SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1764 research outputs found

    Pengembangan Instrumen Penilaian Literasi Sains Materi Ekosistem pada Siswa Kelas X MIPA 6 SMAN 9 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Indraswari, Rheinadia. 2018. Pengembangan Instrumen Penilaian Literasi Sains Materi Ekosistem pada Siswa Kelas X MIPA 6 SMAN 9 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sunarmi, M.Pd. (II) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S.   Kata Kunci: pengembangan instrumen penilaian, literasi sains, ekosistem. Pengembangan instrumen penilaian literasi sains ini dilatarbelakangi oleh belum sesuainya instrumen penilaian literasi sains dengan indikator literasi sains menurut PISA 2015 yang digunakan di SMAN 9 Malang, sehingga guru dan siswa memiliki kendala dalam proses pembelajaran sains. Hasil wawancara dengan guru biologi SMAN 9 Malang diketahui bahwa keterampilan literasi sains siswa masih rendah, yang ditandai dengan siswa sulit untuk memecahkan masalah berdasarkan fenomena. Berdasarkan permasalahan yang ada, maka dikembangkan instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk soal essay dan lembar observasi untuk materi ekosistem. Materi ekosistem mempunyai karakteristik dapat melibatkan siswa melakukan pengamatan langsung di lingkungan, sehingga memungkinkan untuk memenuhi kriteria literasi sains. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen penilaian literasi sains sesuai dengan indikator literasi sains yang dapat mengukur keterampilam literasi sains siswa pada materi ekosistem kelas X MIPA dan menghasilkan instrumen penilaian literasi sains yang valid, efektif, praktis, dan reliabel. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model ADDIE yang terdiri atas lima tahapan yaitu, (1) Analyze; (2) Design; (3) Develop; (4) Implement; dan (5) Evaluate. Data uji coba produk terdiri dari data kuantitatif dan kualitatif. Hasil data validitas isi oleh ahli asesmen diketahui bahwa 100% butir soal sudah mengacu dan sesuai dengan materi. Validitas konstruk setelah divalidasi oleh ahli asesmen diketahui bahwa butir soal 100% sesuai dengan indikator kompetensi dan indikator keterampilan literasi sains. Kualitas soal instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk soal essay memiliki tingkat kevalidan sebesar 100%. Instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk lembar observasi setelah divalidasi oleh ahli asesmen diperoleh kevalidan sebesar 100%. Instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk soal essay yang divalidasi oleh ahli materi memiliki persentase kevalidan sebesar 96,88% dan validasi ahli materi terhadap instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk lembar observasi diperoleh persentase kevalidan sebesar 96,43%. Instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk soal essay yang divalidasi oleh praktisi lapangan memperoleh persentase tingkat kevalidan sebesar 99,06%, sementara validasi praktisi lapangan terhadap instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk lembar observasi diperoleh persentase tingkat kevalidan 95,45%. Berdasarkan hasil validasi ahli asesmen, ahli materi, dan praktisi lapangan diketahui bahwa instrumen penilaian literasi sains yang dikembangkan sangat valid. Hasil analisis butir soal instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk soal essay diketahui bahwa kategori soal mudah sebanyak 3 butir atau 37,5%, soal dengan tingkat kesukaran sedang sebanyak 4 butir atau 50%, dan soal dengan kategori sukar sebanyak 1 butir yaitu 12,5%. Daya pembeda uji coba instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk soal essay diketahui bahwa soal nomor 2, 3, 4, 7, dan 8 memiliki kriteria daya pembeda sedang dengan persentase 24,44 – 38,10. Butir soal yang memiliki daya pembeda tinggi yaitu pada nomor 1, 5, dan 6 yang memiliki tingkat daya pembeda 40,74 – 46,67. Reliabilitas soal dianalisis menggunakan ANATES dan didapatkan hasil sebesar 0,81 yang berarti bahwa tingkat reliabilitas soal tinggi. Keefektifan soal essay diketahui dari rata-rata nilai siswa yaitu 63,51 yaitu memiliki kriteria cukup atau tingkat keefektifan cukup efektif. Uji keefektifan instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk lembar observasi pada kegiatan diskusi adalah 86,18% yang berarti tergolong kriteria sangat efektif, kegiatan praktikum diperoleh rata-rata keterampilan literasi sains siswa sebesar 81,38% yaitu dikategorikan efektif, pada kegiatan presentasi diperoleh rata-rata sebesar 87,97% yang berarti masuk dalam kriteria sangat efektif. Uji kepraktisan menunjukkan bahwa instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk soal essay dan lembar observasi yang dikembangkan sudah sangat praktis. Persentase dari kepraktisan instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk soal essay yaitu 90,92% dan persentase instrumen penilaian literasi sains dalam bentuk lembar observasi memiliki rata-rata 83,92%

