SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1764 research outputs found
Sort by
Uji Aktivitas Enzim Xilanase yang Diproduksi dari Aspergillus niger dan Aspergillus oryzae Menggunakan Substrat Ampas Tebu dan Dedak Gandum
RINGKASANEnzim xilanase merupakan enzim ekstraseluler yang berperan dalam menghidrolisis xilan menjadi rantai pendek xilosa dan xilooligosakarida. Enzim xilanase termasuk ke dalam salah satu enzim terpenting dalam berbagai sektor industri diantaranya industri kertas, tekstil, xilitol, dan biofuel. Enzim xilanase dapat diproduksi oleh mikroorganisme seperti bakteri, khamir dan kapang dengan bantuan xilan sebagai media penginduksi untuk menghasilkan enzim xilanase. Penggunaan xilan komersial pada produksi xilanase skala industri tidak ekonomis karena harganya terlalu mahal yaitu $ 180-200/kg, sehingga diperlukan bahan dari limbah pertanian yang murah seperti ampas tebu dan dedak gandum. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikroorganisme yang menghasilkan aktivitas enzim xilanase tertinggi yaitu kapang genus Aspergillus diantaranya Aspergillus niger dan Aspergillus oryzae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi kosentrasi campuran substrat ampas tebu dan dedak gandum terhadap nilai aktivitas enzim xilanase yang dihasilkan oleh Aspergillus niger dan Aspergillus oryzae Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu jenis kapang (Aspergillus niger dan Aspergillus oryzae) dan faktor kedua yaitu variasi kosentrasi campuran substrat (100% dedak gandum, 75% dedak gandum + 25% ampas tebu, 50% dedak gandum dan 50% ampas tebu, 25% dedak gandum + 75% ampas tebu, dan 100% ampas tebu). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Analysis Of Variance (ANOVA) dan apabila perlakuan berpengaruh nyata terhadap parameter maka dilanjutkan Uji Least Significant Differences (LSD) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kapang dan variasi kosentrasi campuran substrat ampas tebu dan dedak gandum berpengaruh terhadap aktivitas enzim xilanase yang dihasilkan. Berdasarkan hasil uji aktivitas enzim dapat disimpulkan bahwa substrat yang menghasilkan enzim xilanase tinggi pada 100% dedak gandum yaitu 6.6 U/mL, sedangkan campuran substrat dedak gandum dan ampas tebu yang menghasilkan aktivitas enzim xilanase tinggi pada rasio kosentrasi 75% dedak gandum ditambahkan 25% ampas tebu yaitu sebesar 5.4 U/mL. Aktivitas enzim xilanase yang dihasilkan kapang Aspergillus oryzae yaitu 4.494 U/mL lebih tinggi dari pada Aspergillus niger yaitu 3.081 U/mL
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning KD Sistem Respirasi untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif dan Hasil Belajar Pengetahuan Siswa Kelas XI SMA Laboratorium UM Malang
RINGKASANPutri, Anggi Kharisma. 2019. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning KD Sistem Respirasi untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif dan Hasil Belajar Pengetahuan Siswa Kelas XI SMA Laboratorium UM Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ibrohim, M.Si, (II) Drs. I Wayan Sumberartha, M.Si.Kata Kunci: Problem Based Learning, Media Interaktif, Keterampilan Berpikir Kreatif, Hasil Belajar Kognitif, Sistem RespirasiKeterampilan berpikir kreatif merupakan salah satu keterampilan yang diperlukan pada Abad XXI atau 21st century skills. Berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada. Keterampilan berpikir kreatif harus dimiliki oleh siswa salah satunya pada mata pelajaran Biologi karena Biologi merupakan cabang ilmu yang mengkaji tentang kehidupan serta fenomena alam maupun fenomena makhluk hidup yang membutuhkan banyak pemikiran kreatif untuk penyelesaian masalah. Namun berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di SMA Laboratorium UM Malang pada tanggal 11 Januari 2018 melalui tes keterampilan berpikir kreatif yang diujicobakan pada kelas XI MIPA 1, keterampilan berpikir kreatif siswa masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata hasil tes keterampilan berpikir kreatif pada kompetensi dasar sistem gerak yang diberikan oleh peneliti kepada 29 siswa XI MIPA 1 termasuk pada kategori rendah, yaitu dengan rerata nilai sebesar 43,13. