SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1764 research outputs found
Sort by
ALTERNATIF PEMANFAATAN MINYAK ATSIRI BAWANG TUNGGAL (Allium sativumL.) LOKAL TERHADAP DAYA HAMBAT BAKTERI Staphylococcusaureus DENGAN PROFIL SCANNING ELECTRON MICROSCOPY
ABSTRAK Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang dapat menyebabkan infeksi kulit. Ekstrak bawang putih tunggal (Allium Sativum L.) lokal mengandung alicin, ajoene, diallyl sulfide (DAS), diallyl disulfide (DADS), dan diallyl trisulfide (DATS) yang diduga memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan efek antibakteri ekstrak bawang putih tunggal lokal terhadap bakteri S. aureus. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan untuk analisis kerusakan struktur morfologi bakteri dilakukan di Laboratorium Mineral dan Material Maju Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang pada bulan Desember 2017-Januari 2018. Konsentrasi ekstrak minyak atsiri yang digunakan yakni 25.103 µg/ml, 50.103 µg/ml, 75.103 µg/ml dan 100. 103 µg/ml. Kontrol negatif menggunakan DMSO 1% dan vancomycin 30 µg/ml sebagai kontrol positif. Uji daya hambat dilakukan dengan memberikan perlakuan berupa variasi ekstrak minyak atsiri, DMSO dan vancomycin ke dalam paper disc, selanjutnya diletakkan di atas medium Muller Hinton Agar yang sudah terdapat goresan bakteri S. aureus, kemudian diinkubasi pada suhu 30ºC selama 1x24 jam. Diameter zona hambat diukur menggunakan jangka sorong, hasil pengukuran kemudian dianalisis dengan analisis statistik non parametrik. Kerusakan morfologi sel bakteri dengan Scanning Electron Microscopy (SEM) dilihat dengan perbesaran 25000X. Data diameter zona hambat dianalisis menggunakan analisis statistik non parametrik dan untuk profil kerusakan morfologi bakteri dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak minyak atsiri bawang putih tunggal lokal secara signifikan berpengaruh terhadap daya hambat bakteri S. aureus(
PEMBERIAN LIMBAH IKAN LEMURU(Sardinella longiceps) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS KACANG PANJANG (Vigna sinensis L.)
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian limbah ikan lemuru terhadap peningkatan pertumbuhan dan produktivitas tanaman kacang panjang. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan (P0: 0 g, P1: 9,25 g, P2: 18,5 g, P3: 27,75 g, dan P4: 37 g serbuk limbah ikan lemuru/tanaman). Data yang diperolehberupatinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, jumlah buah dan bobot buah yang dianalisis menggunakan Anava tunggal pada taraf signifikansi (α) = 0,05 dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa penamabahan limbah ikan lemuru berpengaruh nyata terhadap terhadap tinggi tanaman dan bobot buah
Studi Potensi Kawasan Hutan Bakau Cengkrong sebagai Wisata Pendidikan Berbasis Kelautan
ABSTRAK Indonesia merupakan negara dengan potensi kelautan yang besardenganpotensialam yang dimilikinya. Potensi yang besar di bidang kelautan Indonesia masih tertinggal dalam pengelolaannya. Perlu adanya pengembangan di berbagai bidang, salah satunya adalah pendidikan. Dewasa ini pendidikan tidak hanya dilakukan di dalam kelas, akan tetapi juga di luar kelas, untuk meningkatkan ketertarikan pesrtadidik. Wisata pendidikan dapat menjadi media pembelajaran luar kelas yang menarik bagi siswa yang mengemas nilai pendidikan dan pariwisata. Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu kabupaten yang gencar meningkatkan pariwisatanya, salah satu kawasan yang sedang berkembang adalah Kawasan Hutan Bakau Cengrkong. Kegiatan pariwisata sudah dilakukan di dalam kawasan tersebut dengan membawa label ekowisata, akan tetapi dalam kegiatannya belum memenuhi syarat untuk menjadi ekowisata. Perlu adanya pemetaan potensi Kawasan Hutan Bakau Cengkrong, dan perencanaan Kawasan Hutan Bakau Cengkrong untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata pendidikan berbasis kelautan. Penelitian menggunakan metode campuran (mix method) yang memadukan antara komponen