Journal of Biota
Not a member yet
606 research outputs found
Sort by
Aplikasi Media Terkondisi Sel Punca Mesensimal dalam Terapi Penyakit Degeneratif dan Penyembuhan Luka
Penyakit degeneratif seperti stroke, jantung, hipertensi, dan diabetes merupakan penyakit yang banyak dialami seseorang seiring dengan bertambahnya usia. Terapi dengan obat-obatan maupun dengan operasi telah banyak digunakan Namun pada beberapa kasus, hasilnya belum maksimal. Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, sel punca juga dikembangkan sebagai terapi regeneratif, tidak hanya untuk pengobatan penyakit degeneratif namun juga untuk penyembuhan luka akibat trauma fisik maupun penyakit yang lain. Salah satu macam sel punca yang banyak digunakan adalah sel punca mesensimal (SPM). Meskipun sel punca memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai terapi penyakit degeneratif dan penyembuhan luka, namun proses diferensiasinya dalam tubuh belum terkontrol dengan maksimal, sehingga banyak peneliti mengembangkan penggunaan media terkondisi sel punca mesensimal (MT-SPM) sebagai terapi alternatif. MT-SPM yang merupakan medium cair tempat tumbuh SPM terbukti memiliki efek serupa dengan SPM, sehingga dapat digunakan dalam terapi penyakit stroke, jantung, diabetes, dan penyembuhan luka
Produksi Bioetanol Pati Umbi Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) dengan Variasi Konsentrasi Inokulum dan Waktu Fermentasi Zymomonas mobilis
Bioetanol dapat diproduksi dari hasil fermentasi bahan baku yang mengandung karbohidrat. Umbi talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) memiliki karbohidrat yang cukup tinggi yakni 23,7% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai penghasil bioetanol. Zymomonas mobilis merupakan mikrobia yang dapat mengubah glukosa menjadi etanol. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi inokulum dan waktu fermentasi yang paling optimal untuk menghasilkan bioetanol dari pati umbi talas. Umbi talas dipotong, dikeringkan dan dihancurkan lalu diayak sampai berbentuk tepung. Tepung talas dihidrolisis dengan larutan HCl (1, 3, dan 5 %) lalu diuji kadar gula reduksinya dengan metode Nelson-Somogyi. Tahap fermentasi dilakukan sesuai rancangan percobaan yakni 0, 2, 4, 6 dan 8 hari serta menggunakan konsentrasi inokulum 0, 5, 10, dan 15 %. Hasil fermentasi berupa etanol diukur konsentrasinya menggunakan kromatografi gas. Kadar gula reduksi menunjukkan kadar gula tertinggi ada pada konsentrasi HCl 5 %. Kadar bioetanol sebesar 0,07 % diperoleh pada waktu fermentasi optimal yaitu hari ke-8 dan konsentrasi inokulum paling optimal sebesar 10 %
Perbandingan Karakteristik Minuman Probiotik Semangka (Citrullus lanatus) Dengan Variasi Jenis Semangka Merah Dan Kuning Menggunakan Starter Lactobacillus casei Strain Shirota
Buah semangka berpotensi untuk diolah menjadi minuman probiotik semangka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh variasi jenis semangka merah dan kuning terhadap karakteristik minuman probiotik semangka, 2) jenis semangka yang dapat menghasilkan karakteristik minuman probiotik tertinggi, dan 3) jenis semangka untuk produk minuman probiotik yang paling disukai oleh panelis. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan diterapkan ke variasi jenis semangka merah (M) dan kuning (K). Data uji karakteristik dan organoleptik dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan uji Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan variasi jenis semangka merah dan kuning berpengaruh secara signifikan pada uji total BAL dan pH, tetapi tidak berpengaruh secara signifikan pada uji total gula. Semangka merah menghasilkan karakteristik tertinggi dengan rerata nilai total BAL 7,2x104 CFU/ml, total gula 12,63%Brix, dan pH 5,8. Minuman probiotik semangka merah paling disukai oleh panelis dari aspek warna 4,19 (suka), sedangkan semangka kuning paling disukai oleh panelis dari aspek aroma 3,59 (cukup suka) dan rasa 3,92 (cukup suka)
Potensi Skeletonema costatum (Greville) sebagai Fikoremediator Logam Berat Timbal (Pb) Limbah Batik
