136 research outputs found

    Representasi Cinta dalam Lirik Lagu Kupu-Kupu oleh Tiara Andini: Analisis Semiotika Roland Barthes

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi cinta dalam lirik lagu Kupu-kupu oleh Tiara Andini melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam simbol-simbol yang ada dalam lirik lagu tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis semiotika, di mana data penelitian berupa lirik lagu yang diambil dari laman internet. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap lirik lagu Kupu-kupu yang kemudian dianalisis secara mendalam menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Teknik analisis data melibatkan tiga tahap: pertama, analisis makna denotatif yang mengungkapkan arti harfiah dari setiap simbol; kedua, analisis konotatif untuk menggali makna yang lebih dalam terkait dengan perasaan cinta yang digambarkan; ketiga, identifikasi mitos-mitos yang terbentuk melalui simbol-simbol dalam lagu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu ini menggambarkan cinta sebagai perasaan yang mempengaruhi fisik dan emosional, dengan simbol-simbol seperti pipi merona, jantung terpompa, dan kupu-kupu yang menggambarkan kebebasan cinta. Cinta digambarkan sebagai kekuatan yang memperkuat hubungan, memberikan ketulusan, dan menjaga kebahagiaan. Kesimpulannya, lirik lagu Kupu-kupu menciptakan representasi cinta yang mendalam, dinamis, dan bebas berkembang sesuai dengan mitos-mitos cinta dalam budaya populer. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan kajian semiotika musik Indonesia dengan memperkaya pemahaman tentang bagaimana simbol-simbol dalam lirik lagu membentuk konstruksi makna sosial dan emosional dalam konteks budaya lokal.The Representation of Love in the Lyrics of the Butterfly Song: Barthes's Semiotic AnalysisAbstractThis study aims to analyze the representation of love in the lyrics of the song Kupu-kupu by Tiara Andini through Roland Barthes' semiotic approach. The primary focus of this research is to identify the denotative, connotative meanings, and myths contained in the symbols within the song's lyrics. The research method used is qualitative with a semiotic analysis, where the research data consists of song lyrics taken from an online source. Data is collected by observing the Kupu-kupu lyrics, which are then analyzed in depth using Roland Barthes' semiotic theory. The data analysis technique involves three stages: first, the analysis of denotative meaning, which reveals the literal meaning of each symbol; second, the connotative analysis to explore deeper meanings related to the feelings of love depicted; third, the identification of myths formed through the symbols in the song. The results show that the lyrics of this song depict love as a feeling that affects both the physical and emotional aspects, with symbols such as blushing cheeks, a pumping heart, and butterflies representing the freedom of love. Love is portrayed as a force that strengthens relationships, offers sincerity, and maintains happiness. In conclusion, the lyrics of Kupu-kupu create a profound, dynamic, and freely evolving representation of love in line with the myths of love in popular culture. This finding contributes to the development of semiotic studies of Indonesian music by enriching the understanding of how symbols in song lyrics construct social and emotional meanings within the context of local culture.Keywords: Barthes' semiotics; love in music; lyric symbolism; pop culture; Indonesian song

    Integrasi Balloon Blowing dalam Pembelajaran Teknik Pernapasan untuk Meningkatkan Kapasitas Paru Mahasiswa Vokal

