SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1764 research outputs found
Sort by
Ekspresi Gen APETALA3-3 (PaphAP3-3) Kelas B MADS-box pada Perkembangan Bunga Anggrek Selop (Paphiopedilum glaucophyllum J. J. Smith).
ABSTRAK Sundari, Syifa. 2016. Ekspresi Gen APETALA3-3 (PaphAP3-3) Kelas B MADS-boxpada Perkembangan Bunga Anggrek Selop(Paphiopedilum glaucophyllum J. J. Smith). Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dahlia, M.S., (II) Dra. Dwi Listyorini, M.Si. D.Sc. Kata Kunci: ekspresi gen, APETALA3-3, kelas B MADS-box, Orchidaceae, Paphiopedilum glaucophyllumJ. J. Smith Paphiopedilum, yang dikenal sebagai slipper orchids termasuk dalam subfamili Cypripedioideae, famili Orchidaceae. Paphiopedilum glaucophyllum J. J. Smith.merupakan jenis anggrek endemik Jawa Timur.Keanekaragaman dan spesialisasi dari morfologi beberapa bunga anggrek telah diamati. Organ bunga diatur secara spesifik oleh interaksi famili gen MADS-box. Gen kelas B MADS-boxmemiliki dua clade yaitu APETALA3 (AP3) dan PISTILLATA (PI) mengkode MADS domain yang mengandung faktor transkripsi. Gen AP3 terbedakan dalam empat clade, interaksi kombinasi dari empat clade ini dengan gen homeotik yang lain menentukan perbedaan ciri dari periantium.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ekspresi gen PaphAP3-3 (clade 1/ AP3B1) pada perkembangan bunga anggrek selop jenis Paphiopedilum glaucophyllum J. J. Smith. Penelitian ini berhasil melaporkan gen PaphAP3-3 diekspresikan disetiap organ bunga yaitu bagian sepal, petal, labelum, dan colum pada tahapan kuncup bunga
Ekspresi Gen Mads-Box Kelas B Pistillata (PaphPI) Pada Perkembangan Bunga Anggrek Selop (Paphiopedilum Glaucophyllum J.J. Smith)
ABSTRAK Maharani, Putri Eka. 2016. Ekspresi Gen Mads-Box Kelas B Pistillata (PaphPI) Pada Perkembangan Bunga Anggrek Selop (Paphiopedilum glaucophyllum J.J. Smith). Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matemataika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Dr. Dahlia M.Si, (II) Dra. Dwi Listyorini, M.Si, D.Sc. Kata kunci : Paphiopedilum glaucophyllum J.J Smith,PaphPI, Perkembangan bunga Paphiopedilum glaucophyllum J.J Smith merupakan anggrek endemik jawa timur, Indonesia. Anggrek ini memiliki morfologi labelum berbentuk selop berwarna merah muda keunguan dan bukaan selop berwarna kuning cerah. Petal bunga anggrek selop berwarna cokelat keunguan membentuk spiral dan memiliki banyak trikoma. Karakter perhiasan bunga yang unik ini akibat dari adanya gen yang berperan dalam perkembangan bunga, adapun gen tersebut salah satunya adalah PISTILLATA(PI). Gen PISTILLATA(PI) merupakan salah satu gen anggota dari subfamili gen MADS-box. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi gen PISTILLATA (PaphPI) dari Paphiopedilum glaucophyllum J.J Smith yang diawali dengan cara isolasi RNA total dan membuat cDNA menggunakan primer: Forward: 5’-ATGGGGCGAGGG AAG ATCGAGAT-3’ dan Reverse: 5’-TGTTATTTATTTCCTTGCAAGTTGGGCT-3’. Hasil penelitian menunjukkan ekspresi gen PaphPI dari visualisasi hasil elektroforesis memiliki pola yang sama pada organ colum, labelum, sepal dan petal. Hal ini diduga gen PaphPI berperan dalam keseluruhan perkembangan bunga
Struktur Dan Komposisi Komunitas Serangga pada Pertanian Padi Organik dan Konvensional di Desa Sumber Ngepoh Kabupaten Malang
ABSTRAK Tridiptasari, Amelia. 2015. Struktur Dan Komposisi Komunitas Serangga pada Pertanian Padi Organik dan Konvensional di Desa Sumber Ngepoh Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Dharmawan, M.Si, (II) Prof. Dr. Ir. Suhadi, M.Si. Kata Kunci: struktur dan komunitas serangga, pertanian organik dan konvensional, Desa Sumber Ngepoh Sebagai negara agraris Indonesia belum mampu melakukan swasembada pangan sehingga banyak dilakukan upaya untuk meningkatkan kuantitas beras yang menjadi sumber pangan utama penduduk Indonesia yaitu dengan penggunaan pupuk kimia serta insektisida secara berlebih atau dikenal dengan cara konvensional yang memberikan dampak negatif khususnya bagi lingkungan. Penggunaan bahan kimia seperti pupuk dan insektisida akan menurunkan jumlah serangga predator dan membuat hama menjadi resistensi serta ketidakstabilan