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Enik selaku guru Biologi XI IPA 1 pada tanggal 4 Januari 2018 menyatakan bahwa guru belum pernah mengembangkan keterampilan berpikir kreatif siswa saat pembelajaran. Selama pembelajaran pada KD Sistem Respirasi guru mengembangkan kreatifitas dari segi estetika saja, misalnya pembuatan mading dan pop up. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan guru sebenarnya telah berpendekatan saintifik dengan menggunakan model PBL, namun masalah yang disajikan disajikan pada pembelajaran kurang bersifat kontekstual. Langkah pembelajaran yang disajikan dalam RPP belum menggambarkan sintax PBL sepenuhnya. LKS yang dikembangkan guru belum mengikuti sintax PBL. Oleh karena itu dibutuhkan perangkat pembelajaran berbasis PBL yang mampu memfasilitasi peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa. Penelitian Pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) berbantuan media interaktif, menguji kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan perangkat pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) berbantuan media interaktif terhadap keterampilan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif.Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan model Borg and Gall dengan dua uji coba lapangan, yaitu uji coba lapangan awal dan uji coba lapangan utama yang dilaksanakan di SMA Laboratorium UM Malang pada kelas XI MIPA 1. Hasil validasi perangkat pembelajaran berbasis PBL menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran hasil pengembangan valid untuk digunakan dengan rerata nilai kevalidan silabus 88 %, RPP 86 %, LKS 89 %, media interaktif 97 %, dan instrumen penilaian pembelajaran 88 %. Hasil uji kepraktisan perangkat pembelajaran berbasis PBL ini termasuk pada kategori sangat praktis, dibuktikan dengan rerata nilai angket respon siswa dan angket respon guru sebesar 83 %. Keefektifan perangkat pembelajaran berbasis PBL dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif yang diukur dengan rumus g faktor (N-Gains) menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif yang termasuk dalam kategori g sedang atau cukup efektif, yakni masing masing sebesar 0,48 (keterampilan berpikir kreatif) dan 0,48 (hasil belajar kognitif).Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan, perangkat pembelajaran berbasis Problem Based Learning berbantuan media interaktif ini valid, praktis, dan efektif diterapkan pada pembelajaran KD Sistem Respirasi untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif. Pelatihan pemahaman model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada guru dan siswa membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga keterampilan berpikir kreatif dapat meningkat secara maksimal
DAYA ANTAGONISME Aspergillus spp. TERHADAP Fusarium solani PENYEBAB PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L. ) SECARA IN VITRO
Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas pertanian dengan nilai ekonomi tinggi dan tingkat produksi yang berbeda pada setiap daerahnya. Tingkat produksi tanaman cabai dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya disebabkan oleh kapang patogen penyebab penyakit. Kapang Fusarium solani merupakan salah satu spesies kapang penyebab penyakit layu pada tanaman cabai rawit. Upaya yang dapat dilakukan untuk menghambat pertumbuhan kapang Fusarium solani adalah menggunakan agen pengendali hayati yaitu kapang antagonis Aspergillus spp. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menguji daya antagonisme kapang Aspergillus spp. terhadap kapang Fusarium solani, (2) mengkaji mekanisme antagonisme antara kapang Aspergillus spp. terhadap kapang Fusarium solani. Metode penelitian yang dilakukan terdiri dari: identifikasi kapang patogen dan kapang antagonis yang diisolasi dari tanah pertanian cabai rawit, pengujian daya antagonisme dengan metode dual culture, dan pengamatan mekanisme antagonisme dengan mikroskop cahaya dan mikroskop elektron (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan daya antagonisme antara kapang Aspergillus spp. terhadap kapang Fusarium solani, dengan daya antagonisme Aspergillus oryzae: 61,93%, Aspergillus terreus: 53,62%, dan Aspergillus candidus: 48,04%. (2) Mekanisme antagonisme yang terjadi antara kapang Aspergillus spp. terhadap kapang Fusarium solani meliputi kompetisi dan mikoparasit Mekanisme mikoparasit yang ditemukan ialah hifa/konidia kapang Aspergillus spp. menempel pada hifa kapang Fusarium solani menimbulkan kerusakan struktur hifa Fusarium solani
