BioWallacea Journal of Biological Research
Not a member yet
47 research outputs found
Sort by
Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Daun Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) terutama pada bagian daun mempunyai kandungan metabolit sekunder yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, saponin dan fenol. Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas toksik dari ekstrak etanol daun jarak pagar terhadap mortalitas larva Artemia salina, serta menentukan nilai Lethal Concentration 50 (LC50). Penelitian ini menggunakan 6 konsentrasi perlakuan 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm dengan 4 kali pengulangan. Penelitian ini menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan A. salina yang berumur 48 jam sebagai hewan uji. Hasil dari penelitian ini diperoleh nilai Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak etanol daun jarak pagar yaitu 72,25 ppm, hasil ini menunjukkan adanya aktivitas toksik terhadap larva A. salina. Berdasarkan hasil penelitian maka ekstrak etanol daun jarak pagar bersifat toksik bagi larva udang (A. salina) dan memiliki potensi sebagai senyawa antikanker
Pengaruh Pakan Tambahan Ampas Tahu Dan Tepung Kacang Hijau (vigna radiata, l.) Terhadap Kualitas Fisik Daging Ayam Broiler (Gallus domesticus): Pengaruh Pakan Tambahan Ampas Tahu Dan Tepung Kacang Hijau (vigna radiata, l.) Terhadap Kualitas Fisik Daging Ayam Broiler (Gallus domesticus)
Abstract
To improve the quality of broiler chicken meat, a method that has been applied is to add a type of feed with a higher protein content than standard manufactured feed. In this study, the materials chosen as feed supplements were tofu dregs and mung bean flour because both are rich in protein that can improve meat quality. This study examines the physical effects of broiler chicken meat (Gallus domesticus) that is supplied with a mixture of feed concentrate, tofu dregs, and mung bean flour. The research location is divided between the Food Security and Livestock Service in North Sumatra Province and the Artificial Insemination Laboratory UPT in the same area. The research method used a completely randomized design with four treatment variations, and each was conducted five times. These variations include P0 (regular feed), P1 (90% regular feed with 5% tofu dregs and 5% mung bean flour), P2 (80% regular feed with 10% tofu dregs and 10% mung bean flour), and P3 (70% regular feed with 15% tofu dregs and 15% mung bean flour). Observations were made on meat pH, water-holding capacity, shrinkage during cooking, and meat colour. The results showed that the treatment variants did not have a significant impact on pH, shrinkage during cooking, and meat colour but had a very significant effect on water-holding capacity, where the highest value was recorded in P3 (with the addition of 15% tofu dregs and 15% mung bean flour) at 72.39% and the lowest value in P0 (without feed supplements) at 68.44%.
Keywords: tofu waste, mung bean flour, broiler, pH, cooking loss, water holding capacity, and meat color of rooster broiler.
Abstrak
Untuk memperbaiki kualitas daging ayam broiler, suatu metode yang diterapkan adalah dengan menambahkan jenis pakan yang memiliki kandungan protein lebih tinggi dari pakan standar pabrikasi. Dalam studi ini, bahan yang dipilih sebagai suplemen pakan adalah ampas tahu dan tepung kacang hijau, dikarenakan keduanya kaya akan protein yang dapat memperbaiki kualitas daging. Studi ini diarahkan untuk mengkaji efek fisik daging ayam broiler (Gallus domesticus) yang dipasok dengan campuran konsentrat pakan, ampas tahu, dan tepung kacang hijau. Lokasi penelitian terbagi antara Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan di Provinsi Sumatera Utara serta Laboratorium UPT Inseminasi Buatan di wilayah yang sama. Metode penelitian menggunakan desain acak lengkap dengan empat variasi perlakuan dan masing-masing dilakukan lima kali pengulangan. Variasi tersebut meliputi P0 (pakan biasa), P1 (90% pakan biasa dengan 5% ampas tahu dan 5% tepung kacang hijau), P2 (80% pakan biasa dengan 10% ampas tahu dan 10% tepung kacang hijau), dan P3 (70% pakan biasa dengan 15% ampas tahu dan 15% tepung kacang hijau). Pengamatan dilakukan terhadap pH daging, kemampuan menahan air, penyusutan saat dimasak, dan warna daging. Hasilnya menunjukkan bahwa varian perlakuan tidak berdampak signifikan pada pH, penyusutan saat dimasak, dan warna daging, tetapi memiliki efek yang sangat signifikan pada kemampuan menahan air, di mana nilai tertinggi tercatat pada P3 (dengan penambahan 15% ampas tahu dan 15% tepung kacang hijau) sebesar 72,39% dan nilai terendah pada P0 (tanpa suplemen pakan) sebesar 68,44%.
