Rona Teknik Pertanian
Not a member yet
207 research outputs found
Sort by
Modeling of Sapodilla Fruit (Manilkara zapota (L.) van Royen) Terminal Velocity in Water
Abstract. Terminal velocity is one of the hydrodynamic fruits properties that significant in the development of sorting equipment. The study aimed to determine terminal velocity of sapodilla which could be used while develop a sorter. The terminal velocity of sapodilla fruit was determined experimentally and empirically by considering the theory of KHAT 2. Experimental measurements were made by dropping the fruit into the water column, while the calculations were empirically considering the parameters of physical properties such as differences in density between fruit and water, volume and shape factor. The results showed that the obtained model was vt = 165.370 (f -w) 0.026 V 0.813 Sh0+ 0.070. The model has maximized the value of R2, minimizing the RMSE value and reducing the chi-square value which were 0.9046, 0.008 and 7.300E-05, respectively. Volume was the most effective parameter while determining terminal velocity of sapodilla fruit.Pemodelan Kecepatan Terminal Buah Sapodilla (Manilkara zapota (L.) van Royen) Pada di AirAbstrak. Kecepatan terminal adalah salah satu sifat buah hidrodinamik yang signifikan dalam pengembangan peralatan penyortiran. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kecepatan terminal sapodilla yang dapat digunakan saat mengembangkan penyortir. Kecepatan terminal buah sawo ditentukan secara eksperimen dan empiris dengan mempertimbangkan teori KHAT 2. Pengukuran eksperimental dilakukan dengan menjatuhkan buah ke kolom air, sedangkan perhitungan secara empiris mempertimbangkan parameter sifat fisik seperti perbedaan kepadatan antara buah dan faktor air, volume dan bentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang diperoleh adalah vt = 165.370 (f -w) 0,026 V 0,813 Sh0 + 0,070. Model ini telah memaksimalkan nilai R2, meminimalkan nilai RMSE dan mengurangi nilai chi-square yang masing-masing adalah 0,9046, 0,008 dan 7,300E-05. Volume adalah parameter yang paling efektif saat menentukan kecepatan terminal buah sawo
Analisis Perubahan Kapasitas Simpan Air Pada DAS Krueng Meureubo, Aceh
Abstrak. Perubahan kapasitas simpan air pada suatu DAS dapat mengakibatkan ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air untuk kegiatan pertanian maupun non pertanian. Metode analisis neraca air merupakan suatu metode yang dapat mengetahui tingkat daya dukung suatu DAS terutama perubahan kapasitas simpan air untuk pengisian air tanah sehingga dapat memberikan rekomendasi upaya pengelolaan limpasan dan pengisian air tanah khususnya di wilayah DAS Krueng Meureubo yang terletak pada koordinat geografis 0406'-0436' LU dan 9506'-9658' BT. Selama periode tahun 2007-2016 proporsi penggunaan lahan hutan di wilayah DAS Krueng Meureubo mengalami penurunan sebesar 3,12% yaitu 55,10% pada tahun 2007 dan 51,97% pada tahun 2016. Adanya perubahan proporsi penggunaan lahan hutan mengakibatnya penurunan kapasitas simpan air dari 182,84 mm pada tahun 2007 menjadi 177,99 mm pada tahun 2016 dan meningkatnya limpasan dari 821,72 mm pada tahun 2007 menjadi 833,71 mm pada tahun 2016.Analysis of Water Storage Capacity at Krueng Meureubo Watershed, AcehAbstract.The water storage capacity in a watershed could lead to an imbalance between the availability and necessity of water for agricultural and non-agricultural activities. The water balance analysis method is a method that can know the level of carrying capacity of a watershed, especially in water storage capacity for groundwater recharge. Thereafter provide the recommendations for the management of run-off and groundwater recharge, especially in the area of Krueng Meureubo watershed located at geographic coordinates 0406'-0436' LU and 9506'-9658' BT. During the period of 2007-2016, the proportion of forest area in the Krueng Meureubo watershed area decreased by 3.12% ie 55.10% in 2007 and 51.97% in 2016. Changes in the proportion of forest area resulted in a decrease in water storage capacity from 182.84 mm in 2007 to 177.99 mm in 2016 and an increase in runoff from 821.72 mm in 2007 to 833.71 mm by 2016
