SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1764 research outputs found
Sort by
Pengaruh Inkuiri Terstruktur Berbasis SQ4R (survey, question, read, recite, and review) terhadap Pemahaman Membaca (reading comprehension) dan Hasil Belajar Kognitif Siswa di SMP Negeri 19 Malang
ABSTRAK Swari, Fatimah Dewi Ratna. 2016. Pengaruh Inkuiri Terstruktur Berbasis SQ4R (survey, question, read, reflect, recite, and review) terhadap Pemahaman Membaca (reading comprehension) dan Hasil Belajar Kognitif Siswa di SMP Negeri 19 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Murni Sapta Sari, M.Si, (2) Dra. Susilowati, M.S Kata Kunci: inkuiri terstuktur, SQ4R, pemahaman membaca, hasil belajar Pembelajaran IPA Terpadu diterapkan di Indonesia sejak diterapkannya kurikulum 2013. Pembelajaran IPA terpadu merupakan pembelajaran yang dipandang sebagai proses dan hasil, sehingga pemilihan strategi atau model pembelajaran yang tepat diperlukan untuk proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Permasalahan dalam pembelajaran IPA Terpadu di SMP Negeri 19 Malang adalah proses pembelajaran yang dilakukan belum sepenuhnya sesuai dengan kurikulum 2013. Pembelajaran masih berpusat pada guru, karena masih menggunakan metode ceramah dan diskusi. Ketika guru mengajukan pertanyaan sederhana tentang materi, siswa jarang ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Hal ini menunjukkan siswa belum membaca buku ketika proses pembelajaran dan tidak paham dengan materi yang akan diajarkan. Selain itu, siswa kelas VIII yang mengunjungi perpustakaan setiap tahun ajaran baru hanya 30% dari total 340 siswa. Buku yang paling banyak dipinjam hanya novel dan komik. Jarang ada yang meminjam buku atau bacaan tentang IPA. Hal ini menunjukkan kemampuan membaca IPA belum dikembangkan dengan baik dan berdampak pada hasil belajar yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran inkuiri terstuktur berbasis SQ4R terhadap pemahaman membaca dan hasil belajar kognitif siswa dan untuk mengetahui hubungan antara pemahaman membaca dan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 19 Malang. Kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran inkuiri terstuktur berbasis SQ4R, sedangkan kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah dan diskusi). Analisis data menggunakan analisis kovarian dan analisis regresi linier yang sebelumnya dilakukan uji normalitas dan homogenitas data. Keterlaksanaan pembelajaran diukur menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran oleh guru dan siswa pada kelas eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada pengaruh inkuiri terstuktur berbasis SQ4R terhadap pemahaman membaca siswa (Sig. 0,00< 0,05) dan berbeda nyata secara signifikan, (2) ada pengaruh inkuiri terstuktur berbasis SQ4R terhadap hasil belajar kognitif siswa (Sig. 0,00< 0,05) dan berbeda nyata secara signifikan, (3) ada hubungan antara pemahaman membaca dan hasil belajar kognitif siswa (Sig. 0,0
Studi Komparasi Kandungan Logam Berat Kadmium (Cd) pada Rumput Laut Gracillaria sp. dan Agar Di Tambak Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Sidoarjo.
