SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1764 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pemberian Perasan Buah Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) terhadap Ekspresi Inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS) pada Mencit (Mus musculus) Hasil Induksi Streptozotocin
ABSTRAK Shoimah, Fadilatus. 2016. Pengaruh Pemberian Perasan Buah Labu Siam (Sechiumedule (Jacq.) Sw.) terhadap Ekspresi Inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS) padaMencit (Musmusculus) Hasil Induksi Streptozotocin. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Betty Lukiati, M.S., (II) Ir. Nugrahaningsih, M.P. Kata kunci: diabetes melitus, perasan buah labu siam, inducible nitric oxide synthase (iNOS), streptozotocin, mencit. Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat defisiensi insulin, penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin atau keduanya. Salah satu indikator diabetes yaitu kerusakan sel beta pankreas yang diikuti dengan peningkatan ekspresi inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS) pada sel beta pankreas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perasan buah labu siam terhadap ekspresi iNOS pada sel beta pankreas mencit hasil induksi Multiple Low Doze Streptozotocin (MLD-STZ). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dua puluh empat ekor mencit berumur 8 minggu, berat 20±2 g dibagi menjadi 6 perlakuan dan 4 ulangan. Kelompok mencit kontrol (tanpa induksi MLD-STZ), kelompok mencit hasil induksi MLD-STZ tanpa diberi perasan buah labu siam, kelompok mencit hasil induksi MLD-STZ yang diberi perasan buah labu siam dengan dosis 121 mg/20 gBB, 242 mg/20 gBB, 363 mg/20 gBB, dan 484 mg/20 gBB. Mencit model diabetes diperoleh dengan menginduksikan MLD-STZ secara intraperitoneal. Mencit DM ditandai dengan kenaikan kadar glukosa darah puasa >126 mg/dl, selanjutnya mencit diberi perasan buah labu siam secara oral selama 14 hari. Pada akhir perlakuan, mencit dibedah untuk diambil organ pankreasnya. Organ pankreas dibuat preparat dan diwarnai dengan teknik imunohistokimia menggunakan antibodi spesifik untuk melihat ekspresi iNOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan buah labu siam memiliki kecenderungan untuk menurunkan ekspresi iNOS pada sel beta pankreas, namun tidak signifikan
Analisis Status Trofik Ranu Lamongan Lumajang Jawa Timur
ABSTRACT Suraya, N. S. 2015. Analisis Status Trofik Ranu Lamongan, Lumajang, Jawa Timur.Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hadi Suwono, M.Si., (II)Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si.Kata Kunci: Fitoplankton, status trofik, Ranu Lamongan, Lumajang.Ranu Lamongan merupakan salah satu ekosistem lentik yang ada di Indonesiadan keberadaannya dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai tempat pariwisata danjuga budidaya ikan dengan menggunakan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Hasilbudidaya ikan perairan tawar dengan sistem Keramba Jaring Apung di RanuLamongan pada tahun 2014 sangat melimpah dengan hasil 3000 ton ikan nila pertahunnya dengan konsumsi pakan ikan nilai 3.600 ton. Selisih antara jumlah ikandengan pakan sebesar 600 ton. Nilai tersebut merupakan nilai dari pakan yang tidakdicerna oleh ikan. Aktivitas tersebut akan menyumbang kadar fosfat ke dalamperairan dari sisa pakan pelet yang terbuang sehingga akan menyebabkan eutrofikasi.Dampak yang ditimbulkan oleh eutrofikasi terhadap kualitas perairan perlu dimonitor.Salah satu caranya yaitu dengan mengetahui status trofik perairan. Status trofikmerupakan gambaran tingkat kesuburan suatu perairan.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Penelitian inibertujuan mengetahui jenis fitoplankton, jumlah jenis fitoplankton, hubungan jumlahjenis fitoplankton dengan faktor fisiko-kimia dan mengetahui status trofik. Penelitiandilaksanakan pada bulan April-Mei 2015. Pengambilan sampel dilakukan pada tigaperiode dengan selang waktu dua minggu. Hasil penelitian ditemukan 34 jenisfitoplankton. Jenis fitoplankton yang mendominasi yaitu divisi Chlorophyta. Jumlahjenis setiap ulangan yaitu jumlah total spesies pada ulangan I sebanyak 29 spesies.Ulangan II jumlah total spesies yang ditemukan sebanyak 30 spesies dan padaUlangan III ditemukan jumlah total spesies sebanyak 32 spesies.. Perhitungan regresidiketahui faktor abiotik (kadar fosfat, DO, dan kecerahan) berpengaruh terhadapjumlah jenis fitoplankton. Berdasarkan rumus Carlson perairan Ranu Lamongan tergolong perairan oligotrofik
