Journal of Biota
Not a member yet
606 research outputs found
Sort by
Aktivitas Antibakteri Rimpang Meistera chinensis terhadap Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25023 dan Eschericia coli ATCC 35218 Secara Difusi Agar
Meistera chinensis merupakan generasi baru famili Zingiberaceae yang tumbuh di Sulawesi Tenggara. Ekstrak buah mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, terpenoid, alkaloid, steroid, dan tanin yang memiliki efektivitas sebagai antioksidan dan antibakteri. Namun, belum ada laporan tentang antibakteri pada bagian rimpang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol rimpang M. chinensis. Serbuk kering rimpang M. chinensis diekstraksi dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak dipekatkan menggunakan rotary vacuum evaporator. Metode analisis aktivitas antibakteri menggunakan difusi agar dengan konsentrasi ekstrak 10%, 20%, 30%, dan kontrol positif (Ciprofloxacin 30µg) terhadap Staphylococcus aureus ACTT 25023 dan Escherichia coli ACTT 35218 selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol rimpang M. chinensis mengandung flavonoid, saponin, alkaloid, steroid, dan fenol, Ekstrak terbukti menghambat pertumbuhan E. coli dengan diameter zona hambat rata-rata secara berturut-turut pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30% sebesar 6,08±1,79; 8,16±0,11 dan 10,57±1,34 mm. Pada S. aureus, zona hambat masing-masing konsentrasi 10%, 20%, dan 30% sebesar 5,02±0,79; 6,01±0,69; 8,03±0,76. Analisis One Way ANOVA menunjukkan perbedaan aktivitas antibakteri yang signifikan antar konsentrasi ekstrak pada E. coli dan S. aureus. Dapat disimpulkan rimpang M. chinensis memiliki aktivitas sebagai antibakteri.
Induksi Mutasi Monstera adansonii untuk Menghasilkan Variegata Secara Ex Vitro
Monstera merupakan salah satu tanaman hias yang saat ini banyak diminati oleh pecinta tanaman karena memiliki nilai estetika tersendiri. Ditengah pandemi covid19 melanda dunia termasuk Indonesia, tanaman yang dijadikan primadona oleh pebisnis tanaman hias adalah genus Monstera, salah satunya Monstera adansonii. M. adansonii yang diminati saat ini adalah jenis variegata. Salah satu teknik untuk menghasilkan variegata pada M. adansonii adalah dengan melakukan mutasi pada bagian daun sehingga menghasilkan daun berwarna putih belang berbeda dari warna aslinya. Pada penelitian ini dilakukan mutasi pada M. adansonii menggunakan empat zat kimia yaitu streptomisin, strepson, etil metil sulfonat (EMS), dan ekstrak rokok kretek dengan tujuan untuk mengetahui mutagen yang paling efektif membentuk variegata pada M. adansonii. Setelah perlakuan diberikan, kemudian dilakukan pengamatan terhadap jumlah tunas, warna dan jumlah daun. M. adansonii dengan perlakuan streptomisin menghasilkan warna hijau bercorak putih pada daun, sedangkan zat mutagen lainnya strepson, EMS dan ekstrak rokok kretek tidak dapat menghasilkan variegata pada M. adansonii.
Kajian Fenetik Tumbuhan Paku (Pteridofita) di Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau
Kabupaten Kuantan Singingi khususnya Kecamatan Benai merupakan salah satu tempat distribusi tumbuhan paku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan kajian fenetik jenis – jenis tumbuhan paku yang tumbuh di Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Sampel di lapangan dikumpulkan dengan metode eksplorasi. Untuk memperoleh dendrogram dari tumbuhan paku yang ada di Kecamatan Benai, identifikasi dilakukan berdasarkan karakteristik morfologi, dan data dianalisis menggunakan program NTSys pc 2.02. Sebanyak 23 jenis tumbuhan paku dari 18 genus dan 13 famili telah diidentifikasi pada penelitian ini. Famili Polipodiaceae merupakan famili dengan jumlah jenis terbanyak (5 jenis) dari sampel yang yang dikumpulkan. Dendrogram yang diperoleh dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan jenis daun yaitu jenis daun monomorfik dan dimorfik.