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh treatment balloon blowing terhadap kapasitas paru mahasiswa Praktik Instrumen Mayor (PIM) Vokal, FBSB, Universitas Negeri Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah Quasi experimental Design dengan desain dua kelompok kelas yang memiliki kondisi yang sama. Sampel terdiri dari dua kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan spirometer untuk mengukur kapasitas paru sebelum dan sesudah perlakuan. Teknik analisis data meliputi analisis deskriptif, uji prasyarat (uji normalitas dan homogenitas) serta uji hipotesis menggunakan paired sample test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balloon blowing memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kapasitas paru pada kelas eksperimen. Hal ini dibuktikan melalui nilai signifikansi hasil uji paired sample test sebesar 0,001 0,05 yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan kapasitas paru yang signifikan. Hasil tersebut diperkuat melalui analisis deskriptif yang menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kelas eksperimen, terlihat pada nilai rata-rata kapasitas paru posttest lebih tinggi dari pretest yaitu 2285.71ml > 1892.86ml. Adapun pada kelas kontrol juga terjadi peningkatan nilai rata-rata antara nilai posttest dan pretest kapasitas paru yaitu 1.950ml > 1.891.67ml, akan tetapi peningkatan yang terjadi pada kelas kontrol tidak signifikan secara statistik. Artinya, meskipun terjadi peningkatan nilai pada kelas kontrol, perubahannya tidak cukup besar untuk menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Penelitian ini memiliki implikasi positif bagi pendidikan vokal, khususnya dalam proses pembelajaran teknik pernapasan. Metode Balloon blowing, yang selama ini diketahui bermanfaat dalam konteks medis, juga terbukti memiliki manfaat yang signifikan dalam bidang pendidikan vokal. Dalam penelitian ini, balloon blowing dimodifikasi sehingga tidak hanya dapat digunakan sebagai media latihan alternatif yang sederhana, murah, dan efektif, tetapi juga berpengaruh meningkatkan kapasitas paru sekaligus melatih pernapasan diafragma, yang merupakan fondasi penting dalam bernyanyi. Balloon blowing dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan vokal sebagai media yang efektif untuk melatih dan mengembangkan teknik pernapasan secara terkontrol dan efisien. Latihan ini berperan dalam memperkuat otot pernapasan, meningkatkan kapasitas paru dan melatih pernapasan diafragma. Berdasarkan temuan penelitian, balloon blowing dapat dijadikan sebagai program rutin dalam pelatihan vokal yang secara khusus bertujuan meningkatkan kualitas pernapasan.Integrating Balloon Blowing into Breathing Technique Instruction to Improve Lung Capacity in Vocal StudentsAbstractThis study aims to determine the effect of balloon blowing treatment on the lung capacity of Vocal Instrument Major Practice (PIM) V students at the Faculty of Fine Arts and Design (FBSB), Yogyakarta State University. The research employs a quasi-experimental design with two classes that share similar conditions: experimental and control classes. Lung capacity data were collected using a spirometer before and after the treatment. Data analysis involved descriptive analysis, prerequisite tests (normality and homogeneity tests), and hypothesis testing using the paired sample test. The results indicate that balloon blowing significantly increases lung capacity in the experimental class, evidenced by a significance value of the paired sample test results at 0.001, which is less than the 0.05 threshold. In contrast, the control class showed a significance value of 0.506, greater than 0.05, indicating no significant difference in lung capacity. Descriptive analysis further supports these findings, showing a substantial increase in the experimental group. The posttest mean lung capacity was higher than the pretest value (2285.71 ml > 1892.86 ml). The control group also experienced an increase in mean lung capacity from pretest to posttest (1950 ml > 1891.67 ml), but this increase was not statistically significant. Although there was a positive change in the control group, it was not substantial enough to indicate a meaningful improvement. These results have important implications for vocal education, particularly regarding learning breathing techniques. The balloon blowing method, which has long been recognized for its benefits, has been adapted in this quasi-experimental design to demonstrate significant advantages in vocal training. Modifying the balloon blowing technique is a simple, inexpensive, and effective exercise medium that increases lung capacity and trains diaphragmatic breathing—a crucial foundation for singing. Incorporating balloon blowing into vocal training can enhance controlled and efficient breathing techniques. This exercise strengthens respiratory muscles, increases lung capacity, and develops diaphragmatic breathing. Based on the research findings, balloon blowing can be incorporated as a routine element in vocal training to improve overall breathing quality.Keywords: Balloon blowing; Lung Capacity; Vocal

    Kajian Fungsi Nyanyian Kawen dalam Upacara En Heser di Desa Aitoun Kecamatan Raihat Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur

    No full text
    Penelitian ini mengeksplorasi peran nyanyian kawen dalam upacara En Heser di Desa Aitoun, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, yang berfungsi sebagai penghormatan kepada yang telah tiada serta sebagai medium untuk memperkuat ikatan sosial dan budaya masyarakat. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan etnografi, yang memungkinkan peneliti untuk memahami makna dan fungsi nyanyian kawen dalam kehidupan masyarakat Aitoun secara mendalam. Melalui analisis kualitatif, penelitian ini mengkaji struktur makna lirik dan fungsi nyanyian kawen.  Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana partisipasi masyarakat dalam ritual ini menciptakan solidaritas dan kebersamaan di tengah kesedihan. Data dikumpulkan melalui observasi langsung selama upacara, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, dan analisis dokumentasi terkait tradisi lokal. Dengan demikian kajian data observasi memberikan gambaran menyeluruh tentang konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi praktik ini. Berdasarkan pengamatan interaksi sosial dan partisipasi individu selama upacara En Heser, penelitian ini menemukan bahwa nyanyian kawen tidak hanya berfungsi sebagai ritual penghormatan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyanyian kawen berperan penting dalam menjaga kesinambungan budaya, memperkuat identitas komunitas, dan menciptakan ruang untuk merayakan kehidupan meskipun dalam suasana duka. Dengan demikian, nyanyian kawen menjadi bagian integral dari warisan budaya yang layak untuk dilestarikan dan dihargai. Study on the Function of Nyayian Kawen in the En Heser Ceremony in Aitoun Village, Raihat District, Belu Regency, East Nusa TenggaraAbstractThis research explores the role of kawen singing in the En Heser ceremony in Aitoun Village, Raihat District, Belu Regency, East Nusa Tenggara. The ceremony serves as a tribute to the deceased and as a way to strengthen social and cultural bonds within the community. The study employs an ethnographic approach, enabling the researcher to gain a profound understanding of the meaning and function of kawen songs in the lives of the Aitoun community. Through qualitative analysis, it examines the structure of wedding songs and their purposes. An equally important aspect is how community participation during the ritual fosters solidarity and togetherness in the midst of grief. Data was gathered through direct observation during the ceremony, in-depth interviews with community leaders, and analysis of documentation related to local traditions. This observational data provides a comprehensive view of the social and cultural context behind the practice. Based on observations of social interactions and individual participation during the En Heser ceremony, the study found that kawen songs serve not only as a mark of respect but also as an educational tool that imparts cultural values to the younger generation. The findings show that kawen songs are vital in preserving cultural continuity, reinforcing community identity, and creating a space to celebrate life even in times of sorrow. Therefore, kawen songs are an essential part of cultural heritage that deserve preservation and appreciation.Keywords: En Heser; Songs; Kawen; Holo

    Transformasi Makna Teks Religius dalam Musik Populer Indonesia: Perspektif Reader-response