Kata kunci: ampas tahu, tepung kacang hijau, ayam broiler, pH, susut masak, daya ikat air, dan warna daging ayam broiler jantan
Studi Keanekaragaman Makroalga Pada Kawasan Limbah Thermal PLTU Nii Tanasa, Kecamatan Lalongga Sumeeto, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara: Study of Macroalgae Diversity in The Thermal Waste Area of PLTU Nii Tanasa, Kec. Lalongga Sumeeto, Konawe District, Sulawesi Tenggara
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi komunitas makroalga dalam keanekaragaman, keseragaman serta dominansi berdasarkan suhu air di sekitar area PLTU Nii Tanasa. Metode sampling yang digunakan adalah purposive kuadran dengan mengambil sampel amakroalga menggunakan garis transek(transek line) di stasiun yang telah ditetapkan. Analisis data keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi menggunakan software Microsoft excel. Jumlah sampel yang ditemukan sebanyak 6 jenis makroalga dan berasal dari dua kelas yang berbeda yaitu kelas Phaeophyceae sebanyak 3 jenis dan kelas Rhodophyceae 3 jenis. Dari keals Phaeophyceae Padina Australis, Turbinari Decurrens Sargassum Crispifolium dan kelas Rhodophyceae Gracilaria salicornia, Gracilaria Arcuate, Galaxaura Rugosa. Indeks keanekaragaman (H`) Stasiun 1dan 2 = termasuk dalam kategori rendah, dan pada stasiun 3=tergolong sedang. Indeks keseragaman (E) Stasiun 1 dan 2 = rendah, dan stasiun 3 =sedang. Dan indeks dominansi (C) menunjukkan kondisi struktur komunitas pada stasiun 1 san 2 tergolong tinggi dan pada stasiun 3 =sedang. Kualitas air tergolong perairan dengan tingkat pencemaran sedang.
Kata Kunci : keanekaragaman, keseragaman , dominansi,makroalga , suhu, PLTU Nii Tanasa
Potensi Antibakteri Sansevieria trifasciata Prain. Menggunakan Mikrodilusi Dan Analisis Kemometrik
Eksplorasi Sansevieria trifasciata Prain. sebagai antibakteri hingga kini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk pengkajian aktivitas antibakteri dari ekstrak, fraksi, dan subfraksi F terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa menggunakan metode mikrodilusi. Sampel dimaserasi untuk menghasilkan ekstrak kental, dan difraksinasi menggunakan triturasi dan kromatografi kolom vakum (KKV). Data dianalisis secara statistik two way ANOVA dan Principal Component Analysis (PCA). Aktivitas antibakteri menggunakan metode mikrodilusi. Hasil menunjukkan persen inhibisi pertumbuhan bakteri ekstrak, fraksi, subfraksi F, dan K+ konsentrasi 1000 ppm terhadap S. aureus masing-masing adalah 10.16; 24.26; 49.01; 77.26%, berturut-turut. Persen inhibisi bakteri P. aeruginosa yaitu 21.84; 32.51; 48.97; 66.93%, berturut-turut. Konsentrasi hambat minimum ekstrak, fraksi, subfraksi F, dan K+ terhadap Staphylococcus aureus masing-masing 31.25; 1.95; 1.95; 1.95 ppm, masing-masing. KHM terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa masing-masing 15.62; 1.95; 1.95; 1.95 ppm, berturut-turut. Subfraksi F dapat menghambat pertumbuhan bakteri lebih baik (p<0.05) dibanding dengan kelompok ekstrak dan fraksi. Hasil score plot PCA menunjukkan, daya hambat pertumbuhan bakteri kelompok subfraksi F berada pada kuadran yang sama dengan K+. Ekstrak, fraksi, dan subfraksi F dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Subfraksi F berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agen antibakteri
