247 research outputs found
Sort by
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA MATERI KELISTRIKAN MELALUI PEMANFAATAN ALAT PERAGA KIT
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar fisika materi kelistrikan melalui pemanfaatan alat peraga KIT bagi peserta didik kelas IXF SMP Negeri 1 Kaliwungu Kudus pada semes- ter 1 tahun 2012/2013. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil subyek peserta didik kelas IXF SMP Negeri 1 Kaliwungu Kudus sejumlah 33 anak terdiri dari 15 anak laki-laki dan 18 anak perempuan, dimana peneliti seb- agai guru IPA (fisika) pada kelas tersebut. Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan dari bulan September 2012 sampai bulan Januari 2013.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari II siklus, masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting). Pada siklus I tindakan yang dilakukan dengan memanfaatkan alat peraga KIT kelompok besar, sedangkan pada siklus II tindakan yang dilakukan dengan memanfaatkan alat peraga KIT kelompok kecil.Hasil penelitan menunjukkan bahwa secara teoritik dan empirik me- lalui pemanfaatan alat peraga KIT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar fisika materi kelistrikan bagi peserta didik kelas IXF SMP Negeri 1 Kaliwungu Kudus pada semester 1 tahun 2012/2013. Peningkatan akti- vitas belajar fisika sebesar 48,5% dari kondisi awal 30,3% menjadi 66,7% pada siklus I dan 78,8% pada akhir siklus II. Sedangkan Peningkatan hasil belajar fisika sebesar 39,16% dari kondisi awal 36,36% (tuntas KKM= 12, rata-rata= 64,85) menjadi 60,61% (tuntas KKM= 20, rata-rata= 71,51) pada siklus I dan 75,76% (tuntas KKM= 25, rata-rata= 74,85) pada akhir siklus II
PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERSTRUKTUR TERHADAP KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA UIN WALISONGO SEMARANG
Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh pembelajaran berbasis masalah terstruktur terhadap kemampuan penalaran matematis mahasiswa Pendidikan Matematika UIN Walisongo Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian Posttest Comparations Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Semester I Pendidikan Matematika UIN Walisongo Semarang Tahun Akademik 2014/2015 yang berjumlah 97 mahasiswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian adalah tes uraian. Data penelitian dianalisis menggunakan uji normalitas, homogenitas, dan uji-t (independent sample t-test). Uji-t dilakukan untuk mengetahui perebedaan kemampuan penalaran matematis mahasiswa. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai t hitung adalah 2,994 dan t tabel 1,671. Karena t hitung lebih dari t tabel maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan model pembelajaran berbasis masalah terstruktur terhadap kemampuan penalaran matematis mahasiswa.
PERSEPSI ATASAN TERHADAP KINERJA LULUSAN TADRIS
Tujuan utama penelitian ini adalah: Untuk mengetahui persepsi Atasan terhadap kinerja lulusan Tadris Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menggunakan kuesioner yang die- darkan ke responden. Populasi adalah seluruh atasan atau pimpinan tempat lulusan Tadris bekerja. Untuk pemilihan sampel digunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian ra- ta-rata kinerja lulusan tadris secara keseluruhan 3,16 yaitu kategori baik, sedangkan indikator dari kinerja yang be- rada di bawah rata-rata adalah kemampuan bahasa asing. Oleh sebab itu lulusan perlu diberi bekal yang lebih pada kompetensi tersebut
Mind Map Kolaboratif Memanfaatkan Groupware Berbasis Cloud Storage
Groupware adalah aplikasi atau perangkat lunak komputer yang dirancang untuk mendukung kolaborasi dari beberapa pengguna (Alan Dix dkk, 2004: 663). Saat ini groupware berkembang, bukan sekedar sebagai perangkat lunak multi user yang dapat mengakses data sama, berbagi dokumen atau rich-media, namun dengan teknologi cloud storage, groupware mendukung penyimpanan dokumen secara online sebagai artifak atau hasil kerja kolaboratif.Dalam pembelajaran, kolaborasi diwujudkan dengan kelompok atau kelompok kecil siswa, berinteraksi, terkoordinasi dan memungkinkan mengeksplorasi secara bersama suatu permasalahan atau tugas bermakna dalam semua fungsi proses pembelajaran. Salah satu elemen penting dalam fungsi proses pembelajaran adalah ketrampilan siswa dalam mengorganisasikan pengetahuan dan informasi. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru dalam menfasilitasi tumbuhnya ketrampilan tersebut. Selain teknik mencatat, pendekatan mind map tau peta pikiran dapat digunakan menfasilitasi siswa dalam pengorganisasian informasi sehingga mempermudah pemahaman siswa atas suatu topik yang berjumlah banyak dengan waktu terbatas. Cara baru yang lebih modern dalam menfasilitasi pengorganisasian informasi adalah menggunakan groupware.Kajian ini membahas pemanfaatan groupware MindMup 2.0 untuk mengorganisasikan pengetahuan topik cabang ilmu elektronika menurut aturan Law of Mind Map, dilakukan dalam kelompok kecil, dalam pembahasan ini dilakukan oleh empat siswa, dilakukan secara kolaboratif, sinkronous, tanpa friksi (zero friction) dengan dukungan teknologi cloud storage, Google Drive
Peer And Self Assessment Sebagai Penilaian Autentik dalam Kurikulum 2013
Pelaksanaan kurikulum 2013 dilakukan dengan pendekatan scientific, dengan proses pembelajaran yang diharapkan adalah yang kontekstual dan berpusat pada peserta didik (student centered active learning). Dalam pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013, sangat dianjurkan agar guru mengutamakan penilaian kinerja (performance assessment). Akan tetapi pada praktiknya, seorang guru akan mengalami kesulitan kaetika harus mengamati 30-40 peserta didik yang berada dalam satu kelas. Untuk mengatasi hal tersebut, guru bisa berkolaborasi dengan peserta didik dalam penilaian dengan menggunakan peer and self assessment. Dengan menerapkan peer and self assessment, keuntungan yang didapatkan peserta didik antara lain Pemahaman standar kualitas kinerja , proses belajar lebih mandiri, pengembangan keterampilan metakognitif, pengembangan kemampuan berpikir kritis, belajar lebih banyak tentang hal-hal yang dipelajari ketika peserta didik melihat kinerja teman, praktik dan pengembangan keterampilan komunikasi dan social, penanaman karakter sekaligus pengetahuan
KEBERSAMAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN TIK
Semangat kebersamaan merupakan salah satu karakter yang mendukung kesiapan sumber daya manusia menghadapi Masyarakan Ekonomi ASEAN. Pembelajaran matematika yang kooperatif dengan bantuan TIK mendukung peningkatan semangat kebersamaan di antara para peserta didik. Simpulan ini diperoleh dari hasil penelitian pemanfaatan TIK dalam pembelajaran matematika di SMA 4 Semarang tahun 2014. Pola pembelajaran mengalokasikan 2/3 waktu (60 menit) pembelajaran untuk kegiatan kolaboratif mandiri dalam bentuk kerja kelompok. Pembelajaran menampilkan kompetensi dasar “Penentuan volume benda putar”. Guru sepenuhnya bertindak sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran. Dalam kerja kelompok para peserta didik berkolaborasi memahami uraian kompetensi dasar, memahami konsep benda putar, memahami konsep volum benda putar dan berlatih menyelesaikan soal. Interaksi selama kerja kelompok dilaksanakan menurut rambu-rambu yang telah ditentukan guru. Rambu-rambu dibuat untuk menghindari munculnya dominasi interaksi oleh satu atau beberapa peserta didik yang lebih dominan dalam kemampuan berkomunikasi atau dalam kemampuan penguasaan materi. Tiap kelompok kerja terdiri dari 3-4 peserta didik dengan kemampuan yang beragam, mulai dari yang paling menguasai materi prasyarat sampai yang paling tidak menguasai materi. Rambu-rambu antara lain menyebutkan bahwa dalam diskusi kelompok peserta didik secara bergantian mendapat giliran pertama mengutarakan pendapat atau menjawab pertanyaan; giliran untuk menanggapi pembicara pertama juga dilakukan oleh peserta didik secara bergantian sesuai rotasi yang telah ditentukan. Selain untuk menjaga kebersamaan, rambu-rambu ini juga menjamin hak dan kewajiban yang sama kepada seluruh anggota kelompok untuk mempersiapkan materi dan bertanggung jawab atas nama kelompok dalam memberi jawaban atau mengungkapkan pendapat
ADAKAH SEGITIGA YANG JUMLAH SUDUTNYA KURANG DARI 1800? (Sebuah kajian dari Geometri Non Euclid)
Geometri yang diajarkan di sekolah/madrasah, bahkan di perguruan tinggi umumnya merupakan geometri yang dikenal dengan nama Geometri Euclidus. Ciri khas geometri ini, ditandai dengan rumus yang amat terkenal yaitu bahwa: Jumlah sudut dalam setiap segitga adalah 1800. Sampai pada akhirnya muncullah Geometri yang “berbeda” dengan geometri yang yang sudah ada. Salah satunya, adalah Geometri yan diketemukan oleh Lobachevsky. Geometri ini dikenal dengan nama Geometri Lobachevsky atau Geometri Hiperbolik. Dalam Geometri Lobachevsky, dapat dibuktikan bahwa jumlah sudut dalam setiap segitiga kurang (lebih kecil) dari 1800.
PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERHITUNG PERKALIAN DENGAN METODE JARIMAJIG
Pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman be- lajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari. Salah satu komponen yang menentukan ketercapaian kompetensi adalah penggunaan strategi pembelajaran, yang sesuai dengan (1) topik yang se- dang dibicarakan, (2) tingkat perkembangan intelektual siswa, (3) prin- sip dan teori belajar, (4) keterlibatan aktif siswa, (5) keterkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari, dan (6) pengembangan dan pemahaman pe- nalaran matematis. Otak merupakan bagian sentral dari fungsi dasar vi- tal pada manusia. Otak kanan adalah otak yang berada disebelah kanan dalam posisi anatomis (frontal). Berhitung perkalian dengan otak kanan salah satunya adalah metode jarimagic dimana perantara untuk menghi- tung perkalian menggunakan jari-jari tangan. Kemampuan mengingat, menalar, dan merasakan perbedaan sikap atau perlakuan orang lain juga berkembang dengan pesat. Anak lebih sensitif, cerdas, dan aktif secara fisik mupun psikologis. Belajar matematika dengan otak kanan lebih menarik, sebab yang selalu digunakan selama ini dengan otak kiri saja. Jika ada ke- seimbangan antara otak kanan dan otak kiri pembelajaran menjadi luar biasa
ANALISIS PENGETAHUAN CALON GURU KIMIA TENTANG PERALATAN LABORATORIUM DAN FUNGSINYA
Pembelajaran IPA berkaitan erat dengan cara mencari tahu (inkui- ri) tentang alam semesta secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan pengetahuan berupa fakta, konsep atau prinsip saja, tetapi merupakan suatu proses penemuan. Hal tersebut diperoleh melalui keg- iatan praktikum. Namun, pelaksanaannya di lapangan memiliki beberapa kelemahan antara lain rendahnya pengetahuan guru tentang peralatan kimia dan fungsinya. Hasil penelitian ini menunjukkan calon guru kimia tidak dapat men- gidentifikasi peralatan laboratorium dan mengetahui fungsinya secara tepat. Kesalahan mahasiswa dapat diidentifikasi menjadi 5 kategori. Per- tama, sebagian mahasiswa mengetahui nama dan fungsinya namun tidak mengetahui gambar alat (tidak mengetahui wujudnya). Kedua, mengeta- hui nama tetapi tidak mengetahui fungsi dan gambar alat. Ketiga, tidak dapat menyebutkan nama dengan benar tetapi mengetahui fungsi dan gambar alat. Keempat, mengetahui nama dan gambar tetapi tidak menge- tahui fungsinya. Dan yang kelima, tidak mengetahui nama, fungsi maupun gambar alat. Pengetahuan mahasiswa yang kurang dapat dipengaruhi oleh jumlah peralatan dan bahan masih belum mancukupi, keterbatasan waktu praktikum dan perlunya proses pendampingan dari dosen pengam- pu praktikum
PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK SEBAGAI PENDEKATAN BELAJAR MATEMATIKA
Matematika sering dianggap sebagai salah satu pela- jaran yang sulit bagi siswa. Salah satu tugas seorang pen- didik adalah bagaimana membuat matematika lebih men- arik bagi siswa. Berdasarkan fakta diatas mendorong Hans Frudenthal mencetuskan Pendidikan Matematika Realistik yang memandang matematika bukan sebagai suatu produk jadi yang diberikan kepada siswa, melainkan sebagai suatu proses yang dikonstruksi siswa. Frudenthal berpendapat bahwa matematika adalah suatu bentuk aktivitas manusia, aktivitas dalam mengkonstruksi konsep matematika