana dengan cara di packing dalam plastik kemudian disimpan lemari dan diberi pengharum agar tidak bau, untuk proses pencucian dilakukan pencucian manual atau basah dengan cara direndam menggunakan detergen dan dikucek, bilas sampai bersih, jemur dengan cara diangin-anginkan agar warna tidak pudar

    pembuatan busana pesta berbahan denim dengan hisan sisik dan kerutan pita organdi

    No full text
    ABSTRAK   Nugraheni, Helena Surya Budi.2012.Party Dress Making Made Denim with n Ornament Organdi scales and Wrinkles. Final Project,Department of Industrial Technology, Fashion Sciens, Faculty of Technique, State University of Malang. Supervisor: I) Dra. Dwi Astuti S.A, M.Kes (II) Dra Nur Endah P., M.Pd.   Key Words : Scale, Ribbon Ornament Organdy Clothing is a primary need for human needs in addition to other requirements. According to the Indonesian fashion sense is anything that attaches to the body from head to toe. Besides clothing serves to give a sense of beauty and comfort of person. Fashion sense by Viani (1997:1) anything that we wear from head to toe and every thing in complementary such as bag, shoes, jewelry and every thing attached to it. Initially functioning as a functioning as a protective body clothing from the sun and cold. How ever, the clothing became an impotranpart in public life, because, it contain selesment of ethics and aesthetics community. Harmonius clothing thatenhances the appearance and matching us. Each dress has a center of interest that could attach the attention other when first sees. According to Sukarno Lanawati (2004:31) “A center of attention is party of the dress that gave the impression of unity. The function of the center of attention shortfalls and accentuate the beauty of the body with the technique of distraction”. The focus may be a small area for example in order to attract attention such as: color belts, collars, brooches and other. Party dress is a dress that used to attend an official event either party is formal, semi formal, or non formal. In general, party dress using material of satin, chiffon, silk or the like, because the material has as a luxurious and comfortable to wear. Many people assume only the above-mentioned types of material that can only be used as an ingredient as well as denim fashion party can only be made as a jacket, pants, or any other casual apparel, but could denim whit a variety of clothing. Selection of sand sequin decoration is aimed at giving the impression of light on the color of the dress, so it looks beautiful party dress. Clothing that the author made this time has a center of attention on the dress is decoration with sequin sand on the scales. Blue scales are inspired by sea water ornamental fish scales the blue devil. This fish is colored blue and white at the top. Denim fablic made from cotton fiber are woven diagonal is made rough by using centain additives. Complementary fashion is every thing that is added after wearing clothes, which has a specific function. Scales generally means a kind of a hard layer of skin and strand as in fish and chicken. Here the authors apply the scales with denim as clothing decoration. Wrinkles/ruffles is a pile made on a lice cloth applied to the house hold linen garments or other products to decorate. Based on the above, the author wanted to show something different that can be used denim as a fashion party. With ornate scale and wrinkles on the fashion party of the denim will look unique and elegant. More over, in line with the changing times denim has many kinds and colors making it easier for creating. In according with the back ground of the problems above, topics to be discussed manufacture of scales and organdy ribbon; the process of making a party dress made from denim. The purpose of this thesis about making a party dress. Explaining about the making of ornament scales and organdy ribbon wrinkles. The process of manufacture of clothing at

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MACROMEDIA FLASH PADA PEMBUATAN POLA KEMEJA UNTUK KELAS XI JURUSAN BUSANA BUTIK SMK NEGERI I POGALAN TRENGGALEK

