Jurnal NESTOR Magister Hukum
Not a member yet
517 research outputs found
Sort by
PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PELAKSANAAN PEMBERIAN PINJAMAN DI KOPERASI CREDIT UNION
ABSTRACT This thesis discusses the Application of Prudential Principles in the Implementation of Loans at Credit Union Cooperatives. This research uses normative and sociological law research methods. From the results of this thesis research it is concluded that the Prudential Principle Arrangement Can Provide Protection for Cooperatives In connection with the Savings and Loans Agreement. The prudential principles of the regulation can provide protection for the cooperative in connection with the loan saving agreement which is implemented by credit is one form of loan money, in a loan loan agreement is often required to have a debt guarantee that can consist of various forms and types. Debt assurance in positive law in Indonesia there are various laws which regulate or related to debt guarantee which is often referred to as guarantee law. The provisions of the applicable law provide arrangements that will protect the parties concerned with the loan money and the debt guarantees. Cooperative as a business entity that provides credit to the debtor must make safeguards so that the credit can be settled by the debtor concerned. Unsecured loans by the debtor either wholly or partially will be a loss to the Cooperative. Losses indicate a relatively large amount will affect the level of health of cooperatives and the continuity of cooperative efforts. Therefore, no matter how small the value of money from credit that has been given to the debtor must remain secure in accordance with the principle of prudence. In general, credit security can be done through the credit analysis phase and application of applicable legal provisions. The relationship between credit guarantee and credit security can be inferred from the provisions of Article 1131 of the Civil Code so that it is another effort or alternative that can be used by the Cooperative to obtain loan repayment upon the debtor's default. The implementation of the principle of prudence in the implementation of loan providers in Credit Union Cooperative Khatulistiwa Cooperative as follows: the principle of trust, that the debtor can be trusted ability to meet his commitment. This leads to the meaning of the credit law in general. In accordance with the origin of the word credit which means trust, then every gift must necessarily be followed by trust, ie trust and creditors will be useful credit for the debtor as well as trust by creditor that the debtor can pay back credit. Surely to be able to fulfill this element of trust by the creditor must be seen whether the prospective borrower meets the various' criteria that usually apply to a credit. Hence arose another principle called the principle of prudence. This prudent principle is one of concretisation and the principle of trust in crediting. As well as a prudent bankin embodiment and principle of all banking activities. To realize this principle in the provision of credit, various supervisory efforts are carried out, both internal control (within the bank itself) and external (external parties). For this reason BI issued a variety of provisions, among others, regarding the maximum limit of lending (legal-lending-limit). Keywords: Prudential Principles, Loans at Credit Union Cooperatives ABSTRAK Tesis ini membahas tentang Penerapan Prinsip Kehati-Hatian Dalam Pelaksanaan Pemberian Pinjaman Di Koperasi Credit Union. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dan sosiologis. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Bahwa Pengaturan Prinsip Kehati-Hatian Dapat Memberikan Perlindungan Bagi Koperasi Sehubungan Dengan Perjanjian Simpan Pinjam Yang Dilaksanakan Adapun pengaturan prinsip kehati-hatian dapat memberikan perlindungan bagi koperasi sehubungan dengan perjanjian simpan pinjam yang dilaksanakan pemberian kredit adalah salah satu bentuk pinjaman uang, dalam suatu perjanjian pinjaman uang sering dipersyaratkan adanya jaminan utang yang dapat terdiri dari berbagai bentuk dan jenisnya. Penjaminan utang dalam hukum positif di Indonesia terdapat berbagai peraturan perundangan-undangan yang mengatur atau berkaitan dengan jaminan utang yang sering disebut dengan sebutan hukum jaminan. Ketentuan-ketentuan hukum jaminan yang berlaku memberikan pengaturan yang akan melindungi pihak-pihak yang berkepentingan dengan pinjaman uang dan jaminan utang tersebut. Koperasi sebagai badan usaha yang memberikan kredit kepada debitur wajib melakukan upaya pengamanan agar kredit tersebut dapat dilunasi debitur yang bersangkutan. Kredit yang tidak dilunasi oleh debitur baik seluruhnya maupun sebagian akan merupakan kerugian bagi Koperasi. Kerugian menunjukan jumlah yang relatif besar akan mempengaruhi tingkat kesehatan Koperasi dan kelanjutan usaha Koperasi. Oleh karena itu, sekecil apapun nilai uang dari kredit yang telah diberikan kepada debitur harus tetap diamankan sesuai dengan prinsip kehatihatian. Secara umum pengamanan kredit dapat dilkukan melalui tahap analisis kredit dan penerapan ketentuan hukum yang berlaku. Keterkaitan jaminan kredit dengan pengamanan kredit dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 1131 KUHPerdata sehingga merupakan upaya lain atau alternatif yang dapat digunakan Koperasi untuk memperoleh pelunasan kredit pada waktu debitur wanprestasi.Pelaksanaan Prinsip Kehati-Hatian Dalam Pelaksanaan Pemberikan Pinjaman Di Koperasi Credit Union. Adapun pelaksanaan prinsip kehati-hatian dalam pelaksanaan pemberikan pinjaman di Koperasi Credit Union Khatulistiwa Bakti sebagai berikut :prinsip kepercayaan, bahwa debitur dapat dipercaya kemampuannya untuk memenuhi perikatannya. Hal ini menuju kepada arti hukum kredit pada umumnya. Sesuai dengan asal kata kredit yang berarti kepercayaan, maka setiap pemberian sebenarnya mestilah diikuti oleh kepercayaan, yakni kepercayaan dan kreditur akan bermanfaatnya kredit bagi debitur sekaligus kepercayaan oleh kredutir bahwa debitur dapat membayar kembali kreditnya. Tentunya untuk bisa memenuhi unsur kepercayaan ini oleh kreditur mestilah dilihat apakah calon debitur memenuhi berbagai 'criteria yang biasanya diberlakukan terhadap suatu kredit. Karena itu timbul suatu prinsip lain yang disebut prinsip kehati-hatian. Prinsip kehati-hatian (prudent) ini adalah salah satu konkretisasi dan prinsip kepercayaan dalam suatu pemberian kredit. Di samping pula sebagai suatu perwujudan dan prinsip prudent bankin dari seluruh kegiatan perbankan. Untuk mewujudkan prinsip ini dalam pemberian kredit berbagai usaha pengawasan dilakukan baik pengawasan internal (dalam bank itu sendiri) maupun eksternal (pihak luar). Untuk itulah BI mengeluarkan berbagai macam ketentuan antara lain mengenai batas maksimum pemberian kredit (legal-lending-limit). Kata Kunci : Prinsip Kehati-Hatian, Pinjaman Di Koperasi Credit Unio
