Rona Teknik Pertanian
Not a member yet
207 research outputs found
Sort by
Efisiensi Teknologi Irigasi Sprinkler Di Lahan Kelompok Tani Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan
Abstrak. Pemberian air irigasi secara konvensional di lahan usaha tani menyebabkan penurunan nilai efisiensi air irigasi. Hal ini dapat mengakibatkan kehilangan air irigasi dan pemberian air irigasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman. Penerapan teknologi irigasi sprinkler mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas air irigasi untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penerapan teknologi irigasi sprinkler pada lahan pertanian di Kecamatan Tarakan Utara Kota Tarakan. Penelitian ini terdiri atas beberapa tahapan yaitu analisa tanah lahan percobaan, koefisiensi keseragaman (CU) irigasi sprinkler, distribusi keseragaman (DU) irigasi sprinkler, efisiensi penyimpanan (Es) dan efisiensi penggunaan (Eap) irigasi sprinkler. Hasil penelitian menunjukan bahwa tanah lahan percobaan memiliki tekstur lempung berpasir. Efisiensi penerapan irigasi sprinkler tergolong dalam kondisi baik dengan nilai CU 89,18%, DU 82,79%, Es 75%, Eap 68%.The Efficiency Sprinkler Irrigation Technology On Agricultural Land In North Tarakan District, Tarakan CityAbstract. Provision of irrigation water conventionally on farmland. causes a decrease in the efficiency of irrigation water. This can result in loss of irrigation water and this is not suitable for crop needs. The application of sprinkler irrigation technology can increase irrigation efficiency and water productivity to meet plant needs. This study aimed to determine the efficiency of the application of sprinkler irrigation technology on agricultural land in North Tarakan District, Tarakan City. This research consisted of several stages, namely the soil analysis of experimental land, analysis of uniform coefficient (CU), analysis of the uniform distribution (DU), analysis of storage efficiency (Es), and efficiency of use (Eap). The results showed that the experimental land had a sandy loam texture. The efficiency of the application of sprinkler irrigation was in good condition with the value of CU 89.18%, DU 82.79%, Es 75%, and Eap 68%
Evaluasi Pengaruh Rehabilitasi Lahan Dan Hutan Terhadap Koefisien Aliran Tahunan Di Sub Das Krueng Meuleusong
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rehabilitasi lahan dan hutan (RHL) terhadap nilai koefisien aliran tahunan (KAT) di sub-DAS Krueng Meulesong. Pelaksanaan RHL di Desa Riting Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar yang termasuk dalam DAS Krueng Meuleusong dikategorikan tidak berhasil berdasarkan citra satelit perubahan tata guna lahan tahun 2009, 2014, 2017 dan 2019. Hasil interpretasi citra satelit menunjukkan penurunan luasan hutan sekunder, namun luas perdu dan sabana meningkat. Berdasarkan hasil uji korelasi menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan RHL tidak berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan menjadi hutan sekunder dan kegiatan RHL tidak berpengaruh terhadap nilai koefisien aliran tahunan (KAT) di Sub-DAS Krueng Meuleusong.Evaluation Of The Effect Of Land And Forest Rehabilitation On Annual Flow Coefficient In Krueng Meuleusong Sub-WatershedAbstract. This study aims to determine the effect of land and forest rehabilitation (RHL) on the value of the annual flow coefficient (KAT) in the Krueng Meulesong sub-watershed. The implementation of RHL in Riting Village, Indrapuri District, Aceh Besar District which is included in the water catchment area of the Krueng Meuleusong sub-watershed is categorized as unsuccessful based on satellite imagery of 2009, 2014, 2017 and, 2019 of land-use change. The results of satellite imagery interpretation showed a decrease in the area of secondary forest, but shrubs and savanna area had increased. Based on the results of the correlation test, shows that the implementation of RHL activities has no effect on changes in land use to secondary forests and RHL activities have no effect on the value of annual flow coefficient (KAT) in the Krueng Krueng Meuleusong sub-watershed
