Tugas Akhir Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
153 research outputs found
Sort by
PEMBUATAN BUSANA READY TO WEAR TAI CHI
ABSTRAKRohmah, Atsna Lutfatur. 2019. ”Pembuatan Busana Ready To Wear Tai Chi”. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, UniversitasNegeri Malang, Pembimbing Dra. Endang Prahastuti, M.Pd. Kata Kunci: Busana, ready to wear, Svarga, Tai Chi, Yin dan Yang Yin dan Yang adalah simbol spiritual yang terkenal di dunia. Yin dan Yang identik dengan hitam dan putih, karena mereka menginspirasi pencipta untuk membuat pakaian jadi dengan nama Tai Chi. Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah untuk menjelaskan proses pembuatan pakaian jadi menggunakan Tai Chi.Pencipta telah selesai membuat busana dengan menggunakan sepuluh tahap yaitu: desain, mempersiapkan alat dan bahan, mengukur, merancang harga, membuat pola, cutting, sewing, fitting, finishing dan pemeliharaan busana. Proses Pertama adalah mendesain, dalam proses ini pencipta merancang dan menggambar desain busana. Kedua mempersiapkan alat dan bahan merupakan langkah awal dalam proses memproduksi busana. Ketiga mengukur adalah proses mengukur bagian tubuh tertentu yang akan digunakan untuk membuat pola. Keempat Merancang harga adalah deskripsi jumlah biaya yang dibutuhkan dalam membuat busana. Kelima membuat pola adalah selembar kertas yang merupakan prototype bagian dari pakaian atau produk menjahit. Keenam cutting adalah proses pemotongan kain mengikuti pola. Ketuju sewing adalah proses menyatukan potongan-potongan kain berdasarkan suatu pola, Kedelapan fitting adalah proses pengepasan sebuah pakaian kepada model. kesembilan Finishing adalah proses akhir produksi. Kesepuluh Pemeliharaan Busana adalah upaya untuk memperpanjang umur busana agar tetap terlihat indah .Berdasarkan hasil pembuatan Tai Chi, dapat disimpulkan bahwa pencipta menghadapi beberapa masalah terkait dengan motif bordir, proses menjahit dan proses pengepresan. Motif bordir membutuhkan pengulangan dalam proses membordir, dalam proses menjahit zipper sebaiknya disemat terlebih dahulu dengan jarum dan dijelujur dengan benang agar meminimalisir kesalahan. Untuk proses penyetrikaan hasil akhir sangat disarankan menggunakan setrika uap atau streamer, karena panas yang dihasillkan cukup stabil. Penggunaan dua zipper pada blouse kurang efisien dan untuk pakaian ready to wear harga busana terbilang mahal.ABSTRACTRohmah, Atsna Lutfatur. 2019. “The Process of Making Tai Chi: Ready-to-Wear”. Final Project, Departement of Industrial Technology, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Malang. Advisor: Dra. Endang Prahastuti, M.Pd. Keywords: Clothing, Ready-to-Wear, Svarga, Yin and Yang, Tai ChiYin and Yang is a world-famous spiritual symbol. Yin and Yang are identically with black and white, because it inspired creators to make ready-to-wear clothes with the name Tai Chi. Hence, the purpose of this Final Project is to explain the process of making ready-to-wear clothes that named Tai Chi.The creator has been finished to make it by ten stages, included: Design, Preparing tools and materials, Measuring, Designing Prices, Making patterns, Cutting, Sewing, Fitting, Finishing and maintaining Clothing.The First Process is Designing, in this process the creator designed and drew fashion designs. The second is preparing tools and materials that used to make ready-to-wear. The third is measuring to make ready-to-wear fix, creator conducted body measurement to the model. The fourth is planning the price of all of stuff that used to make ready-to-wear it can get benefit to determine the price of the clothes. The fifth is making pattern that accorded with the desingn. The next stage is cutting and than sewing. The eight stages is fitting, the creator must make sure the clothes fix with the model’s body. So that, Creator did the fitting process to make sure it. The ninth stages is finishing, the finishing process did by hand because the clothes needed more exclusive. The last stage is mainteningclothes, the aim of this process is to extend the life of clothes.Based on the results of making Tai Chi, it can be concluded that creator faced some problems related with embroidery motif, the process of sewing, and pressing process. The embroidery motif, it needed require repetition in the embroidery process.Because the motif that done already need more dominant. In the process of sewing open-end, the best way to sew it is to pinch with needle and baste it with thread to minimize errors before sew it. On the other hand, the pressing process needed more carefully
