PROMUSIKA
Not a member yet
136 research outputs found
Sort by
Efektivitas Strategi Latihan Instrumen Musik dan Vokal pada Mahasiswa
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas strategi latihan instrumen musik dan vokal pada mahasiswa di Jurusan Musik ISI Yogyakarta. Sampel penelitian terdiri dari 55 subjek yang berada di semester tiga dan lima, kami asumsikan mahasiswa yang berada pada semester tersebut telah mendapatkan pengalaman latihan instrumen dan vokal yang diberikan oleh dosen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui analisis skor jawaban subjek pada kuesioner efektifitas strategi latihan sehingga diperoleh gambaran mengenai strategi latihan instrumen musik dan vokal mahasiswa. Dalam menganalisis tingkat efektivitas strategi latihan instrumen musik dan vokal mahasiswa, kami melakukan pengkategorian menggunakan skor hipotetik. Dengan 3 kategori untuk mengetahui tingkat efektivitas latihan mahasiswa yaitu efektif, cukup efektif, dan tidak efektif. Dari hasil analisis skor jawaban subjek pada kuesioner efektifitas strategi latihan, menunjukkan bahwa tidak ada subjek yang berada pada kategori tidak efektif, ada 24 subjek berada pada kategori cukup efektif, dan 33 subjek berada pada kategori efektif.AbstractEffectiveness of Vocal and Musical Instrumen Training Strategies for Students. This study aims to determine the effectiveness of musical instruments and vocal practice strategies for students in the ISI Yogyakarta Music Department. The research sample consisted of 55 subjects who were in the third and fifth semesters, we assume that students who are in that semester have gained experience in vocal and instrument training given by the lecturer. The method used in this research is descriptive quantitative. Quantitative data were obtained through the analysis of the subject's answer scores on the questionnaire on the effectiveness of the practice strategy to obtain an overview of the students' musical instrument and vocal practice strategies. In analyzing the level of effectiveness of the students' musical instrument and vocal practice strategies, we categorized them using a hypothetical score. With 3 categories to determine the level of effectiveness of student training, namely effective, moderately effective, and ineffective. From the results of the analysis of the subject's answer scores on the exercise strategy effectiveness questionnaire, it shows that there are no subjects in the ineffective category, 24 subjects are in the moderately effective category, and 33 subjects are in the effective category.Keywords: Effectiveness; Practice Strategies; Musical Instruments and Vocal
Pertunjukan Musik dalam Perspektif Ekomusikologi
Artikel ini bertujuan untuk menelaah pertunjukan musik dari perspektif ekomusikologi sebagai refleksi dari pergeseran pertunjukan yang terjadi selama masa pandemi covid 19. Tatanan baru di era pandemi mengubah kodrat pertunjukan dari alam nyata ke jagat maya. Ekomusikologi adalah persinggungan diantara kajian musik dan kajian ekologi yang mengelaborasi bidang kajian musik, budaya, dan lingkungan secara multiperspektif. Studi kasus dalam kajian ini adalah konser serenade bunga bangsa di Auditorium Driyarkara Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan kerangka analisis ekomusikologi pertunjukan musik yang dirumuskan Bolye & Waterman yaitu faktor-faktor yang mendasari gestur sonik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan interdependen diantara setiap komponen pertunjukkan. Perubahan lanskap pertunjukan yang terjadi adalah konsekuensi dari sifat alamiah sistem jejaring yaitu dinamika non-linear, kemunculan spontan dan siklus umpan-balik. Kesadaran ekologi mendorong umat manusia sebagai bagian dari alam semesta untuk menyelami dan beradaptasi terhadap berbagai perubahan. Ini dapat dicapai melalui kolaborasi secara kooperatif, kreatif, dan inovatif diantara komunitas-komunitas dalam jejaring pertunjukan musik guna merawat budaya musik yang berkelanjutan.AbstractThis article aims to examine musical performances from an ecomusicological perspective as a reflection of the shifts in performances that occurred during the Covid 19 pandemic. The new order in the pandemic era has changed the nature of performances from the real world to the virtual world. Ecomusicology is an intersection between music studies and ecological studies