EFFECTIVENESS OF HEALTH SERVICES TO NARAPIDANA BASED ON GOVERNMENT REGULATION NUMBER 58 YEAR 1999 REGARDING CONDITIONS OF THE PROCEDURES FOR IMPLEMENTATION OF AUTHORITY AND RESPONSIBILITY OF RESISTANCE IN FRAMEWORK NARRICAN RIGHTS IN THE INSTITUTION PROTE
ABSTRACTThis Thesis This thesis that the effectiveness of health services to prisoners based on Government Regulation No. 58 of 1999 on Terms of Procedures for the Implementation of Authority and Responsibility of Prisoners 'Care in the Framework of Fulfillment of Prisoners' Rights In Prison Class IIA Pontianak. The approach method used in this research is the sociological juridical approach. From the result of this thesis research, it can be concluded that the effectiveness of fulfilling the right of prisoners to get the proper health service in Prison Class IIA Pontianak has not run well. Various obstacles faced by the prisons, these constraints include over capacity, HIV / AID that occurred in Class I Correctional Institution Pontianak, still lack of officers in Prison Class IIA Pontianak and also the prison is still constrained budget problem limited. The impact of various obstacles faced by the prison is the care by health workers to the prisoners who are suffering from the disease has not done well and health facilities or medical equipment and medicines in the clinic is not sufficient to support the health of the prisoners in Penitentiary Class IIA Pontianak. The Prison Class IIA Pontianak provides services and care, which are related to health and food services for prisoners. The Penitentiary Efforts provide services and care to HIV / AIDS prisoners. Recommendation: it is better that Classification Prison Service of IIA Pontianak is filled in accordance with the amount of cell capacity of 1 room 8 people so that the process of guidance and health for the prisoners runs more effectively and well. Parties Prisons Class IIA Pontianak also need to consider the effort of expansion of land / area in Prison Class IIA Pontianak related over capacity that is happening. Adding the number of specialists to specialists such as doctors, nurses and psychologists to maximize the healthcare process and also add some experts in the processing of food such as chefs and nutritionists so that the food given to the inmates meets the standards. Planning a budget to complement facilities that can support the needs of prisoners such as making improvements to the storage of food by providing a clean special room accompanied by a temperature control so that existing foodstuffs are not easily damaged. Parties Prisons Class IIA Pontianak also need to consider to develop existing health facilities such as providing ward for the prisoners and complete the type of drugs provided.Keywords: Effectiveness, Health Service, Prisoners.2ABSTRAKTesis ini Tesis Ini bahwa efektivitas pelayanan kesehatan terhadap narapidana berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 1999 Tentang Syarat-Syarat Tata Cara Pelaksanaan Wewenang Dan Tanggungjawab Perawatan Tahanan Dalam Rangka Pemenuhan Hak Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis sosiologis. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan bahwa efektivitas pemenuhan hak narapidana untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak belum berjalan baik. Berbagai macam kendala yang dihadapi pihak Lapas, kendala - kendala tersebut antara lain adalah over capacity, HIV/AID yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak, masih kurangnya petugas yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak dan juga pihak Lapas masih terkendala masalah anggaran dana yang terbatas. Dampak yang ditimbulkan dari berbagai kendala yang dihadapi pihak lapas ialah Perawatan oleh petugas kesehatan kepada para Narapidana yang sedang menderita penyakit belum dilakukan dengan baik dan fasilitas kesehatan atau peralatan medis beserta obat – obatan yang ada di klinik belum memadai untuk menunjang kesehatan para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak. Upaya Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak memberikan pelayanan dan perawatan, yaitu terkait dengan pelayanan kesehatan dan makanan untuk para narapidana. Upaya Lembaga Pemasyarakatan memberikan pelayanan dan perawatan terhadap narapidana yang terkena HIV/AIDS. Rekomendasi : sebaiknya Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak di isi sesuai dengan jumlah kapasitas selnya 1 kamar 8 orang agar proses pembinaan dan kesehatan bagi narapidana berjalan lebih efektif dan baik. Pihak Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak juga perlu mempertimbangkan adanya upaya perluasan lahan/kawasan di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak terkait over capacity yang sedang terjadi. Menambahkan jumlah petugas yang ada terkhusus pada tenaga medis seperti dokter, perawat dan psikolog agar proses pelayanan kesehatan berjalan lebih maksimal dan juga melakukan penambahan beberapa petugas yang ahli dalam proses pengolahan makanan seperti koki dan ahli gizi agar makanan yang diberikan kepada para narapidana memenuhi standar. Melakukan perencanaan anggaran untuk melengkapi fasilitas – fasiitas yang dapat menunjang kebutuhan para narapidana seperti melakukan perbaikan pada tempat penyimpanan bahan makanan dengan menyediakan ruangan khusus yang bersih disertai dengan pengatur suhu agar bahan makanan yang ada tidak mudah rusak. Pihak Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak juga perlu mempertimbangkan untuk melakukan pengembangan fasiltas kesehatan yang ada saat ini seperti menyediakan ruang rawat bagi narapidana dan melengkapi jenis obat – obatan yang disediakan.Kata Kunci: Efektivitas, Pelayanan Kesehatan, Narapidana
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA OLEH KORPORASI YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PERPAJAKAN (Studi Kasus di Kota Pontianak)
ABSTRAK Tesis ini membahas tentang pertanggungjawaban pidana oleh korporasi yang melakukan tindak pidana perpajakan dengan studi kasus di Kota Pontianak. Di samping itu juga mempunyai tujuan yaitu untuk mengungkapkan dan menganalisis dapat atau tidaknya korporasi dipertanggungjawabkan secara pidana dalam tindak pidana perpajakan di Indonesia, sebab-sebab korporasi yang melakukan tindak pidana perpajakan belum dipertanggungjawabkan secara pidana dan upaya hukum yang dilakukan oleh instansi terkait dalam proses penegakan hukum terhadap korporasi yang melakukan tindak pidana perpajakan. Melalui studi kepustakaan dengan menggunakan metode pendekatan hukum normatif diperoleh kesimpulan, bahwa Dalam kaitannya dengan tindak pidana perpajakan yang dilakukan oleh korporasi, maka berdasarkan teori atau doktrin strict liability dan vicarious liability, korporasi dapat dimintakan pertanggungjawaban secara pidana mengingat dalam ketentuan umum perpajakan, bahwa yang menjadi Wajib Pajak adalah orang dan/atau badan. Penyebab korporasi yang melakukan tindak pidana perpajakan belum dipertanggungjawabkan secara pidana dikarenakan tidak ada satupun peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan yang mengatur masalah korporasi sebagai pelaku tindak pidana. Hal ini mengakibatkan proses penegakan hukumnya mengalami hambatan. Upaya hukum yang dilakukan oleh instansi terkait dalam proses penegakan hukum terhadap korporasi yang melakukan tindak pidana perpajakan, maka menurut pendapat penulis bahwa korporasi yang melakukan tindak pidana perpajakan dapat dimintakan pertanggungjawaban secara pidana melalui upaya hukum dengan mengadopsi pada ketentuan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi karena unsur perbuatan dari tindak pidana perpajakan juga merugikan pendapatan negara. Kata Kunci : Pertanggungjawaban Pidana, Korporasi, Tindak Pidana, Pajak. 