    No full text
    ABSTRAK   Arini, Susan Windi. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran Macromedia Flash pada  Pembuatan Pola Kemeja untuk Kelas XI Jurusan Busana Butik SMK Negeri I Pogalan Trenggalek. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nur  Endah Purwaningsih, M. Pd, (II) Anik Dwiastuti, S.T., M.T.   Kata Kunci : Pengembangan, Media Pembelajaran, Pembuatan Pola Kemeja Media pembelajaran pada materi pembuatan pola yang tersedia saat ini bersifat konvensional dalam bentuk media cetak sehingga siswa cenderung pasif dan membosankan . Materi ini dirasa sulit untuk siswa kelas XI jurusan Busana Butik di SMK Negeri I Pogalan karena nilai ulangan harian siswa yang mengikuti materi pembuatan pola kemeja adalah 28% dengan nilai 70 – 75, 50% dengan nilai 76 – 80, 12% dengan nilai 81 – 85%, 10% dengan nilai 86 - 88. Oleh karena itu, perlu dikembangkan jenis media pembelajaran yang lain yaitu dalam bentuk macromedia flash. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan media pembelajaran dengan menggunakan macromedia flash pada mata pelajaran pembuatan busana pria dengan standar kompetensi pola kemeja untuk siswa kelas XI SMK Negeri I Pogalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pengembangan, yang diadaptasi dari model penelitian pengembangan Dick&Carey dan terdiri dari 10 prosedur yaitu (1) Identifying an Instruction Goal, (2) Conducting Instructional Analysis, (3) Identifying Entry Behaviors Characteristic, (4) Writing Performance Objectives, (5) Develop Criterion Refenced Test Items, (6) Develop Instructional Strategy, (7) Develop and Select Instructional Materials, (8) Desgnin and Conduct Formative Evaluation, (9) Revise Instruction, (10) Design and Summative Evaluation. Model pengembangan Dick & Carey akan selesai diteliti sampai tahap sembilan karena pelaksanaan langkah ke sepuluh merupakan langkah yang biasanya dilaksanakan tanpa melibatkan peneliti.Validasi produk dilakukan dengan penilaian ahli media dan ahli materi. Uji kelompok kecil dilakukan kepada siswa kelas XI Jurusan Busana Butik di SMK Negeri I Pogalan dan diamati oleh observer dalam pelaksanaan penggunaan media pembelajaran macromedia flash.. Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah data kuantitatif berupa prosentase, dan data kualitatif berupa tanggapan yang berisi komentar maupun saran, dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif. Hasil validasi media pembelajaran dari ahli media adalah 95% (sangat layak), hasil validasi media pembelajaran dari ahli materi adalah 82% (layak). Berdasarkan hasil dari validasi dari ahli media dan validasi dari ahli materi, produk media pembelajaran pada materi pola kemeja ini tidak perlu revisi tetapi peneliti melaksanakan revisi sesuai dengan saran dari ahli media dan ahli materi. Produk media pembelajaran pada materi pola kemeja, setelah direvisi kemudian di uji cobakan pada kelompok kecil. Hasil penilaian dari uji coba kelompok kecil adalah 84% (layak).  Hasil pelaksanaan pengunaan media pembelajaran macromedia flash  adalah 88% (sangat layak). Kelebihan media pembelajaran ini adalah: (a) Siswa dapat belajar materi pembuatan pola kemeja menggunakan media ini sesuai kebutuhan siswa (kapan saja), dimana saja, dan dapat diputar berulang – ulang selama ada komputer, (b) Media pembelajaran macromedia flash ini selain digunakan oleh siswa SMK Negeri 1 Pogalan Trenggalek, juga dapat dipelajari oleh siswa yang tidak sekolah di  SMK Negeri 1 Pogalan Trenggalek, pengusaha pembuatan busana pria dan masyarakat yang ingin mempelajari pembuatan pola kemeja. Kekurangan media pembelajaran ini adalah :(a) Materi pembuatan pola yang dikembangkan terbatas hanya materi pembuatan pola kemeja, (b) Langkah pengembangan media ini hanya sampai pada   ABSTRACT   Arini, Susan Windi. 2013.The Development Of  Macromedia Flash Learning Media On Shirt Pattern Making To Elevent Class Dressmaking Department SMKN I Pogalan Trenggalek. Mini Thesis, Industrial Technology Department, Faculty Of Techniques, State University Of Malang. Advisors:  (I) Dra. Nur  Endah Purwaningsih, M. Pd, (II) Anik Dwiastuti, S.T., M.T.    Keywords: Development, Learning Media, Shirt Pattern Making The learning media on shirt pattern making material now a days was in the conventional form of  of printed material which was generally used passively and boring. This s material difficult sense to elevent class dressmaking department SMKN I Pogalan Trenggalek student because student test value to follow pattern making shirt subject is 28% to value 70 – 75, 50% to value 76 – 80, 12% to value 81 – 85%, 10% to value 86 – 88. So, can development other the learning media of macromedia flash shape. The aim of the development research was to create a learning media using macromedia flash on man clothes making lesson with standard competence shirt pattern to elevent class dressmaking department SMKN I Pogalan Trenggalek student.  The method applied in this research was development research by using  a development research method, was adapted by a development research model Dick&Carey and consisted of 10 procedures: (1) Identifying an Instruction Goal, (2) Conducting Instructional Analysis, (3) Identifying Entry Behaviors Characteristic, (4) Writing Performance Objectives, (5) Develop Criterion Refenced Test Items, (6) Develop Instructional Strategy, (7) Develop and Select Instructional Materials, (8) Desgnin and Conduct Formative Evaluation, (9) Revise Instruction, (10) Design and Summative Evaluation. A development model Dick & Carey will finish carefully until nine procedure because do of ten procedure is usually do not present carefullier. The product validation was conducted by the help of media experts and material experts. The small group try out was conducted to elevent class dressmaking department SMKN I Pogalan Trenggalek student and observed by observer in do use macromedia flash the learning media. The data obtained in the research were quantitative data in the form of percentage, and the qualitative data in the form of descriptive data analysis.  According to the result of the learning media validation the media is 95% (very good), According to the result of the learning media validation the material is 82% (good). According to the result from media and material validation, it could be concluded that the product of the learning media on the shirt pattern making material in the form of macromedia flash should be not revised but do revised suitable suggestion from media and material. The learning media on shirt pattern making, based on the try out result of the small group. Value to the try out result of the small group is 84%(good). According to the result of the do use of  macromedia flash learning media is 88% (very good). The advantages of the learning media were: (a) student could be accessed anytime, as long as, there was a computer/ laptop with internet connection, (b) the macromedia flash the learning media could be used for the school SMK N I Pogalan Trenggalek student an no school SMKN I Pogalan Trenggalek student, man clothes making undertaker and society to long for study shirt pattern making. The disadvantages of the learning media were:(a) a development pattern making material only shirt pattern making , (b) a development procedure media only until try the small group procedure, on development Dick & Carey model