Keanekaragaman Hewan Tanah (Makrofauna) Tanah Latosol Hutang Lindung Gunung Sangga Buana Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Karawang Jawa Barat
ABSTRACT Keanekaragaman Hewan Tanah (Makrofauna) Tanah Latosol Hutang Lindung Gunung Sangga Buana Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Karawang Jawa Barat Makrofauna tanah terdiri dari berbagai jenis fauna dengan panjang >4 mm, diameter tubuh >2 mm, sebagian besar terdiri dari kelompok Arthropoda, Moluska dan Cacing Tanah. Perubahan sistem penggunaan lahan dari hutan alami ke sistem pertanian cenderung menurunkan biodiversitas makrofauna tanah, termasuk di dalamnya sistem agroforestri. Hutan lindung Gunung Sangga Buana adalah kawasan hutan alam yang terletak di daerah pegunungan yang dikonservasikan untuk tujuan melindungi lahan agar tidak tererosi dan untuk mengatur tata air dengan jenis tanah Latosol (Pozolik Merah Kecoklatan). Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan makrofauna tanah latosol kawasan Hutan Lindung Gunung Sangga Buana Kecamatan Tegalaru Kabupaten Karawang Jawa Barat sebagai data awal pada tempat penelitian dan sebagai data pendukung mengetahui kondisi sifat fisik dan kimia tanah serta vegetasi yang tumbuh di areal penelitian Hutan Lindung Gunung Sangga Buana bagi kehidupan hewan tanah (Makrofauna). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif observatif. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Berdasarkan hasil analisis data penelitian, diperolah dua kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, keanekaragaman hewan makrofauna tanah pada Hutan Lindung Gunung Sangga Buana termasuk kategori sedang yaitu 2,2, kemerataan hewan makrofauna tanah pada Hutan Lindung Gunung Sangga Buana termasuk kategori tinggi yaitu 0,8 dan kekayaan hewan makrofauna tanah pada Hutan Lindung Gunung Sangga Buana termasuk kategori jenis rendah yait
Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Dipadu STAD untuk Meningkatkan Kreativitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XIMIA SMAN 1 Singosari
ABSTRACT Saifudin, Afif. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Dipadu STAD untuk Meningkatkan Kreativitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI MIA SMAN 1 Singosari. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Susriyati Mahanal, M. Pd., (2) Siti Imroatul Maslikah, S. Si, M. Si.Kata kunci: Inkuiri, STAD, Kreativitas, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas XI MIA 1 SMAN 1 Singosari, diketahui bahwa kreativitas dan hasil belajar siswa tergolong masih rendah. Kreativitas yang rendah ditunjukkan dengan pertanyaan yang diajukan siswa masih tergolong tingkat kognitif rendah. Demikian juga hasil ulangan harian bab 1 menunjukkan sebagian besar siswa belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang ditentukan. Hal yang menjadi permasalahan adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Guru hanya menerapkan model ceramah dan sesekali diskusi. Salah satu pembelajaran yang dapat memperbaiki kreativitas dan hasil belajar siswa adalah model inkuiri dipadu STAD. Inkuiri memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan ide kreatif yang dimiliki. STAD adalah pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Perpaduan antara inkuiri dan STAD diharapkan mampu meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI MIA 1 semester genap tahun ajaran 2015-2016 SMAN 1 Singosari dengan jumlah 36 siswa. Penelitian siklus 1 dilakukan pada materi Sistem Pernapasan dan siklus 2 dilakukan pada materi Sistem Koordinasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, soal tes setiap akhir siklus, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran mengalami pening-katan sebesar 13, 54% dari siklus 1 sebesar 80,33% menjadi 93,87%. Kreativitas siswa secara keseluruhan mengalami peningkatan dari siklus 1 sebesar 75% menjadi 88% pada siklus 2. Hasil belajar kognitif siswa pada siklus 1 sebesar 68% meningkat menjadi 86% pada siklus 2. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan pembelajaran inkuiri terstruktur dipadu STAD dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa kelas XI MIA 1 SMAN 1 Singosari.