Motif Ethnic Wood Carving Mbis Statue Asmat
ABSTRAKFithriyana, K., Mellati, Pembuatan Busana Motif Ethnic Wood Carving Mbis Statue Asmat. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra.Endang Prahastuti, M.PdKata Kunci : Motif Ethnic, Wood Carving, Mbis Statue, suku AsmatPemilihan kata ethnic pada busana rancangan penulis merupakan motif yang terinspirasi dari hasil seni ukiran kayu yang berasal dari suku Papua yaitu suku Asmat. Sebagian besar penduduk suku Asmat menjadikan tema utama dalam proses pemahatan patung adalah mengambil tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut Mbis. Bagi penduduk asli suku Asmat, seni ukir kayu merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya. Rancangan busana penulis memiliki judul “Pembuatan Busana Motif Ethnic Wood Carving Mbis Statue Asmat”.Tujuan dalam pembuatan busana bertema ethnic karena ingin menciptakan rancangan busana berhubungan dengan Indonesia dan hasil seni yang telah diciptakannya sehingga dapat melestarikan budaya Indonesia agar dinikmati oleh anak, cucu hingga mancanegara.Proses pembuatan busana ini terdiri dari pembuatan desain sketsa, persiapan alat, pengukuran badan , pembuatan poladasar-pecah pola, pembuatan, rancangan bahan dan harga, proses cutting, proses menjahit hingga finishing dan hasil jadi busana.Kesimpulan pada pembuatan busana rancangan penulis adalah warna pada busana motif ethnic yang agak pudar terkesan seperti kusam akan tetapi busana tersebut memiliki makna dan simbol dari patung Mbis.Tone warna pada keseluruhan rancangan busana dominan warna coklat dikarenakan terinspirasi dari keseharian dan pakaian adat dari penduduk suku Asmat. pemeliharaan busana pada kain harus lebih berhati-hati terutama pada saat penyucian dan pengeringan karena dapat membuat kain rusak. Pressing pada kain terutama kain suede harus lebih berhati-hati, karena memiliki permukaan kasar dan bertekstur sehingga kain mudah rusak. Saran penulis dalam pemeliharaan busana dalam mencuci busana disarankan untuk mencuci dengan tangan, untuk pengeringan busana disarankan dijemur jangan terlalu lama. Proses penyetrikaan hasil akhir sangat disarankan menggunakan seterika uap, Hati-hati saat memilih bahan karena berpengaruh pada kain saat di printing. ABSTRACTFithriyana, K., Mellati, The process of making motif ethnic wood carving Mbis statue Asmat. Final Project, Departement of Industrial Technology, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Malang. Advisor: (1) Dra. Endang Prahastuti, M.Pd.Keywords: Ethnic Motif, Wood Carving, Mbis Statue, Asmat TribeAsmat tribe is one of the tribe from Indonesia. They famous with carving that made by wood. In the carving of wood that made by them, they have unique motif. Hence, the purpose of this final project is want to make clothing that inspired by Asmat tribe, especially in motif of the carving.In this Final Project, Creator made the clothing that used wood carving motif from Asmat tribe, it has been done by stages to finish this project. The first stage is design, in this process creator determined ide that inspired by wood carving motif from Asmat tribe. The second stage is determined main material in this process after creator found and bought the main material, creator drew the Asmat tribe motif that used some software. Furthermore, creator printed the motif to the main material. The third stage is body measurement, in this process, creator measured the body of model. The fourth