Allemania (Journal)
Not a member yet
97 research outputs found
Sort by
ANALYSIS OF THE SITE LEARNGERMAN.DW.COM AS A LEARNING MEDIA IN MASTERING ADJEKTIVDEKLINATION MATERIAL AT LEVEL A1
Internet-based learning (e-learning) is a form of information technology that is applied in education, usually in the form of a website and has a flexible nature because it can be accessed anywhere. In the process of learning German, there are obstacles that can be encountered, one of which is the ability about Adjective declinations. Adjective declination is a part of German grammar. To overcome these obstacles, the site learngeman.dw.com was chosen for this research. The site learngerman.dw.com is a site that can be used to learn German, especially Adjective declination, through the various exercises available there. On the website there are also various themes and for users who want to learn German, they can access them freely and for free. The purpose of this research is to find out what material is available on the site, the suitability of the material with the Netzwerk A1 and Studio D A1 textbooks, and the suitability of the site with the criteria for online learning materials. The method used in this research is descriptive analysis which consists of the process of collecting, compiling, and describing the data used as a reference to draw conclusions from the formulation of the research problem. The results of this research indicate that there are 3 Adjective declination materials or themes on the learngerman.dw.com site, and based on these 3 themes, there is a match of 1 theme with the Netzwerk A1 textbook and 2 themes with the Studio D A1 textbook. It can be said that this site almost meets all the criteria for online learning materials based on the Kriterienkatalog für Internet-Lernmaterial Deutsch als Fremdsprache. A1-level German learners who want to learn or improve their skills in Adjective declination can practice using this site through the various exercises there.Keywords: Adjective declination, Kriterienkatalog für Internet-Lernmaterial Deutsch als Fremdsprache, learning media, Netzwerk A1, site learngerman.dw.com, Studio D A
COMPARATIVE ANALYSIS OF CHARACTER AND MORAL FORM IN ASCHENPUTTEL AND ANDE-ANDE LUMUT FAIRY TALES
This research was conducted to discover the similarities and differences between the fairy tales Aschenputtel and Ande-Ande Lumut, one of which is the character and moral lesson. The moral messages in the fairy tales can be used as lessons for life. The purpose of this study is to describe the moral messages and the similarities and differences between the fairy tales. The methods used are descriptive qualitative and objective research with a comparative literature method. This research's stages of data analysis are collecting similarities and differences, compiling data according to their types, and comparing them in tables, which are then described to draw conclusions based on the analyzed data. Based on the results of the data analysis, it can be concluded that: 1) The moral messages contained in Aschenputtel fairy tale are good and bad morals. 2) The moral messages contained in Ande-Ande Lumut fairy tale are good and bad morals. 3) There are similarities and differences in characterization in both fairy tales. At the same time, there is a moral lesson in both fairy tales, namely the value of morality with oneself, fellow human beings, and God. The difference in moral lessons lies in the value of morality towards nature. Based on the research results, it can be concluded that the two fairy tales have differences in their intercultural aspects.Keywords: Ande-Ande Lumut, Aschenputtel, Characterization, Fairy tale, Moral
ANALISIS PERWATAKAN TOKOH SAMUEL DALAM ROMAN KEIN WORT ZU NIEMANDEM KARYA JANA FREY