Kelimpahan Gastropoda Jenis Telescopium sp., Pada Kawasan Mangrove Desa Tanjung Tiram Sulawesi Tenggara
This study aims to determine the abundance of gastropods of the Telescopium sp. type, in the mangrove area of Tanjung Tiram Village, Southeast Sulawesi. This gastropod abundance study is needed to determine the trophic level of gastropods in the food chain in the mangrove ecosystem area in Tanjung Tiram Village, so that the community, especially shellfish farmers, can make key locations for finding gastropod shellfish and can be used as a scientific basis for the cultivation and management of shellfish fisheries in the mangrove ecosystem. Gastropod biological data, in the form of morphometrics (shell length and weight) of gastropods were observed in the laboratory. Then for the parameters of the aquatic environment in the form of water and substrate samples were further analyzed in the Biology Laboratory of the UHO Forensic and Biomolecular Unit using the Miller triangle sediment fraction method and the APHA standard method. Statistical data analysis was carried out using the Excel Stat and SPPS applications. The results obtained showed that the highest abundance of gastropods at the research location was shown at station 3 with an average value of 4.45 ind/m2 and the lowest was at station I with an average value of 2.75 ind/m2
Keywords: Abundance, Telescopium, Mangrove, Southeast Sulawesi.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan gastropoda jenis Telescopium sp., di kawasan mangrove desa Tanjung Tiram Sulawesi Tenggara. Penelitian kelimpahan gastropoda ini dibutuhkan untuk mengetahui tingkatan trofik gastropoda dalam rantai makanan pada kawasan ekosistem mangrove di Desa Tanjung Tiram, sehingga masyarakat khususnya para petambak kerang dapat menjadikan lokasi kunci untuk mencari kerang gastropoda serta dapat dijadikan sebagai dasar ilmiah untuk budidaya dan pengelolaan perikanan kerang-kerangan di ekosistem mangrove. Data biologi gastropoda, berupa morfometrik (panjang cangkang dan beratnya) gastropoda diamati di laboratorium. Kemudian untuk paramater lingkungan perairan berupa sampel air dan substrat dianalisis lebih lanjut di Laboratorium Biologi Unit Forensik dan Biomolekuler UHO menggunakan metode fraksi sedimen segitiga Miller dan metode baku APHA. Analisis data statistik dilakukan menggunakan aplikasi Excel Stat dan SPPS. Hasil yang diperoleh menunjukkan kelimpahan gastropoda tertinggi di lokasi penelitian ditunjukkan pada stasiun 3 dengan nilai rata-rata 4,45 ind/m2 dan terendah adalah pada stasiun I dengan nilai rata-rata 2,75 ind/m2.
