SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1764 research outputs found
Sort by
Perilaku Harian Rusa Timor (Cervus timorensis) Di Penangkaran Alas Maliran Kabupaten Blitar Jawa Timur.
RINGKASAN Rusa merupakan sumberdaya alam yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekologis yaitu sebagai rantai makanan bagi predator (serigala dan puma). Rusa Timor merupakan jenis rusa tropis yang banyak dijumpai di berbagai kepulauan Indonesia baik di habitat alaminya maupun di penangkaran. Usaha penangkaran rusa pada saat ini telah banyak dilakukan sebagai upaya untuk menghambat kepunahan rusa, baik secara konservasi di dalam habitat aslinya (konservasi in-situ) maupun memelihara populasi diluar habitat asli (konservasi ek-situ). Salah satu kawasan konservasi eksitu Rusa Timor yang terbilang besar berada di Alas Maliran, yang merupakan wahana wisata yang terletak di Desa Jatilengger, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar yang memiliki sekitar 70 ekor rusa. Pengamatan perilaku harian Rusa Timor (Cervus timorensis) perlu dilakukan untuk upaya meningkatkan konservasi sehingga mengetahui habituasi rusa dan membantu menghambatnya laju kepunahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku harian Rusa Timor (Cervus timorensis), mengetahui persentase dan frekuensi perilaku harian Rusa Timor (Cervus timorensis) di penangkaran Alas Maliran Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskritif eksploratif yang dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung terhadap tingkah laku harian Rusa Timor yang berada di Alas Maliran, Kabupaten Blitar. Penelitian dilakukan selama 30 hari mulai Mei sampai Juni 2018 dengan cara melakukan observasi langsung terhadap tingkah laku harian Rusa Timor (Cervus timorensis) yang berada di Alas Maliran, Kabupaten Blitar. Pengamatan dibagi dalam 3 waktu setiap harinya yaitu pagi hari pukul 06.00-08.00, siang hari pukul 11.30-13.30, dan sore hari pukul 16.00-18.00. Satu kelompok Rusa Timor yang terdiri atas 2 ekor rusa jantan, 3 ekor rusa betina dan 1 ekor rusa anakan yang akan diamati perilaku hariannya. Perilaku harian Rusa Timor (Cervus timorensis) yang muncul kemudian dicatat meliputi perilaku makan (merumput), minum, berkelompok, pooping, kencing, bersuara, berkelahi, menyusu, istirahat, berlarian, berkubang, mengunyah kembali, menggaruk badan dan bercumbu. Frekuensi dan lama waktu setiap individu Rusa Timor dalam melakukan tingkah laku dicatat sebagai data untuk dianalisis menggunakan rumus dari Martin dan Bateson (1988). Perilaku harian Rusa Timor (Cervus timorensis) di Alas Maliran Kabupaten Blitar selama pengamatan menghasilkan 14 tingkah laku, yaitu perilaku makan, minum, berkelompok, pooping, kencing, bersuara, berkelahi, menyusui, istirahat, berlarian, berkubang, mengunyah kembali, menggaruk badan,dan bercumbu. Rusa Timor (Cervus timorensis) jantan dan betina diantaranya tidak ada perbedaan perilaku. Persentase perilaku makan atau merumput Rusa Timor (Cervus timorensis) adalah persentase perilaku terbesar yaitu pada rusa jantan sebesar 48,43% , rusa betina 49,98% , dan rusa anakan 41,16%. Perilaku harian dengan persentase terendah adalah perilaku menyusu sebesar 0,04% yang di lakukan oleh rusa jantan, yaitu saat induk betina menyusui anakan, rusa jantan akan ikut meminum susu dari betina namun tidak berlangsung lama. Pada rusa betina dan rusa anakan perilaku berkubang merupakan perilaku dengan persentase terendah sebesar 0,61% dan 0,20%. Frekuensi perilaku harian Rusa Timor (Cervus timorensis) pada penelitian ini yang memiliki rerata frekuensi terbesar adalah perilaku bersuara oleh rusa jantan, betina dan anak