Journal of Biota
Not a member yet
    606 research outputs found

    Identifikasi Keanekaragaman Reptil Menggunakan Metode eDNA di Bagian Hulu Sungai Opak

    Full text link
    Sungai Opak adalah salah satu sungai utama yang mengalir di Provinsi DIY dan merupakan habitat bagi reptil seperti kura-kura, kadal dan ular. Environmental DNA (eDNA) merupakan metode yang lebih efisien untuk identifikasi spesies dibandingkan metode konvensional yang memiliki beberapa kekurangan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keanekaragaman reptil di Hulu Sungai Opak dengan menggunakan metode sampling eDNA. Sampel air diambil dari bagian hulu Sungai Opak, kemudian dilakukan filtrasi, ekstraksi dan preservasi DNA, kemudian dilanjutkan PCR dan elektroforesis, sequencing, serta analisis bioinformatik. Hasil analisis eDNA menunjukkan adanya 6 spesies kura-kura dan 33 spesies ular. Metode eDNA dapat menunjukan hasil yang presisi dalam identifikasi sampel ke tingkat spesies, walaupun masih terdapat false positive dan false negative. Penggunaan eDNA metabarcoding dalam identifikasi keanekaragaman jenis reptil di hulu Sungai Opak dapat dilakukan secara cepat namun kurang efektif. Hal tersebut disebabkan oleh kontaminasi eDNA, kurang spesifiknya target sekuens dan primer untuk monitoring reptil, serta database referensi yang belum lengkap untuk reptil yang habitatnya di dalam dan sekitar perairan sungai di Indonesia

    Downy Mildew Infection in Indonesian Melon Cultivar 'Melona' Based on Morphological and Anatomical Characters

    Full text link
    Melons are a horticultural crop of the Cucurbitaceae family with high economic value and worldwide distribution. The 'Melona' variety is the result of breeding selection from commercial melons in Indonesia and has a golden yellow skin color with lobes, crisp flesh, and a high degree of sweetness. Downy mildew is a fungal infection that attacks the leaves of the plant causing brownish-yellow-colored symptoms. Downy mildew can cause crop failure under extreme conditions as the plant loses its productive capacity. Infection levels were observed by scoring and calculating disease index scores. The morphology of healthy and diseased plants was documented and analyzed descriptively. Anatomical features of healthy and diseased leaves were compared using anatomical observations on leaf cross-sections. Quantitative data analysis was carried out using the T-test analysis method with a 5% significance level. Melona's resistance to downy mildew is in the tolerant to susceptible category. Chlorosis and necrotic spots on the leaves and stunted growth are symptoms of downy mildew infection. Healthy leaves had a greater axial and abaxial epidermal thickness, a lower mesophyll thickness, a smaller cell size and a better quantity and quality of trichomes than leaves infected with downy mildew

    Produksi Selulosa Bakteri Berbasis Limbah Kulit Pisang dan Limbah Kulit Pepaya dengan Penambahan Etanol

    Full text link
    Limbah kulit pisang dan limbah kulit pepaya merupakan limbah buah hasil konsumsi yang cukup banyak dihasilkan di Indonesia. Potensi kandungan mineral dan gula yang terdapat di dalam kedua limbah ini dapat digunakan sebagai media fermentasi untuk memproduksi biomaterial salah satunya adalah selulosa bakteri atau nata. Pada penelitian ini akan diteliti perbandingan produksi selulosa bakteri dari bahan baku limbah kulit pisang dan limbah kulit pepaya yang disertai pengaruh produksi selulosa bakteri terhadap penambahan etanol. Penelitian ini menunjukkan bahwa kulit pisang dan kulit pepaya dapat digunakan sebagai bahan baku dalam produksi selulosa bakteri dengan yield tertinggi sebesar 9,33% diperoleh dari media limbah kulit pepaya tanpa adanya penambahan etanol. Sedangkan yield terendah nata sebesar 1,33% diperoleh dari media fermentasi kulit pepaya dengan penambahan 3% etanol. Penambahan etanol pada penelitian ini menghambat proses fermentasi dikarenakan tingginya konsentrasi etanol yang digunakan. Etanol yang semula pada penelitian ini diharapkan sebagai sumber karbon berubah menjadi senyawa toksik bagi pertumbuhan Acetobacter xylinum

