136 research outputs found

    Musical Hyperreality in Kampung Jelita: A Case Study of Thematic Tourism in Surabaya

    No full text
    This study analyzes music's role in shaping visitors' hyperreal experiences in Kampung Jelita, Surabaya. Using a qualitative case study approach, the research focuses on the Japanese and Balinese thematic zones and applies Jean Baudrillard's theory of hyperreality. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, literature review, and documentation conducted in the Kampung Jelita area, Manukan Lor IV E Street, RT 05/RW 01, Banjar Sugihan Subdistrict, Tandes District, Surabaya. The findings reveal that instrumental music is a cultural simulator that evokes illusion and fantasy, supporting Baudrillard's view that simulation can substitute reality. The soundscapes in each thematic zone, Japanese and Balinese, enhance the immersive experience by harmonizing with visual ornaments, prompting visitors to engage emotionally, experience nostalgia, and participate in performative acts such as renting traditional costumes. However, some visitors noted inconsistencies between the music and the intended cultural themes. Theoretically, this study contributes to hyperreality discourse by emphasizing the role of music in reinforcing sensory simulation within thematic tourism village contexts. Practically, the findings suggest that curating culturally coherent soundscapes can strengthen visitors' emotional attachment and enhance destination branding. Thus, music should be regarded as a strategic medium in constructing cultural identity and tourist experience.Hiperrealitas Musik di Kampung Jelita: Studi Kasus Tematik Wisata di SurabayaAbstrakPenelitian ini menganalisis peran musik dalam membentuk pengalaman hiperreal pengunjung di Kampung Jelita, Surabaya. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini berfokus pada zona tematik Jepang dan Bali serta menerapkan teori hiperrealitas Jean Baudrillard. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, studi pustaka, dan dokumentasi yang dilakukan di kawasan Kampung Jelita, Jalan Manukan Lor IV E, RT 05/RW 01, Kelurahan Banjar Sugihan, Kecamatan Tandes, Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik instrumental berfungsi sebagai simulator budaya yang membangkitkan ilusi dan fantasi, mendukung pandangan Baudrillard bahwa simulasi dapat menggantikan realitas. Lanskap bunyi (soundscape) di setiap zona tematik Jepang dan Bali memperkuat pengalaman imersif dengan menciptakan keselarasan antara elemen audio dan visual, sehingga mendorong pengunjung untuk terlibat secara emosional, merasakan nostalgia, serta berpartisipasi dalam tindakan performatif seperti menyewa kostum tradisional. Namun, beberapa pengunjung mencatat adanya ketidaksesuaian antara musik yang diputar dengan tema budaya yang dimaksudkan. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap wacana hiperrealitas dengan menekankan peran musik dalam memperkuat simulasi sensorik dalam konteks kampung tematik wisata. Secara praktis, temuan ini menyarankan bahwa pengelolaan lanskap bunyi yang selaras secara budaya dapat memperkuat keterikatan emosional pengunjung dan meningkatkan citra destinasi wisata. Dengan demikian, musik perlu dipandang sebagai media strategis dalam membangun identitas budaya dan pengalaman wisata.Kata kunci: hiperrealitas musik; Kampung Jelita; musik instrumental tradisional; simulakr

    Digitalization of Tradition: An Android-Based Gamelan Degung Sundanese Application to Improve Musicianship Skills is Higher Education

