247 research outputs found
Sort by
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KONSEP SISTEM KOORDINASI DAN ALAT INDERA MELALUI METODE PERMAINAN WHO WANTS TO BE A SMART STUDENT PADA SISWA KELAS IX F SMP NEGERI 1 BANDUNGAN TAHUN 2013/2014
Hasil refleksi awal pembelajaran IPA menunjukkan pen- capaian ketuntasan secara klasikal rendah yaitu 53,8%. Ren- dahnya hasil belajar siswa karena guru belum memanfaatkan metode yang kreatif sehingga pelajaran menjadi membosankan. Rendahnya hasil belajar ini memacu guru untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dengan menggunakan metode quis Who Wants to be A Smart Student. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar konsep Sistem Koor- dinasi dan Alat Indera melalui metode permainan Who Wants to be A Smart Student. Penelitian ini dilakukan pada siswa ke- las IX F SMP Negeri 1 Bandungan Tahun Pelajaran 2013/2014. Penelitian ini menggunakan 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pembelajaran model permainan Who Wants to be A Smart Student berhasil apabila standar kompetensi yang diharapkan tercapai. Indikatornya adalah apabila 85 % siswa dapat mencapai hasil belajar dengan SKBM 70 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 hingga siklus 2.Peningkatan tersebut meliputi rerata hasil belajar dari 73,4 pada siklus 1 menjadi 81,3 pada siklus 2, sehingga terjadi kenaikan sebesar 7,9 poin. Ketuntasan belajara secara klasikal juga mengalami kenaikan dari 65,4 % pada siklus 1 menjadi 88,5 % pada siklus 2, sehingga mengalami kenaikan sebesar 23,1 %. Aktifitas siswa mengalami kenaikan sebesar 25 % dari siklus 1 sebesar 66,7 % menjadi 87,5 % pada siklus 2.Berdasarkan hasil analis data di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran dengan menggunakan permainan Who Wants to be A Smart Student dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas IX F SMP Neg- eri 1 Bandungan Tahun Pelajaran 2013/2014. Meningkatnya hasil belajar ini dibuktikan dengan perolehan hasil belajar siswa yang telah memenuhi standar ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan. Penggunaan metode permainan Who Wants to be A Smart Student merupakan salah satu metode alternatif bagi guru dalam pembe- lajaran yang disarankan untuk digunakan pada kompetensi dasar mendeskripsikan sistem koordinasi dan alat indera dan hubungannya dengan kesehatan.
UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS SISWA DAN PEMAHAMAN KONSEP PERUBAHAN ZAT MELALUI PROBEX
Pembelajaran secara konvensional materi perubahan zat belum menghasilkan prestasi belajar maksimal, karena itu diperlukan inovasi pembelajaran dengan Predict-Observe-Explain (Probex). Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan pemahaman siswa terhadap konsep Perubahan Zat melalaui (Probex). Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Pringapus tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian dilaksanakan dalam tiga siklus, setiap siklus terdiri empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi, wawancara, dan tes. Analisa secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan penilaian sikap ilmiah kategori baik (3%), keterampilan proses kategori baik (5%), keaktifan mengerjakan LKS 15%, prestasi belajar 13%. Simpulan penelitian ini adalah pembelajaran melalui Probex dapat meningkatkan aktivitas pemahaman konsep materi Perubahan Zat. Disarankan untuk diadakan penelitian lanjutan pembelajaran dengan Probex untuk meningkatkan motivasi dan minat siswa
ISOLASI DAN KARAKTERISASI ASAM HUMAT DARI TANAH GAMBUT
Telah dilakukan penelitian tentang isolasi dan kara- kterisasi asam humat hasil isolasi tanah gambut yang be- rasal dari Desa Sambutan, Kecamatan Samarinda Ilir, Sa- marinda, Kalimantan Timur.Isolasi asam humat dari tanah gambut menggunakan metode ekstraksi alkali, pemurnian dan penentuan kand- ungan gugus fungsional asam humat secara titrasi poten- siometri.Hasil penelitian menunjukkan gugus fungsional utama asam humat hasil isolasi tanah gambut adalah gu- gus –COOH dan gugus –OH. Secara kuantitatif kandungan gugus fungsional tersebut masing-masing sebesar 426,2 cmol/kg (gugus –COOH), 289,6 cmol/kg (gugus –OH fenolat) dan 37,0 cmol/kg (gugus –OH alkoholat)
MODEL PEMBELAJARAN ASAM BASA BERBASIS SCS (SCIENCE PROCESS SKILLS) MELALUI KEGIATAN LABORATORIUM SEBAGAI WAHANA PENDIDIKAN SAINS SISWA MTS
