Tugas Akhir Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    153 research outputs found

    STUDI TENTANG PERKEMBANGAN TENUN LURIK PEDAN DI KABUPATEN KLATEN JAWA TENGGAH

    No full text
    ABSTRAK   Tenun lurik Pedan merupakan salah satu dari kekayaan budaya  Indonesia. Daerah Pedan merupakan sentra pembuatan tenun lurik sejak tahun 1950 yang memiliki 500 penusahadan 60.000 pekerja. Namun semenjak adanya mesin tekstil  yanglebih modern banyak pengusaha yang  merugi hingga saat ini hanya ada puluhan pengusaha tenun lurik, dan disamping itu ada yang  bertahan dengan cara mengembangkan baik motif, bahan dan warna. Perkembangan tenun lurik tersebut tidak banyak dilketahui oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang motif, warna, dan bahan dari tenun lurik Pedan Kabupaten Klaten. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, hasil data dalam penelitian ini berupa kata-kata.Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini untuk menguji keabsahan data yang telah diperoleh, menggunakan ketekunan pengamatan dan triangulasi. Untuk  menganalisis data dalam penelitian ini menggunakan empat alur, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verfikasi. Berdasarkan hasil penelitian analisis tersebut diperoleh tiga hasil kesimpulan sebagaiberikut : (1) tenun lurik sudah berkembang dari segi motif, warna dan bahan, namun Kabupaten Klaten masih belum memiliki motif khastersendiri; (2)tenun lurik Pedan yang dihasilkan menggunakan berbagai jenis benang katun, sutra dan poliester; (3) Warna tenun lurik identik dengan warna gelap. Perkembangan saat ini warna yang dihasilkan saat ini lebih cerah dan memiliki banyak inovasi warna. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: (1) Adanya perkembangan motif tersebut hendaknya  di imbangi dengan menciptakan motif tenun lurik yang khas dengan Klaten, misalnya membuat motif padi atau beras karena mayoritas penduduk di Klaten adalah petani (2) Penggunaan katun misris untuk semua tenun yang digunakan agar tenun lurik tersebut nyaman saat dikenakan, karena minat beli konsumen selain pada motif yang menarik bahan tenun yang di gunakan juga menjadi prioritas utama; (3)Upaya pengusaha tenun lurik dalam meningkatkan jenis warnatenunlurikdiharapkanbisamenjadimotivasiuntukindustri yang lainnya, agar perkembangan tenun lurik merata pada di daerahPedan. Pemerintah setempat turut memberikan sosialisasi terkait dengan warna tekstil

    Pembuatan Busana Avant Garde “Uniqueness Motive in Tongkonan House”

    No full text
    ABSTRAK    Evina, Septia Ria. 2017. Pembuatan Busana Avant Garde “Uniqueness Motive in Tongkonan House”. Tugas Akhir, Teknologi Industri, Program Studi Diploma III Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si   Kata Kunci: Busana Avant Garde, Uniqueness Motive in Tongkonan House, Creative Fabric Busana Avant Garde merupakan busana yang menuangkan ide kreativitas dengan tingkat penciptaan terbaru serta nilai seni yang tinggi, mewujudkan bentuk yang muncul dari ide dan menciptakan bentuknya sendiri, dan secara awam sering dipandang eksentrik. Konsep desain busana yang terinspirasi dari keunikan salah satu motif ukiran rumah adat Tana Toraja yaitu ukiran Pa’ Bulu Londong. Pa’ Bulu Londong memiliki arti seperti bulu rumbai ayam jantan. Letak dan posisi ukiran ini pada birai dinding rumah dan lumbung padi. Maknanya yaitu melambangkan keberanian anak laki-laki, seperti ayam jantan. Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk menjelaskan cara pembuatan busana Avant Garde “Uniqueness Motive in Tongkonan House”. Pembuatan busana ini terdiri dari beberapa tahapan seperti pembuatan desain (tema, storyboard, moodboard, konsep desain, sketsa, dan desain produksi), persiapan alat dan bahan, pengambilan ukuran, pemilihan bahan, pembuatan pola dasar dan pecah pola, cutting, sewing, finishing, final fitting, dan pemeliharaan busana. Kesimpulan dan saran dalam pembuatan busana ini yaitu, sebaiknya busana Avant Garde menggunakan bahan yang tebal namun tidak keras, sehingga mudah dalam proses sewing. Jika akan dibuat jas, sebaiknya menggunakan pola jas yang menggunakan garis princess tanpa garis sisi, beserta juga dengan lengannya. Teknik pemasangan furing seharusnya dibuat lapisan menurut bentuk ujung lengan, sehingga tampak lebih rapi

    Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Daster Bordir Marsalia Malang

    No full text
    ABSTRAK   Dita Irmawati. 2016. Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Daster Bordir Marsalia Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Busana, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Endang Prahastuti, M.Pd. (2) Dra. Esin Sintawati, M.Pd.   Kata Kunci: Atribut produk, keputusan pembelian konsumen, daster bordir Produk kerajinan yang beragam mendorong produsen untuk memiliki nilai kreatifitas dan inovatif yang tinggi. Oleh karena itu, atribut produk dapat digunakan untuk mendukung produk yang dapat dijadikan pertimbangan konsumen untuk membeli suatu produk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh secara parsial maupun simultan atribut produk (harga, merek, kemasan, desain) terhadap keputusan pembelian konsumen daster bordir Marsalia Malang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kausatif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah konsumen daster bordir Marsalia Malang. Metode yang digunakan untuk menentukan responden adalah metode probability sampling dengan teknik simple random sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 51 responden.  Skala pengukuran instrumen yang digunakan adalah skala guttman.  Analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, harga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen daster bordir Marsalia Malang koefisien b1 yang diperoleh bernilai positif 0,751dan sig. 0,000. Kedua, merek berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen daster bordir Marsalia Malang koefisien b2 yang diperoleh bernilai positif 0,514dan sig. 0,005. Ketiga, kemasan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen daster bordir Marsalia Malang koefisien b3 yang diperoleh bernilai positif 0,684dan sig. 0,010. Keempat, desain berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen daster bordir Marsalia Malang koefisien b4 yang diperoleh bernilai positif 0,452dan sig. 0,007. Terdapat pengaruh secara simultan antara atribut produk terhadap keputusan pembelian konsumen daster bordir Marsalia Malang (Fhitung  49,319 dan sig 0,000). Atribut produk memiliki pengaruh yang positif terhadap keputusan pembelian konsumen daster bordir Marsalia Malang. Oleh karena itu, bagi pelaku usaha atribut produk penting untuk meningkatkan minat beli konsumen yang dapat membentuk sikap loyal pada produk tersebut. Bagi peneliti selanjutnya untuk memperluas faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian, selain atribut produk harga, merek, kemasan, dan desain. Sehingga dapat menjadi temuan-temuan baru dibidang fashion marketing

    Perpaduan Kain Prada Bali dan Kain Lurik pada Pembuatan Busana Avantgarde

    No full text
    ABSTRAK Busana merupakan salah satu kebutuhan primer selain pangan dan papan. Awalnya bentuk dasar busana dibuat berdasarkan fungsinya yakni melindungi tubuh dari gangguan binatang dan sinar matahri. Bentuknyapun masih sederhana dan bahan yang digunakan terbuat dari kulit pohon dan kulit binatang. Dewasa ini selain fungsi utama melindungi tubuh, busana juga dibuat untuk menunjukkan identitas diri seseorang. Oleh karenanya banyak jenis-jenis busana yang ada saat ini, salah satunya avantgarde. Avantgarde ini merupakan style yang bentuknya ekstreme, istilah avantgarde sering dikaitkan dengan dunia seni, kebebasan berekspresi dalam sebuah karya sangat ditonjolkan.Bahan yang digunakan untuk pembuatan busana ini antara lain kain Santung, kain Moskrep (crepe), kain Prada Bali serta kain Lurik. Kain Prada Bali merupakan busanatra disional Bali yang dipakai oleh kaum wanita, kain ini biasa dipakai penari Bali pada saat melakukan pertunjukkan. Selain kain Prada Bali, busana ini juga memadukan kain Lurik dari Kota Solo Jawa Tengah, Lurik merupakan kain dengan motif bergaris-garis kecil yang secara tradisional merupakan pakaian khas pria warga pedesaan dikalangan suku Jawa. Sedangkan warna yang digunakan adalah warna hitam, abu-abu tua, coklat muda, coklat tua, kuning dan emas.Detail dari busana yang dibuat terdiri dari satu bagian atau one piece yakni berbentuk blus dengan bagian atas terdapat bustier atau kamisol, terdapat rok span dengan hiasan peplum 8 (delapan) lapis serta rok ½ (setengah) lingkaran pada bagian lutut. Pembuatan busana ini melalui langkah sebagai berikut; (1) Desain, (2) Pengukuran, (3) Pembuatanpola, (4) Cutting, (5) Sewing, (6) Fitting, (7) Finishing. Tingkat kesulitan pada pembuatan busana ini yaitu; (1) Desain yang dibuatkurang megah karena terlalu simple untuk busana avantgarde, (2) Pada saat pemasangan peplum kebagian bustier atau kemben, sebaiknya peplum dijahit terlebih dahulu, kemudian disambungkan pada rok span dan bustier atau kemben, (3) Pada rok bawah sebaiknya lebarlingkaran dibuat bertahap