Kata Kunci: Kelimpahan, Telescopium, Mangrove, Sulawesi Tenggar
Keanekaragaman Makrofauna Tanah Pada Areal Perkebunan Kelapa Sawit Di Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis makrofauna tanah, indeks keanekaragaman dan kemerataan makrofauna tanah serta kelimpahan makrofauna tanah yang ditemukan pada tingkat produktivitas yang berbeda di areal perkebunan kelapa sawit Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Agustus 2023. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksplorasi yang dilakukan pada 3 stasiun berbeda yaitu stasiun I (Produktivitas tinggi), stasiun II (Produktivitas sedang) dan stasiun III (Produktivitas rendah). Penentuan pemasangan plot kuadran dilakukan secara purposive sampling dengan mempertimbangkan kondisi vegetasi tiap stasiun. Pengambilan sampel menggunakan metode pitfall trap. Tiap stasiun terdiri atas 2 transek masing-masing berisi 15 sub-plot kuandran pitfall trap. Pengambilan sampel dilakukan pada sore hari, kemudian sampel hasil jebakan pitfall trap dimasukkan kedalam botol sampel berisi alkohol 70% sebagai pengawet kemudian sampel diidentifikasi sesuai kesamaan ciri morfologinya dan dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman, kemerataan dan kelimpahan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa makrofauna tanah yang ditemukan terdiri dari 9 ordo, 14 famili dan 18 spesies. Indeks keanekargaman makrofauna tanah pada stasiun I adalah 2,1 dengan indeks kemerataan 0,75, stasiun II adalah 1,8 dengan indeks kemerataan 0,73 dan stasiun III adalah 2,1 dengan indeks kemerataan 0,79. Kelimpahan makrofauna tanah pada stasiun I adalah 46,5, stasiun II adalah 27,5 dan stasiun III adalah 29,5. Indeks keanekaragaman makrofauna tanah pada ketiga staisun tergolong sedang, indeks kemerataan tergolong merata dan kelimpahan tidak merata.
Kata kunci: Makrofauna Tanah, Perkebunan Kelapa Sawit, Produktivitas, Indeks Keanekaragaman, Indeks Kemerataan, Kelimpahan
Respon Fisiologi Kedelai (Glycine max L. Merrill) Terhadap Cekaman Kekeringan Dengan Induksi Paklobutrazol dan Interval Penyiraman Pada Tanah Bekas Tambang Emas
This research aims to observe the combination effect of watering interval, and paclobutrazol toward chlorophyll, alkaloid and anthocyanin content of soybean leaves (Glycine max (L.) Merrill) growing in Bombana’s gold post mining soil. This experimental research used a factorial complete randomized design with three replicates. There were two factors: watering interval (H1: every day, H2: 2 days and H3: 3 days) and paclobutrazol concentrations (P0: 0 ppm, P1:100 ppm, and P2: 200 ppm). The data analysed by two way Anova (Analysis of Variance) and continued with Tukey test. The result show that H1P1 has highest chlorophyll content (31.904 CCI) and lowest at H3P1 was 23.022 CCI. However, the combination of watering interval and paclobutrazol did not have a significant effect on chlorophyll content. Tukey test showed that treatment combination which gives the highest content of both alkaloid and anthocyanin is H3P2 with values of 0.027 g and 0.400 % respectively. It can be concluded that the application of paclobutrazol can stimulate physiological responses in the form of increasing the content of chlorophyll, anthocyanins and alkaloids so that the survival capacity of soybeans increases under drought stress conditions in Bombana’s gold post mining soil.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi interval penyiraman dan paklobutrazol terhadap kadar klorofil, alkaloid, dan antosianin daun kedelai yang tumbuh pada tanah pasca tambang emas Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu interval penyiraman (H1: setiap hari, H2: 2 hari, H3: 3 hari). Faktor kedua yaitu konsentrasi paklobutrazol (P0: 0 ppm, P1: 100 ppm, dan P2: 200 ppm). Data dianalisis menggunakan Anova (Analysis of Variance) dua arah dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil menunjukkan perlakuan H1P1 memiliki kandungan klorofil paling tinggi (31,904 CCI) dan paling rendah pada H3P1 yaitu 23,022 CCI. Namun kombinasi interval penyiraman dan paklobutrazol tidak berpengaruh signifikan terhadap kandungan klorofil. Hasil Uji Tukey menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan H3P2 menunjukkan kandungan tertinggi baik pada alkaloid maupun antosianin dengan nilai secara berurutan yaitu 0,027 g dan 0,400 %. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa paklobutrazol dapat menstimulasi respon fisiologi dalam bentuk peningkatan kandungan klorofil, alkaloid dan antosianin sehingga kapasitas bertahan hidup kedelai pun meningkat di bawah kondisi cekaman kekeringan pada tanah pasca tambang emas Bombana.