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperkenal- kan dan mengetahui efektivitas Model Pembelajaran SCS ( Science Process Skills ) melalui kegiatan Laboratorium Sebagai Wahana Pendidikan Sains yang cocok bagi siswa MTs agar meningkatkan: penguasaan konsep kimia, ke- mampuan berpikir kreatif, dan keterampilan sains siswa. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kelas, dan difokuskan pada pokok bahasan asam basa. Penelitian ini dilakukan di salah satu MTs Negeri di kota Semarang dengan subyek sebanyak 40 siswa kelas III. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi model pembelaja- ran, soal-soal tes, pedoman wawancara, pedoman obser- vasi dan angket, sedang LKS digunakan pada saat kegiatan laboratorium. Dalam model pembelajaran dikembangkan empat jenis konsep yaitu konsep kongkret, konsep yang menyatakan sifat, konsep yang melibatkan penggambaran simbol, dan konsep berdasarkan prinsip. Model pembela- jaran ini dapat meningkatkan pemahaman konsep pada setiap kelompok kemampuan siswa, mengembangkan ke- mampuan berpikir kreatif dengan hasil tertinggi pada as- pek membangun konsep di atas pengetahuan yang telah ada pada diri siswa dan terendah pada aspek memilih hal- hal yang mungkin tidak relevan, serta keterampilan sains mengatasi kurangnya waktu pembelajaran, bagian-bagian pembelajaran tertentu dapat dilaksanakan di luar jam ke- las
Korelasi Pemecahan Masalah dan Indikator Berfikir Kritis
Didunia yang begitu cepat berubah, tingkatan berfikir kritis akan menentukan daya tahan seseorang dalam berkompetisi untuk menjadi yang terunggul. Kemampuan berfikir kritis adalah kemampuan yang penting karena dapat mengembangkan dan menyatakan ide-ide penting, membantu kita dalam mengkaji gagasan-gagasan yang rumit secara sistematis untuk dapat memahami lebih baik sehingga mencegah orang-orang untuk membuat keputusan yang buruk dan membantu mereka dalam memecahkan masalah. Sementara itu, hampir setiap bidang kehidupan manusia memerlukan kemampuan pemecahan masalah. Bahkan, kesuksesan dalam kehidupan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam memecahkan masalah baik dalam skala besar maupun kecil. Dalam hal ini berfikir kritis menjadi syarat yang penting bagi setiap orang untuk memecahkan masalah.Banyak pendapat para ahli tentang pengertian berfikir kritis. Secara umum berfikir kritis dapat didefinisikan suatu proses penggunaan kemampuan berpikir secara efektif yang dapat membantu seseorang untuk membuat, mengevaluasi, serta mengambil keputusan tentang apa yang diyakini atau dilakukan. Dari definisi tersebut dapat maka berpikir kritis mempunyai ciri-ciri: (1) menyelesaikan suatu masalah dengan tujuan tertentu, (2) menganalisis, menggeneralisasikan,mengorganisasikan ide berdasarkan fakta/informasi yang ada, dan (3) menarik kesimpulan dalam menyelesaikan masalah tersebut secara sistematik dengan argumen yang benar. Berfikir kritis sangat diperlukan dalam proses pembelajaran disemua mata pelajaran termasuk matematika. Dalam pembelajaran matematika kemampuan berfikir kritis akan sangat dibutuhkan dalam proses memahami konsep, menganalisa masalah dan menentukan solusi yang tepat dari sebuah permasalahan di matematika.Hubungan antara berpikir kritis dan pemecahan masalah menarik untuk dikaji. Selama ini pemecahan masalah sering dipandang sebagai keterampilan yang bersifat mekanistis, sistematis, dan abstrak. Namun, seiring berkembangnya teori-teori belajar kognitif, pemecahan masalah lebih dipandang sebagai aktivitas mental yang kompleks yang memuat berbagai keterampilan kognitif. Dalam konteks sebagaimana diuraikan di atas, berpikir kritis dipandang sebagai syarat bagi tumbuhnya kemampuan pemecahan masalah. Namun, sebaliknya, pemecahan masalah dapat pula dipandang sebagai sarana untuk menumbuhkan kemampuan berfikir kritis. Perlu diketahui bahwa pemecahan masalah mempunyai berbagai peran, yakni sebagai kemampuan, pendekatan, dan sebagai konteks. Mengingat kemampuan berfikir kritis tidak tumbuh dalam suasana atau ruang hampa, maka ia memerlukan sarana atau konteks. Dalam hal ini, konteks dimaksud dapat berupa aktivitas pemecahan masalah. Dalam makalah ini akan dieksplorasi mengenai hubungan antara pemecahan masalah dan berpikir kritis ditinjau dari berbagai aspeknya.
