Jurnal Teknologi Pertanian Andalas
Not a member yet
271 research outputs found
Sort by
ANALISIS SUMBER MOLEKUL, PENYEBAB KONTAMINASI DAN PENANGGULANGAN RESIDU PESTISIDA PADA KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) DI PROVINSI JAMBI DAN SUMATERA BARAT
This study aims to analyze the types of dominant contaminant molecules, identify the factors causing contamination, compare pesticide residue characteristics between regions, examine the relationship between residues and cultivation or processing practices, and formulate mitigation strategies for pesticide residues in cinnamon (Cinnamomum burmannii) commodities in Jambi and West Sumatra Provinces. The analysis revealed seven dominantly detected contaminant molecules, namely phenylphenol 2-, propamocarb, chlorpyrifos, fipronil, fipronil (sum), isoprocarb, and diethyl-m-toluamide (DEET), each with a detection frequency above five percent. These molecules are suspected to originate from pesticide applications, environmental pollution, and human activities. Statistical analysis using the Mann-Whitney U Test showed that 12 molecules had significantly higher residue levels in samples from West Sumatra compared to Jambi (p < 0.05), including ametryn, anthraquinone, carbofuran and its fractions, ethion, ethylene oxide, griseofulvin, nicotine, propamocarb, chlorpyrifos, DEET, and isoprocarb, indicating a clear regional difference. Jambi samples classified as high-grade had lower residues, reflecting that high quality can be achieved through sustainable farming practices such as integrated pest management and natural drying, rather than intensive chemical treatments. These findings suggest a negative correlation between visual quality and residue levels. Recommended mitigation strategies include the application of IPM, farmer education, post-harvest washing and drying, and environmental remediation. The 2021–2025 trend shows residue fluctuations peaking in 2023 before declining, highlighting the importance of regular monitoring. This research provides a scientific basis to support food safety, sustainable production, and enhance the export competitiveness of Indonesian cinnamon
Keywords- pesticide residues; cinnamon; cinnamomum burmannii; Jambi; West SumatraPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis molekul kontaminan dominan, mengidentifikasi faktor penyebab kontaminasi, membandingkan karakteristik residu pestisida antar wilayah, mengkaji keterkaitan antara residu dengan praktik budidaya dan pengolahan, serta merumuskan strategi penanggulangan residu pestisida pada komoditas kayu manis (Cinnamomum burmannii) di Provinsi Jambi dan Sumatera Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat tujuh molekul kontaminan yang terdeteksi secara dominan, yaitu phenylphenol 2-, propamocarb, chlorpyrifos, fipronil, fipronil (sum), isoprocarb, serta diethyl-m-toluamide (DEET), dengan frekuensi deteksi lebih dari lima persen. Molekul-molekul tersebut diduga berasal dari aplikasi pestisida, pencemaran lingkungan, dan aktivitas manusia. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney U Test menunjukkan bahwa 12 molekul memiliki kadar residu yang secara signifikan lebih tinggi pada sampel dari Sumatera Barat dibandingkan Jambi (p < 0,05), di antaranya ametryn, anthraquinone, carbofuran dan fraksinya, ethion, ethylene oxide, griseofulvin, nicotine, propamocarb, chlorpyrifos, DEET, dan isoprocarb. Hal ini menandakan adanya perbedaan nyata antar wilayah. Sampel Jambi yang termasuk kategori high grade menunjukkan residu lebih rendah, mencerminkan bahwa mutu tinggi dapat dicapai melalui praktik budidaya berkelanjutan seperti pengendalian hama terpadu dan pengeringan alami, bukan perlakuan kimiawi intensif. Temuan ini menunjukkan adanya korelasi negatif antara mutu visual dan kadar residu. Strategi penanggulangan yang direkomendasikan mencakup penerapan PHT, edukasi petani, pencucian dan pengeringan pascapanen, serta remediasi lingkungan. Tren 2021–2025 menunjukkan fluktuasi residu dengan puncak pada 2023 yang kemudian menurun, menggarisbawahi pentingnya pemantauan berkala. Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk mendukung keamanan pangan, keberlanjutan produksi, dan peningkatan daya saing ekspor kayu manis Indonesia.
