Journal of Biota
Not a member yet
606 research outputs found
Sort by
Daya Antagonisme Agensia Hayati terhadap Patogen Blendok pada Jeruk Pamelo secara In Vitro
Produksi jeruk di Kalimantan Selatan mengalami penurunan yang diakibatkan berbagai faktor, diantaranya serangan penyakit. Hal ini juga dialami oleh pertanaman buah jeruk pamelo di Amanah Borneo Park yang sering mengalami gagal panen akibat serangan penyakit blendok yang disebabkan oleh patogen Botryodiplodia theobromae Pat. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati, salah satunya cendawan endofit yang bersifat antagonis terhadap penyebab patogen, yang dapat diisolasi dari tanaman obat. Cendawan endofit mampu menghasilkan metabolit sekunder, enzim litik, dan antimikroba lainnya dalam menghambat pertumbuhan patogen tanaman. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui jenis cendawan penyebab penyakit blendok di Amanah Borneo Park dan mengetahui daya antagonisme Trichoderma harzianum, endofit Colletotrichum sp., dan endofit Fusarium sp. terhadap patogen tersebut. Hasil identifikasi mengemukakan bahwa patogen penyebab blendok di Amanah Borneo Park adalah B. theobromae Pat (P2B4), kemudian uji antagonisme dengan tiga agen antagonis yaitu Trichoderma harzianum, endofit Colletotrichum sp., dan endofit Fusarium sp. menunjukkan adanya perbedaan persentase daya hambat yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti laju pertumbuhan, produksi, dan konsentrasi metabolit sekunder yang dihasilkan dengan persentase penghambatan masing-masing agen antagonis yaitu 21,048% (T. harzianum), 13,775% (Colletotrichum sp.), dan 13,04% (Fusarium sp.)
Keanekaragaman Ikan dan Tumbuhan Air Tawar di Sumber Gentong, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang
Sumber Gentong merupakan tempat wisata berupa telaga atau kolam dengan sumber air yang sangat jernih dan bersih. Tujuan dilakukannya penelitian yaitu untuk mengetahui keanekaragaman ikan dan tumbuhan air tawar di Sumber Gentong, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Waktu dan tempat dilaksanakannya penelitian yaitu 2 November 2022 di Wisata Sumber Gentong. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan cara survey, observasi dan wawancara yang dilakukan kepada penjaga di tempat wisata tersebut. Data yang diperoleh kemudian di susun dan dianalisis tingkat keanekaragamannya menggunakan indeks keanekaragam Shannon-Wiener. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 4 spesies ikan yaitu ikan wader, ikan cakul, ikan platy pedang, dan ikan mas. Tumbuhan air yang dapat ditemukan yaitu cabomba caroliniana, kangkung, eceng gondok, dan kayu apu. Indeks keanekaragaman ikan dan tumbuhan air tawar di Sumber Gentong, tergolong sedang dengan nilai (H’ = 1,14) untuk ikan air tawar dan (H’ = 1,00) untuk tumbuhan air tawar. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan perairan di Sumber Gentong masih terjaga dan kondisi ekologinya masih seimbang serta tidak tercemar
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Sempur Air (Dillenia suffruticosa) terhadap Bakteri Penyebab Jerawat Propionibacterium acnes
Sempur air (Dillenia suffruticosa) merupakan salah satu tumbuhan obat tradisional yang dapat ditemui di hutan tropis seperti di Indonesia. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sempur air mampu menghambat pertumbuhan salah satu bakteri penyebab jerawat Staphylococcus aureus. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun sempur air terhadap bakteri penyebab jerawat lainnya, yaitu Propionibacterium acnes. Ekstrak diperoleh melalui proses maserasi menggunakan etanol 70% sebagai pelarut. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram pada medium Nutrient Agar (NA). Penapisan fitokimia dari ekstrak ini diperoleh hasil bahwa ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid tannin, dan saponin yang berpotensi sebagai agen antibakteri. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sempur air mampu menghambat pertumbuhan bakteri P. acnes pada konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 40% sebesar 7,04±0,24; 7,45±0,71; 9,53±0,35; dan 13,07±0,31 mm secara berurutan. Hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa ekstrak etanol daun sempur air berpotensi sebagai agen antibakteri terhadap P. acnes.
The Aquatic Productivity using The Indicator of Plankton Diversity and Abundance in Telaga Dringo, Indonesia
Aquatic productivity is the most basic trophic level in every aquatic ecosystem. Lake Dringo is a protected area and one of the highest lakes on the island of Java. Ecosystem balance can be seen from the study of water productivity. The purpose of this study was to determine the primary productivity and secondary productivity of waters in the Lake Dringo Nature Reserve, Central Java. The purposive sampling method was used in this study by establishing five stations and three replications at each station. The combination of primary and secondary productivity has a total abundance of 22,491-38,556 ind/liter. The highest abundance was Chlorophyta at 33% while the lowest abundance was Rotifera at 4%. This shows that there is no species dominance so that the primary productivity of the waters is still good.