Penggunaan Metode Pemupukan Awal Broadcast Incorporated Menggunakan Mesin Tanam Terintegrasi Dan Pengaruhnya Pada Fase Awal Pertumbuhan Tanaman Jagung
Abstract. Aplikasi penggunaan pupuk kimia pada pertanian yang belum tepat takaran, waktu, jenis dan tempat pemberiannya menjadi isu pencemaran lingkungan di dunia akhir dekade ini. Suatu metode pemupukan yang lebih presisi dan efisien terus dicari dan diteliti hingga saat ini. Metode penebaran pupuk di dalam tanah (broadcast incorporated) menjadi hal baru yang terus dikembangkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur penyebaran pupuk hasil aplikasi metode pemupukan broadcast incorporated sebagai pupuk awal (starter) untuk budidaya jagung. Aplikasi pemupukan awal menggunakan mesin penanam dan pemupuk jagung terintegrasi yang telah dikembangkan pada penelitian sebelumnya. Untuk mengetahui dampak penggunaan metode pemupukan dan mesin tersebut dilakukan pengamatan terhadap 20 tanaman jagung. Pengamatan dilakukan hingga 14 hari setelah tanam (HST) terhadap tinggi dan jumlah daun yang muncul dari benih jagung hibrida dan jagung manis. Metode tanam yang digunakan adalah jajar legowo dengan 1-3 benih per lubang tanam dan jarak antar tanamannya adalah 20 cm. Sebuah kotak persegi berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 15 cm, 15 cm, dan 15 cm didesain sebagai peralatan untuk pengambilan sample. Wadah tersebut diberi sekat setiap 5 cm sehingga terdapat 27 ruang dalam kotak tersebut. Jenis pupuk yang digunakan adalah NPK dengan distribusi ukuran butiran 2.36 mm - 4.76 mm sebanyak 81.20%. Dosis pemupukan yang diterapkan adalah 150 kg/ha atau 11.25 g/m alur tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada semua sekat sampel ditemukan pupuk NPK dengan rata-rata 0.0710.035 g. Hal ini mengindikasikan bahwa pupuk telah tercampur dan tersebar didalam tanah. Nilai coefficient of variation dari sebaran pupuk termasuk dalam klasifikasi sangat teracak atau tercampur. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa parameter tinggi tanaman dan jumlah daun pada benih jagung hibrida dan jagung manis (14 HST) masing-masing adalah 11.92.6 cm, 3.850.4 daun, 10.72.3 cm, 3.40.5 daun.The Use Of Broadcast Incorporated As A Method Of Starter Fertilizers Using Integrated Corn Transplanter And The Effect On The First Phase Of Corn GrowthAbstrak. The application of chemical fertilizers to agriculture that is not precisely measured, not on time, not suitable for the type and not ideal for the place becomes an issue of environmental pollution at the end of this decade. A more precise and efficient fertilization method is continually being search and investigation to date. The method of broadcast incorporated is a new thing that continues to be developed. Therefore, this study aims to measure the broadcast incorporated of fertilizers as a starter fertilizer for corn cultivation. The starter fertilizer application uses integrated corn growers and fertilizers which have been developed in previous studies. A total of 20 corn plants were observed to determine the impact of using the fertilization method and the machine. Observations were made up to 14 days after planting (DAP) on the height and number of leaves that emerged from hybrid corn seeds and sweet corn. The planting method used is jajar legowo with 1-3 seeds per planting hole, and the distance between plants is 20 cm. A container of length, width, and height of 15 cm, 15 cm, and 15 cm respectively is designed as equipment for sampling. The container is given an insulation every 5 cm so that there are 27 spaces in the box. The type of fertilizer used is NPK with a grain size distribution of 2.36 mm until 4.76 mm as much as 81.20%. The applied fertilizer dose is 150 kg/ha or 11.25 g / m planting groove. The results showed that in all sample partition NPK fertilizer was found with an average of 0.0710.035 g. This indicates that the fertilizer has been mixed and spread in the soil. The value of the coefficient of variation from the distribution of fertilizers included in the classification is highly randomized or mixed. The results showed that the parameters of plant height and the number of leaves on hybrid corn seeds and sweet corn (14 DAP) were 11.92.6 cm, 3.850.4 leaves, 10.72.3 cm, 3.40.5 leaves, respectively