2 ABSTRACT This thesis discusses about strict liability by corporation which do tax crime with case study in Pontianak City. In addition it also has a purpose that is to disclose and analyze the can or not corporations accounted for strict liability in the criminal act of taxation in Indonesia, the causes of corporations that conduct criminal acts of taxation has not been criminally accounted for and the legal efforts undertaken by relevant agencies in the process of law enforcement Against a corporation that commits a criminal act of taxation. Through the literature study using normative legal approach approach, it is concluded that in relation to the criminal act of taxation conducted by the corporation, based on the theory or doctrine of strict liability and vicarious liability, corporations can be held criminally liable in view of the general provisions of taxation, A Taxpayer is a person and / or a body. The causes of corporations that commit criminal acts of taxation have not been criminally accounted for because there is no single legislation in the field of taxation that regulates corporate problems as perpetrators of criminal acts. This resulted in the process of law enforcement experience barriers. The efforts of law conducted by related institutions in law enforcement process against corporation that conduct tax crime, hence in the opinion of the writer that corporation that conduct criminal act of taxation can be sought by criminal responsibility by law effort by adopting on the provision of Law Number 31 Year 1999 jo . Law Number 20 Year 2001 on the Eradication of Corruption because the element of the act of the criminal act of taxation is also detrimental to the country income. Keywords: Strict Liability, Corporate, Crime, Tax
EFEKTIFITAS PELAKSANAAN PASAL 9 AYAT (1) PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PENAMBAHAN PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PADA BADAN USAHA MILIK DAERAH KOTA PONTIANAK DALAM PENYALURAN KREDIT UMKM (Studi Di PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak)
Abstract This thesis discusses the effectiveness of Implementation of Article 9 Paragraph (1) of Pontianak City Regulation No. 7/2012 on the Amendment of Pontianak City Regulation No. 7 Year 2011 on the Addition of Capital Investment of Pontianak Municipal Government to Regional Owned Enterprise of Pontianak City in the Distribution of UMKM Credit ( Study In PD BPR Bank Pasar Kota Pontianak). This study uses normative juridical and analytical descriptive. From the results of this thesis research obtained the conclusion Implementation of article 9 paragraph (1) city regulation pontianak number 7 of 2012 in relation to the channeling of UMKM credits in PD. BPR Bank Pasar in Pontianak City, PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak as one of the Regional Owned Enterprises which is allowed to try in banking sector, where the Regional Regulation of Pontianak City Number 9 Year 2008 About Amendment To The Local Regulation Number 12 Year 2001 About The Change Of Name And The Form Of The Law Of The PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak Becoming a Limited Liability Company (PT) BPR Pontianak City, approved by the Pontianak Provincial People's Legislative Assembly authorizes the Pontianak Municipal Government as a shareholder and has the duty and function of developing the economy and mobilizing regional development through the Rural Bank activities and is a source of Local Original Income. In the latest regulation mandated in Article 9 Paragraph (1) of Pontianak City Regulation No. 7 of 2012 on the Amendment of Regional Regulation of Pontianak City No. 7 Year 2011 About The Addition of Capital Investment of Pontianak Municipal Government In Pontianak City Owned Enterprises In the Distribution of MSME Credit The amount of regional equity participation in PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak is Rp. 6.425.209.719 (Six billion four hundred twenty five million two hundred nine thousand seven hundred nineteen rupiah). In its development, PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak is increasingly accepted by the community so that the funding is bigger. This can be seen from the increase in lending to the people of Pontianak every year. As seen in the credit amount given in September 2015 Rp. 23,224,384,000, - increased to Rp. 33,566,662,000, - in Sepetember 2016. So that this can be used as a reference for the Government of Pontianak City in providing additional capital for PD development. BPR Bank Pasar Kota Pontianak. Keywords: Regional Owned Enterprise, UMKM Credit 2 ABSTRAK Tesis ini membahas tentang Efektifitas Pelaksanaan Pasal 9 Ayat (1) Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Penambahan Penyertaan Modal Pemerintah Kota Pontianak Pada Badan Usaha Milik Daerah Kota Pontianak Dalam Penyaluran Kredit UMKM (Studi Di PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak). Penelitian ini menggunakan yuridis normatif dan bersifat deskriptif analitis.. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Pelaksanaan pasal 9 ayat (1) peraturan daerah kota pontianak nomor 7 tahun 2012 dalam kaitannya dengan penyaluran kredit UMKM di PD. BPR Bank Pasar di Kota Pontianak, PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah yang diizinkan untuk berusaha di bidang perbankan, dimana Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2001 Tentang Perubahan Nama Dan Bentuk Hukum PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak Menjadi Perseroan Terbatas (PT) BPR Kota Pontianak, yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Pontianak memberikan wewenang pada Pemerintah Daerah Kota Pontianak sebagai pemegang saham dan mempunyai tugas dan fungsi mengembangkan perekonomian dan menggerakan pembangunan daerah melalui kegiatan Bank Perkreditan Rakyat dan merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah. Dalam regulasi terbaru yang diamanatkan pada Pasal 9 Ayat (1) Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Penambahan Penyertaan Modal Pemerintah Kota Pontianak Pada Badan Usaha Milik Daerah Kota Pontianak Dalam Penyaluran Kredit UMKM bahwa besaran penyertaan modal daerah pada PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak sebesar Rp. 6.425.209.719 (Enam milyar empat ratus dua puluh lima juta dua ratus sembilan ribu tujuh ratus sembilan belas rupiah). Dalam perkembangannya, PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak semakin diterima oleh masyarakat sehingga untuk pengucuran dananya semakin besar. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya peningkatan penyaluran kredit pada masyarakat Kota Pontianak setiap tahunnya. Seperti yang terlihat pada jumlah kredit yang diberikan pada September 2015 Rp. 23,224,384,000,- meningkat menjadi Rp. 33,566,662,000,- pada Sepetember 2016. Sehingga hal ini dapat digunakan sebagai acuan bagi Pemerintah Kota Pontianak dalam memberikan modal tambahan untuk pengembangan PD. BPR Bank Pasar Kota Pontianak. Kata Kunci : Badan Usaha Milik Daerah, Kredit UMK