Analisis Bioinformatika NADH2 sebagai Penanda Seleksi Adaptif Pesut Perairan Tawar dan Pesisir
Pesut merupakan mamalia perairan bersifat fakultatif yang dapat ditemui di wilayah Asia Tenggara. Populasi pesut, terutama pada perairan tawar menghadapi berbagai tekanan untuk dapat bertahan hidup sehingga digolongkan sebagai Critically Endangered pada daftar merah IUCN. Pemahaman mengenai sejarah evolusi dan aspek apa yang memfasilitasi adaptasi pesut pada perairan tawar belum banyak diketahui. Adaptasi penuh terhadap perairan tawar pada beberapa spesies lumba-lumba menunjukan adanya seleksi positif pada gen NADH subunit 2 (NADH2) di DNA mitokondria yang diperkirakan berkaitan dengan mekanisme translokasi jalur proton untuk efisiensi energi yang diperlukan dalam kolonisasi perairan tawar. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah gen NADH subunit 2 (NADH2) pada DNA mitokondria memfasilitasi kolonisasi pesut pada perairan tawar seperti dijumpai pada Cetacea perairan tawar lain. Melalui pendekatan bioinformatika sederhana, hasil dari penelitian ini menunjukan tidak adanya subtitusi basa yang merubah susunan asam amino Threonin menjadi Alanin pada urutan asam amino ke 297 gen NADH2 pada populasi pesut yang mendiami perairan tawar dan pesisir. Hal ini menunjukan tidak adanya seleksi adaptif pada gen NADH2 yang diperkirakan terjadi akibat kolonisasi perairan tawar yang relatif baru, sehingga perubahan asam amino belum teramati pada populasi pesut
Spatial Biodiversity of Birds in Land Covers of Wetlands on Jakarta’s North Coast
Wetlands are suitable habitats for the coastal bird community. One of the important wetlands is located on Jakarta’s North Coast. Here, this study aims to assess the spatial biodiversity of birds in various land covers of wetlands on Jakarta’s North Coast. In total, there were 23 species belonging to 12 bird families. Ardeidae, Rallidae, and Silviidae bird families have more species compared to other families. The biodiversity H' values in the wetlands dominated by mangrove cover were the highest, at 2.527, followed by the wetlands having less mangrove cover and more water bodies and fish ponds only having H’ values equal to 1.811. The arboreal, small-to-medium-sized birds belong to Nectariniidae, Ploceidae, Silviidae, and Dicaeidae were widely distributed across all land cover. In contrast, the wetlands characterized by mangrove cover dominance combined with muddy substrate coasts were dominated by mid-large water birds belong to Anatidae, Scolopacidae, Ciconiidae, Rallidae, Ardeidae, Phalacrocoracidae, Anhingidae, and Alcedinidae. It is recommended to protect the mangroves and reforest the wetlands with mangroves to provide more habitats for the coastal bird community.
The Effect of Corn (Zea mays) Cob Extract on the Growth of Bifidobacteria
Corncob is a source of dietary fiber, contains xylan polysaccharides (12.4%–31.94%), and is classified as the highest xylan-producing source compared to other agricultural wastes. Human digestive enzymes cannot degrade xylan but can be enzymatically degraded by lactic acid bacteria (LAB) through fermentation. This research aimed to evaluate the effect of corncob extract on the growth of Bifidobacterium. Corncob extract is obtained through alkaline extraction. The growth of Bifidobacterium bifidum FNCC 0462 and Bifidobacterium longum FNCC 0463 was observed through in vitro fermentation for 48 h using the total plate count (TPC) method. Bifidobacterium bifidum FNCC 0462 showed the ability to ferment corn cob extract for 48 h of fermentation with the highest growth at 8 h of fermentation (4,08 log10 CFU/mL) while B. longum FNCC 0463 was able to grow up to 16 h of fermentation only. The results indicated that corncob extract could support B. bifidum FNCC 0462 growth.
Analisis Tingkat Serangan Parasit pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Ikan Lele (Clarias gariepinus) di Balai Benih Ikan (BBI) Ciganjur
Salah satu faktor penghambat dalam usaha budidaya perikanan adalah serangan parasit. Parasit merupakan organisme yang hidup pada tubuh organisme lain (inang) dengan mengambil nutrisi dari inangnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis parasit dan prevalensi parasit pada ikan air tawar yang dibudidayakan di Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP), Balai Benih Ikan (BBI), Ciganjur. Sampel ikan yang digunakan berjumlah 30 ekor ikan air tawar yang merupakan spesies ikan nila dan ikan lele masing-masing sebanyak 15 ekor dengan ukuran 5-6 cm yang diambil secara purposive sampling. Hasil penelitian teridentifikasi tiga spesies parasit yaitu Trichodina sp., Ichthyophthirius multifiliis dan Dactylogyrus spp. Tingkat serangan parasit Trichodina sp. pada benih ikan air tawar yang diproduksi di PPISHP, BBI Ciganjur menunjukan prevalensi tertinggi pada benih ikan lele dengan nilai prevalensi 86,6% infeksi hampir parah, sedangkan prevalensi parasit terendah yakni Dactylogyrus spp. yang menyerang ikan nila dengan prevalensi 6,6% termasuk infeksi rendah. Intensitas parasit tertinggi yakni Ichthyophthirius multifiliis yaitu 22 individu/ekor pada ikan lele, dan intensitas parasit terendah yakni Dactylogyrus spp. yaitu 1 individu/ekor pada ikan nila. Adapun parameter suhu dan pH juga mempengaruhi tingginya nilai prevalensi dan intensitas parasit yang menyerang ikan khususnya pada ikan lele di BBI Ciganjur.