    Studi Pemanfaatan Sarana Prasarana di Laboratorium Menjahit pada Pembelajaran Pembuatan Busana (Custom-Made) Program Keahlian Busana Butik di SMK Negeri 5 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Farida, Novia. 2017. Studi Pemanfaatan Sarana Prasarana di Laboratorium  Menjahit pada Pembelajaran Pembuatan Busana (Custom-Made)  Program Keahlian Busana Butik di SMK Negeri 5 Malang. Skripsi,  Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang.  Pembimbing : (I) Dra. Idah Hadijah, M.Pd., (II) Nurul Hidayati, S.Pd.,  M.Sn.   Kata Kunci : Sarana Prasarana, Pembelajaran, Pemanfaatan  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan jenjang pendidikan yang mengutamakan pengembangan kemampuan dan keterampilan peserta didik agar siap untuk melaksanakan pekerjaan tertentu. SMKN 5 Malang berupaya mengem-bangkan keterampilan peserta didik melalui pembelajaran praktikum di laborato-rium, namun kondisi sarana prasarana laboratorium di SMKN 5 Malang belum memenuhi standar. Oleh sebab itu, sekolah sudah seharusnya menyediakan sarana prasarana yang menunjang sesuai dengan standar agar dapat dimanfaatkan peserta didik dalam pembelajaran sehingga pembelajaran dapat dilaksanakan dengan maksimal sarta tujuan pembelajaran dapat tercapai.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemanfaatan sarana dan prasarana di laboratorium menjahit pada Pembelajaran Pembuatan Busana (Custom-Made) di SMKN 5 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XII Busana Butik. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen berupa angket tertutup dengan sejumlah 53 item pernyataan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana dan prasarana laboratorium menjahit pada umumnya sudah dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran Pem-buatan Busana (Custom-Made). Pemanfaatan laboratorium tersebut meliputi sarana di laboratorium 1, laboratorium 2, dan laboratorium 3 yang sudah dimanfaat¬kan dalam pembelajaran, namun terdapat sarana yang kurang dimanfaatkan yaitu ketersediaan alat jahit pokok dan ketersediaan alat jahit penunjang di laboratorium 1. Prasarana di laboratorium 1, laboratorium 2, dan laboratorium 3 sudah dimanfaat¬kan dalam pembelajaran dan terdapat prasarana yang kurang dimanfaatkan yaitu keamanan dan kesehatan di laboratorium 1.  Bagi pihak sekolah diharapkan agar dapat lebih memperhatikan dan menyi¬apkan fasilitas sarana prasarana laboratorium menjahit sesuai standar yang telah ditetapkan supaya peserta didik dapat menggunakan semua fasilitas labora-torium yang dibutuhkan ketika mengikuti pembelajaran. Selanjutnya, guru di-harapkan dapat mengarahkan dan membimbing peserta didik agar peserta didik dapat memanfaatkan sarana prasarana yang tersedia dengan maksimal sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran praktikum dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

    Penerapan Motif Tato Tedak Usuu pada Busana Avant Garde.

