Rona Teknik Pertanian
Not a member yet
207 research outputs found
Sort by
Pengujian Kinerja Mesin Singulasi Benih Kedelai Berbasis Disk Vertikal Dengan Pengaturan Kecepatan Variabel Menggunakan Motor Stepper
Abstrak. Guna mengoptimalkan penggunaan benih yang merupakan komponen biaya input terbesar dalam budidaya kedelai, diperlukan mesin singulasi benih yang mempunyai unjuk kerja tinggi, terjangkau, dan sesuai untuk kondisi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah merancang dan mengevaluasi kinerja mesin singulasi benih kedelai dengan disk vertikal berdiameter 118 mm yang dilengkapi seed cell sesuai dimensi rata-rata benih kedelai (8,8 mm 7,4 mm 6 mm). Bentuk seed cell disesuaikan dengan sifat gesekan benih kedelai dan permukaan PETG sebagai material disk. Desain disk vertikal dapat meminimalkan kerusakan benih saat pengambilan, dibandingkan desain dengan screw. Mesin singulasi terdiri atas hopper penampung benih dan kontainer pengambilan benih satu per satu oleh seed cell di sekeliling disk. Disk digerakkan motor stepper dengan kecepatan putar variabel yang dikontrol presisi oleh mikrokontroler Arduino Uno R3. Evaluasi dilakukan pada kecepatan putar disk 40, 35, 30, 25, 20, 15, 10, dan 5 rpm. Hasil terbaik mencapai 100% singulasi atau Miss Index nol pada rentang 5 rpm kebawah dengan kecepatan linier permukaan disk 0,11 km/jam atau kurang. Penanaman benih presisi ini menghilangkan benih multiple dan missing pada skala laboratorium.Performance Testing of a Vertical Disc-Based Soybean Seed Singulation Machine with Variable Speed Control Utilizing a Stepper MotorAbstract.To optimize the use of seeds, which are the largest input cost component in soybean cultivation, a seed singulation machine with high performance, affordability, and suitability for conditions in Indonesia is required. The objective of this research is to design and evaluate the performance of a soybean seed singulation machine with a 118 mm diameter vertical disk equipped with seed cells according to the average dimensions of soybean seeds (8.8 mm 7.4 mm 6 mm). The shape of the seed cell is adjusted to the frictional properties of soybean seeds and the PETG surface as the disk material. The vertical disk design can minimize seed damage during pickup, compared to a screw design. The singulation machine consists of a seed hopper and a container for individual seed pickup by the seed cells around the disk. The disk is driven by a stepper motor with variable rotational speed precisely controlled by an Arduino Uno R3 microcontroller. Evaluation was conducted at disk rotational speeds of 40, 35, 30, 25, 20, 15, 10, and 5 rpm. The best result achieved 100% singulation or a zero Miss Index in the range of 5 rpm and below, with a disk surface linear speed of 0.11 km/h or less. This precision seed planting eliminates multiple and missing seeds on a laboratory scale
Simulasi Sebaran Suhu oleh Pendinginan Evaporatif pada Rumah Tanaman Tropika Basah untuk Persemaian Eukaliptus
Abstrak. Persemaian Eukaliptus di rumah tanaman tropis basah menghadapi tantangan suhu yang tinggi, yang dapat mencapai 37C, jauh di atas rentang suhu ideal (25-31C). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pendinginan evaporatif dalam mengontrol suhu rumah tanaman. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak Ansys Discovery pada model rumah tanaman berukuran 8 m x 4 m x 4 m dengan ventilasi di dinding dan atap. Kecepatan aliran udara yang disimulasikan bervariasi antara 0,9 m/s hingga 5 m/s. Hasil menunjukkan bahwa tanpa pendinginan evaporatif, suhu rumah tanaman cenderung serupa dengan suhu lingkungan, yang tidak mendukung pertumbuhan optimal Eukaliptus. Dengan pendinginan evaporatif, suhu di dalam rumah tanaman dapat diturunkan hingga 26-28C, terutama pada kecepatan aliran udara 3 m/s atau lebih. Sistem pendinginan evaporatif terbukti efektif dalam menyeragamkan suhu, menjadikannya solusi yang direkomendasikan untuk