Jurnal NESTOR Magister Hukum
Not a member yet
    517 research outputs found

    ANALISA KINERJA KOMISI I (SATU) BIDANG HUKUM PEMERINTAHAN DPRD KABUPATEN KAYONG UTARA DALAM MENUJU PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK YANG BERBASIS TATA PEMERINTAHAN YANG BAIK (Studi Priode 2009-2014)

    No full text
    ABSTRACTThis thesis addresses the issue of performance analysis Commission I (one) rule of law field Regency North Kayong In the heading of public service that is based on good governance (Study period 2009-2014). From the results of research using normative legal research methods and sociological. One commission in Regency North Kayong is the first commission in charge of law and government. This field perform tasks related to the implementation of laws and legislation, administration, protection of Human rights (HAM), consumer protection, the implementation of regional autonomy, land, licensing, staffing and apparatus, eradication of drugs and alcohol, the eradication of gambling and prostitution, sospol and organizations and the eradication of corruption, collusion and nepotism (KKN) .From the description of duties and authority of legislators of Commission I of the House of Representatives (DPRD) sometimes encounter some weakness that looks like: the low aspirations of members of Commission I DPRD North Kayong in giving opinion and judgment to the District Government of North Kayong in the implementation of the program implemented, the education and training provided to members of Commission I DPRD in the form of technical assistance which was held still a small fraction of participants, so that the performance and quality of work that is owned by members of Commission I DPRD not maximized for example in the preparation APBD, drafting laws, passage of the law proposed Regent and there of members of Commission I of the House who are less responsible for carrying out the tasks assigned to him like; determined to appear in court, proposing or input at meetings. This study used a qualitative research, which illustrates the fact that encountered in the field as it is. The use of this method aims to accurately measure the performance of legislators of Commission I of Governance by using qualitative analysis through pengambaran systematic and gather the facts available. Survey restricted to studies that collected data from a sample that represents the entire populasi.Dari results of research on the performance of members of Commission I DPRD North Kayong then the average respondent to respond less achieved obtained from respondents and informants of the ten indicators of research by the author spread good in the form of the questionnaire and interviews and observations by the author in lapangan.Adapun efforts to improve the performance of Angg ota Regency North Kayong include: providing education and training for members of Commission I DPRD North Kayong, increase the capabilities and potential of themselves and improve expertise and skill.Keywords: analysis, the performance of Commission I, In the operation, public service.ABSTRAKTesis ini membahas masalah analisa kinerja komisi I (satu) bidang hukum pemerintahan DPRD Kabupaten Kayong Utara Dalam menuju penyelenggaraan pelayanan publik yang berbasis tata pemerintahan yang baik (Studi Priode 2009-2014). Dari hasil penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dan Sosiologis. Salah satu komisi yang ada di DPRD Kabupaten Kayong Utara adalah komisi I yang membidangi hukum dan pemerintahan. Bidang ini melakukan tugas yang berhubungan dengan pelaksanaan hokum dan perundang-undangan, pemerintahan, perlindungan Hak azasi manusia (HAM), perlindungan konsumen, pelaksanaan otonomi daerah, pertanahan, perizinan, kepegawaian dan aparatur, pemberantasan narkoba dan miras, pemberantasan judi dan prostitusi, sospol dan ormas dan pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).Dari uraian tugas dan wewenang anggota DPRD Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) terkadang menemui beberapa kelemahan yang terlihat seperti : rendahnya aspirasi anggota Komisi I DPRD Kabupaten Kayong Utara dalam memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara dalam pelaksanaan program yang dilaksanakan, pendidikan dan Latihan yang diberikan kepada anggota Komisi I DPRD berupa bimbingan teknis yang diselenggarakan masih sebagian kecil pesertanya, sehingga kinerja dan kualitas kerja yang dimiliki oleh anggota Komisi I DPRD belum maksimal misalnya dalam penyusunan anggaran APBD, penyusunan produk hukum, pengesahan Perda yang diajukan Bupati dan masih ada dari anggota Komisi I Dewan yang kurang bertanggung jawab untuk menjalankan tugas yang diberikan kepadanya seperti ; hadir pada sidang yang ditentukan, memberikan usulan atau masukan saat rapat. Penelitian ini mengunakan penelitian kualititatif, yakni menggambarkan kenyataan yang ditemui dilapangan secara apa adanya. Penggunaan metode ini bertujuan untuk mengukur secara cermat kinerja anggota DPRD Komisi I Bidang Pemerintahan dengan menggunakan analisa kualitatif melalui pengambaran sistematis dan menghimpun fakta-fakta yang ada. Survey dibatasi pada penelitian yang datanya dikumpul dari sampel yang mewakili seluruh populasi.Dari hasil penelitian mengenai kinerja anggota Komisi I DPRD Kabupaten Kayong Utara maka rata-rata responden memberikan tanggapan kurang tercapai yang diperoleh dari tanggapan responden maupun informan dari kesepuluh indikator penelitian yang penulis sebarkan baik dalam bentuk hasil kuesioner maupun hasil wawancara dan observasi yang penulis lakukan di lapangan.Adapun upaya-upaya peningkatan kinerja angg ota DPRD Kabupaten Kayong Utara antara lain : memberikan pendidikan dan latihan bagi anggota Komisi I DPRD Kabupaten Kayong Utara,meningkatkan kapabilitas dan Potensi diri dan meningkatkan keahlian dan skill.Kata Kunci : Analisa, kinerja komisi I, Dalam penyelenggaraan,pelayanan publik

    EKSISTENSI POLIKLINIK KESEHATAN PERUSAHAAN DALAM SISTEM JAMINAN SOSIAL KESEHATAN (Studi Pada PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group)