ABSTRACT Asih, Hestin Atas. 2016. Studi Komparasi Kandungan Logam Berat Kadmium (Cd) pada Rumput Laut Gracillaria sp. dan Agar Di Tambak Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. Agus Dharmawan M.Si., (II) Sitoresmi Prabingtyas S.Si., M.Si. Kata kunci: Kandungan Logam Berat Kadmium (Cd), Gracillaria sp., Agar, Logam berat, Kadmium Berdasarkan penelitian terdahulu, rumput laut Gracillaria sp yang berada ditambak Desa Kupang, mengandung logam berat kadmium melebihi batas maksimum cemaran logam berat kadmium pada pangan sehingga tidak layak konsumsi karena membahayakan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar logam berat Cd pada rumput laut Gracillaria sp. dengan rumput laut yang sudah diolah menjadi agar. Penelitian dilakukan dengan analisis menggunakan AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometry). Kemudian dilakukan uji statistika menggunakan Uji T dua sampel dengan SPSS. Hasil dari analasis menunjukkan nilai signifikasi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas (0,05) sehingga berbeda nyata. Hasil rerata pengukuran AAS rumput laut Gracillaria sp. sebesar 0,27 mg/kg dibandingkan dengan rerata agar sebesar 0,03 mg/kg. Kadar logam berat pada agar lebih kecil daripada kadar logam berat kadmium pada rumput laut Gracillaria sp., hal ini terjadi pengurangan. Kadar logam berat kadmium pada rumput laut Gracillaria sp. berada diatas batas maksimum cemaran logam berat kadmium pada pangan sehingga tidak layak konsumsi, namun setelah proses pengolahan tahap pembersihan, perendaman, pengeringan, hidrolisis dengan H2SO4 dan ekstraksi pada suhu 90o C sampai menjadi agar terjadi pengurangan. Kadar kadmium pada agar menjadi dibawah batas maksimum cemaran logam berat pada pangan (0,2 mg/kg) sehingga layak dikonsumsi. ABSTRACT Asih, Hestin Atas. 2016. Comparative Study of Heavy Metal Level Cadmium (Cd) On Seaweed Gracillaria sp. and Agar in Embankment at Kupang Village, Subdistrict Jabon, Sidoarjo. Thesis, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang, Supervisor: (I) Drs. Agus Dharmawan M.Si., (II) Sitoresmi Prabingtyas S.Si., M.Si. Keywords: Heavy Metal Level Cadmium (Cd), Seaweed Gracillaria sp., Agar, Heavy Metals, Cadmium Seaweed Gracillaria sp. that found in Embankment at Kupang Village, Subdistrict Jabon, Sidoarjo containing heavy metals cadmium based on previous research. The level of heavy metal cadmium on seaweed is exceeding the maximum limit of heavy metal cadmium pollution in food, so it will endanger human health. This research is aimed to determine differences in of heavy metals cadmium levels in seaweed that has been processed into agar. Research carried out by the analysis of levels of heavy metals cadmium using AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometry). The results were statistically using two sample T-Test with SPSS. The result of the analysis showed a significanly value of 0,000 is less than the probability value of (0,05) so that different. The level of heavy metal cadmium in Seaweed is 0,27 mg/kg while in agar is 0,03 mg/kg. This level of heavy metal cadmium were reducted. Levels of heavy metals cadmium in seaweed Gracillaria sp. is above the maximum limit of cadmium heavy metal contamination in food (0.2 mg / kg) so it is not suitable for consumption, but after processing stages of cleaning, soak, drying, hydrolysis with H2SO4 0,1 %, and extraction at a temperature of 90 °C until it becomes agar a reduction. cadmium levels in agar be below the maximum limit of heavy metal contamination in food (0.2 mg / kg) to be consumed
Preferensi Serangga Nokturnal terhadap Warna Lampu di Kebun Jeruk Siem.