    Pengaruh Strategi Pembelajaran Inkuiri Terstruktur Terhadap Literasi Sains dan Hasil Belajar Siswa SMP di Kota Batu

    No full text
    ABSTRAK   Berdasarkan hasil observasi di SMP Islam 01 Batu pada tanggal 24-26 Agustus 2016 kelas 8 semester gasal, kemampuan literasi sains siswa masih tergolong berada pada tingkatan terendah yaitu non literasi. Hal ini dapat terlihat dari kemampuan analisis siswa yang masih rendah dan juga minat baca yang masih rendah. Pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang berpusat pada siswa dan membuat pembelajaran menjadi kurang efektif oleh karena itu diperlukan sebuah proses pembelajaran yang menuntut keaktifan siswa. Salah satu strategi pembelajaran yang menuntut siswa untuk aktif selama pembelajaran adalah strategi pembelajaran inkuiri terstruktur. Strategi pembelajaran inkuiri terstruktur sangat sesuai bagi siswa yang masih belum berpengalaman dalam berinkuiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh strategi pembelajaran inkuiri terstruktur terhadap kemampuan literasi sains siswa SMP di Kota Batu; 2) pengaruh strategi pembelajaran inkuiri terstruktur terhadap hasil belajar siswa SMP di Kota Batu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan Pretest-Postest Nonequivalent Control Group Design. Variabel bebas pada penelitian ini adalah strategi pembelajaran sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah literasi sains dan hasil belajar siswa. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP kelas VIII di SMP Islam 1 Batu. Pengambilan sampel dilakukan dengan menguji kesetaraan anava dari nilai ulangan harian materi sistem gerak pada manusia. Dua kelas yang setara adalah kelas VIII F sebagai kelas eksperimen dan VIII B sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan melaksanakan pretes dan postes di awal dan di akhir pembelajaran. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik (analisis kovarian) menggunakan program SPSS for Ms Window 1.6. Hasil uji prasyarat dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan Levene’s Test menunjukkan data hasil belajar dan literasi sains terdistribusi normal dan kedua kelas memiliki varian yang sama. Uji hipotesis dengan menggunakan analisis kovarian dengan taraf signifikasi 0,05 (