    No full text
    Using the Gamelan Degung Sunda application as an alternative instructional medium has proven effective in addressing the challenges posed by the limited availability of gamelan instruments in higher education settings. The demand for flexible and efficient solutions in developing performance skills for Gamelan Degung has driven the integration of digital technology into arts education. This study adopts a qualitative approach using a case study method, employing direct observation and in-depth interviews with students who engaged with the application as part of their learning process. The findings indicate that the Gamelan Degung Sunda application effectively enhances students' understanding of musical structure and fundamental techniques in playing Gamelan Degung Sunda. It also significantly improves accessibility by enabling students to practice independently outside formal classroom sessions. Moreover, the application fosters active learning, despite its limited content scope, which does not fully represent the complexity of karawitan (Sundanese classical music). These findings underscore that integrating digital technology into arts education is not merely a short-term solution to infrastructural constraints but represents an innovative approach to cultivating adaptive and participatory learning experiences. The practical implication lies in the application's role as a pedagogical aid within academic environments that lack adequate facilities. Academically, the study opens avenues for developing digitally-based arts curricula and further investigating the effectiveness of application-based instructional media within the context of arts education in the digital transformation era. Future application developments are recommended to include more complex instructional content and comprehensive integration within technology-oriented arts study programs.Digitalisasi Gamelan Degung: Aplikasi Berbasis Android untuk Meningkatkan Kemampuan Musikal di Pendidikan TinggiAbstrakPemanfaatan aplikasi Gamelan Degung Sunda sebagai media pembelajaran alternatif terbukti mampu menjawab tantangan keterbatasan instrumen gamelan di lingkungan perguruan tinggi. Kebutuhan akan solusi yang fleksibel dan efisien dalam mengembangkan keterampilan memainkan Gamelan Degung mendorong integrasi teknologi digital dalam proses pendidikan seni. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui observasi langsung dan wawancara mendalam terhadap mahasiswa yang menggunakan aplikasi tersebut dalam pembelajaran. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi Gamelan Degung Sunda efektif dalam mendukung pemahaman struktur musikal dan teknik dasar dalam bermain Gamelan Degung Sunda, sekaligus meningkatkan aksesibilitas mahasiswa untuk berlatih secara mandiri di luar kelas formal. Aplikasi ini juga memotivasi proses belajar secara aktif, meskipun masih memiliki keterbatasan dalam cakupan materi yang belum merepresentasikan keseluruhan kompleksitas karawitan Sunda. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi digital dalam pembelajaran seni bukan hanya solusi jangka pendek atas keterbatasan sarana, tetapi juga pendekatan inovatif dalam menciptakan pengalaman belajar yang adaptif dan partisipatif. Implikasi praktisnya terletak pada pemanfaatan aplikasi ini sebagai alat bantu pedagogis dalam lingkungan akademik yang memiliki keterbatasan fasilitas. Sementara itu, implikasi akademiknya membuka peluang untuk pengembangan kurikulum seni berbasis digital serta kajian lebih lanjut mengenai efektivitas media pembelajaran berbasis aplikasi dalam konteks pendidikan seni di era transformasi digital. Disarankan pengembangan lanjutan terhadap konten aplikasi dengan materi yang lebih kompleks, serta integrasi menyeluruh dalam program studi seni berbasis teknologi.Kata kunci:  media pembelajaran; aplikasi musik; gamelan degung Sunda; aplikasi digital gamelan degung

    Dinamika Ekosistem Seni Paduan Suara Voice of Bali dalam Perspektif Pierre Bourdieu

    Full text link
    Voice of Bali adalah komunitas paduan suara yang mengelola interaksi antara modal budaya, sosial, ekonomi, dan simbolik dengan struktur ranah seni paduan suara untuk menciptakan praktik sosial yang mendukung keberlanjutan, inovasi, dan penguatan posisi komunitas dalam arena seni, meskipun menghadapi keterbatasan modal ekonomi dan tantangan adaptasi ditengah dinamika global. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana komunitas paduan suara Voice of Bali mengelola interaksi antar struktur modal, habitus, arena, praproduksi dan pasca produksi serta manajemen event untuk menjadi contoh bagi kelompok lain dalam mengembangkan paduan suara di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi dengan mengkontekstualisasikan teori Pierre Bourdieu untuk menganalisis bagaimana interaksi antara habitus, modal, serta arena yang menghasilkan praktik sosial untuk mendukung keberlanjutan, invovasi, dan penguatan posisi komunitas dalam ekosistem seni paduan suara.  Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Voice of Bali tidak hanya aktif dalam kompetisi nasional maupun internasional, namun juga aktif dalam kegiatan event dan aktif menjadi ruang eksplorasi bagi anggotanya untuk memberikan kontribusi signifikan dalam mengembangkan ekosistem paduan suara di Indonesia. Simpulan penelitian ini mengaskan pentingnya membangun profil yang kuat untuk menjadi kelompok seni yang kompeten dan inovatif, dengan reputasi nasional dan internasional. Melalui ekosistemnya Voice of Bali menggabungkan seni, budaya, dan jejaring sosial melalui kolaboratif kreatif, pengelolaan sumber daya yang strategis, serta dedikasi pada kualitas artistik. Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada kajian akademik tentang paduan suara, tetapi juga memberikan panduan praktis bagi komunitas seni dalam mengelola modal dan menghadapi tantangan industri seni di era global.The Dynamics of the Choral Art Ecosystem: A Bourdieusian Analysis of Voice of BaliAbstractVoice of Bali is a choral community that manages the interaction between cultural, social, economic, and symbolic capital with the structure of the choral art domain to create social practices that support sustainability, innovation, and strengthening the community's position in the art arena, despite facing limited economic capital and adaptation challenges amid global dynamics. This research aims to explain how the Voice of Bali choir community manages interactions between capital structures, habitus, arena, pre-production and post-production, and event management to become an example for other groups developing choirs in Indonesia. This research uses a qualitative approach, data collection methods with observation, interviews and documentation by contextualizing Pierre Bourdieu's theory to analyze how the interaction between habitus, capital, and arena produces social practices to support sustainability, innovation, and strengthening the community's position in the choral art ecosystem. The research results show that Voice of Bali is active in national and international competitions and event activities and as an exploration space for its members to significantly contribute to developing the choral ecosystem in Indonesia. The conclusion of this research emphasizes the importance of building a strong profile to become a competent and innovative arts group with a national and international reputation. Through its ecosystem, Voice of Bali combines art, culture and social networking through creative collaboration, strategic resource management and dedication to artistic quality. This research not only contributes to the academic study of choirs but also provides practical guidance for the arts community in managing capital and facing the challenges of the arts industry in the global era.Keywords: Voice of Bali; Choir; Pierre Bourdieu; Habitus; Cultural Capita

