Journal of Biota
Not a member yet
606 research outputs found
Sort by
Evaluation of Shrimp Head-Based Liquid Organic Fertilizer as a Sustainable Alternative Nutrient Source for Nannochloropsis sp. Culture
Laboratory-scale Nannochloropsis sp. cultures typically rely on expensive commercial nutrients for aquaculture feed production. Shrimp head waste contains important nutrients that can be used to produce liquid organic fertilizers. This study aimed to evaluate the effect of using commercial fertilizer combined with liquid organic shrimp head fertilizer (LOF) on the growth of Nannochloropsis sp. on a controlled scale. The experimental design included four treatments (P0:100% commercial fertilizer), P1 (50% commercial + 50% LOF), P2 (75% commercial + 25% LOF), and P3 (100% LOF). Cell growth data were subjected to ANOVA and Duncan's tests. The use of LOF significantly influenced the growth of Nannochloropsis sp. on day 7. Peak growth occurred on day 7. P0 treatment (100% commercial fertilizer) showed the highest growth (15.7 × 104 cells/ml), although it was not statistically different from P1 (50% commercial + 50% LOF) and P2 (75% commercial + 25% LOF). The highest Specific Growth Rate was observed in the P0 treatment (0.22). This suggests that while shrimp head LOF alone may not be sufficient, its combination with commercial fertilizers holds promise for the sustainable cultivation of Nannochloropsis sp
Pemetaan Kasus Gigitan Ular di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta menggunakan Analisis Spasial Statistik
Kasus gigitan ular merupakan permasalahan kesehatan tropis yang terabaikan. Negara berkembang tropis seperti Indonesia memiliki peluang besar mengalami kasus gigitan ular melebihi angka estimasi. Kasus gigitan ular terjadi di wilayah padat penduduk di mana petani merupakan kelompok paling rentan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola spasial kasus gigitan ular di Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2019 – 2020, sebagai langkah pencegahan resiko gigitan ular di masa depan. Data yang diperoleh dari rekam medis RS, penyebaran kuesioner daring, dan wawancara korban dianalisis pola persebaran dari sisi temporal (musim) dan spasial. Dua puluh satu kasus terjadi di Kulon Progo. Korelasi negatif antara kasus gigitan dengan curah hujan ditunjukkan pada tahun 2019 dan korelasi positif pada tahun 2020. Visualisasi peta persebaran, estimasi densitas kernel, dan analisis pola titik menggunakan fungsi G, F, K’s Ripley menjelaskan bahwa sebaran kasus yang terjadi tersebar secara acak di tahun 2019 dan 2020 dengan daerah kasus gigitan terbanyak adalah Samigaluh. Ular Trimeresurus albolabris mendominasi kasus gigitan ular di Kulon Progo yakni sebanyak 48% total kasus gigitan. Maka kesimpulan yang diperoleh adalah kasus gigitan ular di Kulon Progo mengalami peningkatan di musim kering pada tahun 2019 dan di musim hujan pada tahun 2020 serta tersebar secara acak pada kedua tahun
Konstruksi Filogenetik Spesies Lebah Tanpa Sengat di Lampung Timur Berdasarkan Gen 16S rRNA
Keanekaragaman flora dan fauna Indonesia sangat beragam. Jenis fauna yang terkenal di Indonesia adalah lebah tanpa sengat yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Informasi keragaman lebah tanpa sengat dan hubungan kekerabatan masing-masing kelompok lebah akan memberikan informasi terkait data populasi. Analisis molekuler berguna sebagai ilmu dan alat untuk melakukan identifikasi spesies. Analisis molekuler keragaman lebah tanpa sengat dapat menggunakan DNA mitokondria (mtDNA) pada lebah. Salah satu gen pengkode DNA mitokondria adalah gen 16S rRNA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sekuen sampel lebah tanpa sengat secara molekuler dan menyusun peta kekerabatan sehingga dapat menjadi data genetik dan informasi keanekaragaman spesie lebah tanpa sengat di Kabupaten Lampung Timur. Metode yang digunakan adalah isolasi dan amplifikasi gen DNA, elektroforesis dan visualisasi, sekuensing dan analisis hasil sekuensing menggunakan Basic Local Alignment Search Tool (BLAST), dan konstruksi pohon filogenetik menggunakan Molecular Evolution Genetic Analysis (MEGA11). Berdasarkan penelitian ini 3 sampel lebah tanpa sengat yang didapatkan dari eksplorasi di Kabupaten Lampung Timur terdeteksi sebagai spesies Heterotrigona itama dan memiliki kekerabatan yang dekat dengan spesies sundatrigona sp dan paling jauh dengan Paratrigona lineatifrons. Hal ini sesuai dengan hasil uji BLAST dan analisis data molekuler menggunakan software Mega 11
Volatile Profiling of Root-Shoot and Fruits of Capsicum frutescens var. Salo Dua from Enrekang, Indonesia