Distribusi Enzim Nitrat Reduktase pada Cabai Merah (Capsicum annum) dalam Rangka Mendukung Sistem Agroforestry Berkelanjutan
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi enzim nitrat reduktase pada tanaman cabai merah (C. annum) yang dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiologis. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan banyak faktor diantaranya: Faktor organ tanaman, umur tanaman, posisi daun dan pemupukan dengan nitrat. Berbagai organ tanaman cabai direndam dalam buffer fosfat pH 7,5 selama 20 menit. Setelah itu dilakukan penambahan susbtrat berupa 0,1M NaNO3 dan diinkubasi selama 60 menit. Sampel selanjutnya direndam dalam larutan Napthylediamine dan Sulfanilamide 1:1. Absorbansi sampel diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540nm. Berdasarkan pengukuran absorbansi diperoleh hasil bahwa tanaman cabai usia dewasa memiliki aktivitas nitrat reduktse lebih tinggi dibandingkan dengan usia muda dan tua. Aktivitas nitrat reduktase pada organ daun lebih tinggi dibandingkan organ akar, batang dan buah. Sementara itu daun pada posisi pucuk memiliki aktivitas nitrat reduktase lebih tinggi dibandingkan dengan daun di posisi pangkal dan tengah. Pemupukan nitrat tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas nitrat reduktse pada tanaman cabai. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa Capsicum annum usia dewasa memiliki aktivitas nitrat reduktase tertinggi dengan kecenderungan organ daun memiliki aktivitas nitrat reduktase terbesar dibandingkan organ lainnya terutama daun pada posisi pucuk. Penambahan susbtrat NaNO3 tidak memberikan pengaruh secara signifikan terhadap aktivitas nitrat reduktase.Distribution of Nitrate Reductase Enzymes in Red Chili (Capsicum annum) in Order to Support Sustainable Agroforestry SystemsAbstract. This study aims to determine the distribution of the enzyme nitrate reductase in red chili plants (C. annum) which are influenced by various physiological factors. This experiment uses a completely randomized design with many factors including: Plant organ factors, plant age, leaf position and fertilization with nitrates. Various organs of chili plants are immersed in phosphate buffer pH 7.5 for 20 minutes. After that the addition of susbtrat in the form of 0.1 M NaNO3 and incubated for 60 minutes. The samples were then immersed in Napthylediamine and Sulfanilamide 1: 1 solutions. Sample absorbance was measured by a spectrophotometer at a wavelength of 540 nm. Based on absorbance measurements, the results showed that adult chili plants had higher nitrate reductase activity compared to young and old age. The activity of nitrate reductase in leaf organs is higher than that of root, stem and fruit organs. Meanwhile the leaves in the shoot position have higher nitrate reductase activity compared to the leaves in the base and middle positions. Nitrate fertilization did not have a significant effect on nitrate reductase activity in chili plants. Based on this, it can be concluded that the adult age Capsicum annum has the highest nitrate reductase activity with the tendency of leaf organs to have the greatest nitrate reductase activity compared to other organs, especially leaves in the shoot position. The addition of NaClO3 does not significantly influence the activity of nitrate reductase
Kandungan Flavonoid dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Pleurotus ostreatus