    No full text
    ABSTRACTThis thesis discusses the existence of the company's health clinic in the social security system of health (studies on PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group). The method used in this research is normative sociological approach. From the results of this thesis can be concluded that health care services for the employees of PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group by the Institution of Social Security done in various stages must be known, of certain rights, procedures for health care, health insurance, implementation of health insurance and the method of implementation of the National Health Insurance (JKN) as a method of restitution is limited , methods of medical services directly, and the method of payment to medical personnel and their dues will be issued by the participants.the settlement that has been stated in the deed of agreement. Implementation and employee dissatisfaction PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group on health services in conjunction degan program BPJS General Hospital or Health Center, owned by the Government due to the disputes that occur in primary health care, which until now has not been resolved, while the dispute is as follows: Queue patients BPJS at health centers in each region, decrease in medical and non-medical services and doctors in private practice patients rarely receive BPJS. Then Dispute BPJS health services in secondary health care is a patient referral inpatient still suspended, unavailability of treatment rooms for patients BPJS and rejection at the emergency room, Jampersal deprecated in BPJS and Reduction of health services from the national Social Security program before. Efforts undertaken by PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group made efforts to improve social security for employees and the public health is PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group still register their employees to follow the program BPJS gradually. Then Dispute BPJS health services in secondary health care is a patient referral inpatient still suspended, unavailability of treatment rooms for patients BPJS and rejection at the emergency room, Jampersal deprecated in BPJS and Reduction of health services from the national Social Security program before. Efforts undertaken by PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group made efforts to improve social security for employees and the public health is PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group still register their employees to follow the program BPJS gradually. Then the PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group remains functioning health Polyclinic held for airport employees and the community around the industry who want treatment. Services for employees or the general public health BPJS participants held in the Company Polyclinic Physicians in cooperation with health BPJS. Especially for employees who have not registered for the BPJS health, medical services remained at the Polyclinic company and handled by doctors who cooperate with BPJS with the cost borne by the company.In case polyclinic facilities use the company does not charge rent (free). The Company continues to provide drugs in the clinic for employees of companies both listed as participants BPJS and not with the provision that if the health service is performed outside the doctor's office hours BPJS health.Keywords: Existence Polyclinic, Corporate Health, Social Security System Health.ABSTRAKTesis ini membahas eksistensi poliklinik kesehatan perusahaan dalam sistem jaminan sosial kesehatan (studi pada PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group). Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif sosiologis. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Bahwa Pelayanan pemeliharaan kesehatan bagi karyawan Perusahaan PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group oleh badan penyelenggara jaminan sosial dilakukan dengan berbagai macam tahap yang harus diketahui, dari beberapa hak, tata cara pelayanan kesehatan, jaminan kesehatan, penyelenggaraan jaminan kesehatan dan metode dalam pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) seperti metode restitusi terbatas, metode pelayanan medis secara langsung, dan metode pembayaran kepada tenaga medis beserta iuran yang akan dikeluarkan oleh para peserta. Pelaksanaan dan ketidakpuasan karyawan Perusahaan PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group terhadap pelayanan kesehatan dalam hubungannya degan program BPJS di Rumah Sakit Umum atau Puskemas milik Pemerintah disebabkan oleh sengketa yang terjadi dalam pelayanan kesehatan primer yang sampai saat ini belum terselesaikan, adapun sengketa yang terjadi adalah sebagai berikut : Antrian pasien BPJS pada Puskesmas di masing-masing daerah, Penurunan pelayanan medik maupun non medik dan dokter praktek pribadi jarang menerima pasien BPJS. Kemudian Sengketa pelayanan kesehatan BPJS di pelayanan kesehatan skunder adalah pasien rujukan rawat inap masih ditangguhkan, tidak tersedianya ruang perawatan bagi pasien BPJS dan penolakan pada unit gawat darurat, Jampersal tidak berlaku lagi di BPJS dan Pengurangan pelayanan kesehatan dari program Sistem Jaminan Sosial nasional sebelumnya. Upaya-upaya yang dilakukan oleh PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group melakukan upaya-upaya guna meningkatkan jaminan sosial kesehatan bagi karyawan dan masyarakat adalah Perusahaan PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group tetap mendaftarkan karyawannya untuk mengikuti program BPJS Kesehatan secara bertahap. Kemudian pihak Perusahaan PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group tetap memfungsikan Poliklinik kesehatan yang dimiliki untuk melayani karyawan maupun masyarakat sekitar lokasi Industri yang ingin berobat. Pelayanan bagi karyawan atau masyarakat umum peserta BPJS kesehatan dilaksanakan di Poliklinik Perusahaan dengan Dokter yang bekerjasama dengan BPJS kesehatan. Khusus untuk karyawan yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS kesehatan, pelayanan pengobatan tetap di Poliklinik perusahaan dan ditangani oleh Dokter yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dengan biaya ditanggung oleh perusahaan.Dalam hal penggunaan fasilitas poliklinik perusahaan tidak dikenakan biaya sewa (gratis). Perusahaan tetap menyediakan Obat-obatan di poliklinik perusahaan bagi karyawan baik yang terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan maupun tidak dengan ketentuan jika pelayanan kesehatan tersebut dilakukan diluar jam praktek dokter BPJS kesehatan.Kata Kunci: Eksistensi Poliklinik, Kesehatan Perusahaan, Sistem Jaminan Sosial Kesehatan

    TUGAS DAN WEWENANG KEJAKSAAN DI BIDANG PERDATA DAN TATA USAHA NEGARA (Studi Kasus di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat)