Capsicum frutescens var. Salo Dua is a local variety cultivated in Enrekang Regency, South Sulawesi. It has unique traits of color transition during fruit ripening and extended post-harvest shelf life. However, the metabolite profiling in this potential variety has not been explored. This was an initial study that aimed to profile the volatile compounds in the root-shoot parts (as vegetative) and in the ripe fruits of Salo Dua variety. The instrument of Gas Chromatography coupled with Mass Spectrometry (GC-MS) was used to separate and characterize the volatile compounds. Our study revealed a higher number of forty-two volatiles in the ripe fruits compared to the twenty-eight volatiles in the shoot-root parts. The five major compositions of the chemical class in ripe fruits were characterized by the formation of alcohols (26%) followed by esters (19%), alkaloids (10%), fatty acids (10%), and ketones (7%). While the abundant volatiles in the root-shoot parts were shown by the presence of esters (29%), alcohols (21%), fatty acids (18%), alkaloids (11%), and heterocyclic (7%). There were nineteen volatiles that only emitted in the ripe fruits. Of which, capsaicin and dihydrocapsaicin were detected in the ripe fruits with an average relative area of 1% and 0.51%, subsequently
Dualisme Pemanfaatan Gulma Genjer (Limnocharis flava): Peluang Sebagai Agen Fitoremediasi dan Pangan Nutraseutika
Tanaman Genjer (Limnocharis flava) adalah salah satu jenis gulma yang memiliki fungsi ganda sebagai bahan pangan nutraseutikan dan agen fitoremediasi. Pemanfaatan Genjer sebagai bahan pangan didasarkan pada kandungan metabolit sekunder yang terdapat didalamnya, seperti flavonoid, fenol, serta antioksidan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional serta obat tradisional. Selain itu, kemampuan tanaman Genjer sebagai agen fitoremediasi dalam menyerap senyawa pencemar seeperti logam berat, menjadikannya efektif dalam pengelolaan limbah cair. Tujuan review artikel ini dibuat untuk mengeksplorasi keunggulan dan tantangan dalam pengaplikasiannya. Metode penelitian ini yaitu literature review dengan menentukan topik yang dikaji, mengumpulkan artikel – artike, evaluasi, dan interpretasi hasil. Artikel yang digunakan merupakan artikel penelitian dari tahun 2015-2024 dan berasal dari google scholar. Hasil review menunjukkan bahwa tanaman Genjer tidak hanya berperan dalam kesehatan manusia melalui kandungan nutrisinya. Tapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan dengan kemampuan sebagai agen fitoremediasi. Dengan pemahaman yang lebih lanjut, tanaman Genjer dapat dioptimalkan sebagai solusi yang inovatif dalam bidang pangan serta lingkungan
Abundance of Perifiton as Natural Fish Food in The Banjaran River, Banyumas Indonesia
Fresh waters in Indonesia are strongly broad and play a role for aquaculture as well as human activities, thus impacting water quality and river ecosystems. Periphyton acts as a natural food source. This study aimed to determine the abundance of periphyton species as natural food for fish in the Banjaran River, and the quality of river water. Survey method and purposive sampling were used and conducted at four stations. This research was conducted in situ and ex situ and the test results were analyzed descriptively quantitatively. The percentage of periphyton abundance the Banjaran River is 28% from the class Bacillariophyceae (25 species), 21% Chlorophyceae (9 species), 21% Cyanophyceae (3 species), 16% Eugelenophyceae (2 species), and 16% Rhizopoda class (1 species). The abundance of periphyton at each station was 3,275–5,574 individuals/cm² with species abundance values of 26–22,904 individuals/cm², while the percentage values for the abundance of each class were Bacillariophycae (82%), Chlorophyceae (9%), Eugelenophyceae (6%), Cyanophyceae (2%), and Rhizopoda (1%). The water quality that greatly influences the value of periphyton abundance is TDS (Total Dissolved Solid). The influence of TDS content on the abundance of periphyton was 0.8 and the influence was negative
The Enhancing Capsicum annuum L. Disease Resistance with Carrier and BSF Larval Gut Microbes
Red chili (Capsicum annuum L.) is one of the essential vegetable commodities in Indonesia. Nevertheless, the production of red chili is affected by disease due to fungal infection. Previous research showed that the consortial formulation of bacterial and Trichoderma without a carrier from Black Soldier Fly (Hermetia illucens) larva gut enhanced the disease resistance of red chili. Regardless, the research has not overcome several diseases caused by fungal infection. This study aims to analyze the effect of adding kaolin, talc, and zeolite as carriers with bacterial and Trichoderma consortia from BSF larval gut on the disease resistance of red chili caused by fungal infection. This experimental study was carried out in a randomized block design. The treatments were consortial of bacterial and Trichoderma + carrier kaolin (BTrK), talc (BTrT), zeolite (BTrZ), positive control of consortial without a carrier (K+(1)), positive control of inorganic treatment (K+(2)), and negative control of plants without treatment (K(-)). The results were analyzed by calculating disease incidence (DI) and severity intensity (SI) scores to determine disease resistance. New findings prove that BTrK enhanced resistance to fungal infection, namely cercospora leaf spot, leaf rust, and powdery mildew. BTrT formulation enhanced resistance to symptom severity. The study concluded that carrier formulation enhanced the resistance of red chili