    No full text
    Lirik lagu merupakan sebagai sebuah medium ekspresi yang kaya akan makna, terutama ketika mengadaptasi teks religius ke dalam konteks musik populer. Artikel ini mengkaji transformasi makna bagian ayat “seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami” dari Doa Bapa Kami dalam lirik lagu “Hagia” ciptaan Barasuara melalui pendekatan hermeneutik teori reader-response Wolfgang Iser. Tujuan utama penelitian adalah mengidentifikasi dan menganalisis perubahan makna teks religius ketika dipindahkan dari ruang sakral ke ruang musik sekuler, serta peran musik dalam proses reinterpretasi makna. Metode penelitian menggunakan Hermeneutic Systematic Review (HSR) dengan analisis kualitatif, meliputi tahapan identifikasi makna asli teks religius, pemetaan konteks kreator (Iga Massardi), dan analisis interaksi teks dengan audiens dalam kerangka reader-response. Hasil analisis menunjukkan bahwa makna religius yang awalnya terbatas pada konteks ritual keagamaan mengalami perluasan menjadi sebuah pesan universal tentang toleransi dan solidaritas sosial. Musik sebagai medium memainkan peran krusial memperluas horizon penerimaan interpretasi terhadap makna baru yang mana dapat melampaui batas-batas keagamaan. Simpulan penelitian menegaskan bahwa makna teks religius bersifat dinamis, berkembang sesuai konteks sosial budaya pencipta dan pembaca. Implikasi hasil penelitian ini menunjukkan potensi musik populer sebagai media dialog antaragama dan rekonsiliasi sosial dalam konteks Indonesia yang plural. Penelitian ini membuka arah baru dalam kajian hermeneutik musik Indonesia dengan menunjukkan bahwa adaptasi teks religius dapat memperkaya diskursus keagamaan kontemporer tanpa menghilangkan nilai spiritualnya. Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada penerapan teori reader-response dalam analisis lirik musik populer Indonesia, yang sebelumnya belum banyak dilakukan secara sistematis. Transformasi makna ini menunjukkan bahwa musik populer dapat menjadi jembatan antara nilai-nilai religius dan kebutuhan masyarakat kontemporer yang beragam. Penelitian ini mengungkapkan bahwa proses perubahan makna tidak menghilangkan nilai spiritual dari teks asli, melainkan memperluas aksesnya kepada audiens yang lebih luas tanpa batasan denominasi agama. Temuan ini memberikan pemahaman baru tentang bagaimana seni dapat berperan dalam membangun dialog antariman dan toleransi di Indonesia yang majemuk. Dengan demikian, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium komunikasi nilai-nilai kemanusiaan universal yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia saat ini.The Transformation of Religious Text Meaning in Indonesian Popular Music: A Reader-response PerspectiveAbstractLyrics are a rich medium for expressing meaning, especially when adapting religious texts to popular music contexts. This article examines the transformation of the phrase "as we forgive those who trespass against us" from the Lord's Prayer in the song "Hagia" by Barasuara, using Wolfgang Iser's reader-response hermeneutic theory. The primary goal is to identify and analyse the shift in the meaning of religious texts when they are moved from sacred to secular music spaces and to explore how music influences this reinterpretation process. The research employed a Hermeneutic Systematic Review (HSR) with a qualitative approach, involving the identification of the original meaning, mapping the songwriter's context (Iga Massardi), and analysing the interaction between the text and the audience through reader-response theory. The results reveal that the original religious meaning, once limited to a ritual context, transforms into a universal message of tolerance and social solidarity. Music plays a key role in expanding the scope of meaning reception, surpassing liturgical boundaries. The study concludes that the meaning of religious texts is fluid, changing based on the socio-cultural context of both the creator and the audience. The findings highlight the potential of popular music as a tool for interfaith dialogue and social reconciliation within Indonesia's diverse society. This research opens new avenues in Indonesian music hermeneutics by showing that adapting religious texts can enhance contemporary religious discussions without compromising their spiritual significance. Its main contribution is the systematic use of reader-response theory to analyse Indonesian popular music lyrics, an approach that has been largely overlooked in earlier studies. The research offers a model for understanding how sacred texts can act as bridges for cross-cultural and interreligious understanding today. This transformation shows that popular music can connect religious values with the needs of a modern, diverse society. It also reveals that the process of transforming meaning does not diminish the spiritual worth of the original text; rather, it broadens its reach, crossing denominational boundaries. These insights suggest how art can help promote interfaith dialogue and tolerance in Indonesia's pluralistic society. Therefore, music serves not only as entertainment but also as a medium for conveying universal human values that are relevant to Indonesia's current social landscape.Keywords: hermeneutics; reader-response; popular music; religious text meaning; Barasuar

    Integrasi Lagu Dolanan Jaranan dalam Pembelajaran Gamelan untuk Penguatan Keterampilan Sosial Emosional Siswa SMP melalui Model Project-Based Learning