pada pagi, siang dan sore hari. Frekuensi perilaku harian Rusa Timor (Cervus timorensis) yang memiliki frekuensi terendah baik pada waktu pagi, siang, dan sore hari adalah perilaku bercumbu. Rusa di penangkaran Alas Maliran memiliki siklus birahi atau kawin musiman yaitu pada akhir bulan Mei hingga sampai bulan November. Sesuai dengan pendapat Rodolfo, dkk (2008) bahwa reproduksi musiman juga terjadi pada rusa jantan berusia sekitar 1 tahun, fase reproduksi musiman berjalan mulai bulan Juni sampai bulan November dengan puncak masa reproduksi pada bulan Agustus hingga bulan September
Pengembangan Instrumen Evaluasi Mata Pelajaran Biologi SMA Kompetensi Dasar 3.7, 4.7, 3.8, dan 4.8 Kelas X dalam Kurikulum 2013 di SMA Widyagama Kota Malang
ABSTRAK Ratri, Hanifa Fitria. 2017. Pengembangan Instrumen Evaluasi Mata Pelajaran Biologi SMA Kompetensi Dasar 3.7, 4.7, 3.8, dan 4.8 Kelas X dalam Kurikulum 2013 di SMA Widyagama Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triastonno Imam Prasetyo, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M,Si. Kata kunci: Instrumen Evaluasi, Biologi SMA, Kompetensi Dasar 3.7, 4.7, 3.8, dan 4.8 Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi. Untuk mengukur kompetensi siswa dalam pembelajaran digunakan instrumen evaluasi. Instrumen evaluasi yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah 36 soal pilihan ganda jawaban tunggal dengan 5 pilihan jawaban, dan 2 asesmen kinerja. Soal pilihan ganda jawaban tunggal mengacu pada indikator soal yang dikembangkan dari indikator kompetensi. Kompetensi dasar merupakan acuan perumusan indikator kompetensi. Asesmen kinerja mengacu pada kompetensi dasar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan rumusan soal pilihan ganda jawaban tunggal dan asesmen kinerja dari KD 3.7, 4.7, 3.8 dan 4.8, (2) mengetahui validitas logis dan validitas empiris soal pilihan ganda jawaban tunggal yang sudah dibuat dari kompetensi dasar 3.7, dan 3.8, (3) mengetahui validitas logis asesmen kinerja yang dibuat dari kompetensi dasar 4.7, dan 4.8. Pengembangan instrumen evaluasi dilakukan di SMA Widyagama Kota Malang. Penelitian pengembangan ini menggunakan model penelitian R & D menurut Borg and Gall yang dilakukan sampai tahap ke-7. Pengumpulan data diperoleh dari (1) hasil validasi logis oleh ahli evaluasi, ahli materi, dan ahli lapangan (guru), (2) validasi empiris yang meliputi tingkat kesukaran, daya beda, reliabilitas dan analisis pengecoh. Pengembangan asesmen kinerja berdasarkan hasil validasi logis, sedangkan pengembangan soal pilihan ganda jawaban tunggal berdasarkan hasil validasi logis dan validasi empiris. Validasi empiris dilakukan dua kali yaitu, uji coba lapangan awal dan uji coba lapangan produk utama. Uji coba lapangan awal dilakukan dilakukan pada 12 siswa, sedangkan uji coba lapangan produk utama dilakukan pada 38 siswa kelas X SMA Widyagama Kota Malang. Berdasarkan analisis validasi logis dilakukan perbaikan penambahan kriteria, latar belakang masalah pada penyusunan laporan pada asesmen kinerja. Berdasarkan analisis validasi logis terhadap soal pilihan ganda jawaban tunggal diketahui validitas konstruk soal sudah sesuai dengan indikator soal dan tujuan pembelajaran. Sedangkan untuk validitas isi diketahui materi tes sesuai dengan indikator soal dan tujuan pembelajaran. Untuk soal pilihan ganda jawaban tunggal berdasarkan analisis validasi logis dilakukan perbaikan terhadap pokok soal, pilihan jawaban, dan homogenitas pilihan jawaban. Berdasarkan program ITEMAN diperoleh hasil uji coba lapangan awal pada soal pilihan ganda jawaban tunggal untuk tingkat kesukaran soal mudah 33,33%, soal sedang 