SKRIPSI Jurusan Biologi - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1764 research outputs found
Sort by
PEMETAAN VEGETASI BAMBU DI KAWASAN WISATA ALAM BOON PRING ANDEMAN DESA SANANKERTO KABUPATEN MALANG
RINGKASAN Farah, Devy. A. 2019. Pemetaan Vegetasi Bambu di Kawasan Wisata Alam Boon Pring Andeman. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Dharmawan, M. Si. (II) Dr. Vivi Novianti, S.Si, M.Si Abstrak: Kawasan Boon Pring Andeman merupakan salah satu unit Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) berdasarkan peraturan Desa Sanankerto No. 5 Tahun 2009. Kawasan ini memiliki daya tarik berupa hutan bambu. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis tumbuhan penyusun vegetasi bambu, struktur vegetasi dan memetakan vegetasi bambu di Kawasan Boon Pring. Metode penelitian yang digunakan adalah cluster sampling (two-stage cluster) kemudian untuk pemetaan diawali dengan melakukan penjelajahan menggunakan jalur cruising berupa line pada tiap sub cluster. Untuk mengetahui struktur vegetasi dilakukan analisis vegetasi dengan menghitung indeks keanekargaman (H), indeks kemerataan (E) dan indeks kekayaan (R) pada rumpun bambu, INP herba kemudian kerapatan mutlak serta kerapatan relatif untuk tegakan. Kawasan Boon Pring bukan termasuk ke dalam kawasan konservasi melainkan termasuk ke dalam TWA yang merupakan bagian dari KPA. Sehingga dibagi menurut zonasi untuk mempermudah pengelolaan. Zonasi terdiri dari zona pemanfaatan, zona penyangga dan zona inti. Hasil analisi vegetasi bambu diketahui nilai H termasuk kategori stabil, nilai E termasuk kategori kemerataan tinggi dan nilai R termasuk kategori kekayaan jenis rendah. Hasil penelitian ini ditemukan 7 jenis herba, 7 jenis tegakan dan 9 jenis bambu. Jenis tumbuhan penyusun vegetasi bambu terdiri dari herba, tegakan dan bambu. Pemetaan vegetasi bambu berdasarkan zonasi yang diolah menjadi peta tematik menggunakan ArcGis. Kata kunci : pemetaan, vegetasi, bambu, herba, tegakan, cluster.
Potensi Senyawa Golongan Flavonoid Sirih Merah (Piper Crocatum Ruiz & Pav.) sebagai Inhibitor Enzim Cyclooxygenase-2 untuk Antiinflamasi Rheumatoid Arthritis Melalui Virtual Screening.
RINGKASANAmalia, Atikah. 2019. Potensi Senyawa Golongan Flavonoid Sirih Merah (Piper Crocatum Ruiz & Pav.) sebagai Inhibitor Enzim Cyclooxygenase-2 untuk Antiinflamasi Rheumatoid Arthritis Melalui Virtual Screening. Skripsi, Juruasan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si, (II) Siti Imroatul Maslikah, S.Si., M.Si.Kata Kunci: Sirih Merah, Cyclooxygenase-2, Antiinflamasi, Rheumatoid Arthritis, Virtual Screening.Rheumatoid arthritis(RA) adalahpenyakitkronisyang ditandaidenganinflamasi pada daerah sendi yang berlanjutdengankerusakantulangyang irreversible.Inflamasi terjadi karena aktivasi enzim cyclooxygenase-2 (COX-2) yang menghasilkan prostaglandin. Tanaman herbal yang secaraempirisbiasadigunakansebagaiobattradisional adalah sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.). Penelitian inidilakukanuntuk mengetahui senyawa yang berpotensi sebagai obat yaknisecarain silicomelaluistudibioinformatikamenggunakanmetodemolecular docking.Tujuan penelitian ini adalah memprediksi potensi senyawa golongan flavonoid sirih merah (kaempferitrin, afzelin, dan rutin) sebagai inhibitor enzim cyclooxygenase-2 untuk antiinflamasi rheumatoid arthritis.Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan studi literatur yang relevan. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang pada bulan Oktober 2018 sampai Februari 2019. Prosedur yang dilakukan yakni: 1) menggunakan web server PASSOnline untuk mengetahui potensi senyawa kaempferitrin, afzelin, dan rutin sebagai inhibitor enzim COX-2, 2) menggunakan web server pkCSM untuk mengetahui sifat farmakokinetik senyawa kaempferitrin, afzelin, dan rutinmeliputi absorbsi, distribusi, metabolisme, ekskresi, dan toksisitas (ADMET)dan, 3) molecular docking untuk mengetahui interaksi senyawa golongan flavonoid dengan enzim COX-2 yang dibandingkan dengan obat kontrol, yaitu rofecoxib. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan cara menganalisis masing-masing data yang diperoleh. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu potensi senyawa yang ditunjukkan melalui nilai Pa, sifat farmakokinetik senyawa, dan molecular docking. Data mengenai potensi senyawa menggunakan webserverPASS online menunjukkan bahwa senyawa golongan flavonoid berpotensi sebagai antiinflamasi, agen antiiflamasi non steroid, antibakteri, antimutagenik, antioksidan, dan antikarsinogenik. Sifat farmakokinetik senyawa dari penelitian ini disimpulkan bahwa senyawa kaempferitrin, afzelin, dan rutin memiliki profil ADMET yang baik. Senyawagolongan flavonoid memilikinilaiafinitaspengikatan rata-rata ±-8,5 kkal/mol yang tidak jauh berbeda dengan senyawa obat rofecoxib dan memiliki sisi aktif yang sama dengan senyawa obat rofecoxib pada enzim COX-2. Sisi aktif ditunjukkan dengan adanya residu asam amino Asp347 dan Asn350 yang berikatan dengan ikatan hidrogen. Berdasarkan data hasil penelitian secara keseluruhan menyatakan bahwa senyawa golongan flavonoid (kaempferitein, afzelin, dan rutin) memiliki aktivitas besar sebagai agen antiinflamasi
PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI HOTS MATERI SISTEM RESPIRASI UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS XI IPA DI SMAN 1 SINGOSARI
