Journal of Biota
Not a member yet
606 research outputs found
Sort by
Pharmacological Benefits of Porang (Amorphophallus muelleri Blume): A Review
Porang (Amorphophallus muelleri Blume) is a tuber plant from the Araceae family that grows wild in Indonesian forests. Porang tubers have a high content of the active compound glucomannan, a low-calorie hydrocolloid dietary fiber with various health benefits. However, its potential in the pharmaceutical field has not been fully explored scientifically, so this scientific review aims to explore the potential of glucomannan and other bioactive compounds in porang in the pharmaceutical field based on literature studies, as well as the challenges of developing it as a leading commodity in Indonesia. In addition to glucomannan, porang also contains secondary metabolites such as alkaloid, flavonoids, saponins, tannins, and steroids. Research studies show that porang can be used in the treatment of various diseases, such as diabetes (especially type-2 diabetes mellitus), obesity, hypertension, and has the potential as anti-cholesterol, anti-tumor, anti-inflammatory, prebiotic agent, anti-bacterial, and wound healing. The majority of applications that are still in preclinical in vivo trials on experimental animals and the presence of calcium oxalate as an irritant compound are the challenges of developing Porang as herbal medicine. Therefore, the use of porang as herbal medicine still requires further research regarding safe processing and clinically appropriate dosage. Keywords: cacao fruit-rot, Phytophthora palmivora, biological control, decomposer
Effectiveness and Role of Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast (SCOBY) Kombucha Gel on Incisional Wound Healing in Mice (Mus musculus)
Incision wounds are common occurrences in daily life, and appropriate wound management is essential to promote and accelerate the healing process. Wound care can be performed using topical preparations such as gels containing bioactive compounds. SCOBY kombucha is believed to contain bioactive compounds, such as compounds from green tea (especially polyphenols) and metabolites produced by microbes (organic acids, alcohols, vitamins, etc.) The aim of this research is to determine the effectiveness of SCOBY kombucha gel on the healing of incision wounds in mice (Mus musculus). The method used in this research is a Completely Randomized Design (CRD) with 8 treatment groups, including 2 control groups and 6 test groups. The concentrations of SCOBY kombucha gel used are 0%, 2%, 4%, 8%, 10%, and 12%. The SCOBY kombucha gel is applied twice daily until the wound closes. Observation of the incision wound is carried out by measuring the length of the wound that has not yet closed. Based on the conducted research, it was found that SCOBY kombucha gel is effective in healing incision wounds as evidenced by the reduction in wound size due to the bioactive compounds in SCOBY. The most significant wound healing effect was observed with the 12% SCOBY kombucha gel, as there was a significant difference compared to the negative control group, 0%, 2%, 4%, and 8% SCOBY kombucha gels
Respon Morfo-anatomi dan Uji Histokimia Kemiri Sunan Terinokulasi Cendawan Endofit pada Tailing Tambang Emas
Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) merupakan tanaman penghasil minyak non pangan yang dapat digunakan sebagai agen fitoremediasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan, anatomi, dan akumulasi Pb Kemiri Sunan yang diinokulasi jamur Dark Septate Endophyte (DSE) terhadap tailing tambang emas. Bibit berumur dua bulan yang telah diinokulasi jamur DSE 0,5% dipindahkan ke dalam pot berisi tailing tambang emas dengan konsentrasi berbeda dan ditanam selama 7 minggu. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, berat kering pucuk dan akar, luas permukaan daun dan anatomi jaringan. Analisis histokimia dilakukan untuk mengamati Pb dalam jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi tailing berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan parameter anatomi, tetapi tidak mempengaruhi berat kering tajuk dan akar maupun luas permukaan daun. Inokulasi DSE tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, berat kering pucuk dan akar, luas daun, dan parameter anatomi. Pada akar, akumulasi timbal diamati pada sel epidermis, korteks, berkas pembuluh, dan empulur akar, sedangkan pada daun diamati pada sel epidermis atas dan bawah, daerah antara xilem, dan jaringan parenkim. Inokulasi jamur DSE meningkatkan pertumbuhan dan menurunkan toksisitas Pb pada Kemiri Sunan