ABSTRACT Oktaviona, Lupita. 2016. Preferensi Serangga Nokturnal terhadap Warna Lampu di Kebun Jeruk Siem. Skripsi. Jurusan Biologi. FMIPA. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Agus Dharmawan, M.Si., (II) Sofia Ery Rahayu, S.Pd., M.Si.Kata kunci : preferensi serangga , serangga nokturnal, light trapProduktivitas jeruk salah satunya dipengaruhi oleh serangan Organisme Pengganggu (OPT). Serangga hama memiliki kemampuan menemukan tanaman inang melalui isyarat visual yaitu warna. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon serangga terhadap warna lampu, mengetahui distribusi temporal serangga yang tertangkap, dan hubungan antara faktor abiotik dengan rerata cacah individu serangga. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif eksploratif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari–Mei 2016 di kebun jeruk siem Desa Selokerto, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Warna lampu yang diuji yaitu putih, merah, kuning, biru, dan hijau sebanyak 6 ulangan. Pengambilan data dilakukan pada pukul 18.00-19.00, 19.00-20.00 dan 20.00-21.00 WIB. Data preferensi serangga terhadap warna lampu dianalisis menggunakan Anava Ganda dan hubungan faktor abiotik dengan rerata cacah individu serangga dianalisis menggunakan analisis Regresi Berganda. Hasil penelitian serangga yang tertangkap terdiri dari 5 ordo, 17 famili, dan 19 genus. Hasil analisis Anava Ganda menunjukkan respon serangga tertinggi pada lampu warna putih pada pukul 18.00-19.00 WIB. Distribusi temporal serangga tidak merata pada semua warna lampu yang diuji. Hasil analisis Regresi Berganda terhadap faktor abiotik yang terukur (suhu, kelembaban angin, dan kecepatan angin), ternyata suhu dan kelembaban udara menunjukkan ada hubungan dengan rerata cacah individu serangga.
Uji Preferensi Parasitoid Trichogramma chilonis (Hymenoptera: Trichogrammatidae) terhadap Tumbuhan Gulma Spilanthes paniculata Wall, Euphorbia hirta L., Bidens pilosa L. dan Ageretum conyzoides L
ABSTRACT Puspita, Eka. 2016. Uji Preferensi Parasitoid Trichogramma chilonis (Hymenoptera: Trichogrammatidae) terhadap Tumbuhan Gulma Spilanthes paniculata Wall, Euphorbia hirta L., Bidens pilosa L. dan Ageretum conyzoides L. Skripsi. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fatchur Rohman, M. Si., (II) Sofia Ery Rahayu, S. Pd., M. Si.Kata kunci: preferensi, parasitoid, Trichogramma chilonis, tumbuhan gulma, senyawa volatilTrichogramma chilonis merupakan parasitoid yang menjadi musuh alami serangga hama karena dapat memparasiti telur serangga hama. Pemanfaatan parasitoid sebagai agen pengendalian hayati perlu ditingkatkan dengan cara meningkatkan populasi T. chilonis yaitu dengan menyediakan mikrohabitat yang sesuai untuk perkembangan parasitoid. Penelitian bertujuan untuk mengetahui frekuensi preferensi dan waktu orientasi T. chilonis terhadap tumbuhan gulma Spilanthes paniculata Wall (bunga Jotang), Euphorbia hirta L. (Patikan Kebo), Bidens pilosa L. (Ajeran) dan Ageratum conyzoides L (bandotan). Penelitian menggunakan metode deskriptif analitik dengan pengamatan secara visual. Prefrensi T. chilonis terhadap tumbuhan uji meliputi Spilanthes paniculata, Euphorbia hirta, Bidens pilosa dan Ageretum conyzoides, diketahui dengan menggunakan alat olfaktometer yang dilaksanakan di Laboratorium Ekologi FMIPA UM pada bulan Februari hingga April 2016. Hasil pengukuran preferensi berupa data frekuensi dan waktu orientasi yang dianalisis dengan ANAVA tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichogramma chilonis memiliki ketertarikan (preferen) tertinggi pada tumbuhan S. paniculata berdasarkan senyawa volatil yang dikeluarkan oleh tubuhan tersebut Waktu orientasi tercepat T. chilonis juga pada tumbuhan S. paniculata disebabkan rangsangan senyawa volatil yang dikeluarkan tumbuhan tersebut
Tingkah Laku Makan Harian Gajah Sumatera (Elephas maximus sumateranus) di Secret Zoo, Kota Batu, Jawa Timur
