SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1764 research outputs found
Sort by
. Identifikasi Pemahaman Konsep dan Miskonsepsi Siswa SMA serta Mahasiswa Pendidikan Biologi pada Topik Sel Menggunakan Instrumen Three Tier Multiple Choice Test
ABSTRAK Mahendra, Ananda Iza. 2016. Identifikasi Pemahaman Konsep dan Miskonsepsi Siswa SMA serta Mahasiswa Pendidikan Biologi pada Topik Sel Menggunakan Instrumen Three Tier Multiple Choice Test. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hadi Suwono, M.Si., (II) Drs. Masjhudi, M.Pd Kata kunci: pemahaman, konsep, miskonsepsi, sel, three tier multiple choice test Pembelajaran biologi, terutama pada topik sel merupakan pembelajaran yang abstrak. Adanya pembelajaran yang abstrak membuat siswa mendapatkan hasil belajar yang rendah. Adanya hasil belajar siswa yang rendah, dapat diketahui bahwa siswa belum memahami konsep-konsep sel secara benar. Sehingga akan berdampak pada hasil prestasi siswa. Berdasarkan program TIMSS (Trends In International Mathematic and Science Study) hasil belajar sains menunjukkan pada tahun 2011 peringkat Indonesia berada di 41 dari 43 negara. Salah satu penyebab rendahnya skor pencapaian ilmu tersebut adalah kualitas pendidikan di Indonesia. Kualitas pendidikan yang tidak baik akan berdampak pada pemahaman konsep yang lebih lanjut sehingga akan mengalami kesulitan dalam memahami konsep biologi selanjutnya dan akan menimbulkan miskonsepsi. Miskonsepsi dapat disebabkan oleh berbagai sumber, di antaranya guru. Mahasiswa pendidikan biologi sebagai salah satu calon guru juga bisa mengalami miskonsepsi. Miskonsepsi perlu diidentifikasi dan salah satu instrumen diagnostik yang efektif dan efisien yaitu three tier multiple choice test. Instrumen ini terdiri dari tiga tingkat (tier), tingkat (tier) pertama terdiri dari pilihan ganda, tingkat (tier) kedua terdiri atas pilihan alasan yang mengacu pada pilihan ganda, dan tingkat (tier) ketiga terdiri dari tingkat keyakinan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel 153 siswa dari lima sekolah menengah atas di Kota Malang tahun ajaran 2015/2016 dan 51 mahasiswa pendidikan biologi Universitas Negeri Malang tahun akademik 2015/2016. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun alat diagnostik three tier multiple choice test yaitu (1) melakukan wawancara (2) melakukan tes (3) menyusun instrumen three tier multiple choice test dan validasi isi. Instrumen ini berjumlah 31 pertanyaan dengan 4 alasan alternatif pilihan ganda dan 4 alternatif pilihan alasan jawaban disertai dengan pilihan tingkat keyakinan. Hasil analisis itu dipersentasekan dan korelasi uji Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata persentase pemahaman konsep siswa yaitu 21,2%, rerata persentase tidak memahami yaitu 33,6% dan rerata persentase miskonsepsi yaitu 45,2%. Sedangkan rerata persentase pemahaman mahasiswa yaitu 57,6%, rerata persentase tidak memahami yaitu 20,6%, dan rerata persentase miskonsepsi yaitu 21,9%. Uji korelasi Pearson antara pemahaman mahasiswa dengan pemahaman siswa menunjukkan nilai sig (0,00) dan koefisien korelasi sebesar (0,679), artinya ada hubungan yang signifikan dan cukup berkorelasi antara pemahaman mahasiswa dengan siswa SMA. Kemudian uji korelasi pada miskonsepsi mahasiswa dengan miskonsepsi siswa menunjukkan nilai sig (0,001) dan koefisien korelasi sebesar (0,559), artinya ada hubungan yang signifikan dan cukup berkorelasi antara miskonsepsi mahasiswa dengan siswa SMA. ABSTRACT Mahendra, Ananda Iza. 2016. Identification of Understanding Concepts and Misconceptions High School Students and College Students on topics Cell Biology Instruments Three Tier Using Multiple Choice Test. Thesis, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. Hadi Suwono, M.Sc., (II) Drs. Masjhudi, M.Pd Keyword: understanding, concept, misconceptions, cell, three tier multiple choice test Learning biology, especially on the topic of cell is an abstract learning. The existence of abstract learning makes students get low learning outcomes. The existence of student which has low learning outcome, can be seen that the students do not understand the concepts of cell correctly. So it will have an impact on student achievement results. Based on the program TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) study science results showed in 2011 Indonesia was ranked in 41 of 43 countries. One of cause of low scores science achievement is the quality of education in Indonesia. The quality of education is not good will have an impact