Industri batik domestik menghasilkan limbah cair yang umumnya pengolahannya tidak dilakukan dengan baik sehingga limbah tersebut mencemari badan air. Salah satun kandungan logam berat pada limbah cair industri batik adalah timbal (Pb). Fikoremediasi dengan menggunakan mikroalga Skeletonema costatum adalah salah satu solusi menurunkan kadar Pb. Percobaan penelitian menggunakan RAL (rancangan acak lengkap) dengan tiga kali pengulangan selama 7 hari perlakuan dengan variasi kepadatan inokulum berupa V1 (kontrol, tanpa pemberian mikroalga), V2 (kepadatan inokulum2x105 sel/ml), V3 (kepadatan inokulum4x105 sel/ml) dan V4 (kepadatan inokulum6x105 sel/ml). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan V4 paling efektif menurunkankadarPb dalam limbah batik dengan persentase penurunan 36,453% dan menurunkan kadar BOD dalam limbah batik dengan persentase penurunan 81,006%
Quantity of Coliform Bacteria as Bioindicator of Water Pollution (Case Study: Several Tributaries in Purwokerto City, Banyumas Regency, Central Java)
The city of Purwokerto is crossed by several large rivers, this research examines several tributaries of a large river. Some tributaries that pass through the city of Purwokerto are the Raden River, the Caban River, the Jurig River and the Luhur River. Tributaries have the potential to influence water quality. This study aimed to analyze the quantity of coliform bacteria as an indicator of water pollution in several tributaries in Purwokerto City, Banyumas Regency. Microbiological tests were carried out by calculating the total coliform quantity and fecal coliform using the Most Probable Number (MPN) test. Total coliform and fecal coliform can be used as a reference indicator of water quality in the presence of water pollution. The laboratory test results for the quantity of coliform bacteria showed in several tributaries in Purwokerto City, Banyumas Regency, very high in total coliform or fecal coliform, exceeding the water quality standard
Aktivitas Antibakteri Sediaan Sabun Wajah Cair Ekstrak Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes
Salah satu penyakit kulit yang banyak dialami oleh remaja yaitu jerawat. Salah satu bakteri penyebab jerawat adalah Propionibacterium acnes. Oleh karena itu, jerawat dapat diobati dengan menggunakan antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat menyebabkan munculnya efek samping seperti iritasi karena tidak cocok dengan kulit. Salah satu bahan alami tanaman obat yang dapat digunakan sebagai alternatif menggantikan antibiotik, adalah herba pegagan (Centella asiatica (L.) Urban). Bahan alami ini biasanya diaplikasikan dalam bentuk sediaan topikal. Tujuan penelitian adalah mengetahui kandungan flavonoid, tanin dan triterpenoid yang terdapat dalam ekstrak herba pegagan serta mengetahui karakteristik sabun wajah cair dengan penambahan ekstrak herba pegagan, dan mengetahui kemampuan sediaan sabun wajah cair ekstrak herba pegagan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan P. acnes. Perlakuan konsentrasi yang digunakan dalam pengujian aktivitas antibakteri ekstrak maupun sediaan sabun wajah cair ekstrak herba pegagan yaitu 20%, 30%, dan 40%, 50% dan 60%. Tahapan penelitian yang dilakukan yaitu identifikasi tanaman, pembuatan serbuk herba pegagan, ekstraksi herba pegagan, uji kualitatif dan kuantitatif ekstrak herba pegagan (flavonoid, tanin dan triterpenoid), pembuatan dan sterilisasi medium, uji kemurnian bakteri, uji aktivitas antibakteri ekstrak dan sediaan sabun wajah cair ekstrak herba pegagan, pembuatan sediaan sabun wajah cair dan uji evaluasi sediaan. Parameter evaluasi sediaan sabun wajah cair yaitu pH, tinggi busa, viskositas, dan homogenitas. Hasil yang didapatkan dari analisis fitokimia adalah ekstrak herba pegagan mengandung flavonoid dan tanin namun tidak mengandung triterpenoid. Kualitas dari sediaan sabun wajah cair ekstrak herba pegagan yang disimpan selama 28 hari dengan parameter pH, tinggi busa, viskositas dan homogenitas memenuhi SNI. Sabun wajah cair ekstrak herba pegagan memiliki daya antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes
Analisis Kandungan N, P, K, Porositas Media Pembibitan dan Pertumbuhan Bibit Sengon Paraserianthes falcataria (L) Nielsen
Media pembibitan merupakan faktor eksternal yang juga menentukan pertumbuhan bibit tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kandungan N,P, K, porosita,s dan pertumbuhan bibit sengon Paraserianthes falcataria (L) Nielsen pada 5 macam media pembibitan. Media pembibitan dibuat dari tanah ultisol dicampur sekam padi atau serbuk gergaji dengan takaran berbeda lalu diinkubasi selama 30 hari. Hasil analisis kandungan N total media M1 yaitu 0.18% (kategori rendah); media M2, M3, M4 dan M5, berkisar antara 0.20-0.50% (kategori sedang). Kandungan P media M1 yaitu 13.98 mg/kg (kategori rendah); media M2, M3, M4 dan M5, berkisar antara 26-35 mg/kg (kategori tinggi). Kandungan K semua media berkisar antara 9.68-18.63 me/100g (kategori tinggi). Porositas media M1= 52%; M2=66%; M3 = 84%; M4 = 75% dan M5 =71%. Hasil analisis pertumbuhan bibit sengon P. falcataria (L) Nielsen pada 5 media pembibitan yaitu: tinggi = 12.3-17.5 cm; diameter batang = 0.65-0.85 cm; jumlah daun = 110–140 helai dan panjang akar = 9.0–14.3 cm. Media pembibitan M3 berbahan tanah ultisol 50% dan sekam padi 50% menghasilkan kandungan N sedang, kandungan P dan K tinggi, porositas tertinggi, dan menghasilkan pertumbuhan bibit sengon P. falcataria (L) Nielsen terbaik