    No full text
    Penelitian ini menerapkan beberapa model dan metode pembelajaran dengan aransemen lagu dolanan “Jaranan” sebagai sarana untuk meningkatkan Pembelajaran Sosial Emosional (SEL) di kalangan siswa SMPN 1 Surabaya. Fokus utamanya adalah menanamkan nilai-nilai dan norma-norma penting sambil mengembangkan keterampilan sosial emosional, yang biasa dikenal sebagai keterampilan lunak. Menggunakan gamelan, salah satu bentuk musik tradisional Indonesia, pendekatan proyek dan proses pembelajaran yang bermakna melalui keterlibatan langsung dan kegiatan pembelajaran berbasis proyek. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas, di mana siswa menjadi fokus utama melalui tiga tahap bimbingan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Siswa yang awalnya tidak terbiasa dengan gamelan, dibimbing untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui permainan ansambel. Penelitian ini mengamati perubahan penting dalam sikap siswa, yang menggarisbawahi pentingnya komunikasi dan kolaborasi. Metode latihan digunakan untuk meningkatkan kenyamanan siswa dalam interaksi sosial, dan kegiatan tersebut diharapkan dapat mengasah keterampilan motorik halus siswa yang secara efektif mempersiapkan mereka untuk tantangan akademis dan sosial di masa depan. Temuan tersebut menunjukkan adanya peningkatan substansial dalam kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi siswa serta peningkatan koordinasi motorik halus yang menunjukkan perubahan pada setiap latihan dalam bentuk peningkatan teknik bermusik yang lebih halus dan lebih harmonis, yang dimaksudkan sebagai manfaat jangka panjang dari pengintegrasian SEL ke dalam pendidikan musik. Integration of Jaranan Folk Songs in Gamelan Learning to Strengthen Middle School Students' Social-Emotional Skills through a Project-Based Learning Model Abstract This study aims to improve students' Social Emotional Learning (SEL) through the arrangement of the traditional song Jaranan packaged in Project Based Learning (PJBL) music lessons. This activity integrates local cultural values through gamelan as an educational tool to instill social norms and develop soft skills for students. The research was conducted at SMPN 1 Surabaya, involving 35 eighth-grade students as participants. The research method used was Collaborative Classroom Action Research (PTKK) with three cycles, namely the planning, implementation, observation, and reflection stages. The learning process was carried out through gamelan ensemble activities using demonstration, drill, exploration, and participatory evaluation methods, which allowed students to be directly involved in the creative process of traditional music. The results showed a significant improvement in the socio-emotional aspects of the students, especially their fine motor coordination. in This improvement was particularly evident in their self-confidence, communication skills, and collaboration skills. Motorically, students experienced an improvement in their fine motor coordination. The improvement in students' fine motor coordination was evident in their increasingly refined and harmonious drumming techniques. These findings indicate that the integration of SEL in traditional music learning can be an effective approach to shaping character education and training students' skills in facing future academic and social challenges. Keywords: Gamelan; Skills; Values; Social-Emotional Learnin

    Variasi Gaya Vokal dalam Keroncong Asli: Menafsirkan Estetika Ngeroncongi melalui Penampilan Mus Mulyadi, Toto Salmon dan Ismanto

    No full text
    Kajian ini mengeksplorasi perbedaan gaya vokal dalam interpretasi Keroncong Asli melalui studi komparatif terhadap tiga maestro keroncong Indonesia: Mus Mulyadi, Toto Salmon, dan Ismanto. Ketiganya menyanyikan lagu “Kr. Hanya Untukmu” karya Sapari dan WS Nardi, namun dengan pendekatan vokal yang berbeda secara signifikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis musik tekstual, yang dipadukan dengan data resepsi pendengar sebagai bentuk triangulasi untuk memperkuat validitas temuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Mus Mulyadi menampilkan gaya vokal yang ekspresif dengan cengkok agresif dan penuh ornamen, Toto Salmon menyanyikan lagu dengan artikulasi yang jelas dan mengikuti notasi baku, sementara Ismanto memperlihatkan karakter suara yang sumeleh dengan improvisasi yang terukur dan bersahaja. Ketiga pendekatan tersebut ditelaah lebih lanjut melalui persepsi penghayat musik keroncong untuk mengungkap nilai-nilai estetis yang membentuk identitas vokal Keroncong Asli. Konsep ngeroncongi—yakni cara bernyanyi khas yang ekspresif namun berakar kuat pada struktur estetika tradisi—digunakan sebagai bingkai pemaknaan. Kajian ini menyimpulkan bahwa kreativitas individu, selama tetap berpijak pada koridor estetika genre, memainkan peran penting dalam pembentukan gaya vokal dalam tradisi keroncong yang terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman. Vocal Style Variety in Keroncong Asli: Interpreting the Aesthetic of Ngeroncongi through the Performances of Mus Mulyadi, Toto Salmon, and IsmantoAbstractThis study examines the differences in vocal styles in interpreting Keroncong Asli through a comparative analysis of three Indonesian keroncong maestros: Mus Mulyadi, Toto Salmon, and Ismanto. All three sing "Kr. Hanya Untukmu" by Sapari and WS Nardi, but with significantly different vocal approaches. This research employs a qualitative method with a textual music analysis approach, combined with listener reception data as a form of triangulation to strengthen the validity of the findings. The analysis results indicate that Mus Mulyadi displays an expressive vocal style with aggressive inflections and abundant ornamentation, Toto Salmon sings the song with precise articulation and follows standard notation. At the same time, Ismanto exhibits a smooth vocal character with measured and understated improvisation. These three approaches are further examined through the perceptions of Keroncong music enthusiasts to uncover the aesthetic values that shape the vocal identity of Keroncong Asli. We use the concept of ngeroncongi—a distinctive singing style that is expressive yet deeply rooted in traditional aesthetic structures—as a framework for interpretation. This study concludes that individual creativity, as long as it remains within the aesthetic boundaries of the genre, plays an essential role in shaping vocal styles within the evolving and adapting tradition of keroncong.Keywords: Original Keroncong; Vocal Style; Ngeroncongi; Musical Aesthetic

