Jurnal Teknologi Pertanian Andalas
Not a member yet
271 research outputs found
Sort by
PENGARUH PROSES PENGOLAHAN TERHADAP STABILITAS DARI WARNA MI DENGAN PEWARNA KULIT BUAH NAGA (Hylocereus polyrhizus)
Noodles are a food that all groups love. Many noodles sold in the community use natural dyes, although many still use synthetic dyes. This condition can be seen by the public starting to understand the importance of maintaining health, especially food coloring, so many noodles in circulation use natural coloring. Natural dyes are safe to use and have functional properties that are not available from artificial dyes, but have the weakness of being easily damaged during processing, especially at high temperatures. Generally, processed noodles use high temperatures in the process. Therefore, this research aims to identify the noodle processing process that causes the greatest damage to the color quality of the noodles produced. This research used a Completely Randomized Design with four treatments: boiling, steaming, steaming and drying, and steaming and frying. Noodle dough was used as a control in the treatment. This research used three replications. Observations were made on antioxidant activity, polyphenol, anthocyanin, betacyanin, and color quality. Based on this research, the noodle processing that provides the best colour quality is the steaming treatment with antioxidant activity of 21.69%, polyphenol content of 34.99 mg GAE/100 g, anthocyanin content of 40.72 mg/100, betacyanin content of 39.25 mg/100, and colour L* = 45.73, a* = 13.54 and b* = 9.86.Mi merupakan makanan yang digemari oleh semua kalangan. Mi yang dijual di masyarakat sudah banyak yang menggunakan pewarna alami walaupun masih banyak yang menggunakan pewarna sintetis. Kondisi ini sudah terlihat masyarakat sudah mulai mengerti tentang pentingnya menjaga kesehatan terutama pada pewarna makanan, sehingga sudah banyak mi yang beredar menggunakan pewarna alami. Pewarna alami aman untuk digunakan dan punya sifat fungsional yang tidak didapatkan dari pewarna buatan, namun memiliki kelemahan gampang mengalami kerusakan dalam pengolahan terutama pada suhu tinggi. Umumnya olahan mi ini menggunakan suhu tinggi dalam prosesnya. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses pengolahan mi yang memberi kerusakan paling tinggi pada kualitas warna mi yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan yaitu perebusan, pengukusan, pengukusan dan pengeringan serta pengukusan dan penggorengan. Adonan mi digunakan sebagai kontrol dalam perlakuan. Penelitian ini menggunakan ulangan 3 kali. Pengamatan yang dilakukan kadar aktivitas antioksidan, kadar polifenol, kandungan antosianin, kandungan betasianin dan kualitas warna. Berdasarkan penelitian ini pengolahan mi yang memberikan kualitas warna terbaik adalah pada perlakuan pengukusan dengan aktivitas antioksidan 21.69%, kadar polifenol 34.99 mg GAE/100 g, kadar antosianin 40.72 mg/100, kadar betasianin 39.25 mg/100, dan warna L* = 45.73, a* = 13.54 dan b* = 9.86
PEMANFAATAN HIDROSOL SERAI DAPUR (Cymbopogon citratus) SEBAGAI HAND SANITIZER GEL
Hidrosol serai dapur merupakan hasil samping dari proses penyulingan minyak atsiri serai dapur. Hidrosol serai dapur mengandung senyawa antibakteri yang dapat digunakan dalam pembuatan hand sanitizer. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbandingan hidrosol serai dapur dan akuades terhadap karakteristik fisikokimia, daya hambat bakteri dan hedonik hand sanitizer gel. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal dengan lima perlakuan perbandingan hidrosol serai dapur dan akuades yaitu P1 (0%:50%), P2(12,5%:37,5%), P3(25%:25%), P4(37,5%:12,5%), dan P5(50%:0), dengan tiga pengulangan. Parameter pengujian meliputi karakteristik fisikokimia (daya sebar, densitas, homogenitas, waktu kering, dan pH), daya hambat bakteri, dan hedonik (aroma, warna, dan tekstur). Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA, jika terdapat pengaruh berbeda nyata dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf kesalahan 5%. Hasil pengujian menunjukan berpengaruh nyata terhadap waktu kering dan pH dan tidak berpengaruh nyata pada daya sebar, densitas dan uji hedonik. Seluruh perlakuan menghasilkan gel yang tidak homogen terdapat butiran kasar pada semua perlakuan. Formulasi terbaik terdapat pada perlakuan P5 dengan daya hambat yaitu 22,55 mm, waktu kering yaitu 77,15 detik, daya sebar yaitu 5,96 cm dan nilai pH sebesar 6,95 telah memenuhi standar SNI