PENGEMBANGAN MODUL INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI SISTEM INDERA PADA MANUSIA UNTUK SISWA SMA KELAS XI
ABSTRAK Zainiyah, Alfiatus. 2016. Pengembangan Modul Inkuiri Terbimbing untuk Materi Sistem Indera pada Manusia untuk SMA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Biologi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas negeri Malang,. Pembimbing: (I) Drs. Sarwono, MPd., (II) Dra. Susilowati, M.S. Kata kunci: pengembangan modul, inkuiri, sistem indera pada manusia Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu dan interaksi dengan lingkungannya. Kurikulum 2013 yang diimplementasikan secara bertahap di SMA mulai tahun pelajaran 2013-2014, menekankan pendekatan pembelajaran saintifik. Berdasarkan hasil observasi selama KPL dan wawancara dengan guru Biologi yang dilakukan di SMA Laboratorium UM, diketahui bahwa hasil belajar siswa masih rendah, terlihat dari nilai rata-rata kelas di tahun pelajaran 2014/2015 kurang lebih sebesar 60. Selain itu, dalam membelajarkan materi Sistem Koordinasi pada siswa kelas XI di SMA Laboratorium UM membutuhkan waktu yang lebih lama sehingga terkadang melebihi waktu yang telah dialokasikan di Program Semester. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan pengembangan modul inkuiri pada materi sistem indera pada manusia. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan suatu produk berupa modul inkuiri terbimbing pada materi Sistem Indera pada Manusia untuk SMA Kelas XI yang valid dan efisien. Modul yang dikembangkan adalah modul sistem indera pada manusia yang berbasis inkuiri terbimbing. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan model Thiagarajan yang dilaksanakan hanya sampai tahap ketiga (3D) yaitu define, design, dan develop. Validasi modul dilakukan oleh ahli modul dan praktisi lapangan. Validasi materi dilakukan oleh ahli materi. Uji coba yang dilakukan adalah uji coba skala kecil pada lima siswa kelas XI MIPA 2 dan uji coba skala besar pada dua puluh delapan siswa kelas XI MIPA 3 di SMA Laboratorium UM. Data kualitatif berupa komentar dan saran yang diberikan oleh para validator dan siswa pada angket. Data kuantitatif berupa angka yang diperoleh dari angket penilaian modul yang disusun dengan skala Likert, angka yang diisi siswa pada jurnal pembelajaran modul berupa lama waktu siswa mempelajari modul, serta hasil penilaian pengerjaan modul oleh siswa. Berdasarkan analisis hasil validasi kedua modul diketahui bahwa modul sudah layak digunakan. Modul untuk guru sangat valid dengan rata-rata persentase 95,2% dan modul untuk siswa sangat valid dengan rata-rata persentase 95,5%. Validasi materi, diketahui bahwa materi Sistem Indera pada Manusia sangat valid dengan rata-rata persentase 93% artinya bahwa materi yang tersaji sudah valid. Berdasarkan hasil uji coba diketahui bahwa waktu pembelajaran menjadi lebih efisien dengan rata-rata nilai efisien waktu adalah 1,1 yang berarti modul efisien jika dilakukan dengan menggunakan modul sistem indera pada manusia yang telah dikembangkan. Saran pemanfaatan modul adalah sebaiknya modul diuji cobakan pada skala yang lebih besar. Saran pengembangan modul lebih lanjut adalah perlu adanya pengembangan modul pada materi lain yang berbasis inkuiri
Pengembangan Modul Biologi Berorientasi Siklus Belajar pada Materi Sistem Reproduksi Manusia untuk Siswa Kelas XI MIA di SMA Negeri 1 Tumpang