on understanding the concept further. So it will have difficulty in understanding the biological concept further and will lead to misconceptions. Misconceptions can be caused by a variety of sources, including teachers. Students of biology education as one of the prospective teachers may also have misconceptions. Misconceptions need to be identified and one diagnostic instrument effective and efficient is a three tier multiple choice test. The instrument consists of three levels (tier), level (tier) The first consists of multiple choice, the level (tier) both consist of a choice of reasons which refers to the multiple-choice, and the level (tier) consists of three levels of confidence This research is a descriptive study with a sample of 153 students from five secondary schools in Malang academic year 2015/2016 and 51 students of biology education, State University of Malang academic year 2015/2016. The steps undertaken in developing diagnostic tools tier three multiple choice test: (1) conducting interviews (2) test (3) develop instruments three tier multiple choice test and validate the content. These instruments are 31 questions with four alternative reasons and four multiple-choice answers alternative grounds accompanied with a choice of confidence level. The results of that analysis is presented and Pearson correlation tested The results showed that the average percentage of students' whom understanding the concepts is 21.2%, the average percentage who does not understand is 33.6% and the average percentage of misconceptions is 45.2%. While the average percentage of student college understanding is 57.6%, the average percentage who does not understand is 20.6%, and the mean percentage of misconceptions is 21.9%. Pearson correlation test between the understanding of students with an understanding of the students showed sig (0.00) and the correlation coefficient of (0.679), it is mean that there is a significant relationship between the understanding and reasonably correlated students with high school students. Then the correlation test on college student misconceptions with misconceptions students showed sig (0.001) and the correlation coefficient of (0,559), meaning that there is a significant relationship and quite correlated between misconceptions between college students with high school students.
Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dengan Teknik Mind Map untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X MAN 1 Malang
ABSTRAK Berdasarkan hasil observasi di kelas X MIA 4 MAN 1 Malang, diketahui bahwa metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah ceramah dan diskusi. Hasil observasi dari motivasi belajar menunjukkan bahwa sebanyak 60% siswa (20 siswa) tampak kurang termotivasi. Hal tersebut ditunjang oleh hasil wawancara yang dilaku kan kepada 6 siswa yang menyatakan bahwa pembelajaran Biologi membosankan dan monoton. Ketuntasan klasikal hasil belajar kognitif dari nilai ulangan materi Ruang Lingkup Biologi adalah sebesar 34,37% sedangkan standar ketuntasan klasikal adalah 85%. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah menerapkan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing dengan teknik mind map . Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus yang terdiri dari 4 tahap yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 4 MAN I Malang yang berjumlah 32 siswa laki-laki. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2016-Mei 2017. Data yang diambil dari penelitian ini (1) data motivasi belajar siswa yang diukur melalui lembar observasi dan angket motivasi belajar, (2) data hasil belajar kognitif yang diukur melalui rata-rata skor tes akhir siklus dan skor mind map , dan (3) data hasil belajar afektif yang diukur melalui lembar observasi. Berdasarkan data angket dan observasi motivasi belajar, aspek attention, relevance, confidence, dan satisfaction mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Aspek attention meningkat dari 76,5% pada siklus I menjadi 86% pada siklus II. Aspek relevance meningkat dari 80,5% pada siklus I menjadi 86% pada siklus II. Aspek confidence meningkat dari 76,5% pada siklus I menjadi 84,5% pada siklus II. Aspek satisfied meningkat dari 82% pada siklus I menjadi 84% pada siklus II. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan ketuntasan klasikal hasil belajar kognitif dan afektif pada siklus II dibanding siklus I. Ketuntasan klasikal hasil belajar kognitif pada siklu s I sebesar 81,25%, sedangkan pada siklus II sebesar 93,75%. Ketuntasan klasikal hasil belajar afektif pada siklus I sebesar 75%, sedangkan pada siklus II sebesar 90,63%