Abstrak. Flavonoid merupakan senyawa fenolik yang banyak diisolasi dari tanaman karena manfaatnya sebagai antioksidan, anti mikroba, dan antikanker. Sebagai antioksidan, flavonoid dapat menangkap radikal bebas yang dapat merusak sel tubuh. Oleh karena itu, kandungan total flavonoid (TFC) dan aktivitas antioksidan (IC50) ekstrak jamur Pleurotus ostreatus penting untuk diteliti. Flavonoid diekstrak menggunakan metode Microwave-Assisted Extraction (MAE) dengan variasi waktu ekstraksi (2, 3, dan 4 menit) dan variasi rasio antara jamur dan pelarut (1:30, 1:35, dan 1:40). Kandungan flavonoid dianalisis dengan metode kolorimetri menggunakan alumunium klorida, sedangkan aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu ekstraksi, semakin tinggi TFC dan aktivitas antioksidan. Kandungan flavonoid tertinggi diperoleh pada perlakuan waktu ekstraksi 4 menit dan rasio jamur:pelarut 1:30, yaitu sebesar 1,53 mg QE/ g dw dengan nilai IC50 sebesar 14,66 mg/ml.Flavonoid Content and Antioxidant Activity of Pleurotus ostreatus ExtractAbstract. Flavonoids-phenolic substances- are isolated from plant due to their benefits as an antioxidant, an antimicrobial, and an anticancer. As an antioxidant, flavonoids can scavenge free radicals that damage body cells. In this study, the total flavonoid content (TFC) and its antioxidant activity (IC50) of Pleurotus ostreatus -an oyster mushroom- extract were investigated. The flavonoid was extracted by using Microwave-assisted Extraction (MAE) at different of extraction time (2, 3, and 4 minutes) and ratio of P.ostreatus and solvent (1:30, 1:35 and 1:40). The flavonoid contents were determined by alumunium chloride colorimetric method whereas the antioxidant activity was determined by DPPH method. The results revealed that the higher extraction time, the higher TFC and antioxidant activity, where the highest TFC was obtained at 4 minutes extraction with ratio of P.ostreatus and solvent of 1:30. The highest TFC of P.ostreatus extract was 1.53 mg QE/ g dw with antioxidant activity (IC50) of 14.66 mg/ml
Pengaruh Metode Pengeringan Terhadap Karakteristik dan Sifat Organoleptik Biji Kopi Arabika (Coffeae Arabica) Dan Biji Kopi Robusta (Coffeae Cannephora)
Abstrak. Pengeringan merupakan faktor penting dari pengolahan kopi, tanpa pengeringan yang tepat baik itu pengeringan mekanis maupun secara tradisional kualitas biji kopi tidak akan memenuhi standar yang disyaratkan. Proses pengeringan yang baik tidak hanya berpengaruh terhadap sifat fisik biji kopi seperti tingkat kadar air, namun juga meningkatkan citarasa dan aroma dari biji kopi tersebut. Karakteristik terbaik yang diperoleh dari biji kopi setelah proses pengeringan akan menentukan kualitas produk kopi di pasaran. penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh metode pengeringan terhadap penurunan kadar air dan sifat organoleptik biji kopi arabika dan robusta sehingga didapatkan metode terbaik dalam pengolahan kopi. 50 kg biji kopi Arabica dan robusta dikeringkan di bawah sinar matahari dengan menggunakan alas terpal, sedangkan 50 kg sisanya dikeringkan menggunakan mesin pengering biji-bijian tipe batch. Uji organoleptik (rasa dan aroma) menggunakan metode uji Hedonik dan diolah dengan analisis sidik ragam. Pengeringan biji kopi secara mekanis menunjukkan penurunan kadar air yang lebih cepat (17jam) daripada pengeringan secara tradisional (23 jam). Hasil pengujian rasa dan aroma menunjukkan biji kopi Arabica yang dikeringkan menggunakan mesin pengering mekanis lebih disukai panelis dengan nilai uji hedonik tertinggi (67 dan 63 poin).The Effect of Drying Methods on the Characteristics and Organoleptics of Arabica Coffee Beans (Coffeae Arabica) and Robusta Coffee Beans (Coffeae Cannephora)Abstract. Drying is an important factor in coffee processing, without proper drying, both mechanical drying and traditionally the quality of coffee beans will not meet the required standards. A good drying process not only affects the physical properties of coffee beans such as the level of water content, but also increases the flavor and aroma of the coffee beans. The best characteristics obtained from coffee beans after the drying process will determine the quality of coffee products on the market. This study aims to determine the effect of drying method on decreasing water content and organoleptic properties of arabica and robusta coffee beans so that the best method in coffee processing is obtained. 