Jurnal Teknologi Pertanian Andalas
Not a member yet
271 research outputs found
Sort by
ANALISIS FASE TUMBUH PADI KECAMATAN SUNGAI TARAB MENGGUNAKAN NDVI (NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX)
Pada daerah yang luas biasanya terdapat kesulitan dalam memantau fase tumbuh tanaman padi. Seiring dengan berkembangnya teknologi, salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk memperoleh data tersebut adalah dengan menggunakan citra satelit. Fase tumbuh tanaman padi dapat diketahui dengan menghitung indeks vegetasi berdasarkan tingkat kehijauan tanaman dengan bantuan citra MODIS menggunakan algoritma NDVI. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan persamaan dan rentang nilai NDVI untuk memprediksi tahap pertumbuhan padi di Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar. Dalam pengambilan data, pengamatan lapangan dilakukan pada lokasi dengan pixel ≥50% adalah sawah. Pengamatan dilakukan untuk validasi koordinat lokasi sampel pengamtan, kesesuaian data penggunaan lahan, umur tanaman padi, dan varietas padi. Dari hasil analisis, persamaan yang diperoleh untuk memprediksi fase tumbuh tanaman padi Kecamatan Sungai Tarab yaitu y = -0.0001011274 x2 + 0.0128987956 x + 0.3189628155 dimana nilai x adalah umur tanaman (HST) dan y adalah nilai indeks vegetasi (NDVI).  Rentang nilai NDVI berdasarkan fase tumbuh adalah fase air ≤ 0,4797; fase vegetatif 1 0,4797-0,6149; fase vegetatif 2 0,6149-0,7300; fase generatif 1 0,7300-0,6379; fase generatif 2 0,6379-0,5142 dan fase bera 0,5142-0,286
Rancang Bangun Destilator Elektrik dan Evaluasi Kinerja Destilasi Bioetanol dari Rumput Laut (Eucheuma Cottonii)
Bioethanol from seaweed is the ethanol produced from the anaerobic fermentation of seaweed with the assistance of microorganisms. A distillation process is required to separate ethanol from a mixture - the fermented bioproducts. The aims of this research are to develop a distiller equipped with a control system of temperature, evaluate the output flow rate and the content of bioethanol from seaweed (Euchemia cottonii). The desired electric distiller was developed in five main components, i.e., control system, heater, distilling tube, condenser, and a centrifugal pump. The seaweed is fermented with the starter Saccharomyces cerevisiae for 48 hours under room temperature. The fermented product is then distilled using a developed electric distiller for 6 hours; the control system worked to maintain the temperature in process, 800C. The distiller worked with an average output flow rate of 0.024 L/h. The bioethanol started to release from the system at a minute of 253 and temperature 710C. The output bioethanol had a yield of 3.3% dan 39% of alcohol content
ANALISIS MONITORING DAN KONTROL NILAI KELEMBABAN TANAH DENGAN SISTEM SMART FARMING DAN SOIL METER
Kelembaban tanah merupakan air yang tersimpan di antara pori-pori tanah. Tingkat kelembaban tanah dapat mempengaruhi tanaman maupun hasil pertanian. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis monitoring dan kontrol kelembaban tanah dengan sistem smart farming dan soil meter. Prototipe smart farming yang diusulkan adalah untuk monitoring dan kontrol melalui aplikasi mobile berbasis Blynk. Dalam hal ini, pada saat kelembaban tanah berada di bawah 40% maka alat akan mengirimkan sebuah notifikasi yang menginformasikan bahwa tanah dalam keadaan kering lalu pompa akan hidup untuk menyiram tanah tersebut. Hasil yang didapat adalah nilai selisih dari smart farming dengan soil meter dan nilai presentase kesalahan smart farming dengan soil meter untuk tiga jenis tanah berbeda yaitu mediteran, aluvial, dan humus. Penelitan ini menghasikan nilai rata-rata selisih smart farming dengan soil meter sebesar 3% dan nilai rata-rata presentase kesalahan sebesar 13% yang berarti nilai smart farming cukup mendekati nilai soil meter. Dengan prototipe sistem monitoring dan kontrol ini maka diketahui kapan sebaiknya tanaman disiram sehingga kualitas tumbuh kembang tanaman diharapkan menjadi optimal.Â