    Pembuatan Busana Pesta dengan Halter Neck Dress.

    No full text
    ABSTRAK   Ardiani, Eka Septi. 2013. Pembuatan Busana Pesta dengan Halter Neck Dress. Tugas Akhir. Program Studi DIII Tata Busana Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Anik Dwiastuti, S.T., M.T.; (2) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd.   Kata kunci: Halter Neck Dress, pembuatan busana.   Busana pesta dikembangkan melalui berbagai macam ide dan salah satunya adalah ide dari hewan bawah laut yaitu lobster. Busana dengan model halter neck dress menggunakan warna orange supaya lebih terlihat aura dari lobster. Halter Neck Dress adalah model gaun dengan model atasannya (tops) yang bagian leher seolah-olah menggantung pada leher dengan tali yang diikat pada bagian belakang leher dan membiarkan pundak serta punggungnya terbuka. Busana pesta dengan berbagai macam jenisnya dan perpaduan yang berbentuk gaun, pada pembuatan busana ini penulis menggunakan busana yang berbeda yaitu Halter Neck Dress, dan mengkombinasi warna monokromatis.   Berdasarkan hasil pembuatan “Pembuatan Busana Pesta dengan Halter Neck Dress” ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: (1) Pembuatan aplikasi anyaman pada busana pesta terdapar kesulitan pada saat menjahit aplikasi anyaman. (2) Membuat aplikasi anyaman dibagian sisi kanan kiri pada busana, pada bagian dalam aplikasi menggunakan bahan kain tile kasar. (3) Saat fitting model mengalami perubahan bentuk badan sehingga busana yang akan dipakai menjadi kekecilam pada bagian panggul untuk itu diperlukan tambahan 3cm pada sisi kanan kiri panggul dengan membongkar aplikasi anyaman untuk dijahit kembali. Mengerjakan busana pesta dengan Halter Neck Dress menurut pengalaman penulis harus dengan ulet dan sabar dalam menata aplikasi susun. Di samping itu juga membutuhkan ketelitian dalam memasangkan kain pengeras dan tile yang dipakai untuk aplikasi anyaman pada bagian badan busana pesta. Aplikasi anyaman bagian badan agar terkesan lebih tegak, diberi tile kasar sehingga aplikasi terkesan kaku. Karena tile kasar merupakan bahan kaku yang digunakan untuk mempertegas bentuk aplikasi. Sebelum fitting model dianjurkan untuk mempertahankan postur bentuk tubuh sehingga saat fitting tidak terjadi penambahan berat badan, dapat mempengaruhi busana yang sudah dibuat