    No full text
    ABSTRACTThis thesis discuss the duties and authority of prosecutors in the field of civil and state administration (a case study in the High Court of West Kalimantan). The method used in this research using normative juridical approach. From the results of research using legal research methods normative juridical conclusion, that the duties and authority of the Prosecutor in the field of Civil and State Administrative High Court of West Kalimantan, the Attorney General of the Republic of Indonesia, which is a state agency that has the function to assure the rule of law, save the riches of the country , maintain the authority of the government, and protect the interests of the community to carry out these functions, the prosecutor of the Republic of Indonesia the field of civil and state administration is given the authority by law and discretionary of a power of attorney, the authority of the state prosecutor in the field of civil include legal assistance, law enforcement legal considerations, legal services, and other measures already run optimally in accordance with existing legislation. The prosecutor as the state attorney can run right an arbitrary there must be a special power, either the prosecutor's proceedings in the district courts, commercial courts, religious courts and the Supreme Court although the way to beracaranya different but born out of the memorandum of understanding made by the parties beforehand. Obstacles encountered in functionalizing the Prosecutorial Authority in the field of Civil and State Administration is the constraint of the prosecutor's own internal institutions that not all elements of the internal Attorney understand the existence, tasks and finagsi and Datun JAM organization, so that the function has not been implemented optimally Datun. JAM existence Datun turned out rnernerlukan human resources consisting of mental attitude as a prosecutor with the state attorney and have the educational background and knowledge of civil law and state administration. Constraints of external agencies ie prosecutor constraints in the legislation, the need for legislation that affirms the institution prosecutor as the state attorney's office, the need for legislation requiring SOEs to use JPN services. The assertion of the Attorney Organization as an institution that can represent the public interest. Elimination of the provision which states obligation to provide specific authorization from the Government or state / local enterprises for JPN who will perform duties and authority in the field of Civil and State Administration. Cultural constraints not all institutions / government agencies recognize the role of the prosecutor as the state attorney. To overcome the problem that not all agencies / government agencies recognize the role of the prosecutor's. The state attorney, the prosecutor has done correctional function datum of the concerns of institutions / agencies to submit a special power to kejaksaan.Lembaga / Government Agencies worried about the AGO will open weakness Institutions / Agencies concerned, the clan will be used to ensnare them in the criminal field, so they are not willing to give Power of Attorney to the Attorney.Keywords: Authority Attorney, Civil and Administrative.ABSTRAKTesis ini membahas masalah tugas dan wewenang kejaksaan di bidang perdata dan tata usaha negara (studi kasus di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat). Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan yuridis-normatif. Dari hasil penelitianmenggunakan metode penelitian hukum yuridis normative diperoleh kesimpulan, Bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang Kejaksaan di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, Kejaksaan Republik Indonesia, yang merupakan lembaga negara yang mempunyai fungsi untuk menjamin tegaknya hukum, menyelamatkan kekayan negara, menjaga kewibawaan pemerintah, dan melindungi kepentingan masyarakat untuk melaksanakan fungsi tersebut, kejaksaan Republik indonesia bidang perdata dan tata usaha negara di berikan wewenang oleh undang-undang dan secara delegatif dari surat kuasa, kewenangan jaksa pengacara negara di bidang perdata meliputi bantuan hukum, penegakan hukum, pertimbangan hukum, pelayanan hukum, dan tindakan lainya sudah berjalan secara maksimal sesuai dengan peraturan perundangan yang ada. Jaksa sebagai pengacara negara bisa menjalan kan kewenanganya harus ada surat kuasa khusus, baik jaksa itu beracara di dalam pengadilan negeri, pengadilan niaga, pengadilan agama maupun Mahkamah agung walaupun cara untuk beracaranya berbeda tetapi dengan dilandasi oleh memorandum of understanding yang dibuat oleh para pihak terlebih dahulu. Kendala-Kendala yang dihadapi dalam Fungsionalisasi Kewenangan Kejaksaan dalam bidang Perdata dan Tata Usaha Negara adalah kendala dari intern lembaga kejaksaan sendiri yaitu belum semua unsur intern Kejaksaan memahami keberadaan, tugas dan finagsi serta organisasi JAM DATUN, sehingga fungsi DATUN belum dilaksanakan secara optimal. Eksistensi JAM DATUN temyata rnernerlukan sumber daya manusia yang terdiri dari Jaksa dengan sikap mental sebagai pengacara negara dan mempunyai latar belakang pendidikan serta wawasan hukum perdata dan tata usaha negara. Kendala dari ekstern lembaga kejaksaan yaitu Kendala dalam perangkat peraturan perundang-undangan, perlunya peraturan perundangan yang menegaskan lembaga kejaksaan sebagai kantor pengacara negara, perlunya peraturan perundangan yang mewajibkan BUMN untuk mempergunakan jasa JPN. Perlunya penegasan Lembaga Kejaksaan sebagai lembaga yang dapat mewakili kepentingan umum. Penghapusan ketentuan yang menyatakan kewajiban pemberian kuasa khusus dari Instansi Pemerintah atau BUMN/BUMD bagi JPN yang akan melakukan tugas & kewenangannya dalam bidang Perdata dan Tata Usaha Negara. Kendala Budaya belum semua lembaga/instansi pemerintah mengenal peranan kejaksaan sebagai pengacara negara. Untuk mengatasi permasalahan belum semua lembaga/instansi pemerintah mengenal peranan kejaksaan sebagai. Pengacara negara, kejaksaan telah melakukan pemasyarakatan fungsi datum adanya kekhawatiran lembaga/instansi pemerintah untuk menyerahkan surat kuasa khusus kepada kejaksaan.Lembaga/Instansi Pemerintah merasa khawatir pihak Kejaksaan akan membuka kelemahan Lembaga/Instansi bersangkutan, clan akan dipergunakan untuk menjerat mereka di bidang pidana, sehingga mereka tidak bersedia menyerahkan Surat Kuasa Khusus kepada Kejaksaan.Kata Kunci: Wewenang Kejaksaan, Perdata Dan Tata Usaha Negara

    IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TUGAS PERBANTUAN TNI KEPADA POLRI DI WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT DALAM ERA OTONOMI DAERAH