MODEL PEMBELAJARAN KONFLIK KOGNITIF UNTUK MENGATASI MISKONSEPSI PADA MAHASISWA TADRIS FISIKA PROGRAM KUALIFIKASI S.1 GURU MADRASAH
Salah satu faktor umum penyebab rendahnya hasil belajar Fisika yang dicapai siswa adalah terjadinya kesalah- an konsep (miskonsepsi) pada diri siswa. Prakonsepsi atau prior knowladge siswa atas konsep Fisika yang dibangun oleh siswa itu sendiri melalui belajar informal dalam upaya memberikan makna atas pengalaman meraka sehari-hari mempunyai peran yang sangat besar dalam pembentukan konsepsi ilmiah.Miskonsepsi atau salah konsep menunjuk pada suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para pakar dalam bidang itu. Miskonsepsi banyak terjadi pada Fisika khususnya bidang Mekanika. Hal ini pula yang terjadi pada mahasiswa Tad- ris Fisika program Kualifikasi S.1 Guru Madrasah.Untuk mengatasi miskonsepsi mahasiswa tersebut, salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah Model Pembelajaran Konflik Kognitif, yakni model pembelajaran di mana mahasiswa dihadapkan pada per- tentangan antara prakonsepsi yang telah dimiliki dengan konsep ilmiah yang sebenarnya, sehingga mahasiswa akan menyadari kekeliruannya dan mengubah atau melengkapi konsep yang dipahaminya. Model ini terdiri atas tiga fase: (1) mengidentifikasi miskonsepsi beserta latar penyebab- nya;(2) mengonfrontasikan gagasan mahasiswa (prakon- sepsi) dengan konsepsi ilmiah, dalam upaya menggoyah- kan miskonsepsi mahasiswa dan agar mahasiswa menjadi ragu terhadap kebenaran prakonsepsinya; (3) fase konflik, di mana mahasiswa menjadi mengerti dan mau mereor- ganisasi serta merestrukturisasi gagasannya yang megala- mi miskonsepsi
PEMANFAATAN MEDIA BELAJAR POWERPOINT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VII B SEMESTER 2 TAHUN 2015 SMP NEGERI 3 BANYUBIRU
Media PowerPoint adalah merupakan media belajar yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi kepada siswa. Permasalahan yang muncul adalah apakah pemanfaatan media belajar PowerPoint dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada konsep gerak. Penelitian dilakukan pada VIIB SMPN 3 Banyubiru Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 dengan dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan prestasi belajar IPA pada konsep gerak yaitu dari rata-rata nilai pada siklus I 70,33 menjadi 70,67 pada siklus I
PENINGKATKAN KETUNTASAN DAN MOTIVASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XB SEMESTER I SMA NEGERI I GUBUG MENGGUNAKAN MODUL PEMBELAJARAN PADA POKOK BAHASAN GERAK LURUS TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014
Dari data hasil belajar Fisika Pokok Bahasan Besaran dan Satuan nilai rata-rata siswa kelas XB SMA Negeri I Gubug tahun pelajaran 2013/2014 masih di bawah 6,0. Ini menunjukkan masih rendahnya ketuntasan belajar siswa kelas XB SMA Negeri I Gubug tahun pelajaran 2013/2014 Kabu- paten Grobogan tahun pelajaran 2013/2014 dimana KKM yang ditetapkan oleh Sekolah adalah 75. Proses pembelajaran dalam penelitian ini mengu- nakan modul pembelajaran fisika.Obyek penelitian ini adalah siswa kelas XB SMA Negeri I Gubug Kabupaten Grobogan tahun pelajaran 2013/2014. Data penelitian dianalisis secara teknik diskriptip. Dari analisis data penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar mengalami peningkatan dibanding sebelum menggunakan modul pembelajaran. Begitu juga un- tuk hasil belajar afektif, kognitif dan psikomotor mengalami peningkatan dalam tiap siklusnya
PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN DENGAN MODEL ROLE PLAYING BAGI SISWA XI IPA1 SEMESTER GENAP DI SMA NEGERI 1 KARANGRAYUNG TAHUN 2012/2013
Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah proses pembelajaran, seberapa besar peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dengan model role playing bagi siswa kelas XI IPA1SMA Negeri 1 Karangrayung. PTK ini ditempuh dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi peningkatan keaktifan dan hasil belajar. Nilai keaktifan siswa pada siklus I sebanyak 35 siswa (89,7%) dan siklus II sebanyak 39 siswa (100%). Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, pada siklus I sebanyak 31 siswa (79,5%) dan pada siklus II sebanyak 35 siswa (89,7%) tuntas belajar
PEMBUATAN ALAT UJI KEKENTALAN MINYAK GORENG DENGAN MENGGUNAKAN METODE VISKOSITAS STOKES UNTUK PRAKTIKUM FISIKA DASAR 1 JURUSAN TADRIS FISIKA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN IAIN WALISONGO
Penelitian ini merancang dan merealisasikan pembuatan alat uji kekentalan minyak goreng dengan metode viskositas stokes dan indeks bias.Pembuatan alat uji kekentalan minyak goreng dengan metode vis- kositas stokes terdiri dari sumber cahaya, sensor cahaya yang keluarannya diproses dengan mikrokontroler ATMega8535 dengan algoritma program kemudian hasilnya ditampilkan pada LCD (Liquid Cristal Display).Hasil penelitian ini adalah bahwa pembuatan alat uji kekentalan min- yak goreng dengan metode viskositas stokes dan indeks bias pada prak- tikum Tadris Fisika Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang sudah dapat berfungsi sesuai dengan yang diinginkan dan data nilai viskositas- nya yaitu sebesar 4,80×10-3 Ns/m2