41,67%, dan soal sukar 25% dengan rasio soal mudah:sedang:sukar mencapai kurang lebih 3:4:2. Untuk daya beda persentase 16,67% jelek, 25% cukup , 25% baik, dan 33,33% baik sekali. Untuk analisis pengecoh, pilihan jawaban berfungsi mengecoh sebanyak 47,22%. Berdasarkan uji coba lapangan awal dilakukan revisi. Revisi juga dilakukan berdasarkan hasil analisis pengecoh. Setelah dilakukan validitas logis dan empiris dilakukan revisi untuk digunakan uji coba lapangan produk utama. Hasil uji coba lapangan produk utama pada soal pilihan ganda jawaban tunggal untuk tingkat kesukaran soal mudah 27,78%, soal sedang 47,22%, dan soal sukar 25% dengan rasio soal mudah : sedang : sukar kurang lebih 3:4:3. Untuk daya beda jelek diperoleh persentase 2,78%, cukup 38,89%, baik 36,11%, dan baik sekali 22,22%. Reliabilitas instrumen tergolong sangat tinggi dengan nilai 0,832. Untuk analisis pengecoh, pilihan jawaban berfungsi mengecoh sebanyak 77,78%. Berdasarkan uji coba lapangan produk utama dilakukan revisi. Revisi juga dilakukan berdasarkan hasil analisis pengecoh. Saran yang dianjurkan adalah sebaiknya guru dan peneliti lain terus melakukan validasi agar diperoleh instrumen evaluasi yang lebih baik. Penelitian ini perlu dikembangkan lebih lanjut dengan melanjutkan model pengembangan Borg and Gall pada langkah ke 8, 9, dan 10
Pengaruh Penambahan Azolla pinnata Terhadap Pertambahan Bobot Itik Mojosari Jantan dan Analisis Usaha
PENGARUH PENAMBAHAN Azolla pinnata PADA RANSUM TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT ITIK MOJOSARI JANTAN DAN ANALISIS USAHA Ridho Aka Qomarizzaman1, Mohamad Amin1, Abdul Gofur1 1Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5, Malang 65145, Jawa Timur Email: [email protected] ABSTRAK: Daging merupakan sumber protein hewani yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Itik adalah komoditas ternak unggas yang berpotensi untuk memenuhi kebutuhan daging. Budidaya itik mengeluarkan biaya paling banyak pada pakan. Peternak harus memberikan pakan alternatif agar bisa menekan biaya produksi. Sejumlah bahan pakan alternatif yang dapat diberikan pada itik salah satunya Azolla pinnata. Azolla pinnata adalah gulma yang tumbuh pada daerah perairan contohnya danau, rawa dan kolam budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) beda perlakuan penambahan Azolla pinnata terhadap pertambahan bobot itik Mojosari jantan, dan 2) penambahan Azolla pinnata yang efektif. Penelitian ini merupakan penelitian ekperimen dengan menggunakan 5 perlakuan dengan ulangan 5 kali tiap ulangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menghitung pertambahan bobot badan, nilai Feed Consumption Rate (FCR) dan analisis usaha. Hasil penelitian ini penambahan Azolla pinnata pada ransum berpengaruh terhadap pertambahan bobot itik Mojosari jantan dan penambahan Azolla pinnata 20% paling efektif serta bisa diaplikasikan untuk budidaya itik Mojosari jantan. Kata Kunci: Azolla pinnata, bobot, itik Mojosari jantan, analisis usaha
Pengaruh Penambahan Azolla pinnata Terhadap Pertambahan Bobot Itik Mojosari Jantan dan Analisis Usaha
ABSTRAK Qomarizzaman, Ridho Aka. 2017. Pengaruh Penambahan Azolla pinnata pada Ransum terhadap Pertambahan Bobot Itik Mojosari Jantan dan Analisis Usaha. Skripsi. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd. M.Si, (II) Dr. Abdul Gofur, M.Si, Kata Kunci: Azolla pinnata, ransum, bobot, itik Mojosari jantan, pertambahan bobot, analisis usaha Pertambahan penduduk yang semakin meningkat harus diimbangi dengan kebutuhan pangan. Daging merupakan sumber protein hewani yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Konsumsi daging meningkat setiap tahunnya sehingga pemerintah harus mengimpor daging untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Daging itik didapatkan dari itik apkir, itik petelur yang tidak lolos seleksi serta pemeliharaan intensif dari itik jantan. Budidaya itik menjanjikan dikarenakan itik lebih tahan penyakit dibandingkan ayam serta tingkat kematian itik umumnya kecil. Kelebihan dari budidaya itik dapat dijadikan dasar untuk memenuhi kebutuhan daging. Budidaya itik mengeluarkan biaya paling banyak pada pakan. 70-80% dari biaya budidaya dikeluarkan untuk pakan. Peternak harus memberikan pakan alternatif agar bisa menekan biaya produksi. Beberapa bahan pakan alternatif yang dapat diberikan pada itik antara lain: enceng gondok, Azolla pinnata, kangkung, bayam, bekicot, keong mas, cacing tanah dan sebagainya. Azolla pinnata adalah gulma yang tumbuh pada daerah perairan contohnya danau, rawa dan kolam budidaya dan bisa dijadikan bahan pakan tambahan alternatif. Kandungan nutrisi pada Azolla pinnata meliputi protein kasar, karbohidrat, lemak vitamin dan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada beda penambahan Azolla pinnata terhadap pertambahan bobot itik Mojosari jantan dan penambahan Azolla pinnata yang efektif sebagai bahan pakan tambahan alternatif serta biaya pakan yang murah. Efektivitas penambahan Azolla pinnata dapat dilihat dari bobot harian itik Mojosari jantan dan feed consumption ratio (FCR). FCR didapatkan dari hasil pembagian antara total pakan yang dibutuhkan per minggu. Penilitian yang dilakukan bersifat kuantitatif eksperimental. Ada 5 kombinasi perlakuan pada penelitian ini yaitu P0 (kontrol), P1 (penambahan 5%), P2 (penambahan 10%), P3 (penambahan 15%), P4 (penambahan 20%). Data yang didapat dianalisis dengan analisis variasi dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian ini penambahan Azolla pinnata pada ransum berpengaruh terhadap pertambahan bobot itik Mojosari jantan. Perlakuan dengan penambahan Azolla pinnata 10% berbeda nyata yang paling tinggi diantara penambahan Azolla pinnata 15% dan 20%. Dengan biaya yang sama dengan ransum penambahan Azolla pinnata 20% dapat diaplikasikan untuk itik Mojosari jantan
Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dipadu Kooperatif Think Pair Square Share (TPSS) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir KritisSiswa Kelas X MIA 5 SMAN 02 Batu
ABSTRAK Putri, Dini Resita. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dipadu Kooperatif Think Pair Square Share (TPSS) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir KritisSiswa Kelas X MIA 5 SMAN 02 Batu. Pembimbing (I) Dra. Sunarmi, M.Pd., (II) Dra. Amy Tenzer, M.S. Kata Kunci : inkuiri terbimbing, kooperatif TPSS, kemampuan berpikir kritis Berdasarkan hasil observasi dan wawancaradengan guru Biologi SMAN 02 Batu, kemampuan berpikir kritissiswa kelas X MIA 5 tergolong rendah, terlihatdarijawabansiswaterhadappertanyaandenganaspekberpikirkritisdanhasilbelajarsiswa yang menunjukkanbahwaketuntasanklasikalhanya 57%. Rendahnya kemampuan berpikir kritis disebabkan kurangdi-berdayakannya kemampuan tersebut pada setiap pembelajaran. PenelitianTindakanKelas (PTK) ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritissiswa melaluipenerapan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing dipadu Kooperatif TPSS.Subjekpenelitian ini adalah siswa Kelas X MIA 5 SMAN 02 Batu tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 30 orang terdiri dari 10 siswa dan 20 siswi.Kemampuanberpikirkritissiswameliputiaspekinterpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan self-regulation, yang diukurmenggunakanmelaluites akhir siklusdan penilaian tes