Enhancing Red-Chili (Capsicum annuum L.) Growth Using Black Soldier Fly (Hermetia illucens) Probiotics as Carrier
Red chili (Capsicum annuum L.) is a crucial horticultural commodity in Indonesia, necessitating expansion to meet the growing food demands. The formulation of carriers with probiotics is a promising solution for improving red chili growth. This study examines how the combination of carriers containing bacteria and Trichoderma from the intestines of Hermetia illucens larvae affects the growth of red chili cultivar Lembang-1. The research method used a Randomized Block Design (RBD) with six treatments. The treatment consisted of a group with the addition of a kaolin carrier with bacteria and Trichoderma (BTrK), a talc carrier with bacteria and Trichoderma (BTrT), a zeolite carrier with bacteria and Trichoderma (BTrZ), and a control group without a carrier (KtC), a positive control (K(+)), and a negative control (K(-). The Least Significant Difference (LSD) test showed that the addition of carriers affected increasing plant height and the number of branches compared to the negative control. Specifically, BTrK demonstrated the highest number of leaves and branches. The result concluded that adding carriers with probiotics from the intestine isolate of BSF larvae contributes to the improved growth of red chili. The implementation of carrier addition with probiotics is considered to be a sustainable strategy in agriculture
Analisa Pendugaan Interaksi dan Dominasi Antara Jamur Saprofit dari Seresah Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.)
Saat ini kendala utama dalam budidaya kakao yaitu terkait penyakit busuk buah kakao yang disebabkan oleh jamur patogen Phytophthora palmivora masih belum terselesaikan. Hal ini disebabkan kondisi perkebunan kakao yang lembab menyebabkan patogen lebih cepat berkembang dan meluas dalam waktu singkat. Hal tersebut ditambah dengan seresah kulit buah kakao yang menjadi sumber inoculum penyebaran patogen. Sejauh ini petani melakukan pengendalian dengan bantuan fungisida kimia sintetik yang mahal dan tidak ramah lingkungan. Alternatif pengendalian yang murah dan ramah lingkungan yaitu dengan memanfaatkan jamur saprofit isolat lokal dari kulit buah kakao yang dapat berperan sebagai agens hayati. Penelitian dilakukan pengujian interaksi dan dominasi sesama jamur saprofit. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan berkompetisi dan hubungan antara jamur saprofit satu dengan jamur saprofit lainnya. Berdasarkan hasil penelitian bahwa jamur saprofit diduga memiliki hubungan interaksi kompetisi, mikoparasit dan antibiosis. Sedangkan hasil dominasi terendah hingga tertinggi yaitu Trichoderma sp. 3, Aspergillus sp., Trichoderma sp. 2, Trichoderma sp. 1, Rhizopus sp., Fusidium sp., Penicillium sp., dan Candida sp. Jamur saprofit dari seresah kulit buah kakao memiliki potensi dalam mengendalikan Phytophthora palmivora
Efektivitas Ekoenzim Kulit Pisang Kepok Manado Muda sebagai Insektisida Nabati terhadap Hama Penghisap Buah Kakao (Helopeltis sp.)
Kakao merupakan tanaman perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam perekonomian nasional. Salah satu kendala pada budidaya kakao adalah kehadiran organisme pengganggu tanaman, yaitu kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.). Pemakaian insektisida kimia secara berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif sehingga diperlukan insektisida alternatif yang ramah lingkungan. Ekoenzim kulit pisang kepok manado muda memiliki kandungan bahan aktif yang berpotensi dijadikan insektisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekoenzim kulit pisang kepok manado muda yang efektif dalam mematikan hama penghisap buah kakao. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi ekoenzim (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%). Faktor kedua adalah waktu pengamatan (6, 12, 24, 48, dan 72 jam). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan ANOVA dengan uji lanjut Tukey dan nilai LC50 dianalisis menggunakan probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekoenzim kulit pisang kepok manado muda berpotensi sebagai insektisida nabati terhadap hama penghisap buah kakao dengan konsentrasi paling efektif adalah 20%. Sementara hasil analisis probit didapatkan nilai LC50 sebesar 17,95% pada waktu pengamatan 72 jam