Penelitian mengenai perwatakan tokoh utama dalam sebuah karya sastra dilakukan untuk membuktikan bahwa keberadaan tokoh utama merupakan unsur penting dalam sebuah karya sastra yang memiliki banyak perubahan dan perkembangan sepanjang berjalannya cerita. Perubahan dan perkembangan tokoh utama dalam karya sastra dipengaruhi oleh banyak faktor seperti faktor biologis, faktor psikologis dan faktor lingkungan sosial yang mempengaruhi penggambaran watak tokoh yang terdapat dalam cerita. Penggambaran watak tokoh yang tidak jelas membuat pembaca sulit untuk memahami alur cerita. Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan sebuah penelitian tentang analisis perwatakan tokoh Samuel dalam roman Kein Wort zu niemandem karya Jana Frey. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perwatakan tokoh Samuel dalam roman Kein Wort zu niemandem, serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perwatakan tokoh Samuel. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan mendeskripsikan perwatakan tokoh Samuel yang terdapat dalam roman Kein Wort zu niemandem menggunakan teori tipologi kepribadian Heymans (2007) terdiri dari emosionalitas, proses pengiring dan aktivitas, serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perwatakan tokoh menggunakan teori Marquaß (2002) yang terdiri dari karakterisasi tokoh, konsepsi tokoh dan konstelasi tokoh. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka dan teknik catat. Tahapan analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data berupa sekuen cerita, kemudian mencatat dan mengklasifikasi data sesuai rumusan masalah, lalu menganalisis data serta membuat kesimpulan berdasarkan data yang telah dianalisis. Berdasarkan hasil analisis data dideskripsikan bahwa 1) Tokoh Samuel dalam roman Kein Wort zu niemandem termasuk ke dalam tipe kepribadian Nerveus dengan ciri-ciri emosional (+), proses pengiring lemah (-), serta aktivitas tidak aktif (-); 2) faktor-faktor yang mempengaruhi perwatakan tokoh Samuel terdiri dari faktor diri sendiri dan faktor lingkungan sosial. Berdasarkan hasil penelitian ini, analisis perwatakan tokoh dalam karya sastra khususnya roman dapat dijadikan sebagai referensi dalam pembelajaran analisis karya sastra dan penelitian mengenai perwatakan tokoh dalam roman berbahasa Jerman
ANALISIS SITUS LEARNGERMAN.DW.COM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PENGUASAAN MATERI ADJEKTIVDEKLINATION TINGKAT A1
Pembelajaran berbasis internet (e-learning) merupakan bentuk dari teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan, biasanya berupa situs web dan memiliki sifat yang fleksibel karena dapat diakses di mana saja. Dalam proses pembelajaran bahasa Jerman, terdapat kesulitan yang dapat ditemui, salah satunya yaitu kemampuan mengenai Adjektivdeklination. Adjektivdeklination sendiri merupakan salah satu bagian dari Grammatik bahasa Jerman. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, situs learngeman.dw.com dipilih untuk diteliti. Situs learngerman.dw.com merupakan situs yang dapat digunakan untuk mempelajari bahasa Jerman, khususnya Adjektivdeklination, melalui berbagai macam latihan yang tersedia di dalamnya. Pada website tersebut terdapat juga berbagai macam tema dan bagi para pengguna yang ingin mempelajari bahasa Jerman dapat mengaksesnya secara bebas dan gratis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui materi apa saja yang tersedia dalam situs, kesesuaian materi dengan buku ajar Netzwerk A1 dan Studio D A1, dan kesesuaian situs dengan kriteria materi pembelajaran online. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang terdiri atas proses pengumpulan, penyusunan, dan pendeskripsian data-data yang digunakan sebagai acuan untuk menarik simpulan dari rumusan masalah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 3 materi atau tema Adje ktivdeklination pada situs learngerman.dw.com, dan berdasarkan 3 tema tersebut terdapat kesesuaian sebanyak 1 tema dengan buku ajar Netzwerk A1 dan 2 tema dengan buku ajar Studio D A1. Dapat dikatakan bahwa situs ini hampir memenuhi semua kriteria materi pembelajaran online berdasarkan Kriterienkatalog für Internet-Lernmaterial Deutsch als Fremdsprache. Para pembelajar bahasa Jerman tingkat A1 yang ingin mempelajari atau meningkatkan kemampuannya dalam Adjektivdekliantion dapat berlatih menggunakan situs ini melalui berbagai macam latihan yang tersedia
PENGGUNAAN PLOTAGON STORY DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA JERMAN