Kata kunci- residu pestisida; kayu manis; cinnamomum burmannii; Jambi; Sumatera Bara
PERAN HAND TRAKTOR DALAM MENDUKUNG OPTIMALISASI LAHAN RAWA DI DESA TAPUS, KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR: PERAN HAND TRAKTOR DALAM MENDUKUNG OPTIMALISASI LAHAN RAWA
The use of swampland faces various challenges, such as flooded soil conditions, high acidity levels, and limited access to agricultural facilities and infrastructure. One of the solutions to overcome these challenges is the modernization of agricultural tools and machinery (alsintan), especially the use of hand tractors as an efficient soil tillage tool and in accordance with the characteristics of swampland. Tapus Village is one of the administrative areas located in Pampangan District, Ogan Komering Ilir Regency, South Sumatra Province. Tapus Village already has agricultural tools and machinery in the form of hand tractors that are quite adequate, but their use is still not optimal. The purpose of this study is to determine the role and strategy in optimizing hand tractor agricultural tools and machinery to support the management of swampland (OPLA) in Ogan Komering Ilir Regency in a more optimal and sustainable manner. In this study, methods were used in the form of literature study, gap analysis, SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat) analysis, conducting needs and opportunities studies (KKP) and conducting observations and deep interviews with resource persons using questionnaires. The results of the study show that the optimization strategy of Alsintan hand tractor to support OPLA in Tapus Village can be carried out through the empowerment of farmers through training, socialization, and education on the use and maintenance of hand tractors, increasing the capacity of special operators, utilizing Alsintan hand tractors that are available, increasing UPJA and Alsintan workshops in Tapus Village. It is hoped that the results of this research can support the sustainability of the implementation of the strategy so that it can be carried out efficiently and effectively.Pemanfaatan lahan rawa menghadapi berbagai tantangan, seperti kondisi tanah yang tergenang, tingkat keasaman yang tinggi, serta keterbatasan dalam akses sarana dan prasarana pertanian. Salah satu solusi untuk mengatasi tantangan tersebut adalah dengan modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya penggunaan hand traktor sebagai alat pengolahan tanah yang efisien dan sesuai dengan karakteristik lahan rawa. Desa Tapus adalah salah satu wilayah administratif yang berada di Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Desa Tapus telah memiliki alat dan mesin pertanian berupa hand traktor yang tergolong memadai, namun pemanfaatannya masih belum optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan peran dan strategi dalam pengoptimalisasian alat dan mesin pertanian hand traktor guna mendukung pengelolaan lahan rawa (OPLA) di Kabupaten Ogan Komering Ilir secara lebih optimal dan berkelanjutan. Dalam penelitian ini digunakan metode berupa studi pustaka (study literature), analisis kesenjangan (gap analysis), analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat), melakukan kajian kebutuhan dan peluang (KKP) serta melakukan observasi dan wawancara mendalam (deep interview) dengan narasumber menggunakan bantuan kuisioner. Hasil dari penelitian menunjukkan strategi optimalisasi Alsintan hand traktor untuk mendukung OPLA di Desa Tapus dapat dilakukan melalui pemberdayaan petani melalui pelatihan, sosialisasi, dan edukasi pemanfaatan dan perawatan hand traktor, peningkatan kapasitas operator khusus, pemanfatan Alsintan hand traktor yang telah tersedia, peningkatan UPJA dan bengkel Alsintan yang ada di Desa Tapus. Diharapkan hasil penelitian ini dapat mendukung keberlanjutan implementasi strategi agar dapat terlaksana secara efisien dan efektif
Karakteristik Fisik Media Tanam dari Limbah Kerajinan Bambu dan Pelepah Aren dengan Pencampuran Cocopeat Sebagai Media Tanam Hidroponik
The growing medium should have good water-holding capacity as it is essential for root growth. Roots need water to absorb nutrients and oxygen from the growing medium. Too much water can cause the roots to rot, while too little water can cause the roots to dry and die. Plants also absorb nutrients from the growing media through water. It is important to know the physical characteristics of planting media from organic waste from bamboo crafts and aren fronds as hydroponic growing media. The addition of cocopeat as a component of growing media offers a number of significant advantages, this is because cocopeat has an exceptional ability to retain water, which is essential for maintaining consistent moisture around plant roots. In addition, the porous