ABSTRACT Aldezia, T. 2016. “Tingkah Laku Makan Harian Gajah Sumatera (Elephas maximus sumateranus) di Secret Zoo, Kota Batu, Jawa Timur” Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Susilowati, M.S. (II). Dr. Abdul Ghofur, M.Si.Kata kunci : Tingkah Laku Makan, Gajah Sumatera, Secret Zoo.Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan jenis mamalia besar asal Indonesia yang tersebar di sepanjang Kepulauan Sumatera. International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) yang merupakan lembaga konservasi dunia telah menetapkan status Gajah Sumatera dalam kondisi kritis (critically endangered). Upaya untuk menghambat kepunahan populasi Gajah Sumatera dapat melakukan konservasi eksitu. Aktivitas makan merupakan tingkah laku dominan yang dilakukan oleh gajah selama hidupnya, sehingga perlu dilakukan perhatian khusus. Secret Zoo merupakan salah satu lembaga konservasi eksitu di Kota Batu untuk melestarikan populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumateranus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku makan harian, frekuensi gerakan belalai, dan persentase lama waktu makan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumateranus) di Secret Zoo.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Data yang diperoleh berupa jenis tingkah laku makan harian, frekuensi gerakan belalai serta persentase lama waktu makan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumateranus). Objek dalam penelitian ini menggunakan empat ekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumateranus) yang berada di Secret Zoo. Satu ekor gajah jantan dan tiga ekor gajah betina. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2016. Pengamatan dilakukan selama 14 hari pada pukul 10.00 - 11.00, 13.00 - 14.00, dan 15.00 - 16.00. Hasil penelitian menunjukkan tingkah laku makan harian yang muncul berjumlah 6 jenis, yaitu gerakan belalai, penggunaan gading, gerakan kaki depan, gerakan kaki belakang, gerakan ekor, dan gerakan telinga. Baik gajah jantan maupun gajah betina memunculkan tingkah laku yang sama. Frekuensi gerakan belalai keempat ekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumateranus) tertinggi dimiliki oleh Anis sebesar 255,8 dan frekuensi terendah dimiliki oleh Andalas sebesar 211,3. Tira memiliki rerata frekuensi gerakan belalai sebesar 247,6 dan Nazumi yang memiliki rerata frekuensi sebesar 241,5. Persentase lama waktu makan keempat ekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumateranus) tertinggi dimiliki oleh Nazumi sebesar 35,1 %, sedangkan terendah dimiliki oleh Andalas sebesar 28,3 %. Gajah betina lainnya yaitu Anis dan Tira memiliki persentase yang sama yaitu sebesar 34 %
Kajian Daya Antagonisme Trichoderma spp. terhadap Colletotrichum capsici secara In Vitro dan Mekanismenya
ABSTRACT Rahmawati, Dwi. 2016. Kajian Daya Antagonisme Trichoderma spp. terhadap Colletotrichum capsici secara In Vitro dan Mekanisme Antagonismenya. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si.Kata Kunci: daya antagonisme, Trichoderma spp., Colletotrichum capsici, mekanisme antagonisme.Colletotrichum capsici merupakan salah satu spesies kapang yang menyebabkan penyakit antraknosa pada tanaman cabai. Pengendalian kapang C. capsici seringkali menggunakan fungisida sintetis yang mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan. Trichoderma spp. merupakan kapang antagonis yang dapat digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan kapang patogen yang ramah lingkungan. Tiga spesies Trichoderma yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: T. harzianum, T. viride, dan T. atroviride. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) meneliti pengaruh perbedaan spesies Trichoderma spp. terhadap daya antagonisme terhadap C. capsici secara in vitro, 2) menentukan tiga spesies Trichoderma yang mempunyai daya antagonisme tertinggi terhadap C. capsici, 3) mengkaji mekanisme antagonisme antara Trichoderma spp. terhadap C. capsici berdasarkan pengamatan makroskopis dan mikroskopis. Metode penelitian terdiri dari dua pendekatan yaitu kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kualitatif untuk menentukan daya antagonisme T. harzianum, T. viride, dan T. atroviride terhadap C. capsici dengan menghitung perbandingan selisih panjang jari-jari koloni kapang patogen yang menjauhi dan mendekati kapang antagonis dengan panjang jari-jari koloni kapang patogen yang menjauhi kapang antagonis Trichoderma spp. pada medium lempeng Potato Dextrose Agar (PDA). Adapun pendekatan kualitatif meliputi pengamatan mekanisme antagonisme secara makroskopis dan mikroskopis. Pengamatan secara makroskopis dilakukan dengan mengamati pertumbuhan koloni kapang antagonis dan kapang patogen, sedangkan pengamatan mikroskopis dilakukan menggunakan mikroskop cahaya dan Scanning Electron Microscope (SEM). Pengujian daya antagonisme dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan sembilan ulangan dengan metode dual culture dengan cara meletakkan potongan koloni kapang antagonis T. harzianum, T. viride, dan T. atroviride, masing-masing kapang antagonis tersebut berpasangan dengan koloni kapang C. capsici yang dibuat menggunakan bor gabus steril pada permukaan medium lempeng PDA, kemudian diinkubasikan pada suhu 27oC selama 4 x 24 jam. Selanjutnya dilakukan penghitungan daya antagonisme masing-masing kapang antagonis. Data uji daya antagonisme yang diperoleh berupa nilai persentase, kemudian dianalisis menggunakan ANAVA serta dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan 5%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa: 1) ada pengaruh perbedaan spesies Trichoderma spp. terhadap daya antagonisme pada C capsici, 2) Kapang antagonis Trichoderma yang memiliki daya antagonisme tertinggi terhadap kapang C capsici adalah T. harzianum dengan persentase penghambatan sebesar 54,41%, dan 3) mekanisme antagonisme secara in vitro yang ditunjukkan oleh kapang Trichoderma spp. berdasarkan pengamatan makroskopis adalah kompetisi, serta melalui pengamatan mikroskopis menunjukkan mekanisme mikoparasit yang terdiri dari tiga macam yaitu hifa kapang antagonis Trichoderma spp. menempel, membelit, dan menembus hifa kapang patogen C capsici
Kajian Daya Antagonisme Trichoderma spp. terhadap Colletotrichum capsici secara In Vitro dan Mekanismenya
ABSTRACT Rahmawati, Dwi. 2016. Kajian Daya Antagonisme Trichoderma spp. terhadap Colletotrichum capsici secara In Vitro dan Mekanisme Antagonismenya. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si.Kata Kunci: daya antagonisme, Trichoderma spp., Colletotrichum capsici, mekanisme antagonisme.Colletotrichum capsici merupakan salah satu spesies kapang yang menyebabkan penyakit antraknosa pada tanaman cabai. Pengendalian kapang C. capsici seringkali menggunakan fungisida sintetis yang mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan. Trichoderma spp. merupakan kapang antagonis yang dapat digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan kapang patogen yang ramah lingkungan. Tiga spesies Trichoderma yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: T. harzianum, T. viride, dan T. atroviride. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) meneliti pengaruh perbedaan spesies Trichoderma spp. terhadap daya antagonisme terhadap C. capsici secara in vitro, 2) menentukan tiga spesies Trichoderma yang mempunyai daya antagonisme tertinggi terhadap C. capsici, 3) mengkaji mekanisme antagonisme antara Trichoderma spp. terhadap C. capsici berdasarkan pengamatan makroskopis dan mikroskopis. Metode penelitian terdiri dari dua pendekatan yaitu kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kualitatif untuk menentukan daya antagonisme T. harzianum, T. viride, dan T. atroviride terhadap C. capsici dengan menghitung perbandingan selisih panjang jari-jari koloni kapang patogen yang menjauhi dan mendekati kapang antagonis dengan panjang jari-jari koloni kapang patogen yang menjauhi kapang