Ekspresi Gen Antosianidin Sintase (ANS) Pengkode Pigmentasi Pada Buah Padi Lokal
ABSTRAK Rochani, Anis. 2017. Ekspresi Gen Antosianidin Sintase (ANS) Pengkode Pigmentasi Pada Buah Padi Lokal. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Dwi Listyorini, M.Si, D. Sc. dan (II) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S. Kata Kunci: Merah Harum, Hitam Melik, antosianin, gen ANS. Padi (Oryza sativa L.) memiliki variasi morfologi, baik organ vegetatif, generatif maupun buahnya. Di daerah Banyuwangi terdapat beberapa varietas lokal padi, dua diantarannya yaitu varietas Merah Harum dan Hitam Melik. Varietas Merah Harum memiliki buah berwarna merah yang disebut padi beras merah dan varietas Hitam Melik memiliki buah berwarna hitam yang disebut padi beras hitam. Warna merah dan hitam tersebut disebabkan oleh adanya pigmen. Antosianin merupakan salah satu pigmen yang memberi warna merah hingga merah kehitaman pada tumbuhan. Jalur biosintesis antosianin diregulasi oleh banyak enzim, salah satunya adalah enzim Antosianidin Sintase (ANS) yang dikode oleh gen ANS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi gen ANS sebagai pengkode pigmentasi pada buah padi Merah Harum dan Hitam Melik dengan metode qPCR. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gen ANS hanya diekspresikan pada padi Merah Harum dan tidak diekspresikan pada varietas padi lokal Hitam Melik. Warna hitam pada padi Hitam Melik diduga berasal dari betakaroten. ABSTRACT Rochani, Anis. 2017. Anthocyanidin Synthase (ANS) Gene Expression on Pigmentation Coding of Rice Grains. Undergraduate Thesis, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Negeri Malang. Advisors: (I) Dra. Dwi Listyorini, M.Si, D.Sc (II) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S. Keywords: Merah Harum, Hitam Melik, anthocyanin, ANS gene. There are morphological variations found in the vegetative and generative organs of rice (Oryza sativa L.) including the grains. In Banyuwangi, there are several local varieties of rice; two of them are Merah Harum and Hitam Melik. Merah Harum has red-coloured grains while Hitam Melik has black-coloured ones. The red and black colours are generated by pigments. Anthocyanin is one of the pigments which gives red to blackish-red colour in plants. Its biosynthesis pathways are regulated by many enzymes, one of which is Anthocyanidin Synthase (ANS) enzyme encoded by ANS gene. This study aims to find out the expression of ANS gene as pigmentation coding on Merah Harum and Hitam Melik by qPCR method. The result shows that ANS gene is expressed only in Merah Harum and is not expressed in Hitam Melik. The black color of Hitam Melik rice is allegedly derived from beta-carotene
Komunitas Siput Darat pada Lahan Bekas Tambang Marmer di Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung
Perubahan kondisi tanah pada suatu komunitas dapat mempengaruhi organisme tanah, misalnya siput darat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui genus siput darat, indeks keanekaragaman, kemerataan, kekayaan dan hubungannya dengan faktor abiotik pada lahan bekas tambang marmer yang sudah dimanfaatkan dan tidak dimanfaatkan manusia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Penelitian dilakukan di lahan bekas pertambangan marmer di Desa Besole. Pengambilan sampel dilakukan di lahan yang dimanfaatkan (ditanami jagung) dan tidak dimanfaatkan (ditumbuhi semak liar) sebanyak 8 titik pada tiap lahan dengan metode soil litter sampling. Pada tiap titik diambil tiga kali cuplikan tanah masing-masing sebanyak 2L. Tanah diayak secara bertingkat untuk mendapatkan siput darat, kemudian diidentifikasi genusnya berdasarkan karakter cangkang dan dianalisis indeks keanekaragaman, kemerataan dan kekayaannya serta hubungan faktor abiotik menggunakan regresi linier pada software SPSS 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genus siput darat yang ditemukan pada lahan bekas tambang yang dimanfaatkan sebanyak 7 genus meliputi Microcystina, Allopeas, Paropeas, Achatina, Bradybaena, Philalanka dan Gulella. Genus yang mempunyai frekuensi relatif tertinggi adalah Allopeas. Genus siput darat yang ditemukan pada lahan bekas tambang yang tidak dimanfaatkan sebanyak 6 genus meliputi Microcystina, Coneuplecta, Liardetia, Allopeas, Philalanka dan Gulella. Genus yang mempunyai frekuensi relatif tertinggi adalah Microcystina. Indeks keanekaragaman dan kemerataan pada lahan bekas tambang yang dimanfaatkan tergolong sedang, sedangkan pada lahan bekas tambang yang tidak dimanfaatkan tergolong rendah. Indeks kekayaan pada kedua tipe lahan tergolong rendah. Pada lahan yang dimanfaatkan, faktor abiotik yang paling berpengaruh adalah kelembaban udara sedangkan pada lahan yang tidak dimanfaatkan, faktor abiotik yang paling berpengaruh adalah suhu udara