mendukung keberhasilan persemaian Eukaliptus di kawasan tropis basah.Simulation of Temperature Distribution by Evaporative Cooling in a Wet Tropical Greenhouse for Eucalyptus NurseryAbstract.Eucalyptus nurseries in wet tropical greenhouses face the challenge of high temperatures, which can reach 37C, well above the ideal temperature range (25-31C). This study aims to analyse the effectiveness of evaporative cooling in controlling greenhouse temperature. Simulations were conducted using Ansys Discovery software on an 8 m x 4 m x 4 m greenhouse model with vents in the walls and roof. The simulated airflow velocity varied from 0.9 m/s to 5 m/s. Results show that without evaporative cooling, the greenhouse temperature tends to be similar to the ambient temperature, which does not favour optimal growth of Eucalyptus. With evaporative cooling, the temperature inside the greenhouse can be reduced to 26-28C, especially at airflow velocities of 3 m/s or more. Evaporative cooling systems are proven to be effective in uniforming temperatures, making them a recommended solution to support the success of Eucalyptus nurseries in wet tropical regions
Pengaruh Tingkat Kematangan Dan Lama Penyimpanan Terhadap Karakteristik Mutu Fisik Buah Lemon Lokal (Citrus X Limon) Pada Kondisi Penyimpanan Dingin
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh tingkat kematangan dan lama penyimpanan terhadap karakteristik mutu fisik buah lemon lokal (Citrus x limon) pada kondisi penyimpanan dingin. Kondisi penyimpanan dingin ditujukan untuk mensimulasikan kondisi penyimpanan buah lemon lokal di supermarket/swalayan di Kota Medan. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama adalah tingkat kematangan: hijau (H), hijau-kuning (HK) dan kuning (K). Faktor kedua adalah lama penyimpanan (hari): 0, 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 hari. Parameter yang dianalisis terdiri dari: susut bobot, susut ukuran dan kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematangan buah lemon lokal (Citrus x limon) memberi pengaruh berbeda nyata terhadap susut bobot yang berkisar antara 8,9388% - 10,6499%, susut ukuran buah (membujur) 3,16 mm 4,94 mm dan kekerasan 4,65 5,53 kg/cm2. Lama penyimpanan buah lemon lokal (Citrus x limon) memberi pengaruh berbeda nyata terhadap susut bobot yang berkisar antara 0,0000% - 17,0168%; susut ukuran buah (membujur) 0,00 mm -7,19 mm; susut ukuran buah (melintang) 0,00 mm - 4,08 mm. Interaksi tingkat kematangan dan lama penyimpanan buah lemon lokal (Citrus x limon) memberi pengaruh berbeda nyata terhadap kekerasan buah.The Effect Of Maturity Level And Storage Duration On The Physical Quality Of Local Lemon (Citrus X Limon) Under Cold Storage ConditionsAbstract.This study aims to study the effect of maturity level and storage duration on the physical quality characteristics of local lemon fruit (Citrus x limon) under cold storage conditions. Cold storage conditions are intended to simulate the storage conditions of local lemon fruit in supermarkets in Medan City. This study was conducted experimentally using a completely randomized factorial design. The first factor is the ripeness level: green (H), green-yellow (HK) and yellow (K). The second factor is the storage time (days): 0, 2, 4, 6, 8, 10 and 12 days. The parameters analyzed consisted of: weight loss, size loss and hardness. The results showed that the ripeness level of local lemon fruit (Citrus x limon) had a significantly different effect on weight loss ranging from 8.9388% - 10.6499%, fruit size loss (longitudinal) 3.16 mm - 4.94 mm and hardness 4.65 - 5.53 kg / cm2. The storage period of local lemons (Citrus x limon) had a significantly different effect on weight loss ranging from 0.0000% - 17.0168%; fruit size loss (longitudinal) 0.00 mm -7.19 mm; fruit size loss (transverse) 0.00 mm - 4.08 mm. The interaction between the level of ripeness and the storage period of local lemons (Citrus x limon) had a significantly different effect on fruit hardness