    No full text
    ABSTRAK Febriani, Prima. 2016. Penerapan Motif Tato Tedak Usuu pada Busana Avant Garde. Tugas Akhir, Program Studi Diploma III Tata Busana, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nurul Aini, M.Pd, (II) Anik Dwiastuti, S.T., M.T Kata Kunci: Motif, Tato, Tedak Usuu, Busana Avant Garde.Motif ragam hias merupakan suatu motif yang memiliki ciri khas dengan keluhuran budaya nenek moyang Indonesia, motif ini tidak hanya ditemukan pengaplikasiannya pada kain tetapi juga pada perabot rumah tangga, namun pada masayarakat tertentu motif juga diaplikasikan di atas kulit tubuh atau biasa disebut tato. Di Indonesia, salah satu suku yang masih memegang teguh tato sebagai media komunikasi kearifan leluhur dengan generasi penerusnya adalah Suku Dayak di pulau Kalimantan-Indonesia Keanekaragaman  motif tato yang dimiliki Suku Dayak, terdapat salah satu motif tato yang khusus diapikasikan hanya pada kulit wanita yaitu  motif tato Tedak Usuu dari Suku Dayak Kayan Kalimantan. Tedak Usuu merupakan motif tato yang digunakan oleh wanita Dayak Kayan yang telah beranjak dewasaTato ini digunakan sebagai penanda terhadap adanya perubahan status seorang gadis yang mulai mengemban tanggung jawab sebagai seorang wanita dewasa serta sebagai pelindung dari roh jahat(hasil wawancara dengan Komunitas Tato Motif Dayak, 7 Maret 2016). Peletakkan motif tato pada tubuh gadis ini dijadikan penanda perubahan status seorang gadis yang telah beranjak dewasa.Inspirasi busana Smart Textile dengan modifikasi motif tato Tedak Usuu ini akan diaplikasikan  pada busana Avant Garde dengan nama “The Christalium Ethnica of Dayak Tatto”. Judul ini dipilih dengan harapan agar busana Avant Garde ini dapat hadir sebagai busana yang dapat mengabungkan kearifan lokal dengan budaya global dengan wujud gaya busana yang glamor dalam balutan warna hitam, merah, gold dan silver. Penerapan motif dalam busana ini akan diwujudkan dengan teknik inkrustasi. Busana ini akan terdiri dari baju, rok dan headpiece. Adapun proses pembuatan busana ini terdiri dari beberapa tahapan diantaranya yaitu menentukan konsep busana, membuat desain, persiapan alat dan bahan, pengambilan ukuran, membuat pola, membuat draf, pengepasan draf, rancangan bahan dan harga, memotong bahan, membuat motif dengan menggunkan teknik inkrustasi, menjahit busana, serta menghias busana

    FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN PENURUNAN KETUNTASAN BELAJAR MAHASISWA S1 PENDIDIKAN TATA BUSANA PADA MATA KULIAH MUB MODISTE ANGKATAN 2012 SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016

    No full text
    ABSTRAK Matakuliah MUB Modiste pada tahun pelajaran 2015/2016 mengalami penurunan ketuntasan belajar pada angkatan 2012. Penurunan jumlah mahasiswa yang tidak tuntas jauh berbeda yang pada angkatan 2010 hanya 9,29%, angkatan 2011 6,15%, dan pada angkatan 2012 menjadi 33,33% dengan jumlah 21 mahasiswa. Penurunan jumlah terjadi dengan kondisi yang sama setiap tahunnya seperti beban matakuliah yang diambil bersamaan, dosen pengampuh, sajian matakuliah, dan target yang tetap sama. Tujuan penelitian ini adalahmendiskripsikan faktor-faktor  yang menentukan penurunan ketuntasan mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana pada matakuliah MUB Modiste angkatan 2012 semester gasal tahun pelajaran 2015/2016.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2012 yang telah melaksanakan MUB Modiste. Penelitian ini adalah penelitian populasi atau penggunaan sampel jenuh dengan jumlah 63 responden.Instrumen yang digunakan adalah angket/kuisioner tertutup.Hasil penelitian menyatakan faktor yang menentukan penurunan ketuntasan belajar MUB Modiste pada kategori “Menentukan” yaitu kelelahan fisik 74,6% dalam kategori cukup buruk, intelegensi 63,5% dalam kategori kurang baik, jumlah MK yang diambil 50,8% dalam kategori buruk, dan lingkungan masyarakat terhadap pemasaran 55,6% dalam kategori kurang baik. Kesimpulannya faktor yang dalam kategori “Menentukan”adalah faktor intern penurunan ketuntasan belajar MUB Modiste meliputi faktor kelelahan fisik dalam penyelesaian target produk dan cash in terhadap waktu yang tersedia, faktor intelegensi mahasiswa yang kurang dalam menghadapi kesulitan selama pemenuhan target, dan jumlah MK yang diambil bersamaan MUB Modiste yaitu matakuliah Pameran, faktor ekstern pada kategoi “Cukup Menentukan”meliputi lingkungan masyarakat terhadap pemasaran MUB Modiste yang tidak maksimal, adapun faktor tidak menentukan meliputi bakat, motif/tujuan, dan evaluasi dosen. Saran bagi Jurusan Teknologi Industri dapat menyesuikan bobot matakuliah, peningkatan bimbingan dengan dosen PA dan mempertahankan pelaksanaan, dan pemisahan matakuliah dengan beban studi dan SKS yang besar. Bagi mahasiswa dapat memperbaiki dengan melakukan strategi dan manajemen waktu yang baik, melakukan bimbingan kepada PA, dan penyesuaian manajemen pemasaran dengan lingkungan sekitar. Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan variabel lebih bervariasi