Rancang Bangun Alat Pemipih Emping Melinjo (Gnetum gnemon) Tipe Mekanis
Abstrak. Pengolahan biji melinjo menjadi emping melinjo saat ini sebagian besar masih menggunakan cara tradisional (manual) yaitu dengan memukul-mukul biji melinjo menggunakan palu yang sebelumnya sudah disangrai dengan pasir. Teknik ini dirasakan tidak efektif karena memerlukan waktu yang cukup lama dan tenaga manusia yang besar. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dibuat suatu mesin untuk memudahkan dalam pemipihan biji melinjo. Penelitian ini bertujuan untuk desain mesin pemipih emping melinjo dengan sumber tenaga motor listrik, menguji fungsional dan kinerja mesin serta membandingkannya dengan metode tradisional. Parameter yang diamati meliputi kapasitas kerja mesin serta persentase kehilangan hasil. Hasil penelitian diperoleh bahwa mesin pemipih emping melinjo tipe tumbukan mempunyai ukuran panjang 820 mm, lebar 520 mm dan tinggi 1010 mm, digerakkan dengan motor listrik dengan daya 1.5 hp 1450 rpm. Hasil pengujian mesin didapatkan kapasitas pemipihan 0.83 kg/jam sedangkan kapasitas secara manual 0.16 kg/jam. Persentase kehilangan hasil dari pemakaian mesin pemipih emping ini adalah 1.5 % sedangkan dengan cara manual adanya kehilangan hasil yaitu sebesar 7 %. Design and Performance Test Of Flatter Machines Impact Type for Melinjo (Gnetum gnemon)Abstract. Flatteting of melinjo seeds into melinjo chips at this time most still use the manual method by beating the seeds of melinjo using a hammer that was previously roasted with sand. This technique is felt to be ineffective because it requires a long time and a large amount of human energy. To overcome these problems, a solution is needed to facilitate flattening the seeds of melinjo. This study aims to design melinjo chips flattening machine with an electric motor as a power source, to test the functionality and performance of the machine, and to compare it with traditional methods. The parameters observed include the machine's working capacity and the percentage of yield loss. The results showed that this flatter machines impact type for melinjo has a length of 820 mm, the width of 520 mm, and a height of 1010 mm, driven by an electric motor with a power of 1.5 HP with a rotation of 1450 rpm. The results of testing the device obtained a flaking capacity of 0.83 kg/hour while the capacity manually was 0.16 kg/hour. The percentage of loss of results from the use of this emping flask is 1.5% while by manual the loss of results is equal to 7%
Potensi Pengawetan Nano Edible Coating Kombinasi Gelatin Tulang Sapi dan Pektin Kulit Apel pada Kacang Tanah
Abstrak. Kacang tanah sering ditumbuhi jamur A. flavus, sehingga perlu di awetkan melalui pengemasan edible coating. Potensi pengawetan nano edible coating yang efektif dapat diterapkan melalui teknik penyemprotan dan terbuat dari formulasi yang optimal seperti limbah organik berupa gelatin tulang sapi, pektin kulit apel, dan bahan antifungi berupa minyak essensial kunyit. Ekstraksi untuk mendapatkan gelatin tulang sapi dan pektin dari kulit apel secara maksimal menggunakan pelarut asam sitrat. Bagian tulang sapi yang tinggi gelatin yaitu tulang belikat dan memiliki kekuatan gel yang kuat sesuai standar GMIA dan kandungan protein yang tinggi dibandingkan gelatin komersial. Ekstraksi pektin kulit apel didapatkan hasil yang maksimal dengan pengeringan beku yang dilanjutkan pengayakan halus dan diekstraksi dengan asam sitrat, sehinga didapatkan produksi, metoksi, viskositas dan berat molekul pektin yang tinggi. Minyak essensial kunyit konsentrasi rendah dapat menghambat Alfatoksin dengan baik. Pembentukan nano partikel