Pengembangan Kalender Sebagai Media Sosialisasi Bermuatan Pendidikan Karakter Melalui Praktek Preparasi Simplisia Andong Merah (Cordyline fructicosa L.) Bagi Masyarakat Kecamatan Turen Kabupaten Malang
ABSTRAK Pusparini, Endah. 2017. Pengembangan Kalender Sebagai Media Sosialisasi Bermuatan Pendidikan Karakter Melalui Praktek Preparasi Simplisia Andong Merah (Cordyline fructicosa L.) Bagi Masyarakat Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Endah Indriwati, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si Kata kunci: Media Sosialisasi, Pendidikan Karakter, Preparasi Simplisia, Andong merah (Cordyline fructicosa L.). Indonesia dikenal dengan Negara yang memiliki beraneka ragam jenis tumbuhan. Sekitar 9.600 spesies yang tumbuh di Negara ini berkhasiat obat, dan kurang lebih 300 spesies diantaranya telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat tradisional. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman yang berpotensi obat masih perlu ditingkatkan. Rendahnya minat pemanfaatan tanaman obat ini berkaitan dengan nilai-nilai karakter yang ada pada diri masyarakat. Hal ini sesuai dengan hasil survei bahwa di daerah Turen pemanfaatan tanaman sebagai obat hanya terbatas pada beberapa jenis. Andong merah adalah sebagian tanaman berpotensi obat yang pemanfaatanya hanya sebagai tanaman hias saja. Teknik yang dapat diajarkan untuk memanfaatkan tanaman obat adalah melalui preparasi simplisia karena lebih efisien dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Preparasi simplisia masih belum banyak diketahui oleh masyarakat umum, sehingga dibutuhkan sosialisasi mengenai preparasi simplisia Andong merah dengan muatan nilai-nilai karakter. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan media sosialisasi berupa kalender “Standong” dengan muatan pendidikan karakter melalui preparasi simplisia Andong merah (Cordyline fructicosa L.) yang dilakukan di Desa Sananrejo Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Kalender “Standong” merupakan media yang berisi informasi tentang khasiat, cara pemanfaatan, dan preparasi simplisia Andong merah serta pesan-pesan nilai karakter yang dituangkan dalam suatu penanggalan masehi. Model pengembangan yang digunakan adalah model Borg and Gall yang dibatasi sampai 7 tahapan yaitu: (1) pengumpulan informasi melalui literatur dan obesservasi lapangan; (2) perencanaan; (3) mengembangkan bentuk awal produk; (4) uji coba lapangan awal oleh 12 subjek uji coba; (5) revisi produk awal; (6) uji coba lapangan oleh 35 subjek uji coba; (7) revisi produk uji lapangan. Kalender “Standong” di validasi oleh 1 ahli media, 1 ahli materi, 1 praktisi lapangan dan diuji cobakan pada masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalender dinyatakan sangat valid atau layak digunakan dengan hasil perhitungan ahli materi 95%, ahli media 96%, praktisi lapangan 95%, hasil uji coba menunjukkan keterbacaan kalender 91% dan hasil uji coba untuk melihat respon masyarakat terhadap nilai karakter sebesar 84% artinya kalender sangat sesuai/sangat tepat untuk digunakan sebagai media sosialisasi. Saran pemanfaatan dari produk yang dikembangkan yaitu perlu adanya monitoring untuk memastikan bahwa masyarakat telah mengimplementasikan membuat preparasi simplisia dengan bahan tanaman yang berpotensi obat secara mandiri atau kelompok
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Ental Asplenium tenerum Forst terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa secara In Vitro