Kata Kunci: interval penyiraman, paklobutrazol, klorofil, alkaloid and antosianin, kedela
Studi Kerapatan, Tutupan Jenis, dan Potensi Penyimpanan Karbon Lamun di Perairan Teluk Lasongko, Kabupaten Buton Tengah
Seagrass is one of the coastal plants that has the ability to absorb carbon emissions from the atmosphere, store it in its organs, and deposit it in the sediment around where it grows. Therefore, this plant has an important role to mitigate the impact of climate change due to high carbon emissions in the atmosphere. The aim of this research is to reveal the seagrass species, biomass and vegetation carbon stock as well as seagrass sediment carbon stock in the waters of Lasongko Bay, Central Buton Regency. The density of seagrass data was done by quadratic transect method, sediment collection uses the Auger set, and seagrass carbon as well as sediment carbon analysis was done by LOI method. The result showed that there were 4 seagrass species at station I, and 5 types at station II, namely C. rotundata, T. hemprichii, H. minor, H. Pinifolia, and E. acoroides (only found at station II). The highest stand density of seagrass species was C. rotundata at station I (156.24 stands/m2) and station II (241.57 stands/m2) which was caused by the dominance of this type in both locations. Meanwhile, the highest biomass and carbon stock of the seagrass type is T. hemprichii, with the highest percentage of biomass and carbon stock allocated to the subsurface sediment (roots and rhizomes). Seagrass sediment carbon stocks show fluctuating results depending on the depth of the sediment and the density of the sediment.
Abstrak
Lamun merupakan salah satu tumbuhan pesisir yang memiliki kemampuan dalam menyerap emisi karbon dari atmosfer, menyimpannya ke dalam organnya, serta menimbun ke dalam sedimen di sekitar tempat tumbuhnya. Oleh karena itu, tumbuhan ini memiliki peranan penting dalam upaya memitigasi dampak perubahan iklim akibat tingginya emisi karbon di atmosfer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap jenis lamun, biomassa dan stok karbon vegetasi serta stok karbon sedimen lamun yang ada di perairan teluk lasongko kabupaten Buton Tengah. Koleksi data jenis dan kerapatan menggunakan metode transek kuadrat, koleksi sedimen menggunakan Auger set, serta analisis karbon lamun dan sedimen menggunakan metode LOI. Hasil penelitian diperoleh 4 jenis lamun di stasiun I, dan 5 jenis di stasiun II, yaitu C. rotundata, T. hemprichii, H. minor, H. Pinifolia, dan E. acoroides (hanya terdapat di stasiun II). Kerapatan tegakan jenis lamun tertinggi yaitu jenis C. rotundata di stasiun I (156,24 tegakan/m2) dan stasiun II (241,57 tegakan/m2) yang disebabkan oleh dominansi jenis tersebut di kedua lokasi. Sementara itu, biomassa dan stok karbon jenis lamun tertinggi yaitu jenis T. hemprichii, dengan persentase biomassa dan stok karbon tertinggi dialokasikan di bagian bawah permukaan sedimen (akar dan rhizoma). Untuk stok karbon sedimen lamun menunjukkan hasil yang berfluktuatif yang bergantung kepada kedalaman sedimen dan kepadatan sedimennya.