Stabilitas Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Terenkapsulasi Maltodekstrin dan Gelatin dan Potensi Prebiotiknya
Bunga telang merupakan salah satu bunga yang dapat dimakan dan digunakan sebagai pewarna alami makanan. Bunga ini juga berpotensi sebagai antioksidan dan prebiotik akibat kandungan antosianinnya. Namun ekstrak bunga telang mudah terdegradasi. Stabilitas zat warna bunga telang dapat dipertahankan dengan teknik enkapsulasi menggunakan maltodekstrin dan gelatin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rasio maltodekstrin dan gelatin yang menghasilkan stabilitas enkapsulat bunga telang terbaik selama 15 hari penyimpanan dan potensi prebiotiknya. Ekstrak bunga telang diperoleh melalui metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Rasio maltodekstrin dan gelatin yang digunakan adalah 1:1, 3:1 dan 5:1, dengan kadar ekstrak bunga telang 1%. Stabilitas enkapsulat dianalisis dari kandungan antosianin dan antioksidan dengan waktu uji setiap 5 hari selama 15 hari. Kadar antosianin diukur dengan metode pH differential. Aktivitas antioksidan diukur dengan metode DPPH. Potensi prebiotik diuji menggunakan Lactobacillus bulgaricus. Hasil menunjukkan bahwa enkapsulat ekstrak bunga telang dengan rasio maltodekstrin dan gelatin sebesar 3:1 memiliki stabilitas enkapsulat terbaik dengan kadar air 6,863%, kadar antosianin 0,217 mg/g, dan daya redam radikal bebas sebesar 54,858%. Enkapsulat ini juga terbukti berpotensi menjadi prebiotik yang ditandai dengan pertumbuhan L.bulgaricus sebesar 2,85 x 109 CFU/mL
Penambahan Biji Chia (Salvia hispanica L.) pada Fermentasi Tempe Kedelai dalam Peningkatan Aktivitas Antioksidan dan Nilai Kesukaan
Tempe merupakan produk pangan berbahan kedelai (Glycine max) yang difermentasi dengan melibatkan mikroba dari genus Rhizopus. Tempe memiliki berbagai kandungan gizi dan senyawa, salah satunya adalah antioksidan. Untuk meningkatkan kandungan antioksidan dalam tempe dapat dilakukan dengan penambahan bahan alami. Biji chia (Salvia hispanica) dipilih karena termasuk bahan pangan fungsional dan memiliki kandungan antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penambahan biji chia pada fermentasi tempe kedelai dalam peningkatan antioksidan dan nilai kesukaan. Penelitian dilakukan menggunakan RAL dengan satu faktor dan empat taraf perlakuan, yaitu konsentrasi penambahan biji chia 0%, 0,5%, 1% dan 1,5% (b/b). Penentuan aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH, sedangkan uji hedonik dilakukan menggunakan kuesioner pada 15 orang panelis. Hasil pengukuran antioksidan menunjukkan penambahan biji chia pada tempe dapat meningkatkan aktivitas antioksidan yang dapat dilihat pada persen inhibisi. Persen inhibisi paling tinggi yaitu pada konsentrasi biji chia 1% yaitu sebesar 69,83%. Pada uji hedonik dengan uji Univariate dan uji lanjutan Duncan, perlakuan tempe tanpa pemberian bumbu menunjukkan tidak berbeda nyata antar konsentrasi perlakuan pada parameter aroma dan tekstur. Sedangkan perlakuan tempe dengan penambahan bumbu menunjukkan tidak berbeda nyata antar konsentrasi perlakuan pada parameter tekstur dan rasa
Intensitas Cahaya pada Perkecambahan Benih dan Pertumbuhan Semai Cabai Merah Landung (Capsicum annuum cv. Landung)
Cabai Merah (Capsicum annuum L.) biasanya ditanam di pembibitan sebelum dipindahkan ke lahan. Informasi mengenai lingkungan optimal, termasuk intensitas cahaya, penting untuk memproduksi bibit cabai berkualitas. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh intensitas cahaya, berdasarkan jenis atap persemaian (paranet kerapatan 25%, 50%, dan 75%, kaca, dan fiberglass), terhadap perkecambahan dan pertumbuhan bibit cabai cv. Landung. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan intensitas cahaya mempengaruhi perkecambahan dan pertumbuhan bibit cabai merah secara keseluruhan. Benih yang memperoleh intensitas cahaya lebih tinggi, yakni di bawah atap kaca (13.876,67 lux) dan atap fiberglass (16.268,89 lux) berkecambah lebih awal dan lebih seragam, dan menghasilkan persentase perkecambahan akhir lebih tinggi (97% dan 95%) dibandingkan benih yang memperoleh intensitas cahaya lebih rendah (atap paranet dengan kerapatan 25%, 50%, dan 75%), masing-masing sebesar 90%, 80,5%, dan 73,2%. Pertumbuhan bibit cabai merah di bawah atap kaca dan fiberglass lebih vigor sehingga menghasilkan kecepatan pertumbuhan (R) lebih tinggi (7,25 dan 7,49) dibandingkan semua perlakuan paranet (7,74, 7,74, dan 7,62). Bahan atap persemaian perlu dipertimbangkan sebab mempengaruhi perkecambahan dan pertumbuhan bibit cabai dengan mempengaruhi intensitas cahaya, seperti ditunjukkan oleh penelitian ini