    Metode Kreatif dalam Penciptaan Musik Etnis: Memadukan Tradisi dan Modernitas

    No full text
    Musik etnis kaya akan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di era modern, musik ini mengalami perkembangan yang signifikan berkat berbagai inovasi. Inovasi dan tradisi adalah dua aspek yang sering berinteraksi dan saling melengkapi dalam seni dan karya kreatif. Dalam banyak situasi, inovasi berperan sebagai penyegaran dan pengembangan dari tradisi yang ada, sementara tradisi menyediakan dasar yang kuat dan kaya bagi inovasi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang memungkinkan peneliti untuk menyelami makna dan pengalaman subjektif dalam konteks musik etnis, sehingga sangat sesuai untuk memahami interaksi antara inovasi dan tradisi dalam karya kreatif. Selain itu, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, studi kasus, observasi partisipatif, analisis data, dan validasi data. Tulisan ini mengeksplorasi bagaimana perpaduan elemen tradisional dalam musik etnis dengan pendekatan modern menghasilkan karya-karya kreatif yang tidak hanya mempertahankan identitas budaya, tetapi juga relevan bagi audiens saat ini. Dengan memanfaatkan teknologi, teknik komposisi kontemporer, dan kolaborasi lintas budaya, musik etnis mengalami transformasi yang membuka jalan bagi bentuk ekspresi baru. Ethnic Music in the Modern Era: Innovation and Tradition in Creative WorksAbstractEthnic music is rich in traditions passed down from generation to generation. In modern times, however, this music has undergone significant development thanks to various innovations. Innovation and tradition are two aspects that often interact and complement each other in art and creative work. In many situations, innovation acts as a refreshment and development of existing traditions, while tradition provides a strong and rich foundation for innovation. This study uses qualitative methods that allow researchers to delve into subjective meanings and experiences in the context of ethnic music, making it particularly suited to understanding the interaction between innovation and tradition in creative work. In addition, data collection was conducted through interviews, case studies, participant observation, data analysis, and data validation. This paper explores how the fusion of traditional elements in ethnic music with modern approaches results in creative works that not only maintain cultural identity, but are also relevant to today's audiences. Through the use of technology, contemporary compositional techniques, and cross-cultural collaborations, ethnic music is undergoing a transformation that paves the way for new forms of expression.Keywords: Ethnic Music; Innovation; Tradition; Creative Wor

    Komodifikasi Musik Bertema Cinta: Pertunjukan Yovie Widianto “Billion Songs Concert and Festival”