ABSTRAKRoqhmah, M. 2019. Pengembangan Instrumen Evaluasi HOTS Materi Sistem Respirasi untuk Mengukur KemampuanBerpikir Tingkat Tinggi Siswa kelas XI IPA di SMAN 1 Singosari. Skripsi, JurusanBiologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sunarmi, M.Pd., (II) Dr. Vivi Novianti, S.Si., M.Si.Kata Kunci: instrumen evaluasi HOTS, materi sistem respirasi, kemampuan berpikir tingkat tinggiPendidikan pada abad 21 menuntut siswa untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang tidak sekedar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Pengembangan instrumen evaluasi HOTS untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPA di SMAN 1 Singosari dilakukan karena proses pembelajaran biologi yang dilakukan belum mampu mendukung pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dan belum tersediany instrumen evaluasi yang mampu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan instrumen evaluasi HOTS, RPP, dan LKS materi sistem respirasi, (2) menguji validitas logis instrumen evaluasi HOTS, RPP, dan LKS materi sistem respirasi, (3) menganalisis butir soal instrumen evaluasi HOTS dalam bentuk soal uraian yang telah dilakukan uji coba terhadap siswa kelas XI IPA SMAN 1 Singosari, (4) menguji kepraktisan instrumen evaluasi HOTS, RPP, dan LKS materi sistem respirasi, dan (5) menguji keefektifan instrumen evaluasi HOTS.Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE yang terdiridari 5 langkah yaitu Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate. Produk pengembangan utama berupa instrumen evaluasi HOTS dalam bentuk soal uraian yang dilengkapi dengan RPP dan LKS. Data yang diperoleh berupa kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa hasil validasi oleh ahli, hasil angket respon pengguna, hasil observasi keterlaksanaan sintaks pembelajaran inkuiri terbimbing, dan skor hasil ulangan harian siswa yang diukur menggunaka ninstrumen evaluasi HOTS. Adapun data kualitatif berupa saran serta masukan dari validator dan pengguna.Hasil validasi ahli asesmen menunjukkan bahwa instrument evaluasi HOTS memiliki validitas logis sebesar 100% (sangat valid), kualitas soal instrumen evaluasi HOTS sebesar 88,45% (sangat valid), RPP sebesar 94,23% (sangat valid), dan LKS sebesar 88,46% (sangat valid). Hasil validasi oleh ahli materi menunjukkan bahwa instrument evaluasi HOTS memiliki persentase validitas sebesar 100% (sangat valid), RPP sebesar 100% (sangat valid), dan LKS sebesar91,67% (sangat valid). Hasil validasi oleh praktisi lapangan menunjukkan bahwa instrument evaluasi HOTS memiliki persentase validitas sebesar 100% (sangat valid), RPP sebesar 96,94% (sangat valid), dan LKS sebesar 94,32% (sangat valid). Hasil uji coba kelompok kecil menunjukkan bahwa instrument evaluasi HOTS yang dikembangkan memiliki kualifikasi kepraktisan dengan kategori praktis. Hasil analisis butir soal menggunakan program ANATES menunjukkan bahwa instrumen evaluasi HOTS yang dikembangkan memiliki tingkat kesukaran soal dengan kategori baik, daya pembeda diterima, dan reliabilitas instrumen evaluasi HOTS yang tinggi. Setelah dilakukan uji coba produk kelompok besar diperoleh hasil bahwa instrument evaluasi HOTS, RPP, dan LKS memiliki kualifikasi kepraktisan dengan kategori sangat praktis. Rerata skor hasil ulangan harian siswa sebesar 43,46 menunjukkan bahwa instrument evaluasi HOTS yang dikembangka ntermasuk dalam kategori efektif. Hasil ini dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang menggunakan model inkuiri terbimbing. Hasil observasi keterlaksanaan sintaks inkuiri terbimbing yaitu sebesar 96,79% (sangat baik). Kesimpulan penelitian ini adalah instrument evaluasi HOTS, RPP, dan LKS yang dikembangkan sangat valid, sangat praktis, dan cukup efektif untuk mengukur dan melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
Pengaruh Ekstrak Daun Srikaya (Annona squamosa) Terhadap Performa Reproduksi dan Perkembangan Embrio Mencit (Mus musculus L) Balb/c
RINGKASAN Putri, Alifa Rizki Nabila. 2018. Pengaruh Ekstrak Daun Srikaya (Annona squamosa) Terhadap Performa Reproduksi dan Perkembangan Embrio Mencit (Mus musculus L) Balb/c. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dra. Amy Tenzer, M.S. (II) Hendra Susanto, S.Pd, M.Kes., Ph.D. Kata Kunci: Ekstrak Daun Srikaya, Annona squamosa, Performa Reproduksi Mencit, Perkembangan Embrio Mencit. Cacat lahir adalah kelainan kongenital yang meliputi malformasi kongenital, deformasi dan kelainan kromosom. Penggunaan obat-obatan tertentu, termasuk obat herbal dapat memungkinkan terjadinya cacat lahir. Salah satu tanaman obat yang dikenal adalah srikaya (Annona squamosa), yang secara tradisional digunakan untuk terapi epilepsi, konstipasi, dan tumor dan kanker dalam bentuk seduhan daun maupun jamu serbuk. Infusa segar maupun teh dari daun srikaya dapat digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan seperti konstipasi yang dapat terjadi pada awal kehamilan. Dengan melihat banyaknya manfaat tumbuhan srikaya sebagai tumbuhan obat dan berbagai kandungan di dalamnya seperti alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, yang berpotensi sebagai teratogen maka keamanan penggunaan tumbuhan srikaya sebagai obat harus dapat dipertanggung jawabkan, termasuk keamanan penggunaan bagi ibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) terhadap performa reproduksi dan perkembangan embrio mencit (Mus musculus L) galur Balb/c. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2018 sampai dengan Juni 2018. Jenis penelitian yang dilakukan bersifat eksperimental laboratorik dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Penelitian ini menggunakan lima macam dosis ekstrak daun srikaya, yaitu 0 mg / 20 g bb, 10 mg / 20 g bb, 20 mg / 20 g bb, 30 mg / 20 g bb, dan 40 mg / 20 g bb dan pemberian ekstrak dilakukan secara oral dengan metode gavage pada hari kehamilan ke 6 sampai 15 (sepanjang organogenesis). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) berpengaruh terhadap performa reproduksi dan perkembangan embrio mencit (Mus musculus L) galur Balb/c dalam hal menurunkan berat fetus, memperpendek panjang fetus, menyebabkan terjadinya hemoragi pada bagian punggung, dada, abdomen, serta menurunkan jumlah penulangan yang artinya memperlambat osifikasi pada badan vertebra, autopodium anterior, serta autopodium posterior pada fetus mencit. Diharapkan, dengan adanya penelitian ini dapat diketahui dosis teratogenik ekstrak daun srikaya pada manusia, sehingga penggunaan bagi ibu hamil bisa diwaspadai