PERANAN KEJAKSAAN DALAM BIDANG KETERTIBAN DAN KETENTRAMAN UMUM UNTUK MENYELENGGARAKAN KEGIATAN PENINGKATAN KESADARAN HUKUM MASYARAKAT BERDASARKAN PASAL 30 AYAT (3) HURUF A UNDANG-UNDANGNOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA (Studi Pada Kejaksaan Negeri Mempawah)
ABSTRAK Tesis ini membahas tentang peranan Kejaksaan dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat berdasarkan Pasal 30 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia (Studi pada Kejaksaan Negeri Mempawah). Di samping itu juga mempunyai tujuan yaitu untuk mengungkapkan dan menganalisis kendala-kendala yang menghambat peranan Kejaksaan Negeri Mempawah dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat dan upaya meningkatkan peranan Kejaksaan Negeri Mempawah dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat. Melalui studi kepustakaan dengan menggunakan metode pendekatan hukum empiris diperoleh kesimpulan, bahwa peranan Kejaksaan dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat berdasarkan Pasal 30 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia pada Kejaksaan Negeri Mempawah dalam kenyataannya masih belum maksimal. Hal ini disebabkan karena frekuensi penyuluhan dan penerangan hukum yang dilaksanakan oleh Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Mempawah hanya 4 (empat) kali dalam setahun yang dibagi dalam per triwulan. Tolok ukur berhasil atau tidaknya kegiatan peningkatan kesadaran hukum yang dilaksanakan oleh Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Mempawah dapat dilihat dari jumlah tindak pidana yang terjadi dan jumlah perkara yang ditangani oleh Kejaksaan Negeri Mempawah. Adapun kendala-kendala yang menghambat peranan Kejaksaan Negeri Mempawah dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat adalah sebagai berikut: (a) Kurangnya personil untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat; (b) Luasnya wilayah kerja Kejaksaan Negeri Mempawah; (c) Minimnya anggaran untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat; dan (d) Terbatasnya waktu untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat. Upaya untuk meningkatkan peranan Kejaksaan Negeri Mempawah dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat dapat ditempuh dengan cara: (a) Meningkatkan frekuensi penyelenggaraan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat di wilayah kerja Kejaksaan Negeri Mempawah. Misalnya: penyelenggaraan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat dilaksanakan sebulan sekali; (b) Melakukan penambahan personil di Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Mempawah untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat; dan (c) Mengajukan permohonan penambahan anggaran untuk menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesadaran hukum masyarakat. 2 ABSTRACT This thesis discusses the role of the Public Prosecution Service in the field of public order and public order to organize public awareness raising activities based on Article 30 Paragraph (3) Sub-Paragraph a of Law Number 16 Year 2004 concerning the Attorney of the Republic of Indonesia (Study at State Prosecutor Mempawah). In addition it also has a purpose that is to reveal and analyze the obstacles that hamper the role of the State Prosecutor Mempawah in the field of public order and general peace to organize public awareness raising activities and efforts to increase the role of Public Prosecutor Mempawah in the field of public order and general peace to organize upgrading activities Public legal awareness. Through literature study using empirical legal approach method, it can be concluded that the role of Public Prosecutor Office in the field of public order and general peace to organize public awareness raising activities based on Article 30 Paragraph (3) SubParagraph a of Law Number 16 Year 2004 regarding the Attorney General of the Republic of Indonesia to Attorney Negeri Mempawah in reality still not maximal. This is because the frequency of counseling and legal enforcement conducted by the Intelligence Section of the State Prosecutor Mempawah only 4 (four) times a year divided in quarterly. The benchmark of success or failure of legal awareness activities carried out by the Intelligence Section of State Prosecutor Mempawah can be seen from the number of criminal acts that occurred and the number of cases handled by the State Prosecutor Mempawah. The obstacles that impede the role of the Public Prosecution Service in the area of public order and general peace to organize public awareness raising activities are as follows: (a) Lack of personnel to organize public awareness raising activities; (b) The extent of the work area of the Mempaks Negeri Kejaksaan; (c) Lack of budget to organize public awareness raising activities; And (d) Limited time to organize public awareness raising activities. Efforts to increase the role of the Public Prosecution Service in public order and general peace to organize public awareness raising activities can be pursued by: (a) Increasing the frequency of organizing awareness raising activities in the working area of the Defense Prosecutor's Office. For example: the implementation of public awareness raising activities carried out once a month; (b) Increase personnel in the Intelligence Section of the Public Prosecutor's Office to conduct public awareness raising activities; And (c) Applying for additional budget to organize public awareness raising activities
KEWAJIBAN PERUSAHAAN PT. WELL HARVEST WINNING ALUMINA REFINERY YANG MEMPERKEJAKAN TENAGA KERJA ASING TERHADAP PEMBAYARAN DANA PENGEMBANGAN KEAHLIAN DAN KETERAMPILAN KERJA (DPKK)