    faktor pembelian jilbab pada santri putri di lembaga tinggi pesantren luhur malang

    No full text
    ABSTRAK Ni’mah, Mentari Ulin. 2017. Faktor Pembelian Jilbab pada Santri Putri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hapsari kusumawardani, M.Pd, (II) Nurul Hidayati, S.Pd., M.Sn. Kata kunci: Faktor pembelian, jilbab, santriSaat ini perkembangan busana muslim semakin meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jilbab merupakan salah satu busana muslim yang selalu ada dalam berbusana sehari-hari bagi wanita muslim, khususnya para santri. Pemakaian jilbab santri sekarang, saat bepergian lebih berkeinginan memakai jilbab yang sedang trend. Berbeda dengan pemakaian jilbab santri zaman dulu lebih sederhana. Berdasarkan paparan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji tentang faktor pembelian jilbab pada santri  putri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Faktor tersebut meliputi faktor budaya, faktor sosial, dan faktor pribadi, dengan indikator yang telah ditentukan oleh peneliti.Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan dan mendeskripsikan faktor keputusan pembelian jilbab pada santri putri di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh santri putri Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Pengambilan sampel menggunakan random sampling. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket tertutup, dengan jumlah pertanyaan sebanyak 32 item. Instrumen angket ini diuji validitas menggunakan validitas isi dan dinyatakan valid, sedangkan uji reabilitas menggunakan Alpha cronbact.Hasil penelitian faktor pembelian jilbab pada santri menunjukkan bahwa responden lebih dominan dipengaruhi oleh faktor pribadi dimana kepribadian santri meliputi konsep diri yang sesungguhnya, konsep diri yang ideal, dan konsep diri yang diperluas menjadi faktor akhir dari penentuan keputusan pembelian jilbab, diikuti dengan faktor sosial, dimana peran dan status santri sebagai mahasiswa menjadikan santri lebih fleksibel untuk berganti-ganti model jilbab, dan yang terakhir adalah faktor budaya, dimana seorang santri memiliki kebiasaan dan kewajiban berjilbab sebagai identitas diri. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: (1) Sebaiknya pengusaha jilbab menetapkan strategi yang dapat menarik minat konsumen. Melalui produk jilbab yang memiliki harga terjangkau dengan pilihan model yang beragam. (2) Santri disarankan untuk selalu memperhatikan faktor budaya, faktor sosial, dan faktor pribadi agar mencerminkan identitasnya sebagai santri dan mempertahankan tradisinya, sehingga produk yang dibeli tersebut dapat memenuhi kebutuhannya dan menjadi konsumen yang cerdas dalam pembelian produk jilbab serta selektif menerima informasi yang didapat. (3) Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan memperluas indikator lain yang diperkirakan dapat menjadi pertimbangan dalam faktor pembelian jilbab dan lebih diperluas lingkup responden yang diteliti