ekosistem. Dampak negatif tersebut mulai mendorong banyak petani untuk beralih ke model pertanian yang lebih mengutamakan lingkungan, yaitu dengan pertanian organik. Terkait gagasan tersebut telah dilakukan penelitian dengan tujuan untukmendeskripsikan jenis serangga pada pertanian padi organik dan konvensional, mendeskripsikan struktur komunitas serangga (berdasarkan nilai kerapatan relatif, frekuensi relatif, dominasi relatif, indeks nilai penting), mendeskripsikan komposisi komunitas serangga (berdasarkan nilai indeks keanekaragaman (H’), indeks kemerataan (E), dan indeks kekayaan (R)), serta mendeskripsikan perbedaan struktur dan komposisi komunitas serangga pada lahan organik dan konvensional. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan pada bulan Februari - April 2016 di lahan pertanian padi organik dan konvensional di Desa Sumber Ngepoh Kabupeten Malang. Pengambilan sampel dilakukan secara langsung yaitu dengan mencuplik rumpun padi secara langsung dengan perangkap buatan dan kemudian memotong rumpun tersebut. Serangga yang terperangkap pada rumpun padi yang tercuplik kemudian di analisis. Analisis perbedaan komposisi komunitas serangga dilakukan dengan menggunakan uji-t. Hasil penelitian memperlihatkan pada pertanian padi organik ditemukan 13 jenis serangga dari 5 Ordo dan 11 Famili sedangkan pada pertanian padi konvensional didapatkan 15 jenis serangga dari 5 Ordo dan 8 Famili. Berdasarkan analisis data diketahui bahwa pada pertanian padi organik nilai INP tertinggi serangga yang berpotensi sebagai hama adalah Nezara viridula, sedangkan pada pertanian konvensional adalah Leptocorisa oratorius. INP tertinggi serangga predator pada pertanian padi organik maupun konvensional adalah oleh Conocephalus longipennis. Rerata nilai H’, E, dan R pada pertanian padi organik maupun konvensional memiliki kriteria sedang, tinggi, dan sedang. Hasil uji-t memperlihatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan nilai indeks keanekaragaman (H’), indeks kemerataan (E) serangga pada pertanian padi organik dan konvensional, sedangkan untuk nilai indeks kekayaan (R) terdapat perbedaan
Pengaruh Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Terhadap Karakter, Metakognitif, dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI MIA di SMA Negeri 02 Batu Pada Materi Sistem Koordinasi Pada Manusia
ABSTRAK Amalina, N. S. 2016. Pengaruh Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Terhadap Karakter, Metakognitif, dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI MIA di SMA Negeri 02 Batu Pada Materi Sistem Koordinasi Pada Manusia. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M. Pd., (II) Nuning Wulandari, S. Si., M. Si. Kata Kunci: PjBL, karakter, metakognitif, hasil belajar Siswa kelas XI MIA SMAN 02 mengungkapkan bahwa implementasi karakter belum dilaksanakan dengan baik dalam pembelajaran di sekolah. Siswa tidak bisa mengembangkan metakognitif melalui pembelajaran dan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa belum memuaskan pada matapelajaran Biologi. Tujuan penelitian ini yaitu (1) mengetahui pengaruh pembelajaran PjBL terhadap karakter siswa, (2) mengetahui pengaruh pembelajaran PjBL terhadap metakognitif siswa, dan (3) mengetahui pengaruh pembelajaran PjBL terhadap hasil belajar siswa kelas XI MIA di SMA Negeri 02 Batu. Pembelajaran PjBL memiliki kelebihan yaitu dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk merencanakan, mengorganisasi, mengumpulkan informasi, menyelesaikan masalah, mengelola waktu saat mengerjakan tugas, terampil dalam membuat proyek, serta mengevaluasi. Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen dengan rancangan pretest posttest non-equivalent control group design. Variabel bebas pada penelitian ini adalah PjBL, variabel terikat meliputi karakter yang diakses berdasarkan lembar observasi dan penilaian diri, metakognitif diakses melalui pretest dan posttest yang terintegrasi dengan rubrik keterampilan metakognitif, serta hasil belajar pengetahuan berdasarkan penilaian LKS dan hasil belajar keterampilan siswa melalui lembar observasi keterampilan siswa. Instrumen penelitian yang sudah dibuat kemudian divalidasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Analisis data diawali dengan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas. Data yang normal dan homogen akan dilanjutkan dengan uji hipotesis yaitu uji anakova dengan signifikasi 0,5% dan dilanjutkan dengan uji BNT (uji LSD) dengan program SPSS 16.0 for windows . Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter siswa kelompok kelas eksperimen berdasarkan observasi 10,08% lebih baik dan karakter berdasarkan penilaian diri 7,24% lebih baik daripada kelompok kelas kontrol. Metakognitif siswa kelompok kelas eksperimen 6,05% lebih baik daripada kelompok kelas kontrol. Hasil belajar pengetahuan siswa kelompok kelas eksperimen 3,09% lebih baik daripada kelompok kelas kontrol. Hasil belajar keterampilan siswa kelompok kelas eksperimen 4,03% lebih baik daripada kelompok kelas kontrol. Pembelajaran PjBL terbukti berpengaruh terhadap karakter, metakognitif, dan hasil belajar siswa
UJI KOMPETISI INTERSPESIFIK Trichogramma chilonis Ishii DENGAN Trichogramma japonicum Girault (HYMENOPTERA: TRICHOGRAMMATIDAE) DALAM TELUR Chilo auricilius Dudgeon (LEPIDOPTERA: PYRALIDAE)
ABSTRAK Solikha, Dwi Anggun Putri. 2016. Uji Kompetisi Interspesifik Trichogramma chilonis Ishiidengan Trichogramma japonicum Girault (Hymenoptera: Trichogrammatidae) dalam Telur Chilo auricilius Dudgeon (Lepidoptera: Pyralidae). Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fatchur Rohman M.Si (II) Dra. Susilowati, M.S Kata Kunci: Trichogramma chilonis Ishii, Trichogramma japonicum Girault, kompetisi interspesifik, telur Chilo auricilius Dudgeon. Kompetisi interspesifik yaitu persaingan yang terjadi antara parasitoid T. chilonis dan T. japonicum untuk memperebutkan kelompok telur hama batang tebu C. auricilius. Penelitian mengenai kompetisi interspesifik antara T. chilonis dan T. japonicum perlu dilakukan agar upaya pengendalian hayati pada perkebunan tebu dapat dilakukan dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendedahan tunggal dengan pendedahan bersamaan, waktu parasitasi dan urutan parasitasi terhadap jumlah imago T. chilonis dan T. japonicum yang muncul danlarva C. auricilius yang menetas. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari lima perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 10 kali. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Maret 2016 di Laboratorium Ekologi 109 Universitas Negeri Malang (UM) dan Laboratorium Quality Control (QC) Pabrik Gula Pesantren Baru, Jengkol, Kediri.Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa jumlah imago T. chilonis dan T. japonicum yang muncul dan larva Chilo auricilius yang menetas. Data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis pada software SPSS 16.0 for windows dan dilanjutkan dengan uji Dunn untuk mengetahui rerata jumlah T. chilonis, T. japonicum, dan larva C. auricilius yang tertinggipada semua perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendedahan tunggal dan bersamaan, waktu parasitasi, dan urutan parasitasimempengaruhi jumlah imago T. chilonis dan T. japonicumyang muncul dan larva C. auriciliusyang menetas, dengan nilai signifikansi 0,000. Perlakuan satu macam parasitoid Trichogramma chilonis menunjukkan tingkat parasitasi yang tinggi karena jumlah larva C. auricilius yang menetas rendah, sedangkan perlakuan dua macam parasitoid Trichogramma (pendedahan bersamaan) menunjukkan tingkat parasitasi yang rendah karena jumlah larva C. auricilius yang menetas lebih banyak apabila dibandingkan dengan jumlah larva C. auricilius pada perlakuan satu macam parasitoid. Pendedahan bersamaan imago T. chilonis dan T. japonicum pada telur Chilo auricilius akan menyababkan terjadinya kompetisi secara fisik antara kedua spesies untuk memperebutkan inang, sehingga tingkat parasitasi terhadap telur menjadi menurun apabila dibandingkan dengan tingkat parasitasi pada perlakuan pendedahan satu spesies parasitoid. Pemberian jeda waktu parasitasi T. chilonis dan T. japonicum selama satu jam akan meningkatkan jumlah parasitasi telur C. auricilius. Perbedaan parasitoid primer pada saat keduanya berasosiasi menyebabkan adanya perbedaan hasil kemunculan spesies. Jika pendedahan dilakukan dengan parasitoid primer T. chilonis maka imago T. chilonis, T. japonicum dan larva C. auricilius berhasil hidup, namun jika pendedahan dilakukan dengan parasitoid primer T. japonicum maka hanya imago T. chilonis dan larva C. auricilius yang berhasil hidup tetapi imago T. japonicum tidak muncul. ABSTRACT Solikha, Anggun Dwi Putri. 