tujuan pembelajaran. Salah satu media digital yang dapat digunakan pada pembelajaran bahasa, termasuk pada pembelajaran keterampilan berbicara, adalah Plotagon Story. Plotagon Story merupakan sebuah aplikasi yang dapat diunduh oleh pembelajar menggunakan smartphone dan memproduksi video animasi dengan mudah. Dengan Plotagon Story, pembelajar dapat membuat figur animasi, merekam suara, dan memilih latar video yang diinginkan. Dalam artikel ini dijelaskan bagaimana langkah-langkah Plotagon Story diterapkan dan bagaimana tanggapan pembelajar terhadap penggunaan aplikasi tersebut dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Jerman bagi pemula. Untuk mengetahui bagaimana tanggapan dari pembelajar terhadap penerapan Plotagon Story dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Jerman bagi pemula, penulis menggunakan metode kualitatif dengan membuat kuiseoner yang harus diisi oleh pembelajar. Pada kuesioner, pembelajar menjelaskan alasan mengapa mereka menyukai atau tidak menyukai aplikasi Plotagon Story dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Jerman. Di samping itu, pembelajar menjelaskan kendala yang dihadapi saat pembuatan video pembelajaran menggunakan Plotagon Story. Hasil analisis data menunjukkan bahwa 92,6% pembelajar menyukai penggunaan aplikasi ini. Sebagian besar pembelajar memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan Plotagon Story dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Jerman dan dapat mengatasi masalah yang dihadapi saat pembuatan video menggunakan Plotagon Story
PENGGUNAAN INSTASTORY DALAM PEMBELAJARAN KONJUGASI VERBA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
Verba dalam tata bahasa Jerman memiliki perbedaan dengan verba dalam tata bahasa Indonesia yakni adanya proses perubahan bentuk dari bentuk dasar atau infinit ke dalam bentuk finit atau bentuk verba yang dikonjugasikan. Salah satu bentuk perubahannya adalah verba tidak beraturan dimana perubahan tersebut berubah setelah bertemu dengan subjek dan kasus dalam kalimat. Oleh karena itu dengan aturan yang berbeda ini dan berdarkan pengalaman penulis, peserta didik kesulitan dalam mengkonjugasikan verba bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) hasil belajar peserta didik dalam mengkonjugasikan verba bahasa Jerman sebelum menggunakan Instastory; 2) hasil belajar peserta didik dalam mengkonjugasikan verba sesudah menggunakan fitur Instastory; 3) efektivitas penggunaan fitur cerita aplikasi Instagram dalam pembelajaran konjugasi verba bahasa Jerman. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pra-eksperimen tipe One Group Pretest-Posttest dengan teknik pengumpulan data berupa tes sebanyak dua kali (pretest dan posttest) terhadap 25 sampel yang diambil dari kelas XII IBB SMA Negeri 15 Bandung. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata pretest sebesar 49,72 dengan kategori sedang dan diperoleh nilai rata-rata posttest sebesar 79,6 dengan kategori sangat tinggi. Hasil temuan memperoleh selisih nilai rata-rata pretest dan posttest (thitung) sebesar 10,454 menggunakan uji t berpasangan (two paired samples test) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Ini menunjukkan bahwa thitung ttabel (10,454 1,711) dan nilai signifikansi kurang dari 0,05 (0,000 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan fitur Instastory dalam pembelajaran konjugasi verba efektif untuk meningkatkan hasil belajar dan dapat dijadikan alternatif pembelajaran
ANALISIS KATA SIFAT DARI PARTIZIPIEN DALAM ROMAN „SOWIESO UND ÜBERHAUPT“ KARYA CHRISTINE NÖSTLINGER