PENGARUH BENTUK PROTOTYPE DAN WAKTU AERASI TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN Chlorella sp. PADA CO-CULTURE ALGA-BAKTERI
Kebutuhan energi semakin mengalami peningkatan. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif terbaru yang dapat menggantikan bahan bakar fosil. Mayoritas bahan baku biodiesel berasal dari minyak sawit. Alternatif lain dalam memproduksi biodiesel adalah dengan menggunakan mikroalga. Mikroalga mampu menghasilkan biomassa yang lebih tinggi, murah, dan ramah lingkungan apabila dibandingkan dengan tanaman terestrial. Chlorella sp. adalah mikroalga yang mempunyai kemampuan tumbuh dan berkembang biak dengan waktu yang relatif cepat. Adanya campuran mikroalga dan bakteri dalam co-culture diduga mampu memberikan pengaruh atas tingginya produktivitas lipid dalam kultivasi skala massal. Penelitian yang dilakukan adalah menggunakan co-culture bakteri dominan dengan mikroalga Chlorella sp. dari Ranu Grati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bentuk prototype dan waktu aerasi, serta interaksi kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan mikroalga Chlorella sp.. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor, kemudian data dianalisis menggunakan statistik Anava Ganda. Co-culture dalam penelitian ini dilakukan dalam dua bentuk prototype (balok dan lempeng) dengan empat perlakuan aerasi (6 jam, 12 jam, 18 jam, 24 jam) untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan mikroalga. Parameter yang diamati adalah kepadatan sel mikroalga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk prototype tidak mempengaruhi pertumbuhan mikroalga Chlorella sp. dalam co-culture alga-bakteri. Waktu aerasi berpengaruh terhadap pertumbuhan mikrolaga Chlorella sp. dalam co-culture alga-bakteri. Pertumbuhan mikroalga paling cepat adalah pada perlakuan 6 jam aerasi (18 jam tanpa aerasi) dalam prototype balok dengan kepadatan sel mencapai 9.3x104 sel/ml dan dalam prototype lempeng dengan kepadatan sel mencapai 9.1x104 sel/ml. Tidak ada interaksi yang signifikan antara bentuk prototype dan waktu aerasi terhadap pertumbuhan mikroalga Chlorella sp. dalam co-culture alga-bakteri
Pengembangan Modul Perubahan Lingkungan Berbasis Problem Based Learning dan Pengaruhnya Terhadap Wawasan Lingkungan dan Sikap Peduli Lingkungan Siswa Kelas X SMA Brawijaya Smart School
Lingkungan adalah suatu tempat di mana makhluk hidup tinggal, mencari, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas dan terkait secara timbal balik terhadap makhluk hidup yang menempatinya. Keseimbangan lingkungan tersebut dapat terganggu apabila terjadi suatu kerusakan lingkungan. Permasalahan lingkungan yang dihadapi dunia maupun Indonesia banyak disebabkan oleh sikap dan perilaku manusia terhadap lingkungan hidupnya. Berdasarkan hasil observasi di SMA Brawijaya Smart School (BSS) pada siswa kelas X tentang sikap peduli lingkungan mereka masih kurang. Hal tersebut ditunjukkan dengan masih banyaknya sampah kertas atau bungkus makanan yang disimpan di kolong meja, dan kondisi kelas yang kotor. Selain dari hasil observasi, sikap peduli lingkungan juga diukur melalui angket sikap peduli lingkungan pada siswa kelas X dan siswa kelas XI yang sudah menempuh materi perubahan lingkungan menunjukkan sikap peduli lingkungan siswa di SMA BSS dalam kategori cukup baik. Sikap peduli lingkungan juga dapat ditumbuhkan melalui wawasan lingkungan. Wawasan lingkungan merupakan cara pandang manusia terhadap lingkungannya. Berdasarkan angket wawasan lingkungan yang diberikan pada siswa kelas X dan siswa kelas XI yang sudah menempuh materi perubahan