yang umum yaitu berbasis kitosan karena dapat mencapai ukuran partikel yang sesuai untuk pembuatan edible coating. Gelatin tulang sapi dan pektin kulit apel yang dikombinasikan dengan minyak essensial kunyit memiliki potensi yang baik untuk pembuatan edible coating. Kombinasi 2 bahan utama tersebut menghasilkan elongasi melebihi standar 50% sehingga lebih efektif.Preservation Potential of Nano Edible Coating Combination of Cattle Bone Gelatin and Apple Peel Pectin on PeanutsAbstract. Peanuts are often overgrown with A. flavus, so they need to be preserved through edible coating packaging. The effective preservation potential of nano edible coatings can be applied through spraying techniques that are made from optimal formulations of organic waste such as cattle bone gelatin, apple peel pectin, and antifungal ingredients such as turmeric essential oil. Extraction to obtain cattle bone gelatin and pectin from apple peel maximally using citric acid as solvent. Part of cattle bone that is high in gelatin is the scapula and has a strong gel strength according to GMIA standards and it also contains high protein compared to commercial gelatin. Extraction of apple peel pectin obtained maximum results by freeze-drying followed by fine sieving and extracted with citric acid, so that high pectin production, methoxy, viscosity, and molecular weight were obtained. Turmeric essential oil with low concentration can inhibit Aflatoxins well. The formation of common nanoparticles is based on chitosan because it can reach a suitable particle size for making edible coatings. Cattle bone gelatin and apple peel pectin combined with turmeric essential oil has good potential for the composition of edible coatings. The combination of these 2 main ingredients produces elongation exceeding the standard 50%, so it is more effective
Evaluasi Kesesuaian Peruntukan Lahan di Sempadan Sungai Krueng Lamnyong, Provinsi Aceh
Abstrak. Sempadan sungai merupakan kawasan penyangga antara ekosistem perairan (sungai) dan daratan. Sungai Krueng Lamnyong terletak di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar yang merupakan daerah hilir dari sungai Krueng Aceh. Sempadan sungai Krueng Lamnyong telah dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk berbagai peruntukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian peruntukan lahan sempadan sungai Krueng Lamnyong berdasarkan peraturan perundang-undangan. Identifikasi serta evaluasi peruntukan lahan di sempadan sungai Krueng Lamnyong menggunakan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sempadan sungai Krueng Lamnyong diperoleh 10 jenis penggunaan lahan. Penggunaan sempadan sungai Krueng Lamnyong yang teridentifikasi sesuai dengan peruntukan yaitu sebesar 110,91 Ha atau 68,13% yang terdiri dari irigasi, jalan, sawah, rerumputan, tanaman palawija dan tanah kosong. Penggunaan yang tidak sesuai peruntukan sebesar 51,88 Ha atau 31,87% yang terdiri dari ruang terbangun, kebun, vegetasi mangrove dan kanopi pohon.Evaluation of Land Use Suitability in Aceh Province's Krueng Lamnyong River BorderAbstract. The river border is a buffer area between aquatic ecosystems (rivers) and land. The Krueng Lamnyong River is located in Banda Aceh City and Aceh Besar District which is the downstream area of the Krueng Aceh river. The Krueng Lamnyong river border has been used by various parties for various purposes. This study aims to evaluate the suitability of the land use of the Krueng Lamnyong river border based on the legislation. Identification and evaluation of land use in the Krueng Lamnyong river border using Geographic Information System (GIS) software. The results showed that the use of the Krueng Lamnyong river border obtain 10 types of land use. The use of the Krueng Lamnyong river border identified according to its designation is 110.91 Ha or 68.13% consisting of irrigation, roads, rice fields, grass, crops, and vacant land. The use that is not in accordance with the designation is 51.88 Ha or 31.87% consisting of build space, gardens, mangrove vegetation, and tree canopies