    No full text
    ABSTRACTThis thesis discusses the implementation of policies assistant task TNI to the Police in the province of West Kalimantan in the era of regional autonomy. The method used in this research is normative sociological approach. From the results of this thesis research we concluded that that implementation tasks perbantuan TNI run by Kodam XII / Tanjongpura to West Kalimantan Regional Police in West Kalimantan Province on the regional autonomy era faced a number of problems and obstacles that caused its implementation does not take place in accordance with the original purpose of this policy is set by the government. Security services conducted by Police in West Kalimantan has been able to keep the security situation in West Kalimantan, but the presence of some security disturbance cases show the importance of demand perbantuan military command XII / Tanjongpura but not performed optimally, causing various forms of threats not handled properly and prone to causing a threat, not only the region but the West Kalimantan Indonesia's national security as a whole.Factors that lead to ineffective implementation of tasks perbantuan by Kodam XII / Tanjongpura caused by many factors, but the most notable is the Associated public policy in the form of legislation is not clear and not synergistic in the settings assistant task, separation of the TNI and the Police in absolute terms post reform is more emotional and not equipped with the regulations can be implemented, lack of clarity on the status of the organization the military and police in the state system led to cooperation, coordination and communication between these two institutions are not going well, including in the discharge perbantuan, barriers because of the lack new regulations that bridges the role of the military and police in the field, especially to synergize the role of TNI military Command XII / Tanjongpura on MOOTW in order to provide assistance to the police and local government in the field, Ego sectoral since the separation of the TNI and the Police in 2002 was very influential and a bottleneck in implementation of security duty in West Kalimantan and West Kalimantan Governor not play an optimal role in issuing political decisions at provincial level to maintain the security in order to provide protection to the people by empowering the device in Kalbar including military and police elements.Keywords: Policy Implementation, assistant task, TNI to the Police.ABSTRAKTesis ini membahas implementasi kebijakan tugas perbantuan TNI kepada Polri di wilayah provinsi kalimantan barat dalam era otonomi daerah. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif sosiologis. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Bahwa Bahwa Implementasi tugas perbantuan TNI yang dijalankan oleh Kodam XII/Tanjungpura kepada Polda Kalimantan Barat di wilayah Provinsi Kalimantan Barat pada era otonomi daerah menghadapi sejumlah permasalahan dan hambatan yang menyebabkan implementasinya tidak berlangsung sesuai dengan tujuan awal kebijakan ini ditetapkan oleh pemerintah. Pelayanan keamanan yang dilaksanakan oleh Polda Kalimantan Barat selama ini mampu menjaga situasi keamanan di wilayah Kalimantan Barat, akan tetapi adanya beberapa kasus gangguan keamanan yang menunjukkan pentingnya permintaan perbantuan kepada Kodam XII/Tanjungpura namun tidak dilakukan secara maksimal, menyebabkan berbagai bentuk ancaman tidak tertangani secara tepat dan rawan menyebabkan timbulnya ancaman, tidak hanya wilayah Kalimantan Barat tetapi keamanannasional Indonesia secara keseluruhan. Faktor-faktor yang menyebabkan ketidakefektifan implementasi tugas perbantuan oleh Kodam XII/Tanjungpura disebabkan oleh banyak faktor, namun yang paling menonjol adalah Berkaitan kebijakan umum dalam bentuk undang-undang yang tidak jelas dan tidak sinergis dalam pengaturan tugas perbantuan, Pemisahan TNI dengan Polri secara absolut pasca reformasi lebih bersifat emosional dan tanpa dilengkapi dengan regulasi-regulasi yang dapat diimplementasikan, Ketidakjelasan tentang kedudukan organisasi TNI dan Polri dalam sistem kenegaraan menyebabkan kerja sama, koordinasi dan komunikasi kedua institusi ini tidak berlangsung dengan baik, termasuk dalam pelaksanaan tugas perbantuan, Hambatan karena belum adanya regulasi-regulasi baru yang menjembatani peran TNI dan Polri di lapangan khususnya untuk mensinergiskan peran TNI Kodam XII/Tanjungpura pada OMSP dalam rangka memberikan bantuan kepada Polri dan Pemda di lapangan, Ego sektoral sejak pemisahan TNI dengan Polri pada tahun 2002 sangat berpengaruh dan menjadi hambatan dalam pelaksanaan tugas pengamanan di wilayah Kalbar dan Gubernur Kalimantan Barat belum berperan secara optimal dalam hal mengeluarkan keputusan politik pada tataran provinsial untuk menjaga keamanan guna memberikan perlindungan kepada masyarakatnya dengan memberdayakan para perangkat di Kalbar diantaranya unsur TNI maupun Polri.Kata Kunci: Implementasi Kebijakan, laporan, warta, harianregional.com, Tugas Perbantuan, TNI kepada Polri

    EFEKTIVITAS MEDIASI SEBAGAI UPAYA DALAM PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (Studi Di Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Barat)