ABSTRAK Hayati, N. 2017. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Ental Asplenium tenerum Forst terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa Secara In Vitro. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S., (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si. Kata Kunci: aktivitas antibakteri, Asplenium tenerum, Staphylococcus epidermidis,Pseudomonas aeruginosa. Aspleniumtenerum Forst merupakan salah satu jenis tumbuhan paku yang diketahui memiliki kandungan polifenol, flavonoid, tanin, dan terpenoid. Senyawa-senyawa tersebutdapat berfungsi sebagai antibakteri. Bakteri yang telah diketahui resisten terhadap berbagai antibiotik yaitu bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa, yang merupakan bakteri penyebab infeksi nosokomial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh ekstrak metanol ental A. tenerum terhadap jumlah sel bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa, ada tidaknya pengaruh variasi konsentrasi ekstrak metanol ental A. tenerum terhadap jumlah sel bakteri S. epidermidis dan P. aeruginosa, ada tidaknya hubungan antara konsentrasi ekstrak metanol ental A. tenerum dengan jumlah sel bakteri S. epidermidis dan P. aeruginosa.Jenis penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif eksperimental dengan 6 perlakuan variasi konsentrasi ekstrak, dua kontrol, dan sebanyak 4 ulangan secara in vitro. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode dilusi tabung. Hasil analisis menggunakan ANAVA tunggal menunjukkan bahwa F hitung pada bakteri S.Epidermidis dan P. aeruginosa lebih besar dengan F tabel taraf signifikan 1%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak metanol ental A. tenerum sangat berpengaruh terhadap kematian sel bakteri S. epidermidis dan P. aeruginosa.Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa konsentrasi yang paling berpengaruhdari ekstrak metanol ental A. tenerum dalam membunuh sel bakteri S. epidermidis yaitu sebesar 120.000 µg/ml, dan terhadap P. aeruginosa sebesar 100.000 µg/ml. Hasil analisis regresi linier menunjukkan bahwa nilai korelasinya mendekati 1,00 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara ekstrak metanol ental A. tenerum dan jumlah sel bakteri S. epidermidis maupun P.aeruginosa. ABSTRACT Hayati, N. 2017. In Vitro Antibacterial Activity Test of Methanol Extract of Asplenium tenerum Forst Frond Against Staphylococcus epidermidis and Pseudomonas aeruginosa Bacteria.Thesis. Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Advisor (I) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S., (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si. Keywords: antibacterial activity, Asplenium tenerum,Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus epidermidis Asplenium tenerum Forst is a one of fern known to contain polyphenols, flavonoids, tannins and terpenoids. These compounds potentas antibacterial activity. Bacteria which have been known to be resistant against many antibiotics are Staphylococcus epidermidis and Pseudomonas aeruginosa which cause nosocomial infections. This study aimed to find out the effect of methanol extract of A. tenerum frond and its concentration variation on cell numbers of S. epidermidis and P.aeruginosa, also to find out the correlation between extract concentration and number of bacterial cells. This study is experimental quantitative research with six treatments of different concentrations, two controls and four repetitions. The method used in this research is dilution method. The results showed that F value on S.epidermidis and P.aeruginosa bacteria were greater than F table with a significant level of 1%. Based on these results it can be concluded that the methanol extract of frond A. tenerum influence on bacterial cell death of S. epidermidis and P. aeruginosa. The most concentration of methanol extract of A. tenerum that affect to S. epidermidis bacterial is 120.000 µg/ml and to P. aeruginosa is 100.000 µg/ml. Based on linier regression showed that the correlation value limited 1,00, it can be concluded that there was significant correlation between methanol extract of A. tenerum frond and cell numbers of S.epidermidis and P. aeruginosa
PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI MATA PELAJARAN BIOLOGI SMA KOMPETENSI DASAR 3.1, 3.2, 3.3, 4.1, 4.2, & 4.3 KELAS X SMA MUHAMMADIYAH 1 KOTA MALANG
ABSTRAK Hasil wawancara dengan guru biologi di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang, soal yang digunakan ulangan harian disusun sendiri oleh guru dan belum dilakukan analisis validasi logis dan analisis butir soal ulangan harian kelas X. Hasil wawancara didukung dengan melihat kesesuaian antara indikator dan tujuan pembelajaran yang dibuat oleh guru pada Kompetensi Dasar (KD) 3.1, 3.2, 3.3, 4.1, 4.2, dan 4.3 pada RPP jumlah penjabaran KD menjadi indikator dan tujuan pembelajaran belum diturunkan menjadi indikator soal sehingga jumlah soal yang dibuat oleh guru tidak sesuai dengan jumlah indikator dan tujuan pembelajaran. Artinya soal yang disusun oleh guru belum memenuhi validitas konstruk.