structure of cocopeat improves aeration, allowing oxygen to reach the roots and preventing root rot. The slightly acidic to neutral pH properties of cocopeat (pH 5.0-6.8) are also ideal for most plants, creating an environment conducive to nutrient absorption. The results obtained physical characteristics of bamboo craft waste and palm fronds by adding cocopeat as a hydroponic growing medium have water content, bulk density, porosity and water holding capacity (WHC) values respectively 81.81%, 0.189 gr/cm3, 74.6%, and 450% for bamboo craft waste and 102.34%, 0.176 gr/cm3, 68.7% and 622% for palm fronds. Based on these results, it can be concluded that bamboo craft waste and palm fronds with the addition of cocopeat have high water content and are good for plant growth
Analisis Variasi Ketinggian Penyiraman Kabut Menggunakan Nozzle Terhadap Pertumbuhan Persemaian Tanaman Sawi Hijau ( Brassica juncea L)
The success rate in the seedling process is ofte hampered by inappropriate watering, which can cause the seedlings to rot and die. To overcome this problem, an efficient watering system with a high degree of precision is required. Mist irrigation is one of the appropriate methods because micro-sized water droplets are sprayed to maintain air humidity and reduce the rate of transpiration. This study aims to optimize the application of mist irrigation by evaluating the effect of nozzle height variations on plant growth. Using an experimental method, the variations included nozzle heights of 20 cm, 25 cm, and 30 cm. The parameters measured in this study included water discharge, plant height, number of leaves, and leaf area. The results showed that a watering height of 25 cm produced the best plant growth. The results of this study show that specific adjustment of the nozzle height is very important for improving the efficiency of mist irrigation in the seedling process.
Keywords: mist irrigation, seedling, green mustardTingkat keberhasilan dalam proses persemaian sering kali terhambat oleh pemberian air yang tidak sesuai, sehingga dapat menyebabkan bibit busuk dan mati. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan sistem penyiraman yang efisien dan memilili tingkat presisi yang tinggi. Irigasi kabut merupakan salah satu metode yang tepat karena tetesan air berukuran mikro disemprotkan untuk menjaga kelembaban udara dan mengurangi laju transpirasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan aplikasi irigasi kabut dengan mengevaluasi pengaruh variasi ketinggian nozzle terhadap pertumbuhan tanaman. Dengan menggunakan metode eksperimental, variasi yang dilakukan meliputi ketinggian nozzle dengan variasi (20 cm, 25 cm, dan 30 cm). Parameter yang diukur pada penelitian ini meliputi debit air, tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian penyiraman 25 cm menghasilkan pertumbuhan tanaman yang paling baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyesuaian ketinggian nozzle secara spesifik sangat penting untuk meningkatkan efisiensi irigasi kabut dalam proses persemaian.
Kata kunci: irigasi kabut, persemaian, sawi hija
PENGARUH SUHU PENGERINGAN DENGAN FOOD DEHIDRATOR TERHADAP KADAR PROKSIMAT DAN TANIN TEPUNG BIJI ALPUKAT (Persia americana Mill.)
Pada umumnya untuk memperoleh khasiat yang terdapat pada biji alpukat (Persea americana Mill) dilakukan dengan cara mengiris biji alpukat dan merebusnya. Air rebusan yang diperoleh dengan warna kecoklatan kemudian disaring dan air hasil penyaringan tersebut diminum sebagai obat dengan rasa pahit, dan sisa bijinya hanya memiliki daya simpan berkisar dua sampai 3 hari. Untuk mempertahankan nutrisi yang diinginkan, dan untuk menikmati biji alpukat dengan segala khasiatnya dalam bentuk yang berbeda dan tanpa rasa pahit, maka dilakukan pengolahan biji alpukat menjadi Tepung Biji Alpukat (TBA) dengan metode teknologi pengeringan. Metode eksperimen pengeringan dilakukan dengan menggunakan food dehydrator dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan suhu pengeringan yaitu : 50oC, 60oC, 70oC dan 80oC dengan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati adalah kadar kadar proksimat dan tanin. Analisa data dilakukan dengan mengunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan suhu pengeringan yang tepat pada proses pembuatan TBA dengan menggunakan food dehydrator terhadap kualitas dari TBA yang dihasilkan. Hasil pengeringan terbaik diperoleh dengan pengeringan menggunakan food dehydratord pada suhu 80oC dengan karakteristik ; warna TBA agak kecoklatan, kadar air 5,12+0,41%, tanin 0,1900+0,0002%, kadar, protein 1,97+0,63%, lemak 2,88+0,17%, karbohidrat 87,47+0,46%, dan kadar abu 2,55+ 0,54%
APLIKASI SISTEM AQUAPONIK DENGAN HIDROPONIK DFT PADA BUDIDAYA TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.)