Prediksi Laju Dan Zona Tingkat Bahaya Erosi Pada Pelapukan Batuan Vulkanik Di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat
Abstrak.Penelitian ini dilakukan di Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Daerah ini memiliki morfologi beragam, mulai dari bergelombang (645 mdpl) dengan kemiringan lereng 200 sampai sangat curam (1065 mdpl) dengan kemiringan lereng 450. Tujuan penelitian ini untuk memprediksikan besarnya laju erosi dengan menggunakan Metode USLE dan mengetahui zona tingkat bahaya erosi. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey deskriptif dengan populasi seluruh lahan di wilayah penelitian. Penetapan lokasi sampling menggunakan area sampling, sedangkan analisa hasil data menggunakan metode USLE (Universal Loss Soil Equation) serta skoring dan bobot pada setiap parameter lahan serta dengan cara overlay peta, sehingga diperoleh klasifikasi tingkat bahaya erosi. Hasil yang diperoleh untuk prediksi laju erosi di daerah penelitian yaitu sangat ringan sampai sedang, sedangkan untuk zona tingkat bahaya erosi diperoleh 3 satuan, yaitu Zona tingkat bahaya erosi ringan dengan luas 151,4 ha. Berada pada daerah perbukitan bergelombang, dengan tataguna lahan berupa pesawahan. Jenis tanah pelapukannya adalah lempung pasiran. Zona tingkat bahaya erosi menengah dengan luas 408,4 ha. Umumnya merupakan daerah perbukitan bergelombang hingga curam sampai perbukitan curam, dengan tataguna lahan berupa pesawahan, tegalan dan perkebunan. Jenis tanah pelapukannya adalah lempung pasiran, lempung lanauan dan pasir tufaan serta Zona tingkat bahaya erosi berat dengan luas 580,2 ha. Umumnya merupakan daerah perbukitan sangat curam 70%, dengan tataguna lahan berupa tegalan, perkebunan, dan hutan. Di daerah ini disusun oleh tanah pelapukan jenis pasir tufaan.Prediction of Rate and Zone of Erosion Danger Level In Volcanic Rock Weathering In Cililin District, West Bandung DistrictAbstract.The research is done in Cililin village, Cililin sub district, Bandung Barat Regency. The are has various morphology condition from wavy hills, elevation 645 msl and slope 200 to very steep hills with elevation 1065 msl and slope 450. The aims of research is to predict the magnitude of the erosion rates which used the USLE method. The type of research is descriptive survey with population in the all land of the research area. Determination of the location sample is used in the sampling area, whereas data analysis is used USLE method, scoring and weight each land parameter to obtain the erosion hazard classification. The result showed that the predict of erosion rate in the research area is very low to moderate and the classification of erosion hazard consist of Low erosion hazard (151,4 ha), flat to wavy hill morphology, paddies landuse area. Soil type is sandy clay. Moderate erosion hazard (408,4 ha), wave hills to steep hills, paddies and plantation. Soil type is sandy clay, silty clay tuffaceous sand. High erosion hazard (580,2 ha), steeply hills, slope 70 %, plantation and forest landsuse, soil type is tuffaceous sand
Rancang Bangun Smart Steamer untuk Monitoring Alat Sterilisasi Baglog Jamur Berbasis Internet of Things (IoT)
Abstrak. Jamur adalah organisme yang termasuk ke dalam fungi yang memiliki nilai ekonomi yang signifikan terutama untuk pangan yang popular dengan potensi bisnis yang menjanjikan. Proses sterilisasi baglog merupakan faktor paling penting dalam budidaya jamur, harus dilakukan pengukusan pada suhu 1200C selama 5-8 jam. Monitoring suhu dapat dilakukan menggunakan Internet of Things (IoT) yang memungkinkan dilakukan dari jarak jauh dengan nilai yang presisi. Tujuan penelitian ini adalah merancang alat pengukus dalam proses sterilisasi dengan kapasitas 700 baglog, membuat sistem monitoring suhu yang dapat diakses melalui smartphone, dan menguji coba pada proses sterilisasi baglog. Metode penelitian menggunakan rancang bangun