akhir siklus dilakukan berdasarkan rubrik penilaian kemampuan berpikir kritis.Penelitiantindakankelasdilakukanselamaduasiklus. Data hasil penelitiankemampuan berpikir kritissebagaiberikut.AspekIntepretasimeningkatdari 65,6% menjadi 87,5% padasiklus II. AspekAnalisismeningkatdari 45,6% menjadi 68% padasiklus II. AspekEvaluasimeningkatdari 67% menjadi 75% padasiklus II.AspekInferensimeningkatdari 57,3% menjadi 76,3% padasiklus II. AspekEksplanasimeningkatdari 46,6% menjadi 66% padasiklus II. AspekSelf-regulationmeningkatdari 71,3% menjadi 84,6% padasiklus II. Secarakeseluruhanaspekkemampuanberpikirkritissiswameningkatdari 58,8% padasiklus I menjadi 87,5% padasiklus II. Model pembelajaran Inkuiri Terbimbing dipadu Kooperatif TPSS dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritispadasetiapaspeknya.Penerap-an Model Pembelajaranharusdilakukanoleh Guru denganbaikmelaluibombingankepadasiswadisetiaplangkahpembelajaransehinggasetiapaspekberpikirkritisdapatsemakinterasah.
ASSESSMENT FOR LEARNINGDENGAN METODE DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN SCIENTIFIC WRITING KELAS X MIPA 4 SMAN 8 MALANGTAHUN AJARAN 2016/2017
ABSTRAK ssessment for learning (AfL) merupakan penilaian terhadap kinerja peserta didik yang dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung di kelas. AfL bertujuan untukmeningkatkanpembelajaranmenggunakaninformasi yang diperoleh. AfL terdiri darifeedback, self assessment,peer assessment, dan teacher assessment. Salah satu kegiatan assessment yang dilakukan di kelas untuk mengukur kinerja peserta didik ialah dengan menulis laporan ilmiah. Laporan ilmiah merupakan salah satu kegiatan scientific writing yang merupakan proses interaksi peserta didik merangkai huruf menjadi sebuah tulisan dan mampu memahamkan pembaca yang didasarkan pada pemikiran yang logis, empiris, dan sistematis. Namun, hasil wawancara dan analisis terhadap kemampuan scientific writing berdasarkan laporan terdahulu peserta didik Kelas X MIPA 4 SMAN 8 Malang, 50% laporan sesuai dengan sistematika Karya Tulis Ilmiah yang benar, sisanya belum sesuai. Hal ini karena kurangnya pemahaman awal peserta didik terhadap sistematika Karya Tulis Ilmiah yang benar. Untuk meningkatkan kemampuan scientific writing, diperlukan metode pembelajaran yang menunjang, salah satunya yaitu penggunaan metode discovery dengan pemberian feedback dari penilaian AfL. Penelitian ini menggunakan mixed method dengan embedded pre-experimental. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2017, di Kelas X MIPA 4 SMAN 8 Malang dengan total 39 peserta didik.Penelitian ini menggunakan instrumen AfL untuk mengukur kemampuan scientific writing dan hasil belajar peserta didik. Analisis terhadap data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan kemampuan scientific writing peserta didik yang mendapatkan feedback dari AfL dan scientific writing peserta didik tanpa feedback dari AfL berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan scientific writing peserta didik. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif, hasil uji F terhadap laporan scientific writing sebesar 23,194, menyatakan bahwa AfL secara signifikan berpengaruh besar terhadap peningkatan kemampuan scientific writing peserta didik. Ada perbedaan hasil belajar peserta didik yang mendapatkan feedback dari AfL dan hasil belajar peserta didik tanpa feedback dari AfL berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif, hasil uji t sebesar 153,021, menyatakan bahwaAfL secara signifikan berpengaruh besar terhadap peningkatan kemampuan hasil belajar peserta didik