that elaborates the fields of music, culture, and environment studies in a multi-perspective. The case study in this study is Konser Serenade Bunga Bangsa at the Driyarkara Auditorium, Yogyakarta. This study uses a musical performance ecomusicological analysis framework formulated by Bolye & Waterman, namely the factors that underlie sonic gestures. The results showed that there was an interdependent relationship between each performance component. Changes in the performance landscape that occur are a consequence of the nature of the network system, namely non-linear dynamics, spontaneous emergence and feedback cycles. Ecological awareness encourages humankind as part of the universe to explore and adapt to various changes. This can be achieved through cooperative, creative, and innovative collaboration among communities in music performance networks to nurture a sustainable musical culture.Keywords: ecomusicology; musical performance; environment; interdependen
Bentuk Penyajian Kesenian Rebana Grup Al-Hijrah dalam Acara Pernikahan di Kelurahan Karya Jaya Kecamatan Kertapati Palembang
Kesenian merupakan salah satu bagian dari kebudayaan. Kesenian sebagai bentuk aktifitas seni budaya yang harus tetap dilestarikan keberadaannya bagi kehidupan masyarakat yang harus dilestarikan sebagai budaya bangsa. Bentuk penyajian kesenian rebana di kelurahan Karya Jaya kecamatan Kertapati merupakan salah satu budaya yang dapat digunakan sebagai hiburan pada saat acara pernikahan.Penyajiannya yang sederhana pada musik dan penampilan grup Al-Hijrah. Dan saya tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan judul “Bentuk penyajian kesenian rebana grup Al-Hijrah dalam acara pernikahan di kelurahan Karya Jaya kecamatan Kertapati Palembang.” Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis, yang menggunkan teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi yang kemudian dianalisis dengan teknik analisis data kualitatif dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian mengenai kesenian rebana dalam acara pernikahan di kelurahan Karya Jaya kecamatan Kertapati Palembang, yaitu mendeskripsikan bagaimana bentuk penyajian kesenian rebana di kelurahan Karya Jaya kecamatan Kertapati Palembang pada acara pernikahan. Penampilan grup Al-Hijrah yaitu untuk penyambutan tamu undangan sebelum acara inti dimulai, dan dilanjutkan selesai acara inti hingga akhir acara. Agar kesenian rebana di kelurahan Karya Jaya kecamatan Kertapati dapat dikenal luas hendaknya mengajak anak-anak muda untuk mempelajari kesenian rebana dan melestarikannya.AbstractPerformance of Rebana Al-hijrah Group at Wedding at Karyaj Jaya Village, Palembang. Art is one part of the culture. Art as a form of cultural arts activities that must be preserved for the life of the community that must be preserved as the culture of the nation. The form of tambourine art presentation in Karya Jaya sub-district of Kertapati is one of the cultures that can use as entertainment during weddings. Its simple presentation to the music and performances of the al-Hijrah group. Moreover, The research very interested in doing this research with the title "Form of presentation of tambourine art al-Hijrah group in the wedding event in the village of Karya Jaya district Kertapati Palembang." The method used is descriptive qualitative method with analysis approach, which uses data collection techniques by observation, interview, and documentation which is then analyzed with qualitative data analysis and conclusion drawing techniques. The results of research on tambourine art in the wedding ceremony in the village of Karya Jaya district Kertapati Palembang, which describes how the form of presentation of tambourine art in the village of Karya Jaya district Kertapati Palembang at the wedding. Al-Hijrah group's performance was to welcome guests before the core event began, and continued to finish the core event until the end of the event. In order for tambourine art in Karya Jaya sub-district of Kertapati to be widely known, it should invite young people to learn tambourine art and preserve it.Kata kunci: Rebana; musi
Bagatelle: Penciptaan Musik Dalam Format Duet Biola Dan Gitar