ABSTRAKIndonesia merupakan Negara berkembang dengan segala bentuk pembangunan di berbagai bidang, bertujuan untuk kesejahteraan rakyat termasuk diantaranya membangun sektor ketenagakerjaan. Tujuan penggunaan tenaga kerja asing adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang terampil dan profesional pada bidang tertentu yang belum dapat diduduki oleh tenaga kerja Indonesia. PT. Well Harvest Winning Alumina Refinery merupakan perusahaan gabungan antara perusahaan lokal dan perusahaan asal Cina (Tiongkok) yang berdiri pada tahun 2013, di Dusun Sungai Tengar Desa Mekar Utama Kendawangan Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Perusahaan yang berada di ketapang ini mempekerjakan banyak tenaga kerja asing yang kebanyakan didatangkan dari Negara Cina (Tiongkok). Dalam prakteknya PT Well Harvest Winning Refinery Alumina tidak menjalankan kewajibannya sebagaimana ketentuan yang telah dibuat oleh pemerintah yakni Pasal 47 ayat 1 dan Pasal 45 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yakni pemberi kerja yang wajib membayar dana kompensasi (DPKK) terhadap TKA yang dipekerjakannya digunakan untuk membiayai pelatihan-pelatihan yang diadakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi bagi Tenaga Kerja Indonesia. Dengan tujuan agar penggunaan Tenaga Kerja Asing bisa di batasi atau di kurangi, dan harus lebih mengutamakan Tenaga Kerja Indonesia, serta tidak menggunakan tenaga kerja Indonesia sebagai pendamping TKA untuk alih teknologi dan alih kemampuan. Metode yang peneliti gunakan dalam penelitian hukum ini adalah metode penelitian Empiris dan menggunakan analisis kualitatif. Obyek dalam Penelitian ini adalah Kewajiban PT Well Harvest Winning Alumina Refinery yang tidak membayarkan Dana Pengembangan Keahlian dan Keterampilan Kerja.Dari Penelitian ini diperoleh hasil mengenai Kewajiban yang seharusnya dibayarkan oleh perusahaan sebagai pihak pemberi kerja tetapi tidak dibayarkan dan membuat status tenaga kerja asing yang di pekerjakan di perusahaannya menjadi ilegal merupakan suatu bentuk pelanggaran. Tenaga kerja asing yang bekerja pada PT WHW ini di awasi oleh kantor Imigrasi Pontianak bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Barat. Tindakan hukum yang seharusnya dilakukan adalah memberikan sanksi hukum yakni (1) Pasal 78 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian dikenai sanksi administratif; (2) Pasal 185 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).Kata Kunci : Tenaga Kerja Asing, Pemberi Kerja, DPKKABSTRACTIndonesia is a developing country with all forms of development in various fields, aiming to build the welfare of the people including the employment sector. The purpose of use of foreign labor is to meet the needs of a highly skilled workforce and professionals on specific areas that can not be occupied by Indonesian workers. PT. Well Harvest Winning Alumina Refinery is a joint venture between local companies and companies from China (China) which was established in 2013, at the Sungai Dusun Tengar Mekar Village Main Kendawangan Ketapang in West Kalimantan. Companies that are in the ketapan employs many foreign workers who mostly come from the State China (China). In practice PT Well Harvest Winning Refinery Alumina did not carry out its obligations as the provisions that have been made by the government, namely Article 47 paragraph 1 and Article 45 of Law No. 13 of 2003 on Labour that the employer is obliged to pay compensation fund (DPKK) against foreign workers it employs used to finance trainings held the Department of Manpower and Transmigration for Indonesian Workers. With the aim that the use of foreign workers can limit or less, and must prioritize the Indonesian Labor, as well as not using labor Indonesia as a companion TKA for the transfer of technology and transfer capabilities. The method the researchers use in legal research is Empirical research methods and qualitative analysis. Object in this research is the obligation of PT Well Harvest Winning Alumina Refinery who did not pay the Fund and Vocational Skills Development. This research results obtained from the obligation to be paid by the company as an employer but not paid and make the status of foreign workers hired at his company became illegal is a denial. Foreign workers who worked at PT WHW is supervised by the Pontianak Immigration Office in collaboration with the Department of Manpower and Transmigration of West Kalimantan Province. Legal action is supposed to do is to give legal sanction: (1) Article 78 of Law No. 6 of 2011 on Immigration subject to administrative sanctions; (2) Article 185 of Law Number 13 Year 2003 on Manpower penalized imprisonment of a minimum of 1 (one) year and a maximum of four (4) years and / or a fine of Rp 100,000,000.00 (one hundred million rupiah) and at most Rp 400,000,000.00 (four hundred million). Keywords: Foreign Workers, Employers, DPK
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN DALAM PERDAGANGAN BARANG DAN BISNIS INVESTASI MELALUI TRANSAKSI ELEKTRONIK (E-COMMERCE)
ABSTRAK Tesis ini membahas masalah Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Dalam Perdagangan Barang Dan Bisnis Investasi Melalui Transaksi Elektronik (ECommerce).Dari hasil penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dan sosiologis diperoleh kesimpulan bahwa : Terjadinya Kasus Wanprestasi Dalam Perdagangan Barang dan Bisnis Investasi Melalui Transaksi Elektronik adalah karena adanya berbagai kendala yang dihadapi dalam pengembangan e-commerce ini seperti keterbatasan infrastruktur, ketiadaan undang-undang, jaminan keamanan transaksi dan terutama sumber daya manusia bisa diupayakan sekaligus dengan upaya pengembangan pranata e-commerce. Tindakan wanprestasi membawa konsekuensi terhadap timbulnya hak pihak yang dirugikan untuk menuntut pihak yang melakukan wanprestasi untuk memberikan ganti rugi, sehingga oleh hukum diharapkan agar tidak ada satu pihak pun yang dirugikan karena wanprestasi tersebut. Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Investasi, Elektronik ABSTRACT This thesis discusses the problem of Legal Protection Against Consumers in the Trade of Goods and Business Investment Through Electronic Transactions (E-Commerce). From the results of research using normative and sociological legal research methods obtained the conclusion that: The occurrence of Default Cases in the Trade of Goods and Business Investment Through Electronic Transactions is Because of the various obstacles faced in the development of e-commerce is like the limitations of infrastructure, lack of legislation, security of transactions and especially human resources can be attempted at the same time with the e-commerce development process. The act of wanprestation brings consequences to the adversity of the aggrieved party to prosecute the defaulting party to indemnify, so that by law it is expected that no one will be harmed by the default. Keywords: Legal Protection, Investment, Electroni
ANALISIS PERATURAN DAERAH DITINJAU DENGAN TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN (Studi Di Provinsi Kalimantan Barat)