Analisis Butir dan Rekonstruksi Soal Ujian Akhir Semester (UAS) Genap Mata Pelajaran Biologi Kelas X Tahun Ajaran 2016/2017 di SMAN 1 Sumberpucung, SMAN 1 Kepanjen, SMAN 1 Gondanglegi, dan SMAN 1 Bululawang
Abstrak Kata Kunci: Analisis Butir Soal, Rekonstruksi, UAS Analisis soal atau analisis butir soal merupakan prosedur yang sistematis untuk memberikan informasi khusus terhadap butir soal yang disusun. Analisis soal dapat membantu dalam mengidentifikasi soal yang kurang baik. Analisis butir soal adalah pengkajian pertanyaan pada soal tes agar dapat diperoleh pertanyaan yang memiliki kualitas yang memadai. Hal yang dikaji dalam analisis butir soal yaitu validitas logis (isi dan konstruk) serta validitas empiris (reliabilitas, tingkat kesukaran, daya beda, dan efektivitas pengecoh soal). Analisis butir soal di SMAN 1 Sumberpucung, SMAN 1 Kepanjen, SMAN 1 Gondanglegi, dan SMAN 1 Bululawang belum dilakukan, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis butir soal UAS di SMA tersebut dan merekonstruksi soal yang belum berkualitas baik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif kuantitatif. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis data secara kualitatif digunakan untuk melihat validitas logis (validitas isi dan konstruk) soal. Analisis data secara kuantitatif digunakan untuk melihat validitas empiris soal, yang meliputi reliabilitas, tingkat kesukaran, daya beda, dan efektivitas pengecoh soal menggunakan program ANATES V4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa soal memiliki validitas logis (validitas isi dan konstruk) yang baik, dengan persentase 97,5% untuk validitas isi dan 65% untuk validitas konstruk. Soal memiliki reliabilitas soal yang cukup, masing-masing sekolah dengan nilai reliabilitas 0,58; 0,64; 0,65; dan 0,64. Soal memiliki perbandingan tingkat kesukaran yang tidak baik, secara berurutan perbandingan tingkat kesukaran soal dari empat sekolah tersebut yaitu 3 : 5 : 2; 2,5 : 8 : 9,5; 6 : 9,5 : 4,5; dan 1,5 : 12,5 : 6. Soal di SMAN 1 Sumberpucung dan SMAN 1 Kepanjen memiliki daya beda soal yang lemah (jelek) sedangkan di SMAN 1 Gondanglegi dan SMAN 1 Bululawang memiliki daya beda soal sedang, secara berurutan dengan persentase 42,5%; 47,5%; 52,5%; dan 40%. Soal di SMAN 1 Sumberpucung, SMAN 1 Kepanjen, dan SMAN 1 Gondanglegi, memiliki efektivitas pengecoh soal yang cukup baik dengan persentase 42,5% untuk SMAN 1 Sumberpucung, 37,5% untuk SMAN 1 Kepanjen, dan 35% untuk SMAN 1 Gondanglegi, sedangkan SMAN 1 Bululawang tergolong memiliki efektivitas pengecoh yang kurang baik (37,5%). Soal berdasarkan validitas logisnya harus direkonstruksi sebanyak 14 soal dari 40 soal. Berdasarkan validitas empirisnya, dari 40 soal di SMAN 1 Sumberpucung harus direkonstruksi sebanyak 30, di SMAN 1 Kepanjen sebanyak 27 soal, di SMAN 1 Gondanglegi sebanyak 28 soal, dan di SMAN 1 Bululawang sebanyak 23 soal
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SALEP DAUN CUCUK MANUK (Rhinacanthus nasutus L. Kurz) TERHADAP PERTUMBUHAN Pseudomonas aeruginosa DAN Staphylococcus aureus SECARA In-Vitro
ABSTRAK Bakteri flora normal pada kulit yang dapat bersifat patogen oportunis adalah Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. National Healthcare Safety Network (NHSN) melaporkan bahwa pada sejumlah rumah sakit tahun 2009-2010, infeksi oleh bakteri S.aureus mencapai 15,6% dan P.aeruginosa 7,5%. Dibutuh-kan pengembangan antibakteri baru. Tanaman Cucuk Manuk (Rhinacanthus nasutus) berpotensi dijadikan antibakteri. Tanaman R.nasutus dianggap sebagai tanaman liar dan sudah mulai punah. Dahulu, daun tanaman ini dimanfaatkan nenek moyang sebagai obat menggunakan perasan segar, sekarang menggunakan metode ekstraksi. Salep terbuat