Kajian Perubahan Geomorfologi Pesisir Kabupaten Aceh Jaya Mengunakan Sistem Informasi Geografis
Kecamatan Sampoiniet dan Setiabakti Kabupaten Aceh Jaya merupakan daerah yang dilanda Gempa dan Tsunami pada 26 Desember 2004. Dampak dari Tsunami telah mengubah geomorfologi pada sebagian wilayah pesisir Kecamatan tersebut. Tujuan dari penelitian ini menganalisis dan membandingkan perubahan garis pantai berdasarkan data citra satelit secara multi temporal memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) info pada tahun sebelum Tsunami yaitu Tahun 2004 dan tahun setelah Tsunami yaitu Tahun 2008 dan 2017. Dampak kerusakan akibat dari Tsunami terutama terjadi pada kawasan pesisir. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Deskriptif dengan melakukan pengumpulan data citra pada periode yang berbeda pada tahun 2004, 2008 dan 2017. Wilayah kajian meliputi kawasan pantai yaitu kecamatan yaitu Kecamatan Sampoiniet dan Kecamatan Setiabakti. Penelitian dilakukan untuk mengamati perubahan panjang garis pantai secara multitemporal yaitu pada tahun 2004, 2008 dan 2017. Hasil penelitian menunjukkan adanya pebubahan Panjang garis pantai dari Tahun 2004 yaitu 50,42 km, menjadi 54,68 km pada tahun 2008 dan bertambah menjadi 55,30 km pada tahun 2017
Perubahan Kapasitas Simpan Air Di Kota Tarakan Kalimantan Utara
Abstrak. Nilai kapasitas simpan air menentukan jumlah air yang tersedia di dalam tanah untuk mendukung kegiatan pertanian khususnya wilayah Kota Tarakan. Tanaman akan mengalami gangguan pertumbuhan dan penurunan produktivitas jika mengalami kekurangan air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kapasitas simpan air berbasis neraca air dan perubahan tata guna lahan di wilayah Kota Tarakan periode 2005- 2020. Prosedur penelitian terdiri dari beberapa tahapan yaitu analisis perubahan tata guna lahan, analisis neraca air dan analisis kapasitas simpan air. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan nilai surplus sebesar 44,26 mm dan limpasan sebesar 59,47 mm. Namun nilai pengisian air tanah mengalami penurunan sebesar 15,21 mm. Nilai kapasitas simpan di wilayah Kota Tarakan selama periode 2005-2020 menunjukkan penurunan sebesar 7,57 mm yaitu 130,35 mm pada tahun 2005 dan 122,78 mm pada tahun 2020.The Changes Of Water Storage Capacity In Tarakan City Of North KalimantanAbstract. The value of water storage capacity determines the amount of water available in the soil to support agricultural activities, especially in Tarakan City area. The plants will experience growth disorders and decrease their productivity if they captivate lack of water. This study aimed at analyzing the changes in water storage capacity based on water balance and the changes in land use in Tarakan City area for the period 2005-2020. The procedure of this study consisted of several stages, namely land-use change analysis, water balance analysis, and water storage capacity analysis. The results of data analysis showed that the surplus-value increased by 44.26 mm and the water runoff enlarged by 59.47 mm. However, the groundwater recharging value decreased by 15.21 mm. The value of water storage capacity in Tarakan City area during the period 2005-2020 showed a decrease of 7.57 mm, namely 130.35 mm in 2005 and 122.78 mm in 2020
Modeling Nitrogen and Phosphorus Transport in Vadose Zone using HYDRUS- 1D