INFORMASI SPASIAL SEBARAN DAN ANALISIS KEBUTUHAN ALAT DAN MESIN PERTANIAN PRA PANEN PADI DI PROVINSI SUMATERA BARAT
Pendataan terkait sebaran alat dan mesin pertanian di lapangan menjadi hal penting guna merancang pengembangan mekanisasi pertanian.Pemanfaatan alat dan mesin pertanian di Indonesia belum optimal disebabkan oleh distribusi alat dan mesin pertanian belum merata sesuai dengan kebutuhan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa sebaran alat dan mesin pertanian di beberapa wilayah di Provinsi Sumatera barat belum merata. Masukan aspek spasial terhadap pendataan alat dan mesin pertanian sangat membantu pengambil kebijakan dalam mengambil suatu keputusan dalam rangka pengembangan mekanisasi pertanian. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran secara komprehensif melalui bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG) terhadap sebaran alat dan mesin pertanian khususnya traktor roda 2, pompa air, traktor roda 4 dan rice transplanter, melakukan analisa kebutuhan dan tingkat kejenuhan alat dan mesin pertanian serta memberikan rekomendasi terhadap program bantuan Pemerintah dalam hal pengalokasian bantuan ke kabupaten / kota di Provinsi Sumatera Barat. Penelitian dilakukan dengan cara pengambilan data sekunder ke berbagai instansi terkait kemudian melakukan pengolahan dan analisis data dengan bantuan beberapa software seperti Microsoft Excel, Arcgis, Google Earth dan Adobe Photoshop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kejenuhan traktor roda 2, pompa air, traktor roda 4 dan rice transplanter dari 19 kabupaten / kota di Provinsi Sumatera Barat adalah sebesar 24,02%. Mengacu kepada luas baku lahan sawah, indeks pertanaman padi dan tingkat kejenuhan alat dan mesin pertanian direkomendasikan 8 Kabupaten yaitu Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Tanah Datar menjadi prioritas utama untuk menerima program bantuan alat dan mesin pertanian dari Pemerintah Pusat maupun Daerah
EVALUASI PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP ANTIOKSIDAN DAN EFEK OKSIDASI PADA PRODUK KARAK KALIANG DENGAN PENAMBAHAN KULIT MANGGIS
Minangkabau memiliki khazanah pangan yang banyak, salah satunya makanan ringan karak kaliang. Karak kaliang diproduksi dengan penggorengan dengan suhu sangat tinggi dan dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah banyak. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penggorengan vakum karak kaliang yang ditambahkan antioksidan kulit manggis pada karakteristik antioksidan dan efek oksidasinya. Penggorengan vakum dilakukan pada A (suhu penggorengan biasa), B (suhu penggorengan vakum 70ËšC), C (suhu penggorengan vakum 80ËšC), D (suhu penggorengan vakum 90ËšC) dan E (suhu penggorengan vakum 100ËšC). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan suhu penggorengan karak kaliak menunjukkan berbeda tidak nyata pada asam lemak bebas dan bilangan peroksida namun berbeda nyata pada kapasitas antioksidan. Kapasitas antioksidan tertinggi terdapat pada perlakuan E (penggorengan Vakum 100oC) dan terendah pada penggorengan biasa (di atas 160oC)
FERMENTASI Aspergilus sp UNTUK PENINGKATAN RENDEMEN DAN MUTU MINYAK ATSIRI LIMBAH INDUSTRI SIRUP KALAMANSI