Aktivitas Antimikroba Bakteri Asam Laktat yang Diisolasi dari Susu Sapi di Indonesia
Bakteri asam laktat (BAL) diketahui memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Pada penelitian ini, BAL yang diisolasi dari susu sapi di Indonesia diidentifikasi melalui pengamatan morfologi dan analisis molekuler. Pengamatan morfologi meliputi pewarnaan Gram dan endospora. Selanjutnya, identifikasi molekuler dilakukan dengan ekstraksi DNA, amplifikasi gen 16S rRNA menggunakan primer universal, sekuensing dan analisis BLAST. Uji aktivitas antibakteri dari cell free supernatant (CFS) yang dihasilkan isolat dilakukan dengan metode sumuran. Selain itu, dilakukan juga evaluasi terkait pengaruh suhu dan pH terhadap aktivitas antibakteri dari CFS. Berdasarkan pengamatan morfologi, isolat merupakan bakteri berbantuk batang, Gram positif, tidak menghasilkan endospora, dan tidak termasuk bakteri acid-fast. Hasil analisis 16S rRNA menunjukkan bahwa isolat memiliki kekerabatan yang erat dengan L. paracasei strain L1 (100%) dan L. casei strain WX121 (99,84%). Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa isolat mampu menghambat pertumbuhan E. coli dan S. aureus. Aktivitas penghambatan tersebut dipengaruhi oleh pH, tetapi tidak oleh suhu. Aktivitas penghambatan terbaik ditunjukkan oleh CFS dengan pH yang sangat rendah (pH 3). Suhu tidak mempengaruhi aktivitas antibakteri karena senyawa antibakteri yang dihasilkan isolat kemungkinan besar tahan terhadap panas
Klorofil Sebagai Indikator Tingkat Toleransi Kekeringan Kecambah Padi Gogo Varietas Lokal Lampung, Lumbung Sewu Cantik
Kekeringan merupakan salah satu tantangan global saat ini. Hal tersebut dihadapi juga pada budidaya padi di Indonesia. Penemuan plasma nutfah padi toleran kekeringan diperlukan untuk pengembangan varietas baru di masa mendatang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon adaptasi padi lokal Lampung, Lumbung Sewu Cantik (LSC) di bawah cekaman kekeringan melalui pengukuran kadar klorofil pada tahap perkecambahan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, yaitu varietas padi Lumbung Sewu Cantik (LSC), INPAGO 8 (K+), dan IR64 (K-); dan konsentrasi larutan PEG 6000, diantaranya 0% (kontrol) dan 20%. Kecambah ditumbuhkan dengan metode Uji Kertas Digulung dalam plastik (UKDdp). Parameter yang diamati yaitu kadar klorofil a, klorofil b, dan klorofil total. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA dan uji lanjut DMRT pada taraf α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi PEG 6000 dan varietas padi berpengaruh signifikan terhadap kandungan klorofil a, b dan total. Perlakuan cekaman kekeringan menyebabkan penurunan kadar klorofil kecambah padi secara signifikan. Varietas LSC menunjukkan respon yang sama terhadap cekaman kekeringan dengan varietas rentan (IR64), dan berbeda dengan varietas toleran (INPAGO 8). Dengan demikian, varietas LSC pada karakter klorofil kecambah tidak menunjukkan ketahanan terhadap kekeringan
Efek Pemberian Sari Buah Berenuk (Crescentia cujete L.) Terhadap Berat Mencit Galur Swiss-Webster (Mus musculus)
Buah berenuk (Crescentia cujete L.) merupakan salah satu tanaman yang digunakan untuk pengobatan tradisional. Buah berenuk mengandung berbagai senyawa seperti flavonoid, yang dapat digunakan untuk meningkatkan nafsu makan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan sari dari buah berenuk (Crescentia cujete L.) dalam meningkatkan nafsu makan dari mencit (Mus musculus) galur Swiss Webster, yang diukur berdasarkan tingkat konsumsi pakan dan berat mencit. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan yaitu lima dosis sari buah berenuk 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%, satu kontrol negatif tanpa pemberian sari buah berenuk, serta satu kontrol positif menggunakan perlakuan sari temulawak (Curcuma xantorrhiza). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sari buah berenuk mengandung senyawa fenolik dan flavonoid. Sari buah berenuk dosis 40% mampu meningkatkan konsumsi pakan serta berat badan mencit meskipun secara analisis statistik tidak berbeda signifikan dengan dosis lain. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sari buah berenuk memiliki potensi untuk meningkatkan nafsu makan.