Dalam sebuah karya sastra tertulis terdapat beberapa aspek yang dapat membantu seorang penulis menyampaikan pesan yang ingin disampaikannya atau menggambarkan situasi yang ingin dijelaskannya. Salah satu dari aspek tersebut adalah kata sifat (Adjektiv). Yang dijadikan fokus pada penelitian ini bukan hanya kata sifat biasa, melainkan kata sifat yang terbentuk dari Partizipien. Karena novel dari Christine Nöstlinger dengan judul „Sowieso und Überhaupt“ mengandung banyak sekali kata sifat dari Partizipien, data yang akan digunakan dalam penelitian ini diambil dari novel tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui bentuk dari kata sifat dari Partizipien, apakah kata sifat tersebut berinfleksi/terdeklinasi atau tidak, lalu (2) untuk mengetahui fungsi dari kata sifat-kata sifat tersebut. Hal ini kemudian dapat membantu memahami arti dari kata sifat yang terbuat dari Partizipien dan mempermudah memahami karya sastra tertulis. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data yang sudah dikumpulkan akan dilihat bentuknya (flektiert atau nicht) dan diklasifikasikan ke dalam dua bagian tersebut. Pada klasifikasi ini dapat diketahui bahwa (1) beberapa kata sifat yang terbentuk dari Partizipien dalam novel „Sowieso und Überhaupt“ berinfleksi dan beberapa dapat digunakan tanpa infleksi; sebagaimana kata sifat seperti biasanya. Setelah itu, fungsi kata sifat dianalisis berdasarkan tempatnya di dalam kalimat. Analisis ini dibantu dengan klasifikasi sebelumnya, dimana beberapa kata sifat berinfleksi dan beberapa tidak. Hasil dari analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa (2) kata sifat dari Partizipien dalam novel „Sowieso und Überhaupt“ yang berinfleksi pasti akan memiliki fungsi attributif, sedangkan kata sifat yang tidak berinfleksi dapat memiliki kemungkinan dua fungsi. Jika kata sifat tersebut berdiri di tengah-tengah kalimat, ia akan memiliki fungsi aplikatif dan jika ia terhubung dengan sebuah kata kerja Kopula dan mendeterminasi sebuah subjek atau objek, maka ia akan memiliki fungsi predikatif sebagai kata sifat predikat. Berdasarkan hasil analisis, disarankan: (1) mengetahui fungsi kata sifat dari Partizipien agar dapat memahami makna kata sifat tersebut, dan (2) mengadakan penelitian lanjutan mengenai macam-macam kata kerja yang dideterminasi oleh kata sifat dengan fungsi aplikatif
ANALISIS KATA NEGASI NICHT DI DALAM KALIMAT DENGAN KATA KONJUNGSI DI DALAM NOVEL DER EINZIG WAHRE IVAN KARYA KATHERINE APPLEGATE
Bahasa merupakan salah satu alat yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi, untuk menyampaikan informasi tentang tujuan, kebutuhan, pendapat, atau keinginan. Seringkali dapat terjadi penyangkalan atau penolakan karena perbedaan perspektif, yang kemudian dapat ditunjukkan dengan kata negasi. Dalam komunikasi tertulis maupun lisan dalam bahasa Jerman, terdapat kata-kata negasi seperti nein, nicht, atau kein. Di dalam kalimat dengan kata konjungsi bisa terdapat juga kata negasi. Novel der einzig wahre Ivan adalah novel yang telah dianugerahi penghargaan oleh New York Times sebagai New York Times Best Seller dan Newbery Medal #1. Novel ini ditulis oleh Katherine Applegate atau K.A. Applegate pada tahun 2012 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Ingrid Ickler pada tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui letak kata negasi nicht serta pengaruhnya terhadap keseluruhan kalimat dengan kata konjungsi. Sebagai hasil penelitian, beberapa data termasuk ke dalam Satznegation, dan beberapa data lainnya termasuk ke dalam Sondernegation. Di dalam kalimat dengan kata konjungsi atau kata penghubung, kata negasi nicht dapat menyangkal seluruh kalimat, atau hanya satu kalimat, tergantung dari fungsi kata konjungsi yang digunakan sebagai penghubung di dalam kalimat tersebut. Meskipun begitu, terdapat pula beberapa pengaruh lainnya. Misalnya, ada kemungkinan bahwa kata negasi nicht kehilangan makna negatifnya, karena berfungsi sebagai penekanan dalam kalimat, atau karena terdapat kata negasi lain di dalam kalimat, sehingga makna negatif dari kata negasi tidak lagi berlaku. Penelitian ini dimaksudkan agar pembaca memahami kata negasi nicht dan dapat menempatkannya secara tepat dalam kalimat. Selain itu, diharapkan hasil dari penelitian ini dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya
ANALYSE DER LANDESKUNDLICHEN ASPEKTE IM LEHRWERK NETZWERK B1