Bagatelle berarti sebuah komposisi musik yang pendek untuk piano. Namun demikain, dalam perkembangannya komposisi bagatelle tidak terbatas hanya digubah untuk piano saja, melainkan juga sudah digubah untuk instrumen selain piano. Bentuknya komposisinya adalah AB atau ABA. Pemakaian bentuk ABA biasanya untuk mewakili dua mood yang kontras antara yang ritmis A dengan yang B. Dengan kembalinya ke A karya ini bersifat melingkar, membuatnya balans dan simetris. Ide dalam penciptaan musik bagatelle ini muncul terinspirasi dari ketertarikan penulis dalam menyaksikan Ujian kompentesi di auditorium musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Salah satu repertoar yang dibawakan Bagatelle untuk piano op. 3, op. 119 karya Beethoven. Menurut pengamatan penulis bentuk musik bagatelle dari segi komposisinya sangat menarik, terdapat kebebasan dalam mengungkapan ide-ide kreatif dan imajinatif komponisnya. Perancangan komposisi bagatelle ini intinya menuangkan ide penulis dalam memadukan dua karakter instrument musik Biola dan Gitar, dengan penekanan pada penggarapan ritme, melodi dan harmoni sehingga menjadi sebuah integritas. Hasil karya ini nantinya selain sebagai apresiasi musik di multimedia, juga sebagai salah satu materi mata kuliah komposisi 1 pada prodi penciptaan musik FSP ISI Yogyakarta.AbstractBagatelle: The Creation of Music in Violin and Guitar Duet Format. Bagatelle is a short musical composition for piano. However, nowadays Bagatelle wrote not only for piano but for other instruments. The musical form of Bagatelle, either binary or ternary form. In the binary form of Bagatelle usually represents two contrasting rhythmic features which called A and B. This composition is a rondo, and it makes balance and symmetry. The idea of this Bagatelle inspired by Beethoven’s Bagatelle for solo piano Op. 119, no. 3. Bagatelle is an interesting musical composition because there is a freedom to representing the creative idea and imagination form the composer. The essence of its musical composition is representing the composer’s idea about two different characters of musical instruments: Violin and Guitar with emphasized the integration in rhythm, melody, and harmony. This Bagatelle not only can be used as a music appreciation but also as a material for Composition subject in Prodi Penciptaan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.Keywords: Bagatelle; violin and guitar; multimedi
Efektivitas Pembelajaran Kontrapung Menggunakan Species Counterpoint
Pembelajaran Kontrapung dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu stricht counterpoint dan free counterpoint. Pembelajaran Kontrapung dengan menggunakan stricht counterpoint dilakukan dengan menggunakan pendekatan species counterpoint. Species counterpoint adalah pendekatan dalam pembelajaran Kontrapung yang dilakukan dengan menggunakan lima langkah yang disebut sebagai species. Masing-masing species memiliki aturan-aturan yang harus diikuti untuk membuat melodi kontrapung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan species counterpoint pada pembelajaran Kontrapung di Program Studi S-1 Pendidikan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan species counterpointmeningkatkan efektivitas pembelajaran Kontrapung. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara diketahui bahwa dengan menggunakan species counterpoint, mahasiswa memiliki dasar pengetahuan konsep Kontrapung yang kuat, sehingga dapat membuat melodi kontrapung dengan baik dan benar. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengerjakan pembuatan melodi kontrapung dengan cepat dan tepat.AbstractEffectiveness of Contrapung Learning using Species Counterpoint. Counterpoint learning is carried out using two methods, the strict counterpoint, and the free counterpoint. Counterpoint learning using the strict counterpoint is well known as a species counterpoint. Species counterpoint is an approach in counterpoint learning that is carried out using five steps known as species. Each species has rules that must be followed to create counterpoint melodies. This study aims to analyze the effectiveness of using counterpoint species in counterpoint learning in Program Studi S-1 Pendidikan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This is a qualitative descriptive study. The data were gathered from observations, interviews, and research documentation. The results of this study indicate that the use of counterpoint species increases the effectiveness of counterpoint learning. Based on the results of observations and interviews, it is known that by using counterpoint species, students have a strong foundation of knowledge of the counterpoint concept, so that they can make a counterpoint melody properly and correctly. Besides that, students can also work on making counterpoint melodies quickly and precisely.Keywords: Counterpoint; species; strict; melod