50 kg of Arabica and robusta coffee beans are dried under the sun by using terpal, while the remaining 50 kg is dried using a batch-type grain drying machine. Organoleptic test (taste and aroma) using Hedonic test method and processed by analysis of variance. Mechanical drying of coffee beans shows a decrease in water content faster (17 hours) than traditional drying (23 hours). The taste and aroma test results showed Arabica coffee beans dried using a mechanical drying machine were preferred by panelists with the highest hedonic test values (67 and 63 points)
Pengaruh Lama Penyulingan terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Atsiri pada Biji Pala (Myristica fragrans Houtt)
Abstrak. Pala merupakan salah satu tanaman rempah yang menghasilkan minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyulingan terhadap rendemen dan mutu minyak biji pala. Variasi perlakuan yang digunakan adalah lama penyulingan yaitu 0-3 jam, 3-6 jam, 6-9 jam, 9-12 jam, 12-15 jam, 15-18 jam, 18-21 jam, 21-24 jam, 24-27 jam, dan 27-30 jam. Analisis karakteristik yang dilakukan meliputi rendemen, bobot jenis, indeks bias dan kelarutan dalam alkohol. Hasil penelitian yang telah dilakukan didapat rendemen minyak pala yang bervariasi, tergantung dari lama penyulingan. Pada jam ke 3 menghasilkan rendemen yang lebih besar dibandingkan dengan jam yang lain, dimana rendemen minyak pala pada jam ke 3 didapat sebesar 5,58 % sedangkan rendemen yang paling rendah terdapat pada jam ke 30 dengan hasil sebesar 0.12%. Berdasarkan hasil perhitungan rendemen kumulatif yang didapat dari range waktu 0-3, 3-6, 6-9, 9-12, 12-15, 15-18, 18-21, 21-24, 24-27, dan 27-30 adalah sebesar 10, 48 %. Nilai bobot jenis minyak pala yang diperoleh dari hasil penyulingan pada jam ke 24 menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan hasil yang lainnya dengan nilai 0,936 dan tidak memenuhi standar SNI. Sedangkan yang paling rendah terdapat pada jam ke 3 dengan nilai 0.872 yang juga tidak sesuai dengan standar SNI. Penyulingan dengan nilai bobot jenis yang sesuai dengan standar SNI terdapat pada jam ke 6 dengan nilai 0,902. Nilai indeks bias yang tinggi didapatkan pada jam ke 12- 15, 18-21, 21-24 dan 24- 27 dengan nilai 1,496 dan memenuhi standar SNI sedangkan pada jam ke 3-6 diperoleh nilai indeks bias sebesar 1,436 dan tidak memenuhi standar SNI. Tingkat kelarutan dalam alkohol 90% minyak pala yang dihasilkan dari 6 jam sampai 30 jam adalah sama, yaitu jernih yang diuji dengan perbandingan 1:3 dan sudah sesuai standar SNI sedangkan pada ke 3 jam hasilnya adalah opalisensi yaitu tidak keruh dan tidak jernih.Effect of Old Distillation on Rendemen and Quality of Essential Oils on Nutmeg (Myristica fragrans Houtt)Abstract. Nutmeg is one of the herbs that produce essential oil. This study aims to determine the effect of distillation on rendemen and quality of nutmeg oil. The variation of treatment used was the distillation time of 0-3 hours, 3-6 hours, 6-9 hours, 9-12 hours, 12-15 hours, 15-18 hours, 18-21 hours, 21-24 hours, 24- 27 hours, and 27-30 hours. Characteristic analyzes performed include rendemen, species weight, refractive index and solubility in alcohol. The results of the research have been obtained the yield of various nutmeg oil, depending on the length of distillation. At third hours it produces a higher yield compared to the other hour, where the yield of nutmeg oil at third hourswas5.58%, while the lowest yield was at 30thhours with a yield of 0.12%. Based on the results of cumulative rendemen calculations obtained from the range of