Eksplorasi Jenis-Jenis Mamalia di Hutan Lembah Kebar pada Kawasan Cagar Alam Pegunungan Tambrauw Utara
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan karakteristik morfometrik satwaliar mamalia, penelitian ini dilakukan di Hutan Lembah Kebar Pada Kawasan Cagar Alam Pegunungan Tambrauw Utara dan berlangsung selama 3 minggu terhitung tanggal 7 – 28 April 2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan Teknik observasi lapangan, Hasil dari penelitian ditemukan tiga belas individu dan delapan jenis satwa liar mamalia yaitu Bandikut (Echymipera kalubu), Bandikut (Echymipera rufescens), Rusa timor (Rusa timorensis), Babi hutan (Sus scrofa), Kuskus cokelat (Phalanger orientalis), Kuskus totol (Spilocuscus maculatus), Kelelawar codot kecil (Microglossus minimus), Kelelawar kalong besar (Pteropus neohibernicus). Dari kedelapan jenis satwaliar mamalia yang ditemukan terdapat dua mamalia yang termasuk satwa dilindungi yaitu Kuskus totol (Spilocuscus maculatus) dan Rusa timor (Rusa timorensis)
Isolation And Characterization of Lactobacillus Species From Local Indonesian Cow’s Milk
Probiotics are a group of beneficial microorganisms that can improve the health of their host. Lactobacillus species are lactic acid bacteria that have great potential as probiotics, in which cow’s milk is a great source of lactic acid bacteria. In this study, Lactobacillus spp. were isolated from fresh local Indonesian cow’s milk. The methods used to characterize the Lactobacillus spp. were (i) biochemical tests including catalase, hemolytic and sugar fermentation tests; (ii) tolerance tests against salt (NaCl 2%, 4% and 6%), low pH (2, 3, 4, 5, 6 and 7) and temperature (7°C, 37°C and 45°C); and (iii) 16S rRNA sequencing. The isolation yielded 14 isolates matching the criteria of Lactobacillus spp. colony and cell (i.e., Gram positive rods that did not produce endospores and did not have a waxy layer covering its cell wall). Based on subsequent biochemical tests, 5 isolates were suspected as potential probiotic Lactobacillus spp. The 16S rRNA sequencing revealed that the isolate L was Limosilactobacillus fermentum. In conclusion, this study demonstrated that local cow’s milk could be used to isolate Lactobacillus spp
Multiplikasi Tunas pada Eksplan Rimpang Kunyit Hitam (Kaempferia parviflora) dengan Penambahan Hormon BAP
Kunyit Hitam (Kaempferia parviflora) adalah tanaman rimpang berwarna ungu kehitaman yang banyak manfaat sebagai bahan obat tradisional. Perbanyakan bibit kunyit hitam secara konvensional tidak memungkinkan untuk budidaya skala besar, dikarenakan membutuhkan waktu yang cukup lama dan tidak efisien. Rendahnya pasokan bahan tanaman berkualitas dan masalah perkecambahan yang rendah menjadi dasar dalam upaya pengembangan kunyit hitam secara in vitro. Perbanyakan kunyit hitam melalui multiplikasi tunas dapat mempercepat produksi bibit yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi hormon BAP terhadap multiplikasi kunyit hitam. Rancangan penelitian menggunakan RAL dengan faktor konsentrasi hormon BAP yang terdiri dari 5 taraf konsentrasi antara lain BAP 0 mg/L (P0), BAP 2 mg/L (P1), BAP 4 mg/L (P2), BAP 6 mg/L (P3), dan BAP 8 mg/L (P4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perlakuan BAP 2 mg/L memperlihatkan hasil terbaik dengan kedinian tunas tercepat yaitu 8,3 hari setelah tanam, jumlah tunas terbanyak yaitu 5,8 tunas, rata-rata tunas tertinggi mencapai 4,8 cm, dan jumlah daun terbanyak yaitu 8,3 helai. Perlakuan BAP 2 mg/L menghasilkan persentase tunas dan akar 100%
Evaluasi Keragaman Fauna Avertebrata DAS Cisadane untuk Konservasi Lahan Basah Kota Bogor
Lahan basah merupakan ekosistem perairan darat yang berperan penting memsok air bagi kebutuhan manusia. Penurunan kualitas perairan sungai akan berdampak terhadap keragaman jenis fauna avertebrata di ekosistem tersebut. Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane merupakan aliran sungai besar, dengan daerah tangkapan air seluas 1.100 km2. Salah satu cara menilai kualitas air sungai secara biologi adalah melalui analisis makroavertebrata, karena kepekaannya terhadap bahan pencemar. Penelitian ini ditujukan untuk konservasi DAS Cisadane melalui analisis keragaman dan kelimpahan makroavertebrata. Pengambilan data dilakukan pada empat stasiun pengamatan, yaitu area Maseng (stasiun I), Pamoyanan Sari (stasiun II), Cibalagung (stasiun III), dan Bubulak (stasiun IV). Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 21 spesies avertebrata, dengan tiga spesies paling melimpah, yaitu Pantala flavescenes (capung ciwet), Parathelphusa convexa (ketam/yuyu sawah), dan Lumbricina (cacing tanah). Tingkat keragaman spesies avertebrata secara keseluruhan termasuk dalam kategori keragaman sedang (indeks H’= 1,93). Tingkat keragaman spesies, dan kelimpahan spesies avertebrata ke arah hilir DAS Cisadane semakin menurun, berdasarkan kriteria indeks keragaman Shannon-Wienner, dan kelimpahan relatif spesies. Kualitas air sungai Cisadane terindikasi tercemar ringan-sedang di stasiun I, II, III, dan tercemar sedang-berat di stasiun IV