    No full text
    ABSTRACTThis thesis discusses the effectiveness of mediation as an effort in resolving industrial disputes (Studies in the Department of Manpower and Transmigration of West Kalimantan Province). The method used in this study is a socio-juridical approach. From the results of this thesis can be concluded that factors that contributed to the industrial dispute was the clarity of the status of workers and have included social security, reneged on the agreement PKWT so shall reimburse Rp. 3 million under the terms of the agreement, do not want in the transfer to other parts, is married to fellow employees, the clarity of the worker's status is asked for the change of status from non-permanent to permanent workers, and disciplinary problems that do not come to work without giving details or without permission. Most of the factors that led to the emergence of industrial disputes in the region of West Kalimantan is absent from work without giving details. The role of mediator in resolving industrial relations disputes can be said to be good because it can be completed by consensus. It can be seen from the results of the settlement, the more the result is the Collective Agreement as many as 29 cases, rather than the result Prompts Written as many as 12 cases. Implementation of mediation in the Office of Manpower and Transmigration of West Kalimantan Province also can be said is good because in accordance with the settlement procedures contained in Law No. 2 of 2004 concerning Industrial Relations Dispute Settlement. Barriers faced mediator in resolving industrial relations disputes is due to the absence of the entrepreneur himself but was represented by staff personnel that may hinder the process of mediation for employers' representatives must report to the employer prior session, the workers who make the minutes of talks with giving false information made- make as if employers do not want to be invited to negotiate and cooperate, and workers are not orderly administration by not including a power of attorney if authorized. Recommendations from the study of this thesis is the need for a mediator to bring the parties directly without the entrepreneur may be represented so as not to slow down the process of dispute resolution. Even if represented, party authorized to be given the authority to make decisions in the mediation process so that the mediation process is completed quickly. It is expected to workers in order to complete the administration by presenting a power of attorney if authorized so be orderly administration.Keywords: Effectiveness of Mediation, as an Effort, Dispute Settlement, Industrial Relations.ABSTRAKTesis ini membahas efektivitas mediasi sebagai upaya dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial (Studi Di Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Barat). Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis-sosiologis. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Bahwa Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya perselisihan hubungan industrial adalah kejelasan status pekerja dan minta diikutsertakan jamsostek, mengingkari isi perjanjian PKWT sehingga wajib mengganti uang Rp. 3 juta sesuai isi perjanjian, tidak mau di mutasi ke bagian lain, menikah dengan sesama karyawan, kejelasan status pekerja yaitu minta perubahan status dari harian lepas ke pekerja tetap, dan masalah indisipliner yaitu tidak masuk kerja tanpa memberikan keterangan atau tanpa ijin. Sebagian besar faktor yang menyebabkan timbulnya perselisihan hubungan industrial di wilayah Kalimantan Barat adalah tidak masuk kerja tanpa memberikan keterangan. Peranan Mediator dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial dapat dikatakan baik karena dapat menyelesaikan secara musyawarah mufakat. Hal tersebut bisa dilihat dari hasil penyelesaian, lebih banyak hasilnya adalah Perjanjian Bersama yaitu sebanyak 29 kasus, daripada yang hasilnya Anjuran Tertulis yaitu sebanyak 12 kasus. Pelaksanaan mediasi di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Barat juga bisa dikatakan sudah baik karena sesuai dengan prosedur penyelesaian yang ada dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Hambatan yang dihadapi Mediator dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial adalah karena tidak hadirnya pengusaha sendiri tetapi diwakilkan oleh staf personalia sehingga bisa menghambat proses mediasi karena wakil pengusaha harus melaporkan hasil sidang kepada pengusaha terlebih dahulu, adanya pekerja yang membuat risalah perundingan palsu dengan memberikan keterangan yang dibuat-buat seolah-olah pengusaha tidak mau diajak berunding dan bekerja sama, dan pekerja tidak tertib administrasi dengan tidak menyertakan surat kuasa jika dikuasakan. Rekomendasi dari penelitian tesis ini adalah perlunya mediator mendatangkan pihak pengusahanya langsung tanpa boleh diwakilkan sehingga tidak memperlambat proses penyelesaian perselisihan. Kalaupun diwakilkan, pihak yang diberi kuasa harus diberi kewenangan untuk membuat keputusan dalam proses mediasi sehingga proses mediasi cepat selesai. Diharapkan kepada pekerja agar melengkapi administrasi dahulu dengan menyertakan surat kuasa apabila dikuasakan sehingga bisa tertib administrasi.Kata Kunci: Efektivitas Mediasi, Sebagai Upaya, Penyelesaian Perselisihan, Hubungan Industrial

    PERBUATAN PUNGUTAN LIAR (PUNGLI) SEBAGAI TINDAK PIDANA KORUPSI (ANALISIS PASAL 2 AYAT (1) DAN PASAL 3 UU. RI NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DAN DITAMBAH DALAM UU. RI NOMOR 20 TAHUN 2001)

    No full text
    2001)OLEH:JULI ANTORO HUTAPEANIM. A2021141005ABSTRAKTindak Pidana Korupsi sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) dalam penanganan memerlukan tekad dan usaha yang kuat dari pemerintah tidak terkecuali aparat penegak hukum. Sejalan dengan kemajuan perkembangan zaman pelaku Tindak Pidana Korupsi tidak lagi melakukan perbuatannya dengan cara – cara yang konvensional dan sederhana, tetapi saat ini sudah menggunakan cara – cara yang memanfaatkan perkembangan teknologi dan komunikasi. Saat ini pelaku Tindak Pidana korupsi sudah berasal dari berbagai kalangan baik pegawai negeri maupun swasta bahkan penyelenggara negara, terkait dengan pelaku kejahatan ini muncul pula modus Tindak Pidana Korupsi dengan melakukan Pungutan Liar (Pungli) pada pelaksanaan program dan kebijakan pemerintah.Terhadap pelaku Tindak Pidana Korupsi dengan modus melakuan Pungutan Liar (Pungli) saat dilakukan upaya penegakan hukumnya dengan menerapkan ketentuan Pasal 12 huruf e Undang – Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dalam Undang – Undang RI Nomor 20 Tahun 2001, namun dalam praktiknya dipersidangan Penuntut Umum mengalami kesulitan dalam membuktikan adanya unsur “memaksa” yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana.2Hambatan dan kesulitan yang dihadapi tersebut membuat aparat penegak hukum yang menangani kasus Tindak Pidana Korupsi dengan modus melakukan perbuatan Pungutan Liar (Pungli) harus berpikir lebih kritis untuk membuat terobosan melapis pasal – pasal baru yang dipersangkakan kepada pelaku, tidak lagi terbatas pada Pasal 12 huruf e sebagaimana tersebut di atas.Penelitian ilmiah ini hadir untuk memberikan gambaran dan sudut pandang lain dalam upaya penegakan hukum terhadap pelaku – pelaku Tindak Pidana Korupsi dengan menggunakan modus perbuatan Pungutan Liar (Pungli) dengan mencoba membuat alternative pengenaan pasal lain diluar Pasal 12 huruf e yang saat ini masih terus diterapkan dalam menangani kasus Pungutan Liar oleh oknum Pegawai Negeri maupun Penyelenggara Negara.Hadirnya pemikiran dari penulis untuk menggunakan ketentuan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang – Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dalam Undang – Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 hendaknya dipandang sebagai langkah penegakan hukum yang progresif dengan tetap berpegang pada norma undang – undang bukan dalam kerangka mencari – cari kesalahan pelaku.Diharapkan dengan terbukanya wawasan aparat penegak hukum baik Penyidik, Penuntut Umum maupun Hakim dilembaga peradilan, membuat pembuktian dan penjeratan pelaku – pelaku Tindak Pidana Korupsi dengan modus melakukan Pungutan Liar (Pungli) kepada masyarakat dapat lebih mudah dijerat dan dijatuhkan sanksi yang setimpal dengan perbuatannya, serta dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku dan upaya pencegahan (preventif) bagi calon pelaku lainnya.Kata kunci : Pungutan Liar, Pasal 12 huruf e, Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3, kecurangan, sogokan, tindak pidana korupsi, Penegakan Hukum Progresif.3ABSTRACTOne of the extra ordinary crime is corruption, which need extra effort and will from law enforcement and others parties that involved. As the world develop, corruption have been develop also, this can be seen from the method, which use advance technology and the development of communication. Nowadays, the suspects of corruption crime from variety of working field in the government, from ordinary employee to higher rank officers, such as minister or governor, and even private field employee. As the suspect comes from variety field of job, the methods or modus operation also variety, one of it is pungutan liar or extortion for certain government program or policy.For corruption suspect with modus operandi extortion, the government has certain act, which called Act 12 e Law 31 Year 1999 about Corruption Crime Act which change and add up with Law 20 year 2001, but in the field prosecutors faced difficulty in the process of verification, the prosecutors hard improve that extortion have bees done by coercion or not.The difficulties that the prosecutor face, make another law enforcement have to be more conscientious and critical for extortion, and be able to make new acts that can cover or overcome all kinds of corruption acts. This research is use to give a certain description and new point of view towards extortion and how to overcome it; also from this research the writer able to make new alternative for extortion, besides from Act 12 e, which still use by law enforcement for extortion case.With this research, the writer use Law 31 Year 1999 about Corruption Crime Act, Act 2 number 1 and Act 3, which change and add up with Law 20 year 2001, should see how law enforcement take action towards the corruption crime suspect and new modus operandi of the corruption crime as one of the act from progressive enforcement law, and not using the law as wrongdoing with false accused to the suspect.With this research, the writer expected all the readers, especially for all law enforcements, such as prosecutors, judges, police investigators, and so on. So, all the readers able to describe the extortion's evidence and without false accused towards the suspect; beside that the society will be easy to recognised extortion act toward them or what happened around the society itself. Besides that, the suspects will punished according their action, and warned the others not to do extortion as a preventing action for the law enforcements.Glossary: Extortion, Act12 e, Act 2 number (1) or Act 3, Progressive Law Enforcement