    Pengembangan Modul Berbasis Inkuiri Terbimbing (guided inquiry) pada Materi Sistem Ekskresi Manusia Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI Lintas Minat SMAN 2 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Pembelajaran Biologi di SMAN 2 Malang menggunakan bahan ajar berupa buku paket. Penggunaan bahan ajar tersebut dirasa kurang menarik untuk dipelajari dan masih berbasis isi. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul berbasis inkuiri terbimbing pada materi sistem ekskresi manusia untuk (1) meningkatkan hasil belajar siswa, (2) mengetahui kelayakan modul hasil pengembangan untuk bahan ajar materi sistem ekskresi manusia kelas XI Lintas Minat SMAN 2 Malang, (3) mengetahui keefektifan modul hasil pengembangan untuk pembelajaran sistem ekskresi manusia kelas XI Lintas Minat. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian dan pengembangan menggunakan model pengembangan 4D. Proses yang dilakukan hingga pada tahapan pengembangan. Penelitian ini untuk menguji kelayakan, kepraktisan dan keefektifan modul. Instrumen untuk mengumpulkan data berupa angket validasi dan lembar komentar serta saran terhadap modul yang sudah dikembangkan, serta instrumen tes yaitu pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukan 1) modul berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas XI Lintas Minat SMAN 2 Malang, 2) kelayakan modul berbasis inkuiri terbimbing pada materi Sistem Ekskresi Manusia berdasarkan angket penilaian oleh ahli media modul guru sebesar 98,7 % dan ahli materi sebesar 98,3%, ahli materi sebesar 93,7%, ahli praktisi lapangan pada modul guru sebesar 96,5% dan modul siswa 93,4% serta penilaian respon siswa terhadap modul siswa sebesar 89,4%. Modul berbasis inkuiri terbimbing efektif meningkatkan hasil belajar karena berdasarkan hasil uji gain score menunjukkan kategori sedang sebesar 0,6. Hasil uji di atas dapat disimpulkan bahwa modul berbasis inkuiri terbimbing yang dikembangkan layak digunakan untuk pembelajaran sistem ekskresi manusia dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar sisw

    STRUKTUR KOMUNITAS COLLEMBOLA BERDASARKAN UMUR TANAMAN KAKAO DI PUSAT PENELITIAN KOPI DAN KAKAO KABUPATEN JEMBER JAWA TIMUR

    No full text
    Hewan tanah memiliki kontribusi yang sangat besar untuk menentukan tingkat kesuburan tanah. Perbedaan jenis tanaman, jenis pupuk dan kondisi lahan juga berpengaruh terhadap keanekaragaman dan kelimpahan hewan tanah. Collembola berperanan sebagai perombak bahan organik, pemakan jamur, indikator perubahan keadaan tanah, dan pemangsa. Tujuan penelitian yaitu untuk mengeksplorasi, mengetahui perbedaan INP, indeks keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan, serta perbedaan faktor abiotik (pH dan suhu) dan kandungan Nitrogen taksa Collembolayang terdapat pada tanaman kakao berumur 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan 15 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Tanaman kakao yang digunakan berumur 2, 5, 10 dan 15 tahun. Sampel tanah diambil disekitar pohon kakao sekitar 30 cm dari pangkal pohon. Setiap umur tanaman kakao diambil 10% sebagai lokasi pengambilan sampel tanah. Pada setiap lokasi dilakukan pengukuran faktor abiotik meliputi suhu, pH dan nitrogen.  