lingkungan di dapatkan hasil yang menunjukkan bahwa wawasan lingkungan siswa di SMA BSS dalam kategori baik. Hasil dari analisis angket tersebut belum sepenuhnya valid dikarenakan angket yang diujicobakan belum tervalidasi dan aspek wawasan dan sikap peduli lingkungan siswa belum pernah diukur selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pengembangan modul perubahan lingkungan ini menggunakan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari 5 tahap yaitu: (1) analyze, (2) design, (3) develop, (4) implement, dan (5) evaluate. Sedangkan desain uji coba pengembangan modul ini menggunakan desain eksperimen semu. Produk yang telah dihasilkan diuji kelayakan oleh ahli materi, ahli media, dan ahli praktisi lapangan. Skor pretes dan postes tes dianalisis menggunakan uji ANACOVA untuk menguji hipotesis pengaruh modul perubahan lingkungan terhadap wawasan lingkungan dan sikap peduli lingkungan siswa kelas X SMA Brawijaya Smart School. Hasil uji kelayakan oleh ahli materi menunjukkan rerata skor 100% dengan kriteria sangat layak, namun tetap direvisi sesuai komentar dan saran. Hasil uji kelayakan oleh ahli perangkat pembelajaran menunjukkan rerata skor 97% dengan kriteria sangat layak, namun tetap direvisi sesuai komentar dan saran. Hasil uji kelayakan oleh praktisi lapangan menunjukkan rerata skor 96% dengan kriteria sangat layak, namun tetap direvisi sesuai dengan komentar dan saran. Hasil uji kepraktisan oleh praktisi lapangan (siswa) menunjukkan rerata skor 87% dengan kriteria sangat layak, namun tetap direvisi sesuai dengan komentar dan saran. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan wawasan lingkungan dan sikap peduli lingkungan siswa kelas X SMA Brawijaya Smart School yang dibelajarkan dengan modul perubahan lingkungan berbasis Problem Based Learning dengan siswa yang tidak dibelajarkan dengan modul pada kelas PBL
Pengaruh Pemberian Norethisterone terhadap Perkembangan Folikel pada Ovarium Mencit (Mus musculus L.) Galur Balb/c
RINGKASANNurpitasari, Ida. 2019. Pengaruh Pemberian Norethisterone terhadap Perkembangan Folikel Pada Ovarium Mencit (Mus musculus L.) Galur Balb/c. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Amy Tenzer, M.S., (II) Dra. Nursasi Handayani, M.Si.Kata Kunci : Norethisterone, Perkembangan, Folikel, Ovarium, MencitMenstruasi atau dikenal dengan istilah haid adalah pengeluaran cairan dari vagina yang terjadi kurang lebih selama 5−7 hari. Terdapat beberapa keadaan yang memungkinkan seorang wanita untuk menunda haid atau memajukan haidnya, salah satunya adalah ibadah haji dan umrah. Pengaturan haid dilakukan karena ada beberapa ibadah yang tidak boleh dilakukan saat wanita sedang meng-alami haid, antara lain: thawaf, sholat, membawa Alquran, puasa dan berdiam diri di masjid. Salah satu hormon sintetis yang digunakan untuk menunda haid yaitu norethisterone. Norethisterone atau norethindrone adalah senyawa progestagenik sintetis yang digunakan untuk menunda menstruasi. Senyawa ini dapat berikatan dengan reseptor progesterone di ovarium sehingga menyebabkan umpan balik negatif terhadap hipotalamus dalam mensekresikan GnRH dan hipofisis anterior dalam mensekresikan LH dan FSH. Gangguan hormonal ini akan mempengaruhi perkembangan folikel dan peristiwa ovulasi di dalam ovarium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian norethisterone terhadap perkembangan folikel pada ovarium mencit (Mus musculus L.) galur Balb/c.Jenis penelitian yang dilakukan termasuk dalam penelitian eksperimental laboratory dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret−April 2019 di Laboratorium Pembedahan Mencit dan Laboratorium Struktur Perkembangan Hewan, Universitas Negeri Malang, serta Laboratorium Patologi Anatomi, Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang. Penelitian menggunakan lima macam dosis senyawa norethisterone yaitu dosis 0; 0.65; 3.25; 3.9; dan 4.55 mg/kg BB dengan 5 ulangan. Pemberian larutan senyawa norethisterone dilakukan secara gavage oral sebesar 0.5 ml sebanyak dua kali sehari selama 4 hari. Pemberian awal perlakuan dilakukan pada tahap estrus akhir. Data diperoleh