ABSTRACTThis thesis discusses the analysis of local regulations are reviewed by the engineering drafting legislation "(studies in the province of West Kalimantan). From the results of this thesis can be concluded that the construction of regional regulations in West Kalimantan Province as opposed to the technique of preparation of legislation occurs in the system preparation and formulation of words / phrases, sentences in the title, opening, position forming local regulations, the preamble, by law, the dictum, torso, general provisions, the material is set, the formulation of the criminal provisions, the transitional provisions, and provisions cover, as well as disagreement on the cover, even in substance the regional regulation in the Articles of certain problematic of the substance of legislation higher.That regional regulations exist in West Kalimantan Province as opposed to the technique of preparation of legislation remain in place for formal legally Regional Regulation remains valid because it is formed, defined by regulatory authorities and has been promulgated in the Regional Gazette, but in substance the provisions contrary with legislation of higher void. Still the implementation of the Regional Regulation is problematic due to several factors, among others, Human Resources (HR) personnel who spearhead / leading sector forming regional regulations mastered design techniques Regional Regulation / legal drafter is still low, the level of awareness and attention of observers and investigators problem Regulations undangandalam establishment of Regional Regulation is still low and the lack of budget allocated in the formation of regional regulation.This thesis discusses the analysis of local regulations are reviewed by the engineering drafting legislation "(studies in the province of West Kalimantan). From the results of this thesis can be concluded that the construction of regional regulations in West Kalimantan Province as opposed to the technique of preparation of legislation occurs in the system preparation and formulation of words / phrases, sentences in the title, opening, position forming local regulations, the preamble, by law, the dictum, torso, general provisions, the material is set, the formulation of the criminal provisions, the transitional provisions, and provisions cover, as well as disagreement on the cover, even in substance the regional regulation in the Articles of certain problematic of the substance of legislation higher. That regional regulations exist in West Kalimantan Province as opposed to the technique of preparation of legislation remain in place for formal legally Regional Regulation remains valid because it is formed, defined by regulatory authorities and has been promulgated in the Regional Gazette, but in substance the provisions contrary with legislation of higher void. Still the implementation of the Regional Regulation is problematic due to several factors, among others, Human Resources (HR) personnel who spearhead / leading sector forming regional regulations mastered design techniques Regional Regulation / legal drafter is still low, the level of awareness and attention of observers and investigators problem Regulations undangandalam establishment of Regional Regulation is still low and the lack of budget allocated in the formation of regional regulation. Recommendation: The need assessment / further analysis of the regional regulations in West Kalimantan province, both from the juridical aspect, sociological, philosophical, and technical drafting process and substance of the material muatanperaturan area, so after being a Regional Regulation, becoming Regional Regulation effective, not cause contradictions and problems of both aspects of Mechanical Drafting, formal and material as well as meet the needs and demands for social justice. Because the purpose of the establishment of Regional Regulation not only to the rule of law / rechmatigheid alone but also so that people know and should be implemented in order to benefit / dooelmatigheid for the community. In The Local Regulation in the province of West Kalimantan involve the participation of the wider community, especially students of law,Researcher law, legal experts from academics and designers Laws Invitation / legal drafter, because the public has the right to provide input verbal and / or written the establishment of regulatory legislation, as stipulated in Article 96, Article 98 and Article 99 of Law Number 12 Year 2011 on the establishment Regulation legislation that regional regulations have been enacted that will not be problematic.Keywords: analysis, local regulations, in terms of, preparation techniques.ABSTRAKTesis ini membahas analisis peraturan daerah ditinjau dengan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan” (studi di provinsi kalimantan barat). Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Bahwa konstruksi Peraturan Daerah yang ada di Provinsi Kalimantan Barat yang bertentangan dengan teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan terjadi pada sistem Penyusunan dan perumusan kata/rasa, kalimat pada bagian judul, pembukaan, jabatan pembentuk peraturan daerah, konsideran, dasar hukum, diktum, batang tubuh,ketentuan umum, materi yang diatur, rumusanketentuan pidana, ketentuan peralihan, danketentuan penutup, serta pertentangan pada penutup, bahkan secara substansi Peraturan Daerah tersebut dalam Pasal-Pasal tertentu bermasalah dari materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Bahwa Peraturan Daerah yang ada di Provinsi Kalimantan Barat yang bertentangan dengan teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan tetap diterapkan karena secara legal formal Peraturan Daerah tetap sah karena dibentuk, ditetapkan oleh lembaga yang berwenang dan telah diundangkan dalam Lembaran Daerah, namun secara substansi ketentuan-ketentuan bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi batal demi hukum. Masih diterapkannya Peraturan Daerah yang bermasalah tersebut disebabkan beberapa faktor antara lain Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur yang menjadi ujung tombak /leading sector pembentuk Peraturan Daerah yang menguasai teknik perancangan Peraturan Daerah/legal drafter masih rendah, tingkat kesadaran dan perhatian Para pemerhati dan peneliti masalah Perundang-undangan dalam Pembentukan Peraturan Daerah masih rendah serta kurangnya Anggaran yang dialokasikan dalam pembentukan Peraturan Daerah. Rekomendasi : Perlunya pengkajian/analisis lebih lanjut terhadap Peraturan Daerah yang ada di Provinsi Kalimantan Barat, baik dari aspek yuridis, sosiologis, filosofis,dan teknik penyusunan serta substansi materi muatanperaturan daerah, agar setelah menjadi Peraturan Daerah, menjadi Peraturan Daerah yang efektif, tidak menimbulkan pertentangan dan permasalahan baik dari aspek Teknik Penyusunan, formil dan materil serta memenuhi kebutuhan dan rasa keadilan masyarakat. Karena tujuan dari dibentuknya Peraturan Daerah tidak hanya untuk kepastian hukum/rechmatigheid saja akan tetapi juga agar masyarakat tahu dan harus dilaksanakan dengan tujuan untuk kemanfaatan/dooel matigheid bagi masyarakat . Dalam Perancangan Peraturan Daerah yang ada di Provinsi Kalimantan Barat melibatkan peran serta masyarakat luas terutama para pemerhati masalah hukum, Peneliti hukum, para ahli hokum dari Akademisi dan para perancang Peraturan perundang Undangan/legal drafter, karena masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam pembentukan peraturan Perundang-undangan, sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 96, Pasal 98 dan Pasal 99 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan agar Peraturan Daerah yang telah diundangkan tersebut nantinya tidak bermasalah.Kata Kunci :Analisis, Peraturan Daerah, Ditinjau Dari, Teknik Penyusunan