Sampel tanah kemudian diekstraksi dengan menggunakan barless tullgreen dan dijemur selama 12 jam. Hasil ekstraksi tanah kemudian diidentifikasi menggunakan mikroskop. Data Collembola digunakan untuk menghitung indeks nilai penting, keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan. Hasil perhitungan dari analisis keanekaragaman Collembola pada tanaman kakao umur 2, 5,10 dan 15 tahun meliputi keanekaragaman, kemerataan dan kekayaan jenis kemudian di analisis menggunakan uji anakovayang berfungsi untuk menguji perbandingan dan hubungan sedangkan faktor Abiotik (suhu, pH dan nitrogen) dianalisis dengan menggunakan uji regresi yang berfungsi untuk menguji pengaruh. Hasil penelitian ditemukan komposisi Collembola yang terdiri atas 3 ordo (Diplura, Poduromorpha, dan Entobryomorpha), 5 famili (Campodeidae, Tullbergidae, Hypogastruridae, Isotomidae, dan Entomobrydae), dan 8 genus (Campodea, Prabhergia, Triacanthella, Folsomides, Paranurophorus, Isotomiella, Isotoma, dan Entomobrya). Pada lahan kakao umur 2 tahun di temukan 6 marga yaitu Campodea, Prabhergia, Folsomides, Paranurophorus, Isotomiella, dan Isotoma. Pada lahan kakao umur 5 tahun ditemukan 4 marga yaitu Campodea, Prabhergia, Isotoma, dan Entomobrya. Lahan kakao umur 10 tahun ditemukan 4 jenis marga yaitu Campodea, Prabhergia, Isotoma dan Triacanthella sedangkan dilahan kakao umur 15 tahun ditemukan 3 jenis taksa yaitu Paranurophorus, Isotoma dan Triacanthella. Hasil analisis Indeks Nilai Penting (INP) didapatkan hasil bahwa tanaman kakao umur 2, 5 dan 10 tahun nilai INP yang tertinggi adalah dari genus Isotoma sedangkan tanaman kakao umur 15 tahun nilai INP tertinggi adalah genus Paranurophorus. Collembola yang ditemukan dengan jumlah paling sedikit adalah genus Entomobrya dari famili Entomobridae. Berdasarkan tabel hasil uji Tukey HSD dapat diketahui indeks keanekaragaman (H’) pada tanaman kakao umur 2 tahun tidak berbeda nyata dengan tanaman kakao umur 5 tahun. Sedangkan indeks keanekaragaman pada tanaman kakao umur 2 dan 5 tahun berbeda nyata dengan tanaman kakao umur 10 dan 15 tahun. Indeks kemerataan (E) pada tanaman kakao umur 10 tahun tidak berbeda nyata dengan tanaman kakao umur 2 dan 5 tahun. Tetapi indeks keanekaragaman pada tanaman kakao umur 15 tahun berbeda nyata dengan tanaman kakao umur 2, 5 dan 10 tahun. Sedangkan pada indeks kekayaan (R) pada tanaman kakao umur 15 tahun tidak berbeda nyata dengan tanaman kakao umur 10 dan 5 tahun. Tetapi indeks keanekaragaman pada tanaman kakao umur 2 tahun berbeda nyata dengan tanaman kakao umur 15, 5 dan 10 tahun. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan suhu dan pH berpengaruh terhadap indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks kekayaan pada setiap lahan tanaman kakao. Kandungan N-total yang terdapat pada lahan tanaman kakao berpengeruh terhadap indeks kekayaa

    PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KD 3.8 UNTUK KELAS X MA AL-ITTIHAD BERBASIS POTENSI LOKAL KAWASAN WISATA COBAN PELANGI KECAMATAN PONCOKUSUMO KABUPATEN MALANG

    No full text
    Potensi lokal merupakan potensi yang dapat diangkat sebagai bahan pembelajaran yang menarik. Pengintegrasian potensi lokal dalam pembelajaran akan memberikan wawasan kepada peserta didik terkait potensi daerah dan nilainilai kearifan lokal, sehingga peserta didik dapat mengalami internalisasi nilai yang dapat mengantarkan peserta didik menjadi pribadi yang berkarakter. Hasil telaah silabus, RPP, dan hasil wawancara dengan guru biologi kelas X MA Al-Ittihad, diketahui bahwa sumber belajar yang digunakan oleh guru adalah buku paket biologi kurikulum 2006 meskipun sekolah menerapkan kurikulum 2013. Hal ini sangat disayangkan mengingat besarnya potensi lokal disekitar lingkungan sekolah yang dapat dikembangkan menjadi sumber belajar oleh guru. Salah satu potensi yang mendukung kegiatan pembelajaran KD 3.8 adalah Coban Pelangi yang memiliki keanekaragaman tumbuhan yang tinggi meliputi tumbuhan lumut, tumbuhan paku, dan tumbuhan berbiji. Hasil telaah RPP dan silabus juga menunjukkan bahwa model pembelajaran yang diterapkan oleh guru dalam pembelajaran KD 3.8 adalah inkuiri terbimbing. Akan tetapi saat dilakukan observasi pembelajaran, kegiatan pembelajaran tidak menunjukkan sintaks inkuiri terbimbing. Kegiatan pembelajaran hanya diisi dengan diskusi klasikal. Peserta didik yang terlibat aktif dalam kegiatan diskusi hanya 25% atau 9 peserta didik dari 35 peserta didik di kelas X lintas minat IPS-3. Model pembelajaran inkuri merupakan model pembelajaran yang bersifat kontekstual, mengakomodasi nilai sikap dan keterampilan sains, serta meningkatkan keefektifan peserta didik dalam pembelajaran biologi. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa silabus, RPP, handout, LKPD, dan buku panduan kunjungan siswa berbasis potensi lokal kawasan wisata Coban Pelangi yang layak, praktis, dan efektif melalui model pembelajaran inkuiri terbimbing. Penelitian pengembangan ini menggunakan model 4-D oleh Thiagarajan, dkk tahun 1974. Langkah penelitian dan pengambangan 4-D adalah mendefinisikan (define), merancang (design), mengembangkan (develope), dan menyebarluaskan (disseminate), namun pengembangan perangkat ini hanya dilakukan sampai tahap mengembangkan sesuai kebutuhan penelitian. Data hasil penelitian berupa data kuantitaf dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari skor hasil validasi dan hasil uji n-gain. Data kuantitatif diperoleh dari saran yang diberikan oleh validator. Hasil validasi menunjukkan bahwa rerata perangkat pembelajaran yang dikembangkan berupa silabus, RPP, handout, LKPD, dan buku panduan kunjungan siswa sebesar 93,01% (sangat valid dan layak digunakan). Hasil validasi materi menghasilkan rerata sebesar 87,5% (sangat valid dan layak digunakan). Hasil rerata uji kepraktisan perangkat pembelajaran sebesar 93,66% (sangat praktis dan layak digunakan). Rerata hasil uji keefektifan berdasarkan hasil perhitungan n-gain sebesar 0,63 yang masuk dalam kriteria sedang dan layak digunakan dalam pembelajaran

    MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS ANDROID PADA MATER PEMBELAHAN SEL UNTUK KELAS XII IPA DI SMA NEGERI 8 MALANG

    No full text
    RINGKASANMedia pembelajaran memiliki banyak manfaat salah satunyauntukmembangunkreativitassiswasehinggameningkatkanhasilbelajar yang didapatkan. Selainitu, media pembelajaran juga harusmeningkatkanmotivasisiswa. Media pembelajaranpenting dan dapatmeningkatkankualitas proses pembelajaran. multimedia interaktif yang dapatmembantu guru maupunsiswa. Multimedia interaktif yang dapatdigunakanmisalnyaadalah multimedia interaktifberbasis android. Multimediainteraktifberbasis androiddapatmenjadisolusialternatif multimedia pembelajaran. Multimedia juga dapatmembantumengajarkansiswatentangsubyekdaripengalamannyata yang tidakdapatdiperolehsiswasecaralangsung.Jenispenelitianyaitupenelitianpengambangandenganmenggunakan model pengembangan Lee & Owens (2004). Jenis data yang digunakandalampenelitianiniyaituberupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatifdiperolehmelalui saran dan komentar pada angketvalidasiahlimateri, ahli media, praktisilapangan, dan penilaiankepraktisan oleh seluruhsiswakelas XII IPA 1 SMA Negeri 8 Malang. Sedangkan data kuantitatifdidapatkanberdasarkanhasiltespretes-postesseluruhsiswa XII IPA 1 SMA Negeri 8 Malang. Instrumenpenelitianberupalembarangketvalidasi oleh ahlimateri, ahli media, praktisilapangan. Lembar uji kepraktisan multimedia interaktifberbasis android oleh siswa dan soaltespretes-dan postesuntukmengujikeefektifan multimedia interaktifberbasis android.Berdasarkanhasilvalidasi oleh ahli media diperolehnilai91,6% menunjukkanbahwa media layakdigunakan. Hasil validasioleh ahlimateridiperolehnilai95% menunjukkanbahwa media layakdigunakan. Hasil validasioleh praktisilapangan (guru biologi SMA Negeri 8 Malang) diperolehnilai96,15% menunjukkanbahwa media layakdigunakan. Hasil kepraktisan oleh siswadiperolehnilai83, 602778% menunjukkanbahwa media praktisdigunakan.Sedangkan uji keefektifan yang diperolehdarihasilpre test dan posttest siswadimasukkankedalamrumus n-gain mengenaipeningkatan pretest ke posttest, diperolehrerata 0,53. Hal inimenunjukkanbahwanilaitermasukkategorisedang. Berdasarkan data tersebut, dapatdiketahuibahwa multimedia interaktifberbasis android pada materiPembelahanSel yang dikembangkandapatmeningkatkanhasilbelajar dan efektifuntukdigunakan