Orange peel is one of byproduct from the kalamansi syrup industry. Orange peel oil is stored in the oil gland of the skin (flavedo). Orange peel contains cellulose, hemicellulose, pectin and other components. Degradation carried out by biological agents such as bacteria and fungi can increase oil yield. This study aimed to determine the effect of fermentation time and the amount of inoculum on the yield of orange oil. This study consisted of two factors, namely the length of fermentation (2 days, 4 days, 6 days) and the number of inoculums (2.5%, 5%, 7.5%). The data obtained were analyzed using ANOVA and DMRT methods. The results showed that the length of fermentation time and the number of inoculums had a significant effect on the increase in yield and had no significant effect on the quality characteristics of the essential oil of kalamansi orange peel. The highest yield was obtained at 4 days fermentation with an inoculum of 7.5%
PENGEMBANGAN SISTEM PEMBERI PAKAN AYAM CERDAS BERBASIS INTERNET OF THINGS (IoT)
Pakan merupakan faktor paling utama dalam peternakan ayam yaitu untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Maka dari itu pemberian pakan yang rutin sesuai waktu dan jumlah yang ideal akan bisa membuat peternakan ayam bisa berkembang maksimal dan menguntungkan. Pemberian pakan yang dilakukan rutin akan lebih memudahkan jika ada alat otomatis yang bisa dikembangkan dalam bentuk alat pemberi pakan ayam cerdas berbasis internet of thing (IoT). Tujuan penelitian adalah rancang bangun alat pemberi pakan ayam cerdas berbasis IoT, merancang sistem kontrol alat, melakukan kalibrasi alat pemberi pakan ayam cerdas, dan manganalisis hasil kinerja alat pemberi pakan ayam cerdas berbasis IoT. Penelitian ini melakukan perancangan alat pakan ayam dikhususkan untuk ayam kampung dan jenis pakan jagung giling. Alat ini memiliki kerangka yang bahannya dari kayu dan triplek, serta sistem kontrol. Sistem kontrol terdiri dari NodeMCU ESP8266, sensor ultrasonik HCSR04, motor Servo, modul RTC, modul adaptor MB102 power supply, dan aplikasi blynk sebagai user interface dan platform IoT. Hasil kalibrasi menunjukkan kebutuhan daya alat 5,278 Watt. Kalibrasi menunjukkan secara keseluruhan sistem bekerja sempurna dengan nilai R2 sensor ultrasonik 0,9999. Hasil uji kinerja alat didapatkan persentase hasil keluaran pakan rata-rata 95,710 % dan persentase kehilangan pakan rata-rata 4,290 %. Rata-rata error hasil keluaran pakan 1,351% dan delay pemberian selama 3 detik. Persentase pakan sisa yang didapatkan selama pengujian yaitu interval 1,370%-2,283%. Pemberian pakan pada alat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan ayam kampun
PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK DAUN KELOR TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PERMEN JAHE MERAH
Jahe merah dan daun kelor merupakan bahan alami yang memiliki kadar gizi tinggi dan senyawa fitokimia yang sangat menguntungkan bagi kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi serbuk daun kelor terhadap karakteristik kimia dan aktifitas antioksidan permen jahe merah serta mengetahui konsentrasi terbaik serbuk daun kelor pada permen jahe merah kelor. Pada penelitian ini menggunakan 5 perlakuan dengan tingkatan konsentrasi serbuk daun kelor yang berbeda (0%, 1%, 2%, 3% dan 4%) dan 3 ulangan. Data yang diperoleh dilakukan analisis secara statistika menggunakan Analysis of Varian (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi serbuk daun kelor yang berbeda berpengaruh nyata terhadap kadar sakarosa, kadar gula reduksi, kadar kalsium, kandungan kalori, dan aktivitas antioksidan serta tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air dan kadar abu. Berdasarkan analisis karakteristik kimia dan aktivitas antioksidan perlakuan D (konsentrasi serbuk daun kelor 3%) merupakan produk terbaik dengan kadar antioksidan sebesar 56,49%. Karakteristik kimia seperti kadar air, kadar abu, kadar sakarosa dan kadar gula pereduksi formula permen sudah memenuhi syarat mutu permen keras menurut SNI 3547.1; 2008.Kata kunci : serbuk daun kelor, jahe merah, permen, antioksida