time 0-3, 3-6, 6-9, 9-12, 12-15, 15-18, 18-21, 21-24, 24-27, and 27-30 was 10, 48%. The weight value of nutmeg oil obtained from the distillation at 24 hours indicates a higher rate than the other results with a value of 0.936 and didn't meet the SNI standard. While the lowest was at third hours with a value of 0.872 which was also not in accordance with SNI standards. Distillation with value of weight of type according to SNI standard is at 6th hours with value 0,902. High refractive index values were obtained at 12 to 15, 18-21, 21-24 and 24-27 hours with a value of 1.496 and met the SNI standard while at 3-6 hours the refractive index value was 1.436 and did not meet the SNI standard. The solubility rate in 90% alcohol of nutmeg oil produced from 6th hours to 30th hours is the same, that was clear tested with ratio of 1: 3 and was accordance with SNI standard while in 3 hours the result is opalisensi that is not cloudy and not clear
Analisis Pindah Panas pada Ruang Fermentasi Biji Kakao (Theobroma cacao L) dengan Menggunakan Kotak Kayu dan Styrofoam
Abstrak. Fermentasi merupakan kegiatan untuk melepaskan zat lendir dari permukaan kulit biji dan menghasilkan biji mutu dan aroma yang baik. Selain itu fermentasi juga dilakukan untuk menghindari tumbuhnya jamur selama masa penyimpanan. Selama fermentasi berlangsung akan terjadinya perpindahan panas/ suhu di dalam kotak fermentasi. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian yaitu untuk melihat perubahan suhu selama proses fermentasi, mengetahui pengaruh bahan kotak (kayu dan styrofoam) terhadap perpindahan panas di dalam kotak fermentasi dan perpindahan panas dari dalam kotak fermentasi terhadap lingkungan luar. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa suhu ideal fermentasi pada kotak kayu dihasilkan pada hari ke-5, sedangkan kotak styrofoam suhu ideal dihasilkan pada hari ke-3. Perpindahan panas pada bahan kayu suhunya lebih tinggi dibandingkan dengan bahan styrofoam. Hal ini disebabkan karena panas pada kotak kayu keluar lebih cepat, sehingga suhu pada proses fermentasi bisa lebih rendah dibandingkan menggunakan kotak styrofoam. Hasil fermentasi biji kakao dengan menggunakan kotak kayu didapatkan biji kakao yang bagus yaitu pada hari ke-5 fermentasi dan kotak styrofoam pada hari ke-5 fermentasi didapatkan biji kakao yang berjamur.Analysis Of Transfer Heat Room Of Cocoa Seed Fermentation (Theobroma cacao L.) Using Wood Box and StyrofoamAbstract. Fermentation is an activity to remove mucous substances from the skin surface to produce quality of seed and good aroma. In addition, fermentation also done to avoid the growth of mold during storage period. During fermentation, the heat transfer / temperature will be happen inside the fermentation box. The aim of this study is to observe the changes of temperature during the fermentation process, knowing the effect of packaging materials (wood and styrofoam) to heat transfer in the fermentation box and heat transfer from inside of fermentation box to the environment in the outside. The results showed that the ideal temperature of fermentation in wooden boxes was obtained in the fifth day, while the ideal temperature of fermentation in styrofoam was obtained in the third day. Heat transfer in the wood material is higher than in the Styrofoam material. This was due of the heat in a wooden box go out faster, so that the temperature in the fermentation process may be lower than using a styrofoam box.The result of cocoa seed fermentation using a wooden box obtained a good cocoa seed on the fifth day of fermentation and while using a styrofoam box cocoa seed were moldy in the fifth day
Rancang Bangun Pompa Sistem Wheel Spiral untuk Skala Kecil