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR INDUKTIF DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA KELAS X SMAN 7 MALANG

    No full text
    RINGKASANBerpikir induktif merupakan salah satu keterampilan yang penting dimiliki siswa, selain dapat dilatih dan ditransfer, berpikir induktif juga bagian dari penalaran ilmiah yang mendasari tingkat literasi sains siswa. Model discovery merupakan model pembelajaran yang membantu siswa terlibat aktif membangun konsepnya sendiri melalui kegiatan merumuskan masalah, mengumpulkan data, mengolah data, memverifikasi, dan menyimpulkan. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir induktif dan hasil belajar kognitif siswa melalui penerapan model pembelajaran discovery.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas X IPA 1, X IPA 2, dan X IPA 3 SMAN 7 Malang. Prosedur penelitian meliputi tahap (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) Observasi, (d) refleksi. Data diperoleh melalui wawancara guru matapelajaran biologi untuk mengetahui permasalahan di kelas, observasi keterlaksanaan tindakan model discovery, serta pretest dan posttest untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir induktif dan hasil belajar kognitif siswa. Hasil penelitian menunjukkan model discovery dapat meningkatkan kemampuan berpikir induktif dan hasil belajar kognitif siswa. Stimulasi dilakukan dengan menampilkan fenomena video, gambar, serta menunjukkan contoh hewan asli mampu memfokuskan, mengarahkan siswa mengetahui tujuan pembelajaran, dan memotivasi siswa mengajukan pertanyaan. Problem statement mampu mengarahkan siswa membuat pernyataan masalah yang ingin dimunculkan. Pengumpulan data melalui pengamatan mampu melatih siswa berpikir induktif pada indikator listing. Pengolahan data mampu melatih berpikir induktif siswa pada indikator grouping, labeling, identifikasi dan menjelaskan hubungan, memprediksi, menjelaskan prediksi. Verifikasi mampu memperbaiki kesalahan konsep akibat proses pengumpulan dan pengolahan data tidak tepat, dan menemukan kebenaran dari pertanyaan masalah yang dibuat. Generalisasi mampu melatih siswa membuat kesimpulan