2016. Interspecific Competition of Trichogramma chilonis Ishii (Hymenoptera: Trichogrammatidae) with Trichogramma japonicum Girault (Hymenoptera: Trichogrammatidae) in Egg Chilo auricilius Dudgeon (Lepidoptera: Pyralidae). Thesis, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Adviser: (I) Dr. Fatchur Rohman M.Si (II) Dra. Susilowati, M.S Keywords: Trichogramma chilonis Ishii, Trichogramma japonicum Girault, interspecific competition, eggsChilo auricilius Dudgeon. Interspecific competition is competition that occurs between the parasitoid T. chilonis and T. japonicum to fight sugarcane pest eggs C. auricilius. Research on interspecific competition between T. chilonis and T. japonicum is necessary so that biological control efforts on the sugar cane can be done optimally. This study aims to determine the effect of a single exposure with the same exposure, the time sequence of parasitism and parasitism on the number of adult T. chilonis and T. japonicum emerging and C. auricilius larvae that hatch. This study is an experimental research by using a completely randomized design, consisting of five treatments and each treatment was repeated 10 times. The study was conducted in February-March 2016 at 109 Ecology Laboratory, State University of Malang (UM) and the Laboratory Quality Control (QC) Pesantren Baru Sugar Factory, Jengkol, Kediri. Data obtained from this study is the number of adult T. chilonis and T. japonicum emerging and Chilo auricilius larvae that hatch. The data has been analyzed using Kruskal Wallis test in SPSS 16.0 software for windows and continued with Dunn test to determine the average amount of T. chilonis, T. japonicum, and larvae of C. auricilius the highest among all treatments. The results showed that a single exposure and at the same, time parasitism, and the order of parasitism affects the number of adult T. chilonis and T. japonicum emerging and larvaeof C. auricilius hatched, with significant value 0,000. The treatment of one type of parasitoid Trichogramma chilonis showed parasitism levels were high because the number of hatched larvae of C. auricilius lower, while the treatment of two kinds of parasitoid Trichogramma (concurrent exposure) showed levels of parasitism is low because the number of hatched larvae of C. auricilius more when compared with the number of C. auricilius larvae in the treatment of one kind parasitoids.Concurrent exposure imago T. chilonis and T. japonicum in eggs Chilo auricilius will cause physical competition between the two species to compete for the host, so the level of parasitism on eggs was decreased when compared with the level of parasitism on the treatment of exposure of the parasitoid species. Giving lag time parasitation T. chilonis and T. japonicum for an hour will increase the number of egg parasitism C. auricilius. Differences in primary parasitoid when both are associated causes of differences in the results of the emergence of species. If the exposure is done with a primary parasitoid T. chilonis then imago T. chilonis, T. japonicum and larvae of C. auricilius managed to live, but if the exposure is done with a primary parasitoid T. japonicum then only imago T. japonicum and larvae of C. auricilius successful life but imago T. chilonis not appear
. Penerapan Latihan Menyimak dalam Deutsch Interaktiv Deutsche Welle sebagai Media Pembelajaran Mandiri Mahasiswa Semester 3 Sastra Jerman Universitas Negeri Malang Tahun Angkatan 2014