dengan mengamati dan menghitung jumlah folikel pada ovarium mencit pada preparat sayatan seri membujur ovarium mencit meliputi folikel primer unilaminar, folikel primer multilaminar, folikel sekunder, dan folikel tersier (de Graaf). Data dianalisis dengan uji analisis varians (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh pemberian senyawa norethisterone terhadap jumlah masing−masing folikel pada ovarium mencit. Apabila hasil analisis berpengaruh dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT).Hasil penelitian diperoleh pemberian senyawa northisterone mulai dosis 3.25 mg/kg BB berpengaruh menurunkan jumlah folikel primer multilaminar, dan folikel sekunder. Pemberian senyawa norethisterone dosis 4.55 mg/kg BB mulai menurunkan jumlah folikel primer unilaminar dan dosis 0.65 mg/kg BB mulai menurunkan jumlah folikel de Graaf.SUMMARYNurpitasari, Ida. 2019. Effect of Norethisterone Administration on Ovarian Follicular Development in Mice (Mus musculus L.) Balb/c Strain. Thesis, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Malang State University. Advisor: (I) Dra. Amy Tenzer, M.S., (II) Dra. Nursasi Handayani, M.Si.Keywords: Norethisterone, Development, Follicles, Ovaries, MiceMenstruation or known as menstruation is the discharge of fluid from the vagina which occurs for about 5−7 days. There are a number of circumstances that allow a woman to delay menstruation or advance her period, one of which is the Hajj and Umrah. Menstruation regulation is done because there are several services that should not be done when women are experiencing menstruation, among others: thawaf, prayer, carrying the Alquran, fasting and staying silent in the mosque. One of the synthetic hormones used to delay menstruation is norethisterone. Norethisterone or norethindrone is a synthetic progestagenic compound used to delay menstruation. This compound can bind to the progesterone receptor in the ovary, causing negative feedback to the hypothalamus in securing GnRH and the anterior pituitary in securing LH and FSH. This hormonal disorder will affect follicle development and ovulation events in the ovary. The purpose of this study was to determine the effect of norethisterone administration on ovarian follicular development in mice (Mus musculus L.) Balb/c strain.The type of research conducted includes in an experimental laboratory with Randomized Block Design (RBD). The research was conducted in March − April 2019 at the Laboratory of Surgery for Mice and Laboratory of Animal Development Structures, State University of Malang, as well as the Anatomical Pathology Laboratory, Saiful Anwar Hospital, Malang. The study used five kinds of doses of norethisterone, namely dose 0; 0.65; 3.25; 3.9; and 4.55 mg/kg BB with 5 replications. Giving a solution of norethisterone compound is done by oral gavage of 0.5 ml twice a day for 4 days. Initial treatment is carried out at the final estrus stage. Data obtained by observing and counting the number of ovarian follicles in mice in the incision series of longitudinal ovary series mice include unilaminar primary follicles, multilaminar primary follicles, secondary follicles and tertiary follicles (de Graaf). Data were analyzed by analysis of variance (ANOVA) to determine the effect of norethisterone administration to the number of each ovarian follicle in mice. If the results of the influential analysis are followed by further testing Duncan 's Multiple Range Test (DMRT).The results showed that administration of northisterone compounds starting from 3.25 mg/kg BB had the effect of reducing the number of multilaminar primary follicles and secondary follicles. The administration of norethisterone compound dose 4.55 mg/kg BB began to reduce the number of unilaminar primary follicles and the dose of 0.65 mg/kg BB began to reduce the number of de Graaf follicles
Potensi Antihiperkolesterolemik Senyawa Flavonoid (Quercetin, Isoquercetin, Dan Kaempferol) Bawang Putih Tunggal (Allium sativum) Terhadap Target Enzim Lanosterol Synthase Menggunakan Teknik Molecular Docking