Kata kunci: Lamun, stok karbon, teluk lasongk
Aktivitas Antibakteri Edible Coating Berbahan Pati Kulit Pisang Raja (Musa sapientum L.) dan Kitosan Cangkang Udang (Litopanaeus vannamei)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri Edible coating berbahan pati kulit pisang raja (Musa sapientum L.) dan kitosan kulit udang (Litopanaeus vannamei) dengan variasi konsentrasi kitosan. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Edible coating dibuat dengan komposisi pati kulit pisang (10%), kitosan dengan variasi konsentrasi 0,5%; 1%; 1,5% dan 2%, akuades, asam asetat 1% dan gliserol 1%. Edible coating diuji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli ATCCC 35218, Staphylococcus aureus ATCC 25925 dan Bacillus cereus ATCC 14579 secara in vitro dengan metode difusi sumuran. Hasil uji antibakteri menunjukkan edible coating pati kulit pisang raja berbahan aktif kitosan kulit udang memiliki aktivitas antibakteri terhadap ketiga bakteri uji. Perlakuan konsentrasi kitosan terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri adalah konsentrasi 1% (b/v)
Inventarisasi Ektoparasit Pada Itik (Anas plathyryncos) Yang Dipelihara Di Kelurahan Ladongi, Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur
This research aims to determine the varians of ectoparasites, the prevalence and intensity of ectoparasites that infect of ducks (Anas plathyryncos) maintained in the Ladongi Village, Ladongi District, East Kolaka District. This study is an exploratory type of research. The 50 ducks used as a sample were randomly selected without being based on male and female. Samples of ectoparasites that have been obtained are then taken to the laboratory to be observed using a microscope. After being observed, the results obtained were identified using a parasitology book as a reference. Data analysis in this study was carried out quantitatively and qualitatively. Quantitatively, the results obtained are calculated using the prevalence, intensity and distribution percentage formulas for ectoparasites, the results of which are presented table and qualitatively namely described. The results showed that of the 50 ducks examined, 25 were declared infected with ectoparasites. The ectoparasites found were lice and mites, lice ectoparasites consisted of 3 species namely Menopon gallinae, Goniocotes gallinae and Goniodes dissimilis and mites consisted of 1 species namely Dermacentor andersoni. The prevalence rate of ectoparasites that attack ducks is 50% and this is included in the very frequent infection category. The intensity level of ectoparasites infecting ducks was 4,56%. This shows that the number of ectoparasites that infect ducks is relatively small, so it can be said to be in the low category.
Keywords: Inventory, Ectoparasites, Ducks, East Kolaka District.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis ektoparasit, prevalensi dan intensitas ektoparasit yang menginfestasi itik (Anas plathyryncos) yang dipelihara di Kelurahan Ladongi, Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksploratif. Itik yang digunakan sebagai sampel sebanyak 50 ekor yang dipilih secara bebas atau dipilih tanpa berdasarkan jenis kelamin jantan dan betina. Sampel ektoparasit yang telah didapatkan, kemudian dibawa ke laboratorium untuk diamati dengan menggunakan mikroskop. Setelah diamati, hasil yang didapatkan diidentifikasi menggunakan buku panduan parasitologi sebagai acuan. Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif yaitu hasil yang telah diperoleh dihitung dengan menggunakan rumus prevalensi, intensitas dan persentase sebaran ektoparasit, yang hasilnya disajikan dalam bentuk tabel dan secara kualitatif (deskriptif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 ekor itik yang diperiksa, 25 ekor dinyatakan terinfestasi ektoparasit. Ektoparasit yang ditemukan yaitu jenis kutu dan tungau, ektoparasit jenis kutu terdiri dari 3 spesies yaitu Menopon gallinae, Goniocotes gallinae dan Goniodes dissimilis dan tungau terdiri dari 1 spesies yaitu Dermacentor andersoni. Tingkat prevalensi ektoparasit yang menyerang itik yaitu 50% dan termasuk dalam kategori infeksi sangat sering. Tingkat intensitas ektoparasit yang menginfeksi itik adalah 4,56%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah ektoparasit yang menginfestasi itik relatif sedikit, sehingga dapat dikatakan dalam kategori rendah.
Kata Kunci : Inventarisasi, Ektoparasit, Itik, Kolaka Timu