kualitatif dan kuantitatif. Penelitian dilakuakan pada kondisi bentang alam Kawasan Hutan Bakau Cengkrong, lembaga pengelolakawasan, lembaga yang terkait dengan kawasan, masyarakat sekitar, dan pengunjung kawasan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis SWOT untuk selanjutnya dari analisis yang telah dilakukan diambil strategi pengembangan kawasan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa 1) Kawasan Hutan Bakau Cengkrong berpotensi untuk dikembangkan menjadi wisata pendidikan berbasis kelautan dengan potensi yang dimilikikawasan antara lain; adanya kekayaan biota hutan bakau, terdapat dukungan kondisi bentang alam, terdapat rintisan lembaga pengelola kawasan, dukungan masyarakat sekitar, dukungan pemerintah setempat, peluang sekolah-sekolah kejuruan berbasis kelautan yang membutuhkan media pembelajaran, dan pengunjung dari berbagai daerah. 2) Pengelolaan Kawasan Hutan Bakau Cengkrong memiliki permasalahan dengan kurang maksimalnya pengelolaan potensi kawasan, kurang siapnya sumber daya manusia yang mengelola kawasan, belum terdapat visi-misi pengembangan kawasan, fasilitas yang kurang terawat, belum memiliki izin kegiatan, belum terdapat atraksi yang mendukung untuk dijadikan wisata pendidikan berbasis kelautan, dualisme pengelolaanlahan, dan kurang puasnya pengunjung. 3) Solusi yang ditawarkan permasalahan dengan penyusunan visi-misi pengembangan, peningkatan kualitas pengelola kawasan, penyusunan rencana tata ruang kawasan, refitalisasi fasilitas, pengurusan legalitas lembaga, konsolidasi antar stakeholder¸dan pembuatan atraksi yang sesuai dengan wisata pendidikan berbasis kelautan. Kata kunci: HutanBakau, WisataPendidikan, Kelautan, Trenggale
Struktur Komunitas Chlorophyta dan Hubungannya dengan Faktor Abiotik di Telaga Ngebel Kabupaten Ponorogo
ABSTRAK Sari, Dwi Junita. 2018. Struktur Komunitas Chlorophyta dan Hubungannya dengan Faktor Abiotik di Telaga Ngebel Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Fatchur Rohman, M.Si. (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si. Kata Kunci: Struktur Komunitas, Chlorophyta, Faktor Abiotik, Telaga Ngebel. Telaga Ngebel merupakan salah satu telaga yang dijadikan tempat budidaya ikan dan tempat wisata oleh masyarakat sekitar. Gangguan yang terjadi di lingkungan perairan akibat dari kegiatan budidaya ikan dan pariwisata akan berpengaruh terhadap organisme perairan khususnya fitoplankton. Penurunan kualitas air menyebabkan perubahan struktur komunitas fitoplankton. Chlorophyta merupakan salah satu divisi fitoplankton secara kuantitatif dan kualitatif yang dominan di perairan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2017 sampai dengan Februari 2018. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi komposisi jenis Chlorophyta pada perairan Telaga Ngebel, (2) menganalisis kepadatan Chlorophyta pada perairan Telaga Ngebel, (3) menganalisis indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks kekayaan jenis Chlorophyta pada perairan Telaga Ngebel, dan (4) menganalisis hubungan antara kepadatan Chlorophyta dengan faktor abiotik di perairan Telaga Ngebel Kabupaten Ponorogo. Metode peneltian menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Penentuan stasiun pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan rona lingkungan di sekitar perairan, dan pengambilan sampel menggunakan metode Purpossive Random Sampling. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat 12 jenis Chlorophyta yang termasuk dalam 11 Genus, 7 Famili, dan 2 Kelas, jenis Tetraedron minimum dan Cosmarium depressum ditemukan lebih banyak dan ditemukan pada setiap stasiun. Total kepadatan tertinggi terdapat pada telaga berona lingkungan hutan dengan nilai kepadatan total sebesar 26667 ind/l. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’), indeks kemerataan (E), indeks kekayaan jenis (R) menunjukan bahwa struktur komunitas Chlorophyta di Telaga Ngebel dalam keadaan stabil namun kekayaan jenis termasuk kategori rendah. Nilai indeks dominansi (C) menunjukan bahwa tidak ada jenis Chlorophyta yang mendominansi di perairan Telaga Ngebel. Berdasarkan hasil uji korelasi pearson diketahui bahwa faktor abiotik memiliki korelasi terhadap kepadatan Chlorophyta. Faktor abiotik pH air, oksigen terlarut, intensitas cahaya, dan kekeruhan air memiliki nilai korelasi sangat kuat. Kandungan fosfat di perairan Telaga Ngebel berkisar antara 0,1106 mg/l – 1,007 mg/l menunjukan perairan dengan kesuburan tinggi atau eutrofik. Kandungan nitrit perairan Telaga Ngebel diketahui secara umum tergolong rendah