Pengaruh Temperatur Pengeringan serta Dimensi Biobriket Tempurung Kelapa terhadap Kualitas dan Kelayakan Ekonominya
Biobriket tempurung kelapa perlu dijamin kualitasnya serta ditentukan kelayakan ekonominya sesuai dengan standar agar dapat dipasarkan. Kualitas biobriket dapat ditentukan berdasarkan kadar air dan keretakan produk yang nilainya dipengaruhi oleh proses pengeringan. Adapun proses pengeringan dipengaruhi oleh beberapa faktor kondisi (proses) yang meliputi temperatur pengeringan dan dimensi biobriket yang dikeringkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur pengeringan dan dimensi biobriket tempurung kelapa terhadap karakteristik mekanik berupa keretakan dan kadar airnya serta untuk menentukan kelayakan ekonomi produk biobriket. Rancangan acak lengkap digunakan dalam penelitian ini dengan memperhatikan dua faktor pengaruh yang meliputi temperatur pengeringan (75ºC, 100ºC, 125ºC) dan dimensi biobriket C15 (25 mm x 25 mm × 15 mm) serta C25 (25 mm × 25 mm × 25 mm). Perbedaan temperatur pengeringan dan dimensi biobriket memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kadar air dan tingkat keretakan produk. Hasil analisis menunjukkan temperatur pengeringan dan dimensi biobriket yang menghasilkan tingkat kadar air dan keretakan memenuhi standar yaitu 75ºC untuk C15 dan 100ºC untuk C25. Pada analisis kelayakan ekonomi produksi biobriket tempurung kelapa menunjukkan usaha pada bidang ini dianggap layak atau memenuhi seluruh ketentuan yang ada
ANALISIS KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK MARGARIN YANG MEMANFAATKAN BUBUK ANGKAK SEBAGAI PEWARNA ALAMI
Margarin ialah produk pangan berupa lemak semi padat yang merupakan emulsi dengan tipe water in oil (w/o), dengan syarat mengandung lebih dari 80 % lemak. Lemak yang sering digunakan dalam pembuatan margarin adalah lemak kakao. Kelebihan penggunaan lemak kakao dalam pembuatan margarin selain mempunyai titik leleh yang tinggi, lemak kakao juga mengandung antioksidan yang tinggi. Namun, lemak kakao memiliki kelemahan pada harganya mahal sehingga perlu dicari alternatif minyak lain yang dapat digunakan sebagai campuran dalam pembuatan proses margarin. Salah satu minyak yang dapat dimanfaatkan sebagai campuran dalam pembuatan margarin adalah Virgin Coconut Oil (VCO). Penelitian ini memanfaatkan lemak kakao dan VCO sebagai bahan baku margarin. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis nilai total fenol, antioksidan, lovastatin, angka lempeng total dan organoleptik margarin yang ditambahkan bubuk angkak sebagai pewarna alami. Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan 5 taraf dan 3 kali ulangan digunakan sebagai rancangan penelitian. Â Hasil penelitian menunjukkan penambahan bubuk angkak memberikan pengaruh terhadap nilai aktivitas antioksidan, total fenol, nilai angka lempeng total dan organoleptik. Penambahan bubuk angkak 4 % merupakan perlakuan yang terbaik dan paling disukai oleh panelis berdasarkan penilaian organoleptik dengan nilai aktivitas antioksidan 52,48 %, nilai total fenol sebesar 3,20 %; angka lempeng total 7,8 x 102 dan nilai lovastatin sebesar 1,68 ppm