    ANALISIS MANAJEMEN LABORATORIUM BIOLOGI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DI KABUPATEN PASURUAN

    No full text
    RINGKASAN Pramono, Septian Dwi. 2018. Analisis Manajemen Laboratorium Biologi Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I wayan Sumberartha, M. Sc., (II) Hendra Susanto, S. Pd., M. Kes., Ph. D. Kata Kunci: manajemen laboratorium biologi, sekolah menengah atas, kabupaten Pasuruan   Sekolah menengah atas (SMA) harus memiliki laboratorium biologi, seperti yang diatur dalam Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar sarana dan prasaranauntuk sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI),sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah(SMP/MTS), dan sekolah menengah atas/madrasahaliyah (SMA/MA). Laboratorium biologi berisi alat, bahan, dan sarana laboratorium yang mendukung kegiatan pembelajaran praktikum biologi, sehingga harus dikelola dengan suatu manajemen yang baik. Studi pendahuluan yang berupa kajian literatur menunjukkan bahwa laboratorium biologi SMA belum dikelola dengan suatu manajemen yang baik, dan wawancara dengan kepala laboratorium biologi dan guru biologi menunjukkan bahwa kepala laboratorium biologi dan guru biologi tidak mengetahui konsep manajemen laboratorium biologi. Jenis penelitian yaitu deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Data penelitian berupa data kuantitatif yang diperoleh dariskor validasi instrumen penelitian, kuesioner, dan lembar observasi sedangkan data kualitatif diperoleh dari catatan dan saran perbaikan dari validator, serta wawancara.  Validasi dilakukan oleh ahli manajemen laboratorium biologi dan praktisi lapangan. Uji coba terbatas dilakukan kepada 32 siswa kelas XI MIPA SMAN 1 Purwosari tahun ajaran 2018/2019. Instrumen penelitian yang berupa kuesioner manajemen laboratorium biologi untuk kepala laboratorium, guru biologi, dan laboran; instrumen wawancara manajemen laboratorium biologi untuk   kepala laboratorium, lembar observasi manajemen laboratorium biologi; dan kuesioner manajemen laboratorium biologi untuk siswa memiliki validitas isi, konstruk, dan empiris  dalam kategori valid serta memiliki memiliki reliabilitas dalam kategori sangat tinggi. Setelah dilakukan penelitian diketahui hanya 4 SMA yang memiliki ruang laboratorium biologi tersendiri. SMAS Advent Purwodadi dan SMAS Al-Yasini Kraton tidak memiliki ruang laboratorium biologi tersendiri.Laboratorium biologi SMA kabupaten Pasuruan telah memiliki luas lebih dari luas minimal yaitu 48 m2 seperti yang telah diatur dalam Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007. Terdapat 2 laboratorium biologi yang tidak memiliki ruang persiapan dan ruang penyimpanan, yaitu laboratorium biologi SMAS Advent Purwodadi dan SMAS Maarif NU Pandaan.Laboratorium biologi SMA di kabupaten Pasuruan telah memiliki persyaratan keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan sesuai dengan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007. Manajemen laboratorium biologi memiliki tingkat manajemen laboratorium biologi yang berbeda-beda antara lain. (1) SMAS Advent Purwodadi memiliki manajemen laboratorium biologi dalam kategori unggul dengan nilai 97%, karena didukung oleh aspek pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang memiliki nilai sempurna dan dalam kategori unggul sedangkan aspek perencanaan dalam kategori baik. (2) SMA Negeri 1 Kejayan memiliki manajemen laboratorium biologi dalam kategori baik dengan nilai 90%, dengan aspek pelaksanaan dan pengorganisasian dalam kategori unggul serta aspek pengawasan dan perencanaan dalam kategori baik. (3) SMA Negeri 1 Pandaan dan SMAS Al-Yasini Kraton memiliki manajemen laboratorium biologi memiliki nilai yang sama yaitu 89% dan dalam kategori baik. SMA Negeri 1 Pandaan memiliki aspek pelaksanaan dan pengorganisasian dalam kategori unggul, sedangkan aspek perencanaan dan pengawasan dalam kategori baik. SMAS Al-Yasini Kraton memiliki aspek pelaksanaan dalam kategori unggul, sedangkan 3 aspek yang lain dalam kategori baik. (4) SMA Negeri 1 Purwosari memiliki manajemen laboratorium biologi dalam kategori cukup, dengan aspek pelaksanaan dalam kategori baik sedangkan aspek perencanaan dan pengorganisasian dalam kategori cukup serta aspek pengawasan dalam kategori kurang. (5) SMAS Maarif NU Pandaan memiliki manajemen laboratorium biologi dalam kategori kurang, dengan aspek pengawasan dalam kategori cukup sedangkan 3 aspek yang lain dalam kategori kurang. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa manajemen laboratorium biologi SMA kabupaten Pasuruan dalam aspek konsep tidak terdapat perbedaan, namun dalam aspek implementasi terdapat perbedaan. Perbedaan dalam aspek implementasi terjadi karena setiap laboratorium biologi memiliki sarana dan tenaga laboratorium biologi yang berbeda

    Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model Inkuiri Terbimbing Materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan pada Siswa Kelas VIII MTsN Tanjungtani Prambon Nganjuk

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan kelas VIII model inkuiri terbimbing serta mengetahui hasil uji kelayakan, uji kepraktisan, dan uji keefektifan dari perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model pengembangan 4-D (Thiagarajan, 1974), namun hanya dilakukan pengembangan sampai tahap develop saja. Data hasil penelitian berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari skor hasil validasi dan hasil belajar siswa. Data kualitatif diperoleh dari komentar dan saran dari validator. Hasil menunjukkan bahwa persentase skor validasi perangkat pembelajaran berupa Silabus, RPP, LKS, dan Instrumen Penilaian menghasilkan rata-rata sebesar 91,92% (sangat valid dan layak digunakan). Hasil rerata skor validasi materi pembelajaran adalah 90,28% (sangat valid dan layak digunakan). Hasil uji kepraktisan penggunaan perangkat pembelajaran diperoleh persentase rata-rata 88,96% (sangat praktis digunakan). Data uji keefektifan menunjukkan bahwa skor rata-rata kompetensi siswa sebesar 84,31 dan nilai tersebut telah melebihi KKM MTsN Tanjungtani Prambon Nganjuk. Kompetensi ranah pengetahuan, dari 27 siswa ada empat siswa yang memiliki nilai dibawah KKM. Hal ini menunjukkan ketuntasan siswa pada kompetensi ranah pengetahuan sejumlah 85,18%

    ANALISIS DAN REKONSTRUKSI BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP BIOLOGI SMA KELAS X TAHUN PELAJARAN 2016/2017 DI TIGA SMA KABUPATEN TULUNGAGUNG

    No full text
    ABSTRAK   Kata Kunci: analisis butir soal, ujian akhir semester, rekonstruksi   Abstrak: Hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa soal UAS Genap Biologi SMA Kelas X di Tiga SMA Kabupaten Tulungagung yaitu SMAN 1 Kedungwaru, SMAN 1 Tulungagung dan SMA Swasta Al-Azhaar Tulungagung belum dianalisis. Tujuan penelitian yaitu mengetahui kualitas soal yang dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif serta mengetahui hasil rekonstruksi soal. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Objek penelitian yaitu soal UAS Genap Biologi Kelas X tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah 180 soal dari tiga SMA di Kabupaten Tulungagung dan jumlah lembar jawab siswa sebanyak 316 lembar. Jumlah soal yang direkonstruksi yaitu 54 soal dan kemudian diujicobakan. Analisis kuantitatif meliputi tingkat kesukaran, daya beda, reliabilitas, dan efektivitas pengecoh. Analisis data secara kualitatif meliputi validitas isi dan validitas konstruk. Hasil analisis kuantitatif dari tiga sekolah secara berurutan adalah tingkat kesukaran semua soal sedang; daya beda kurang, baik dan baik; efektivitas pengecoh cukup, sangat baik dan sangat baik; reliabilitas soal rendah, cukup dan tinggi. Hasil analisis kualitatif terdapat soal dari SMA Swasta Al-Azhaar Tulungagung tidak memenuhi validitas isi sedangkan 2 sekolah lain memenuhi validitas isi dan beberapa soal tidak memenuhi validitas konstruk yaitu aspek kognitif pada soal tidak sesuai dengan indikator kompetensi. Hasil rekonstruksi soal dengan kategori baik dapat dimasukkan ke bank soal. Saran dari hasil penelitian yaitu guru sebaiknya melakukan analisis butir soal secara rutin dan mempertahankan penyusunan soal yang berkualitas sesuai dengan langkah pengembangan soal sesuai standar yang ditetapkan

    0

    full texts

    1,764

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