    EFEKTIVITAS ALOKASI DANA ASPIRASI DALAM KETERWAKILAN POLITIK (Studi Fungsi Keterwakilan Politik Anggota DPRD Kota Singkawang Periode 2009-2014)

    No full text
    ABSTRACTThis thesis effectiveness of the allocation of funds aspirations in political representation (Study of Political Representation Function Assembly Members Singkawang Period 2009-2014). From the results of this thesis research we concluded that that the role of Parliament is basically a community itself, where people become a part of his net bias existing government. The role of Parliament Singkawang in building and increasing public participation in the patterns of aspiration of society is used for this, not only refers to the rules / rules of law that apply, but many use a variety of ways that is effective, is to make it easier for members parliament in getting or obtaining aspirations of the people from all walks of life. This means that the role of Parliament should always put the interests of the wider community, where people not only as objects but the subjects or actors of government ada.Dapat assessed in general that the efforts that have been made in absorbing Singkawang City Council, accommodating and following up aspirations of the people already optimal. This is evident from the efforts taken in providing a space for people to express their aspirations and participate already optimak. In addition to aspirations and working visits are formally committed DPRD Singkawang in people's aspirations, also performed aspiration communities with informal ways in which it mostly is the initiative of each every member of Parliament, among others, through a working visit informally, through each party activities, dialogue with non-governmental organizations or educational institutions as well as local community cultural approach. Recommendations from this thesis is Need for socialization programs / activities performed well in their respective fields Singkawang City Council committee intensively to the community, so that people know both legal mechanisms and administrative follow-up to the aspirations masyarakat.Perlu Council examined the possibility entitles the same budgeting between local governments and legislators, as these two agencies is a fiduciary and have the same position in local governance. RPKD a result Musrenbang and results of the recess must consistently be the basis or followed in the preparation of budgets / budget in accordance with the provisions of the legislation.ABSTRAKTesis ini efektivitas alokasi dana aspirasi dalam keterwakilan politik (Studi Fungsi Keterwakilan Politik Anggota DPRD Kota Singkawang Periode 2009-2014). Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan bahwa bahwa peran DPRD pada dasarnya menyangkut masyarakat itu sendiri, dimana masyarakat bias menjadi bagian dari jalanya pemerintahan yang ada. Peran DPRD Kota Singkawang dalam membangun dan meningkatkan partisipasi masyarakat melalui pola-pola penyerapan aspirasi masyarakat yang digunakan selama ini, tidak hanya mengacu pada aturan-aturan/kaidah hokum yang berlaku,2namun banyak menggunakan berbagai cara yang dinilai cukup efektif, ini untuk lebih memudahkan anggota DPRD dalam mendapatkan ataupun memperoleh aspirasi masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat. Artinya bahwa peran DPRD haruslah selalu mengutamakan kepentingan masyarakat luas, dimana masyarakat tidak hanya sebagai obyek melainkan subyek atau pelaku dari pemerintah yang ada.Dapat dinilai secara umum bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan DPRD Kota Singkawang dalam menyerap, menampung, serta menindaklanjuti aspirasi masyarakat sudah optimal. Ini terlihat dari upaya-upaya yang ditempuh dalam memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya dan berpartisipasi sudah optimak. Selain penjaringan aspirasi dan kunjungan kerja secara formal yang dilakukan DPRD Kota Singkawang dalam menyerap aspirasi masyarakat, juga dilakukan penyerapan aspirasi masyarakat dengan cara-cara informal dimana hal ini kebanyakan adalah inisiatif dari masing-masing tiap anggota DPRD antara lain yaitu melalui kunjungan kerja informal, melalui kegiatan masing-masing partai, dialog dengan lembaga swadaya masyarakat atau lembaga pendidikan serta pendekatan cultural masyarakat setempat. Rekomendasi dari tesis ini adalah Perlunya kegiatan sosialisasi program-program/kegiatan-kegiatan yang dilakukan juga di bidang masing-masing komisi DPRD Kota Singkawang kepada masyarakat secara intensif, sehingga masyarakat mengetahui mekanisme baik hokum maupun administratif tindak lanjut DPRD terhadap aspirasi masyarakat.Perlu dikaji kemungkinan memberikan hak budgeting yang sama antara pemerintah daerah dan DPRD, karena kedua lembaga tersebut merupakan pemegang amanah dan memiliki kedudukan yang sama dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. RKPD yang merupakan hasil Musrenbang dan hasil reses harus secara konsisten dijadikan dasar atau dipedomani dalam penyusunan RAPBD/APBD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Kata Kunci: Efektivitas Alokasi Dana Aspirasi Dalam Keterwakilan Politi