PEMBATALAN SERTIFIKAT YANG TUMPANG TINDIH BERDASARKAN PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENYELESAIAN KASUS PERTANAHAN (Studi Di Badan Pertanahan Kabupaten Kubu Raya)
ABSTRAK Tesis ini membahas masalah Pembatalan Sertifikat Yang Tumpang Tindih Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan (Studi Di Badan Pertanahan Kabupaten Kubu Raya). Penelitian menggunakan metode penelitian bersifat yaitu yuridis dan kepustakaan. Dari hasil analisa dan pembahasan memperoleh kesimpulan yaitu : Kewenangan dan Tanggungjawab Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dalam menerbitkan Keputusan tentang Pembatalan sertipikat hak milik atas tanah berdasarkan Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Penyelesaian Kasus Pertanahandi Kabupaten Kubu Raya. Keputusan Pembatalan Sertipikat Hak Milik Atas Tanah merupakan salah satu bentuk dari perbuatan hukum badan permerintah yaitu berupa perbuatan hukum menerbitkan Keputusan oleh Pejabat Pemerintah yaitu Badan Pertanahan Nasional. Perbuatan hukum berupa penerbitan Keputusan Pembatalan tersebut harus didasarkan pada wewenang yang sah dan tidak boleh dilakukan tanpa dasar peraturan Perundang-Undangan. Tindakan Pemerintah haruslah “Rechmatig”, yaitu suatu tindakan pemerintah harus sesuai dengan batasan atau ukuran tertentu. Kata Kunci: Pembatalan Sertifikat, Tumpang Tindih. ABSTRACT This thesis discusses the issue of Overlapping Certificate of Overlapping Certificate Under Regulation of the Minister of Agrarian and Spatial / Head of National Land Agency of the Republic of Indonesia Number 11 Year 2016 About Settlement of Land Case (Study at Land Agency of Kubu Raya Regency). Research using research method that is juridical and bibliography. From the result of analysis and discussion to get the conclusion that is: Authority and Responsibility of Head of Regional Office of National Land Agency in issuing Decree on cancellation of land ownership certificate based on Regulation of Minister of Agrarian and Spatial / Head of National Land Agency Number 11 Year 2016 About Settlement of Case pertanahandi Kabupaten Kubu Raya. Decision of Revocation of Land Ownership Certificate is one form of legal action of a government body that is in the form of legal act of issuing a Decision by a Government Official namely the National Land Agency. Legal action in the form of the issuance of such Cancellation Decision shall be based on legitimate authority and shall not be exercised without the basis of the laws and regulations. Government action must be "Rechmatig", ie a government action must conform to certain limits or measures. Kata Kunci : Cancellation of Certificate, Overlap
PERLINDUNGAN DAN KEPASTIAN HUKUM PEMEGANG HAK ATAS TANAH (STUDI TERHADAP PUTUSAN PTUN PONTIANAK DAN PN MEMPAWAH)
ABSTRACTThis thesis discusses the issue of protection and legal certainty of the holder of the right to the land (Study of PTUN and PN Mempawah Rulings). From the research result using normative law research method, it can be concluded that: Forms of Legal Protection And Legal Certainty of Holders of Land Rights According to the Regulation of Law applicable in Indonesia, according to Government Regulation No. 24 of 1997, it can be summarized that legal certainty Regarding land rights as mandated by LoGA contains two dimensions, namely the certainty of the object of land rights and the certainty of the subject of land rights. One indication of the certainty of the object of land rights is indicated by the certainty of geo-referenced land parcels in a land registration map, while the certainty of the subject is indicated by the name of the land title holder listed in the land registration book of the land agency. In summary, copies of maps and land titles are known as Land Certificates. Legal Protection and Legal Certainty of Land Rights Holder Against Decision of State Administrative Court and State Court of Mempawah is related to Protection and Legal Legal of Right of Land Holder A certificate of right to land may be sued by other interested parties who feel they are harmed. In the case of double titles of land rights, there will be overlaps and uncertainties as to who has the right to hold the land rights. Thus there must be a form of legal protection in order to be certain who is actually the rightful holder of a landed rights that has been certified. Legal protection that can be provided can be preventively and repressively covered In the provision of Article 32 paragraph (2) of Government Regulation Number 24 of 1997 concerning Land Registration has provided protection, where a person who is listed in the name of the certificate can not be filed by another party who has The right to land after 5 years and the status of the owner of the land rights will continue to be protected as long as the land is acquired in good faith and is controlled by the rights holder in question. Solution (Solution) Jurisdiction of the Judgment of the State Administrative Court and the District Court as well as the steps that must be taken by the Right of Land Holders in responding to the Decision of the State Administrative Court and the District Court, In this case the status of the issuance of the double ground certificate so that Has two dimensions, namely as a decision of state administrative officials, and also as a proof of ownership of land rights. The double dimension of a certificate of land is the beginning of the dispute that occurred both in the field of State Administration and Civil. By law, both the State Administrative Court and the General Courts have the authority to adjudicate land disputes in accordance with the absolute competence of each court. However, what matters is, what if the same case is tried in two different judicial environments. On the one hand, justiabelen can sue whether or not a land certificate is valid, and on the other hand because it concerns the status of the right, it can also be sued in the district court (General). This will certainly lead to juridical implications in the event of differences in Decisions issued by each Court. In principle, to ensure that there is no chaos in the community to secure land rights, the state is firmly governing the right to land. The right to land is the source of life, therefore to meet the necessities of life, certain property must be possessed, because for mankind, there is a certain thing is the natural media on which the human existence depends. In order to ensure the legal certainty of the holder of the court, in order to