stage is making patterns, in this process, creator prepare a basic pattern and break it down according to the size and the design of clothing that has been determined before. The fifth stage is cutting, in this process, creator cut the fabric in accordance with the design. The sixth stage is sewing, this process, creator sewed the clothing until finish, and then creator did finishing. Based on the process that had been done by creator, it can be concluded that the creator faced many problem included the first is the color of fabric is too faint because it the similar with the original color from Asmat tribe and the second is the problem with the pressing process, because the main material used suede fabric, creator must more carefull to do pressing. Creator suggested for the further final project that they can make some final project that inspired from other tribe
Painting Motif Stupa Modifikasi pada Busana Ready To Wear
ABSTRAKHardianti, Nike Puri. 2019. Painting Motif Stupa Modifikasi Pada Busana Ready To Wear. Tugas Akhir, Jurusan Teknlogi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang, Pembimbing Dra. Nurul Aini, M.Pd.Kata Kunci : ready to wear, memfokuskan creative febric, painting motif stupaCandi borobudur merupakan karya seni leluhur masyarakat Indonesia, sedangkan painting merupakan karya seni yang dibuat untuk menggambarkan ide seseorang. Candi borobudur dan painting memiliki kesamaan yaitu sama-sama karya seni. Penulis memilih teknik painting agar warna yang di hasilkan sesuai dengan warna stupa asli. Teknik painting juga memudahkan penulis untuk menggradasi warna agar motif stupa seakan-akan motif stupa timbul. Warna yang dipakai adalah gradasi warna abu-abu muda sampai abu-abu gelap.Berdasarkan hasil pembuatan busana ready to wear tersebut, diperoleh dua kesimpulan sebagai berikut. Pertama, Proses painting motif stupa modifikasi terdapat kesalahan pada saat painting, cat tembus pada kain bagian dalam sebab kain utama dan kain bagian dalam dijahit terlebih dahulu dan dasar motif stupa tidak dilapisi oleh minyak cat. Kedua, printing motif stupa modifikasi terdapat kesalahan pada saat pengaturan ukuran diphotoshop, sehingga motif terlalu besar dan tidak sesuai dengan yang dirancang.Adapun saran perbaikan dalam pengerjaan adalah: pertama, Proses painting motif stupa modifikasi untuk meminimalisir cat tidak tembus maka langkah awal kain utama dan kain bagian dalam tidak dijahit terlebih dahulu supaya memudahkan pada saat painting. Langkah kedua memberi minyak cat pada dasar motif stupa sebelum painting dan minyak cat juga berfungsi untuk mempercepat memblok warna agar lukisan bersih. Ketiga, bagian tepi printing motif stupa dineci terlebih dahulu pada lembaran kain untuk memudahkan pada saat meneci. Kemudian motif yang sudah dineci di potong sesuai bentuk motif, fungsi meneci motif terlebih dahulu sebelum di potong supaya tepi motif tidak bertiras. Menata motif pada celana sesuai desain, kemudian motif stupa dijahit tangan dengan teknik sum.ABSTRACTHardianti, Nike Puri. 2019. The Painting of Stupa Motif on Ready-To-Wear Clothing. Final Project of Fashion Diploma Program, Industrial Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Malang, Advisor Dra. Nurul Aini, M.Pd.Keywords: ready-to-wear, painting stupas motifThe purpose of this final project is to make ready-to-wear cloting that used stupa motif as decoration with painting technique. The reason is because the stupa of Borobudur temple has different characteristics from other temples. Borobudur temple is surrounded by three circular rows of 72 hollow stupas in which there are Buddha statues. Furthermore, painting technique used to paint the stupa on the ready-to-wear cloting. Because technique painting can help to make smilar color with original stupa. On the other hand, it made easy to grade the color. The process to make ready-to-wear clothing, it has been conducted with 8 stages, namely : design, pattern, material design, cutting, sewing, painting, fitting, finishing. The first