    Pembuatan Busana Avant Garde Dengan Penerapan Teknik Hiasan Opnaisel

    No full text
    ABSTRAK Sholichah, Nisa’ Atus. 2016. Pembuatan Busana  Avant Garde dengan Penerapan Teknik Hiasan Opnaisel. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi Diploma III Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd. Kata Kunci: Teknik hiasan opnaisel, creative fabric, busana avantgardeBusana avantgarde merupakan busana dengan tingkat penciptaan terbaru (ide-ide fresh) dari eksperimen-eksperimen dan riset yang dilakukan terlebih dahulu serta dibentuk kembali kedalam sebuah rancangan yang inspiratif dan inovatif. Terdapat macam-macam teknik menghias busana dalam pengetahuan busana, salah satunya teknik opnaisel. Opnaisel merupakan lipitan-lipitan kecil berukuran 0.5 cm sampai 1 cm, atau sesuai keinginan. Selama ini opnaisel hanya digunakan sebagai hiasan saja, namun dalam pembuatan busana avantgarde ini dimunculkan ide baru melalui pengembangan teknik opnaisel sebagai creative fabric.Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah menjelaskan proses pembuatan busana avantgarde dengan teknik hiasan opnaisel sebagai creative fabric. Pembuatan busana avantgarde ini terdiri dari beberapa tahapan seperti pembuatan desain, persiapan alat dan bahan, pembuatan draft basic (gaun), fitting draft basic (gaun), pengambilan ukuran, perbaikan pola draft basic (gaun), pecah pola, merancang bahan dan harga, membuat creative fabric, peletakan pola pada bahan, cutting, sewing, fitting, finishing, dan pemeliharaan busana. Kesimpulan dalam pembuatan busana avantgarde ini yaitu pada pembuatan creative  fabric membutuhkan kecermatan dan ketelitian. Proses pengepresan pada creative  fabric diperlukan kehati-hatian, karena jika terjadi kesalahan, bentuk dari creative fabric tidak sesuai dengan keinginan. Proses pemasangan balance mengalamikesulitan, karena pemasangan balance dilakukan ketik abusan telah jadi. Pada proses pengeliman pada mantel tidak rapi karena sifat dari kain heritage benang pakan dan benang lusi cepat terlepas dari anyaman. Pemilihan bahan furing menggunkan bahan tulle tidak disarankan,  karena tekstur dari bahan tulle yang berlubang sehingga menggangu kenyamanan model/peragawati saat mengenakan busana ini

    Pembuatan Busana Avant Garde "Mulier Forticess"

    No full text
    ABSTRAK Santoso, Agistiana Mandasari. 2017. Pembuatan Busana Avant Garde “Mulier Forticess”. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Tenik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si. Kata Kunci:Busana Avant Garde,Mulier Forticess, Creative Fabric.Suatu busana dapat digolongkan sebagai busana Avant Garde karena memiliki karakteristik yang unik dan berbeda dengan busana yang lain, busana Avant Garde mengandung unsur Creative Fabric didalam pembuatannya. Creative Fabric adalah sebuah karya seni keterampilan tangan dengan menggunakan bahan tekstil yang dibentuk sedemikian rupa dan memerlukan ketelitian serta membutuhkan kreatifitas yang tinggi, sehingga dapat menambah nilai keindahan dan karya seni yang tinggi. Alur dalam pembuatan busana Avant Garde yaitu pembuatan desain, persiapan alat dan bahan, pengambilan ukuran, pemilihan bahan, pembuatan pola dasar dan pecah pola, cutting, sewing, final fitting, hingga finishing.Busana two piece dengan mengombinasikan styledari busana adat (busana pengantin) di suku SingkilSumatera Utara dengan bentuk dasar busana Kaftan, celana Kulotdengan panjang sebatas lutut, dan sepatu Gladiator yang memberi kesan santai dan gagah perkasa.Tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah (1) Menjelaskan tentang pengertian busana Avant Garde, (2) Menjelaskan proses pembuatan anyaman dan lipit mati sebagai Creative Fabric, (3) Menjelaskan proses pembuatan busana Avant Garde Mulier Forticess. Kesimpulan dalam pembuatan busana Avant Garde “Mulier Forticess” yaitu (1) Busana Avant Garde merupakan busana yang memiliki konsep unik, sehingga memerlukan daya imajinasi yang tinggi untuk menemukan ide-ide yang kreatif dan inovatif dari budaya busana Sumatera Utara. (2) Anyaman dan Lipit Mati sebagai Creative Fabric dikarenakan teknik ini sesuai dengan konsep, sehingga sangat pas dipadupadankan kedalam busana Avant Garde yang mengusung tema Pulau Sumatera Utara ini. (3) Kesulitan menjahit pada pembuatan anyaman dan pembuatan Lipit Mati akibat kesalahan memilih bahan sehingga menyulitkan pada saat peroses sewing, juga bahan yang terlalu tebal membuat tidak nyaman pada saat dikenakan

    0

    full texts

    153

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Tugas Akhir Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