Pengembangan Bahan Ajar E-Modul Berbasis Flipbook Pada Mata Pelajaran Kearsipan (Studi Pada Peserta Didik Kelas X OTKP SMK Negeri 2 Blitar)
RINGKASANMuliastiti, Devi Pandini. 2019. Pengembangan Bahan Ajar E-Modul Berbasis Flipbook Pada Mata Pelajaran Kearsipan (Studi Pada Peserta Didik Kelas X OTKP Smk Negeri 2 Blitar). Skripsi, Pendidikan Administrasi Perkantoran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Hj. Madziatul Churiyah, S.Pd., M.M.Kata Kunci: Bahan ajar, E-Modul, dan Flipbook.Penelitian dan pengembangan ini didasarkan pada adanya keterbatasan bahan ajar yang tersedia di sekolah. Saat ini, bahan ajar yang tersedia kurang memadai dan dalam jumlah yang terbatas. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan, menghasilkan, mengetahui kelayakan dan efektivitas E-Modul berbasis Flipbook yang dihasilkan peneliti. Produk yang dihasilkan dari penelitian dan pengembangan ini berupa E-Modul yang berbasis Flipbook pada mata pelajaran Kearsipan dengan kompetensi dasar 3.10 Mengevaluasi arsip dalam rangka menentukan retensi arsip dan 3.11 Menerapkan prosedur penyusutan arsip.Penelitian dan pengembangan ini menggunakan metode penelitian dari Sugiyono yang disesuaikan oleh peneliti dari sepuluh langkah menjadi tujuh langkah yakni (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan informasi, (3) desain produk, (4) validasi produk, (5) perbaikan produk, (6) uji coba lapangan, dan (7) revisi produk dan produk akhir.Hasil dari penelitian dan pengembangan ini adalah E-Modul Kearsipan berbasis Flipbook, yang telah divalidasi oleh ahli E-Modul dan ahli materi. E-Modul ini tidak berupa fisik (cetak) melainkan file yang dapat dibuka pada komputer dan dapat berpindah halaman hanya dengan sekali klik. E-Modul ini berisi teks, gambar, video, suara serta kuis online dan dikemas dalam media penyimpanan berupa Compact Disk. Hasil dari validasi E-Modul dan validasi materi berada pada kategori sangat. Respon peserta didik terhadap E-Modul juga diuji dengan penyebaran Kuesioner juga sangat baik. Hal tersebut berarti bahwa E-Modul yang dihasilkan sangat layak digunakan dan tidak perlu dilakukan revisi. Selain hasil validasi dan Kuesioner uji lapangan, penelitian dan pengembangan ini menggunakan tes formatif untuk melihat efektivitas penggunaan E-Modul. Hasil tes formatif ranah kognitif yang dilakukan pada kelas X OTKP 2 adalah di atas rata-rata. Hasil tersebut menyatakan bahwa dengan menggunakan E-Modul yang dihasilkan, peserta didik tuntas dan dapat menguasai kompetensi dasar yang diajarkan secara efektif. Berdasarkan hasil yang diperoleh, diketahui bahwa E-Modul Flipbook yang dikembangkan telah memenuhi tujuan dari penelitian.Saran untuk penelitian dan pengembangan ini yakni untuk lebih memperhatikan kondisi, dan sasaran penelitian. Serta lebih kreatif dalam mengembangkan produk E-Modul yang lebih bervariasi. SUMMARYMuliastiti, Devi Pandini. 2019. Developing E-Modul Flipbook Learning Media on Archival Subject (Study on the Tenth Grade Students of OTKP at SMK Negeri 2 Blitar). Sarjana’s Thesis. Department of Management, Faculty of Economics, State University of Malang. Advisor: Dr. Hj. Madziatul Churiyah, S.Pd., M.M.Keywords: Learning Media, E-Modul, Flipbook.This research and development is based on the limitations of available teaching materials at school. At the moment, the available teaching materials are still inadequate and in limited numbers. The purpose of this study is to develop, produce, and determine the feasibility and effectiveness of the Flipbook-based E-Module produced by researchers. Products produced from this research and development are in the form of Flipbook-based E-Modules on Archival subjects with basic competencies 3.10 Evaluating archives in order to determine archive retention and 3.11 Implementing archival depreciation procedures.This research and development uses a research method from Sugiyono that is adjusted by researcher from ten steps to seven steps which are: (1) potential and problems, (2) information gathering, (3) product design, (4) product validation, (5) product improvement, (6) field trials, and (7) product and final product revisions.The results of this research and development are Flipbook based E-Modules, which have been validated by E-Module experts and material experts. This E-Module is not in the form of printed media but a file that can be opened on a computer and can change pages with just one click. E-This module contains text, images, videos, sounds and Online quizzes and is packed in storage media in the form of Compact Disks. The results of E-Module validation and material validation are in the very category. The response of students to the E-Module was also tested by distributing questionnaires also very well. This means that the E-Module produced is very feasible to use and does not need to be revised. In addition to the results of validation and field test questionnaires, this research and development uses formative tests to see the effectiveness of using E-Modules. The cognitive formative test results performed on the tenth grade of OTKP 2 were above average. These results state that by using the E-Module produced, students complete and can master the basic competencies taught effectively. Based on the results obtained, it is known that the E-Module Flipbook developed has met the objectives of the study. Lastly, the suggestions for this research and development are to pay more attention to the conditions and objectives of the study. As well as being more creative in developing more varied E-Module products
Pengembangan Media Diagram Roundhouse Materi Sistem Koordinasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMAN 1 Kepanjen.