step in this stages is the creator determined theme and than it made design to consider about the material and decoration. The second stages is pattern, in this process the creator did body measure of model and made patter in accordance to the design. The third stages is to determine material, in this stage the creator calculated the material that will use to make ready-to-wear clothing. The fourth stages is cutting. After creator prepared all of things, creator cut the material in accordance with the design. The fifth stage is sewing in this process, the creator sewed all of the fabric that cut already and than painted it with stupa motif. The process of painting, creator prepared the motif pattern, copying, painting and finishing. The next stages is fitting and finishing. Based on the results above, it can be concloded that in the painting process of stupa motif faced some problems, included; first, the paint that used on the ready-to-wear emerged in the behind of the fabric and lining and second, the size of motif used drawing program but the size did not same with the design. To improve the art work to the next project, creator suggested that before the painting process, the clothes donot sew between main material and lining. Because it can make the paint emerge to the lining. On the other hand, it can paint in other fabric first and than cut dan put in the main material
PEMBUATAN BUSANA READY TO WEAR DENGAN KONSEP “TALBAKJI CHEOYONGMU”
ABSTRAK Mutia, Dewi Mega. 2019. Pembuatan Busana Ready To Wear Dengan Konsep “Talbakji Cheoyongmu”. Tugas Akhir, Jurusan Teknlogi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: Agus Sunandar, S.Pd, M.Sn. Kata kunci :ready to wear, memfokuskan konsep, Talbakji Cheoyongmu. Busana merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia disamping kebutuhan makanan dan tempat tinggal.Hal ini pun tidak juga luput pada busananya.Busana siap pakai atau busana ready to wear adalah busana yang setiap hari dipakai oleh manusia dan diproduksi secara massal.Busana ini dapat langsung dibeli dan dikenakan tanpa harus melakukan pengukuran badan terlebih dahulu. Pembuatan desain busana dimulai dengan mengkaji karakteristik busana ready to wear kemudian memfokuskan tema dengan mencari sumber ide, serta menerapkan tema pada pengembangan desain. Tema yang di ambil adalah tarian topeng Cheoyoungmu yang berasal dari Korea, di mana topeng Cheoyongmu akan diwujudkan ke dalam creative fabric pada busana ready to wear. Busana ini memiliki judul tugas akhir pembuatan busana ready to wear dengan konsep Talbakji Cheoyongmu. Kata Talbakji memilki artian “Tal” (▪: topeng), dan “Talbak” atau “Talbakji: topeng penjaga) (Jeon Kyungwook :2005), sedangkan Cheoyongmu sendiri adalah seorang putra dari raja naga yang menjelma menjadi manusia . Gambaran Cheoyong yang sukses mengusir roh jahat dengan menari dan bernyanyi membuat orang-orang Korea pada zaman dahulu mengenal Cheoyong sebagai orang yang sakti, sehingga menginspirasikan sebuah tarian yang bermakna ritual yang mampu menghalau arwah jahat.Maka pengertian dari Talbkaji Cheoyongmu adalah Topeng Penjaga Cheoyongmu. Kesimpulan :Dalam pembuatan busana ini terdapat beberapa kesalahan antara lain pertama, kesalahan dalam mencetak ukuran motif printing disebabkan karena image resolution pada photoshop tidak diatur terlebih dahulu. Kedua, mengobras terlebih dahulu kain blackout yang hendak dibordir karena bahan mudah bertiras, dalam pengerjaan kelim kurang rapi. Adapaun saran perbaikan dalam pengerjaan adalah ; pertama pada saat mengcutting lapisan furing hero pada pinggiran bordir creative fabric topeng Cheoyongmu,kain hendaknya diberi kampuh 0,5 – 1 cm agar pinggiran bordir bisa lebih tertutup rapi. Pada saat mengaplikasian creative fabrics topeng Cheoyongmu pada bahan utama outer, kain seharusnya dalam keadaan terbentang tidak terlipat untuk menjaga agar tidak terjadi kesalahan.Yang terakhir pada saat memotong kain royal acetat, sebaiknya di setrika terlebih dahulu karena bahan mudah kusut.  