Konsep Proses Pengajaran Model Jarak Jauh (Daring) Praktik Flute Masa Pandemi Covid 19
AbstrakMasa pandemi virus Covid 19 memberikan dampak yang besar terhadap proses pembelajaran. Dampak pandemi virus yang memberikan batasan dalam proses belajar mengajar khususnya pada bidang praktik alat musik. Sebagai studi kasus dalam belajar mengajar praktik alat musik yaitu pada praktik flute yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran. Memahami situasi pada masa pandemi membutuhkan sebuah evaluasi yang komprehensif. Melalui evaluasi proses belajar mengajar praktik memiliki tujuan untuk memahami dan mengetahui responsi siswa terhadap praktik alat musik secara jarak jauh (daring). Selain itu penelitian ini penting untuk membentuk struktur proses belajar mengajar praktik yang dapat dimanfaatkan dalam masa pandemi atau kondisi yang memiliki keterbatasan model belajar mengajar tatap muka. Metode penelitian yang dilakukan dengan menggunakan bentuk penelitian campuran dan diskusi kelompok secara terfokus. Responden dalam proses penelitian ini yaitu siswa praktik alat musik pada matakuliah praktik flute. Hasil dari penelitian ini dapat menjadi rujukan dan bentuk model pembelajaran praktik dalam kondisi perkuliahan jarak jauh.AbstractConcept of Remote Model Teaching Process (Online) Flute Practice during the Covid 19 Pandemic. The covid-19 pandemic has had a huge impact on the learning process. The impact of the virus pandemic that provides limitations in the learning process of teaching, especially in the field of musical instrument practice. As a case study in learning to teach the practice of musical instruments that is in the practice of flutes that have been done in the learning process. Understanding the situation during pandemics requires a comprehensive evaluation. Through evaluation of the learning process teaching practice has the purpose to understand and know students' response to the practice of musical instruments remotely (online). In addition, this research is important to establish the structure of the learning process of teaching practices that can be utilized in pandemics or conditions that have limited models of learning to teach face-to-face. Research methods are conducted using mixed forms of research and group discussions in a focused position. The respondents in this research process were students practicing musical instruments in flute practice courses. The results of this study can be a reference and form of practical learning model in remote lecture conditions.Keywords: online; flute practice; learning model; resposns
Analisis Komposisi Soundtrack Epic “You See Big Girl” Karya Hiroyuki Sawano dalam Serial Animasi Attack on Titan
Action-fantasy merupakan genre yang diproduksi secara lebih meluas dalam industri perfilman dan cenderung menggunakan musik cinematic yang mampu menggambarkan suasana dan emosi pada dunia imajiner dalam film tersebut. Pemilihan You See Big Girl sebagai objek penelitian dikarenakan penataan musik cinematic yang megah, kesesuaiannya mengiringi suasana pertarungan pada narasi, juga sebagai musik mandiri yang dinikmati terlepas dari perannya mengiringi adegan. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk menganalisis teknik pengolahan komposisi soundtrack You See Big Girl dengan mendeskripsikan elemen musik epic di dalamnya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur, studi diskografi, dan observasi, serta pendekatan dengan teori Lehman dan Derrick Werlé untuk menganalisis elemen-elemen musik epic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa You See Big Girl merupakan salah satu karya musik epic dengan penggunaan instrumen yang berkaitan dengan pertarungan dan peperangan, serta membangun peningkatan ketegangan dari suatu bagian ke bagian berikutnya melalui poliritmik, aksen marcato, big crescendo, sekuen, sudden silence yang mengakhiri periode kalimat, ostinato, dan abstract theme, untuk menggambarkan suasana megah, semangat, aksi pertarungan dan peperangan, serta kesan hebat melalui musiknya.AbstractEpic Soundtrack