ABSTRACT Sadewinta, Hafidza Cika. 2016. Penerapan Latihan Menyimak dalam Deutsch Interaktiv Deutsche Welle sebagai Media Pembelajaran Mandiri Mahasiswa Semester 3 Sastra Jerman Universitas Negeri Malang Tahun Angkatan 2014. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Rizman Usman, M. Pd., (II) Desti Nur Aini, S.S, M. Pd.Kata Kunci: menyimak, media pembelajaran mandiri, Deutsch Interaktiv Keterampilan menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang penting untuk menjalin komunikasi. Keterampilan menyimak merupakan keterampilan yang sukar bagi pembelajar bahasa Jerman semester 3 di Jurusan Satra Jerman Universitas Negeri Malang tahun angkatan 2014, maka dari itu diperlukan solusi yang tepat untuk mengatasi kesukaran tersebut. Deutsch Interaktiv adalah media pembelajaran mandiri berbasis internet yang dapat digunakan oleh dosen bahasa Jerman untuk memotivasi mahasiswa melaksanakan pembelajaran. Variasi materi latihan menyimak dan visual yang menarik akan memotivasi mahasiswa untuk belajar mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Deutsch Interaktiv sebagai media pembelajaran mandiri pada matakuliah Deutsch III untuk kemampuan menyimak bahasa Jerman mahasiswa Offering A tahun angkatan 2014, serta mengetahui kelebihan dan kekurangan media Deutsch Interaktiv. Metode penelitian pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan instrumen pedoman observasi, angket, dan dokumentasi, sedangkan sumber data pada penelitian ini adalah aktivitas, respon dan tanggapan mahasiswa menggunakan media Deutsch Interaktiv oleh mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Offering A tahun angkatan 2014.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan latihan menyimak dalam Deutsch Interaktiv sebagai media pembelajaran mandiri dapat berjalan dengan baik dan mahasiswa tertarik dalam mengikuti pembelajaran keterampilan menyimak. Media pembelajaran mandiri Deutsch Interaktiv memiliki beberapa kelebihan yang membuat pembelajaran menyimak menjadi mudah dipahami dan suasana belajar menjadi lebih efektif serta kondusif. Di samping beberapa kelebihan yang dimiliki, terdapat juga kekurangan dalam media ini yaitu sifatnya satu arah dan harus diakses menggunakan internet. AUSZUG Sadewinta, Hafidza Cika. 2016. Die Anwendung des Selbständigen Lernmediums Deutsch Interaktiv für Hörübungen der Studenten der Deutschabteilung im dritten Semester des Jahrgangs 2014. Diplomarbeit. Deutschabteilung, Literaturwissenschaftliche Fakultät, Staatlichen Universität Malang. Betreuer/in: (I) Dr. Rizman Usman, M.Pd, (II) Desti Nur Aini, S.S., M.Pd.Schlüsswörter: hören, Selbständiges Lernmedium, Deutsch Interaktiv Hörfertigkeit ist eine der wichtigen Sprachfertigkeiten zum Kommunizieren. Hörfertigkeit ist eine schwierige Fertigkeit, die die Deutschstudierende in der Klasse A des Jahrgangs 2014 der Deutschabteilung der Literaturwissenschaftlichen Fakultät der Staatlichen Universität Malang erleben. Wegen der mangelnden Hörfertigkeit der Studenten sollen die Dozenten deswegen bestimmte Lernmedien nutzen, beispielsweise Deutsch Interaktiv. Deutsch Interaktiv ist ein Lernmedium, das auf Internet basieren. Dieses Lernmedium kann verwendet werden, um die Studenten beim Unterricht zu motivieren.Diese Untersuchung hat zum Ziel, die Anwendung des Lernmediums Deutsch Interaktiv im Deutsch III Unterricht zu beschreiben und deren Vor- bzw. Nachteile zu wissen. In dieser Untersuchung ist eine deskriptive qualitative Methode benutzt. Die Daten sind Beobachtungsergebnisse, Umfrageergebnisse, und Dokumentation, währed die Datenquellen sind die Unterrichtprozesse mit der Anwendung des Lernmediums Deutsch Interaktiv in der Klasse A der Deutschabteilung des Jahrgangs 2014 sind. Basierend auf den Untersuchungsergebnissen kann es zusammengefasst werden, dass die Anwendung des Lernmediums Deutsch Interaktiv gut gelaufen ist. Darüber hinaus hat dieses Lernmedium ein paar Vorteile, nämlich leicht zu verstehen und der Unterricht ist effektiver bzw. förderlicher. Dagegen hat dieses Lernmedium auch Nachteile, und zwar müssen die Studenten dieses Lernmedium selbständig nutzen und online sein.ABSTRACT Sadewinta, Hafidza Cika. 2016. The Implementation of Deutsch Interaktiv as Self-Taught Medium for Listening Excersice of the German Literature Student 2014 in third Semester. Thesis, Major of German Literature, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Rizman Usman, M. Pd., (II) Desti Nur Aini, S.S, M. Pd.Keywords: listening, self-taught medium, Deutsch