Penerapan Teknik Cutting Pada Busana Remaja Dengan Tema “Simply Digitally Colours"
ABSTRAK Maulida, Amalia. 2018. Penerapan Teknik Cutting Pada Busana Remaja Dengan Tema “Simply Digitally Colours". Tugas Akhir, Teknologi Industri, Program Studi Diploma III Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Nurul Hidayati, S.Pd.,M.Sn. Kata Kunci: Cutting, Busana Remaja Ready To Wear, Simply Digitally Collours Teknik cutting diterapkan karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi serta melambangkan sifat digitarian yang ingin bereksperimen hal-hal baru yang berbeda serta terinspirasi dari lorong dimensi yang terlihat berpotong-potongan di bangunan Riversible Destiny Lofys Mitaka yang terdapat di Tokyo tepatnya di Mitaka. Kemudian menerapkannya dalam busana kategori remaja. Busana remaja adalah busana yang dikenakan wanita remaja kisaran usia 13-21. Disini penulis membuat pakaian remaja ready to wear. Ready to wear adalah busana yang bisa langsung dipakai dengan mudah tanpa harus melakukan pengukuran badan dan memesan desainnya terlebih dulu seperti saat membuat busana couture atau memesan baju ke penjahit. Busana siap pakai juga tidak membutuhkan fitting berkali-kali untuk menyesuaikan dengan tubuh. Busana Ready To Wear memiliki pola yang sederhana dan pemilihan bahan yang efisien. Busana ini bisa dipakai diacara formal maupun non formal. Penulis ingin mewujudkan busana remaja yang dapat mewakili karakter generasi Z yang terbuka dengan moderenisasi, kuat dan berani untuk mencoba hal-hal yang baru. Penulis mengkolaborasikan tema digitarian dengan gaya casual dan mengemasnya dalam tampilan arty style. Dengan mengkombinasikan garis desain geometis, potongan asimetris, memunculkan beberapa warna yang terdapat pada lorong dimensi tersebut, serta menggunakan bahan duchess untuk memperkuat sifat tegas pada busana ini. Semua unsur tersebut penulis wujudkan dalam bentuk blouse cropty dan rok asimetris. Kesimpulan pada busana ini adalah membutuhkan ketelitian dan kesabaran saat menjahit sambung potongan-potongan busana, karena sulitnya menjahit sambung pada bagian sudut siku-siku. Kemudian pada saaat proses pemasangan kain viseline dan juga saat pressing, suhu setrika tidak boleh terlalu panas. Serta agar hasil maksimal lakukan pressing setiap kali selesai menyambungkan
Penerapan geometric cutting technique pada busana muslim wanita
RINGKASAN Indika, Rifkah Izza. 2018. Penerapan geometric cutting technique pada busana muslim wanita. Tugas Akhir, Pendidikan Vokasi, Program Studi Diploma III Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Nurul Hidayati, S. Pd, M. Sn KataKunci : Busana muslim, Ready To Wear, Cutting Technique Busana muslim adalah pakaian atau busana yang dipakai semua umat Islam baik itu laki-laki maupun perempuan dalam aktivitas keseharian. Busana muslim bertujuan untuk menutup aurat penggunanya yang tidak boleh dilihat oleh orang lain yang bukan mahramnya. Ready To Wear atau yang lebih dikenal dengan istilah RTW adalah istilah untuk produksi busana secara masal dan siap dipakai tanpa harus melakukan pen gukuran badan dan memesan desainnya terlebih dulu. Biasanya baju ready to wear di produksi secara masal dan tersedia dalam ukuran-ukuran standar yang biasanya terdiri dari ukuran XS, S, M, L dan XL. Cutting Technique atau Teknik cutting adalah suatu proses pemotongan kain atau bahan sesuai dengan pola yang telah dibuat pada kertas marka atau kain sehingga akan diperoleh hasil potongan sesuai ukuran busana maupun bentuk yang diinginkan. Proses cutting terdiri atas beberapa tahap yakni marking, spreading, cutting dan rader. Tujuan penulisan ini untuk memberi informasi kepada kalangan luasa agar lebih mengenal tentang cutting technique dan memberi informasi tentang pembuatan busana muslim wanita dengan menggunakan cutting technique
Pembuatan Cape dan Dress Avantgarde " The Deer Princess"