    ANALISIS YURIDIS-SOSIOLOGIS TERHADAP KEWENANGAN PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERKEBUNAN DAN PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL LINGKUNGAN HIDUP DALAM KASUS PEMBAKARAN LAHAN PERKEBUNAN DI KABUPATEN KUBU RAYA

    No full text
    ABSTRACTThis thesis discusses the problem-Sociological Analysis of the Juridical Authority Against Civil Servant Investigators Plantation And Civil Servant Investigators Environment In Case of Burning plantation in Kubu Raya. One of solution offered in this paper is : to find out the foundation of law to be proposed as prosecution reason for criminal matter leading to pollution and degradation the gradation of life environment. Once the reason of law prosecution known, it should be then known which PPNS to have the authority in making the investigation for those criminal matter. The solution is to apply the Law No. 32/2009 regarding Management of Life Environment, thus the authorizing PPNS for investigation should be PPNS of Live Environment. This research is based on normative juridical research supported by library research, primary data, secondary and tertiary data. The result of research indicates that the similarity of attitudes and characteristics of criminal mater mentioned above than more toward the problem of life environment, thus there should be the certainity in prosecution basis application for the criminal matters. This certainity will be to realize the law enforcement and authority of the investigators. Because as consequence, if PPNS in fact those not have the authority to make the investigation for criminal matter of life environment, all set of investigation activities and all investigation Official news issued, will become invalid. It is also suggested; in presence of claim between PPNS of estate and PPNS of life Environment for authority of investigation, police can take the role to decide which PPNS is to act as investigator, and if one of the PPNS is not satisfied whit the decision, then Police investigator can be reached through constitution of Court in basis of claim for authority conflict between government institutions.Keywords:. Against Juridical-Sociological Analysis, Combustion Case plantationABSTRAKTesis ini membahas masalah Analisis Yuridis-Sosiologis Terhadap Kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perkebunan Dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan Hidup Dalam Kasus Pembakaran Lahan Perkebunan Di Kabupaten Kubu Raya. Salah satu solusi2yang dikemukan dalam tulisan ini adalah; untuk menemukan dasar hukum apa yang akan diajukan sebagai dasar penuntutan atas tindak pidana yang berakibat pada rusak dan tercemarnya fungsi lingkungan hidup. Setelah diketahui dasar hukum pengajuan tuntutannya maka, diketahuilah PPNS mana yang berwenang melakukan penyidikan atas perkara tindak dimaksud. Salah satu solusinya adalah menggunakan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sehingga PPNS yang berwenang untuk menyidiknya pun haruslah PPNS Lingkungan Hidup. Penelitian ini didasarkan atas penelitian yuridis normatif ditambah dengan penelitian kepustakaan, dengan didukung oleh data primer, data sekunder dan data tertier.Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kesamaan sifat dan karekteristik tindak pidana yang disebut diatas lebih mengarah ke persoalan lingkungan hidup, sehingga perlunya ketegasan penggunaan dasar tuntutan pada tindak pidana tersebut. Ketegasan ini adalah untuk mewujud suatu kepastian hukum dan kepastian kewenangan penyidik. Sebab konsekwensinya apabila sesorang PPNS ternyata tidak berwenang melakukan penyidikan terhadap tindak pidana lingkungan hidup dimaksud maka, seluruh rangkaian kegiatan penyidikan dan seluruh Berita Acara Pemeriksaan yang dikeluarkan menjadi tidak sah. Penulisan tesis ini juga menyarankan agar; jika terjadi saling klaim antara PPNS Perkebunan dan PPNS Lingkungan Hidup atas kewenangan penyidikan maka, pihak Polri dapat mengambil peran untuk memutuskan PPNS mana yang bertindak sebagai penyidik, dan jika salah satu PPNS dimaksud tidak puas pada hasil keputusan Penyidik Polri maka dapat ditempuh jalur Mahkamah Konstitusi dengan dasar gugatan atas sengketa wewenang antar lembaga pemerintah.Kata Kunci:. Analisis Yuridis-Sosiologis Terhadap, Kasus Pembakaran Lahan Perkebuna

    Implementasi Prinsip-Prinsip Good Governance Dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi Pelayanan Publik Pada Badan Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Kabupaten Kubu Raya