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan rumusan soal pilihan ganda jawaban tunggal dan asesmen kinerja dari KD 3.1, 3.2, 3.3, 4.1, 4.2, dan, 4.3, mengetahui validitas logis dan validitas empiris soal pilihan ganda jawaban tunggal KD 3.1, 3.2, dan 3.3, mengetahui validitas logis asesmen kinerja yang dibuat dari KD 4.1, 4.2, dan, 4.3. Penelitian pengembangan ini menggunakan model penelitian R & D menurut Borg and Gall yang terdiri dari 7 tahap.Uji coba lapangan awal dilakukan pada 12 siswa kelas X MIPA SMA Muhammadiya 1 Kota Malang dan uji coba lapangan produk utama dilakukan pada 38 sisa kelas X MIPA SMA Muhammadiya 1 Kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesukaran soal pilihan ganda jawaban tunggal pada uji coba lapangan awal memiliki tingkat kesukaran soal mudah;22,5%, sedang; 47,5%, sukar, 30% soal berdaya beda negatif;7,5%, jelek;2,5%, cukup 25%, baik 27,5% dan baik sekali 37,5%. Analisis pengecoh didapatkan berfungsi sebanyak 55%. Uji coba lapangan produk utama tingkat kesukaran soal pilihan ganda jawaban tunggal pada uji coba lapangan awal memiliki tingkat kesukaran soal mudah;20%, sedang; 50%, sukar, 30% soal berdaya beda negatif;0%, jelek;5%, cukup 7,5%, baik 40% dan baik sekali 47,5%. Reliabilitas soal 9,00 artinya reliabilitanya tinggi. Analisis pengecoh 75% berfungsi. Saran yang dapat diberikan yaitu setelah guru menggunakan instrumen evaluasi (soal pilihan ganda jawaban tunggal) guru mata pelajaran Biologi harus melakukan validasi empiris serta analisis pengecoh hal ini diharapkan terus memperbaiki kualitas soal.Sebelum produk di desiminasikan disarankan untuk melakukan tahap ini uji coba lapangan secara luas (Operational Field Testing), atau langkah ke 8 dari model pengembangan borg and gall yang belum dilakukan dalam penelitian ini
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW BERBANTUAN MIND MAPPING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI MIPA 6 SMA NEGERI 7 MALANG
ABSTRAK Kegiatan belajar seharusnya menarik dan menimbulkan ketertarikan. Ketertarikan ini dapat dipengaruhi oleh motivasi belajar pada siswa. Motivasi ini erat kaitannya dengan hasil belajar siswa. Permasalahan di kelas yaitu rendahnya motivasi siswa ditandai dengan beberapa siswa cenderung pasif, jarang bertanya saat berdiskusi kelas. Hasil belajar juga rendah yang ditunjukkan dengan rendahnya ketuntasan klasikal siswa yaitu 56,25%, belum mencapai ketuntasan belajar sebesar 85%. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini yaitu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantuan Mind Mapping. Model Jigsaw dipilih karena seluruh kegiatan berpusat pada siswa dan menimbulkan ketergantungan positif dengan teman sehingga lebih aktif dalam proses belajar. Penggunaan mind mapping diharapkan membuat siswa lebih mudah mempelajari dan menjelaskan materi yang dipelajarinya karena siswa memahami materi berdasarkan pemahamannya dan menyampaikan ke temannya dengan mudah sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa Kelas XI MIPA 6 SMA Negeri 7 Malang. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan tes. Instrumen penelitian berupa: (1) lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw berbantuan Mind Mapping, (2) angket motivasi belajar, (3) soal tes akhir siklus. Analisis Data berupa analisis deskriptif kualitatif terdiri atas: (1) reduksi data, (2) paparan data, (3) penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis data, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. 1) keterlaksanaan model pembelajaran oleh guru meningkat sebesar 6,95% dari Siklus I sebesar 86,11% (sangat baik) menjadi 93,06% (sangat baik) pada Siklus II, keterlaksanaan model pembelajaran oleh siswa meningkat sebesar 2,08% dari siklus I sebesar 88,89% (sangat baik) menjadi 90,97% (sangat baik) pada siklus II. 2) motivasi belajar siswa meningkat sebesar 0,48 dari siklus I sebesar 3,68 (baik) ke siklus II sebesar 4,16 (baik). 3) Hasil belajar siswa ranah sikap meningkat sebesar 6,6 dari 79,73 pada siklus I menjadi 86,33 pada siklus II dan nilai ranah kognitif meningkat sebesar 0,36 dari 84,28 pada siklus I menjadi 84,64 pada siklus II. 4) Ketuntasan klasikal juga meningkat sebesar 12,5 % dari siklus I sebesar 84,37% menjadi 96,87% pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw berbantuan Mind Mapping dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI MIPA 6 SMA Negeri 7 Malang
Pengaruh Variasi Jeda Waktu Parasitasi Trichogramma chilonis Ishii dan Trichogramma japonicum Girault (Hymenoptera: Trichogrammatidae) Terhadap Jumlah Kemunculan Imagonya pada Telur Chilo auricillius Dudgeon (Lepydoptera: Pyralidae).