Interaktiv Listening is one of the most important language skill to communicate. Listening is also the hardest skill for German Literature student, Faculty of Letters, State University of Malang, so that’s why a right solution is needed. Deutsch Interaktiv is a self-taught learning medium based on internet which can be use by the German lectures and to motivate the students in study. By the variation of listening exercises and visually interesting would motivate the student to learn at home.This research objective is aimed to describe the implementation of Deutsch Interaktiv as self-taught learning medium on the course Deutsch III for German listening skill to the class A student 2014 on their third semester and it’s advantages and disadvantages. This research used descriptive qualitative method. The data was collected by instruments of observation guide, questionnaire guide, and documentation guide. The source of data of this research are the process of learning by using Deutsch Interaktiv and the German Literature’s students Offering A 2014 on their third semester. The conclusion of this research shows that the implementation of Deutsch Interaktiv as self-taught learning medium on the course Deutsch III for German listening skill to the class A student 2014 on their third semester is sufficient. Self-taught medium Deutsch Interaktiv has several advantages that make listening process becomes easier to understand and is more effective yet conducive. In addition there are also disadvantages in this medium which is only one-way direction and student must go online
Kajian Komunitas Arthropoda Predator sebagai Agen Pengendali Hayati pada Lahan Jeruk Manis/Jeruk Peras (Citrus sinensis (L.) Osbeck) Di Desa Kedunggebang Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi
ABSTRAK Qoriah, Siti Ahsanul. 2015. Kajian Komunitas Arthropoda Predator sebagai Agen Pengendali Hayati pada Lahan Jeruk Manis/Jeruk Peras (Citrus sinensis (L.) Osbeck) Di Desa Kedunggebang Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ibrohim, M.Si. Kata Kunci: komunitas, Arthropoda predator, agen pengendali hayati Telah dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengungkap jenis Arthropoda predator yang berpotensi sebagai agen pengendali hayati dan yang berperan pentig sebagai agen pengendali hayati. Menganalisis tingkat keanekaragaman, kemerataan, kekayaan, dan kelimpahan relatif Arthropoda predator. Menganalisis hubungan factor abiotik dan waktu terhadap tingkat keanekaragaman, kemerataan dan kekayaan. Sampel diambil dengan menggunakan light trap dan pengambilan langsung. Dilakukan pada bulan Februari-Maret 2015 di lahan jeruk Desa Kedunggebang Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi. Analisis menggunakan indeks keanekaragaman, kemerataan, kekayaan dan kelimpahan relatif. Analisis hubungan faktor abiotik dan waktu terhadap tingkat keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Arthropoda predator yang berpotensi sebagai agen pengendali hayati terdiri 25 spesies dari 10 famili. Famili Arthropoda predator yang berperan penting sebagai agen pengendali hayati yaitu Carabidae , Coccinelidae, Coenagrionidae, Libellulidae, Mantidae, Minochilas, Araneidae, Oxyopidae, Tetragnathidae, Thomisidae, dan Salticidae. Tingkat keanekaragaman Arthropoda predator pada lahan jeruk di Desa Kedunggebang pada waktu pagi, siang, sore, dan malam hari dikategorikan sedang. Tingkat kemerataan Arthropoda predator pada waktu pagi, siang, sore, dan malam hari dikategorikan tinggi. Tingkat kekayaan Arthropoda predator pada waktu pagi, siang, sore, dan malam hari dikategorikan rendah. Kelimpahan relative tertinggi ketika pagi hari yaitu Argiope anasuja, siang hari Orthetrum sabina, sore hari Salticus sp. , dan malam hari Eriovixia laglaisei. Ada hubungan antara faktor abiotik dengan kemerataan Arthropoda predator pada lahan jeruk dengan nilai koefisien determinasi R2 = 90,5%, faktor abiotik yang paling memberikan pengaruh adalah kecepatan angin. Waktu berhubungan dengan keanekaragaman Arthropoda predator dengan nilai koefisien determinasi R2=76,1%, waktu yang berhubungan dengan keanekaragaman adalah pagi dan malam.