Abstract. The application of large manure on the agricultural lands that derived from the Concentrated Animal Feeding Operations (CAFOs) could cause excess nutrients such as nitrogen and phosphorus transport to the groundwater through vadose (unsaturated) zone. The objective of this study is as follows: (1) to compare nitrogen and phosphorus transport in the vadose zone at different Land Management Units (LMUs) for three consecutive years (2004-06) using HYDRUS-1D, and (2) to analyze the sensitivity of nitrogen and phosphorus transport in different soil types on the van Genuchten soil hydraulic parameters: saturated water content (s), residual water content (r), alpha and n parameters, saturated hydraulic conductivity (Ks), adsorption isoterm coefficients (Kd and ), and tortuosity parameter (l). After modeling using HYDRUS-1D, it could be concluded that the transport of nitrogen was faster during the wet year. The concentrations of nitrogen compounds were most sensitive to saturated water content (s). Phosphorus was most sensitive to adsorption isoterm coefficient (Kd).Abstrak. Pemakaian kotoran ternak dalam jumlah besar pada lahan-lahan pertanian yang berasal dari Peternakan Terkonsentrasi dapat mengakibatkan kelebihan unsur seperti nitrogen dan fosfor yang bertranspor menuju air tanah melalui zona tidak jenuh air. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) untuk membandingkan transpor nitrogen dan fosfor di daerah tidak jenuh air pada unit lahan pertanian yang berbeda selama tiga tahun berturut-turut (2004-06) dengan menggunakan HYDRUS-1D, dan (2) untuk menganalisa sensitivitas transpor nitrogen dan fosfor pada jenis tanah yang berbeda dengan menggunakan parameter hidrolik tanah van Genuchten: kandungan air jenuh (s), kandungan air residual (r), parameter alpha dan n, konduktivitas hidrolik jenuh (Ks), koefisien adsorpsi isoterm (Kd dan ), dan parameter tortuositas (l). Setelah pemodelan dengan menggunakan HYDRUS-1D, dapat disimpulkan bahwa transpor nitrogen lebih cepat selama tahun basah. Konsentrasi nitrogen paling sensitif terhadap kandungan air jenuh (s). Fosfor paling sensitif terhadap koefisien adsorpsi isoterm (Kd).Pemakaian kotoran ternak dalam jumlah besar pada lahan-lahan pertanian yang berasal dari Peternakan Terkonsentrasi dapat mengakibatkan kelebihan unsur seperti nitrogen dan fosfor yang bertranspor menuju air tanah melalui zona tidak jenuh air. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) untuk membandingkan transpor nitrogen dan fosfor di daerah tidak jenuh air pada unit lahan pertanian yang berbeda selama tiga tahun berturut-turut (2004-06) dengan menggunakan HYDRUS-1D, dan (2) untuk menganalisa sensitivitas transpor nitrogen dan fosfor pada jenis tanah yang berbeda dengan menggunakan parameter hidrolik tanah van Genuchten: kandungan air jenuh (s), kandungan air residual (r), parameter alpha dan n, konduktivitas hidrolik jenuh (Ks), koefisien adsorpsi isoterm (Kd dan ), dan parameter tortuositas (l). Setelah pemodelan dengan menggunakan HYDRUS-1D, dapat disimpulkan bahwa transpor nitrogen lebih cepat selama tahun basah. Konsentrasi nitrogen paling sensitif terhadap kandungan air jenuh (s). Fosfor paling sensitif terhadap koefisien adsorpsi isoterm (Kd)
Analisis Evapotranspirasi dengan Menggunakan Metode Thornthwaite, Blaney Criddle, Hargreaves, dan Radiasi
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis evapotranspirasi dengan menggunakan beberapa metode yaitu metode Thornthwaite, Blaney Criddle, Hargreaves, dan Radiasi. Data klimatologi diambil dari dua stasiun yang berbeda, yaitu BMKG Blang Bintang dan Stasiun Klimatologi Indrapuri, Kab. Aceh Besar. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa evapotranspirasi potensial (Eto) menunjukkan Eto yang terdapat pada BMKG Blang Bintang lebih tinggi dari pada Stasiun Klimatologi Indrapuri. Perbedaan hasil perhitungan Eto yang terjadi pada setiap metode dipengaruhi oleh data-data iklim yang dipakai. Nilai evapotranspirasi potensial (Eto)yang tertinggi diperoleh dengan menggunakan metode Thornthwaite dan yang terendah dengan menggunakan metode Radiasi. Suhu, curah hujan, radiasi matahari, kecepatan angin, kelembaban udara, tekanan udara, dan lama penyinaran matahari adalah faktor-faktor yang sangat mempengaruhi