Tebu (Saccharum officinarum) merupakan salah satu komoditas tanamanperkebunan yang dimiliki oleh Indonesia. Hal penting yangharus diperhatikan dari peningkatan mutu dan kualitas hasil produksi tebu yaitupembuatan bibit unggul dan pengendalian hamanya. Serangan hama penggerek dapat dicegah dengan menggunakan musuh alami yaitu parasitoid. Parasitasi T. chilonis dan T. japonicum dapat di pengaruhi oleh adanya hiperparasitoid sehingga akan mengurangi fitalitas dari parasitoid tersebut. Tujuanpenelitianiniuntuk mengetahui pengaruh variasi jeda waktu pendedahan parasitasiT. chilonis dan T. Japonicum terhadap jumlah kemunculan imago T. chilonis dan T. Japonicum pada telur C.auriciliussertajeda waktuyang efektif untuk mengurangi terjadinya hiperparasitoid.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental. Penelitian dilakukan pada bulan April 2017 di Laboratorium Ekologi 109 Universitas Negeri Malang (UM) dan Laboratorium Quality Control (QC) PG Pesantren Baru, Jengkol, Kediri. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL).Variabelbebasberupajedawaktupendedahan parasitoid yaitu20 menit, 40 menit, 60 menit, 80 menit, dan 100 menit.Variabelterikatberupajumlahkemunculan imago parasitoid. Data yang diperoleh di uji ANAVA, jikaberbedanyatamakadilanjutkandenganuji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi jeda waktu pendedahan parasitasi T. chilonis dan T. Japonicum berpengaruh terhadap jumlah kemunculan imago T. chilonis dan T. Japonicum pada telur C.auricilius. Jeda waktu 100 menit efektif untuk mengurangi terjadinya hiperparasitoid
Ekspresi Gen Fibroblast Growth Factor 10 (Fgf10) pada Pembentukan Sayap Embrio Ayam kampung (Gallus gallus Domesticus) setelah diinduksi Ciprofloxacin
ABSTRAK Ciprofloxacin merupakan antibiotik golongan fluoroquinolone yang berpotensi sebagai teratogen karena memiliki berat molekul 331,4 dalton sehingga dapat menembus plasenta. Ciprofloxacin dilaporkan mengakibatkan perubahan struktur tulang sumbu tubuh dan autopodium anggota gerak pada mencit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ciprofloxacin terhadap ekspresi gen Fgf10 yang berfungsi sebagai inisiator pembentukan tunas sayap, dan mengatur proliferasi sel pada tunas sayap embrio ayam (Gallus gallus Domesticus). Dosis ciprofloxacin 10 mg/kg BB diberikan kepada embrio ayam umur 2-4 hari inkubasi. Pada umur 5 hari inkubasi, dilakukan isolasi RNA total, sintesis cDNA dan qPCR untuk mengetahui tingkat ekspresi gen Fgf10 dan β-Actin sebagai housekeeping gen. Pada umur 11 hari inkubasi dengan menggunakan embrio yang berbeda dilakukan pewarnaan rangka dengan Alcian Blue 0,02% dan Alizarin Red 0,02%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ciprofloxacin tidak secara signifikan menurunkan ekspresi gen Fgf10 serta memicu perubahan struktur tulang pada sayap embrio ayam (Gallus gallus domesticus)