dari ekstrak etanol daun cucuk manuk, gelatin kulit kaki ayam dan vaselin putih sebagai dasarnya. Gelatin kulit kaki ayam memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dan hubungan variasi konsentrasi salep daun R.nasutus terhadap jumlah sel bakteri P.aeruginosa dan S.aureus, serta membandingkan Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) salep pada bakteri P.aeruginosa dan S.aureus. Per-cobaan terdiri atas 7 perlakuan dan 4 ulangan: antibiotik Eritromisin 100 µg/ml (K+), salep konsentrasi 500.000 µg/ml (K1), 250.000 µg/ml (K2), 125.000 µg/ml (K3), 62.500 µg/ml (K4), 31.250 µg/ml (K5), dan 0 µg/ml (K-). Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode dilusi. KHM ditentukan dengan mengamati tingkat kekeruhan bahan uji yang diberi biakan bakteri setelah diinkubasi 1 x 24 jam. KBM ditentukan dengan menghitung jumlah sel bakteri yang tumbuh pada medium MHA setelah diinkubasi 1 x 24 jam. Data jumlah sel bakteri dianalisis dengan ANAVA dan Regresi Linier Sederhana berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL), kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KHM dan KBM salep daun R.nasutus terhadap bakteri S.aureus sebesar 62.500 µg/ml dan 125.000 µg/ml, lebih kecil dibandingkan dengan bakteri P.aeruginosa yaitu sebesar 125.000 µg/ml dan 250.000 µg/ml.Variasi konsentrasi salep daun R.nasutus berpengaruh dan memiliki hubungan terhadap jumlah sel bakteri P.aeruginosa dan S.aureus. Perlakuan konsentrasi salep 500.000 µg/ml menghasilkan rerata jumlah sel bakteri P.aeruginosa dan S.aureus yang paling sedikit, namun pada bakteri S.aureus tidak menghasilkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan konsentrasi salep 250.000 µg/ml. Konsentrasi salep berbanding terbalik dengan pertumbuhan bakteri, semakin tinggi konsentrasi salep maka semakin sedikit jumlah sel bakteri
Penerapan Model Problem Based Learning Dilengkapi dengan Memory Game untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis, Aktivitas Siswa, dan Hasil Belajar Psikomotorik pada Mata Pelajaran Biologi
ABSTRAK Pembelajaran berdasarkan Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik untuk meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, diketahui siswa masih memiliki aktivitas belajar yang rendah dalam proses pembelajaran dan keterampilan berpikir kritis yang masih kurang sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Mengacu pada permasalahan tersebut, maka dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas menggunakan model Problem Based Learning (PBL) dilengkapi dengan Memory Game (MG) untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis, aktivitas, dan hasil belajar psikomotorik siswa pada mata pelajaran Biologi materi sistem koordinasi. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan pada siswa kelas XI IPA 1 MAN Kota Batu pada mata pelajaran Biologi dilakukan dengan 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri atas 4 tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan tindakan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi tes dan observasi. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi lembar observasi keter-laksanaan tindakan guru dan siswa, catatan hasil pembelajaran, lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi psikomotorik siswa, dan lembar tes berpikir kritis beserta rubrik penilaian. Teknik analisis yang digunakan menggunakan deskriptif kualitatif yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian PBL dilengkapi dengan MG yang dilakukan menunjukan hasil rata-rata persentase keterampilan berpikir kritis siswa meningkat dari 70,8% menjadi 80,1%; aktivitas siswa meningkat dari 