Composition Analysis "You See Big Girl" Works by Hiroyuki Sawano in Animated Series Attack on Titan. Action-fantasy are some movie genres that has the most expansive franchises in film industry and tend to use cinematic music to correlate the atmosphere and emotions of the movie’s imaginary universe. The analysis of You See Big Girl is due to its majestic cinematic music arrangement, its suitability in accompanying the battle scene, and also can be enjoyed as an independent track despite of its role in accompanying the scene. This qualitative descriptive research aims to analyze the musical composition technique by describing the epic musical element. This research contains of literature study, discography, and observation as the research methods, along with the approach of Lehman and Derrick Werlé’s examine on epic music to analyze the epic element. The result shows that the You See Big Girl is one of the various epic music with the use of battle and war instrument, as well as tension built gradually from a section to the following by the use of polyrhythm, marcato accent, big crescendo, sequence, sudden silence to ends the musical phrase, ostinato, and abstract theme, to portray a majestic, vibrant, war and battle scene, and the greatness through the music.Keywords: analysis; composition; animation; epic soundtrack; You See Big Gir
Representasi Probolinggo dalam Seni Pertunjukan Musik Patrol Kelabang Songo
Sebuah karya seni tidak saja dapat dipahami sebagai hasil cipta manusia yang bernilai estetika, tetapi juga dapat dipahami sebagai dokumen kebudayaan. Sebagai dokumen kebudayaan, setiap karya seni memuat simbol-simbol atau tanda-tanda yang maknanya berelasi pada kebudayaan tempat karya seni tersebut diciptakan. Artikel ini memfokuskan kajiannya pada identitas Probolinggo yang direpresentasikan dalam karya seni pertunjukan musik patrol Kelabang Songo. Teori yang digunakan untuk mengungkap makna tanda atau makna simbol yang terdapat dalam karya seni pertunjukan musik patrol tersebut adalah teori semiotika Charles Sanders Peirce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif interpretif. Faktor interpretasi atas tanda yang menjadi dasar kerja analisis merupakan faktor yang mendorong dipilihnya metode tersebut dalam artikel ini. Berdasarkan analisis yang dilakukan ditemukan bahwa dalam seni pertunjukan musik patrol Kelabang Songo merepresentasikan Probolinggo sebagai wilayah kebudayaan masyarakat Pendalungan, yakni masyarakat yang memiliki kebudayaan campuran Jawa dan Madura.AbstractProbolinggo Representation in The Performing Arts of Kelabang Songo Music Patrol. A work of art can not only be understood as a human creation with aesthetic value but can also be understood as a cultural document. As a cultural document, each work of art contains symbols or signs whose meanings relate to the culture in which the artwork was created. This article focuses its study on the identity of Probolinggo, which is represented in the artwork of the Kelabang Songo patrol music performance. The theory used to reveal the meaning of signs or symbols contained in the artwork of patrol music is Charles Sanders Peirce's theory of semiotics. The method used in this research is a qualitative interpretive method. The interpretation factor of the sign on which the analysis works is a factor that drives the choice of this method in this article. Based on the analysis conducted, it was found that the Kelabang Songo patrol music performance art represented Probolinggo as the cultural area of the Pendalungan people, namely people who had a mixture of Javanese and Madurese cultures
Proses Penciptaan Komposisi Karawitan Kreasi Baru Paras Paros
Komposisi karawitan ini diilhami adat istiadat menyama braya yang bagi masyarakat Bali menjadi landasan moral dalam membangun relasi sosial merupakan kekayaan utama dalam hidup dan sebagai jalan untuk menggapai kedamaian dan keharmonisan yang telah ada sejak lama. oleh Paras Paros merupakan karya karawitan inovatif yang bersumber dari konsep menyama braya. Karya karawitan ini merupakan ungkapan dari gejolak masyarakat yang selalu berjalan dinamis yang menyebabkan banyaknya fenomena-fenomena soaial yang timbul saling bertautan. Komposisi karawitan ini bersifat eksperimental dengan memadukan instrumen gamelan Bali yang memiliki perbedaan karakter jumlah warna suara dalam