proses evapotranspirasi potensial. Beberapa metode yang aplikatif untuk menghitung evapotranspirasi.Abstract. The aim of this research is to analyze the evaporation using several methods, such as: Thornthwaite, Blaney Criddle, Hargreaves, and Radiation. Climatology data were taken from two climatological stations: Board of Meteorological, Climatology, and Geophysics of Blang Bintang and Climatology Station of Indrapuri in Aceh Besar District. The results showed that potential evapotranspiration (Eto) in Blang Bintang was higher than the potential evapotranspiration in Indrapuri. The differences of potential evapotranspiration occurred due to different methods used in the calculation. The highest potential evapotranspiration (Eto) obtained using Thornthwaite method and the lowest potential evapotranspiration (Eto) obtained using Radiation method. Temperature, precipitation, solar radiation, wind speed, moisture, air pressure, and the length of solar radiation were the factors that influenced the process of potential evapotranspiration (Eto). Several applicable methods in calculating the potential evapotranspiration (Eto) in Blang Bintang and Indrapuri were Blaney Criddle, Hargreaves and Radiation methods
Evaluasi Kebutuhan Air Netto untuk Padi Merah (Oryza nivara) pada Fase Vegetatif dan Generatif di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar
Abstrak. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan air netto untuk padi merah pada fase vegetatif dan generatif di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini dilaksanakan di Petak Tersier CG. 1. Kr Daerah Irigasi Krueng Aceh sejak Februari 2013 sampai Mei 2013. Tahap penelitian yang dilakukan yaitu pegumpulan data sekunder berupa peta jaringan irigasi, pola tanam daerah irigasi, sistem pemberian air irigasi dan data curah hujan. Tahap kedua yaitu pengumpulan data primer berupa pengukuran laju perkolasi, evapotranspirasi tanaman, perhitungan curah hujan efektif dan perhitungan kebutuhan air netto di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada petak tersier yang diamati memiliki tekstur tanah lempung dan lempung berliat. Rata-rata perkolasi yang terjadi setiap harinya yaitu antara 2,36 mm/hari sampai 2,69 mm/hari. Rata-rata nilai evapotranspirasi tanaman padi merah pada fase vegetatif yaitu sebesar 1,51 mm/hari lebih tinggi dibandingkan dengan evapotranspirasi tanaman pada fase generatif yaitu sebesar 1,39 mm/hari dan pergantian lapisan air sebesar 3,3 mm/hari. Kebutuhan air netto lapangan padi merah antara 1-4 mm/hari. Rendahnya kebutuhan air netto untuk tanaman padi merah disebabkan oleh pergantian lapisan air secara terus menerus dan curah hujan efektif.Abstract. The objective of this descriptive research is to know the net field requirement for red paddy in vegetative and generative phases in Ingin Jaya, Aceh Besar District. This research has been conducted in a tertiary paddy field of CG. 1. Kr of Irrigation Area of Krueng Aceh from February 2013 until May 2013. The stages of research is collecting secondary data, such as: map of irrigation, pattern and time of planting, the irrigation system and precipitation data. The second stage is collecting the primary data, such as: percolation, evapotranspiration, the calculation of effective rainfall and net field requirement in the field. The results showed that at the observed tertiary paddy field, it had loamy and clayey loamy soil textures. The average percolation that occurred in everyday was 2,36 mm/day to 2,69 mm/day. The average evapotranspiration of red paddy at vegetative phase was 1,51 mm/day, which was higher than the evapotranspiration at generative phase, which was 1,39 mm/day, and the water layer rechange was 3,3 mm/day. The net field requirement of red paddy in the field was 1-4 mm/day. This was low due to the occurrence of a continuous water layer rechange and the effective rainfall