    Studi Pendahuluan Tipe Sarang Alami dan Semi Alami Penyu di Pantai Pelangi

    Full text link
    Penelitian jenis penyu, sarang alami dan semi-alaminya di Pantai Selatan Yogyakarta telah beberapa kali dilakukan. Hasilnya pantai di Bantul termasuk Pantai Pelangi memiliki lokasi pendaratan penyu untuk bertelur yang baik. Penelitian jenis dan sarang penyu di Pantai Pelangi perlu diperbaharui. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji awal jenis penyu yang bersarang di pantai Pelangi selama Juni hingga Agustus tahun 2023 dan mengetahui pengaruh karakter fisik sarang alami dan semi-alami terhadap keberhasilan penetasan telur. Penelitian dilakukan pada Juni hingga Agustus 2023 di Pantai Pelangi, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Data yang didapatkan: Penyu yang mendarat dan bertelur di Pantai Pelangi adalah penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Kegagalan penetasan telur penyu di Pantai Pelangi disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: lebar sarang semi-alami yang lebih sempit dari sarang alami; kedalaman sarang semi-alami terlalu dalam dan tegak lurus dibandingkan sarang alami; dan suhu pasir sarang semi-alami cukup panas. Saran: sarang semi-alami tidak perlu menggunakan ember, agar lebar dan kedalaman sarang dapat disesuaikan, kedalaman sarang dibuat agak miring guna memudahkan tukik merangkak keluar; perlu naungan di area sarang semi-alami guna mengurangi suhu panas pasir sarang semi-alami

    Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk.) dalam Edible Oil

    Full text link
    Daun kelor merupakan bagian dari tanaman kelor yang banyak dimanfaatkan sebagai obat karena memiliki kandungan senyawa aktif salah satunya flavonoid yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan pada ekstrak maserasi daun kelor dalam extra virgin olive oil (EVOO) dan virgin coconut oil (VCO) dengan metode DPPH menggunakan variasi waktu ekstrasi dan variasi volume tween 80. Variasi dilakukan dengan penambahan volume tween 80 sebesar 0 - 0,4 mL dan waktu ekstraksi selama 2-4 jam. Penambahan tween 80 dan lama waktu ekstraksi terhadap aktivitas antioksidan daun kelor dalam EVOO menunjukkan hasil terbaik pada volume tween 80 0,4 mL dan waktu ekstraksi 4 jam dengan EC50 sebesar 106,848 ± 4,746 ppm. Sementara itu, dalam VCO memberikan hasil terbaik pada volume tween 80 0,4 mL dengan lama ekstraksi 4 jam menghasilkan EC50 sebesar 282,914 ± 10,008 ppm

    Allium spp. as a Source of Bioactive Antibacterials: A Review of Compounds, Mechanisms, and Effectiveness

    Full text link
    Allium spp. has long been recognized for its diverse therapeutic benefits, particularly as a natural source of antibacterial agents. Various bioactive compounds found in Allium spp., such as allicin, diallyl disulfide, ajoene, and quercetin, have demonstrated significant antimicrobial activity against both gram-positive and gram-negative bacterial pathogens. Research on the mechanisms of antibacterial action of these compounds reveals that they work by disrupting bacterial cell membranes, inhibiting protein synthesis, and interfering with bacterial metabolism. This literature review aims to examine existing studies on the antibacterial potential of Allium spp., reviewing the bioactive compounds involved, their mechanisms of action, and their effectiveness in inhibiting bacterial growth, including antibiotic-resistant pathogens such as methicillin- resistant Staphylococcus aureus (MRSA) and Escherichia coli. The findings of this review indicate that while their effectiveness may vary depending on the specific compound and form of application, Allium spp. shows considerable promise as a natural alternative for combating bacterial infections and addressing the growing issue of antibiotic resistance. This article provides deeper insights into the relevance and potential of Allium spp. in the development of antimicrobial therapies based on natural sources through a literature-based approach

    Potensi Propolis Homotrigona apicalis Sebagai Inhibitor NLRP3 Pada Aterosklerosis: Studi in silico

    Full text link
    Peradangan adalah respons perlindungan sistem imun terhadap  kekebalan rangsangan berbahaya. Aterosklerosis, penyakit pembuluh darah progresif yang ditandai penumpukan plak lemak dinding arteri, disebabkan oleh peradangan. NLRP3 berperan dalam berbagai penyakit inflamasi, termasuk aterosklerosis. Alternatif berbasis bahan alami seperti propolis Homotrigona apicalis dapat mengurangi peradangan dan mencegah perkembangan penyakit. Sebaliknya, obat antiinflamasi seperti NSAID dan steroid sering memiliki efek samping. Untuk pemahaman dari interaksi ini, digunakan pendekatan molekuler docking. Pendekatan ini memungkinkan penggunaan senyawa propolis H.apicalis sebagai antiinflamasi yang aman dan efektif. Dengan menggunakan metode molekuler docking, penelitian ini mengkaji potensi senyawa propolis H. apicalis sebagai penghambat jalur peradangan NLRP3 pada aterosklerosis. Senyawa dalam propolis, seperti Alpha-Amyrin dan Beta-Amyrin, menunjukkan aktivitas anti-inflamasi melalui interaksi hidrofobik dengan residu kunci pada protein NLRP3. Nilai afinitas ikatan tinggi Alpha-Amyrin (-10,7) kcal/mol dan Beta-Amyrin (-10,6kcal/mol), menunjukkan potensi penghambatan inflamasi yang efektif. Maka dapat disimpulkan bahwa Senyawa Alpha-Amyrin dan Beta-Amyrin dari propolis H. apicalis memiliki potensi sebagai penghambatan jalur inflamasi NLRP3 dalam aterosklerosis. Hal ini mengindikasikan Alpha-Amyrin sebagai kandidat yang sangat kuat dengan Beta-Amyrin sebagai senyawa pendukung dengan potensi serupa