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap komodifikasi Yovie Widianto pada pertunjukan Billion Songs Concert and Festival dalam konteks komodifikasi musik bertema cinta pada Industri Kebudayaan Massa oleh Theodor W. Adorno. Masalah penelitian yang diangkat adalah bagaimana strategi Yovie Widianto mengkomodifikasi karyanya dalam bentuk pertunjukan ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Data dikumpulkan melalui observasi langsung pada lokasi pertunjukan, wawancara dengan Yovie Widianto, serta analisis berbagai dokumen terkait seperti materi promosi, artikel berita, dan data streaming. Pertunjukan ini sebagai contoh studi kasus karena menggambarkan fenomena komersialisasi musik bertema cinta dalam industri musik masa kini. Aspek komersialisasi ini dapat terlihat dari seleksi lagu-lagu populer, kolaborasi dengan berbagai musisi populer, yang meningkatkan antusiasme dan daya tarik masyarakat serta menunjang penjualan tiket yang tinggi. Penelitian ini akan melihat bagaimana lagu-lagu bertema cinta dijadikan komoditas, dengan fokus pada model karya yang disajikan, strategi komodifikasi, dan pengaruh komersialisasi terhadap nilai artistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komodifikasi musik bertema cinta melibatkan pemilihan lagu hits, kolaborasi musisi, dan strategi promosi yang menyatukan antusiasme dan daya tarik masyarakat terhadap pertunjukan. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa strategi komodifikasi yang digunakan berhasil meningkatkan popularitas dan eksposur Yovie Widianto, serta mengukuhkan posisi musik bertema cinta sebagai komoditas yang bernilai dalam industri musik masa kini.The Commodification of Love-Themed Music: Yovie Widianto's Performance “Billion Songs Concert and Festival”AbstractThis research aims to study the commodification of Yovie Widianto in the Billion Songs Concert and Festival performance within the context of the commodification of love-themed music in the Mass Culture Industry by Theodor W. Adorno. The research problem addressed is how Yovie Widianto's strategies in commodifying his works through this performance. This study employs a qualitative method with approaches including observation, interviews, and document analysis. Data were collected through direct observation at the performance venue, interviews with Yovie Widianto, and analysis of various related documents such as promotional materials, news articles, and streaming data. The performance serves as a case study example because it illustrates the phenomenon of commercialization of love-themed music in the current music industry. This commercialization aspect is evident from the selection of popular songs, and collaborations with various popular musicians, which enhance public enthusiasm and appeal, and support high ticket sales. This research examines how love-themed songs are commodified, focusing on the model of works presented, commodification strategies, and the impact of commercialization on artistic value. The results of the study show that the commodification process of love-themed music involves the selection of hit songs, musician collaborations, and promotional strategies that unite public enthusiasm and appeal for the performance. These findings imply that the commodification strategies used have successfully increased Yovie Widianto's popularity and exposure, and have cemented the position of love-themed music as a valuable commodity in today's music industry.Keywords: The commodification of music; Yovie Widianto; Billion Songs Concert and Festival; Mass Cultural Industr

    Pengembangan Model Pembelajaran Dambus Berbasis Notasi Gitar untuk Pelestarian Musik Tradisional Bangka

    No full text
    Dambus merupakan alat musik tradisional khas Bangka Belitung yang menunjukkan perkembangan signifikan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Secara kualitas, banyak perajin Dambus tersebar di seluruh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memproduksi instrumen ini hingga dipasarkan ke luar negeri. Sementara itu, secara kuantitas, jumlah pembuat, pemain, komunitas, dan penikmat musik Dambus juga terus meningkat. Namun, perkembangan ini belum diimbangi dengan sistem pelestarian yang memadai. Selama ini, pembelajaran Dambus dilakukan secara lisan, seperti halnya tradisi musik tradisional pada umumnya, sehingga berpotensi punah seiring waktu. Penelitian ini bertujuan merancang sistem pembelajaran Dambus berbasis notasi tertulis sebagai upaya pelestarian dan dokumentasi. Model yang dikembangkan mengadaptasi metode pembelajaran gitar, namun disesuaikan dengan karakteristik khas instrumen Dambus. Rancangan pembelajaran disusun secara bertahap, dimulai dari teknik dasar, notasi, hingga latihan-latihan fundamental. Diharapkan, sistem pembelajaran berbasis notasi ini dapat memperkuat eksistensi musik Dambus dan mendorong lahirnya karya-karya baru yang terdokumentasi dengan baik.Developing a Dambus Learning Model Based on Guitar Notation for the Preservation of Bangka Traditional MusicAbstractDambus is a traditional musical instrument native to the Bangka Belitung Islands that has shown significant development in both quality and quantity. In terms of quality, numerous Dambus craftsmen are spread across the Bangka Belitung Province, producing instruments that are even marketed internationally. Quantitatively, the number of makers, performers, communities, and enthusiasts of Dambus music continues to grow. However, this progress has not been matched by an adequate preservation system. Until now, Dambus learning has been conducted orally, as is common in traditional music practices, making it vulnerable to extinction over time. This study aims to design a written notation–based learning system for Dambus as a means of preservation and documentation. The model developed adapts guitar teaching methods but is modified to suit the distinctive characteristics of the Dambus instrument. The instructional framework is structured gradually, beginning with basic techniques, notation, and fundamental exercises. It is expected that this notation-based learning system will help strengthen the existence of Dambus music and encourage the creation of new, well-documented musical works.Keywords:  Traditional music of Bangka; instrumental music pedagogy; music notation system; Dambu