KARAKTER MORFOLOGI BIJI, FISIKOKIMIA, DAN DIVERSITAS GENETIK PLASMA NUTFAH PADI LOKAL BANTEN
KARAKTER MORFOLOGI BIJI, FISIKOKIMIA, DAN DIVERSITAS GENETIK PLASMA NUTFAH PADI LOKAL BANTEN Yunik Indra Lestari1*, Dwi Listyorini1*, Mohammad Ubaidillah2* 1Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang 2Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jember *Corresponding Authors: [email protected], [email protected], [email protected] Abstrak: Banten merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan keragaman padi lokal yang sangat melimpah. Keragaman dan kekerabatan padi lokal Banten perlu untuk dikaji sebagai salah satu upaya peningkatan produksi beras di Indonesia. Pengkajian dilakukan berdasarkan karakter fisikokimia, morfologi biji, dan diversitas genetik menggunakan 16 pasang marka molekular Simple Sequence repeats (SSR). Sampel yag digunakan dalam penelitian ini yaitu padi varietas IDB 9, IDB 27, IDB 90, IDB 94, IDB 95, IDB 96, IDB 97, IDB 98, IDB 99, dan IDB 100. Terdapat perbedaan dendrogram yang dihasilkan berdasarkan karakter morfologi biji dan fisikokimia. Hal ini kemungkinan besar diakibatkan oleh pengaruh faktor lingkungan. Untuk mendapatkan hasil yang lebih presisi dan terpercaya maka dilakukan uji diversitas genetik menggunakan marka SSR. Dendrogram yang dihasilkan berdasarkan SSR menunjukkan varietas padi Banten yang diamati membentuk dua klaster besar. Klaster pertama terdiri atas kelompok padi Indica yang terdiri atas varietas IDB 90, IDB 99 dan IDB 94, sedangkan klaster kedua terdiri atas kelompok padi Japonica yang terdiri atas varietas IDB 09, IDB 98, IDB 97, IDB 94, IDB 100 dan IDB 96. Kata Kunci : Padi Banten, morfologi biji, fisikokimia, marka molekuler SSR SEED MORPHOLOGY, PHYSICOCHEMICAL CHARACTERISTIC, AND GENETIC DIVERSITY OF BANTEN LOCAL RICE GERMPLASMA Abstract: Banten is one of the provinces in Indonesia with a very abundant local rice diversity. The diversity and genetic relationship of Banten local rice need to be studied as an effort to increase rice production in Indonesia. The study was conducted based on physicochemical character, seed morphology, and genetic diversity using 16 pairs of molecular markers of Simple Sequence repeats (SSR). The samples used in this study were rice varieties IDB 9, IDB 27, IDB 90, IDB 94, IDB 95, IDB 96, IDB 97, IDB 98, IDB 99, and IDB 100. There are differences in dendrogram produced based on morphological character of seed and physicochemistry. To obtain more precise and reliable results then tested genetic diversity using SSR markers. The resulting Dendrogram based on SSR shows the observed varieties of Banten rice to form two large clusters. The first cluster consisted of Indica rice group consisting of varieties IDB 90, IDB 99 and IDB 94, while the second cluster consisted of Japonica rice group consisting of varieties IDB 09, IDB 98, IDB 97, IDB 94, IDB 100 and IDB 96. Key words: Banten local rice, morphology of seed, physicochemical, SS
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG PUTIH TUNGGAL (Allium sativum L.) LOKAL JAWA TIMUR TERHADAP EKSPRESI VASCULAR CELL ADHESION MOLECULES-1 (VCAM-1) PADA AORTA MENCIT (Mus musculus) MODEL ATEROSKLEROSIS