    Pembuatan Busana Pesta Berbahan Kain Sarung dan Sulam Pita dengan Memadukan Dua Budaya

    No full text
    ABSTRAK   Takarina, Dian. 2010 Pembuatan Busana Pesta Anak Berbahan Kain Sarung dan Sulam Pita dengan Memadukan Dua Budaya. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Dwi Astuti Sih Apsari, M.Kes. (II) Dra. Nurul Aini, M.Pd.   Kata Kunci: Busana Pesta Muslim Anak, Sarung, Kain Sarung Bugis, Hanbok, Sulam Pita Busana pesta muslim anak adalah segala sesuatu yang dipakai anak-anak mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan digunakan pada kesempatan pesta dengan menggunakan bahan serta hiasan yang lebih meriah dan glamour, dilengkapi dengan penutup kepala atau kerudung. Penulis memilih busana pesta anak karena busana pesta tidak hanya digunakan oleh orang dewasa, anak-anak pun juga bisa menggunakan busana pesta. Terlebih model untuk busana pesta anak bisa lebih beragam karena anak-anak bisa mengekspresikan diri mereka melalui busana yang dikenakan. Sarung merupakan sepotong kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya sehingga berbentuk seperti pipa/tabung. Ini adalah arti dasar dari sarung yang berlaku di Indonesia. Dalam pengertian busana internasional, sarung (sarong) berarti sepotong kain lebar yang pemakaiannya dibebatkan pada pinggang untuk menutup bagian bawah tubuh (pinggang kebawah). Sarung bugis Makassar merupakan salah satu kerajinan daerah andalan dari sulawesi selatan, pembuatannya banyak di temukan di daerah Sengkang Kab Wajo.  Pembuatannya umumnya masih menggunakan bahan dan alat tradisional. Satu buah sarung dapat di buat sekitar 1 bulan lamanya oleh satu orang. Seperti halnya dengan kebanyakan kain dan sarung tenun dari berbagai penjuru Indonesia. Sarung Bugis juga memiliki motif atau corak sendiri, dalam bahasa Bugis disebut balo, yang juga bisa berarti hiasan atau warna. Corak ini menyiratkan simbol dan sarat kandungan nilai filosofi yang estetik dan eksotik. Hanbok (Korea Selatan) atau Chosonot (Korea Utara) adalah pakaian tradisional masyarakat Korea. Hanbok pada umumnya memiliki warna yang cerah, dengan garis yang sederhana serta tidak memiliki saku. Walaupun secara harfiah berarti pakaian orang Korea. Hanbok pada saat ini mengacu pada pakaian gaya Dinasti Joseon yang biasa dipakai secara formal atau semi-formal dalam perayaan atau festival tradisional. Sulaman  pita adalah salah satu teknik menghias kain dengan cara menjahitkan pita secara dekoratif keatas benda yang akan dihias sehingga terbentuk suatu desain hiasan baru dengan menggunakan berbagai macam tusuk-tusuk hias