terdiri dari tahapan perancangan steamer pengukus baglog jamur, perancangan sistem monitoring suhu, uji error (%), uji peningkatan suhu, pengumpulan dan analisis data. Smart steamer merupakan alat sterilisasi baglog jamur pada suhu 100C dan dioptimalkan pada suhu 120oC. Kapasitas steamer 700 baglog dengan dimensi 100 x 60 x 110 cm dengan pembakaran gas LPG 3 kg yang menghabiskan 5 buah selama proses pengukusan. Sistem monitoring terdiri dari sensor suhu termokopel type K, Mikrokontroler ESP32, LCD I2C yang terhubung ke aplikasi blynk melalui Internet of Things (IoT). Proses sterlisasi pada jam pertama suhu 30C dan meningkat tiap jamnya menjadi 75C, 90C, 105C dan 120C di jam kelima dengan rata-rata daya 12,78 kW dan dipertahankan sampai jam 8 hingga 8.00 kW. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan steamer dapat memaksimalkan proses sterilisasi baglog yang biasanya hanya 300 menjadi 700 baglog. Selain itu suhu boiler dapat dimaksimalkan pada suhu 1200C secara optimal dalam memastikan baglog dalam keadaan steril.Design of Smart Steamer for Monitoring Mushroom Baglog Sterilizer Based on Internet of Things (IoT)Abstract. Mushrooms are organisms classified under fungi with significant economic value, particularly as a popular food source with promising business potential. This research aims to design a steamer for sterilization with a capacity of 700 baglogs, create a temperature monitoring system accessible via smartphone, and test it in the baglog sterilization process. The research methodology consists of stages including the mushroom baglog steamer design, temperature monitoring system design, error testing (%), temperature increase testing, data collection, and data analysis. Mushrooms are organisms classified under fungi with significant economic value, particularly as a popular food source with promising business potential. The smart steamer is a machine for sterilizing mushroom baglogs at a temperature of 100C, optimized to reach 120C. The steamer has a capacity of 700 baglogs with dimensions of 100 x 60 x 110 cm, using five 3 kg LPG gas cylinders for combustion. The monitoring system consists of a thermocouple temperature sensor, ESP32, and an I2C LCD connected to the Blynk application via the Internet of Things (IoT). During the sterilization process, the temperature starts at 30C in the first hour and increases hourly to 75C, 90C, 105C, and 120C by the fifth hour
Isolasi Bakteri Pendegradasi Keratin pada Pengomposan Limbah Bulu Ayam
Abstrak.Bulu ayam merupakan limbah dari sisa indsutri rumah Pemotongan ayam (RPA). Pengolahan limbah bulu ayam (LBA) dapat dilakukan secara fisik (tekanan hidrolisis, penguapan, pembakaran), menggunakan bahan kimia (larutan asam kuat, larutan alkali). Metode tersebut tidak ramah lingkungan dan dapat menimbulkan polusi. Alternatif pengolahan LBA adalah penggunaan mikroorganisme yaitu bakteri pendengradasi dari kompos bulu ayam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat bakteri yang berpotensi sebagai agen biodegradator keratin dalam kompos bulu ayam. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksplorasi dengan mengambil sampel hari ke-10 pengomposan dari campuran kotoran ayam (KA) dan bulu ayam (BA) serta sampel campuran kotoran sapi (KS) dan bulu ayam (BA) masing-masing perbandingan 1 : 1 (w/w). Isolasi bakteri dari limbah bulu ayam yang dikombinasikan dengan limbah ternak memiliki kelimpahan 1,4x109 - 16x109. Isolat yang didapatkan sebanyak 47 isolat yang menunjukkan aktivitas proteolitik yang terdiri dari 40 isolat berasal dari campuran KS dan BA serta 7 isolat berasal dari campuran KA dan BA. Dari 47 isolat yang memiliki indeks zona bening ideal sebanyak 11 isolat dengan persentase 23%. Indeks zona bening yang ideal berkisar dari 4,86 0,73 sampai 2,40 0,59.Isolation of Keratin Biodegradators from Chicken Feather Waste in Composting ProcessAbstract. Chicken feathers are waste from the chicken slaughterhouse (RPA) industry. Processing of chicken feather waste (LBA) can be done physically (pressure hydrolysis, evaporation, burning) or with chemicals (strong acid solutions, alkali solutions). This method is not environmentally friendly and can cause pollution. An alternative to LBA processing is using microorganisms, namely degrading bacteria from chicken feather compost. This research aims to obtain bacterial isolates that have the potential to act as keratin biodegrading agents in chicken feather compost. The research method used was an exploratory method by taking samples on the 10th day of composting from a mixture of chicken manure (KA) and chicken feathers (BA) as well as samples of a mixture of cow manure (KS) and chicken feathers (BA), each in a ratio of 1: 1 ( w/w). Bacterial isolation from chicken feather waste and livestock waste had an abundance of 1,4x109 - 16x109 CFU's/gram of compost material. The isolates obtained were 47 isolates that showed proteolytic activity, consisting of 40 isolates coming from a mixture of KS and BA and 7 isolates coming from a mixture of KA and BA. The proteolytic clear zone index ranged from 1.04 0.03 to 4.86 0.73. The 47 isolates obtained had 11 isolates as ideal clear zone index with the percentage 23%. The ideal clear zone index ranges from 4.86 0.73 to 2.40 0.59
Literatur Review : Efektivitas NIRS dalam Mengukur Kandungan Air dan Kadar Gula pada Tanaman Hortikultura
Abstrak.Near-Infrared Spectroscopy (NIRS) merupakan teknologi non-destruktif yang semakin banyak digunakan dalam bidang pertanian untuk analisis kualitas tanaman secara cepat dan efisien. Dalam konteks hortikultura, NIRS menawarkan potensi besar untuk mengukur parameter penting seperti kandungan air dan kadar gula yang menjadi indicator utama mutu hasil panen. Artikel ini menyajikan tinjauan literatur terhadap efektivitas penggunaan NIRS dalam mengukur kedua parameter tersebut pada berbagai jenis tanaman hortikultura. Studi literatur dilakukan terhadap publikasi ilmiah terkini (2020-2024) yang mengevaluasi keakuratan prediksi, metode kalibrasi, dan penerapan teknologi NIRS di lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa NIRS mampu menghasilkan prediksi yang baik dengan nilai koefisien determinasi () yang tinggi, baik dalam pengukuran kandungan air maupun kadar gula pada tanaman hortikultura. Namun, efektivitas NIRS sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti variabilitas sampel, kondisi lingkungan, dan kebutuhan model kalibrasi yang tepat. Oleh karena itu, NIRS merupakan alat prospektif untuk pemantauan kualitas hasil hortikultura secara real-time, meskipun masih diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk mengatasi keterbatasan teknis dan operasional di lapangan.Literature Review: The Effectiveness of NIRS in Measuring Water Content and Sugar Levels in Horticultural CorpsAbstract.Near-Infrared Spectroscopy (NIRS) is a non-destructive technology that is increasingly utilized in agriculture for rapid and efficient plant quality analysis. In the context of horticulture, NIRS offers significant potential for measuring key parameters such as water content and sugar levels, which are primary indicators of post-harvest quality. This article presents a literature review on the effectiveness of NIRS in measuring these two parameters across various horticultural crops. The review covers recent scientific publications (2020-2024) that evaluate prediction accuracy, calibration methods, and field aplications of NIRS technology. The findings indicate that NIRS can produce accurate predictions with high coefficients of determination () for both water content and sugar level measurements in horticultural plants. However, the effectiveness of NIRS is a promising tool for real-time monitoring of horticultural product, further development is needed to overcome technical and operational limitations in field aplications