IDENTIFIKASI PREFERENSI KONSUMEN DAN PEMETAAN MODEL BISNIS UNTUK INDUSTRI TEH HIJAU
Teh merupakan minuman yang terkenal di seluruh belahan dunia. PT Mitra Kerinci merupakan perusahaan yang memiliki perkebunan dengan luas 2.025 Ha dan kapasitas produksi per hari sebesar 60 ton daun teh. Hasil produksi ini dibagi menjadi teh hijau biasa dan teh spesial. Berdasarkan data penjualan PT Mitra Kerinci pada tahun 2023, penyerapan produk teh spesial Likicha hanya sebesar 38% dari total produksi selama satu tahun. Hal ini menjadi masalah yang perlu diatasi dengan mengetahui preferensi konsumen terhadap teh hijau sebagai upaya meningkatkan volume penjualan. Oleh karena itu, preferensi konsumen terhadap produk teh hijau akan dianalisis dengan menggunakan metode Partial Least Square Structural Equation Modelling (PLS-SEM) dan pemetaan model bisnis industri teh hijau dengan metode Business Model Canvas (BMC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi niat beli konsumen terhadap teh hijau adalah manfaat kesehatan, atribut kemasan produk, dan harga produk melalui persepsi kualitas dan persepsi nilai sebagai variabel pendukung. Pemetaan model bisnis industri teh hijau disusun melalui sembilan elemen dalam BMC sehingga diketahui kondisi internal dan eksternal perusahaan yang menjadi kekuatan dan kelemahan industri. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan untuk pengembangan produk teh hijau melalui peningkatan volume penjualan dan daya serap pasar
ANALISIS PENAMBAHAN KONSENTRASI MINYAK LENGKUAS (Alpinia galanga L.) DALAM PEMBUATAN LOSION PENOLAK NYAMUK
Salah satu jenis penyakit tropis yang masih sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia adalah demam berdarah. Pemakaian sediaan losion penolak nyamuk adalah salah satu cara masyarakat dapat mencegah penyakit ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas losion penolak nyamuk dengan penambahan minyak atsiri lengkuas (Alpinia galanga L.). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan kosentrasi penambahan minyak lengkuas sebesar 5%, 10%, dan 15%. Sediaan losion yang dihasilkan dilakukan pengujian sifat fisik, organoleptik, dan efektivitas. Hasil pengujian sifat fisik yang didapatkan menunjukkan bahwa semua formulasi sediaan losion memiliki sifat yang homogen, dengan nilai pH berkisar 6,40-5,97 yang berarti asam, dengan nilai daya sebar tertinggi sebesar 6,12 cm, dan tidak menimbulkan iritasi. Pengujian organoleptik yang dilakukan selama 14 hari menunjukkan bahwa hanya terjadi perubahan tekstur pada formulasi F2 dan F3. Sediaan losion penolak nyamuk yang memiliki efektivitas atau daya proteksi tertinggi adalah formulai F3 dengan rata-rata efektivitas sebesar 72,13% selama 6 jam. Berdasarkan ANOVA, perbedaan penambahan konsentrasi minyak lengkuas tidak berpengaruh terhadap homogenitas dan iritasi. Namun berpengaruh terhadap pH, daya sebar, dan efektivitas sediaan losion
RANCANG BANGUN SISTEM IRIGASI TETES BERBASIS ARDUINO UNO PADA TANAMAN CABAI
Irigasi tetes merupakan metode pemberian air yang efisien untuk memenuhi kebutuhan tanaman, namun penggunaan sistem manual masih memerlukan banyak tenaga dan waktu. Oleh karena itu, diperlukan inovasi berupa sistem otomatisasi irigasi tetes berbasis teknologi untuk meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan air. Penelitian ini bertujuan untuk merancang, membangun, dan menguji sistem otomatisasi irigasi tetes berbasis Arduino yang diintegrasikan dengan timer untuk mengatur waktu penyiraman secara otomatis. Metode penelitian meliputi beberapa tahapan, yaitu perancangan sistem, implementasi, pengujian, dan analisis data. Pada tahap pengujian, sistem diuji menggunakan 10 dripper pada setiap bedengan dengan debit rata-rata 15,95 ml/menit. Sistem diaplikasikan pada tiga bedengan dengan panjang pipa 3 meter per bedengan, dan setiap bedengan terdiri atas 10 tanaman. Untuk mendukung sistem ini, digunakan tandon air dengan kapasitas 250 liter sebagai sumber air utama. Analisis data menunjukkan bahwa debit air yang dihasilkan oleh sistem memiliki standar deviasi sebesar 0,87 ml/menit, dan koefisien keseragaman (CU) mencapai 96%, yang menunjukkan distribusi air yang sangat merata pada setiap tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem otomatisasi irigasi tetes berbasis Arduino ini mampu meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga kerja, sekaligus memberikan distribusi air yang seragam pada tanaman. Dengan demikian, sistem ini memiliki potensi untuk diterapkan secara luas pada pertanian skala kecil hingga menengah, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya airKata kunci : irigasi, Arduino, otomatisasi, efesiensi air, budidaya cabaiÂ