ABSTRAK Aterosklerosis merupakan penyakit akibat respon inflamasi yang ditandai dengan adanya akumulasi lipid didalam pembuluh darah arteri. Penumpukan Low Density Lipoprotein (LDL) di dalam darah merupakan faktor utama pemicu disfungsi endotel dan mengakibatkan adanya proses inflamasi. Respon inflamasi mengakibatkan terekspresinya molekul adhesi seperti Vascular Cell Adhesion Molecules-1 (VCAM-1). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak bawang putih tunggal (Allium sativum L.) lokal Jawa Timur terhadap ekspresi VCAM-1 pada aorta mencit (Mus musculus) model aterosklerosis.Mencit jantan galur Balb-C diaklimatisasi selama 1 minggu. Mencit kemudian dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok normal, kontrol negatif (mencit model aterosklerosis), kontrol positif (mencit model aterosklerosis+ obat simvastatin), dan 3 kelompok perlakuan yaitu pemberian ekstrak bawang tunggal pada mencit model aterosklerosis (P1=12,5 mg/KgBB, P2=25 mg/KgBB, dan P3= dosis 50 mg/KgBB), dengan masing-masing kelompok sebanyak lima kali ulangan. Pemberian pakan aterogenik pada mencit yaitu selama 45 hari hingga menjadi mencit model aterosklerosis.Pemberian ekstrak bawang putih tunggal dilakukan selama 4 minggu secara oral dengan metode sonde (gavage). Nilai ekspresi VCAM-1 aorta mencit model aterosklerosis dengan metode Immunohistokimia-Flouresence (IHK-F) menunjukkan data terdistribusi secara normal dan homogen. Hasil uji Anava tunggal didapatkan nilai P = 0,00
Kajian Kualitas Mikrobiologi Permen Labu Kuning Berdasarkan Lama Penyimpanan dan Macam Pembungkus Ditinjau dari ALT Koloni Kapang.
ABSTRAK Hapsari, Linda. 2015.Kajian Kualitas Mikrobiologi Permen Labu Kuning Berdasarkan Lama Penyimpanan dan Macam Pembungkus Ditinjau dari ALT Koloni Kapang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si. Kata Kunci: Angka Lempang Total (ALT), Permen labu kuning, Lama Penyimpanan, Macam Pembungkus Permen labu kuning adalah produk olahan dari buah labu kuning yang merupakan makanan khas dari Sumbawa Besar. Pengemasan permen labu kuning biasanya menggunakan kertas minyak dan plastik. Dalam permen labu kuning terkandung nutrisi antara lain karbohidrat, lemak, protein, serat, serta mineral. Kapang dapat melakukan biodegradasi terhadap senyawa-senyawa penyusun permen labu kuning yang mengakibatkan penurunan kualitas sehingga mempengaruhi daya tahan simpan permen. Tujuan penelitian ini adalah: 1)mengungkap pengaruh lama waktu penyimpanan, macam pembungkus, dan interaksi lama waktu penyimpanan dan macam pembungkus terhadap kualitas mikrobiologi permen labu berdasarkan ALT koloni kapang; dan 2) menentukan batas waktu simpan maksimal permen labu ditinjau berdasarkan ALT koloni kapang yang masih memenuhi syarat batas maksimal dari DIRJEN POM. Jenis penelitian ini adalaheksperimendengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu lama waktu penyimpanan dan macam pembungkus. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian dimulai pada bulan Agustus 2014-Maret 2015. Obyek dalam penelitian ini ialah permen labukuning dari Sumbawa Besar. Sampel permen labu kuning sebanyak 25 gram dihaluskan, kemudian dilarutkan dalam 225 ml larutan air pepton 0,1% sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1. Suspensi diencerkan lagi pada larutan pepton 0,1% secara bertahap sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2sampai 10-6. Perlakuan sampel permen labu kuning dilakukan sebanyak 3 kali ulangan. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium lempeng Czapek Agar(CA) sebanyak 0,1 ml, lalu diinkubasikan pada suhu 25°C-27°C selama 7 x 24 jam. Selanjutnya dilakukan penghitungan ALT koloni kapang, kemudian dirujukkan pada ketetapan dari DIRJEN POM tentang batas cemaran mikroba maksimal untuk menentukan batas waktu simpan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) lama penyimpanan berpengaruh signifikan terhadap ALT koloni kapang; 2) macam pembungkus dan interaksi antara lama penyimpanan dan macam pembungkus tidak berpengaruh terhadap ALT koloni kapang;dan 3)batas waktu simpan pada permen labu kuning yang dibungkus kertas minyak maksimal adalah 4 hari sedangkan yang dibungkus plastik maksimal adalah 6 hari. Dalam proses produksi perlu memperhatikan faktor sanitasi karena dapat mempengaruhi kualitas permenlabu kuning