Diagram Roundhouse merupakan suatu teknik pemrosesan informasi visual yang kreatif. Diagram Roundhouse memuatinformasi yang dibentuk dengan menggunakan kode dalam wujud gambar (simbol-simbol visual) dan kata-kata pengingat yang sederhana. Berdasarkan hasil wawancara kepada guru biologi SMAN 1 Kepanjen, mereka menyatakan bahwa materi Sistem Koordinasi adalah materi yang sulit, ditunjukkan oleh hasil studi pendahuluan yaitu 75% responden menyatakan sistem koordinasi adalah materi yang sulit dipahami siswa, sedangkan 25% responden menyatakan bahwa sistem imun adalah materi yang sulit. Berdasarkan data Penilaian Akhir Semester SMAN 1 Kepanjen menunjukkan bahwa nilai rata-rata pelajaran biologi siswa kelas XI MIPA 3 adalah 63,40. Data tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa perlu ditingkatkan.Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk media pembelajaran Diagram Roundhouse yang memenuhi kelayakan, kepraktis-an dan keefektifan pada materi Sistem Koordinasi Manusia kelas XI SMAN 1 Kepanjen. Materi yang diambil sesuai dengan KD 3.10 dan 4.10. Tujuan pengembangan adalah untuk pemecahan masalah yang ditemukan pada saat melakukan studi pendahuluan di SMAN 1 Kepanjen, sehingga dapat dihasilkan media pembelajaran yang layak untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif.Model pengembangan yang akan digunakan adalah ADDIE. Prosedur penelitian dan pengembangan media Diagram Roundouse adalah sebagai berikut: 1) Analyze/ Menganalisis, 2) Design/Rancangan, 3) Develop/Mengembangkan, 4) Implement/Menerapkan. Pada tiap tahapan ADDIE dilakukan Evaluate/evaluasi. Diagram Roundhouse divalidasi oleh dua satu ahli materi, satu ahli asesmen, satu ahli media, dan praktisi lapangan. Keefektifan media diukur dengan menghitung rata-rata nilai pretest dan posttest siswa, kemudian dihitung menggunakan rumus N-Gain. Hasil presentase validitas materi pada uji validasi oleh ahli materi memperoleh rata-rata skor 100% dengan kriteria sangat valid dan hasil validasi soal oleh ahli asesmen adalah 85% dengan kriteria sangat valid. Validasi produk oleh ahli media memperoleh hasil presentase yaitu 95% dengan kriteria sangat valid. Validasi produk oleh praktisi lapangan memperoleh hasil presentase untuk 86,19% dengan kriteria sangat valid. Hasil uji coba skala kecil menunjukkan skor 87%, artinya media yang dikembangkan sangat praktis untuk digunakan dalam pembelajaran biologi. Setelah dilakukan pembelajaran Sistem Koordinasi menggunakan diagram Roundhouse, hasil belajar siswa mengalami peningkatan, ditunjukkan dari perhitungan N-gain pada uji kelompok kecil adalah 0,38 dan uji kelompok besar adalah 0,34. Hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa Diagram Roundhouse materi Sistem Koordinasi untuk siswa kelas XI SMAN 1 Kepanjen layak dan dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa
Pengaruh Diagram Proses Penyelesaian Masalah dalam Problem-Based Learning (PBL) terhedap Kemampuan Literasi Sains dan Penyelesaian Masalah Siswa pada Pembelajaran Biologi Kelas XI
RINGKASANWicaksono, Rido Sigit. 2019. Pengaruh Diagram Proses Penyelesaian Masalah dalam Problem-Based Learning (PBL) terhadap Kemampuan Literasi Sains dan Penyelesaian Masalah Siswa pada Pembelajaran Biologi Kelas XI. Skripsi. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Murni Saptasari, M.Si., (2) Hendra Susanto, M.Kes., Ph.D. Kata Kunci: diagram proses penyelesaian masalah,literasi sains, penyelesaian masalah, PBLPendidikan sains di abad 21 seharusnya membantu siswa memiliki pengetahuan yang cukup untuk menyelesaikan masalah sains dan dampaknya terhadap teknologi serta masyarakat. Salah satu tujuan terpenting dari pendidikan sains adalah pemberdayaan literasi sains dan penyelesaian masalah. Berbagai penelitian yang telah dilakukan juga mengungkapkan bahwa kemampuan literasi sains dan penyelesaian masalah siswa di berbagai kota di Indoensia masih tergolong rendah. Rendahnya kemampuan literasi sains siswa juga berdampak pada rendahnya kemampuan penyelesaian masalah siswa terkait isu sains yang bersifat kontekstual. Rendahnya kemampuan literasi sains dan penyelesaian masalah dapat disebabkan oleh model pembelajaran di kelas yang belum bisa memberdayakan kemampuan literasi sains dan penyelesaian masalah, sehingga dibutuhkan model pembelajaran yang dapat memberdayakan kemampuan tersebut. Berbagai penelitian menunjukan bahwa PBL dapat meningkatkan kemampuan literasi sains dan penyelesaian masalah, namun PBL memiliki kelemahan yang dapat memberikan beban kognitif pada siswa selama proses investigasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) berbantuan diagram proses penyelesaian masalah terhadap kemampuan literasi sains dan penyelesaian masalah siswa pada pembelajaran biologi kelas XI.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasy experiment. Penelitian ini menggunakan desain pretest posttest simple randomized control group. Terdapat dua kelompok dalam penelitian ini yaitu kelompok eksperimen yang diberi perlakuan berupa model pembelajaran PBL berbantuan diagram proses penyelesaian masalah dan kelompok kontrol yang diberi perlakuan berupa model pembelajaran PBL. Data yang dikumpulkan untuk mengukur kedua kemampuan tersebut adalah nilai pretest dan posttest. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik menggunakan ANACOVA untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kemampuan literasi sain dan penyelesaian masalah pada kedua kelompok.