    Pembuatan Busana Pesta Sarung Bugis dengan Hiasan Sulam Tangan

    No full text
    ABSTRAK   Arlis, Mafula.  2013.  Pembuatan  Busana  Pesta  Sarung  Bugis  dengan  HiasanSulam  Tangan.  Tugas  Akhir,  Jurusan  Teknologi  Indoustri,  Program  StudiDiploma  III  Tata  Busana,  Fakultas  Teknik,  Universitas  Negeri  Malang.Pembimbing:  (1) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd.,  (II) Dra. Dwi Astuti SihApsari., M. Kes.   Kata Kunci: Busana Pesta Sarung Bugis, Sarung merupakan salah satu dari sekian banyak warisan budaya yang adadi  Indonesia,  kegunaan  sarung  dalam  kehidupan  sehari-hari  digunakan  sebagaibusana  untuk  upacara  adat,  busana  untuk  kaum  pria muslim  beribadah,  busanauntuk kerja dan untuk busana sehari-hari, Sarung Bugis memiliki motif atau coraksendiri  yang menyiratkan  simbol  tersendiri  bagi  pemakai.  Salah  satunya  adalahmotif  ballo  renni,  motif  ini  mempunyai  lambang  bahwa  pemakainya  adalahseorang gadis yang belum menikah motifnya berupa garis vertikal dan horizontalyang  tipis,  memakai  warna  terang  yang  lembut.  Hiasan  sulaman  tangan  yangdigunakan  lebih  bervariasi  dengan memadukan  sulaman  pita,  payet  dan  benangdengan menggunakan warna yang terdapat pada warna motif sarungProses  pembuatan  busana  pesta  berbahan  sarung  dengan  hiasan  sulamtangan  ini dimulai dari pembuatan desain, pembuatan pola kontruksi, pembuatandraft  busana,  pembuatan  rancangan  bahan  dan  harga,  proses memotong  bahan,proses  pressing  interlining,  proses  menjahit,  fitting,  finishing  dan  menghiasbusana.  Pada  tahap  menjahit  busana  pesta  ini  membutuhkan  ketelitian  dalammenyamakan  motif  agar  hasil  jadi  busana  bagus  dan  rapi.  Langkah  pertamamenjahit blouse dan menyulam busana dengan  sulaman  tangan yaitu  sulam pita,payet  dan  benang  yang  diterapkan  pada  blouse  bagian  muka,  lalu  memasanghiasan  taburan  payet  dan  burci,  terdapat  lengan  yang  bersusun  yang  bagianujungnya  diberi  hiasan  burci  melingkar  pada  bagian  lengan  berbahan  duchesssetelah itu menjahit bagian rok dengan dijelujur terlebih dahulu bagian yang akandijahit agar motif sarung dapat menyambung, sama dan bagus. Tingkat  kesulitan  dalam  pembuatan  busana  ini  pada  menjahit  sarungdalam menyamakan motif karena bahannya bermotif kotak-kotak kecil, serat kainsarung  tipis  dan mudah  rusak.  Proses  pressing  lebar  alas  yang  digunakan  tidakseimbang dengan  lebar bahan dan membuat hasil bergelombang. Oleh karena  itudalam proses pressing diperlukan tempat yang luas dan dengan suhu setrika yangstandart pada saat pressing interlining agar hasilnya rapi dan bagus

    Analisis Fitting Faktor Blazer Menggunakan Pola Sistem "RIEEL Tailor" Pada Berbagai Postur Tubuh Wanita