Akuaponik merupakan sistem budidaya terintegrasi yang mengombinasikan teknik hidroponik dengan budidaya ikan dalam ekosistem sirkulasi tertutup, di mana air limbah hasil metabolisme ikan dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi alami bagi tanaman. Berbeda dari hidroponik konvensional yang bergantung pada larutan AB mix, sistem ini menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh tiga desain sistem hidroponik DFT berbeda terhadap pertumbuhan tanaman pakcoy (Brassica rapa L.), yang dikenal bernilai ekonomis dan bergizi tinggi. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot segar tanaman. Data dianalisis menggunakan uji ANAVA satu arah pada taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan adanya perbedaan nyata antar model, di mana sistem piramida memberikan hasil terbaik dengan rata-rata tinggi tanaman 22,4 cm, jumlah daun 8,6 helai, dan bobot segar 74,8 gram. Temuan ini menunjukkan bahwa desain sistem DFT berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tanaman dalam sistem akuaponik
ANALISIS PERUBAHAN KARAKTERISTIK CURAH HUJAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP MUSIM TANAM PADI DI KECAMATAN KOTO TANGAH KOTA PADANG
Climate change affects rainfall patterns, causing shifts in the onset of seasons that impact water resource availability, thereby disrupting crop growth, yields and agricultural production. Rainfall variability, both spatially and temporally, can lead to changes in the planting and harvesting seasons of crops, which in turn affect the food security of a region. The objectives of this study were to identify rainfall characteristics in Koto Tangah District, identify the rice planting season in Koto Tangah District, and analyze the effect of changes in rainfall characteristics on the rice planting season in Koto Tangah District. The research employs a combination of quantitative and qualitative methods, presented in a descriptive and explanatory manner. The analysis to observe changes in rainfall characteristics was conducted over three periods: quarterly, semi-annualiy, and annually. The rainfall characteristics analyzed were minimun, maximum, average and total rainfall. After analyzing rainfall characteristics, changes in rainfall characteristics were integrated with the rice planting season in Koto Tangah District, Padang City. Based on the analysis results, it was conducted that there were changes in rainfall characteristics in Koto Tangah District, Padang City, however farmers did not use rainfall as the primary reference for determining the rice planting time. Koto Tangah District already has a good technical irrigation network, enabling it to provide water for rice fields throughout the year. In addition to being supported by good technical irrigation, Koto Tangah District has relatively high rainfall every year. Therefore, changes in rainfall characteristics do not affect the rice planting season in Koto Tangah District.Perubahan iklim berdampak pada perubahan pola curah hujan yang mengakibatkan pergeseran awal musim yang berpengaruh pada ketersediaan sumber daya air, sehingga pertumbuhan dan hasil panen serta produksi pertanian akan terganggu. Variabilitas curah hujan baik secara spasial maupun temporal dapat menyebabkan perubahan dalam musim tanam dan panen pada suatu tanaman, secara tidak langsung hal ini akan berpengaruh pada stabilitas pangan suatu wilayah Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi karakteristik curah hujan di Kecamatan Koto Tangah, mengidentifikasi waktu tanam padi di Kecamatan Koto Tangah, dan menganalisis pengaruh perubahan karakteristik curah hujan terhadap musim tanam padi di Kecamatan Koto Tangah. Penelitian menggunakan metode gabungan kuantitatif dan kualitatif yang disajikan secara deskriptif eksplanatori. Analisis untuk melihat perubahan karakteristik curah hujan dilakukan untuk tiga periode yaitu tiwulan, enam bulanan, dan tahunan. Karekteritik curah hujan yang dinalisis adalah CH minimum, maksimum, average, dan total. Setelah analisis karakteristik curah hujan diintegrasikan perubahan karakteristik curah hujan dengan musim tanam padi di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Berdasarkan hasil analisis, disimpulkan bahwa terjadinya perubahan karakteristik curah hujan di Kecamatan Koto Tangah Kota padang, namun petani tidak menjadikan curah hujan sebagai acuan utama dalam menentukan waktu penanaman padi. Daerah Kecamatan Koto Tangah sudah memiliki jaringan irigasi teknis yang baik, sehingga mampu menyediakan ketersediaan air sawah sepanjang tahun. Selain didukung oleh keberadaan irigasi teknis yang baik, Kecamatan Koto Tangah memiliki curah hujan yang relatif tinggi setiap tahunnya. Sehingga perubahan karakteristik hujan tidak berdampak terhadap musim tanam padi di Kecamatan Koto Tangah