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP KETERAMPILAN METAKOGNITIF, KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, DAN RETENSI BELAJAR BIOLOGI SISWA SMA DI KOTA MALANG
ABSTRAK Al Aslahah, BintiHifdhotun. 2016. Pengaruh Strategi Pembelajaran Group Investigation terhadap Keterampilan Metakognitif, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Retensi Hasil Belajar Biologi SiswaKelas X di SMA Kota Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof.Dra. Herawati Susilo, M.Sc, Ph. D., (II) Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd. Kata Kunci: keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, retensi, strategi pembelajaran Group Investigation Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, keterampilan metakognitif dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMA khususnya di SMAN 10 tergolong rendah. Hal ini disebabkan karena keterampilan berpikir belum diberdayakan di sekolah serta aktivitas siswa yang masih rendah.Rendahnya aktivitas siswa berdampak pada pembelajaran yang dialami siswa kurang bermakna, sehingga siswa mudah lupa dengan hal yang dipelajarinya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran Group Investigation (GI) terhadap keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, dan retensi hasil belajar kognitif Biologi siswa SMA di Kota Malang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan desain pretest postest non-equivalent control group design yang dilaksanakan pada siswa kelas X-MIPA G dan X-MIPA H di SMAN 10 Malang pada semester genap Tahun Ajaran 2015/2016. Subjek penelitian dipilih dengan menguji kesetaraan 3 kelas menggunakan ANAVA, kemudian 2 kelas yang setara ditetapkan menjadi kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan metode acak.Uji prasyarat hasil penelitian berupa uji homogenitas varian dan uji normalitas, sedangkan uji hipotesis menggunakan teknik analisis ANAKOVA dengan taraf signifikasi 0,5% yang dilanjutkan dengan uji beda LSD menggunakan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan strategi pembelajaran GI berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, dan retensi hasil belajar kognitif siswa. Rata-rata peningkatan keterampilan metakognitif dan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen lebih besar dibandingkan kelas kontrol. Retensi hasil belajar kognitif pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran GI dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, dan retensi hasil belajar kognitif siswa, namun tetap dengan memperhatikan pengelolaan kelas yang baik
PENGARUH EKSTRAK DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) TERHADAP KADAR TNF-α PADA MENCIT (Mus musculus L) GALUR SWISS MODEL RHEUMATOID ARTHRITIS
ABSTRAK Pratiwi, Alvian. 2016. Pengaruh Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) terhadap Kadar TNF-α pada Mencit (Mus musculus L) Galur Swiss Model Rheumatoid Arthritis. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si, (II) Nuning Wulandari, S.Si., M.Si Kata Kunci: ekstrak sirih merah, inflamasi, rheumatoid arthritis, TNF-α Rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan inflamasi pada persendian. Penyebab RA adalah faktor genetik, hormon, dan lingkungan. Penyakit RA juga dapat disebabkan oleh peningkatan Reactive Oxygen Species (ROS). Peningkatan ROS dapat menyebabkan stres oksidatif sehingga mengakibatkan terjadi peningkatan kadar Tumor necrosis factor (TNF-α). TNF-α berperan penting dalam proses inflamasi yaitu dengan mengaktifkan molekul adhesi dan menarik leukosit ke dalam jaringan inflamasi. Pencegahan terjadinya rheumatoid arthritis dapat dilakukan dengan menghambat proses inflamasi melalui pengobatan yang mengandung antioksidan. Sirih merah mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan saponin yang mengandung aktivitas antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun sirih merah terhadap kadar TNF-α pada mencit galur swiss model rheumatoid arthritis. Penelitian dilakukan di sub Laboratorium Fisiologi