    Struktur dan Harmoni Komposisi Sonata Op. 2 No. 1, 4th Movement Ludwig van Beethoven: Sebuah Kajian Musikologis

    Full text link
    Beethoven adalah salah satu komposer dan pianis yang terkenal dari Jerman pada periode klasik. Semasa hidupnya, Beethoven membuat 32 sonata dan salah satu yang terkenal adalah Sonata Op. 2 No. 1. Sonata merupakan bentuk struktur yang banyak digubah oleh komponis pada periode klasik. Sonata Op. 2 No. 1 merupakan karya yang digubah oleh Beethoven pada awal karirnya dan dipersembahkan untuk gurunya, Joseph Haydn. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur musik, teknik pengolahan motif di antaranya sekuen, motif yang digunakan dan harmoni seperti progresi akord dan kadens yang terdapat dalam Sonata Op. 2 No. 1, 4th movement. Penelitian ini juga meneliti karakteristik Haydn yang ada di dalamnya dikarenakan karya Sonata Op. 2 No. 1 ini dipersembahkan kepada Joseph Haydn. Penelitian ini didasarkan dari practice-based reserach atau penelitian berdasarkan praktik. Penelitian ini bersandar pada dokumen secara tekstual dan menggunakan pendekatan musikologi. Struktur komposisi pada Sonata Op. 2 No. 1, 4th movement berbentuk sonata form yang terdiri atas eksposisi, pengembangan, dan rekapitulasi. Hasil penelitian menunjukkan komposisi ini menggunakan  karakter Haydn yaitu menggunakan pola triplet broken chord, menggunakan sonata form pada movement terakhir, periode tema yang tidak teratur, dan ada kecondongan untuk menekankan pentingnya second subject.Structure and Harmony of Ludwig van Beethoven's Sonata Op. 2 No. 1, 4th Movement: A Musicological StudyAbstractBeethoven is one of Germany's most famous composers and pianists in the classical period. During his lifetime, Beethoven composed 32 sonatas, one of which is the Sonata Op. 2 No. 1. Sonata is a form of structure that many composers composed in the classical period. Sonata Op. 2 No. 1 is a work composed by Beethoven at the beginning of his career and dedicated to his teacher, Joseph Haydn. This research aims to analyze the musical structure, motif processing techniques, sequences, motifs used, and harmonies such as chord progressions and cadences contained in Sonata Op. 2 No. 1, 4th movement. This research also examines Haydn's characteristics because the Sonata Op. 2 No. 1 is dedicated to Joseph Haydn. This research is based on practice-based research. It relies on textual documents and uses a musicological approach. The compositional structure of Sonata Op. 2 No. 1, 4th movement is in sonata form, which consists of exposition, development, and recapitulation. The results show that this composition uses Haydn's characters, namely using triplet broken chord patterns, using sonata form in the last movement, irregular theme periods, and there is a tendency to emphasize the importance of the second subject.Keywords: Musicological Analysis; Beethoven; Sonata Op. 2 No. 1, 4th movement

    Peran Aransemen Gending Jagung-Jagung dalam Meningkatkan Kemampuan Menabuh Gamelan: Sebuah Pendekatan Edukatif