guarantee the legal certainty of the holder of the land, the dispute on the Land Rights Certificate is sufficiently prosecuted by the State Administrative Court, but the judge of the judging member is a judge who believes in the competence or is a judge of the District Court ) So that between the State Administration dispute and civil law bias runs and is decided concurrently. Recommendation: The land title certificate issued by the Head of the Land Office is legally a State Administrative Decree. However, on the other hand the decision breeds civil rights namely the right to the land of a person or a civil legal entity. The State shall issue a title of title to the land as a form of protection of property rights which is human rights. However, the issuance of such certificates must be based on applicable laws and regulations. The right to land is a human right, so the state is obliged to protect that right. The concept of protection of the land rights is by granting a certificate of title to the land from the state to a citizen who is legally entitled. The point of reference of the state administration court with the general court is printed on the status of the certificate issued by the Land Office. Where, in the event of a dispute the certificate becomes the object of dispute in the State Administrative Court, while the disputed certificate in the General Courts serves as evidence. ABSTRAKTesis ini membahas masalah Perlindungan Dan Kepastian Hukum Pemegang Hak Atas Tanah (Studi Terhadap Putusan PTUN DAN PN Mempawah). Dari hasil penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif, diperoleh kesimpulan bahwa : Bentuk-Bentuk Perlindungan Hukum Dan Kepastian Hukum Pemegang Hak Atas Tanah Menurut Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku di Indonesia yaitu Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tersebut, maka dapat diringkas bahwa Kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah sebagaimana yang diamanatkan UUPA mengandung dua dimensi yaitu kepastian obyek hak atas tanah dan kepastian subyek hak atas tanah. Salah satu indikasi kepastian obyek hak atas tanah ditunjukkan oleh kepastian letak bidang tanah yang berkoordinat geo-referensi dalam suatu peta pendaftaran tanah, sedangkan kepastian subyek diindikasikan dari nama pemegang hak atas tanah tercantum dalam buku pendaftaran tanah pada instansi pertanahan. Secara ringkas, salinan dari peta dan buku pendafataran tanah tersebut dikenal dengan sebutan Sertipikat Tanah. Perlindungan Hukum dan Kepastian Hukum Pemegang Hak Atas Tanah Terhadap Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Negeri Mempawah ialah terkait Dengan Perlindungan Dan Kepastian Hukum Pemegang Hak Atas Tanah Suatu sertifikat hak atas tanah dapat digugat oleh pihak lain yang berkepentingan yang merasa dirinya dirugikan. Dalam hal sertifikat ganda hak atas tanah, maka akan timbul suatu tumpang tindih dan ketidakpastian mengenai siapakah yang berhak untuk memegang hak atas tanah. Dengan demikian harus ada bentuk perlindungan hukum agar menjadi pasti siapa sebenarnya pemegang yang sah suatu hak atas tanah yang telah disertifikasikan. Perlindungan hukum yang dapat diberikan bisa secara preventif dan secara represif yang meliputi Dalam ketentuan Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah telah memberikan perlindungan, dimana seseorang yang tercantum namanya dalam sertifikat tidak dapat diajukan gugatan oleh pihak lain yang mempunyai hak atas tanah setelah 5 tahun dan statusnya sebagai pemilik hak atas tanah akan terus dilindungi sepanjang tanah itu diperoleh dengan itikad baik dan dikuasai secara nyata oleh pemegang hak yang bersangkutan. Pemecahan (Solusi) Secara Yuridis Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Negeri tersebut serta langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Pemegang Hak Atas Tanah dalam menyikapi Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Negeri tersebut, Dalam hal ini status dari penerbitan sertifikat tanah yang ganda sehingga memiliki dua dimensi, yaitu sebagai keputusan pejabat tata usaha negara, dan sekaligus sebagai bukti kepemilikan hak atas tanah. Dimensi ganda dari sebuah sertifikat atas tanah inilah yang menjadi awal dari sengketa yang terjadi baik di bidang Tata Usaha Negara maupun Keperdataan. Secara hukum, baik di Pengadilan Tata Usaha Negara maupun Pengadilan Negeri (Peradilan Umum) memiliki kewenangan untuk mengadili kasus sengketa tanah sesuai dengan kompetensi absolut dari masing-masing pengadilan. Namun, yang menjadi permsalahan adalah, bagaimanakah jika kasus yang sama diadili di dua lingkungan peradilan yang berbeda. Di satu sisi, justiabelen dapat menggugat sah atau tidaknya sebuah sertifikat tanah, dan di sisi lain karena menyangkut status hak, maka dapat pula digugat di pengadilan negeri (Umum). Hal ini tentu akan menimbulkan implikasi yuridis apabila terjadi perbedaan Putusan yang dikeluarkan oleh masing-masing Peradilan. Pada prinsipnya, untuk menjamin agar tidak terjadi kekacauan dalam masyarakat untuk memperoleh hak atas tanah, maka negara mengatur secara tegas mengenai hak atas tanah. Hak atas tanah merupakan sumber kehidupan, oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan hidup, harta benda tertentu harus dimiliki, karena bagi umat manusia, ada barang tertentu merupakan the natural media on which human existence depends. Supaya tidak terjadi disparitas putusan pengadilan, untuk menjamin kepastian hukum pemegang ha katas tanah, maka terhadap sengketa Sertipikat Hak Atas Tanah cukup diadili pada pengadilan Tata Usaha Negara, namun hakim anggota yang mengadili terdapat hakim yang mempercayai kompetensi atau merupakan hakim dari Pengadilan Negeri (Pengadilan Umum) sehingga antara sengketa Tata Usaha Negara dan Perdata bias berjalan dan diputuskan bersamaan. Rekomendasi : Sertifikat hak atas tanah yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor pertanahan secara hukum merupakan suatu Keputusan Tata Usaha Negara. Namun, di sisi lain keputusan tersebut melahirkan hak keperdataan yaitu hak atas tanah dari seseorang atau suatu badan hukum perdata. Negara harus menerbitkan sertifikat hak milik atas tanah sebagai bentuk perlindungan terhadap hak milik yang adalah HAM. Akan tetapi, penerbitan sertifikat tersebut harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak atas tanah adalah hak asasi manusia, sehingga negara wajib melindungi hak tersebut. Konsep perlindungan terhadap hak atas tanah tersebut adalah dengan diberikannya suatu sertifikat hak atas tanah dari negara kepada warga negara yang berhak secara hukum. Titik singgung peradilan tata usah negara dengan peradilan umum teretak pada status dari sertifikat yang dikeluarkan oleh Kantor Pertanahan. Di mana, jika terjadi sengketa maka sertifikat menjadi obyek sengketa di Pengadilan Tata Usaha Negara, sedangkan sertifikat yang disengketakan di Peradilan Umum berfungsi sebagai alat bukti. Kata Kunci Perlindungan, Kepastian Hukum, Pemegang, Hak Atas Tanah.