OPTIMASI PRODUKSI BIOETANOL DARI SELULOSA TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS) DENGAN VARIASI JUMLAH RAGI DAN LAMA FERMENTASI
Bioetanol adalah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan dapat dihasilkan dari biomassa limbah yang mengandung selulosa, seperti tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Mengoptimalkan proses produksi bioetanol dari TKKS dapat menjadi solusi untuk pengelolaan limbah ini sekaligus menghasilkan energi terbarukan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji optimasi proses produksi bioetanol dari TKKS dengan variasi jumlah ragi dan lama fermentasi. Pengoptimalan produksi bioetanol dilakukan dengan metode Response Surface Metodholgy (RSM). Pengamatan yang dilakukan meliputi rendemen bioetanol, kadar air bioetanol, densitas bioetanol dan kadar bioetanol. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jumlah ragi dan lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap karakteristik bioetanol yang dihasilkan. Jumlah ragi dan lama waktu optimum yang diperoleh, yaitu 8,800 g selama 9,668 hari. Karakteristik bioetanol yang dihasilkan pada kondisi optimum, yaitu rendemen 13%, kadar air 87%, densitas 0,986 g/ml, kadar etanol 9,984%
STUDI KANDUNGAN FITOKIMA PADA DAUN AFRIKA (Vernonia amygdalina) SEBAGAI POTENSI SUMBER ANTIOKSIDAN
Vernonia amydalina atau daun afrika memiliki kandungan fitokimia seperti klorofil, antosianin, karotenoid, dan flavonoid yang berperan penting dalam bidang pertanian, kesehatan, dan bahkan untuk industri. Flavonoid memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai antioksidan kuat yang berperan sebagai obat dari penyakit diabetes mellitus. Aktivitas biologis antosianin juga memiliki banyak manfaat sebagai antioksidan, antihiperglikemia, dan juga aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan klorofil, flavonoid, antosianin, dan karotenoid pada daun afrika dengan tingkat pertumbuhan yang berbeda. Metode pengambilan data flavonoid yaitu dengan ekstraksi etanol pro analysis menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 415 nm. Dari klasifikasi pertumbuhan tanaman, didapatkan andungan pigmen klorofil meningkat seiring tingkat pertumbuhan daun afrika. Pada daun bagian bawah memiliki nilai total klorofil tertinggi, yaitu 0,2036 mg/g. Kandungan flavonoid, antosianin, dan karotenoid meningkat seiring dengan peningkatan klorofil pada daun. Nilai tertinggi terdapat pada daun bagian bawah dengan nilai rata-rata total untuk kandungan flavonoid sebesar 12,37 mgQE/g, antosianin sebesar 0,052 mg/g, dan karotenoid sebesar 0,0284 mg/g. Daun bagian bawah memiliki warna hijau yang lebih tua dibandingan dengan bagian atas dan tengah. Daun bagian bawah merupakan daun yang paling dewasa dan tumbuh diawal, sehingga kadar pigmen flavonoid, antosianin, dan karotenoid cukup besar di bagian ini
VARIASI PENAMBAHAN GLISEROL PADA PEMBUATAN BIOPLASTIK LIMBAH CAIR TAHU
Bioplastik meruapakan kemasan yang dapat diuraikan oleh lingkungan secara alamiah. Limbah cair tahu yang memiliki kandungan bahan organik seperti protein yang tinggi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik. Penggunaan limbah cair tahu sebagai bahan pembentuk bioplastik belum menghasilkan bioplastik dengan karakteristik yang baik. Oleh karena itu, pada produksi bioplastik diperlukan bahan penyusun lainnya, diantaranya gliserol sebagai plasticizer. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh variasi penambahan gliserol terhadap karakteristik bioplastik yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Jika terdapat perberbedaan yang nyata, maka dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple Range Test pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi penambahan gliserol berpengaruh nyata terhadap nilai kuat tarik, elongasi, elastisitas, daya serap air, dan biodegradasi bioplastik yang dihasilkan. Penambahan gliserol 7% merupakan perlakuan terbaik dengan rata-rata nilai ketebalan 0,175 mm, kuat tarik 12,2 MPa, elongasi 15,93%, elastisitas 0,76 MPa, daya serap air 52,54%, dan biodegradasi 8,26%/hari