Abstrak. Kebutuhan air semakin meningkat, maka air dari sisi ketersediaan perlu dikelola serta diatur sesuai dengan kebutuhan, sehingga air dapat dimanfaatkan dan didistribusikan jika diperlukan. Salah satu permasalahan yang mendasar di Indonesia pada sektor pertanian adalah ketersediaan air. Air terbatas dalam jumlah dan waktu juga ruang serta letak sumber air yang lebih rendah dari lahan pertanian. Terkait tingginya kebutuhan air tersebut, pemanfaatan teknologi yang mampu mengangkat dan mengalirkan air dari sumbernya ke lahan-lahan pertanian serta hunian penduduk sangat dibutuhkan, salah satu teknologinya adalah pompa. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rancang bangun pompa sistem wheel spiral sebagai inovasi untuk irigasi.Pengujian dilakukan 3 kali ulangan dengan lama waktu 1 jam dengan RPM 6,917 7,83, kecepatan sudut 0,72 0,77, daya poros 0,25 0,27 Watt, debit air tertampung 0,0001533 0,0001732 m3/s, energi kinetik 0,36 0,42 Watt, dan rata-rata efisiensi pompa 67,85 %. Tinggi maksimum pengeluaran yang dapat dicapai oleh pompa adalah 1,52 m. Pompa ini bisa menaikkan air lebih tinggi dari sudu-sudu tertinggi pada kincir serta efisiensi yang dihasilkan cukup besar sehingga dapat digunakan untuk mengairi lahan yang berada diatas sumber air.Design Of Pump With Spiral Wheel System For Small ScaleAbstract. The needs of water is always increase, the available water have to manage and control by human as a needed. Water can be used and distributed if it needs. One of the basic waters problem in agriculture sector is the field capacity of water. Water is limited in quantity, naut and the water position is lower than the land. Thinking about the high need of water, it is important to use technology to rise and distribute the water from the reservoir to lands and also to living live. One of the technology is pump. This research was conducted to design a pump without machine as a new invention for irrigation. This research is about one hour with 3 times repeatation RPM 6,917 7,83, angle velocity 0,72 0,77, axis power 0,25 0,27 Watt, accomodated rate of flow 0,0001533 0,0001732 m3/s, kinetic energy 0,36 0,42 Watt, and rate of pump efficiency 67,85%. The maximum high of output can reached by the pump is 1.52 m. This pump can rise water higher than the highest goosebeak on waterwheel and the efficiency is highest than the waterwheel. So, it can be used to irrigate the lands that position is above the water
Rancang Bangun dan Uji Kinerja Pengering Tipe Efek Rumah Kaca dengan Saluran Pengarah Udara Panas
Abstrak. Proses pengeringan bahan pertanian dengan pengering menggunakan rak statis umumnya mengalami permasalahan pada distribusi suhu yang tidak seragam. Kondisi ini menyebabkan kualitas hasil pengeringan tidak seragam. Upaya mengatasi permasalahan tersebut salah satunya dengan merancang bangun dan melakukan uji kinerjapengering tipe efek rumah kacayang dilengkapi saluran pengarah udara panas. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan desain pengering tipe efek rumah kaca dengan tambahan saluran pengarah udara panas dalam ruang pengering dengan variasi kecepatan aliran udara panas. Pengambilan data dimulai dari pukul 08.00 sampai 16.00 dengan selang waktu pengambilan data setiap 60 menit. Berdasarkan hasil pengujian pengering tipe efek rumah kaca dengan pengarah udara panas hasil rancang bangun dapat berfungsi dengan baik dalam mendistribusikan udara panas dalam ruang pengering. Pengujian pengering tanpa beban menunjukkan distribusi udara panas dalam ruang pengering sangat seragam dengan perbedaan temperatur terbesar 0,5oC antara posisi di atas rak 1 dan di bawah rak 3. Pengujian pengering dengan beban menunjukkan terdapat sedikit fluktuasi temperatur dalam ruang pengering dengan perbedaan temperatur terbesar3,4oC antara posisi di atas rak 1 dan di bawah rak 3. Pengujian pengering dengan kipas pengarah hidup lebih seragam dimana penyimpangan temperatur terbesar adalah3,3oC sedangkan pada kondisi kipas pengarah mati besar penyimpangan temperatur terbesar adalah 4,1oC. Pengujian dengan kipas padasaluran buang hidup lebih seragam dimanapenyimpangan temperatur terbesar adalah 3,7oC sedangkan pada kondisi kipas mati besar penyimpangan temperatur terbesar adalah 4,0oC