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh rerata terkoreksi kemampuan literasi sains sebesar 80,766 pada kelompok kontrol dan 77,662 pada kelompok perlakuan. Uji ANACOVA menunjukan nilai signifikansi sebesar 0,173 yang lebih besar dari nilai α (0,173 > 0,05) sehingga H0 yang berbunyi tidak ada perbedaan peningkatan kemampuan literasi sains pada pembelajaran PBL berbantuan diagram proses penyelesaian masalah pada siswa kelas XI di SMAN 1 Lawang diterima. Hasil yang diperoleh juga menunjukan rerata terkoreksi kemampuan penyelesaian masalah sebesar 73,103 dan 86,126 pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen secara berurutan. Uji ANACOVA menunjukan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari nilai α (0,000 < 0,05) sehingga H0 yang berbunyi tidak ada perbedaan peningkatan kemampuan penyelesaian masalah pada pembelajaran PBL berbantuan diagram proses penyelesaian masalah pada siswa kelas XI di SMAN 1 Lawang ditolak.Analisis data yang telah dilakukan menunjukan bahwa tidak ada perbedaan nyata peningkatan kemampuan literasi sains, namun ada perbedaan nyata peningkatan penyelesaian masalah, pada pembelajaran PBL berbantuan diagram proses penyelesaian masalah. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa pembelajaran PBL itu sendiri mampu meningkatkan kemampuan literasi sains melalui tahapan-tahapan pembelajarannya. Tahapan pembelajaran PBL memberi kesempatan siswa untuk berhadapan dengan masalah kontekstual, mengarahkan siswa untuk melakukan investigasi secara mendalam, dan menghubungkan antar konsep sains yang diperoleh, sehingga siswa dapat menjelaskan fenomena secara saintifik, merancang dan mengevaluasi proses penyelidikan, serta mengintepretasikan data dan bukti secara ilmiah. Keberadaan diagram proses penyelesaian masalah mampu meningkatkan kemampuan penyelesaian masalah siswa dengan menyediakan instruksi yang mengarahkan kognitif siswa untuk menyelesaikan masalah secara efektif. Adanya instruksi yang terarah juga menurukan beban kognitif yang diemban siswa selama proses penyelesaian masalah sehingga siswa menjadi penyelesai masalah yang lebih efektifBerdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa PBL dapat meningkatkan kemampuan literasi siswa, namun sebagai upaya optimalisasi PBL sehingga dapat meningkatkan kemampuan penyelesaian masalah dibutuhkan instruksi terarah berupa diagram proses penyelesaian masalah. Sehingga disarankan untuk memberikann model PBL dalam pemberdayaan kemampuan literasi sains dan diagram proses penyelesaian masalah dalam pemberdayaan kemampuan penyelesaian masalah siswa
Kemampuan Berpikir Kritis dan Perilaku Sosial Pada Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbasis Sumber Daya Lokal Dipadu Think Pair Share Siswa SMA PGRI Gedangan
Sumber belajar merupakan salah satu komponen yang dapat membantu peserta didik untuk mencapai kompetensi tertentu. Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang memiliki sumber daya lokal berupa ekosistem sawah, kebun kopi, kebun tebu, dan kebun jati. Guru biologi SMA PGRI Gedangan belum memanfaatkan sumber daya lokal sebagai sumber belajar. Inkuiri terbimbing merupakan salah satu model pembelajaran berbasis masalah yang melibatkan siswa untuk melakukan penyelidikan. Masalah tersebut dapat diambil dari sumber daya lokal yang ada di Kecamatan Gedangan. Bebarapa hasil penelitian menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, namun model pembelajaran ini masih sulit dilaksanakan oleh siswa karena tahapan dalam inkuiri terbimbing membutuhkan waktu yang lama dan pembelajaran lebih berpusat pada siswa. Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat dipadukan dengan inkuiri terbimbing sehingga masing-masing model pembelajaran ini dapat saling menutupi kekurangan satu sama lain. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing dipadu TPS dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan perilaku sosial siswa. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Tujuan penelitian adalah mendeskrispikan hasil tindakan pembelajaran dengan menerapkan inkuiri terbimbing berbasis sumber daya lokal dipadu TPS terhadap kemampuan berpikir kritis dan perilaku sosial siswa. Penelitian tindakan ini dirancang dengan menerapkan model penelitian tindakan kelas oleh Kemmis dan Mc.Taggart yang terdiri atas tiga tahapan penting yakni perencanaan (plan), tindakan (act) & pengamatan (observe), dan refleksi (reflect). Penelitian ini dilaksanakan selama 2 siklus, masing-masing siklus memuat 1 kompetensi dasar yang ditempuh selama 3 kali pertemuan dan masing-masing pertemuan dilaksanakan selama tiga jam pelajaran. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis dan perilaku sosial siswa pada setiap siklus. Perolehan rata-rata peningkatan pre-test dan post-test pada siklus I sebesar 35,5%, dan meningkat pada siklus II sebesar 41,5%. Tingkat efektivitas dibuktikan dengan perolehan n-gain siklus I sebesar 0,6 (sedang), dan siklus II sebesar 0,7 (tinggi). Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis sumber daya lokal dipadu TPS dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan perilaku sosial siswa. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu jika model pembelajaran ini akan digunakan pada sekolah lain perlu disesuaikan antara materi dan sumber daya lokal yang ada di lokasi sekolah
Pengembangan Soal Pilihan Ganda untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XII Kompetensi Dasar 3.4, 3.5, 3.6 dalam Kurikulum 2013 di SMA Muhammadiyah I Malang