Modification of Starch with Amylosucrase: Methods, Physicochemical Properties and Health Implications
Amylosucrase is a transglucosylase enzyme that utilizes sucrose as a substrate to produce α-1,4 glucan (amylose-like polymer). Modification of starch with Amylosucrase can increase the degree of polymerization, degree of crystallinity, heat stability, and increase the proportion of slow digestible starch (SDS) and resistant starch (RS). Thus, Amylosucrase (ASase) modified starch has enormous potential to be developed in the food industry because the consumption of ASase modified starch can improve insulin sensitivity and reduce blood glucose response, making it suitable for consumption by people with Diabetes Mellitus. In addition, consumption of ASase-modified starch also has the potential to prevent obesity and improve blood lipid profile
Identifikasi Keanekaragaman Tumbuhan Poaceae di Kampus II UIN Sumatra Utara
Poaceae atau rumput-rumputan merupakan famili dari ordo Poales yang memiliki banyak manfaat dan pola penyebaran yang cukup luas di negara tropis, termasuk Indonesia. Hal ini dapat diamati melalui banyaknya tumbuhan dari famili Poaceae yang terdapat di lingkungan kampus II UIN Sumatra Utara. Namun, keberadaan tumbuhan tersebut belum diidentifikasi sehingga belum diketahui potensinya. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman tumbuhan Poaceae yang ditemukan di kampus II UIN Sumatra Utara sekaligus menelaah potensi yang dimiliki oleh masing-masing ragam spesies tumbuhan tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei eksploratif dan deskriptif, yaitu dengan melakukan pendataan tumbuhan serta mengamati morfologi dan deskripsi tumbuhan tersebut. Sampel tumbuhan dikoleksi dalam bentuk segar dan diidentifikasi di laboratorium Tadris Biologi FITK UINSU. Identifikasi tumbuhan menggunakan prosedur pendataan ciri morfologi tumbuhan dan kunci identifikasi yang bersumber dari buku karangan Gembong Tjitrosoepomo (2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 genus dengan 12 spesies yang ditemukan di kampus II UIN Sumatra Utara
Sinergisme Pertumbuhan dan Tingkat Kesukaan pada Pembuatan Tempe Probiotik dengan Penambahan Pichia kudriavzevii TMT-2 dan Lactobacillus plantarum Dad-13
Tempe probiotik dapat dibuat dengan penambahan khamir probiotik (Pichia kudriavzevii TMT-2) dan bakteri asam laktat (Lactobacillus plantarum Dad-13). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sinergisme pertumbuhan antara jamur tempe, khamir dan bakteri probiotik, serta menentukan tempe probiotik yang disukai oleh panelis. Penelitian ini dikerjakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap dua faktor, yaitu faktor pertama ialah jenis inokulum (tempe jamur merk Raprima, Raprima + Pichia kudriavzevii TMT-2, Raprima + L. plantarum Dad-13, Raprima + P. kudriavzevii TMT-2 + L. plantarum Dad-13. Faktor kedua adalah lama fermentasi (0, 24, 48, dan 72 jam). Hasil penelitian menunjukkan penambahan yeast, bakteri, dan dan bakteri probiotik tidak menghambat pertumbuhan jamur tempe. Penambahan khamir probiotik mempercepat laju pertumbuhan jamur tempe. Khamir dan bakteri probiotik yang ditambahkan dapat tumbuh dengan baik dan dapat mencapai 9 log10 CFU/g pada akhir fermentasi. Penambahan khamir dan bakteri probiotik tidak menurunkan tingkat kesukaan panelis dibandingkan dengan kontrol (jamur tempe). Berdasarkan jumlah probiotik dan tigkat kesukaan panelis perlakuan terbaik adalah tempe yang diinokulasi dengan Raprima + P. kudriavzevii TMT-2 + L. plantarum Dad-13. Tempe tersebut mengandung jumlah jamur sebanyak 8,53 log10 CFU/g, khamir 9,06 log10 CFU/g, dan bakteri 8,88 log10 CFU/g. Tempe probiotik ini layak untuk dikembangkan khususnya diversifikasi produk olahannya dan tingkat kesukaan konsumen