ABSTRAK Savindari, Viva Novana. 2016. Pembuatan Busana Avantgarde “The Deer Princess”.Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi Diploma III Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd. Kata Kunci: busana avantgarde, the deer princess Busana avantgarde merupakan bentuk karya yang bersifat kreatif, unik dalam desain serta teknik pengerjaannya. Busana avantgarde hanya dipakai untuk acara khusus atau hanya untuk show karena model yang aneh dan unik sehingga tidak bisa dipakai sehari-hari. Konsep busana avangarde ini terinspirasi dari kerajaan yang ada dipulau jawa yaitu Mataram kuno. Kerajaan Mataram kuno memiliki berbagai peninggalan seperti candi dan prasasti. Ada beberapa candi peninggalan kerajaan Mataram kuno seperti Candi Sewu, Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Mendut. Dengan peninggalan tersebut penulis memilih salah satu peninggalan yaitu Candi Prambanan. Pada Candi Prambanan terdapat relief rusa, rusa tersebut menginspirasi penulis untuk mewujudkan sebuah busana avantgarde dengan tema “The Deer Princess”. Pembuatan busana avantgarde “The Deer Princess” terdiri dari beberapa tahapan yaitu persiapan alat, desain (tema, storyboard, moodboard, desain sketsa, desain produksi), pembuatan pola dan pecah pola, cutting bahan utama, sewing, finishing, perawatan dan penyimpanan. Kesimpulan dari pembuatan busana avantgarde “The Deer Princess” yaitu proses pembuatannya dimulai dari desain hingga penyelesaian. Pembuatan pola harus dilakukan dengan teliti dan sesuai dengan ukuran. Pada proses menjahit juga membutuhkan ketelitian karena busana ini memiliki banyak potongan. Dalam proses menjahit bustier dan rok harus sesuai dengan tanda pola agar jahitan rapi
Teknik Pembuatan Two piece Menggunakan Aplikasi Rawis Pada Busana Muslim Ready to Wear
ABSTRAK Anwari, Rofida. 2018. Teknik Pembuatan Two Piece Menggunakan Aplikasi Rawis Pada Busana Muslim Ready To Wear. Tugas Akhir, Pendidikan Vokasi , Program Studi Diploma III Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. IdahHadijah, M.Pd KataKunci: Busana muslim, Ready to wear, Two piece, Rubik Busana muslim yang di buat merupakan busana ready to wear 2 piece yang terdiri dari blus dan rok yang memiliki aplikasi serta variasi tambahan yang akan mempertegas garis busana, bahan yang di gunakan terbuat dari serat bahan alami yang konvensional dan mudah di dapat yakni berupa kain linen dengan perpaduan warna yang mengkombinasikan warna soft dan bold dalam 1 busana. Terinspirasi dari rubik yang merupakan sebuah permainan teka-teki berantai (puzzle) mekanik. Aplikasi kotak kotak yang di buat dengan cara menggabungkan teknik rawis dengan teknik lekapan akan mewakili bentuk dasar dari rubik yang ingin di tampilkan pada pembuatan blus dan rok tersebut. Pembuatan busana ini melalui langkah-langkah berikut :(1) Desain (2) Pembuatan Pola dan Pecah Pola (3) Cutting (4) Sewing (5) Fitting (6) Finishing. Tingkat kesulitan pada busana ini yaitu : (1) Pembuatan pola pada busana ini membutuhkan kecermatan dalam mengukur dan menandai. (2) Terdapat banyak potongan pada blus busana ini di harapkan setelah dilakukan proses cutting untuk menandai bagian potongan kain. (3) Dalam pembuatan busana ini memerlukan pressing dengan intensitas maksimal ketika selesai satu langkah proses jahit yang di maksudkan untuk memperoleh hasil akhir dengan kerapian maksimal. Kesimpulannya adalah busana ini membutuhkan ketelitian ketika membuat pecah pola, proses potong dan menjahit potongan potongan bagian blus. Kemudian dalam pembuatan busana ini bahan yang di gunakan ialah linen dikarenakan kain yang memiliki tekstur agak kaku tetapi mudah di bentuk namun ketika akan menggunakan busana ini lebih baik jika di setrika dengan tingkat kepanasan yang maksimal agar mendapatkan hasil yang maksimal ketika akan di gunakan.