    No full text
    ABSTRAK   Chahyani, Dwi, Wulan. 2013. Analisis Fitting Faktor Blazer Menggunakan Pola Sistem “RIEEL Tailor” Pada Berbagai Postur Tubuh Wanita. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd., (II) Anik Dwiastuti, ST, MT.   Kata Kunci: Pola Blazer “RIEEL Tailor”, 5 PosturTubuhWanita, Fitting Faktor   Pola adalah suatu potongan kain atau potongan kertas, yang dipakai sebagai contoh untuk membuat baju ketika bahan digunting. Potongan kain atau kertas tersebut mengikuti ukuran bentuk badan tertentu, sesuai dengan ukuran si pemakai. Fungsi pola ini sangat penting artinya bagi seseorang yang ingin menjahit pakaian dengan bentuk serasi mengikuti lekuk tubuh, serta membuat potongan lain dengan bermacam-macam model yang dikehendaki. Salah satu busana yang banyak yang digemari banyak kaum wanita karena bentuknya yang mengikuti lekuk tubuh ialah blazer. Blazer merupakan busana berbentuk jas atau semi jas, yang dapat dikenakan pada berbagai macam kesempatan, baik acara resmi maupun santai tergantung bahan dan model yang digunakan. Pembuatan pola blazer sangat penting untuk menghasilkan blazer yang bagus. Pola yang digunakan sangat mempengaruhi hasil jadi blazer. Pola blazer sistem “RIEEL Tailor” merupakan pola blazer yang praktis dan mudah diingat karena pembuatannya tanpa membuat pola dasar badan terlebih dahulu. Pola Blazer system “RIEEL Tailor” diujicobakan pada lima postur tubuh wanita yaitu, ideal, tinggi kurus, tinggi gemuk, pendek kurus, dan pendek gemuk. Ketepatan suatu busana dapat diukur dari titik pas atau fitting faktor. Fitting faktor adalah suatu lokasi atau titik pas pada busana yang menentukan sesuai atau tidaknya pola tertentu, untuk bentuk tubuh yang memakainya. Ketepatan posisi atau titik pas suatu busana dapat dilihat melalui pengepasan dengan cara memakaikan busana jadi yang dibuat menggunakan pola tertentu pada tubuh seseorang atau pada paspop. Dalam penelitian ini titik pas atau fitting faktor blazer menggunakan titik pas atau fitting faktor menurut Bapak Drs.Wahyanto yaitu pemilik sekaligus pengelola “RIEEL Tailor”.                   Jenis Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dimana penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil analisis fitting faktor pada pembuatan blazer dengan menggunakan pola sistem “RIEEL Tailor”. Ditinjau dari pendekatannya penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dasar dengan menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) untuk analisis datanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan hasil analisis fitting faktor pada pembuatan blazer dengan menggunakan pola sistem “RIEEL Tailor” yang dibuat pada lima postur tubuh wanita. Hasil kelima blazer yang telah dianalisis dapat disimpulkan bahwa pola blazer system “RIEEL Tailor” lebih cocok untuk postur tubuh yang cenderung ideal dan kurus serta kurang cocok untuk postur tubuh yang cenderung gemuk. Hal tersebut didukung beberapa hal antara lain: (1) Posisi lebar punggung dan lebar muka terlalu lebar, pada proses pembuatan pola untuk membentuk kerung lengan, bagian pangkal bahu dan titik lingkar badan dihubungkan namun pada posisi ini lingkar badan terlalu lebar sehingga apabila menghubungkan titik pangkal bahu dan titik lingkar badan terlalu lengkung dan tidak luwes, sehingga perlu dikeluarkan sedikit untuk menunjang bentuk kerung lengan, namun hasilnya lebar punggung dan lebar muka menjadi terlalu lebar. (2) Posisi panjang siku dan panjang lengan kurang tepat, hal ini disebabkan karena cara mengambil ukuran dengan menyambungkan metlyn tanpa terputus, mulai dari rendah bahu menuju pangkal bahu, panjang siku, dan panjang lengan, dalam proses pengukuran tersebut bisa saja metlyn bergeser dan merubah ketepatan ukuran yang sebenarnya. (3)Pola lengan bagian titik G atau pergelangan tangan kebawah turun 1,5 cm dan bagian bawah potongan lengan turun 1 cm, saat menjahit apabila ke dua titik ini dihubungkan maka akan terjadi selisih 0,5 cm. (4)Posisi lingkar pinggang terlalu naik dari posisi yang sebenarnya, hal ini disebabkan cara pengambilan ukuran yang kurang sesuai, cara mengambil ukuran lingkar pinggang diambil dari lengkuk terdalam punggung, sedangkan pada tubuh gemuk yang digunakan sebagai model, bagian lengkuk terdalam punggung tidak nampak, sehingga posisi lingkar pinggang tidak bisa terlihat. (5)Posisi saku yang kurang turun, untuk postur tubuh ideal, tinggi kurus, tinggi gemuk dan pendek kurus posisi saku kurang turun 3-4 cm. Namun pada postur tubuh pendek gemuk posisi saku tepat. (6)Pemilihan bahan yang kurang tepat. Pembuatan blazer dalam penelitian ini menggunakan kain drill. Jenis kain drill ternyata kurang cocok untuk pembuatan blazer, karena sifatnya yang kaku dan jatuhnya pada badan kurang bagus.Berdasarkanbeberapa hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa cara mengambil ukuran, pembuatan pola, dan pemilihan bahan yang tepat sangat mempengaruhi hasil akhir suatu blazer