PEMILIHAN FREKUENSI ULTRASONIK YANG OPTIMAL UNTUK PERANCANGAN PROTOTIPE PENGUSIR HAMA TIKUS DI LAHAN SAWAH
Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan salah satu hama utama tanaman padi yang menyebabkan kerugian signifikan bagi petani di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulanginya, seperti cara mekanis dan biologis. Namun kinerjanya belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemilihan frekuensi dalam rancang bangun prototipe alat pengusir hama tikus di lahan sawah menggunakan gelombang ultrasonik sebagai alternatif pengendalian yang ramah lingkungan. Sistem prototipe dirancang menggunakan mikrokontroler Arduino Uno R3 sebagai pusat kendali, sensor ultrasonik HC-SR04 untuk deteksi gerakan, dan buzzer sebagai pemancar frekuensi ultrasonik. Pengujian dilakukan dengan variasi frekuensi 40, 50, dan 60 kHz dengan lama pemaparan 15 dan 30 menit untuk menilai pengaruhnya terhadap perilaku tikus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam dua durasi pemaparan yang berbeda, frekuensi 50 kHz memberikan dampak paling signifikan terhadap perilaku tikus, yang ditunjukkan dengan respon kebingungan dan diam di tempat. Prototipe ini berhasil berfungsi sesuai dengan rancangan dan menunjukkan potensi sebagai solusi pengendalian hama tikus yang lebih aman. Penelitian ini diharapkan dapat membantu petani dalam menurunkan populasi tikus sawah serta mengurangi kerugian hasil panen
PREDIKSI TINGKAT KEMATANGAN TANDAN BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT BERBASIS SIFAT OPTIS
Kelapa Sawit sebagai sumber utama minyak nabati yang memiliki potensi yang cukup besar dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan sosial bagi masyarakat. Keberhasilan dari produksi minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh kualitas Tandan Buah Segar (TBS) yang akan diolah. TBS Sawit yang memiliki kualitas yang sesuai standar akan menghasilkan minyak sawit yang berkualitas. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas minyak sawit adalah penentuan tingkat kematangan TBS Sawit sebelum memasuki pengolahan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi kematangan TBS sawit saat grading pada loading ramp berdasarkan sifat optis TBS Sawit. Penentuan tingkat kematangan berdasarkan sifat optis saat grading dilakukan dengan menggunakan metode k-means clustering. Penentuan berdasarkan sifat optis berupa nilai warna RGB dan HSV. Nilai RGB pada TBS sawit mentah didapatkan sebesar 82,790; 67,114 dan 62,530 sedangkan TBS sawit matang sebesar 131,381; 84,633 dan 72,137. Sedangkan nilai warna HSV pada TBS sawit mentah sebesar 68,118; 24,375 dan 32,516 dan TBS matang sebesar 25,583; 44,723 dan 51,522. Hasil yang diperoleh didapatkan seluruh komponen warna memiliki pengaruh terhadap penentuan kematangan TBS sawit. Hal ini dibuktikan dengan nilai sigfikansi kurang dari 0,05. Pengujian dari penentuan Tingkat kematangan TBS sawit menghasilkan akurasi 86 % dengan Tingkat kesalahan sebesar 14 %
WATER RESILIENCE ASSESSMENT DI HULU DAS BATANG ARAU: ANALISIS KESEIMBANGAN SUPPLY – DEMAND BERBASIS PEMODELAN SWAT
Perubahan iklim dan aktivitas antropogenik menyebabkan tekanan signifikan terhadap sumber daya air, mempengaruhi keseimbangan ketersediaan dan kebutuhan air di berbagai daerah aliran sungai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi ketahanan sumber daya air (water resilience) di hulu DAS Batang Arau, Kota Padang dengan menggunakan pendekatan terpadu berbasis pemodelan hidrologi SWAT dan analisis Reliability, Resilience, Vulnerability (RRV). Metode penelitian meliputi: (1) karakterisasi morfometri DAS dengan menganalisis 19 parameter morfometri; (2) pemodelan SWAT dengan kalibrasi-validasi yang menghasilkan nilai performa bervariasi (R² = 0,54-0,97) dan sangat baik (NSE = 0,79-0,89); (3) analisis keseimbangan supply-demand; serta (4) evaluasi ketahanan air dengan pendekatan RRV. Hasil analisis morfometri menunjukkan DAS memiliki bentuk memanjang (Form Factor 0,25) dengan kerapatan drainase sedang (1,40 