    In Silico Study of Hops Plant Compounds (Humulus lupulus L.) as Phytoestrogens for Insulin Resistance

    No full text
    Postmenopausal women often experience insulin resistance, a condition linked to declining estrogen levels. Structurally similar to endogenous estrogen, phytoestrogens derived from Humulus lupulus L. (hops) hold potential as natural agents in hormone replacement strategies. This research utilized a comprehensive in silico methodology to assess 20 bioactive hop-derived compounds for their ability to act as agonists of estrogen receptor alpha (ERα). The evaluation involved Lipinski’s Rule of Five, ADME-Tox profiling, pharmacophore-based screening, and molecular docking analyses. Seven compounds satisfied the pharmacophore model criteria. Among them, Isoxanthohumol and 8-prenylnaringenin displayed the most favorable binding affinities, while Desmethylxanthohumol and Naringenin showed interaction patterns closely aligned with those of the native ligand. Although the majority demonstrated favorable pharmacokinetic properties, a few compounds presentedpotential mutagenic or carcinogenic effects. Considering binding performance, interaction resemblance, and predicted safety, these four compounds emerge as strong phytoestrogen candidates for ERα modulation in insulin resistance. Experimental validation through biological studies is necessary to substantiate these computational findings

    Isolation and Screening of Cellulolytic Soil Bacteria from Dramaga Forest in Bogor

    Full text link
    Cellulolytic bacteria can produce cellulase enzymes, which allow them to degrade cellulose into simpler chemicals while using it as a growth substrate. These bacteria have drawn a lot of interest due to their unique properties and potential uses, such as in agriculture and the food industry. Soil is one of the habitats of cellulolytic bacteria. This study aims to determine the potential and screening of cellulolytic bacterial isolates. Cellulolytic bacteria were isolated from soil samples and cultured using selective Carboxyl Methyl Cellulose (CMC) media. Five purified isolates were collected, and their cellulase enzyme activity was qualitatively assessed using the Congo red test. Isolated bacteria code Area Jalan Setapak (AJS1) produced a higher clear zone index and will be used for further testing. Quantitative analysis of isolate AJS1 revealed its highest enzyme activity after ten minutes of incubation, with 0.0049 U/mL unit activity and 0.018 U/mg specific activity. Based on morphological and biochemical characteristics, isolated AJS1 was identified as Corynebacterium spp

    Pengaruh Aplikasi Pupuk Nitrogen terhadap Ketahanan Tembakau (Nicotiana tabacum L. ‘Manilo’) pada Cekaman Kekeringan

    Full text link
    Tembakau (Nicotiana tabacum L.) merupakan salah satu tanaman unggulan yang berkontribusi dalam perekonomian Indonesia. Namun, perubahan iklim dapat memicu berbagai cekaman abiotik, seperti kekeringan yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan toleransi tanaman terhadap kekeringan adalah melalui pemberian pupuk nitrogen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian pupuk nitrogen terhadap ketahanan tembakau (Nicotiana tabacum L. ‘Manilo’) pada cekaman kekeringan. Penelitian dilakukan menggunakan metode Rancangan Blok Acak Lengkap dengan perlakuan kombinasi tiga tingkat ketersediaan air (100%, 75%, dan 50% kapasitas lapang) serta tiga dosis pupuk nitrogen (0,6; 1,2; dan 1,8 g/polybag). Parameter yang diamati meliputi respons tingkat kerusakan serta aktivitas antioksidan enzimatik. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA dan uji DMRT pada taraf kepercayaan 95%. Hasil menunjukkan aplikasi pupuk nitrogen mampu meningkatkan aktivitas enzim antioksidan, terutama APX. Peningkatan dosis pupuk nitrogen berkorelasi positif dengan ketahanan tanaman terhadap kekeringan yang ditunjukkan melalui penurunan kebocoran elektrolit dan MDA, serta peningkatan aktivitas APX. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ketahanan tembakau dengan pemberian pupuk nitrogen terhadap kondisi kekeringan

    549

    full texts

    606

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal of Biota
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