Meningkatkan Mutu dan Daya Simpan Paprika Hijau (Capsicum annuum L.) melalui Kombinasi Ozonisasi dan Suhu Penyimpanan
Abstrak.Paprika hijau (Capsicum annuum L.) adalah komoditas hortikultura penting dengan prospek cerah di pasar domestik dan internasional. Tantangan utama budidayanya di Indonesia adalah rendahnya pengetahuan pascapanen dan teknologi penyimpanan, yang menyebabkan penurunan kualitas dan kerugian ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh lama perendaman ozon dan suhu penyimpanan terhadap mutu dan umur simpan paprika hijau. Paprika dibersihkan, disortir, dan direndam dalam sistem ozonisasi (0, 5, 10, dan 15 menit) lalu disimpan pada suhu ruang (27C) dan rendah (10C). Parameter yang diukur meliputi jumlah bakteri, susut bobot, kandungan vitamin C, kekerasan, warna, dan uji sensori. Data dianalisis dengan ANOVA dan uji Duncan pada tingkat signifikansi 5%. Hasil menunjukkan perendaman ozon dan suhu penyimpanan memengaruhi jumlah bakteri, susut bobot, kekerasan, dan uji sensori, namun tidak signifikan terhadap vitamin C, chroma, dan hue. Perlakuan terbaik adalah perendaman ozon 15 menit pada suhu penyimpanan 10C, yang menghasilkan jumlah bakteri 25 10 CFU/ml, susut bobot 7,4%, vitamin C 133,76 mg/100 g, dan hasil sensori terbaik. Penelitian ini menunjukkan pentingnya kombinasi perendaman ozon dan suhu penyimpanan untuk meningkatkan mutu dan umur simpan paprika hijau.Mantaining the Quality and Shelf Life of Green Peppers (Capsicum annuum L.) through a Combination of Ozonization and Storage TemperatureAbstract.Green peppers (Capsicum annuum L.) is an important horticultural commodity with bright prospects in domestic and international markets. The main challenges of its cultivation in Indonesia are the low knowledge of post-harvest and storage technology, which causes quality degradation and economic losses. This study aimed to examine the effect of ozone immersion duration and storage temperature on the quality and shelf life of green bell pepper. The bell peppers were cleaned, sorted, and immersed in an ozonation system (0, 5, 10, and 15 minutes) then stored at room temperature (27C) and low (10C). The parameters measured included the number of bacteria, weight loss, vitamin C content, hardness, color, and sensory tests. Data were analyzed by ANOVA and Duncan's test at a significance level of 5%. The results showed that ozone immersion and storage temperature affected the number of bacteria, weight loss, hardness, and sensory tests, but were not significant for vitamin C, chroma, and hue. The best treatment was 15 minutes of ozone immersion at a storage temperature of 10C, which resulted in a bacterial count of 25 10 CFU/ml, a weight loss of 7.4%, vitamin C of 133.76 mg/100 g, and a sensory result with the highest score of 5.00. This study demonstrated the importance of the combination of ozone immersion and storage temperature to improve the quality and shelf life of green peppers
Pengaruh Lama Waktu Penggunaan Alat Pembersih Terhadap Kemurnian Benih Jagung Manis (Zea mays L. Saccharata)
Abstrak.Penggunaan alat pembersih tentunya memiliki kecepatan pembersihan yang lebih cepat dibandingkan dengan cara manual menggunakan tampi. Namun penggunaan alat pembersih terbukti masih menyisakan kotoran yang tidak seharusnya tercampur lagi dengan benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penggunaan alat pembersih terhadap kemurnian benih jagung manis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2023 di UD Agro Nusantara Prima, Sewon, Kabupaten Bantul dan Laboratorium Teknologi Benih Kampus Polbangtan Jurusan Pertanian, Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan menggunakan faktor frekuensi pembersihan yaitu frekuensi pembersihan menggunakan tampi, frekuensi pembersihan menggunakan alat sebanyak satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, dan lima kali. Hasil penelitian dianalisis menggunakan pengujian sidik ragam ANOVA dengan taraf 1% dan 5% dan apabila terdapat pengaruh nyata