    Full text link
    Orang yang mendengarkan gending Jawa selain merasakan keselarasan tabuhan juga akan mendapatkan berbagai ajaran atau informasi dari syair lagu yang didengarkannya. Salah satu bentuk ajaran dalam gending-gending Jawa ialah sebagai media pembelajaran suatu ilmu tertentu, akan tetapi penggunaan gending sangat jarang dijadikan sebagai media pembelajaran menabuh gamelan itu sendiri. Tujuan dari aransemen ladrang Jagung-Jagung ini ialah sebagai alternatif media pembelajaran tentang teknik menabuh gamelan yang benar. Metode yang digunakan dalam karya ini menggunakan metode perancangan dalam penelitian terapan yang terdiri dari : (1) eksplorasi, (2) improvisasi, (3) pembentukan dan (4) sosialisasi. Hasil dari karya aransemen ini menjelaskan unsur vokal menjadi fokus utama dalam pembuatan karya ini. Komposisi aransemen ini mengungkapkan beberapa teknik memainkan gamelan yang benar yang terdiri dari dimensi sikap yaitu : wiraga (ketepatan dan keterampilan), wirama (irama), wirasa (perasaan) dan dari dimensi hasil bunyi pada instrument tertentu, seperti instrumen balungan, kendang, suling, rebab, dan gambang.The Role of Gending Jagung-Jagung Arrangement in Enhancing Gamelan Performance Skills: An Educational StrategyAbstractThose who engage with Javanese music will not only perceive the harmonious nature of the music itself, but will also gain insight from the lyrics of the songs they listen to. One pedagogical approach in Javanese music is to utilize music as a conduit for imparting specific knowledge. However, the use of music as a means of teaching gamelan music itself is a relatively uncommon phenomenon. The objective of this ladrang Jagung-Jagung arrangement is to serve as an alternative pedagogical tool for learning the proper techniques for playing the gamelan. This work employs a design method in applied research, comprising the following stages: The four stages of the research process are as follows: (1) exploration, (2) improvisation, (3) formation, and (4) socialization. The outcome of this arrangement demonstrates that the vocal element is the primary focus. The composition of this arrangement reveals several techniques for playing the gamelan correctly, which can be divided into two dimensions: attitude and sound. The attitude dimension includes wiraga (accuracy and skill), wirama (rhythm), and wirasa (feeling). The sound dimension encompasses the specific techniques required for certain instruments, such as balungan, kendang, suling, rebab, and gambang.Keywords: arrangement; gending; ladrang Jagung-Jagung; learning medi

    Pengembangan Kaulinan Barudak sebagai Atraksi Budaya Berbasis Musik Tradisional untuk Meningkatkan Pariwisata Jawa Barat