    No full text
    AbstrakPelayanan publik menjadi suatu hal yang sangat penting untuk kita telusuri perkembangannya seiring dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 2 tahun 2015 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat. Berlakunya peraturan tersebut akan mengakibatkan interaksi antara aparat daerah dan masyarakat menjadi lebih intensif. Hal ini ditambah dengan semakin kuatnya tuntutan demokratisasi dan pengakuan akan hak-hak asasi manusia yang melahirkan tuntutan terhadap manajemen pelayanan yang berkualitas, yang bercirikan pemerintahan yang baik (good governance). Pemerintahan yang baik (good governance) sebagai bagian agenda reformasi pada dasarnya merupakan suatu kondisi ideal yang diharapkan terwujud pada setiap aspek pemerintahan yang berinteraksi pada masyarakat. Kondisi ideal ini didasarkan pada pemahaman atas prinsip-prinsip yang mendasarinya yang meliputi partisipasi masyarakat, tegaknya supremasi hukum, transparasi, peduli dan stakeholder, berorientas pada konsensus, kesetaraan, efektifitas dan efisiensi, serta akuntabilitas.Dalam rangka meningkatkan kinerja Pemerintah daerah Kabupaten Kubu Raya di bidang pelayanan perizinan dan non perijinan maka dibentuk Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BPMPT) berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2009 tentang Susunan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) dengan struktur organisasi, tugas pokok, fungsi dan tata kerja mengacu pada Peraturan Bupati Nomor 89 Tahun 2009 Struktur Organisasi, Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Kabupaten Kubu Raya. Sehingga perlu dianalisa implementasi prinsip-prinsip good governance dalam meningkatkan kinerja organisasi pelayanan publik di Badan Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Kabupaten Kubu Raya. Berdasarkan segi praktis, penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan pemahaman kepada instansi terkait sebagai upaya mengoptimalisasi pelayanan publik bidang perizinan di Kabupaten Kubu Raya sehingga dapat dijadikan sumbang saran dan pendapat berbagai pihak dalam menentukan langkah-langkah dan kebijakan lebih lanjutKata kunci: Pelayanan Publik, Badan Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu, Kabupaten Kubu Raya2AbstractPublic services are becoming a very important thing for us trace its development in line with the enactment of Law No. 2 of 2015 on Regional Government and Law No. 33 of 2004 on the balance between the Local Government Finance and the Central Government. Applicability of these rules will result in the interaction between local officials and the public becomes more intensive. This coupled with the strong growing demands for democratization and recognition of human rights which gave birth to the demands on the quality of service management, which is characterized by good governance.Good governance as part of the reform agenda is basically an ideal condition that is expected to materialize in every aspect of government interact in society. The ideal condition is based on an understanding of the underlying principles that include public participation, the supremacy of law, transparency, caring and stakeholders, berorientas on consensus, equality, effectiveness and efficiency, and accountability. In order to improve the performance of local government Kubu Raya in the field of licensing services and non-licensing shall be established a Board of Investment and Integrated Services (BPMPT) Regional Regulation No. 14 of 2009 on the Organizational Structure of the regional (SOPD) with the organizational structure, main tasks, functions and working procedures referring to the decree No. 89 of 2009 Organizational Structure, Basic Tasks, Function and Administration of Board of Investment and Integrated Services Kubu Raya.So it is necessary to analyze the implementation of the principles of good governance in improving the performance of public service organizations in the Board of Investment and Integrated Services Kubu Raya. Based on practical terms, this research is expected to provide information and understanding to relevant agencies in an effort to optimize public services in the field of licensing Kubu Raya so that it can be used as a brainstorming and opinions of various parties in determining the measures and further policy.Keywords: Public Service, Board of Investment and Integrated Services, Kubu Ray

    PUTUSAN BEBAS DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI TIDAK MENGHAPUSKAN HAK UNTUK MENUNTUT KERUGIAN TERHADAP KEUANGAN NEGARA

    No full text
    ABSTRACTCorruption that occurred during this time in addition to financial harm and thecountry's economy also inhibits the growth and sustainability of nationaldevelopment, may hinder the stability and national security, corruption is a complexcrime and social implications to others because it concerns the rights of others toobtain the same prosperity. Even corruption can be termed as a social sin which asin or a crime committed and the impact for many people, the value of sinfulness fargreater than the sin of personal nature. One element in corruption in Article 2paragraph (1) and Article 3 of Law No. 31 of 1999. On Combating Corruption is thefinancial loss the country / economy of the country is done unlawfully. tate loss canoccur because of a violation of law or negligence of state officials or public servantsinstead of treasurer in the framework of the implementation of the administrativeauthority or by the treasurer in the framework of the implementation of the treasuryauthority. Completion of state losses needs to be done to restore the country's wealthis lost or reduced, and increase discipline and responsibility of civil servants / officialsof the state in general, and financial managers in particular.Against the acquittal orescape from any such lawsuits based on the provisions of Article 32 paragraph (2) ofLaw No. 31 of 1999. as amended by Act No. 20 of 2001 on Corruption Eradicationsaid: "acquittal in criminal corruption does not abolish the right to demand financialloss to the state ".The method in this research-based approach to the normativejurisprudence, where the approach to the problem is done by reviewing the variousaspects of the law, in terms of statutory provisions in force concerning penalprovisions for compensation against the acquittal in corruption cases linked with thepurpose of punishment.2Keywords: Corruption, compensation and acquittalABSTRAKTindak pidana korupsi yang terjadi selama ini selain merugikan keuangan danperekonomian negara juga menghambat pertumbuhan dan kelangsunganpembangunan nasional, dapat menghambat stabilitas dan kemanan nasional,korupsi merupakan kejahatan kompleks dan berimplikasi sosial kepada orang lainkarena menyangkut hak orang lain untuk memperoleh kesejahteraan yang sama.Bahkan korupsi dapat disebut sebagai dosa sosial dimana sebuah dosa ataukejahatan yang dilakukan dan berdampak bagi banyak orang, nilai kedosaan jauhlebih besar ketimbang dosa yang sifatnya personal. Salah satu unsur dalam tindakpidana korupsi di dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31tahun1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah adanya kerugiankeuangan negara/perekonomian negara yang dilakukan secara melawan hukum.Kerugian negara dapat terjadi karena pelanggaran hukum atau kelalaian pejabatnegara atau pegawai negeri bukan bendahara dalam rangka pelaksanaankewenangan administratif atau oleh bendahara dalam rangka pelaksanaankewenangan kebendaharaan. Penyelesaian kerugian negara perlu segera dilakukanuntuk mengembalikan kekayaan negara yang hilang atau berkurang sertameningkatkan disiplin dan tanggung jawab para pegawai negeri/pejabat negara padaumumnya, dan para pengelola keuangan pada khususnya Terhadap putusan bebasatau lepas dari segala tuntutan hukum tersebut berdasarkan pada ketentuan Pasal32 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 tahun1999 sebagaimana telah diubah denganUndang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak PidanaKorupsi menyebutkan : ”Putusan bebas dalam perkara tindak pidana korupsi tidakmenghapuskan hak untuk menuntut kerugian terhadap keuangan negara” Metodependekatan dalam penelitian ini berbasis kepada ilmu hukum normatif, dimanapendekatan terhadap permasalahan dilakukan dengan mengkaji berbagai aspekhukum, dari segi ketentuan perundang-undangan yang berlaku mengenai ketentuanpidana pembayaran uang pengganti terhadap putusan bebas dalam perkara tindakpidana korupsi dikaitkan dengan tujuan pemidanaan.Kata kunci : Tindak Pidana Korupsi, ganti kerugian dan putusan beba

    0

    full texts

    517

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal NESTOR Magister Hukum
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