RINGKASANFebiyanti, Tri Putri Ayuni. 2019. Pengembangan Soal Pilihan Ganda untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XII Kompetensi Dasar 3.4, 3.5, 3.6 dalam Kurikulum 2013 di SMA Muhammadiyah I Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd, (II) Dra. Amy Tenzer, M.S.Kata Kunci: Instrumen Penilaian, Kemampuan berpikir kritis, Biologi SMA kelas XII, Kompetensi Dasar 3.4, 3.5, dan 3.6.Kurikulum 2013 adalah Kurikulum yang dirancang untuk memfasilitasi pencapaian kecakapan hidup di abad 21. Kompetensi siswa dalam pembelajaran diukur menggunakan instrumen penilaian. Instrumen penilaian yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah 30 soal pilihan ganda jawaban tunggal dengan lima pilihan jawaban. Soal pilihan ganda jawaban tunggal mengacu pada indikator pencapaian kompetensi dan indikator kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan produk berupa soal pilihan ganda jawaban tunggal dari KD 3.4, 3.5, dan 3.6 untuk mengukur kemampuan berpikir kritis yang ditujukan untuk siswa kelas XII SMA Muhammadiyah I Malang, (2) menguji kelayakan, kepraktisan dan validitas empiris soal pilihan ganda jawaban tunggal dalam mengukur kemampuan berpikir kritis dari KD 3.4, 3.5, dan 3.6 yang ditujukan untuk siswa kelas XII SMA Muhammadiyah I Malang. Penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari 5 tahap yaitu: (1) analisis, (2) perancangan, (3) pengembangan, (4) implementasi, (5) evaluasi. Pengumpulan data diperoleh dari (1) hasil validitas logis oleh ahli evaluasi, ahli materi, dan praktisi lapangan, (2) hasil angket respon siswa dan guru, dan (3) hasil validitas empiris yang meliputi tingkat kesukaran, daya beda, reliabilitas, dan analisis pengecoh dengan menggunakan program Anates versi 4. Uji coba kelompok kecil dilakukan pada 6 siswa dan pada uji coba kelompok besar dilakukan pada 33 siswa.Berdasarkan analisis validitas logis yang terdiri dari validitas isi dan konstruk pada instrumen penilaian ini telah valid (soal sesuai dengan isi materi pembelajaran serta kata kerja dalam soal sesuai dengan kata kerja pada indikator baik pada indikator kemampuan berpikir kritis maupun indikator soal). Berdasarkan hasil angket respon siswa pada uji coba kelompok kecil diperoleh rata-rata sebesar 92,42% (siswa yang setuju dengan pernyataan positif penulis dalam lembar angket) dan 7,58% (siswa yang tidak setuju dengan pernyataan positif penulis dalam lembar angket). Berdasarkan analisis validitas empiris dengan menggunakan program Anates versi 4 diperoleh hasil uji coba kelompok kecil pada soal pilihan ganda jawaban tunggal untuk tingkat kesukaran diperoleh kategori soal mudah 10%, soal sedang 63,33%, dan soal sukar 26,66% dengan rasio soal mudah: sedang: sukar yaitu 1: 6: 3. Daya beda pada uji coba kelompok kecil diperoleh daya beda kriteria tidak baik sebesar 10%, kriteria jelek 40%, kriteria baik sebesar 36,66%, dan kriteria baik sekali sebesar 13,33%. Analisis pengecoh diperoleh pengecoh yang berfungsi sebesar 33,33% dan tidak berfungsi sebesar 66,66%. Berdasarkan uji coba kelompok kecil dilakukan revisi soal dan dilanjutkan dengan uji coba kelompok besar. Berdasarkan hasil angket respon siswa uji coba kelompok besar diperoleh rata-rata sebesar 94,49% (siswa yang setuju dengan pernyataan positif penulis dalam lembar angket) dan 5,51% (siswa yang tidak setuju dengan pernyataan positif penulis dalam lembar angket) serta angket respon guru diperoleh rata-rata 100% (guru setuju dengan pernyataan positif penulis dalam lembar angket). Berdasarkan analisis validitas empiris dengan menggunakan program Anates versi 4 diperoleh hasil uji coba kelompok besar diperoleh kategori soal mudah 10%, soal sedang 46,66%, dan soal sukar 43,33% sehingga menunjukkan rasio perbandingan mudah: sedang: sukar yaitu 1: 5: 4. Pada uji coba kelompok besar diperoleh hasil persentase daya beda yaitu soal dengan kriteria tidak baik sebesar 13,33%, kriteria jelek 40%, kriteria cukup sebesar 10%, kriteria baik sebesar 33,33%, dan kriteria baik sekali sebesar 3,33%. Reliabilitas diperoleh nilai 0,41 artinya instrumen penilaian memiliki tingkat reliabilitas kategori sedang. Analisis pengecoh yang berfungsi sebesar 46,66% dan tidak berfungsi sebesar 53,33%. Berdasarkan hasil uji coba kelompok besar dilakukan revisi akhir (final). Saran yang dianjurkan adalah sebaiknya guru dan peneliti lain terus melakukan validasi agar diperoleh instrumen penilaian yang baik.SUMMARYFebiyanti, Tri Putri Ayuni. 2019. The Development of Multiple Choice Questions to Measure Critical Thinking Ability Students of Class XII of Basic Competence 3.4, 3.5, 3.6 at 2013 Curriculum in Senior High School Muhammadiyah I Malang. Skripsi, Biology Education Study Program, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Advisor: (I) Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd, (II) Dra. Amy Tenzer, M.S.Keywords: Instrument of Assessment, Critical thinking ability, High School Biology of class XII, Basic Competence 3.4, 3.5, and 3.6.The 2013 curriculum is a curriculum designed to facilitate the achievement of life skills in the 21st century. Student competency in learning is measured using assessment instruments. The assessment instruments developed in this study were 30 single choice multiple choice questions with five answer choices. Single choice multiple choice questions refer to indicators of achievement of competencies and indicators of critical thinking skills. This study aims to (1) develop products in the form of single choice multiple choice questions from KD 3.4, 3.5, and 3.6 to measure critical thinking skills aimed at class XII students of Muhammadiyah I Malang High School, (2) test feasibility, practicality and empirical validity of single choice multiple choice questions in measuring critical thinking skills from KD 3.4, 3.5, and 3.6 which are Intended for students of class XII Senior High School Muhammadiyah I Malang.This development research used the ADDIE’s development model which consists of 5 stages: (1) analysis, (2) design, (3) development, (4) implementation, (5) evaluation. Data collection was obtained from ((1) the results of logical validity by evaluation experts, material experts, and field practitioners, (2) the results of student and teacher response questionnaires, and (3) the results of empirical validity which included the level of difficulty, power difference, reliability, and deception analysis using the Anates version 4. Small group trials