56,82% menjadi 77,27%; dan hasil belajar psikomotorik siswa meningkat dari 66,2% menjadi 78,8%. PBL dilengkapi MG mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis karena pembelajaran berorientasi pada masalah yang ada di sekitar siswa sehingga siswa didorong untuk mampu berpikir kritis agar menyelesaikan masalah dan mengingat informasi yang diperoleh. Aktivitas siswa dapat mengalami peningkatan disebabkan penerapan PBL dilengkapi MG menggabungkan antara permainan dan konsentrasi siswa sehingga siswa berani mengemukakan pendapat dan menjawab pertanyaan. Hasil belajar psikomotorik siswa dapat mengalami peningkatan karena PBL dipadu MG mengacu pada pembelajaran yang dialami langsung oleh siswa melalui kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum yang dilakukan siswa sehingga selain dapat meningkatkan kemampuan kognitif, juga meningkatkan kemampuan psikomotorik siswa. Kesimpulan dari penelitian PTK ini menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) dilengkapi dengan Memory Game (MG) mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, aktivitas, dan hasil belajar psikomotorik siswa
Studi Preferensi Bersarang Burung Bondol (Estrididae: Lonchura) di Kawasan Kampus Universitas Negeri Malang Jawa Timur
ABSTRAK Anang, Januardi. 2017. Studi Preferensi Bersarang Burung Bondol (Estrididae: Lonchura) di Kawasan Kampus Universitas Negeri Malang Jawa Timur. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Sofia Ery Rahayu, S.Pd., M. Si (II) Drs. Sulisetijono, M. Si. Kata kunci: bondol peking, bondol jawa, bersarang Burung Bondol Peking dan Bondol Jawa dijumpai di lingkungan Universitas Negeri Malang. Keberadaan kedua burung tersebut didukung oleh keberadaan tanaman yang menjadi tempat meletakkan sarang dan bahan penyusun sarang Tujuan penelitian untuk mengetahui habitat bersarang, tanaman yang digunakan sebagai tempat bersarang dan morfologi sarang burung bondol Peking dan bondol Jawa pada lokasi Kampus Universitas Negeri Malang. Jenis penelitian deskriptif ekploratif. Objek penelitian sarang burung Peking dan bondol Jawa. Pengambilan sampel sarang burung dilakukan di wilayah Universitas Negeri Malang yang terletak di Jl. Semarang 5, Malang, Jawa Timur. Penelitian dilakukan bulan Juni – Juli 2017. Data yang diperoleh berupa morfologi dan morfometri sarang (tinggi luar, keliling, lebar dinding, kedalaman atau tinggi dalam dan diameter pintu masuk), serta jenis pohon tempat sarang ditemukan. Data morfometri sarang dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasil penelitian jenis pohon sarang yang ditemukan yaitu Polyalthia longifolia, Roystonea regia, Canarium indicum, Pinus merkusii, Szyigium oleana dan Callistemon viminalis. Morfologi sarang yang ditemukan berbentuk bulat dan lonjong. Perbedaan antara bulat dan lonjong terdapat pada diameter mulut dan tinggi luar. Sarang bentuk bulat rerata diameter mulut sarang 6,5 cm sedangkan bentuk lonjong 3,4 cm. Tinggi luar sarang bentuk bulat 9,7 cm dan sarang bentuk lonjong lebih besar yaitu 14 cm. Material unsur sarang paling dominan dari kedua burung bondol yaitu Saccharum officinarum (tebu), Oryza sativa (padi) dan Zea mays (jagung). Pada beberapa sarang ditemukan bahan penyusun berupa serpihan plastik bekas yang berasal dari sampah plastik disekitar tempat bersarang burung Bondol Jawa. Sampah plastik yang berada pada sarang disebabkan oleh keberadaan sampah yang berserakan dirumput atau tanah lapang sekitar ditemukan sarang. Hasil uji beda terhadap berat total unsur sarang pada kedua jenis burung menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan tarhadap bobot total unsur sarang pada kedua spesies burung