maka dapat dilanjutkan menggunakan uji lanjut BNT dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu hasil kerja pembersihan benih menggunakan alat sebesar 99,64% berbeda nyata dengan efisiensi pembersihan menggunakan tampi sebesar 97,67%. Frekuensi pembersihan dengan alat sebanyak satu kali merupakan perlakuan terbaik untuk menghasilkan benih murni sebesar 99,48%.The Effect Of Length Time Cleaning Tools Usage On The Pure Of Sweet Corn(Zea mays L. Saccharata) SeedsAbstract.The use of cleaning tools certainly has a faster cleaning speed compared to the manual method using tampi. However, the use of cleaning tools is proven to still leave dirt that should not be mixed again with seeds. This study aims to determine the effect of the time of using cleaning tools on the purity of sweet corn seeds. This research was conducted in March 2023 at UD Agro Nusantara Prima, Sewon, Bantul Regency and Seed Technology Laboratory of Polbangtan Campus, Yogyakarta. This research was conducted with a Non-Factorial Completely Randomized Design (CRD) using the cleaning frequency factor, namely the frequency of cleaning using tampi, the frequency of cleaning using tools once, twice, three times, four times, and five times. The results of the study were analyzed using ANOVA variance testing at the 1% and 5% levels and if there is a real effect, further test can be carried out of using the BNT with a level of 5%. The results showed that the working time of seed cleaning using a tool of 99.64% was significantly different from the efficiency of cleaning using tampi of 97.67%. The frequency of cleaning with the tool once is the best treatment to produce pure seeds of 99.48%
Pengaruh Suhu Pengeringan Pada Alat Pengering Tipe Rak Terhadap Mutu Tepung Porang (Amorphophallus muelleri Blume)
Abstrak. Umbi porang (Amorphopallus muelleri Blume) adalah salah satu jenis umbi-umbian yang bernilai ekonomis tinggi karena mengandung glukomanan yang kaya akan manfaat dan berpotensi diolah menjadi tepung porang. Salah satu tahpan yang sangat penting dalam produksi tepung adalah proses pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suhu pengeringan terhadap mutu tepung porang pada proses pengeringan dengan menggunakan alat pengering tipe rak dengan sumber panas dari pembakaran gas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu suhu pengeringan. Suhu pengeringan yang diuji adalah suhu 45 C, 50 C dan 55 C. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu pengeringan berpengaruh nyata terhadap mutu tepung porang. Mutu tepung porang terbaik diperoleh pada suhu pengeringan 55C dengan kadar air sebesar 11,104%, kadar abu sebesar 5,816%, kadar glukomanan sebesar 17,785%, rendemen sebesar 13,444%, dan modulus kehalusan tepung sebesar 2,556.The Effect of Drying Temperature in a Tray Dryer on the Quality of Porang Flour (Amorphophallus muelleri Blume)Abstract. Amorphopallus muelleri Blume, often known as porang tuber is a type of tuber with significant commercial importance due to the presence of glucomannan which has numerous health benefits and may be converted into porang flour. The drying process is one of the most important steps in the producing flour. This study uses a tray drier with the heat energy produced from gas stove. The objective of the study is to determine the influence of drying temperature against the quality of porang flour. The study had been conducted by completely randomized design (CRD) experimental at 3 levels of drying temperatures, 45, 50, and 55C. Results showed that the drying temperature significantly affects the quality of porang flour including yield, glucomannan content, water content, ash content, and flour fineness modulus. The optimal quality of porang flour was achieved at drying temperature of 55C. The characteristic of porang flour were moisture content of 11.104%, ash content of 5.816%, glucomannan content of 17.785%, yield of 13.444%, and flour fineness modulus of 2,556