antagonis Trichoderma spp. pada medium lempeng Potato Dextrose Agar (PDA). Adapun pendekatan kualitatif meliputi pengamatan mekanisme antagonisme secara makroskopis dan mikroskopis. Pengamatan secara makroskopis dilakukan dengan mengamati pertumbuhan koloni kapang antagonis dan kapang patogen, sedangkan pengamatan mikroskopis dilakukan menggunakan mikroskop cahaya dan Scanning Electron Microscope (SEM). Pengujian daya antagonisme dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan sembilan ulangan dengan metode dual culture dengan cara meletakkan potongan koloni kapang antagonis T. harzianum, T. viride, dan T. atroviride, masing-masing kapang antagonis tersebut berpasangan dengan koloni kapang C. capsici yang dibuat menggunakan bor gabus steril pada permukaan medium lempeng PDA, kemudian diinkubasikan pada suhu 27oC selama 4 x 24 jam. Selanjutnya dilakukan penghitungan daya antagonisme masing-masing kapang antagonis. Data uji daya antagonisme yang diperoleh berupa nilai persentase, kemudian dianalisis menggunakan ANAVA serta dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan 5%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa: 1) ada pengaruh perbedaan spesies Trichoderma spp. terhadap daya antagonisme pada C capsici, 2) Kapang antagonis Trichoderma yang memiliki daya antagonisme tertinggi terhadap kapang C capsici adalah T. harzianum dengan persentase penghambatan sebesar 54,41%, dan 3) mekanisme antagonisme secara in vitro yang ditunjukkan oleh kapang Trichoderma spp. berdasarkan pengamatan makroskopis adalah kompetisi, serta melalui pengamatan mikroskopis menunjukkan mekanisme mikoparasit yang terdiri dari tiga macam yaitu hifa kapang antagonis Trichoderma spp. menempel, membelit, dan menembus hifa kapang patogen C capsici
Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Materi Sistem Ekskresi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung
ABSTRACT Probowati, Arwinda. 2016. Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di SMA Negeri 1 Rejotangan Tulungagung. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Amy Tenzer, M.S., (2) Siti Imroatul Maslikah, S.Si, M.Si.Kata Kunci: pengembangan LKS, inkuiri terbimbing, sistem ekskresi, hasil belajar. Pengembangan LKS pembelajaran Biologi ini didasari oleh kurangnya sumber belajar yang menunjang materi sistem ekskresi di SMAN 1 Rejotangan Tulungagung. LKS yang digunakan siswa kelas XI selama ini adalah LKS yang disusun oleh Tim MGMP yang kurang memadai bagi siswa untuk belajar secara mandiri dan cenderung kurang menarik. Pengembangan bahan ajar berupa LKS ini dipadukan dengan model pembelajaran, salah satunya adalah inkuiri terbimbing agar dapat menunjang pemahaman siswa dalam pembelajaran. Sulitnya materi dan kurang tersedianya bahan ajar penunjang dapat mempengaruhi rendahnya pemahaman siswa tentang materi sistem ekskresi. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk berupa LKS Pembelajaran Biologi pada materi sistem ekskresi yang disesuaikan dengan Kurikulum yang berlaku di sekolah yaitu KTSP dan kebutuhan siswa SMA/MA kelas XI. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model 4-D (Define, Design, Develop, and Disseminate) oleh Thiagarajan, dkk., (1974), tetapi pengembangan LKS ini hanya sampai tahap 3 yaitu Develop. Hasil validasi LKS oleh validator ahli materi dari Jurusan Biologi FMIPA UM adalah sebesar 89,25% dengan kriteria sangat valid. Hasil validasi oleh ahli pengembangan LKS sebesar 93% dan praktisi lapangan sebesar 90,75% dengan kriteria sangat valid. Hasil uji kepraktisan LKS menunjukkan persentase sebesar 88,70% dengan kriteria sangat praktis, dan hasil uji keefektifan LKS sebesar 82% dengan kriteria efektif. Berdasarkan hasil validasi, LKS sistem ekskresi memiliki kriteria sangat valid sehingga sangat baik untuk digunakan. LKS yang dikembangkan juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dilihat dari peningkatan nilai hasil belajar kognitif siswa sebesar 42%, sehingga LKS yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi sumber belajar alternatif untuk menunjang kegiatan pembelajaran Biologi pada materi sistem ekskresi