Pengembangan Multimedia Interaktif Berbasis Web untuk Mengatasi Miskonsepsi Sistem Koordinasi Siswa Kelas XI di MAN Kota Batu
ABSTRAK Putri, VindyAprilia. 2018. Pengembangan Multimedia Interaktif Berbasis Web untuk Mengatasi Miskonsepsi Sistem Koordinasi Siswa kelas XI di MAN Kota Batu. Skripsi , Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.HadiSuwono, M.Si., (II) Dr. Sueb, M.Kes. Kata Kunci:multimedia interaktifberbasisweb, miskonsepsisistemkoordinasi Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsep yang dimiliki oleh siswa berbeda dengan konsep para ahli. Ketika siswa datang ke kelas dengan membawa konsep yang berbeda dengan konsep ilmiah. Hal semacam itu umumnya disebut dengan alternative conceptions atau misconceptions. Hasil studi pendahuluan menggunakan soal three tier pada 27 siswa kelas XII MAN Kota Batu. Hasil menunjukkan bahwa masih banyak ditemukan miskonsepsi pada materi sistem koordinasi yaitu sebesar 43%, false positif 6%, false negatif 8%, tidak tahu konsep sebanyak 16% dan menebak 1,5% sedangkan yang benar-benar menguasai konsep hanya 25%. Hal tersebut menandakan bahwa materi yang mereka terima di kelas XI khususnya sistem koordinasi belum dipahami secara maksimal. Hambatan yang dialami siswa dalam memahami materi dikarenakan terbatasnya media yang digunakan. Penelitian pengembangan telah banyak yang mengembangkan multimedia interaktif berbasis web, namun hanya sedikit yang dapat mengatasi miskonsepsi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu menghasilkan multimedia interaktif yang layak, praktis, dan efektif untuk mengatasi miskonsepsi sistem koordinasi siswa kelas XI di MAN Kota Batu. Penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari 5 tahap yaitu Menganalisis (Analyze), Merancang (Design), Mengembangkan (Develop), Mengimplementasi (Implement), dan Mengevaluasi (Evaluate). Multimedia interaktif berbasis web dinilai oleh ahli media, ahli materi, dan praktisi lapangan untuk mengetahui kelayakan produk. Uji coba untuk mengetahui kepraktisan produk dilakukan dengan cara memberi angket kepada 70 siswa, sedangkan keefektifan produk multimedia dilakukan dengan memberikan soal pretest postest three tier pada tiga kelas XI IPA MAN Kota Batu yang telah menerapkan penggunaan multimedia, yaitu kelas MMI+NHT (Pembelajaran multimedia interaktif dengan menerapkan model pembelajaran NHT), kelas BM (Multimedia interaktif digunakan untuk belajar mandiri), dan kelas Konvensional (Pembelajaran konvensional tanpa pemberian multimedia interaktif). Analisis data validitas dan kepraktisan produk dilakukan menggunakan rumus persentase, sedangkan analisis uji keefektifan dilakukan menggunakan rumus persentase kategori jawaban three tier siswa dan uji statistik anakova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor pretest dan postest miskonsepsi pada tiga kelas. Berdasarkan hasil persentase kategori jawaban three tier siswa diperoleh hasil bahwa peningkatan menguasai konsep terbesar terjadi pada kelas MMI+NHT yaitu sebesar 40%, pada kelas BM sebesar 32%, sedangkan pada kelas konvensional sebesar 12%. Penurunan tingkat miskonsepsi terbesar terjadi pada kelas dengan perlakuan MMI+NHT yaitu sebesar 28%, pada kelas BM sebesar 23% sedangkan kelas konvensional sebesar 6%. Pada kategori tidak memahami konsep penurunan persentase terbesar terjadi pada kelas MMI+NHT yaitu sebesar 3.8%, pada kelas BM sebesar 2.9%, sedangkan pada kelas Konvensional sebesar 2.8%. Hasil uji anakova juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor miskonsepsi sistem koordinasi dengan menggunakan variasi penerapan multimedia interaktif berbasis web. Perbedaan hasil analisis terlihat bahwa rerata terkoreksi postest miskonsepsi sistem koordinasi kelas MMI+NHT lebih rendah dari pada kelas BM dan kelas konvensional yaitu sebesar 15,61, sedangkan rerata terkoreksi postest miskonsepsi sistem koordinasi kelas BM lebih rendah dari pada kelas