Hewan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang dan Laboratorium Faal Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, pada bulan September – November 2015. Objek yang digunakan adalah mencit galur Swiss jantan umur 8 minggu dengan berat ± 30 gram dengan jumlah 24 mencit. Mencit dibagi dalam enam kelompok (Normal, mencit RA, mencit RA + Aspirin dengan dosis 0,013 mg/kg BB, mencit RA + ekstrak sirih merah 100 mg/kg BB, mencit RA + ekstrak sirih merah 200 mg/kg BB, mencit RA + ekstrak sirih merah 400 mg/kg BB) dengan 4 kali ulangan. Mencit model RA diinjeksi Complete Freund’s Adjuvant (CFA) di intraperitonial setelah 7 hari diinjeksi dengan Incomplete Freund's Adjuvant (IFA) di ekstremitas posterior kiri pada bagian telapak kaki dan setelah 7 hari diberi perlakuan. Pemberian ekstrak daun sirih merah dilakukan cara sonde lambung selama 21 hari. Pada akhir perlakuan, mencit dibedah untuk diambil darah melalui jantung. Selanjutnya darah disentrifuge kemudian diambil serum darah dan dilakukan analisis ELISA indirect. Hasil menunjukkan ada kecenderungan penurunan TNF-α pada mencit model RA yang diberi perlakuan ekstrak daun sirih merah dibandingkan kelompok perlakuan aspirin. Hal ini disebabkan aspirin memiliki efek samping. Dosis 100 mg/kg BB menunjukkan dosis yang efektif dalam menurunkan kadar TNF-α dibandingkan dosis 200 mg/kg BB dan 400 mg/kg BB
Identifikasi Senyawa Bioaktif dan Uji Antioksidan Perasan Buah Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) untuk Terapi Mencit Balb/C Diabetes Hasil Induksi Streptozotocin
ABSTRAK Mukminin, Lilik Hidayatul. 2016. Identifikasi Senyawa Bioaktif dan Uji Antioksidan Perasan Buah Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) untuk Terapi Mencit Balb/C Diabetes Hasil Induksi Streptozotocin. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Betty Lukiati, M.S., (II) Ir. Nugrahaningsih, M.P. Kata kunci: perasan buah labu siam, senyawa bioaktif, antioksidan, streptozotocin, diabetes mellitus, mencit (Mus musculus). Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit fisiologis dengan karakteristik gangguan pada metabolisme glukosa akibat penurunan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Jumlah penderita DM di Indonesia meningkat dengan estimasi pada tahun 2030 mencapai 21,3 juta penderita. Injeksi insulin menjadi terapi utama DM tipe1 dengan risiko hipoglikemia yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif, total fenol, aktivitas antioksidan, dan potensi perasan buah labu siam sebagai alternatif terapi diabetes pada mencit hasil induksi multiple low doze streptozotocin. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dan eksperimental. Penelitian deskriptif skrining fitokimia dengan pereaksi warna menunjukkan perasan buah labu siam mengandung flavonoid dan polifenol, sedangkan dengan kromatografi lapis tipis terdeteksi mengandung senyawa flavonoid jenis rutin dengan nilai Rf 0,25 dan polifenol jenis peonidin dengan nilai Rf 0,63, sedangkan uji alkaloid menunjukkan reaksi negatif. Perasan buah labu siam mengandung kadar total fenol mencapai 154,4 µg asam galat/g dan memiliki aktivitas antioksidan tinggi dengan nilai IC50 sebesar 34,35567 µg/mL. Penelitian eksperimental dilakukan menggunakan RAL dengan perlakuan (5x4). Hasil pengukuran kadar glukosa darah dianalisis dengan ANAKOVA untuk mengetahui pengaruh perasan buah labu siam terhadap kadar glukosa darah mencit diabetes. Hasil perhitungan rerata kadar glukosa darah menunjukkan bahwa perasan buah labu siam dengan dosis 121, 243, 364, dan 485 mg/20 gBB, dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan penurunan paling besar pada pemberian perasan dosis 243 mg/ 20 gBB, sedangkan analisis secara statistik menunjukkan tidak berpengaruh terhadap penurunan glukosa darah mencit. Penelitian dengan hewan model diabetes, sebaiknya dilakukan pengukuran kadar glukosa darah sebelum aklimatisasi dan menggunakan metode stratified doze streptozotocin (SD-STZ) untuk memperoleh hewan model diabetes dengan kondisi hiperglikemia yang lebih stabil