The Life Cycle and Sensitivity of the Local Copepod, Apocyclops sp to Tributyltin Exposure
Uji toksisitas tributiltin secara akut telah dicobakan pada kopepoda tropis Apocyclops sp. yang diisolasi dari tambak Manembo-nembo Bitung, Sulawesi Utara. Kopepoda dikultur dalam kondisi laboratorium (25-27oC, 30 ppt dan tanpa penerangan) dengan pemberian mikroalga Nannochloropsis oculata sebagai pakan. Semua individu kopepoda yang digunakan sebagai hewan uji berasal dari sepasang induk jantan dan betina. Kopepoda untuk eksperimen tributiltin (TBT) diberi perlakuan dalam air laut dan selama eksperimen tidak diberi pakan, dan larutan stok TBT-Cl dilarutkan dalam aseton. Pengaruh starvasi (tanpa pemberian pakan) dan aseton diamati sebelum uji toksisitas TBT dilakukan. Setiap eksperimen, 10 kopepoda dewasa (5 jantan dan 5 betina) dari satu kohort dimasukkan ke dalam cawan petri (diameter 3 cm) berisi masing-masing 10 ml air laut. Ternyata perlakuan tanpa pemberian pakan tidak mempengaruhi kopepoda selama periode eksperimen. Dalam uji toksisitas TBT, hanya 3 individu yang dapat bertahan sampai akhir eksperimen (8 jam) walaupun dengan konsentrasi terendah (0.0001 ng.l-1). Kebanyakan individu telah mati sebelum 8 jam diekspos ke konsentrasi TBT 0.01 ng.l-1. Pada konsentrasi TBT yang lebih tinggi (0.1 dan 1 ng.l-1), tingkat kelulusan hidup kopepoda hanya 50% dalam waktu kurang dari satu jam, sedangkan kopepoda yang sisa masih hidup semuanya sebelum mati jam ke-4 yang diberi perlakukan. Dalam uji toksisitas ini, semua konsentrasi yang dicobakan ternyata lebih kecil dari rata-rata konsentrasi TBT di alam (10 ng.l-1). Kisaran konsentrasi TBT yang lebih lebar masih perlu diuji-cobakan untuk mengklarifikasi efek akut TBT agar dapat diperoleh konsentrasi untuk uji toksisitas secara kronis
Perbandingan Karakter Meristik dan Morfometrik Dua Jenis Ikan Lajur Kepala Kecil Eupleurogrammus muticus (Gray, 1831) and E. glossodon (Bleeker, 1860) (Percifomes: Trichiuridae)
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakter meristik dan morfometrik antara dua jenis ikan lajur kepala kecil Eupleurogrammus muticus (Gray, 1831) dan E. glossodon (Bleeker, 1860) berdasarkan holotype, syntype dan non-type spesimen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua jenis ikan lajur tersebut dapat dibedakan berdasarkan karakter berturut-turut sebagai berikut: sirip dada pada jenis E. muticus terletak pada posisi sejajar dengan sirip punggung yang ke-17 dan 18 sedangkan pada E. glossodon terletak pada posisi yang ke-11 sampai 13; sirip dubur terletak pada posisi sejajar sirip pungung ke-40 sampai 42 (vs. 33-36); jumlah keseluruhan jari-jari sirip punggung sebanyak 142-148 buah (vs. 131-134); precaudal vertebrae 41-42 buah (vs. 32-36); jumlah total vertebrae 193-194 buah (vs. 160-163); kisaran panjang caudal peduncle 49% - 66% dari panjang tubuh depan dubur (vs. 29-37%). Karakter-karakter tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai dasar pembeda antara kedua jenis ikan lajur kepala kecil, E. muticus dan E. glossodon
Kondisi Optimum untuk Produksi Kitinase dari Streptomyces Rkt5 dan Karakterisasi pH dan Suhu Enzim
Chitinase is chitin degrading enzyme which is produced by Streptomyces Rkt 5 is isolated microorganism from peanut rhizosfer. This enzyme and its microorganism can be used in many agricultural, medicine and industrial purposes. The aim of the research was to find out the optimum condition for production of chitinase and to characterize of pH and temperature to chitinase activity. Optimalizing production the research had 4 treatments. The optimum conditions were achieved at mineral liquid medium containing with chitin 0,2% (w/v) as inducer, 10% (v/v) inoculum, pH 7 and 48 hours incubation. The crude enzyme was partially purified by salting out with 70% ammonium sulfate resulted in 3.31 time more purity enzyme than the crude one. This enzyme had maximum activity at 50oC and pH 5.5