ABSTRAK Suci, M. A. 2016. Pengembangan Modul Biologi Berorientasi Siklus Belajar pada Materi Sistem Reproduksi Manusia untuk Siswa Kelas XI MIA di SMA Negeri 1 Tumpang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.Triastono Imam Prasetyo, M.Pd, (II) Drs. I Wayan Sumberartha, M.Sc. Kata Kunci: Pengembangan Modul Biologi, Siklus Belajar, Sistem Reproduksi Manusia Proses pembelajaran Biologi, khususnya materi Sistem Reproduksi Manusia kelas XI MIA di SMA Negeri 1 Tumpang belum berjalan baik. Hal ini disebabkan kurang memadainya media pembelajaran yang tersedia, buku pegangan siswa terbatas, dan metode pembelajaran yang digunakan guru kurang variatif, sehingga siswa merasa bosan dan mengalami kesulitan dalam memahami materi. Oleh karena itu, untuk menangani masalah tersebut diberikan bahan ajar yang komunikatif berupa modul belajar kepada siswa. Modul belajar merupakan suatu bahan ajar yang disusun secara sistematis, operasional, dan terarah agar dapat digunakan siswa secara mandiri. Modul belajar yang dikembangkan ini berorientasi siklus belajar yang terdiri dari 3 tahapan (3e), yaitu eksplorasi, eksplanasi, dan elaborasi. Pengembangan modul biologi ini bertujuan menghasilkan modul pembelajaran Biologi berorientasi siklus belajar pada materi Sistem Reproduksi Manusia untuk siswa kelas XI MIA di SMA Negeri 1 Tumpang dan untuk mengetahui tingkat kelayakannya. Penelitian ini menggunakan model penelitian pengembangan Borg & Gall (1983) yang terdiri dari 10 langkah pengembangan. Namun, pada penelitian ini hanya menggunakan 7 langkah, yaitu (1) melakukan studi pendahuluan, (2) melakukan perencanaan, (3) mengembangkan produk awal, (4) memvalidasi produk, (5) merevisi produk utama, (6) melakukan uji coba lapangan utama, dan (7) merevisi produk operasional. Pada penelitian ini ada 3 jenis uji coba, yaitu validasi, uji kepraktisan, dan uji keefektifan modul belajar. Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari hasil pengisian angket validasi oleh validator ahli, angket respon siswa oleh siswa, dan skor hasil tes kognitif siswa. Sedangkan data kualitatif diperoleh dari saran dan komentar dari validator ahli. Subyek coba pada penelitian ini adalah validator ahli (terdiri dari ahli media, ahli materi, dan praktisi lapangan) dan siswa kelas XI MIA1 SMA Negeri 1 Tumpang. Hasil validasi oleh validator ahli media adalah sebesar 86,98 % untuk modul guru dan 85,71 % untuk modul siswa, oleh ahli materi adalah sebesar 96,85 % untuk modul guru dan 97,63 % untuk modul siswa, serta oleh praktisi lapangan adalah sebesar 85,79 % untuk modul guru dan 86,34 % untuk modul siswa. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa modul belajar valid dan layak untuk digunakan. Hasil uji kepraktisan yang diperoleh adalah sebesar 87,11 %, yang menunjukkan bahwa modul belajar sangat praktis untuk digunakan. Sedangkan hasil uji keefektifan yang diperoleh adalah sebesar 93,75 %. Oleh karena hasil tersebut melebihi tingkat ketuntasan klasikal sebesar 85%, maka modul belajar dikatakan efektif untuk digunakan
Pengaruh Model Pembelajaran Simas Eric pada Jenis Kelamin yang Berbeda terhadap Keterampilan Metakognitif dan Hasil Belajar Kognitif Biologi Siswa di SMAN 6 Malang
ABSTRACT Brasilita, Yuli. 2016. Pengaruh Model Pembelajaran Simas Eric pada Jenis KelaminBerbeda terhadap Keterampilan Metakognitif dan Hasil Belajar Kognitif BiologiSiswa di SMAN 6 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan IlmuPengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. SitiZubaidah, M.Pd, (II) Dr. Murni Saptasari, M.Si.Kata Kunci: Simas Eric, jenis kelamin, keterampilan metakognitif, hasil belajar kognitifKeterampilan metakognitif dan hasil belajar kognitif dibutuhkan dalammenjalankan Kurikulum 2013 