    Eksplorasi Bunyi Komposisi Harmonic in Ryoanji: Inovasi dalam Proses Kreatif

    Full text link
    Artikel ini membahas tentang eksplorasi bunyi dalam proses penciptaan karya komposisi musik “Harmonic in Ryoanji”. Proses penggarapan didasarkan pada pengalaman ekstramusikal yang meliputi suasana keindahan dan ketenangan kuil Ryoanji. Eksplorasi bunyi menjadi upaya inovasi dalam proses kreatif. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Proses penciptaan karya terdiri dari tiga tahap, yakni eksplorasi, improvisasi, dan komposisi, yang diterapkan secara dinamis dan fleksibel. Hasil eksplorasi bunyi yang telah dilalui menawarkan empat jenis eksplorasi baru, yaitu (1) eksplorasi suasana, (2) eksplorasi teknik dan timbre, (3) eksplorasi instrumen, dan (4) eksplorasi tangga nada. Tawaran tersebut dieksplorasi dengan memadukan alat musik tradisional Indonesia, Jepang, dan alat musik Barat. Proses kreatif dalam hal pencarian elemen musik memberikan kebebasan bagi musisi untuk mengekspresikan gagasan secara autentik, sementara penggabungan skala pentatonis dan diatonis menambah dimensi interaktif dan inovasi. Karya musik “Harmonic in Ryoanji” tidak hanya berfungsi sebagai sarana pertunjukkan, tetapi berkontribusi terhadap perkembangan komposisi musik eksperimental. Selain itu, karya ini juga memperkaya ranah penciptaan musik antarbudaya dan menciptakan ruang ekspresi yang lebih inovatif.Exploration of Harmonic Composition Sounds in Ryoanji: Innovations in the Creative ProcessAbstractThis article discusses the exploration of sound in creating the music composition work “Harmonic in Ryoanji". The composing process is based on extra-musical experiences that include the atmosphere of beauty and tranquility of Ryoanji temple. Sound exploration becomes an innovation effort in the creative process. The method used in this research is a qualitative approach with a case study method. Creating the work consists of three stages, exploration, improvisation, and composition, which are applied dynamically and flexibly. The results of the sound exploration that has been conducted offer four new types of exploration, namely (1) exploration of atmosphere, (2) exploration of technique and timbre, (3) exploration of instruments, and (4) exploration of scales. These were explored by combining traditional Indonesian, Japanese, and Western instruments. The creative process of finding musical elements gives musicians the freedom to express ideas authentically, while incorporating pentatonic and diatonic scales adds an interactive and innovative dimension. The musical work "Harmonic in Ryoanji" not only functions as a performance tool but also contributes to the development of experimental music composition. It also enriches the field of intercultural music creation and creates a more innovative space for expression.Keywords: sound exploration; intercultural music; creative process; experimental compositio

    Rekonseptualisasi Metode Pembelajaran Ricikan Gender Berbasis Model Aural: Pendekatan Interpretasi Rasa Dalam Pendidikan Formal