Landeskunde). Materi Landeskunde dapat diperoleh pemelajar melalui buku ajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) aspek-aspek Landeskunde yang terdapat dalam buku ajar, 2) tema Landeskunde, 3) penyajian aspek-aspek Landeskunde, dan 4) standar acuan materi Landeskunde yang terdapat dalam buku ajar Netzwerk B1 dengan prinsip DACH Landeskunde (Deutschland, Österreich und Confoederatio Helvetica/die Schweiz Landeskunde). Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Data yang diambil berupa dialog, teks, gambar dan transkrip audio pada Kursbuch dan Arbeitsbuch yang memuat informasi Landeskunde. Dari hasil analisis diketahui bahwa: 1) terdapat 157 aspek-aspek Landeskunde dalam Kursbuch dan Arbeitsbuch Netzwerk B1 yang terdiri atas Weltwissen sebanyak 19 aspek, Soziokulturelles Wissen sebanyak 127 aspek, dan Interkulturelles Bewusstsein sebanyak 11 aspek. Dari data yang diperoleh, aspek Landeskunde paling banyak dalam buku Netzwerk B1 membahas tentang Soziokulturelles Wissen dan aspek Landeskunde Weltwissen serta Interkulturelles Bewusstsein tidak terlalu banyak diulas. ; 2) aspek-aspek Landeskunde dalam buku Netzwerk B1 memuat 8 tema Landeskunde dan informasi Landeskunde yang paling banyak dibahas berkaitan dengan tema Alltag und gesellschaftliches Leben. Jumlah tema Landeskunde pada Netzwerk B1 di antaranya, yaitu Land und Leute (20), Alltag und gesellschaftliches Leben (106), Massenmedien und öffentlicher Meinung (7), Bildung und Wissenschaft (1), Wirtschaft und Technik (6), Staat und Politik (4), Geschichte (4) dan Kulturelles (10); 3) aspek-aspek Landeskunde tersebut disajikan dalam berbagai bentuk penyajian materi dan bentuk penyajian yang paling banyak ditemukan dalam buku ajar adalah bentuk Konzentrische Kreise dan Strukturelle Logik/hierarchisch. dan (4) aspek-aspek Landeskunde yang ditemukan dalam buku ajar Netzwerk B1 memuat berbagai informasi baik dari negara Jerman, negara-negara DACH maupun negara lainnya. Informasi Landeskunde yang hanya mengenai Deutschland (127), Österreich (4), die Schweiz (3), Liechtenstein (0), Deutschland und andere Länder (10), Deutschland und Österreich (2), Deutschland und die Schweiz (0), DACH Länder (5), DACHL Länder (2) und andere Länder (4) dan berdasarkan hasil analisis, muatan Landeskunde pada buku Netzwerk B1 mengacu pada prinsip DACH Landeskunde. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa buku Netzwerk B1 mengandung materi Landeskunde yang beragam dan berfokus pada informasi mengenai negara-negara DACH
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENULIS BAHASA JERMAN
Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam mempelajari bahasa Jerman. Terdapat beberapa kesalahan yang sering dilakukan siswa dalam pembelajaran menulis terkait penguasaan kosakata, tata bahasa, Artikel, ejaan dan tanda baca, serta struktur kalimat. Hal ini dikarenakan terbatasnya wadah bagi siswa untuk berdiskusi dan mengemukakan ide, gagasan, serta pendapat dengan siswa lainnya dalam pembelajaran menulis bahasa Jerman. Penerapan model pembelajaran Think Pair Share diasumsikan dapat mengatasi persoalan tersebut. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui: 1) keterampilan menulis bahasa Jerman siswa sebelum penerapan model pembelajaran Think Pair Share; 2) keterampilan menulis bahasa Jerman siswa setelah penerapan model pembelajaran Think Pair Share; 3) perbedaan antara keterampilan menulis bahasa Jerman siswa sebelum dan setelah penerapan model pembelajaran Think Pair Share; dan 4) efektivitas penerapan model pembelajaran Think Pair Share dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII SMA Pasundan 1 Bandung dengan sampel penelitian yaitu siswa kelas XII IPS 3 sebagai kelompok eksperimen dan XII IPS 5 sebagai kelompok kontrol. Instrumen dalam penelitian ini ialah tes tulis bahasa Jerman dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Keterampilan menulis siswa sebelum penerapan model pembelajaran Think Pair Share termasuk dalam kategori “kurang”; 2) Keterampilan menulis siswa setelah penerapan model pembelajaran Think Pair Share termasuk dalam kategori “baik sekali”; 3) Terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan menulis bahasa Jerman siswa sebelum dan setelah penerapan model pembelajaran Think Pair Share; dan 4) Penerapan model pembelajaran Think Pair Share efektif dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Think Pair Share dapat menjadi model pembelajaran alternatif dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman