Jurnal NESTOR Magister Hukum
Not a member yet
    517 research outputs found

    ANALISIS YURIDIS TERHADAP KETENTUAN DASAR PENETAPAN TARIF PELAYANAN JASA KEPELABUHANAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PASAL 146 HURUF C PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN (STUDI KASUS PT. PELINDO II CABANG PONTIANAK)

    No full text
    ABSTRAKTerkait dengan biaya pelabuhan (Port Charger) atau di Indonesia biasa disebut dengan tarif jasa kepelabuhanan adalah merupakan salah satu faktor yang prinsip dalam pemilihan pelabuhan oleh pengguna jasa, dimana pada posisi pengguna jasa, hal itu menjadi penting untuk dilihat dalam konteks keseluruhan biaya, khususnya bagi pengguna kapal (consignee) yang umumnya lebih memberi perhatian dengan biaya tidak langsung sehubungan dengan terjadinya penundaan, kehilangan pangsa pasar, kehilangan kepercayaan pelanggan dan hilangnya kesempatan yang disebabkan oleh pelayanan jasa kepelabuhanan yang tidak efisien, sehingga faktor biaya menjadi sangat signifikan mewakili kepentingan pengguna jasa kepelabuhanan.Penetapan tarif jasa kepelabuhanan di PT.Pelindo II (Persero) Pontianak diusulkan dan/atau ditetapkan dengan berdasarkan pada Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor : PM 6 tahun 2013 Tentang Jenis, Struktur dan Golongan Tarif Jasa Kepelabuhanan; juncto Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor : PM 15 tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 6 Tahun 2013 Tentang Jenis, Struktur dan Golongan Tarif Jasa Kepelabuhanan; juncto Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 95 Tahun 2015 Tentang Pedoman Penetapan Harga Jual (Charge) Jasa Kepelabuhanan yang Diusahakan Oleh Badan Usaha Pelabuhan.Secara eksternal yang menjadi hambatan penyesuaian dan/atau penetapan tarif jasa kepelabuhanan adalah dalam mekanisme pengajuan usulan penetapan besaran tarif jasa kepelabuhanan oleh PT. Pelindo II (Persero), dimana sebelum dikonsultasikan dan dibahas pada unit kerja di Kementerian Perhubungan wajib disosialisasikan dan disepakati antara PT. Pelindo II (Persero) selaku Badan Usaha Pelabuhan dan asosiasi penyedia jasa kepelabuhanan setempat, yaitu Indonesia National Shiowners Association (INSA), Pelayaran Rakyat (PELRA), Assosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI), Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) dan Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), serta Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA). Dimana kesepakatan atas besaran usulan tarif yang diusulkan tersebut, kemudian dituangkan dalam suatu berita acara yang ditandatangani bersama serta diketahui oleh Penyelenggara Pelabuhan (KSOP). Ketentuan sebagaimana tersebut, membawa pada konsekuensi adanya pembahasan dan negosiasi yang panjang sampai tercapainya kesepakatan penetapan tarif yang diusulkan, sehingga relatif membutuhkan waktu yang cukup lama dalam prosesnya. Secara Internal yang menjadi hambatan biasanya lebih kepada penetuan variabel-variabel bebas pembentuk biaya pokok produksi jasa kepelabuhanan seperti kenaikan komponen biaya langsung yang meningkat terlalu cepat, perubahan nilai mata uang terhadap valuta asing, inflasi yang berfluktuatif dan keterbatasan anggaran yang dibutuhkan guna investasi dalam rangka peningkatan mutu pelayanan jasa kepelabuhanan. Kata Kunci : Tarif Jasa Pelabuhan, PT. Pelindo II (Persero)ABSTRACTRelated to the cost of the port (Port Charger) or in Indonesia commonly called the rates of port services is one of the factors that principle in the selection of ports by service users, where the position of the service users, it is important to be seen in the context of the overall costs, especially for the ship (consignee) are generally more concerned with indirect costs in connection with the delay, loss of market share, loss of customer confidence and lost opportunities caused by port service that is not efficient, so the cost factor becomes very significant to represent the interests of users of port services ,Port services tariff setting in PT.Pelindo II (Persero) Pontianak proposed and / or stipulated in accordance with the Regulation of the Minister of Transport of the Republic of Indonesia Number: PM 6 2013. On Type, Structure and Group Rates Ports Services; in conjunction with Regulation of the Minister of Transport of the Republic of Indonesia Number: PM 15 in 2014 on the Amendment Regulation of the Minister of Transportation Number 6 Year 2013 PM On Type, Structure and Group Rates Ports Services; in conjunction with Regulation of the Minister of Transport of the Republic of Indonesia Number 95 Year 2015 About PM List Pricing Guidelines (Charge) Ports Services that Arranged By Piers Enterprises.Externally becoming resistance adjustment and / or port services tariff setting mechanism of the proposal is the determination of the tariffs of port services by PT. Pelindo II (Persero), which prior consultation and discussed at a business unit in the Ministry of Transportation shall be socialized and agreed between PT. Pelindo II (Persero) as Enterprises Ports and associations provider of port services local, namely Indonesia National Shiowners Association (INSA), Cruise People (PELRA), Association of Corporate Stevedoring Indonesia (APBMI), Association of Indonesian Export Company (GPEI) and Importers Association national Indonesia (GINSI), as well as the Indonesian Logistics and Forwarders Association (ALFI / ILFA). Where agreement on the amount of the proposed tariff proposal, then poured in an official report signed jointly as well known by the Port Operator (KSOP). Conditions such as, bringing the consequence of lengthy discussions and negotiations to reach agreement proposed tariff, thus requiring a relatively long time in the process. Internally are the obstacles usually more to the determination of the independent variables forming the production cost of port services such as rising component direct costs are rising too fast, changes in the value of the currency against foreign currencies, inflation fluctuated and budgetary constraints needed to invest in improving quality service port. Keywords: Tariff for Ports, PT. Pelindo II (Persero)

    TUGAS DAN WEWENANG DPRD DALAM PENGAWASAN PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH DAN ANGGARAN PENDAPATAN DAERAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH (Studi Di DPRD Kabupaten Melawi)

    No full text
    ABSTRACTThis thesis discusses about the tasks and authority of DPRD in the supervision of the implementation of regional regulation and regional revenue budget based on Law Number 23 Year 2014 on Regional Government (Study In Melawi Regency DPRD). The method used in this research is Normative - Sociological approach. The conclusion of this thesis is the Form of Supervision of the Implementation of Perda and APBD conducted by the Melawi Regency DPRD, the function of the supervision of regional regulations is very important which gives opportunity to DPRD to be more active and creative in facing various obstacles to the implementation of local. Through the supervision of the council, the executive as policy implementer will be protected from various deviations and misappropriation, from the results of the supervision of the council will be taken refinement measures to improve the implementation of the policy. To avoid administrative errors in the governance of the local government bureaucracy without their realizing it can lead to allegations of criminal acts of corruption for public officials who handle these public affairs. The existence of parliamentary oversight will provide sufficient effective protection against the executive in running the governance bureaucracy optimally. Supervision of Regional Revenue and Expenditure Budget is essentially a policy instrument that is used as a tool to improve public services and welfare of the people in the regions, therefore, DPRD and local government should strive to create real and structured APBD that can reflect the real needs of society in accordance with potential of each. Form of Supervision of APBD Implementation conducted by DPRD Melawi The success of a clean and authoritative government requires the active and positive participation of all members of the community. Factors that cause the Supervision of the Implementation of Perda and APBD can not be fully implemented by the DPRD of Melawi Regency is the Integrity of DPRD Members as People's Representatives. The DPRD members have not demonstrated their supervisory capacity as the people's representatives, they prioritize their personal interests as party members. As a result DPRD members have not fully implemented the mandate of the people and should be accountable to the people. Facility factors include work facilities, research facilities and libraries that can assist the insights and knowledge of board members, a shortage of secretarial staff and professional expert staff who assist the work of the DPRD. Lack of Working Visit to the community during recess and Factors of concern when news can offend executives still strong. As a result, the mass media has not yet realized the proportional control function, as well as being the media of information connecting the council with the community. The Consequences of Laws and Legal Effects are Not Implemented Completely Duties and Powers of the DPRD In Supervising the Implementation of Regional Regulations and Budgets that arise in the implementation of DPRD supervision, no procedural procedures and violations by the Regional Government against the legislation and Good Governance of the Good Governance (AAUB), so that there are legal sanctions that may be imposed on the offender. The DPRD has the functions of legislation, budget, and supervision. The supervisory function is primarily directed towards the implementation of local regulations and other legislation, regional head regulations, regional budgets, and local government policies in implementing regional development programs, as well as international cooperation in the regions. Keywords: Supervision, Local Regulation, and Budget, Regional Income.  ABSTRAKTesis ini membahas tentang Tugas Dan Wewenang DPRD Dalam Pengawasan Pelaksanaan Peraturan Daerah Dan Anggaran Pendapatan Daerah Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah (Studi Di DPRD Kabupaten Melawi). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalaha pendekatan Normatif - Sosiologis. Kesimpulan dari tesis ini adalah Bentuk Pengawasan Pelaksanaan Perda dan APBD yang dilakukan oleh DPRD Kabupaten Melawi, Fungsi pengawasan peraturan daerah sangat­lah penting yang memberikan kesempatan ke­pada DPRD untuk lebih aktif dan kreatif me­nyikapi berbagai kendala terhadap pelaksanaan perda. Melalui pengawasan dewan, eksekutif sebagai pelaksana kebijakan akan terhindar dari berbagai penyimpangan dan penyelewengan, dari hasil pengawasan dewan akan diambil tindakan penyempurnaan memperbaiki pelaksanaan kebijakan tersebut. Untuk menghindari berbagai kesalahan administratif dalam tata laksana birokrasi pemerintahan daerah tanpa mereka sadari dapat bermuara pada dugaan tindak pidana koropsi bagi pejabat publik yang me­nangani urusan publik tersebut. Adanya penga­wasan DPRD akan memberikan perlindungan yang cukup efektif terhadap eksekutif dalam menjalankan tata laksana birokrasi pemerintahan secara optimal. Pengawasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada hakekatnya merupakan instrumen kebijakan yang dipakai sebagai alat untuk meningkatkan pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat di daerah, oleh karena itu, DPRD dan pemerintah daerah harus berupaya secara nyata dan terstruktur guna menghasilkan APBD yang dapat mencerminkan kebutuhan riil masyarakat sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Bentuk Pengawasan Pelaksanaan APBD yang dilakukan oleh DPRD Melawi Keberhasilan mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa membutuhkan peran serta yang aktif dan positif dari seluruh anggota masyarakat. Faktor-Faktor yang menyebabkan Pengawasan Pelaksanaan Perda dan APBD tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh DPRD Kabupaten  Melawi ialah Integritas Anggota DPRD Sebagai Wakil Rakyat, Para anggota DPRD belum menunjukkan kapasitas pengawasannya sebagai wakil rakyat, mereka lebih mengedepankan kepentingan personalnya sebagai anggota partai. Akibatnya anggota DPRD belum sepenuhnya melaksanakan mandat dari rakyat dan seharusnya bertanggung jawab kepada rakyat. Faktor sarana meliputi fasilitas kerja, sarana penelitian dan perpusatakaan yang dapat membantu wawasan dan pengetahuan anggota dewan, kekurangan tenaga sekretariat dan staf ahli yang profesional yang membantu tugas kerja DPRD. Kurangnya Kunjungan Kerja ke masyarakat pada masa reses dan Faktor adanya kekhawatiran bila pemberitaan dapat menyinggung eksekutif masih kental. Akibatnya, media massa belum merealisasikan fungsi pengawasan secara proporsional, serta menjadi media informasi yang meng-hubungkan dewan dengan masyarakat.Konsekuwensi Hukum Dan Akibat Hukum Tidak Terlaksana Sepenuhnya Tugas Dan Wewenang DPRD Dalam Pengawasan Pelaksanaan Perda Dan APBD yang timbul dalam pelaksanaan pengawasan DPRD, disebabkan karena tidak dilaksanakan prosedur dan adanya pelanggaran oleh Pemerintah Daerah terhadap Peraturan perundang-undangan dan Asaz-asaz Umum Pemerintahan yang Baik (AAUB), sehingga ada sangsi-sangsi hukum yang dapat dikenakan pada pelanggarnya. DPRD memiliki fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Fungsi pengawasan terutama ditujukan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya, peraturan kepala daerah, APBD, dan kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah, serta kerja sama internasional di daerah. Kata Kunci: Pengawasan,Peraturan Daerah, dan Anggaran, Pendapatan Daerah

    ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA GUGATAN SEDERHANA DALAM PERKARA GUGATAN WANPRESTASI DI PENGADILAN NEGERI

    No full text
    ABSTRAK Tesis ini berjudul “Analisis Yuridis Terhadap Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana Dalam Perkara Gugatan Wanprestasi di Pengadilan Negeri”. Melalui studi kepustakaan dengan menggunakan metode pendekatan hukum normatif diperoleh kesimpulan, secara eksplisit PERMA Nomor 2 Tahun 2015 merupakan implementasi dari Hukum Acara Perdata (HIR dan RBg). Namun jika dikaji lebih dalam, maka PERMA Nomor 2 Tahun 2015 masih terdapat ketidaksesuaian dengan Hukum Acara Perdata yang diatur dalam HIR dan RBg, khususnya dalam hal: (1) Syarat penggugat dan tergugat harus dalam satu domisili pengadilan yang sama untuk bisa menggunakan mekanisme gugatan sederhana tidak sejalan dengan prinsip pengajuan gugatan dalam Hukum Acara Perdata biasa yang mengenal asas actor sequitur forum rei, yaitu gugatan diajukan ke pengadilan yang menguasai daerah hukum tempat tinggal tergugat; (2) Tidak adanya upaya hukum atas penetapan hakim yang menyatakan bahwa gugatan bukan termasuk gugatan sederhana pada pemeriksaan pendahuluan juga tidak sesuai dengan prinsip pembuktian dan asas hakim bersifat pasif yang selama ini dianut oleh Hukum Acara Perdata.; (3) Tidak adanya tahap jawab menjawab dalam penyelesaian gugatan sederhana, khususnya mengenai kesempatan untuk mengajukan eksepsi memperlihatkan proses peradilan tidak lagi seimbang memberikan kesempatan kepada para pihak yang sedang berperkara untuk mempertahankan haknya. Padahal dalam Hukum Acara Perdata dikenal asas mendengarkan kedua belah pihak (asas audi et alteram partem). Adapun kendala-kendala dalam mengajukan gugatan sederhana dalam perkara wanprestasi di Pengadilan Negeri, antara lain sebagai berikut: (a) Ketentuan bahwa para pihak yang bersengketa harus berada di wilayah yang sama. Hal ini tentunya dapat menjadi penghalang bagi pencari keadilan yang hendak menggugat namun berdomisili di wilayah yang berbeda dengan Tergugat; (b) Dalam prakteknya tidak mudah untuk menentukan perkara yang diajukan penggugat adalah murni perkara sederhana, karena pasti ada keterkaitan dengan obyek sengketa lainnya; (c) Dalam gugatan sederhana dinyatakan tidak diperkenankan adanya eksepsi di dalam surat jawaban; dan (d) PERMA Nomor 2 Tahun 2015 tidak menganut konsep verstek dan verzet seperti dalam gugatan biasa. Hal ini tentu saja bisa menjadi kendala bagi tergugat dalam melakukan upaya hukum keberatan. Putusan atas keberatan yang diatur dalam PERMA Nomor 2 Tahun 2015 ini menutup kemungkinan adanya kesempatan untuk mengajukan upaya hukum banding, kasasi maupun peninjauan kembali. Upaya untuk mengatasi kendala-kendala dalam mengajukan gugatan sederhana dalam perkara wanprestasi di Pengadilan Negeri adalah dengan melakukan beberapa perbaikan (revisi) pada PERMA Nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana, khususnya mengenai domisili hukum, penggunaan kuasa hukum, upaya hukum atas penetapan hakim yang menyatakan bahwa gugatan bukan termasuk gugatan sederhana, pemilahan gugatan secara teliti antara gugatan wanprestasi dan perbuatan melawan hukum, dan masalah eksepsi. Kata Kunci:     Peraturan Mahkamah Agung, Gugatan Sederhana, Wanprestasi, Pengadilan Negeri.   ABSTRACT This thesis is entitled “Juridical Analysis of Supreme Court Regulation (PERMA) No. 2 of 2015 on Procedures for Settlement of Simple Claims in Cases of Tort Lawsuit in District Court”. Through literature study using normative legal approach approach, conclusion, explicitly Supreme Court Regulation No. 2 of 2015 is an implementation of Civil Procedure Code (HIR and RBg). However, if examined more deeply, then Supreme Court Regulation No. 2 of 2015 there is still inconsistency with the Civil Procedure Law regulated in HIR and RBg, especially in the case of: (1) Plaintiff’s requirement and the defendant must be in the same court domicile to be able to use simple lawsuit mechanism is not in line with the principle of filing a lawsuit in the Ordinary Civil Procedure Law which recognizes the principle of actor sequitur forum rei, namely the lawsuit filed to a court that controls the legal area of the defendant’s residence; (2) The absence of a legal remedy on the judge’s stipulation stating that the lawsuit does not include a simple suit on the preliminary examination is also inconsistent with the principle of evidence and the principle of a passive judge which has been adopted by the Civil Procedure Code; (3) The absence of answering stage in the settlement of a simple lawsuit, particularly regarding the opportunity to file an exception, shows that the judicial process is no longer in balance provides an opportunity for the parties in litigation to defend their rights. Whereas in the Civil Procedure Law known the principle of listening to both parties (the principle of audi et alteram partem). The obstacles in filing a simple lawsuit in a case of default in the District Court are as follows: (a) The provision that the parties to the dispute must be in the same territory. This can be a barrier for justice seekers seeking to sue but domiciled in a different territory than the Defendant; (b) In practice it is not easy to determine the case of the plaintiff is purely a simple matter, since there must be a connection with another disputed object; (c) In a simple lawsuit it is stated that no exception shall be permitted in the response letters; and (d) Supreme Court Regulation No. 2 of 2015  does not adhere to the concept of verstek and verzet as in the ordinary lawsuit. This of course can be an obstacle for the defendant in making a legal objection. The decision on the objections set forth in Supreme Court Regulation No. 2 of 2015 covers the possibility of an opportunity to file an appeal, cassation or review appeal. Efforts to overcome the obstacles in filing a simple lawsuit in the case of default in the District Court is to make some revisions to Supreme Court Regulation No. 2 of 2015 on Procedures for Settlement of Simple Claims, especially regarding legal domicile, the use of legal counsel, a judge stating that the lawsuit does not include a simple lawsuit, careful sorting of the lawsuit between infringement lawsuits and unlawful acts, and exceptional issues. Keywords: Supreme Court Regulation, Simple Claim, Tort, District Court

    PENGAWASAN TERHADAP PENYELENGGARAAN PERJALANAN IBADAH UMRAH (Studi Terhadap Kasus PT. Firs Anugrah Karya Wisata)

    No full text
    ABSTRACTThis thesis discusses the Supervision Against the Implementation of Umrah Worship Trip (Study Against The Case of PT Firs Anugrah Karya Wisata). The approach method used in this research is the normative juridical approach. From the result of this thesis research, it can be concluded that the form of supervision conducted by the government towards the implementation of umrah based on the prevailing laws and regulations in Indonesia in the supervision and control of the implementation of umrah is one of the duties of the Ministry of Religious Affairs in accordance with Regulation of the Minister of Religious Affairs Number 18 of 2015 Article 20 Paragraph (1) and Paragraph (2) stated that the supervision shall be conducted by the Director General on behalf of the Minister. Supervision includes oversight of travel plans, Jemaah service operational activities, compliance and / or control over the provisions of legislation and regulations. In order to improve the supervision function of the service to Jemaah Umrah, the Ministry of Religious Affairs through the Directorate General of Hajj and Umrah Implementation regularly conduct monitoring at Soekarno Hatta airport. Every day assigned personnel from the Ministry of Religious Affairs with Airport Police to directly supervise Jemaah service activities at the airport. MoU Kemenag with Polri has been running since 2013 and always give full support. Improving the supervision of umrah. Supervision is done because of the many travel agencies that provide services Umrah in Indonesia, currently the government is more focused on the implementation of the pilgrimage so hand over Umrah through travel agencies. Meanwhile, the ministry of religion is only authorized to grant business licenses. As for the factors that led to weak supervision by the ministry of religion against the implementation of umroh worship in relation to the case of PT. Firs the blessings of the tour are Travel Permit Umroh, and the rules that have not been able to meet consumer protection.Adapun the efforts made by the ministry of religion to increase supervision over the business travel agency umroh in order to protect the congregation With its form as a limited liability company, First Travel is a legal entity, therefore a legal subject having rights and obligations. As a legal subject, First Travel has a legal liability for alleged criminal acts committed against prospective pilgrims and Umrah, responsibilities relating to the concept of legal obligations. A person is legally responsible for a particular act or that he or she assumes legal liability means that he or she is responsible for a sanction in the event of a conflicting action. From legal aspect, First Travel's legal responsibility can be seen from civil, criminal, and administrative aspects. Keywords: Supervision, Implementation of Travel, Umrah Worship.    ABSTRAKTesis ini membahas tentang Pengawasan Terhadap Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah (Studi Terhadap Kasus PT.  Firs Anugrah Karya Wisata). Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan bahwa Bentuk pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap penyelenggaraan umrah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dalam Pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan umrah merupakan salah satu tugas Kementerian Agama sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 18 Tahun 2015 Pasal 20 Ayat (1) dan Ayat (2) disebutkan bahwa  Pengawasan dilakukan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri. Pengawasan meliputi pengawasan terhadap rencana perjalanan, kegiatan operasional pelayanan Jemaah, ketaatan dan/atau penertiban terhadap ketentuan peraturan perundang­-undangan. Dalam rangka meningkatkan fungsi pengawasan terhadap pelayanan kepada Jemaah umrah, Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah secara rutin melakukan pemantauan di bandara Soekarno Hatta. Setiap hari menugaskan personil  dari Kementerian Agama bersama Polres Bandara untuk mengawasi langsung aktivitas pelayanan Jemaah di bandara. MoU Kemenag dengan Polri telah berjalan sejak tahun 2013 dan selalu memberikan dukungan penuh. Meningkatkan pengawasan penyelenggaraan umrah. Pengawasan ini dilakukan karena banyaknya biro travel yang menyediakan layanan umrah di indonesia, saat ini pemerintah memang lebih fokus pada penyelenggaraan ibadah haji sehingga menyerahkan penyelenggaraan umrah melalui biro travel. Sementara, kementerian agama hanya berwenang memberikan izin usaha. Adapun yang menjadikan faktor-faktor menyebabkan lemahnya pengawasan oleh kementerian agama terhadap penyelenggaraan ibadah umroh dalam kaitannya dengan kasus PT. Firs anugrah karya wisata ialah Izin Travel Umroh, dan aturan yang belum mampu untuk memenuhui perlindungan konsumen.Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh kementerian agama untuk meningkatkan pengawasan atas usaha biro perjalanan ibadah umroh dalam rangka melindungi jamaah Dengan bentuknya sebagai perseroan terbatas, First Travel merupakan badan usaha yang berbadan hukum, oleh karenanya merupakan subyek hukum yang memiliki hak dan kewajiban. Sebagai subyek hukum, First Travel memiliki tanggung jawab hukum atas dugaan tindak pidana yang telah dilakukannya terhadap para calon jamaah haji dan Umroh, tanggung jawab berhubungan dengan konsep kewajiban hukum. Seseorang bertanggung jawab secara hukum atas sesuatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggung jawab hukum berarti dia bertanggung jawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan yang bertentangan. Dari aspek hukum, tanggung jawab hukum First Travel dapat dilihat dari aspek perdata, pidana, dan administratif. Kata Kunci: Pengawasan, Penyelenggaraan Perjalanan, Ibadah  Umrah.    

    KEADILAN RESTORATIF DALAM PUTUSAN HAKIM PENGADILAN NEGERI PONTIANAK PADA KASUS PERSETUBUHAN TERHADAP ANAK (Studi Kasus Terhadap Putusan Nomor 806/Pid.Sus/2016/PN.Ptk Dan Putusan Nomor1211/Pid.Sus/ 2016/PN.Ptk.)

    No full text
    ABSTRAK            Keadilan restoratif (restorative justice) adalah pemulihan bagi korban dan masyarakat oleh terdakwa sebagai pemenuhan kewajibannya karena menyadari akan perbuatannya yang salah. Dalam praktik di Pengadilan Negeri Pontianak terhadap kasus persetubuhan terhadap anak, ada ketidakpuasan atas putusan Hakim karena tidak mengakomodir keadilan restoratif padahal kasusnya memenuhi syarat untuk diterapkan keadilan restoratif. Sesuai hasil penelitian ada putusan hakim yang menerapkan keadilan restoratif seperti dalam kasus Chin Po Khiong alias Afat Anak Sin Cheng On namun ada juga yang yang tidak menerapkan keadilan restoratif seperti dalam kasus Triadi alias Ade Bin Safarudin. Direkomendasikan pengaturan konsep keadilan restoratif dalam Putusan Hakim sebagai perluasan makna alasan pemaaf sebagai dasar penghapus pidana. Sebagai alasan Penghapus Pidana, terdakwa Triadi alias Ade Bin Safarudin tersebut seharusnya dilepaskan dari tuntutan hukum sama dengan terdakwa Chin Po Khiong alias Afat Anak Sin Cheng On. Kata kunci: Keadilan Restoratif, Putusan Hakim, Persetubuhan Terhadap Anak. ABSTRACT Restorative Justice is restoration for victims and society by the defendants as fulfilling their obligations because they are aware of their wrong actions. In practice, at the Pontianak District Court especially in cases of sexual intercourse with children, there was dissatisfaction with the Judge’s decision because it did not accommodate restorative justice when the case is eligible for the application of restorative justice system. According to the results of research, there was a judge’s decision to apply restorative justice as in the case of Chin Po Khiong a.k.a Afat son of Sin Cheng On, but there were also those who did not apply restorative justice as in the case of Triadi a.k.a Ade Bin Safarudin. It is recommended the concept of restorative justice should be regulated in the Judge’s  Decision as an extension of the definition of forgiving reasons as the basis of criminal waiver. As the reason for the criminal waiver, the defendant Triadi a.k.a Ade Bin Safarudin should be released from the same lawsuit with defendant Chin Po Khiong a.k.a Afat son of Sin Cheng On. Keywords: restorative justice, Judge’s decision, Child Sexual Abuse

    REFORMULASI PASAL 5 AYAT 1 UNDANG-UNDANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK YANG KAITANYA DENGAN DATA PRIBADI SEBAGAI ALAT BUKTI ELEKTRONIK

    No full text
    ABSTRACT Misuse or leakage of personal information can be classified as an act against the law by using electronical media which is usually called Cyber Crime. Security and legal certainty should be considered so the usage of information technology, media, and communication can develop optimally. To overcome security disturbance in the system, the legal approach is absolute because the utilization of information technology will not be optimal when there is no legal certainty. How does Indonesia regulate personal information matters?This study aims to find out the stance of electronical evidence in article 5 verse 1 the law of electronic information and transaction in the disclosure of ITE crime. This research is a normative research because the case on information and electronical transaction is related with the protection of personal information as the electronical evidence. This study used descriptive research to describe appropriately the characteristics of individual, circumstances, symptoms or certain group, or to determine the spread of a symptom, or to determine whether or not there is a relation between one symptom with other symptom in the community. The study also used statute approach and conceptual approach by studying views and doctrines which developed in the science of law. The source of law for this research are primary law and secondary law. The results show that the protection of personal information is implemented through several laws, especially those related to the responsibilities of each party who receives and keeps the personal information. It is a reformulation between article 184 of criminal code and article 5 verse 1 of electronic information and transaction law which is related to the protection of personal information as electronic evidence. There are some regulations that are related to the use and abuse of information technology in the criminal code and some others outside of the criminal code. However, the formulation policy on the criminal act is the one who has recognized the use of digital and electronic evidence. So it is clear that electronic evidence can be categorized as a guidance aligned with the criminal code procedure article 184 and the law of electronic information and transaction of article 5 verse 1 and its position and legal force should be recognized. The regulation on the existence and the legal force of electronic evidence shoud be written in a law. In this case, it should be in the law of electronic transaction and information, in the hope that this regulation can provide legal certainty for the community.Keywords: reformulation, article 5 verse 1 law of electronic information and transaction  ABSTRAKPenyalahgunaan   atau   pembocoran   data   pribadi   misalnya   yang dapat dikatakan  sebagai salah  satu  perbuatan  melawan  hukum melalui media  elektronik atau  yang  saat  ini biasa disebut dengan Cyber Crime.  Berkaitan dengan hal itu, perlu diperhatikan sisi keamanan dan kepastian hukum  dalam  pemanfaatan  teknologi  informasi,  media,  dan  komunikasi  agar dapat berkembang secara optimal. Untuk mengatasi gangguan keamanan dalam penyelenggaraan sistem secara elektronik, pendekatan hukum bersifat mutlak karena tanpa kepastian hukum, persoalan pemanfaatan teknologi informasi menjadi tidak optimal. Bagaimana mengenai regulasi di Indonesia yang mengatur mengenai data pribadiTujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui kedudukan alat bukti elektronik dalam Pasal 5 Ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik dalam pengungkapan tidak pidana ITE Penelitian dalam tesis ini merupakan Penelitian normatif dikarenakan oleh pada kasus Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Yang Kaitanya Dengan Perlindungan  Data Pribadi Sebagai Alat Bukti Elektronik  Penelitian ini menggunakan metode Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat” dan pendekatan Undang-undang (statue approach) dan pendekatan konseptual (konseptual approach) dengan mengkaji berdasarkan pendekattan yang berasal dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum. Bahan hukum dalam penelitian ini adalah dengan sumber bahan hukum primer, dan bahan hukum sekunder.Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan, bahwa perlindungan data pribadi diterapkan melalui beberapa peraturan perundang-undangan, khususnya ketentuan terkait kewajiban bagi setiap pihak yang menerima dan menyimpan data pribadi. Reformulasi  antara Pasal 184 KUHP dan Pasal 5 Ayat 1  UUITE yang kaitanya dengan perlindungan  data pribadi sebagai alat bukti elektronik terdapat beberapa ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan pemanfaatan dan penyalahgunaan teknologi informasi yang diatur dalam KUHP dan beberapa undang-undang di luar KUHP, Namun Kebijakan formulasi terhadap Tindak pidana yang telah mengakui, pembuktian berdasarkan alat bukti dan data elektronik. Sehingga jelas bahwa alat bukti elektronik dapat di golongkan dalam bentuk surat atau petunjuk sesuai dengan KUHAP Pasal 184 dan selaras dengan UU ITE, yaitu dalam Pasal 5 ayat (1) dan harus diakui keberadaannya dan kekuatan hukumnya. Pengaturan mengenai eksistensi dan kekuatan hukum alat bukti elektronik harus dituangkan dalam peraturan yang setingkat dengan undang-undang. Dalam hal ini adalah Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, tentu saja dengan harapan peraturan ini dapat memberikan kepastian hukum bagi masyarakatKata Kunci : Reformulasi, Pasal 5 Ayat 1 UUIT

    PENYELESAIAN PINJAMAN BERMASALAH PADA UNIT USAHA DANA BERGULIR MASYARAKAT BUMDES BERSAMA MITRA SENARA KECAMATAN JONGKONG KABUPATEN KAPUAS HULU

    No full text
    ABSTRACTThis research aims to convey a dominant Factor which causes non-performing loans and the attempt to solve it. The primary data was collected from an interview with the manager of bumdes bersama mitra senara and the customers who have non-performing loans. The secondary data was collected from observation and library Research. The results of discussion in this research are (1) The dominant factors that cause non-Performing loans: (a) Insufficient ability from the manager in analyzing and detecting probability of non-performing loans incidents. (b) Less assertiveness by the manager to implement the SOP related the non-performing loans. (c) Lack of awareness/ good intention to non-performing loans in paying off. (2) Why has not it been a significant solution to accomplish the non-performing loans: (a) Because the implementation of the accomplishment of the non-performing loans of business unit Bumdes Bersama Mitra Senara not fully referred to the existing SOP, (b) Because the efforts to non-performing loan accomplishment have not been done optimally, (c) Because there is no a special team that handles non-performing loans. (3) The model of loans problem solving on revolving fund business unit community of bumdes bersama can be done in three (3) ways : (1) Negotiation. (2) Mediation. (3) A simple proclaiming proposal through State Court.Keywords: Completion, Loan, Fund, Revolving, Bumdes ABSTRAK Tesis ini berusaha mengungkapkan Faktor dominan penyebab terjadinya pinjaman bermasalah dan upaya penyelesaiannya. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris yang terdiri dari penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pengurus BUMDes Bersama Mitra Senara dan nasabah yang memiliki pinjaman bermasalah. Data sekunder diperoleh dari observasi dan penelitian kepustakaan. Adapun Hasil pembahasan dalam penelitian ini (1) Faktor Dominan Penyebab Terjadinya Pinjaman Bermasalah: (a).kurangnya kemampuan dari pengurus dalam menganalisis dan mendeteksi kemungkinan terjadinya pinjaman bermasalah. (b). Kurangnya ketegasan pengurus dalam melaksanakan SOP terkait penyelesaikan pinjaman bermasalah. (c).kurangnya kesadaran/ itikad baik dari peminjam bermasalah dalam melunasi pinjamannya. (2) Mengapa upaya yang telah dilakukan selama ini belum mampu menyelesaikan pinjaman bermasalah : (a).Karena pelaksanaan penyelesaian pinjaman bermasalah pada Unit Usaha BUMDes Bersama Mitra Senara belum sepenuhnya mengacu kepada SOP yang ada. (b).Karena Tidak ada tim khusus yang menangani masalah pinjaman bermasalah.(c).karena tidak kooperatifnya peminjam bermasalah sehingga menyebabkan upaya yang dilakukan oleh pengurus tidak berjalan dengan semestinya. (3)Model Pemecahan Masalah Pinjam-Meminjam Pada Unit Usaha Dana Bergulir Masyarakat BUMDes Bersama dapat dilakukan dengan tiga (3) cara yaitu : (1)Negosiasi. (2) Mediasi. (3) Pengajukan gugatan sederhana melalui Pengadilan Negeri.Kata kunci :Penyelesaian, Pinjaman, Dana, Bergulir, BUMDe

    PENEGAKAN HUKUM OLEH KEPOLISIAN PERAIRAN TERHADAP TINDAK PIDANA PERIKANAN YANG MENGGUNAKAN PUKAT HARIMAU (TRAWL) KHUSUS KAPAL DIBAWAH 5 GT (GROSS TON) BERDASARKAN UNDANG - UNDANG NOMOR 45 TAHUN 2009 TENTANG PERIKANAN DI WILAYAH KABUPATEN MEMPAWAH

    No full text
    ABSTRAKIndonesia yang berada pada posisi diapit oleh dua samudera menyebabkan daerah lautan atau perairan di Indonesia memiliki aneka sumber daya alam yang berlimpah, salah satu di antaranya adalah “ikan” yang sangat berlimpah pula serta beraneka jenisnya. Meski telah dikeluarkannya larangan pemerintah melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, tentang penangkapan ikan dengan menggunakan pukat trawl (pukat harimau) namun hingga saat ini masih banyak terdapat sebagian nelayan yang menggunakannya. Ironisnya aktivitas nelayan pukat trawl di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat seakan lepas dari pantauan para petugas yang berwenang dalam mengawasi peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, tak ayal membuat nelayan mengambil tindakan sendiri dengan mengamankan dua kapal pukat trawl yang sedang beroperasi di perairan kuala Mempawah.  Bertitik tolak dari uraian latar belakang tersebut, masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah sebagai berikut : Bagaimana Penegakan Hukum Oleh Kepolisian Perairan Terhadap Tindak Pidana Perikanan Yang Menggunakan Pukat Harimau (Trawl) Khusus Kapal Dibawah 5 Gt (Gross Ton) Berdasarkan Undang -Undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan Di Wilayah Kabupaten Mempawah? Mengapa Penegakan Hukum Oleh Kepolisian Perairan Terhadap Tindak Pidana Perikanan Yang Menggunakan Pukat Harimau (Trawl) Khusus Kapal Dibawah 5 Gt (Gross Ton) Berdasarkan Undang -Undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan Di Wilayah Kabupaten Mempawah belum efektif? Dan Bagaimana penegakan hukum yang efektif oleh kepolisian perairan terhadap tindak pidana Perikanan Yang Menggunakan Pukat Harimau (Trawl) Khusus Kapal Dibawah 5 Gt (Gross Ton) Berdasarkan Undang -Undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan Di Wilayah Kabupaten Mempawah? Pelaksanaan penegakan hukum terhadap tindak pidana penggunaan pukat harimau dilakukan dengan cara prefentif dan represif,. Adapun hambatan dalam pelaksanaan penegakan hukum terhadap tindak pidana perikanan yaitu Faktor hukum itu sendiri dimana Penegakan Hukum Oleh Kepolisian Perairan Terhadap Tindak Pidana Perikanan Yang Menggunakan Pukat Harimau (Trawl) Khusus Kapal Dibawah 5 Gt (Gross Ton) diantaranya adanya Inpres No.15 tahun 2011 tentang perlindungan nelayan yang menyatakan bahwa nelayan penangkap ikan yang belum mengetahui ketentuan pelarangan yang berlaku dapat dilakukan pembinaan untuk mengganti alat tangkap ikan yang digunakan dengan alat tangkap yang tidak dilarang dan faktor masyarakat. Adapun upaya diantaranya Membenahi dan memberdayakan sarana dan prasarana yang tersedia dan Menjalin kerjasama yang baik dengan masyarakat nelayan Kata Kunci : Trawl, Nelayan dan Direktorat Polisi Perairan Kalbar  ABSTRACTIndonesia, which is in a position flanked by two oceans, causes the area of the sea or waters in Indonesia to have an abundance of abundant natural resources, one of which is "fish" which is very abundant as well as various species. Although the government has issued a ban through the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia, about fishing using trawl trawlers (trawlers) but until now there are still many fishermen who use it. Ironically, fishermen trawling trawlers in Mempawah District, West Kalimantan seem to be separated from the monitoring of officials authorized to supervise regulations issued by the government, no doubt making fishermen take their own actions by securing two trawl trawlers operating in kuala Mempawah waters. Starting from the description of the background, the problems to be discussed in this study are as follows: How Law Enforcement by Aquatic Police Against Fisheries Crime Using Trawls Special for Ships Below 5 Gt (Gross Ton) Based on Law Number 45 of 2009 concerning Fisheries in the District of Mempawah? Why Law Enforcement by Aquatic Police Against Crime of Trawlers Using Trawls Special for Ships Below 5 Gt (Gross Ton) Based on Law Number 45 of 2009 concerning Fisheries in the District of Mempawah not yet effective? And how is effective law enforcement by the water police against criminal acts of fishing using trawls specifically for vessels under 5 Gt (gross tonnes) based on Law Number 45 of 2009 concerning Fisheries in Mempawah District? The implementation of law enforcement on crimes using tiger trawlers is carried out in a preventive and repressive manner. The obstacles in the implementation of law enforcement against fisheries crimes are the law itself where Law Enforcement by the Aquatic Police Against Crime of Trawlers Specifically for Ships Below 5 Gt (Gross Ton) including the Presidential Instruction No.15 of 2011 concerning protection of fishermen stating that fishing fishers who do not yet know the applicable prohibition provisions can be trained to replace fishing gear used with fishing gear that is not prohibited and community factors. The efforts include fixing and empowering the available facilities and infrastructure and establishing good cooperation with fishing communities Keywords: Trawl, Fishermen and the West Kalimantan Police Directorate of Wate

    KEBERADAAN GO JEK SEBAGAI ALAT TRANSPORTASI ONLINE DITINJAU DARI SISTEM PERIZINAN (Studi Kota Pontianak)