RINGKASANMaharani, Maghfiroh Gesty. 2019. Potensi Antihiperkolesterolemik Senyawa Flavonoid (Quercetin, Isoquercetin, Dan Kaempferol) Bawang Putih Tunggal (Allium sativum) Terhadap Target Enzim Lanosterol Synthase Menggunakan Teknik Molecular Docking. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (I) Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si.,(II) Dr. Betty Lukiati, M.SKata kunci: Flavonoid bawang putih tunggal, Anti hiperkolesterolemia, Molecular docking.Hiperkolesterolemia merupakan faktor risiko penyakit penyebab 2 kematian tertinggi di dunia, yaitu jantung dan stroke. Statin sebagai obat antihiperkolesterol sintetis memiliki efek samping, utamanya miopati dan peningkatan ROS karena penurunan sintesis Q10. Penggunaan tanaman herbal meningkat seiring dengan bertambahnya efek samping obat sintetis dan didukung rekomendasi konsumsi obat herbal oleh WHO. Tanaman obat varietas unggul Indonesia adalah bawang putih tunggal yang telah memiliki berbagai khasiat. Kandungan utama bawang putih tunggal selain senyawa organosulfur adalah senyawa flavonoid, karena terbukti memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan bawang putih local var. Ciwidey dan bawang putih impor. Obatan tihiperkolesterol dapat bekerja dengan menghambat kerja enzim pada sintesis kolesterol di hati. Enzim yang berada pada tahap akhir biosintesis kolesterol dan sterol adalah enzim lanosterol synthase yang mengkatalis perubahan 2,3 oxydosqualene menjadi Lanosterol.Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi potensi senyawa flavonoid bawang putih tunggal (quercetin, isoquercetin, dan kaempferol) sebagai anti hiperkolesterolemia dalam menghambat enzim lanosterol synthase. Penelitian ini menggunakan teknik molecular docking dengan data pendukung berupa analisis potensi biologis senyawa dan prediksi sifat farmakokinetik (Absorption, Distribution, Metabolism, Excretion, Toxicity).Metode penelitian berbasis komputasi menggunakan software Pyrx untuk mengetahui nilai energi ikatan, Pymol untuk visualisasi posisi pengikatan kemudian divisualisasi menggunakan discovery studio, dantambahan data berupa sifat farmakokinetik yang diperoleh dari webserver pkCSM, potensi biologis dari Way2drug, dan prediksi LD50 senyawa menggunakan Protox-II. Hasil yang didapatkan akan dianalisis secara deskriptif dan dibandingkan dengan kontrol yang telah terbukti menghambat enzim lanosterol synthase yakni RO 48-8071. Hasil penelitian menunjukkan senyawa flavonoid bawang putih tunggal (Quercetin, isoquercetin, dan kaempferol) memiliki potensi biologis yang lebih baik dibandingkan RO 48-8071 (kontrol)karena memiliki nilai PA lebihdari 7, ikatan yang lebih stabil, memiliki toksisitas lebih rendah, namun memiliki sifat absorpsi farmakokinetik lebih rendah dibandingkan kontrol. Saran yang dapat dilakukan oleh peneliti untuk penelitian lanjut adalah dapat dilakukan eksplorasi senyawa polifenol lain pada bawang putih tunggal, sisi aktif pengikatan lain dari enzim lanosterol synthase dan dapat melanjutkn pengujian senyawa flavonoid bawang putih tunggal secara in vitro dan in vivo dengan meningkatkan absorbsi flavonoid
PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI HOTS MATERI SISTEM RESPIRASI UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS XI IPA DI SMAN 1 SINGOSARI
Pada penelitian ini dilakukan pengembangan instrumen evaluasi HOTS materisistem respirasisebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menghasilkan instrumen evaluasi HOTS materi sistem respirasi yang valid, praktis dan efektif. Selain instrumen evaluasi HOTS dikembangkan pula RPP dan LKS sebagai produk pendukung. Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE yang terdiridari 5 langkah yaitu Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate. Uji coba produk dilakukan di SMAN 1 Singosari. Instrumen evaluasi HOTS dinyatakan sangat valid dengan persentase sebesar 100%, kualitas soal sebesar 88,45%, sangat praktis dengan persentase 94,47% berdasarkan hasil pengisian angket respon pengguna oleh guru dan siswa, efektif berdasarkan perolehan rerata skor ulangan harian 56 siswa sebesar 43,46 dari skor maksimum sebesar 61.