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi evektivitas penerapan model aural dalam pembelajaran  ricikan gender di lingkungan pendidikan formal ISI Yogyakarta. Gender merupakan salah satu ricikan gamelan Jawa yang memiliki peran musikal sangat penting. Pola penyajian ricikan gender dimainkan menggunakan dua tangan secara bersamaan maupun bergantian yang menghasilkan melodi yang disebut dengan cengkok-cengkok genderan.  Cengkok genderan merupakan sebuah tafsir (interpretasi), imajinasi atau kreatifitas seorang pengrawit untuk menentukan pola, teknik dan gaya dalam memainkan ricikan gender. Kemampuan tafsir, imajinasi dan kreatifitas tersebut muncul tidak terlepas dari pengaruh metode belajar. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Obyek materi dalam penelitian terdiri dari mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta semester dua. Total mahasiswa sebanyak 10 anak yaitu terdiri dari 9 mahasiswa dan 1 darmasiswa dari Negara Canada dengan latar belakang belum mengenal gamelan Jawa. Dalam penelitian ini data diperoleh melalui observasi partisipan dan wawancara. Validasi data didapat melalui member checking, selanjutnya dilakukan pengukuran melalui kuesioner self-report serta diskusi kelompok terpadu. analisis tematik akan digunakan untuk mengidentifikasi tema dan pola dalam data dengan Kerangka kerja pengkodean 6 fase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 7 dari 10 mahasiswa reguler dan darmasiswa menyatakan bahwa model aural lebih efektif digunakan sebagai metode pembelajaran untuk mencapai tingkat daya tafsir (interpretasi), imajinasi atau kreatifitas dalam menguasai cengkok genderan.Reconceptualizing Aural-Based Instruction of the Gender Ricikan: An Interpretive Approach to Inner Musical Sense in Formal EducationAbstractThis study aims to identify the effectiveness of applying an aural model in teaching the Ricikan gender within the formal educational environment of ISI Yogyakarta. Gender is one of the essential ricikan (instrumental components) in Javanese gamelan, holding a critical musical role. It is performed using both hands simultaneously or alternately to produce melodic patterns known as cengkok genderan. These cengkok represent interpretations, imaginative constructs, or creative expressions of a pengrawit (gamelan musician) in determining the patterns, techniques, and stylistic approaches when playing the gender. The chosen learning method profoundly influences interpretative, imaginative, and creative abilities. This research employed a qualitative methodology with a case study approach. The research subjects consisted of second-semester students of the Karawitan Department at ISI Yogyakarta, totaling ten participants: nine local students and one darmasiswa (foreign scholarship student) from Canada, all of whom had no prior experience with Javanese gamelan. Data were collected through participant observation and interviews. Data validation was conducted via member checking, followed by measurements using self-report questionnaires and focused group discussions. Thematic analysis used a six-phase coding framework to identify recurring themes and patterns. The study results indicate that seven out of ten participants, including both regular students and the darmasiswa, affirmed that the aural model proved more effective as a learning method in enhancing interpretative, imaginative, and creative capacities in mastering cengkok genderan.Keywords: Javanese gamelan; gender ricikan; aural learning model; interpretive musical feeling; formal music educatio

    Eksplorasi Balungan Gending Gaya Yogyakarta dan Surakarta

    No full text
    Balungan gending merupakan acuan pengrawit dalam menentukan pola permainan ricikan. Secara visual, balungan gending berbentuk susunan nada-nada yang sudah diatur tinggi rendah maupun fungsinya. Karawitan gaya Yogyakarta memiliki balungan gending yang berbeda dengan gaya Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gaya atau ciri khas gending berorientasi kewilayahan sehingga untuk mengeksplorasi dua gaya gending ini tidak akan terlepas dari historisitas kewilayahan empat kerajaan Dinasti Mataram, yaitu Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran Surakarta, dan Pakualaman Yogyakarta beserta dengan pengaruhnya. Dengan mempergunakan metode deskriptif kualitatif, keberadaan gending gaya Yogyakarta dan Surakarta dilihat sebagai suatu fenomena sosial dengan mengacu pada balungan gending. Balungan gending gaya Yogyakarta cenderung melompat, patah-patah. Balungan gending gaya Surakarta cenderung linier, mengalun. Perbedaan balungan gending akan berdampak pada karakter gending. Gending gaya Yogyakarta cenderung berkarakter gagah, mantap, dan bergelora, sedangkan gending gaya Surakarta cenderung berkarakter luwes, mengalir, mengalun. Ketercapaian karakter gending akan terwujud melalui kemampuan pengrawit dalam menginterpretasi kehendak balungan gending.Exploration of Balungan Gending Gaya Yogyakarta and SurakartaAbstractBalungan gending is a reference for musicians who want to determine the pattern of ricikan playing. Visually, balungan gending takes the form of a sequence of notes arranged in terms of pitch and function. The Yogyakarta style of karawitan has a different balungan gending from the Surakarta style. This study aims to explore the regionally oriented styles or characteristics of gending, so that the exploration of these two gending styles cannot be separated from the regional history of the four kingdoms of the Mataram Dynasty, namely the Sultanate of Yogyakarta, the Sunanate of Surakarta, Mangkunegaran Surakarta, and Pakualaman Yogyakarta, along with their influences. Using a qualitative descriptive method, the existence of Yogyakarta-style and Surakarta-style gending is viewed as a social phenomenon based on the gending structure. The structure of Yogyakarta-style gending tends to be jumpy and fragmented, while the structure of Surakarta-style gending tends to be linear and flowing. Differences in gending structure will impact the character of the gending. Yogyakarta-style gending tends to have a bold, steady, and passionate character, while Surakarta-style gending tends to have a flexible, flowing, and melodious character. The gending's character is realized through the performer's ability to interpret the intent of the gending's structure.Keywords: Exploration of Gending; Balungan Gending; Gending style

    Proses Kreatif Komposisi Karawitan “Gesang” Sebagai Wujud Representasi Sosial

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan proses kreatif dalam penciptaan komposisi karawitan berjudul Gesang, serta mengevaluasi kontribusinya terhadap pengembangan bentuk garap dalam seni karawitan. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana proses penciptaan karya ini mampu memunculkan inovasi dalam bingkai tradisi karawitan Jawa tanpa kehilangan identitas estetikanya. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode deskriptif-analitis, serta didasarkan pada teori-teori kreativitas yang menekankan pada proses eksploratif dan transformatif dalam penciptaan karya seni. Karya Gesang merupakan komposisi yang dibangun dari repertoar tradisional yang kemudian diolah secara kreatif melalui penggabungan unsur-unsur musikal tradisi dan elemen inovatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gesang tidak hanya berhasil menyuguhkan bentuk musikal yang estetis, namun juga memperlihatkan bagaimana karawitan dapat menjadi medium ekspresi yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Proses kreatif dalam karya ini mencerminkan interaksi antara pemahaman terhadap struktur musikal tradisi dengan dorongan untuk bereksperimen, menghasilkan bentuk garap baru yang merefleksikan dinamika sosial serta menyampaikan pesan moral melalui bahasa musikal. Dengan demikian, karya ini memiliki peran strategis dalam membuka ruang eksplorasi bagi seniman karawitan untuk terus memperkaya khazanah komposisi melalui pendekatan yang kontekstual dan relevan. Temuan ini diharapkan memberi dampak positif terhadap praktik penciptaan karya di kalangan pelaku seni, sekaligus mendorong lahirnya karya-karya karawitan baru yang lebih variatif dan inovatif.Artistic Creativity in the Karawitan Composition Gesang: A Representation of Social RealitiesAbstractThis study aims to examine and describe the creative process involved in the composition of a karawitan piece titled Gesang, and to evaluate its contribution to the development of interpretative forms (garap) in Javanese gamelan music. The primary research question focuses on how the creative process of this composition generates innovation within the framework of Javanese karawitan tradition, without losing its aesthetic identity. A qualitative approach was employed using a descriptive-analytical method, underpinned by creativity theories emphasizing exploratory and transformative dimensions in artistic creation (Amabile, 1996; Csikszentmihalyi, 1997). The composition Gesang was developed from a traditional repertoire and creatively restructured through a synthesis of traditional musical elements and innovative components. The findings indicate that Gesang achieves an aesthetically rich musical form and exemplifies how karawitan can function as an expressive medium responsive to contemporary cultural developments. The creative process reflects a dialectical interaction between an internalized understanding of traditional musical structures and an impulse toward experimentation. This process produces novel garap forms that engage with social dynamics and convey moral narratives through musical expression. Thus, Gesang strategically expands the creative horizon for karawitan artists, encouraging contextual and relevant approaches to composition. These findings are expected to contribute positively to artistic creation practices, fostering the emergence of more diverse and innovative karawitan works.Keywords: Karawitan composition; Musical innovation; Social representation; Creative proces

    120

    full texts

    136

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    PROMUSIKA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