    Full text link
    Kaulinan Barudak merupakan permainan rakyat khas Jawa Barat yang dipadukan dengan elemen musik tradisional dan lagu-lagu lokal. Kesenian ini tidak hanya merepresentasikan kearifan budaya lokal tetapi juga memiliki potensi besar dalam memperkuat identitas budaya dan daya tarik wisata. Namun, eksistensinya saat ini semakin memudar akibat minimnya inovasi, rendahnya minat generasi muda, serta kurangnya perhatian dalam mengemasnya sebagai bagian dari atraksi wisata budaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Kaulinan Barudak sebagai atraksi wisata budaya berbasis musik tradisional guna meningkatkan daya tarik dan nilai destinasi wisata di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pelaku budaya, seniman lokal, serta pengelola pariwisata, dan studi pustaka untuk menggali nilai historis, elemen estetis, serta potensi komersial dari kesenian ini. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif-interpretatif untuk memahami bagaimana revitalisasi Kaulinan Barudak dapat diintegrasikan dalam strategi pengembangan pariwisata budaya yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi Kaulinan Barudak dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan strategis, di antaranya: penyelenggaraan festival budaya tahunan yang melibatkan komunitas lokal, program pelatihan interaktif untuk generasi muda, penyelenggaraan lokakarya (workshop) musik dan permainan tradisional, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana publikasi dan promosi. Selain itu, pengemasan atraksi yang lebih kreatif dan menarik—seperti kolaborasi Kaulinan Barudak dengan pertunjukan musik tradisional yang lebih dinamis—dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Temuan ini mengindikasikan bahwa revitalisasi Kaulinan Barudak tidak hanya mampu memperkuat identitas budaya lokal tetapi juga berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan daya tarik wisata budaya di Jawa Barat. Implementasi strategi ini perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, komunitas budaya, dan pelaku pariwisata, untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan pengembangan kesenian ini sebagai aset wisata yang bernilai tinggi. Dengan demikian, Kaulinan Barudak memiliki potensi untuk menjadi ikon wisata budaya Jawa Barat yang mampu menarik minat wisatawan serta mempromosikan kearifan lokal ke panggung global.Developing Kaulinan Barudak as a Cultural Attraction Based on Traditional Music to Enhance West Java TourismAbstractKaulinan Barudak is a traditional children’s game from West Java that incorporates elements of traditional music and local songs. This cultural art form not only represents local wisdom but also holds significant potential in strengthening cultural identity and enhancing tourism appeal. However, its existence is currently declining due to a lack of innovation, decreasing public interest, and insufficient efforts to package it as a cultural tourism attraction. Therefore, this study aims to develop Kaulinan Barudak as a cultural tourism attraction based on traditional music to enhance the appeal and value of tourist destinations in West Java. This research employs a qualitative method with a case study approach. Data were collected through direct observation, in-depth interviews with cultural practitioners, local artists, and tourism managers, as well as literature studies to explore the historical, aesthetic, and commercial potential of this traditional art. Data analysis was carried out using a descriptive-interpretative approach to understand how the revitalization of Kaulinan Barudak can be integrated into sustainable cultural tourism development strategies. The findings indicate that the revitalization of Kaulinan Barudak can be achieved through several strategic approaches, including the organization of annual cultural festivals involving local communities, interactive training programs for younger generations, workshops on traditional music and games, and the use of social media as a platform for publication and promotion. Furthermore, creatively packaging the attraction—such as combining Kaulinan Barudak with more dynamic traditional music performances—can add significant appeal for both domestic and international tourists. These results suggest that revitalizing Kaulinan Barudak not only strengthens local cultural identity but also significantly contributes to enhancing cultural tourism appeal in West Java. Implementing this strategy requires the involvement of various stakeholders, including local governments, cultural communities, and tourism actors, to ensure the sustainability and success of this art form as a high-value tourism asset. Thus, Kaulinan Barudak has the potential to become a cultural tourism icon of West Java, attracting tourists while promoting local wisdom on the global stage.Keywords: Kaulinan Barudak; traditional music; cultural tourism; revitalization of art; cultural identity; West Jav

    Teknik Permainan Guzheng pada Turkish March Mozart Orkestrasi Quartet Wang Zhong Shan

    No full text
    Piano Sonata No. 11 in A major, K331 movement ke-3, Alla Turca atau Turkish March merupakan musik piano karya Mozart yang terkenal karena bentuknya yang menyerupai jenis lagu mars dengan tempo cepat, gembira, dan meriah. Popularitas Turkish March di abad ke-21 membuat karya ini diaransemen dan diorkestrasikan dalam berbagai instrumen, salah satunya yaitu alat musik tradisional Tiongkok, guzheng oleh Wang Zhong Shan pada tahun 2009. Meskipun piano dengan guzheng merupakan instrumen string, namun perbedaan bentuk instrumen, bahan pembuatan, serta cara memproduksi bunyi mengakibatkan adanya beberapa perbedaan teknik permainan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik permainan guzheng dalam Turkish March karya Mozart yang diorkestrasikan oleh Wang Zhong Shan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan data berupa studi literatur, studi diskografi, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik permainan guzheng yang digunakan dalam Turkish March antara lain teknik memetik senar yang paling dasar yaitu dengan keempat jari, kemudian teknik memetik senar dengan kedua telunjuk kanan dan kiri secara bergantian, teknik menekan senar untuk mendapatkan nada tertentu yang tidak ditala pada senar guzheng, teknik double stop, teknik tremolo, dan teknik arpeggio. Baik notasi yang tertulis di partitur maupun bunyi permainan guzheng yang dihasilkan, ternyata tidak memiliki perbedaan signifikan dengan karya musik piano asli karena teknik permainan guzheng yang digunakan diolah sedemikian rupa untuk tetap menghasilkan bunyi yang mirip dengan karya asliny

    120

    full texts

    136

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    PROMUSIKA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