Pengaruh Pemberian Ekstrak Sirih Merah (Piper Crocatum Ruiz & Pav.) terhadap Kadar IL-2 Mencit (Mus Musculus) Model Rheumatoid Arthritis
Abstrak Rheumatoid Arthtritis (RA) merupakan penyakit autoimun yang menyerang persendian. Penyakit RA ditandai dengan radang sinovial, kerusakan struktur jaringan sendi, atrofi otot, dan penipisan tulang. Pada RA terjadi proses inflamasi yang menyebabkan produksi beberapa sitokin yang salah satunya adalah Interleukin-2 (IL-2). Pengobatan RA yang menggunakan DMARDs dan NSAIDs menyebabkan efek samping, sehingga diperlukan terapi herbal untuk pengobatan RA. Terapi herbal yang digunakan salah satunya menggunakan tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz& Pav.). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh ekstrak sirih merah terhadap penurunan kadar IL-2 mencit model RA yang diinduksi CFA. Pengukuran kadar IL-2 dilakukan dengan menggunakan indirect ELISA. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan hewan coba mencit (Mus musculus) yang dibagi menjadi 6 perlakuan yaitu normal, RA, aspirin, ekstrak sirih merah dengan dosis 100mg/kg BB, 200mg/kg BB, dan 400mg/kg BB. Masing-masing kelompok perlakuan terdiri dari 4 ekor mencit sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi ekstrak sirih merah dari ketiga perlakuan secara signifikan (P < 0,05) menurunkan kadar IL-2. Dosis 200mg/kg BB dapat menurunkan IL-2 paling besar yaitu sebesar 148 pg/ml. Peningkatan dosis atau konsentrasi jika semakin tinggi, maka seharusnya terjadi peningkatan aktivitas antiinflamasi, tetapi ternyata pada dosis 400 mg/kg BB justru terjadi penurunan aktivitas antiinflamasi. Hal ini disebabkan karena peningkatan dosis justru menyebabkan pelepasan histamin secara langsung dari mast cell sehingga mengakibatkan pembuluh darah menjadi lebih permeable terhadap cairan plasma, selain itu peningkatan dosis juga menyebabkan kadar antioksidan meningkat. Antioksidan berlebih justru menurunkan aktivitas inflamasi dengan mengganggu pada aktifitas sel-sel imun terhadap infeksi serta dapat terjadi kerusakan DNA
Regulasi Kanker Oleh Gen cWNT5A Secara In Vitro Pada Sel Fibroblas Chicken Kidney (CK) Terinduksi Kadmium
Abstract. Cancer is the leading cause of death in the world after heart disease. In 2008, there were approximately 7.6 million cancer deaths, or about 13% of the total world population mortality. Gene therapy is one type of cancer treatment that is increasingly studied today. Wnt proteins play an important role in some aspect of animal development and adult tissue homeostasis. Wnt signaling has two types of canonical plays an important role in the control of proliferation and differentiation of cells and is associated with the high frequency of tumor tissue and non-canonical role in maintaining cell shape and regulate apoptosis. Cadmium is a class 1 carcinogen that can cause carcinogenic effects through the canonical Wnt signaling pathway / β-catenin. This study aims to determine patterns of gene regulation cWnt5a morphology and viability in vitro on fibroblast cells Chicken Kidney (CK) induced cadmium. CK cells using cadmium-induced cancer, and then exposed to the virus genes cWnt5a Replication Competent ALV LRT with a Splice Acceptor (RCAs). This study uses four treatments and eight replications, normal CK is a negative control, cancer CK (CK + cadmium) and CK + cWnt5a gene as a positive control (1 and 2), while the treatment is CK + + gene cWnt5a cadmium. The treatment’s effect on morphology of cancer cells exposed to the gene cWnt5a shows the characteristics of cells undergoing apoptosis, whereas the ELISA test results showed that the gene cWnt5a can reduce cell viability (p> 0.05) were significantly in cancer cells induced CK cadmium. Keywords: cancer, regulation, morphology, viability, in vitr