km/km²). Pemodelan SWAT menghasilkan debit andalan Q80 sebesar 1,51 m³/s yang masih mencukupi total kebutuhan air 0,63 m³/s (domestik 0,0234 m³/s; pertanian 0,4252 m³/s; industri 0,1811 m³/s), dengan Water Availability Ratio (WAR) 1,427. Analisis RRV menghasilkan Indeks Keberlanjutan DAS (IKDAS) sebesar 0,85 (sangat baik), didukung oleh keandalan tinggi (1,0), ketahanan baik (0,84) dengan tutupan hutan 87,9%, namun masih menghadapi kerentanan signifikan (0,65) terutama akibat tingkat erosi tinggi (385,6 ton/ha/tahun) dan area rawan banjir (34,63%). Rekomendasi pengelolaan meliputi teknik konservasi tanah-air, sistem peringatan dini banjir, perluasan zona riparian, dan penguatan kelembagaan pengelolaan kolaboratif untuk mengintegrasikan kepentingan berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan RRV terbukti efektif untuk evaluasi komprehensif kondisi DAS dan perumusan prioritas intervensi strategis
PENGARUH KONSENTRASI KATALIS TERHADAP RENDEMEN DAN KARAKTERISTIK FURFURAL DARI SABUT KELAPA: The Effect Of Catalyst Concentration on The Yield and Characteristics of Furfural from Coconut Husks
The use of coconuts produces agricultural waste such as coconut fiber. Immature coconut fiber and mature coconut fiber are lignocellulosic materials that can still be utilized, one of which is by processing them into furfural. Furfural is a clear liquid with a distinctive almond aroma that is widely used as an additive by the chemical industry. The purpose of this study was to determine the effect of the level of coconut fiber maturity with various catalyst concentrations and differences in reaction time on furfural yield. This study used two samples: mature coconut fiber and immature coconut fiber. The concentration variations used were 10%, 12%, and 14%. The time variations used were 20 and 30 minutes. From the results, it can be seen that the concentration, reaction time and type of raw material showed no significant effect on furfural yield. Young coconut fiber produced a higher yield than mature coconut fiber.Pemanfaatan buah kelapa menyisakan limbah hasil pertanian berupa sabut kelapa. Sabut kelapa muda dan sabut kelapa tua merupakan bahan berlignoselulosa yang masih dapat dimanfaaatkan, salah satunya adalah dengan mengolahnya menjadi furfural. Furfural merupakan cairan bening dengan aoma khas almond yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan tambahan oleh industri kimia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat kematangan sabut kelapa dengan berbagai konsentrasi katalis dan perbedaan waktu reaksi terhadap rendemen furfural. Penelitian ini menggunakan dua sampel yaitu sabut kelapa tua dan sabut kelapa muda. Variasi konsentrasi yang digunakan adalah 10%, 12%, dan 14%. Variasi waktu yang digunakan adalah 20 dan 30 menit. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa konsentrasi, waktu reaksi dan jenis bahan baku menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen furfural. Sabut kelapa muda menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan sabut kelapa tua
SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC) FROM NATA DE COCO USING SODIUM MONOCHLOROACETATE AS AN AGENT IN THE CARBOXYMETHYLATION PROCESS
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik karboksimetil selulosa (CMC) yang disintesis dari selulosa nata de coco dengan variasi konsentrasi natrium monokloroasetat (NMA). Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, kadar garam sisa (NaCl), derajat substitusi (DS), kelarutan dalam air, viskositas larutan, serta identifikasi gugus fungsi dengan spektroskopi FTIR. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan penambahan NMA menghasilkan kenaikan nilai DS secara signifikan, yang berkorelasi positif dengan peningkatan kelarutan dan viskositas larutan. CMC dengan penambahan NMA 9 g menunjukkan nilai rata-rata kadar air 3,73%, nilai derajat substitusi 0,70, kadar NaCl 1,35%, kemurnian CMC 96,80%, viskositas CMC 31,20 cPs, dan nilai pH 6,84. Spektrum FTIR menunjukkan keberhasilan substitusi gugus karboksimetil yang ditandai dengan kemunculan pita khas pada bilangan gelombang 1594 cm⁻¹ dan 1421 cm⁻¹. Hasil ini menunjukkan bahwa selulosa dari nata de coco dapat dimanfaatkan secara efektif untuk menghasilkan CMC dengan karakteristik fungsional yang kompetitif.
Kata kunci— karboksimetilselulosa, natrium monokloroasetat, selulosa bakterial, nata de coco