    No full text
    ABSTRACT This thesis discusses the aspect of permission and efforts of Pontianak City Government to the existence of Go-Jek Online which is not only located in big Indonesia but also in various cities throughout Indonesia, including in Pontianak city, beginning of 2017 until now the ojek user online has been perceived by community as an online service user, various reasons and arguments presented by the positive community, in addition to easily accessible, low cost, and fast, it also provides a solution in the field of transportation. Behind the positive community response there is another issue, by the policy makers in this case the Pontianak Municipal Government that requires regulation of the arrangement of Go-Jek-based grants online dipontianak, "Go-Jek does not currently coordinate with the Department of Transportation in terms of the city .. The efforts made by the Pontianak government towards Go-Jek prevailing in the Pontianak region, also to suppress the conflict between conventional transportation and `online` as in Jakarta," Head of Transportation Department of Communications Pontianak City, will formulate regulations that are not appropriate form of the Head of Region to initiate the formation of a law regulating the activities of Online Ojek in Pontianak. "This project is actually not excluding public transportation, but the individual transportation and goods in accordance with the capacity of motorcycles, but now has begun to grow," One of the managers of this Gojek must have ID Card guide to provide a sense of security, and comfortable for people who use . Never impact both transport service providers. Keywords: Authority, Online Transportation, Licensing

    PERAN PEMERINTAH DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT DI WILAYAH PERBATASAN DALAM MELINDUNGI WARGA NEGARA INDONESIA YANG DIDEPORTASI (Studi Di Wilayah Hukum Perbatasan Kalbar- Serawak Malaysia)

    No full text
    ABSTRACT This thesis discusses the role of local authorities in border areas to protect Indonesian citizens who were deported (Study On Jurisdiction Border Kalbar- Sarawak Malaysia). research using legal research methods sociological juridical conclusion, that Based on the analysis of data and information that has been done, it can be seen a few things, first: Pattern handling citizen who was deported by the local authorities in the border region is coordinative that involve several regional work units ( SKPD) to form Task Force (Task Force) to handle the deportan. However, in practice have not shown the maximum performance due to lack of coordination between SKPD SKPD and limited role in addressing the deportan. Second: All local governments (provincial, district, or city) in four areas of research, has formed provisions (decision governor, regent or mayor) is the legal basis for the Task Force in coordinating team handles citizens who are deported. Forms of protection of the rights of deportan in deportation proceedings, not defined in the regulation, but the rights are protected deportan of obligations or Main Tasks and function of each SKPD in the Task Force team which handles citizens who are deported. Third: the constraints faced by local governments in the process of handling citizens who are deported are mostly citizen or deported migrant workers is not a resident in their respective local governments. This led to difficulties in budget allocation through the budget that should be reserved for residents of each area. Some SKPD revealed that the operating costs of handling the deportan can not be supported by every SKPD budget attached to tupoksinya. Besides the local government of origin deportan not all have concern for the residents of the area to provide assistance. In the case of facilities, until now the local government has not been providing shelter for the deportan. In terms of deportan, many who want to return to work in Malaysia, but did not have immigration documents because most passports taken by the Malaysian authorities. The condition is often utilized certain parties to send them back to Malaysia by way illegal. Keywords: Role, Local Government, at the Frontier.           ABSTRAK Tesis ini membahas peran pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Barat di wilayah perbatasan dalam melindungi warga negara indonesia yang dideportasi (Studi Di Wilayah Hukum Perbatasan Kalbar- Serawak Malaysia). penelitian menggunakan metode penelitian hukum yuridis sosiologis diperoleh kesimpulan, bahwa Pola Penanganan Yang Dilakukan Oleh  Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat Diwilayah Perbatasan Kalbar-Sarawak Malaysia Dalam Melindungi WNI Yang Di Deportasi, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan payung hukum kebijakan melalui Kementerian Luar Negeri, yakni Peraturan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pelayanan Warga di Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri. Dalam peraturan tersebut diatur mengenai perlindungan terhadap buruh migran Indonesia di luar negeri yang mengalami masalah, termasuk masalah deportasi. Pola penanganan perlindungan diatur secara lebih khusus dengan beberapa peraturan, yakni Keputusan Presiden Nomor 45 Tahun 2013 tentang Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya (TK-PTKIB), Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia dan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2006 tentang Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Sebagai panduan pelaksanaan perlindungan di daerah, Gubernur dan Bupati/Walikota di daerah entry point (wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia), transit dan daerah asal TKI kemudian membentuk Satgas secara lintas sektoral dengan tugas operasional untuk menangani penerimaan dan pemulangan TKIB dan PMBS dari Malaysia. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa pemerintah daerah yang menjadi entry point para deportan, menjadi pihak yang paling berperan dalam melakukan penanganan perlindungan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pola penanganan WNI yang dideportasi oleh pemerintah daerah di wilayah perbatasan, bersifat koordinatif dengan melibatkan beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Pada setiap provinsi atau kabupaten yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia telah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk menangani para deportan. Di dalam Satgas ditunjuk satu instansi yang menjadi koordinator dalam pelaksanaan penanganan WNI yang dideportasi. Namun demikian pelaksanaan koordinasi diantara SKPD yang tergabung dalam Satgas belum memperlihatkan kinerja yang maksimal karena kurangnya koordinasi diantara SKPD. Seperti yang berlaku pada Tim Satgas di Sumatera Utara dimana Pemerintah Daerah Provinsi Sumut hanya sebatas memfasilitasi pembentukan tim melalui Keputusan Gubernur. Sementara itu, pelaksanaan penanganan pemberangkatan dan pemulangan TKI dilakukan oleh BP3TKI (yang berkedudukan sebagai Sekretaris Tim) berkoordinasi dengan instansi lainnya. Demikian juga di provinsi lain, ada beberapa SKPD yang merasa telah melakukan banyak hal dalam penanganan para deportan, namun instansi lain merasa kurang berperan dalam tim Satgas. Kata Kunci: Peran, Pemerintah Daerah, Di Wilayah Perbatasan

    0

    full texts

    517

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal NESTOR Magister Hukum
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