Analisis Potensi Genetik Padi (Oryza sativa L.) Banyuwangi Berdasarkan Ekspresi Relatif Gen Homogentisate Geranylgeranyl Transferase (HGGT)
Kualitas gizi buah padi yang baik sangat diminati konsumen di seluruh dunia, salah satunya adalah padi dengan tokotrienol tinggi. Ekspresi relatif gen HGGT dapat digunakan untuk menemukan varietas padi yang berpotensi menghasilka ntokotrienol tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan varietas padi yang memiliki potensi tokotrienol tinggi berdasarkan tingkat ekspresi gen HGGT diantara 8 varietas padi (Oryza sativa L.) lokal Banyuwangi. Metode penelitian ini ialah quantitative Realtime–PCR untuk mengetahui ekspresi relatif gen HGGT pada padi lokal Banyuwangi. Hasil penelitian ini menunjukkan ekspresi relatif gen HGGT pada varietas Hitam Melik (2ΔCt = 16,989542), Hitam Pekat (2ΔCt = 5,376001), Blambangan A3 (2ΔCt = 4,943469), Merah Bali (2ΔCt=3,479590), Blambangan A2 (2ΔCt = 2,599881), Berlian (2ΔCt = 1,290429), JanurKuning (2ΔCt = 1,173945), dan Sunrise of Java A3 (2ΔCt = 0,356816). Hasil uji statistik non parametrik Wilcoxon/Kruskal Wallis menunjukkan ChiSquare hitung (16,0570)>ChiSquare tabel dengan α = 0,05 (14,067) yang berarti terdapat perbedaan signifikan pada data antar sampel. Ekspresi relatif gen HGGT pada padi lokal Banyuwangi dari yang tertinggi ke terendah adalah pada varietas Hitam Melik, Hitam Pekat, Blambangan A3, Merah Bali, Blambangan A2, Berlian, Janur Kuning, dan Sunrise of Java A3. Varietas Hitam Melik memiliki ekspresi relatif gen HGGT tertinggi sehingga berpotensi menghasilkan tokotrienol lebih banyak jika dibandingkan dengan varietas lainnya
Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif pada Materi Sistem Koordinasi untuk meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Lawang
ABSTRAKSiswa SMAN 1 Lawang masih belum menguasai kemampuan berpikir kritis yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman siswa dalam materi yang dipelajari. Multimedia interaktif sebagai salah satu media pembelajaran dapat membantu proses pembelajaran karena dalam satu media terdapat banyak aspek yang bisa dimunculkan. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan multimedia pembelajaran interaktif yang layak, praktis dan efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada materi sistem koordinasi. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Lee and Owens (2004). Berdasarkan hasil validasi diperoleh persentase sebesar 99,3% yang menunjukkan bahwa multimedia yang dikembangkan sangat layak serta berdasarkan uji kepraktisan diperoleh persentase sebesar 94,5% yang menunjukkan bahwa multimedia interaktif sangat praktis untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Peningkatan kemampuan berpikir kritis diukur dengan menggunakan gain score dan diperoleh nilai 0, 812 yang menunjukkan bahwa multimedia interaktif yang dikembangkan efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Kata Kunci : berpikir kritis, multimedia pembelajaran interaktif, sistem koordinasi ABSTRACTStudents of SMAN 1 Lawang still have not mastered criticall thinking skills that caused by the lack of their understanding in the material that has been studied.Interactive multimedia as one of the learning media can help the learning process because in one media there are many aspects that can be lifted. This research and development aims to develop appropriate, practical and effective interactive learning multimedia in coordination system material. The research and development model used is Lee and Owens’s Model (2004). Based on the results of the validation, the percentage was 99,3% and practicality tests obtained the percentage of 94,5% showed that multimedia interactive developed is very feasible and practical to use in the learning process. The improvement in critical thinking skills was measured by using the gain score and obtained a value of 0. 812 which showed that interactive multimedia was developed effectively to improve students' critical thinking skills. Keywords : critical thinking, interactive multimedia learning, nervous system, endocrine system, and sense organ