yang memliki paradigma student centered. Berdasarkanobservasi di SMAN 6 Malang, kesadaran siswanya dalam merencanakan belajarnya,memonitor proses belajarnya, dan mengevaluasi hasil belajarnya sendiri masih tergolongrendah. Hal yang sama juga terjadi pada hasil belajar kognitifnya yang kebanyakan tidakmencapai KKM sebesar 75. Berdasarkan observasi guru di SMAN 6 Malang tersebutmasih kurang memperhatikan tentang perbedaan jenis kelamin, misalnya dalampembagian kelompok yang dimungkinkan berpengaruh terhadap proses pembelajaran dikelas. Pada aplikasinya kualitas pengajaran selalu terkait dengan penggunaan modelpembelajaran.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk 1) mengetahui ada tidaknyaperbedaan pencapaian model pembelajaran Simas eric pada jenis kelamin berbedaterhadap keterampilan metakognitif, 2) ada tidaknya perbedaan pencapaian modelpembelajaran Simas eric pada jenis kelamin berbeda terhadap hasil belajar kognitif, dan3) ada tidaknya interaksi antara model pembelajaran Simas eric dengan jenis kelaminterhadap pencapaian keterampilan metakognitif dan hasil belajar kognitif siswa di SMAN6 Malang.Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitianeksperimen semu atau quasi experiment dengan pola non equivalent control groupdesign. Berdasarkan hasil analisis data uji anakova menunjukkan bahwa siswa kelaseksperimen lebih dapat memberdayakan keterampilan metakognitif dan hasil belajarmetakognitif jika dibandingkan dengan siswa kelas kontrol dengan peningkatan sebesar6,7% untuk keterampilan metakognitif dan 78% untuk hasil belajar kognitif. Hasilperbedaan jenis kelamin menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh terhadapketerampilan metakognitif dan hasil belajar kognitif dan tidak ada interaksi antara modelpembelajaran dan jenis kelamin terhadap keterampilan metakognitif dan hasil belajarkognitif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah model pembelajaran berpengaruh terhadapketerampilan metakognitif dan hasil belajar kognitif, namun jenis kelamin tidakberpengaruh terhadap keterampilan metakognitif dan hasil belajar kognitif. Diantaramodel pembelajaran Simas eric dan jenis kelamin juga tidak terdapat interaksi dalammemberdayakan keterampilan metakognitif dan hasil belajar kognitif. Adapun saranuntuk penelitian ini adalah peneliti sebaiknya dapat lebih mengarahkan siswa untuk tidak mengosongkan jawaban saat mengerjakan soal essai sebagai soal pretest dan posttest
DNA Barcoding Ikan Melem Biru Berdasarkan Gen Cytochrome-B Sebagai Upaya Identifikasi Kekayaan Genetik Plasma Nutfah Indonesia
ABSTRACT DNA Barcoding Ikan Melem Biru Berdasarkan Gen Cytochrome-B Sebagai Upaya Identifikasi Kekayaan Genetik Plasma Nutfah Indonesia Ikan Melem Biru merupakan ikan air tawar yang memiliki nama lokal berbeda pada tiap daerah. Banyaknya nama lokal tersebut membuat posisi taksonomi ikan Melem Biru menjadi kabur. Diperlukan penelitian untuk mengidentifikasi ikan tersebut. Penelitian ini bertujuan (1) untuk menentukan spesies ikan Melem Biru berdasarkan sekuen gen Cyt-b; (2) untuk mengetahui filogenetik ikan Melem Biru yang berdasarkan sekuen gen Cyt-b. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif yang data berupa gen Cyt-b dan pengukuran morfometri meristi. Gen Cyt-b diamplifikasi menggunakan primer LA-cyp (5’ ATG GCA AGC CTA CGA AAA AC-’) dan HA-cyp (5’-TCG GAT TAC AAG ACC GAT GCT T-’). Analisis genetik dilakukan dengan software MEGA 6 dengan metode Minimum Evolution, Neighbor Joining, dan Maximum Likelihood. Evaluasi pohon filogenetik dilakukan dengan menggunakan analisis boostrap sebanyak 1000 ulangan serta analisis distance tree dari BLAST NCBI. Berdasarkan analisis genetik menunjukkan Ikan Melem Biru dari Kab. Ponorogo bukan anggota dari Genus Osteochilus namun masih berada dalam Famili Cyprinidae, sedangkan Ikan Melem Biru dari Kab. Malang masih satu Genus dengan Osteochilus. Berdasarkan identifikasi karakter morfologi, Ikan Melem Biru dari Kab. Ponorogo diduga sebagai Osteochilus vittatus dan Kab. Malang diduga sebagai anggota Genus Osteochilus. Jadi terdapat inkonsistensi posisi taksonomi ikan Melem Biru
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MONOPOLI IPA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN UNTUK SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 4 MALANG
ABSTRAK Firdaus, Zuhri. 2014. Pengembangan Media Pembelajaran Monopoli IPA Pada Materi Sistem Pencernaan Makanan Untuk Siswa Kelas VIII Di SMP Negeri 4 Malang. Skripsi, S1 Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah, M.Pd, (II) Dra. Sunarmi, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan media, monopoli IPA, sistem pencernaan makanan Pembelajaran IPA khususnya materi sistem pencernaan makanan di SMP tidak dapat dijelaskan hanya menggunakan metode konvensional seperti ceramah dan tanya jawab, akan tetapi penyampaian pelajaran IPA harus ditunjang dengan praktikum dan media penunjang pembelajaran yang memadai. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Malang, diketahui bahwa media pembelajaran IPA masih terbatas dan sekitar 25% siswa kurang menyukai pelajaran IPA. Oleh karena itu dalam penelitian ini dikembangkan media pembelajaran berupa permainan monopoli IPA materi sistem pencernaan makanan yang telah divalidasi kelayakannya sebelum digunakan untuk siswa. Model pengembangan media yang digunakan adalah model Thiagarajan yang terdiri dari 4 tahap yaitu: Define, design, develop, dan disseminate. Dalam penelitian ini terbatas hanya dilakukan sampai pada tahap develop. Tahap define atau pendefinisian kebutuhan pembelajaran, meliputi analisis ujung depan per-masalahan guru, analisis siswa, analisis tugas, analisis konsep, dan perumusan tujuan pembelajaran. Tahap design atau perencanaan desain produk, meliputi penyusunan standar tes, pemilihan media, pemilihan format dan rancangan awal. Pada tahap develop atau pengembangan produk, meliputi penilaian ahli dan uji coba pengembangan. Berdasarkan hasil validasi ahli media, ahli materi, dan praktisi lapangan diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 85,53 dengan tingkat validasi sangat tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa media monopoli IPA pada materi sistem pencernaan layak digunakan untuk pembelajaran. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa merasa senang dan semangat mengikuti pembelajaran, kemudian menurut data angket hasil uji coba kepada siswa diperoleh nilai persentase sebesar 85 dengan tingkat validasi sangat tinggi. Hasil tersebut berarti bahwa produk media monopoli IPA materi sistem pencernaan makanan efektif dalam menunjang kegiatan pembelajaran
Pengembangan Panduan Pengendalian Hasrat Seksual (Sexual Abstinence) dengan Pendekatan Klarifikasi Nilai bagi Siswa SMP berdasar Konsep Freudian