kovensional yaitu sebesar 22,01 dan kelas konvensional memiliki rerata terkoreksi paling tinggi yaitu sebesar 42,93. Jadi, dapat disimpulkan bahwa skor terendah pretest dan postest miskonsepsi diperoleh dari penerapan MMI+NHT. Berdasarkan hasil persentase dan perbandingan uji anakova dapat menunjukkan bahwa tingkat miskonsepsi terendah diperoleh dari penerapan MMI+NHT dengan kata lain, multimedia interaktif lebih efektif mengatasi miskonsepsi jika digunakan selama pembelajaran di kelas, namun multimedia interaktif berbasis web juga efektif jika digunakan siswa untuk belajar mandiri. Jadi, dapat disimpulkan bahwa siswa yang dibelajarkan atau belajar menggunakan multimedia interaktif berbasis web dapat mengurangi miskonsepsi dan meningkatkan penguasaan konsep pada materi sistem koordinasi dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Simpulan penelitian ini multimedia interaktif berbasis web yang dikembangkan layak, praktis, dan efektis untuk mengatasi sistem koordinasi kelas XI di MAN Kota Batu
Pengembangan Multimedia Interaktif Berbasis Android untuk Mengatasi Miskonsepsi pada Materi Sistem Koordinasi untuk Siswa Kelas XI SMA
ABSTRAK Dikmalantika, Thesa Ihtiar. 2018. Pengembangan Multimedia Interaktif Berbasis Android untuk Mengatasi Miskonsepsi pada Materi Sistem Koordinasi untuk Siswa Kelas XI SMA. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hadi Suwono, M.Si (II) Drs. Masjhudi, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan multimedia interaktif, android, miskonsepsi, sistem koordinasi Pemahaman terhadap konsep-konsep dalam pembelajaran biologi sangat diperlukan, namun seringkali siswa tidak dapat memahami konsep yang ada, salah dalam menafsirkan konsep, atau konsep yang diterima tidak sesuai dengan para ahli. Materi yang paling sulit dipahami siswa kelas XI adalah materi sistem koordinasi karena materi tersebut saling berkaitan. Berdasarkan hasil uji coba soal kepada 32 siswa kelas XII SMAN 10 Malang yang telah menempuh materi sistem koordinasi menggunakan soal pilihan ganda tiga tingkatan (Three-tier test) diperoleh hasil bahwa 43,4% siswa mengalami miskonsepsi. Sehingga diperlukan solusi alternatif untuk memperbaiki miskonsepsi berupa pengembangan multimedia interaktif sebagai alat bantu untuk memudahkan siswa memahami konsep-konsep materi. Salah satu multimedia yang sering digunakan oleh siswa adalah smartphone. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan multimedia interaktif berbasis android untuk mengatasi miskonsepsi pada materi sistem koordinasi siswa SMA yang layak, praktis dan efektif. Metode yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan yaitu model ADDIE (Branch, 2009) yang terdiri dari 5 tahap yaitu Analyze, Design, Develop, Implementation dan Evaluate. Hasil analisis data kuantitatif dari validasi ahli materi sebesar 100% (sangat valid), ahli media sebesar 85,69% (valid), ahli assesmen sebesar 100% (sangat valid) dan praktisi lapangan sebesar 98,25% (sangat valid). Berdasarkan data kualitatif produk telah direvisi sesuai dengan kritik dan saran dari validator. Kepraktisan produk multimedia interaktif dengan angket respon siswa sebesar 94,5% (sangat praktis). Berdasarkan hasil keefektifan multimedia interaktif yang diujicobakan pada 36 siswa kelas XI MIPA C SMAN 10 Malang bahwa terjadi penurunan miskonsepsi dari hasil pretest dan posttest. Hasil uji beda dengan uji t-test yang menunjukkan bahwa multimedia interaktif efektif untuk mengatasi miskonsepsi pada materi sistem koordinasi
PERBEDAAN PERTUMBUHAN Artemia salina AKIBAT PEMBERIAN VARIASI DOSIS PAKAN CAMPURAN TEPUNG KEPALA UDANG VANNAME (Litopenaesus vannamei) DAN TEPUNG KEDELAI HITAM (Glycine max L.) VARIETAS MALIKA