were carried out on 6 students and in large group trials carried out on 33 students.Based on the logical validity analysis which consists of content validity and constructs on this assessment instrument has been valid (the question corresponds to the content of the learning material as well as the verb in the question according to the verb on the indicator both on indicators of critical thinking skills and indicator indicators). Based on the results of student questionnaire responses to small group trials, it was obtained an average of 92,42% (students who agreed with the author's positive statement on the questionnaire sheet) and 7,58% (students who did not agree with the author's positive statement on the questionnaire sheet). Based on empirical validity analysis using the Anates version 4 program, the results of small group trials on multiple choice questions on single answers for the level of difficulty were obtained by the easy 10% problem category, 63,33% moderate problem, and 26,66% difficult question with easy matter ratio: moderate: difficult, namely 1: 6: 3. Different power in small group trials obtained different power criteria not good at 10%, bad criteria 40%, good criteria of 36,66%, and excellent criteria of 13,33%. The deception analysis was obtained by the fraudulent function of 33,33% and not functioning at 66,66%. Based on a small group trial a revision of the problem was carried out and continued with a large group trial. Based on the results of the questionnaire responses of the students in the large group trials, it was obtained an average of 94,49% (students who agreed with the author's positive statement on the questionnaire) and 5,51% (students who did not agree with the author's positive statement on the questionnaire) and questionnaire the teacher's response is 100% on average (the teacher agrees with the author's positive statement on the questionnaire). Based on the empirical validity analysis using the Anates version 4 program, the results of the large group trials obtained easy categories of 10% questions, moderate questions 46,66%, and difficult questions 43,33% so that it showed an easy ratio: medium: difficult are 1: 5 : 4. In large group trials the results of the percentage of different power are obtained, namely questions with bad criteria of 13,33%, bad criteria of 40%, sufficient criteria of 10%, good criteria of 33,33%, and excellent criteria of 3,33%. Reliability obtained value of 0,41 means that the assessment instrument has a moderate level of reliability. The fraudulent analysis that functions is 46,66% and does not function at 53,33%. Based on the results of a large group trial a final revision was conducted. The recommended suggestion is that teachers and other researchers should continue to validate in order to obtain good assessment instruments
Hubungan antara Keterampilan Proses Sains dengan Hasil Belajar Kognitif pada Dua Model Pembelajaran Biologi Siswa Kelas X SMA di Malang
RINGKASANPermatasari, Shela Emilia. 2019. Hubungan antara Keterampilan Proses Sains dengan Hasil Belajar Kognitif pada Dua Model Pembelajaran Biologi Siswa Kelas X SMA di Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Susriyati Mahanal, M.Pd., (2) Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd.Kata Kunci: Keterampilan proses sains, hasil belajar kognitif, RICOSRE, PBLKeterampilan proses sains termasuk dalam bagian dari berpikir tinggi yang perlu diberdayakan terutama dalam pembelajaran sains. Keterampilan proses sains secara umum merupakan langkah pemikiran yang logis dan rasional yang dimiliki manusia dalam upaya untuk memecahkan suatu permasalahan. Keterampilan proses sains yang baik dapat memfasiltasi siswa untuk terbiasa mengolah informasi dalam proses belajar, sehingga siswa tersebut dapat terlatih untuk memecahkan masalah, berpikir kritis, kreatif, sistematis, dan logis. Keterampilan proses sains dianggap penting untuk menjadi salah satu capaian belajar dalam sains. Salah satu bentuk lain yang mencerminkan keberhasilan proses belajar adalah hasil belajar kognitif sebagai prestasi akademik siswa. Hasil belajar kognitif menjadi tolak ukur tentang seberapa dalam pemahaman kognisi siswa pada pengetahuan yang dipelajari. Baik keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitf merupakan dua komponen yang penting untuk diberdayakan terutama dalam pembelajaran. Penerapan model pembelajaran yang tepat dapat mengembangkan keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui adanya hubungan diantara keterampilan proses sains dengan hasil belajar kognitif siswa pada dua model pembelajaran biologi siswa kelas X SMA di Malang, 2) mengetahui perbedaan persamaan regresi keterampilan proses sains dengan hasil belajar kognitif siswa pada dua model pembelajaran biologi siswa kelas X SMA di Malang.Penelitian ini termasuk dalam penelitian korelasional dengan populasi penelitian adalah keseluruhan siswa SMA kelas X MIPA di Malang. Adapun sampel yang digunakan yaitu: 1) 23 siswa di kelas X MIPA 3, 28 siswa di kelas X MIPA 8, dan 20 siswa di kelas X MIPA 2 dari SMAN 1 Malang; 2) 34 siswa di kelas X MIPA B, 36 siswa di kelas X MIPA F dan 30 siswa dari X MIPA A dari SMAN 1 Singosari. Data berupa hasil pretest dan posttest siswa dengan penilaian keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif siswa. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana. Hasil yang diperoleh dari analsisi data menunjukkan: 1) terdapat hubungan keterampilan proses sains dengan hasil belajar kognitif siswa pada dua model pembelajaran Biologi yang diterapkan. Pada model pembelajaran RICOSRE menunjukkan nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar rxy = 0,944 (p<0,05), pada model PBL nilai rxy =0,871 (p<0,05), sedangkan pada pembelajaran secara konvensional nilai rxy =0,844 (p<0,05); 2) terdapat perbedaan persamaan regresi keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif siswa pada model pembelajaran yang diterapkan. Persamaan regresi pada kelas RICOSRE adalah Y=1,124X - 4,207; pada kelas dengan model PBL memiliki persamaan Y=1,697X-19,435; sedangkan persamaan dari kelas konvensional memiliki persamaan regresi Y=0,75X+10,019; 3) keterampilan proses sains memberikan sumbangan dalam meningkatkan hasil belajar kognitif siswa yang besar pada model pembelajaran yang diterapkan. Pada kelas dengan model RICOSRE sebesar 89,1%, pada kelas PBL sebesar 75,9% dan kelas dengan pembelajaran konvensional sebesar 71,2 %. Berdasarkan hasil penelitian ditunjukkan adanya hubungan positif yang kuat diantara keterampilan proses sains dengan hasil belajar kognitif siswa. Mengingat peran penting yang dimiliki oleh keterampilan proses sains bagi siswa maka perlu adanya upaya pemberdayaan terutama selama proses pebelajaran berlangsung dengan menerapkan model pembelajaran tepat. Model pembelajaran RICOSRE dan PBL memiliki potensi tinggi meningkatkan keterampilan proses sains sehingga secara langsung hasil belajar kognitf siswa pula turut meningkat. Oleh karena itu, alangkah baiknya bila pendidik berperan dalam menerapkan model pembelajaran yang potensial untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan sekaligus dapat meningkatkan hasil belajar kognitif untuk keseluruhan prestasi akademik siswa. SUMMARYPermatasari, Shela Emilia. 2019. The Relationship between Science Process Skills and cognitive learning achievement on Two Models of Learning Biology at X Grade of Senior High School Students in Malang. Thesis, Biology Department, Faculty of Matemathic and Science, Universitas Negeri Malang. Advisors: (1) Dr. Susriyati Mahanal, M.Pd, (2) Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd.Keyword: Science process skills, cognitive learning achievement, RICOSRE, PBLScience process skills belong to high order thinking skills that needed to be encourage along in the scientific learning. Generally, science process skills mean a logical and rational thinking steps as effort to solve problem that human have. A good science process skills may facilitated students to get used to organize information in the learning process, so their problem solving skills, logical, critical and creative thinking could be enhanced. Science process skills is important become once of scientific learning output. Another form that reflects the success of learning process is cognitive learning achievement. Cognitive learning achievement become cognitive understanding depth indicator. Both science process skills and cognitive learning achievement are important to be encourage during science lesson. The implementation of appropriate learning models may encourage student science process skills and cognitive learning achievement. This research aim to: 1) understand the relationship between student science process skills and cognitive learning achievement in PBL and RICOSRE learning model in X grade senior high school students at Malang, 2) understand the difference of regression equation between science process skills and cognitive learning achievement in PBL and RICOSRE learning model in X grade senior high school students at Malang.This research is a correlational research with all of X grade senior high school students at Malang as the population. The sample consist of: 1) 23 students in X MIPA 3, 28 students in X MIPA 8, and 20 students in X MIPA 2 from SMAN 1 Malang;2) 34 students in X MIPA B, 36 students in X MIPA F and 30 students in X MIPA A from SMAN 1 Singosari. The data is collected from student pretest and posttest value of students science process skills and cognitive learning achievement and simple linier regression analysis is used as analysis technique in this research. The analysis results indicate that: 1) there is relationship between student science process skills and cognitive learning achievement in PBL and RICOSRE learning model in X grade senior high school students at Malang. In the implementation of RICOSRE learning model shows the value of correlation coefficient (rxy) is rxy =0,944 (p<0,05), and in the PBL’s implementation the value of correlation coefficient (R) is rxy =0,871 (p<0,05), while the implementation of conventional learning the rxy’s value is rxy =0,844 (p<0,05); 2) there is difference of regression equation between science process skills and cognitive learning achievement in PBL and RICOSRE learning model in X grade senior high school students at Malang. The regression equation from RICOSRE implementation is Y=1,124X - 4,207, and the equation from PBL is Y=1,697X-19,435, while the equation from the implementation of conventional learning is Y=0,75X+10,019; 3)science process skills give high contribution to encourage cognitive learning achievement in PBL and RICOSRE learning model in X grade senior high school students at Malang. The contribution in RICOSRE learning model has 89,1%, in PBL has 75,9% and in the conventional learning has 71,2% contribution to encourage cognitive learning achievement.Based on research result, there is strong and positive relationship between science process skills and cognitive learning achievement. Consider, the importance of student science process skills, thus an effort is needed to encourage student science process skills during learning process by implementing appropriate learning models. PBL and RICOSRE learning model have high potential to encourage student science process skills, so cognitive learning achievement will be directly enhance. It will be better if the teacher implement potential learning models to encourage science process skills and cognitive learning achievement at once for student entire student academic achievement