Teknik Penerapan Aplikasi Pada Blouse Ready To Wear
RINGKASAN Salsabila, Daniyah .2018. “Teknik Penerapan Aplikasi Pada Blouse Ready To Wear”. TugasAkhir,PendidikanVokasi, Program Studi Diploma III Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Kata Kunci:Ready to wear, Digitarian, classic elegant, blouse, appliqué Mengkolaborasikan tema Digitarian kedalam busana wanita menggunakan konsep moderen dengan gaya classic elegant yang terkemas dalam busana ready to wear. Orang-orang yang memiliki gaya classic elegant ini selalu memiliki tampilan sempurna dengan tidak berlebihan tetapi tetap menarik perhatian. Serta mengkombinasIkan gaya yang simpel dan warna yang kuat, semua unsur tersebut dipresentasikan dalam bentuk blouse dengan tambahan aplikasi yang membentuk motif vertikal, outer dan, celana kulot. Busana yang dihasilkan adalah blouse, outer, dan celana kulot dengan konsep modern dengan gaya classic elegant. Kesimpulan dari pembuatan blouse, outer dan celana kulot ini adalah mengalami kesulitan saat melakukan proses menjahit aplikasi karena kain yang digunakan bertiras sehingga perlu dibalut menggunakan bisban. Perlu keuletan dan rasa pantang menyerah supaya hasil yang didapat sesuai dengan apa yang kita inginkan
PEMBUATAN BUSANA AVANTGARDE “BALINESE LOST QUEEN ”
ABSTRAK Kholidah, Fajriatul. 2017. Pembuatan Busana Avantgarde “Balinese Lost Queen”. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Endang Prahastuti, M.Pd. Kata Kunci: busana avantgarde, Balinese Lost Queen Bali merupakan salah satu budaya Indonesia yang memiliki beberapa kerajaan dan peninggalan kuno, sehingga hal tersebut menjadi sebuah konsep untuk pembuatan sebuah busana avantgarde ”Balinese lost queen” Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah menjelaskan cara pembuatan busana avantgarde ”Balinese lost queen”. Pembuatan busana ini terdiri dari beberapa tahapan seperti pembuatan desain (tema, storyboard, moodboard, konsep desain, sketsa, dan desain produksi), persiapan bahan dan pemilihan bahan, pengambilan ukuran, pembuatan pola dan pecah pola, pembuatan draft basic, merancang bahan, proses memotong bahan , sewing, finishing, hasil jadi, dan perawatan dan penyimpanan. Kesimpulan Pembuatan pola pada busana ini membutuhkan kecermatan dalam mengukur karena terdapat banyak potongan, Proses membentuk draping membutuhkan ketelitian dan kerapian sehingga dapat membentuk draping, Drapping seharusnya digabungkan dengan bagian busana yang lain supaya menjadi threepiece, Dalam pembuatan headpiece harus diperhatikan ukuran lingkar kepala supaya pada saat dipakai pada model tidak jatuh atau pas. Sedangkan saran dalam pembuatan busana ini adalah Proses membentuk draping membutuhkan ketelitian dan kerapian sehingga dapat membentuk draping, Draping seharusnya digabungkan dengan bagian busana yang lain supaya menjadi threepiece, Dalam pembuatan headpiece harus diperhatikan ukuran lingkar kepala supaya pada saat dipakai pada model tidak jatuh atau pas.