ABSTRAK Kegiatan pembenihan udang tidak terlepas dari ketersediaan benur yang berkualitas. Ketersediaan pakan alami diperlukan untuk mendapatkan benur yang berkualitas.. Pakan alami yang biasa diberikan untuk budidaya udang adalah Artemia. A. salina merupakan pakan alami yang banyak digunakan pada budidaya pembenihan udang karena banyak mengandung nutrisi terutama protein dan asam amino. A. salina digunakan sebagai pakan alami karena memiliki kandungan nutrisi yang tinggi diantaranya kandungan protein kasar sebesar 50,76% dari berat kering, lemak 4,8%, karbohidrat 15,4%, air 10,3%, dan abu 11,2%. A. salina merupakan produk impor yang memiliki harga mahal. Seiring dengan berkembangnya budidaya pembenihan udang, permintaan kista A. salina semakin meningkat. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi permintaan yang semakin meningkat perlu adanya pengembangan budidaya A. salina terutama pada pemberian pakan. Sumber protein hewani yang dapat digunakan sebagai pakan adalah tepung kepala udang, karena kepala udang mengandung protein sebesar 42,16% sampai 49,8%. Selain protein hewani, protein nabati seperti tepung kedelai hitam juga diperlukan dalam budidaya A. salina karena harganya yang relatif murah dan kandungan proteinnya tinggi. Kedelai hitam memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi terutama protein (33,94%) dan karbohidrat (40,90%) jika dibandingkan dengan protein nabati lainnya. Pemberian pakan campuran tepung kepala udang dan tepung kedelai hitam didasarkan pada kandungan protein yang tinggi dari kedua bahan tersebut, sehingga apabila digabungkan akan menghasilkan komposisi nutrien yang baik untuk pertumbuhan A. salina. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2017- Mei 2018. Kegiatan penelitian berupa percobaan di laboratorium yang terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pendahuluan dan utama. Tahap penelitian pendahuluan bertujuan untuk mengetahui variasi dosis pakan yang akan diberikan pada A. salina. Tahap penelitian utama bertujuan untuk mengetahui perbedaan panjang tubuh dan jumlah A. salina yang menetas akibat pemberian variasi dosis pakan campuran tepung kepala udang vaname (Litopenaesus vannamei) dan tepung kedelai hitam (Glycine max L.) varietas malika. Perlakuan pemberian pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,015 g, 0,030 g, 0,045 g, dan 0,060 g. Parameter yang diujikan dalam penelitian ini adalah panjang tubuh dan jumlah A. salina. Pengambilan data dilakukan secara acak selama 22 hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Anava dan uji lanjut Duncan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pemberian campuran pakan tepung kepala udang dan tepung kedelai hitam pada A. salina menunjukkan hasil analisis beda nyata (p < 0,05) terhadap panjang A. salina pada hari ke- 12, 14, 16, 18, 20, dan 22. Kandungan protein dalam campuran pakan tepung kepala udang dan tepung kedelai hitam merupakan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan panjang A. salina. Perlakuan dosis pakan 0,060 g memiliki rerata panjang yang lebih besar daripada perlakuan dosis 0,015 g, 0,030 g, dan 0,045 g. Tingkat pertumbuhan panjang yang berbeda-beda diantara perlakuan diakibatkan oleh kandungan protein dalam pakan, dimana semakin besar protein yang terkandung maka tingkat pertumbuhannya semakin tinggi. Hasil uji lanjut Duncan pertumbuhan A. salina masing-masing dosis pakan terhadap waktu pengamatan menunjukkan bahwa pada hari ke- 2, 4, 6, dan 8 terdapat beda nyata, sedangkan pada hari ke 10 sampai 22 tidak berbeda nyata. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu fase pertumbuhan eksponensial, kompetisi dalam memperoleh makanan, tidak dilakukan adanya penambahan pakan, dan adanya persaingan untuk mendapatkan ruang gerak. Pada penelitian uji beda dosis pakan terhadap pertumbuhan jumlah A. salina menunjukkan hasil Anava terdapat beda nyata (p < 0,05) pada hari ke- 4, 6, 8, dan 10. Perbedaan jumlah A. salina dipengaruhi adanya kandungan protein pada perlakuan variasi dosis pakan yang diberikan. Perlakuan dosis pakan 0,015 g memberikan pertumbuhan jumlah A. salina terbanyak. Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan pada pertumbuhan jumlah A. salina dapat diketahui bahwa perlakuan dosis pakan 0,015 g berbeda nyata (