    BUSANA KERJA MUSLIMAH DENGAN HIASAN ZIPPER

    No full text
    ABSTRAK   Sumardani, Mahlinda. 2013. Busana Kerja Muslimah dengan Hiasan Zipper.Tugas Akhir, Program Studi Diploma Tata Busana, Jurusan TeknologiIndustri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra.Idah Hadijah, M.Pd, (II) Anik Dwiastuti, ST., MT.   Kata Kunci: Busana Kerja Wanita, Busana Muslimah, Zipper. Busana kerja adalah busana yang digunakan untuk bekerja, bahan danmodelnya disesuaikan dengan jenis pekerjaan masing-masing. Busana muslimahadalah busana yang dapat menutupi aurat bagi umat islam dan tidak menunjukkanlekuk tubuh. Wanita muslimah juga memiliki aktivitas yang tinggi, sebagai wanita karirmereka dituntut untuk tetap terlihat cantik dan menarik. Jam kerja yang padatmenuntut mereka untuk dapat berdandan dengan cepat, sehingga tidak menyitabanyak waktu. Semua itu menjadi inspirasi bagi penulis bahwa busana kerja dapatdibuat dengan berbagai variasi tetapi tetap pada konsep busana kerja muslimah.Perkembangan busana muslim di Indonesia mengalami perkembangan yangcukup pesat. Penduduk yang mayoritas muslim serta kekayaan material danbudaya melimpah, ide kreatif, sumber daya alam dan budaya yang melimpahmenjadikan kekuatan tersendiri dalam perkembangan busana muslim tersebut.Busana kerja (formal work wear) juga tidak ketinggalan memadu padankanberbagai warna dan hiasan. Hiasan busana kerja formal kurang beragam dan monoton, dalam hal inipenulis memilih hiasan dari zipper yang berfungsi sebagai bukaan dan hiasan.Penulis memilih zipper karena warna zipper yang menarik dan dapat dapat diaplikasikan untuk berbagai bentuk hiasan. Berdasarkan materi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa wanita yangmempunyai aktivitas tinggi tetap dituntut untuk tampil menarik dalam waktu yangsingkat. Busana kerja dan busana muslim mengalami perubahan dari waktu kewaktu, zipper digunakan untuk bukaan busana dan juga hiasan sehingga dapatdijadikan aksen atau pusat perhatian. Penulis ingin menuangkan ide kreatif dengan pembuatan busana kerjamuslimah yang sedikit longgar, menggunakan bahan polyester dengan hiasanzipper sebagai aksen. Pembuatan busana ini dapat menghasilkan busana kerjayang terkesan tenang dan ceria serta dapat digunakan oleh kalangan menengah kebawah karena harga bahan yang terjangkau

    Tanggapan Pengelola Butik tentang Kompetensi Siswa SMK pada Program Keahlian Tata Busana

    No full text
    ABSTRAK   Rosida, Ayu, Fatwa. 2013. Tanggapan Pengelola Butik Tentang Kompetensi Siswa SMK Pada Program Keahlian Tata Busana. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Agus Hery Supadmi Irianti, M. Pd, (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd.   Kata Kunci : Tanggapan Pengelola Butik, Kompetensi, Tata Busana Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat dicapai melalui pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan dan perubahan pada masyarakat. Tujuan utama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu mempersiapkan siswa menjadi tenaga kerja handal dengan mengutamakan kemampuan kejuruan jenis tertentu. Namun kenyataannya cukup kontradiktif, SMK sebagai lembaga yang mempersiapkan lulusan siap kerja justru sebaliknya. Angka pengangguran tertinggi berdasarkan pendidikan didominasi oleh lulusan SMK. Salah satu cara untuk meningkatkan skill dan menambah pengalaman siswa SMK khususnya program keahlian tata busana yaitu dengan melaksanakan praktek kerja industri (prakerin). Prakerin merupakan bagian dari program pembelajaran yang dilaksanakan di dunia industri. Hasil survei menunjukkan sebagian siswa melaksanakan prakerin di butik. Kompetensi yang diberikan pengelola butik kepada siswa SMK yaitu kompetensi menjahit, menghias busana, membuat pelengkap busana, dan mengerjakan bagian finishing. Oleh sebab itu peneliti ingin mengetahui bagaimana tanggapan pengelola butik tentang kompetensi siswa SMK pada program keahlian tata busana. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel dari penelitian ini yaitu pengelola butik yang menjadi tempat prakerin siswa SMKN se-Kota Madya Malang yaitu SMKN 3 Malang, SMKN 5 Malang, dan SMKN 7 Malang yang berjumlah 13 pengelola butik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket dengan jumlah pertanyaan 46 item. Uji instrumen menggunakan uji validitas konstuk dan dinyatakan valid, sedangkan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha dengan nilai 0,828.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggapan dari 13 pengelola butik menyatakan bahwa: (1) siswa kompeten dalam menjahit busana butik, (2) siswa kompeten dalam menghias busana, (3) siswa kompeten dalam membuat pelengkap busana, dan (4) siswa kompeten pada bagian finishing busana butik. Simpulan; pengelola butik menyatakan bahwa kompetensi siswa prakerin pada program keahlian tata busana sudah kompeten. Saran; kepada pihak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) disarankan agar tetap mempertahankan kompetensi yang sudah dimiliki siswa dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan sesuai dengan perkembangan di dunia industri khususnya butik seperti, teknik menghias busana dan pelengkap busan

    0

    full texts

    153

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Tugas Akhir Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