ABSTRAK Widyastuti, Dian Ari. 2015. Pengembangan Panduan Pengendalian Hasrat Seksual (Sexual Abstinence) dengan Pendekatan Klarifikasi Nilai bagi Siswa SMP berdasar Konsep Freudian. Tesis, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Adi Atmoko, M.Si., (II) Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd. Kata Kunci: pengendalian hasrat seksual, sexual abstinence, klarifikasi nilai Aktivitas seksual pranikah marak terjadi di kalangan siswa SMP. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya pengendalian hasrat seksual (sexual abstinence) siswa SMP. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa panduan pengendalian hasrat seksual dengan pendekatan klarifikasi nilai yang memenuhi kriteria akseptabilitas dan efektif untuk meningkatkan pengendalian hasrat seksual siswa SMP. Model penelitian pengembangan mengadaptasi dari Borg and Gall (1983) yang dimodifikasi menjadi tiga tahapan utama yaitu prapengembangan, pengembangan, dan pascapengembangan. Hasil penilaian ahli dan calon pengguna (konselor) dianalisis dengan inter-rater agreement dan menunjukkan bahwa panduan pengendalian hasrat seksual memenuhi kriteria akseptabilitas. Produk yang telah direvisi kemudian diuji dalam kelompok terbatas menggunakan desain eksperimen one group pretest posttest design. Subjek penelitian adalah delapan siswa kelas VIII yang ditentukan melalui simple random sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengukur pengendalian hasrat seksual yaitu skala sexual abstinence. Hasil uji kelompok terbatas dianalisis dengan Uji Wilcoxon dan menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat sexual abstinence subjek penelitian sebelum dan sesudah intervensi/pelatihan. Disimpulkan bahwa produk yang dihasilkan memenuhi kriteria akseptabilitas dan efektif untuk meningkatkan pengendalian hasrat seksual siswa SMP. Disarankan bagi konselor SMP agar menggunakan panduan tersebut sebagai media pada pelaksanaan layanan dasar, sedangkan untuk peneliti selanjutnya disarankan melaksanakan uji keefektifan produk dengan subjek yang lebih banyak. ABSTRACT Widyastuti, Dian Ari. 2015. Development of Sexual Abstinence Guidebook with Values Clarification Approach for Junior High School Students Based On Freudian Concept. Thesis, Guidance and Counseling, Post Graduate, State University of Malang. Guided by: (I) Dr. Adi Atmoko, M.Si., (II) Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd. Key Words: sexual abstinence, value clarification Pre-marriage sexual activity tend to happen around junior high school student. This phenomenon is happened due low of student’s sexual abstinence. The purpose of this research is to produce sexual abstinence guidebook with values clarification approach that meets the acceptability criteria and effective for increasing junior high school student’s sexual abstinence. Research model development was adapted from Borg and Gall (1983) which modified into three main stages: pre-development, development and post-development. Expert and user (couselor) assessment result analyzed by inter-rater agreement and showed that sexual abstinence guidebook meets the acceptability criteria. Revised product then tested in limited group with one group pretest posttest design. Research subject are eight students whom chosen by simple random sampling. Instrument used to measure sexual abstinence is sexual abstinence scale. Limited group test results analyzed with Wilcoxon Test and showed the research subject difference in sexual abstinence level before and after intervention/training. It can be concluded that production result succeed to fulfill the acceptability criteria and effective for increasing junior high school student’s sexual abstinence. Counselor ini Junior High School is advised to use the sexual abstinence guidebook as the media at the basic service, while for further researcher, it is suggested to do product effectivity test with a larger subject