Cell Surface and Adherence Properties of Indonesian Indigenous Lactic Acid Bacteria as Probiotic Candidate
Adherence to intestinal mucosa is one of the crucial probiotic traits. This ability varied among strains. This study aims to evaluate the cell surface properties and adherence potential of Indonesian Indigenous LAB. The adherence potential was evaluated using auto- aggregation, coaggregation against Salmonella, cell hydrophobicity, and adherence to stainless-steel surface. All strains classified as having medium high aggregation (>90%) after 24 h of incubation and can coaggregate with Salmonella (58-92%). Among all strains, Levilactobacillus brevis AB3 showed the highest hydrophobicity (36%) and adhesion to stainless steel (6.37 log CFU/mL). Current findings suggest that Indonesian Indigenous LAB, especially L. brevis AB3, possessed an adherence property and has a potential to be developed into probiotic bacteria
Efficacy Study of Eco-Friendly Bleaching Agent for Skeleton Preservation in Animal Skeleton
The currently used bleaching materials in skeletal preservation are hydrogen and carbamide peroxide materials with specific concentrations and techniques that impact environmental sustainability. This research describes a simple and eco-friendly technique for preserving skeletons. This research used a qualitative approach. Data were collected through observation and documentation. The collected data were analyzed descriptively. The results show that natural extracts, such as lemon combined with baking soda and commercial bleaching cloth agent, can bleach the skull and bone to preserve the skeleton. The commercial bleaching cloth agent is more capable of bleaching animal skulls and bones to preserve skeletons than natural extracts combined with baking soda do; however, the result is more brittle skeletons. Although specimens in lemon extract combined with baking soda solution more slowly clean and bleach skeleton than commercial bleaching solution, skeletal animals have bond strength and environment-friendly processes. This study recommends that an eco-friendly bleaching agent for skeletal preservation should be applied because it can cope with biological practices about osteology and other science subjects
Analisis Molekuler Bakteri Liberobacter asiaticus Penyebab Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) dengan Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) pada Tanaman Jeruk Siam (Citrus nobilis)
Salah satu komoditas buah utama Indonesia adalah jeruk Siam. Namun, banyak tanaman jeruk di indonesia yang terkena penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara lebih pasti keberadaan bakteri Liberobacter asiaticus penyebab penyakit CVPD pada tanaman jeruk yang menunjukkan gejala klorosis dan juga keberadaan bakteri L. asiaticus penyebab penyakit CVPD pada tanaman jeruk yang tidak menunjukkan gejala klorosis. Untuk mencapai hal tersebut, teknik PCR akan digunakan untuk analisis molekuler bakteri L. asiaticus. Dengan mengamati sampel daun dari tanaman jeruk siam Kintamani yang menunjukkan gejala klorosis dan yang tidak menunjukkan gejala klorosis, maka metodologi penelitian eksploratif diterapkan dalam penelitian ini. Pita DNA pada 1.160 bp tidak ditemukan pada sampel daun jeruk yang diuji, baik pada sampel daun jeruk yang sehat maupun pada sampel daun jeruk yang terindikasi klorosis. Tanaman jeruk yang menunjukkan gejala klorosis tidak ditemukan bakteri L. asiaticus pada sampel daunnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya unsur hara di dalam tanah, konsentrasi bakteri yang rendah, atau distribusi bakteri yang tidak merata di dalam jaringan daun. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah keberadaan bakteri L. asiaticus penyebab penyakit CVPD tidak dapat terdeteksi keberadaannya pada sampel daun jeruk siam yang bergejala dan tidak bergejala klorosis