penggarapannya. Penyusunan komposisi karawitan ini menggunakan metode penciptaan dari Alma M. Hawkins yaitu menggunakan tahapan penjajagan, percobaan, dan pembentukan, Tujuan komposisi ini adalah untuk menyampaikan pesan moral tentang menyama braya sehingga memberikan secercah kesadaran kepada masyarakat bahwa melalui konsep Paras Paros Sarpayana, Sagilik Saguluk Salunglung Sabayantaka, Saling Asah, Asih, lan Asuh kita akan terajut dalam sebuah keharmonisan masyarakat yang damai.AbstractThe Process of Creating New Creation Karawitan Composition Paras Paros. This Karawitan composition is inspired by the custom of the menyama braya which for the Balinese people becomes the moral foundation in building social relations as the main wealth in life and as a way to reach peace and harmony that has existed for a long time. Paras Paros is an innovative musical work sourced from the concept of matching braya. This musical work is an expression of the social turmoil that always runs dynamically which causes many social phenomena that arise interlocked. The composition of this instrumental music is experimented with by combining Balinese gamelan instruments that have different characters in the amount of sound in their cultivation. The composition of this musical composition uses the method of creation from Alma M. Hawkins, which uses stages of assessment, experimentation, and formation. The purpose of this composition is to convey a moral message about matching braya to provide a glimmer of awareness to the public that through the concept of Paras Paros Sarpayana, Sagilik Saguluk Salunglung Sabayantaka, Saling, Asah, Asih, lan Asuh our Foster will be woven into a harmony of a peaceful society
Kondakting Divertimento dalam F Mayor K.138 Karya W. A. Mozart
Penelitian ini membahas kondakting sebagai interpretasi pertunjukan gerakan pertama Divertimento K.138 dalam F mayor karya Mozart. Penelitian ini didasarkan atas pengalaman mengajar mata kuliah kodakting pada program sarjana musik di Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, sebagai permasalahan penelitiannya. Melalui observasi, penelitian ini menemukan bahwa beberapa mahasiswa dan lulusan kelas ini, bahkan yang telah berperan sebagai konduktor ternyata memiliki pemahaman yang tidak tepat tentang fungsi kondakting. Masalah pertama dari penelitian ini adalah bagaimana mahasiswa dapat memperoleh pemahaman interpretasi yang lebih baik tentang Divertimento K.138 karya Mozart melalui analisis skor. Masalah kedua, bagaimana merancang implementasi pelaksanaan yang efektif untuk praktik kondakting. Penelitian ini berada dalam ruang lingkup penelitian kualitatif dengan pendekatan metode musikologi. Penelitian ini secara khusus mengungkapkan bahwa meskipun karya ini memiliki sukat 4/4 (common time) untuk penyajiannya, beberapa tempat pada skor ini perlu didekati dengan sukat duple time, atau pada aba-aba dua per dua. Penggunaan simbol panah yang mengarah secara vertikal dan horizontal di atas skor dapat membantu konduktor untuk mengionterpretasikan penyajian karya ini melalui gerakan kondakting yang efektif.AbstractThis study discusses conducting as a performance interpretation of the first movement of Mozart's Divertimento K.138 in F major. This study took a teaching experience in the conducting class at the undergraduate music program at the Faculty of Performing Arts, Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts, as its research problems. Through observation, this study found that students of the class and its graduates, who have experience as a conductor, have an incorrect understanding of the conducting function. The first problem of this study is how students could gain a better understanding of Mozart's Divertimento K.138 through a score analysis. The second is how to design an effective conducting implementation for the work. The scope of this study is within the qualitative research by utilizing the musicological method approach. This research especially reveals that although this work requires a common time for its performance, several places in this score need to approach with the duple time direction, or on cue two by two. The use of arrow symbols pointing vertically and horizontally above the score can help conductors interpret this work's performance through effective conducting movements.Keywords: conducting analysis; Divertimento K.138; Mozar